SULITNYA MENCARI AIR DI DARFUR

23 07 2009

Hehehe, masih kebagian nih ..cerita dari rekan – rekan yang masih bertugas di Darfur …. kali ini masalah yang paling utama kalau berdinas di daerah Gurun seperti Darfur … Ya …mau ngga mau masalah air … dan memang persoalan air ini memang diakui salah satu penyebab konflik Darfur… bahkan telah ratusan tahun sebelum konflik separatisme ini terjadi…  konflik yang sekarang memang lebih “bernada” politis , tapi kalau mau ditarik benang merah….. konflik ini terjadi antara Ras Asli Afrika  “Darfurian” yang kebanyakan adalah “petani yang berladang“, melawan Ras Arab Nomaden yang sehari hari adalah “pengembala”… konflik selalu terjadi , terutama pada saat kering yang berkepanjangan .. Yang jelas “Darfurian” mememerlukan air untuk ladangnya dan mereka berebut dengan Suku Arab Nomaden yang juga membutuhkan air untuk Ternak peliharannya … beginilah cerita ini berlangsung ratusan tahun lamanya…..

Team Water didepan truck watertank kebanggaan, terdiri dari driver , pengawal dan petugas water treatment

"Team Water" didepan truck watertank kebanggaan, terdiri dari driver , pengawal dan petugas water treatment

Nah sentimen inilah yang terjadi sampai sekarang, Penduduk Asli “Darfurian” melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat Sudan, karena keberadaan mereka kurang diperhatikan … Dan patut diakui Pemerintah pusat Sudan mengalami kesulitan menghadapi pemberontakan ini… karena Pemerintah pusat  yang mempunyai kedekatan dengan “ras Arab”  mereka menggunakan tangan Suku Arab Nomaden yang lebih dikenal dengan nama “Janjaweed” untuk memerangi pemberontakan tersebut …..  dan dilanjutkanlah konflik yang memang sudah terjadi selama ratusan tahun itu…

Berada di water Point beserta tentara pemerintah Sudan dengan pengawalan ketat ... baru tau kan betapa berbahaya nya water bussiness ini ???

Berada di "water Point" beserta tentara pemerintah Sudan dengan pengawalan ketat ... baru tau kan betapa berbahaya nya water bussiness ini ???

Kembali ke cerita air ….. Pada awalnya FPU Indonesia mengambil air di “water point” yang dekat dari camp FPU.. masih terletak di kota dengan jarak sekitar 3 Km dari Camp…Namun seiring dengan makin sulitnya air … dan juga sumber air tersebut menjadi tempat mengambil air seluruh warga kota El Fasher .. antrian antara warga lengkap dengan Donkey dan kuda, dan sedikitnya air yang didapat… menjadikan kerusuhan… hingga truk tangki milik UN termasuk FPU Indonesia diancam penduduk  agar tidak mengambil air di sumber air itu lagi …bahkan puncaknya terjadi perusakan kendaraan tangki air milik UN.

Mengisi air ke tangki

Mengisi air ke tangki.... perlu dikawal juga

Untuk menghindari konflik dengan penduduk, akhirnya pihak UN mengalah dengan mencari “waterpoint” yang lebih jauh … dan memang jaraknya sekitar 45 Km dari Camp FPU. Memang FPU Indonesia “self sustaintment” dalam memenuhi kebutuhannya sendiri termasuk air … maka itu dalam list property FPU indonesia dilengkapi dengan 4 tangki air … masing masing 2 buah kapasitas 10 rb liter dan 2 buah kapasitas 16 rb liter. Sebagai gambaran .. paling tidak kebutuhan air untuk seluruh pasukan FPU Indonesia yang berjumlah 140 (minus 3 orang termasuk saya yang telah kembali jadi jmlnya 137 org) adalah 100 liter per orang perhari untuk semua termasuk Mandi dan Minum, jadi totalnya adalah 13.700 liter perhari.  Memang bisa sekali angkut dengan truk yang 16.000 liter … namun karena jarak dan medan yang berat makanya biasanya kita membawa 2 buah truk secara bergantian…. dan selain itu perlu dilengkapi dengan pengawal dengan personel bersenjata ? kenapa .. wah… air ini komodity yang susah …! bisa dimungkinkan terjadi pengahadangan dari gerombolan bersenjata untuk merampok air .. dan ini pernah terjadi pada batalion Rwanda yang juga bertugas dengan UN..

Melintasi gurun menuju Water Point

Melintasi gurun menuju "Water Point"

Untuk personil yang mengurusi air ada teknisinya tersendiri terdiri dari Driver tangki, pengawal dan teknisi water treatment … air juga sesampai di camp dilakukan water treatment sehingga aman dikonsumsi dan digunakan pasukan FPU… hmmmm kalau sudah cerita begini … pasti kita berpikir deh: NO PLACE AS GOOD AS OUR COUNTRY…. hehe .. Indonesia we love you !!

Demikian update cerita dari Darfur .. kepada rekan – rekan yang masih bertugas :  Tetap semangat yaa !!!……

Foto courtesy Akbp Dr. Yanuar





Latihan di Padang Pasir….

17 03 2009

Sebagai pasukan dalam penugasan pada “hostile area” seperti Darfur, selalu dibutuhkan kesiap – siagaan dalam menghadapi setiap ancaman, tercatat beberapa kali pasukan UN di  Darfur mendapat “ambush” dalam melaksanankan tugasnya, yang terparah terjadi di team site Heskenita, Darfur Selatan, dimana pasukan Nigeria Batalion diserang pada suatu sore oleh ratusan milisi bersenjata, tercatat 10 orang pasukan tewas, seperti saya pernah tulis disini.

Full Gear

Latihan tembak reaksi

Bentuk latihan yang dilaksanakan adalah tentu saja latihan “kontra ambush” , sehingga anggota FPU Indonesia selalu “aware” dengan kondisi apabila tiba – tiba di “ambush” oleh pihak tertentu.  Prinsip suatu latihan adalah kontiunitas, sehingga setiap anggota paham secara luar kepala apa yang harus dilakukan, tentunya dalam berbagai skenario yang diperkirakan mungkin terjadi…..

Latihan menghadapi ambush

Latihan menghadapi ambush

Dalam latihan ini anggota FPU Indonesia sudah memakai “gears” yang terbaru, seperti “Body Veist”, “Arm and Leg Protector” , yang disesuaikan dengan warna gurun,  sebelumnya kami memakai warna hitam  yang kurang baik buat kamuflase, bahkan menjadikan gampang dibidik… bagaikan “lesan (target) berjalan”.. karena warnanya yang sangat kontras dengan lingungan sekitar.

Apel Pasukan setelah latihan

Apel Pasukan setelah latihan

Namun perlu dicatat, kedatangan kami bukanlah untuk membawa masalah, namun memberikan yang terbaik untuk penyelesaian konflik di Darfur, tentunya sesuai “motto” dari Korps Brigade Mobil : “Jiwa ragaku untuk kemanusiaan …!”, nantikan kabar kami selanjutnya dari Darfur :)





NIGHT PATROL WITH INDONESIAN FPU

26 02 2009

FPU Indonesia di El Fasher kembali mendapat ‘tantangan’ dari Commisioner Civpol UNAMID agar bisa melaksanakan patroli malam di IDP camp, khususnya IDP Camp ‘Abu Shouk’ dan ‘El Salam’ , hal ini karena disinyalir banyak terjadi kriminalitas dari anasir – anasir yang tidak jelas, yang memanfaatkan konflik di darfur bukan untuk memperjuangkan cita – citanya, namun hanya untuk kepentingan ekonomis kelompok itu semata…….

Start @ Asembly point...

Start @ Asembly point...

Setiap malam di IDP camp hampir terjadi perampokan terhadap penduduk di dalam IDP,  dan hal itu sering dikeluhkan oleh penduduk IDP terhadap UNAMID….  Memang penjagaan keamanan di IDP camp masih merupakan tugas Kepolisian Pemerintah Sudan, namun mereka tidak dipercaya lagi untuk dapat memberikan rasa aman terhadap mereka….

menunggu senja tiba...

menunggu senja tiba...

Oleh sebab itu Civpol yang tergabung dalam CPC (Comunity Policing Center) bersama FPU Indonesia segera melaksanakan patroli malam bersama… gunanya untuk memberi rasa aman terhadap penduduk di dalam IDP camp, dan kesempatan pertama “joint Patrol” yang dilakukan oleh CPC dan FPU dilaksanakan  malam ini, dan saya ikut ‘nimbrung’ dengan mereka…..

Beserta anak - anak darfur pada senja hari

Beserta anak - anak darfur pada senja hari

 Patroli ini terdiri dari 1 pleton FPU Indonesia menggunakan APC dan mobil armored, beserta 1 regu dari CPC, titik kumpul pertama adalah di suatu tempat yang dinamakan “Asembly Point”.. yang terletak di tengah – tengah IDP camp “Abu Shouk” dan IDP camp “El Salam”, keberadaan “Asembly Point” ini adalah sebagai titik awal pergerakan Polisi UNAMID dalam menyambangi 2 IDP camp tersebut….

Persiapan terakhir untuk berangkat patroli

Persiapan terakhir untuk berangkat patroli

Melalui IDP camp yang tidak ada listrik dan penerangan pada malam hari tentunya sangat beresiko, makanya setiap pergerakan para CPC walaupun tidak bersenjata wajib memakai rompi antipeluru dan Helm demi keamanan mereka…. Bagi Kami FPU pun faktor Safety sangat penting, penggunaan APC dan Armored car merupakan keharusan bagi kami………

Melintasi kegelapan malam di IDP Camp

Melintasi kegelapan malam di IDP Camp

Bagi perorangan anggota FPU juga dilengkapi dengan peralatan “Night Vison” dan “thermal” yang dapat melihat sesuatu didalam kegelapan sekalipun…. Namun tetap saja kegelapan masih menjadi tantangan bagi pengendara APC buktinya salah satu APC kami “terperosok” kedalam lobang yang cukup dalam….

Waduh ! terperosok ke lobang APC nya....

Waduh ! terperosok ke lobang APC nya....

Namun berkat kepercayaan masyarakat besar kepada kami, mereka dengan sukarela membantu dan kami bergotong royong menggali tanah untuk bisa membuat jalur untuk keluar dari lobang tersebut……. Dan kendala tersebut teratasi….. “Sukron Katsiron Sayid ! “

Untung ada masyarakat IDP turut membantu...

Untung ada masyarakat IDP turut membantu...

Setelah beberapa jam patroli, kembalilah kami ke “Asemmbly Point” dan menyatukan temuan yang didapat di lapangan untuk dibuatkan laporan…..

Patroli selesai, koordinasi akhir untuk buat laporan...

Patroli selesai, koordinasi akhir untuk buat laporan...

Demikian sekilas keikut sertaan saya dalam “Night Patrol” beserta FPU dan CPC didalam IDP Camp…. Nantikan kisah selanjutnya dari Darfur… :)





Pasukan Formed Police Unit (FPU) Indonesia tiba di Darfur

2 12 2008

Catatan : Tulisan saya ini juga di posting di situs Peacekeeper Indonesia : http://Pralangga.org yang pemiliknya adalah rekan saya Luigi Pralangga.

Setelah menyiapkan jalan bagi FPU Indonesia sebagai Advance team (3 orang) selama lebih kurang 5 bulan, akhirnya pasukan FPU Indonesia dipimpin oleh Komandan Kontingen AKBP Drs. Johni Asadoma M.Hum yang berjumlah keseluruhan 140 orang menapakkan kaki di lapangan terbang El Fasher, Darfur menggunakan pesawat khusus Vim Airlines yang berangkat dari Halim Perdana Kusuma, FPU Indonesia terdiri dari 110 orang “Tactical Unit” dalam 4 peleton yang keseluruhan berasal dari Satuan Brigade Mobil Polri dan 30 orang “Support Unit” yang berasal dari Kesehatan, Elektonik dan Komunikasi, Mekanik dan Juru Masak.

FPU Indonesia tiba di El Fasher

FPU Indonesia tiba di El Fasher

Bagi POLRI hal ini merupakan sejarah baru, karena inilah kali pertama POLRI mengirimkan personil dalam ikatan pasukan, selama ini hanya secara personal yang tergabung dalam Civilian Police (Civpol) dalam berbagai missi perdamaian PBB yang tergabung dalam UNAMID (United Nations African Union Hybrid Mission In Darfur).

Bagaimana peran FPU dalam misi perdamaian PBB?. Dalam aturan yang dirancang Dewan Keamanan PBB mengenai Rules of Enggagement FPU, tugas pokoknya adalah :

Menjaga setiap personil PBB dan assetnya, dan melakukan tugas khusus dalam lingkup tugas keamanan dan ketertiban seperti Riot Control, dan menjaga camp keamanan kamp pengungsi.

Sekarang pertanyaannya bagaimana perbedaannya dengan satuan militer yang juga ada dalam setiap missi perdamaian?. FPU merupakan konsep baru dalam misi perdamaian PBB, ini tercipta karena ada dirasakan adanya “Security Gap” antara tugas Militer yang “full armed” dan “Too Powerful” dalam menciptakan ketertiban masyarakat dan disisi lain kurangnya lemahnya polisi sipil PBB yang tidak bersenjata, “Security Gap” itu kira – kira harus diisi dengan Polisi yang mempunyai kemampuan Paramiliter, pengendalian huru-hara, mampu bergerak secara cepat dan mobile dan mampu mengendalikan keamanan dan ketertiban masyarakat secara cepat.

Anggota FPU Indonesia dengan unsur militer UNAMID

Anggota FPU Indonesia dengan unsur militer UNAMID

Nah, dari pemikiran tersebut terciptalah konsep FPU dalam setiap misi perdamaian PBB.

Kehadiran FPU di Darfur memang sangat diharapkan, namun proses itu memakan waktu yang panjang, saya sendiri sebagai team advance menghabiskan waktu 5 bulan menyertai peralatan FPU Indonesia dari Port Sudan sampai El Fasher, problem ini terkendala birokrasi yang sangat rumit dari pemerintah Sudan dan juga jarak tempuh yang jauh (2700 Km dari Pelabuhan Port Sudan sampai ke El Fasher!) juga medan perjalanan yang sangat buruk (tanpa jalan aspal melewati padang pasir).

Dalam rancangan UNAMID akan ditempatkan 14 (empat belas) FPU di seluruh misi, namun sampai sekarang dalam 1 tahun pertama berdirinya UNAMID baru ada 3 FPU termasuk Indonesia. Tugas pertama yang menanti adalah melakukan pengawalan terhadap UN Civpol untuk melakukan “Community Policing” di Camp Pungungsi Lokal (Internal Displaced Personal Camp/IDP Camp) selama ini tugas itu dilakukan oleh militer PBB namun memang seperti saya katakan terdahulu, tugas itu sebenarnya merupakan tugas kepolisian.

Hari – hari pertama pasukan FPU Indonesia adalah melakukan orientasi lapangan ke IDP Camp yang masuk dalam Area Of Responsibilitynya, yaitu IDP camp El Salam, Abu Shouk dan Zam–Zam, rata – rata IDP Camp ini dihuni sekitar 100 ribu pengungsi, mengunjungi tokoh masyarakat yang dikenal “Sheik” (tokoh informal setingkat dengan desa/lingkungan) dan diatasnya adalah “Omda” yang biasanya membawahi beberapa Sheik, kemudian FPU mendapatkan “Induction Training” oleh UN Integrated Mission Training Center untuk mengenal lebih dalam tentang konflik yang terjadi di Darfur.

Perkenalan dengan para Sheikh

Perkenalan dengan para Sheikh

Patroli pengamanan di salah satu penampungan pengungsi (IDP Camp)

Patroli pengamanan di salah satu penampungan pengungsi (IDP Camp)

Mandat yang berlaku seperti tertera dalam Resolusi No. 1769 Dewan Keamanan PBB, adat-istiadat masyarakat setempat dan hal – hal yang mendasar lainnya. Untuk sementara kontingen FPU Indonesia ditempatkan pada “transit camp” karena camp Indonesia masih dalam tahap pembangunan, diperkirakan akan memakan waktu selama 2 bulan, mengenai kebutuhan hidup sehari- hari seperti bahan makanan di drop secara regular dan dimasak oleh anggota “Support Unit” FPU, air untuk MCK dan minum juga di drop tiap hari.

Kendala awal bagi pasukan adalah penyesuaian fisik untuk menghadapi iklim gurun yang ganas, yang merupakan pengalaman baru bagi kami, bibir pecah, dehidrasi, mengeluarkan darah dari hidung adalah hal yang rata – rata dialami, namun kendala itu cepat dapat diatasi.

Transit Camp FPU Indonesia

Transit Camp FPU Indonesia

FPU Indonesia saat ini sudah melaksanakan tugasnya secara “full performance” setelah melewati jangka waktu 2 minggu waktu penyesuaian dan orientasi, tugasnya adalah melakukan patroli di 3 (tiga) IDP Camp yang merupakan AOR, terbagi dalam shift siang dan malam, setiap patroli terdiri dari 1 peleton menggunakan 2 buah Armored Personnel Carrier (APC) dan mobil patroli. Patroli ini merupan joint patrol bersama UN CIVPOL yang melaksanakan Community Policing.

Harapan kami adalah FPU Indonesia dapat melaksanakan tugasnya secara baik, dan sampai terakhir masih mendapat tanggapan sangat positif dari masyarakat darfur dan juga dari PBB sebagai pengguna kami, dan pulang dengan lengkap dan selamat setelah satu tahun kedepan.

AKBP REINHARD HUTAGAOL Sik
Wakil Komandan Kontingen FPU Indonesia





Police Advisor dan FPU Indonesia di UNAMID

1 12 2008
Saya, Akbp Johni Asadoma Dan Kontingen FPU, Akbp Krishna

Saya, Akbp Johni Asadoma Dan Kontingen FPU, Akbp Krishna

Foto ini adalah dari Blog Akbp Krishna Murti SiK : Garuda Bhayangkara , seorang Police Advisor Indonesia di UNAMID, bertugas di Darfur Selatan dengan ibukotanya Nyala.

Police Advisor Indonesia di UNAMID sementara hanya sejumlah 3 orang, coba dibandingkan FPU Indonesia yang 140 orang… tugasnya sangat berbeda pula, yang jelas mereka “tidak bersenjata” sedangan FPU “bersenjata”…. hal lainya adalah Police Advisor melakukan tugas – tugas “Comunity Policing” Sedangkan FPU melakukan tugas “Pengawalan, Penjagaan dan Patroli terhadapap personal UN”, perbedaan yang sangat signifikan adalah GAJI :mrgreen: tidak usah saya sebukan jumlahnya ….. yang jelas mereka bergaji 5 kali gaji seorang FPU …… dengan pertimbangan FPU sudah disediakan makan dan akomodasi…… seorang PO harus menyiapkan hal itu sendiri.

Makan bersama di Dining Hall FPU

Makan bersama di "Dining Hall" FPU

Suasana di Dining Hall FPU, dalam suanana santai setelah penat bertugas

Suasana di "Dining Hall" FPU, dalam suanana santai setelah penat bertugas

Keberadaan Police Advisor Indonesia di UNAMID untuk sementara belum ditambah jumlahnya, masih 3 orang dari tahun kemarin, saya juga tidak mengerti kenapa sebabnya, mungkin karena adanya FPU Indonesia jadi PO tidak ditambah, tempat dinas yang berbeda menyebabkan kami jarang sekali bertemu dan inilah tulisan Akbp Khrishna Ketika berkesempatan mengunjungi FPU Indonesia yang ber “base camp” di El Fasher, dikutip dari blognya:

Sekitar awal Bulan November kemarin, tepatnya tanggal 8 November, saya berkesempatan untuk berkunjung ke rekan-rekan FPU yang sudah ber home base di El Fashir,
Tadinya saya berencana mengunjungi mereka pada bulan Januari nanti, namun beruntung kesempatan itu datang lebih cepat, karena pada tanggal 8 November bapak Duta Besar Indonesia untuk Sudan berkunjung juga ke Elfashir dalam rangka memenuhi undangan Sheikh
disana. Bersamaan dengan kunjungan Bapak Dubes itulah saya diundang untuk turut serta bertemu dengan beliau dan seluruh FPU.
Kesempatan yang baik ini saya gunakan untuk bersilaturahmi dengan mereka sekaligus menikmati hidangan ala Indonesia bersama rekan-rekan FPU.
Tadinya saya mengira mereka tinggal di akomodasi dimana saya pernah tinggal sewaktu mengikuti kegiatan “Induction Training” di El Fashir. Namun akomodasi mereka meskipun sama tenda, ternyata jauh lebih baik dan sungguh layak untuk dikatakan sebagai akomodasi sementara.
Kamar mandi cukup bersih, serta dapur dan dinning room yang nyaman. Lebih dari itu saya tinggal ditenda yg ber AC jadi cuaca panas El Fashir sungguh tidak terasa.
Keramahan rekan-rekan FPU sungguh mengurangi rsa rinda saya untuk pulang,. Sayangnya saya hanya sendiri saja disana karena 2 teman saya tertinggal pesawat di Nyala.





LATIHAN TERAKHIR FPU INDONESIA MENUJU MEDAN TUGAS

11 06 2008

author

Berikut ini adalah hasil liputan anggota FPU : Briptu Roganda Simanjuntak SH, ia adalah seorang Brimob yang mendapat kesempatan mengikuti penugasan FPU, dan ternyata juga seorang ahli foto dan merupakan juru foto dalam kesatuannya. Ia juga punya blog disini

Berikut ini adalah hasil liputan Roganda pada kegiatan terakhir FPU yaitu latihan menjelang keberangkatan, untuk pasukan sudah dilengkapi dengan peralatan lengkap yang akan dibawa ke Darfur….

latihan

Latihan panas – panasan, seperti dalam medan sesungguhnya…… halahhh….

Dankontigen

Dan Kontigen FPU Akbp Johni Asadoma memberi pengarahan dalam latihan.

santai

Santai sejenak setelah latihan……

Didalam Blognya, Roganda juga membahas personal yang dekat padanya, dan memberikan komentar yang segar serta memberi semangat…..

Yudho IPTU Yudho Uli

ini komentar dari Roganda :

Mr. IPTU YUDHO ULY adalah 4th Platoon Commander, Satuan Tugas Operasi FPU (Formed Police Units) Indonesia yang telah bergabung sejak pembentukan FPU pada tahun 2006.

Entah “berasal” darimana, tetapi beliau sangat memperhatikan anggotanya. Dalam hal penampilan atau perlengkapan; sebisa mungkin (dan jika mungkin) akan mendukung anggotanya agar lebih baik.

Terakhir beliau melengkapi anggotanya dengan Decker keluaran terbaru warna hitam. Sedangkan beliau sendiri menggunakan All Branded By Black Hawk. (Bagi dong nDan… ^,^)

Sekarang beliau sedang bersiasat untuk menyelesaikan Misi dengan mengintip menggunakan Binocular warna hitam keluaran terbaru yang mungkin juga dari Black Hawk. cK..cK..cK… Kereeeen…

Yogas Iptu Yogas

ini komentar Roganda selanjutnya :

Siapa yang tidak kenal dengan beliau? (pasti semua kenal karena sudah sampai ke Jordania). Sangat bersahabat, cerdas, dan suka menyampaikan perintah atau arahan dengan diselingi senda-gurau. Dia adalah 2nd Squad Commander of 3rd Platoon yang dipimpin IPTU Alex Tobing, Satuan Tugas Operasi FPU (Formed Police Units) Indonesia dengan sandi regu – Hantu – (mungkin dengan harapan, semua musuh dan penyakit akan takut dan kabur ^,^).Sebelum memulai tugas, beliau menjelaskan secara detail tentang misi yang akan dilaksanakan dan protap-protap yang perlu diketahui. Hasilnya mudah ditebak, Mr. Bripda Ibnu Syawhy mengakui Regu Hantu ini menampilkan Trick Menghindari Hadangan dari pihak milisi dengan baik, masuk akal, dan aman. Dan, memang harus begitu. cK..cK..cK..brilliant…

Budi Bripda Eko

Komentar dari Roganda, rekannya:

“Pada awal tahun 2006 saya disini dan bergabung dengan orang-orang pilihan dalam FPU Indonesia, penuh semangat dan motivasi tinggi. Dan sekarang pertengahan tahun 2008, juga masih disini dengan motivasi yang sama.” (hahaha…?)

(Apa yang ada dalam hatimu, akupun tahu..!) Mr. Bripda Eko W. adalah Member of 1st Squad of 3rd Platoon, Satuan Tugas Operasi FPU (Formed Police Units) Indonesia. Bisa dipercaya dan benar-benar anggota pilihan. Dibawah pimpinan Squad Commander-nya Mr. IPTU EKO, beliau akan lebih berkembang dan memberi banyak kontribusi bagi regu, peleton, FPU, Indonesia, dan nama baik United Nations.

Pertanyaan yang sering beliau utarakan adalah, “Kapan Kita Berangkat..?” Yang beliau rasakan dan yang beliau kerjakan akan mewakili kami, Anggota FPU Pilihan. Beliau dan anggota FPU lain..

FPUers

FPUers in action……. go go go …!





FOR FPUers : JANGAN KALAH SAMA FPU BANGLADESH …!

31 05 2008

* Bahan dari UNAMID BULLETIN judul asli : “Bangladeshi FPU in Action” , artikan sendiri yaaa… biar pinter bahasa inggrisnya… :-)

The Bangladesh Formed Police Unit [FPU] is one out of the expected 19 FPUs to be deployed in Darfur as part of the slated 6432 man strong UNAMID Police component.

Deployed at Nyala in Sector South since November 25, 2007, it is so far the lone FPU in the mission with strength of 140, Despite initial logistical handicaps due to shipment delays, this pioneer FPU is slowly but steadily making its marks in the mission. Its self sustaining character necessitated that accommodation be addressed urgently. For four weeks they toiled relentlessly, erecting tents for offices, accommodation, and ablution at their super camp base. Courageously they braved the scorpions, snakes and dust and moved from their temporary Forward Operational Base, FOB, to the Super camp on January 21, 2008.

Once the accommodation issue was resolved, effective operational deployment began with the Sector South Police Commander introducing the FPU to firewood escort and confidence building patrols in Kalma, Otash, and El Salaam and El Sherif IDP camps.

The long range patrol from their base in Nyala to El Fasher in late February this year also provided an opportunity to evaluate their operational capabilities and acceptance by the host community. Feedback from the IDP camps and vulnerable villagers has been positive. “We feel more protected with the arrival of the FPU. We hope they will stay longer with us” Fatima Abdullah a female IDP at El Salaam said.

The FPU’s involvement in firewood escort has been of tremendous help to the IDPs. They can fetch firewood many more times during the week under the protection of the military and the FPU. The Bangladesh FPUssay they take particular pleasure in carrying out this exercise. “It is not just a duty for me. I feel morally satisfied rendering a service to humanity because humanity is one.” Enamuld Kabir FPU Platoon Commander and Liaison Officer said.

The Formed Police Units has as their primary focus to support individual Police officers in the effective execution of mandated tasks. They assist in the protection of vulnerable communities under threat of violence, conduct confidence building patrols and escort duties for IDPs as well as maintaining a presence in IDP camps.





PERSENJATAAN FPU : PISTOL GLOCK

28 04 2008

glock

Saya pernah membahas persenjataan FPU untuk perorangan yaitu Styer AUG A3.. sekarang saya membahas kembali persenjataan untuk anggota FPU khusus untuk perwira, yaitu pistol Glock.

Pistol Glock adalah pistol terbaik yang pernah dibuat di dunia dan juga paling banyak terjual… banyak agen – agen penegak hukum dan militer di dunia yang memakainya termasuk Indonesia… dan semuanya puas dengan pistol ini…. bentuknya yang stylish tidak mengurangi keakuratan, kecepatan dan kekuatan pistol ini… dan ada yang lebih istimewa dari pistol ini… karena komponen besi dalam pistol ini hanya 30 % selebihnya berbahan dasar polymer atau plastik keras… jadi ringan sekali, lebih ringan 86% dari besi…. dan satu … lagi pistol ini juga mempunyai keamanan yang baik sehingga jarang terjadi “salah ledak” kalau kita mengikuti prosedur standar….

pISTOL GLOCK

Glock merupakan nama dari jenis – jenis pistol yang di produksi pabrik Glock GmbH dari Deutsch Wagram, didirikan tahun 1963 oleh seorang insinyur bernama Gaston Glock.

SEJARAH

Pada bulan mei 1980, perusahaan ini mendapat undangan untuk bersaing mendapat kontrak dari pemerintah Austria untuk menyuplai Militer Austria dengan senjata pistol baru menggantikan pistol ex perang dunia ke II yaitu pistol Walther P38, beberapa sampel dari beberapa perusahaan diberikan dan setelah menjalani beberapa test kekuatan, perusahaan ini memenangkan tender dengan model glock 17 nya. Dan masuk sebagai pistol standar Militer Austria pada tahun 1982 dengan nama P80 (pistole 80). Beberapa saat kemudian dipakai juga oleh angkatan bersenjata Belanda, Norwegia dan Swedia. Glock 17 terus dikembangkan dengan beberapa modifikasi dan beberapa alternatik kaliber dan beberapa variasi dimensi dan berat namun tetap mengacu pada bentuk dasar. Pistol Glock mendapatkan sukses penjualan yang luar biasa, pada tahun 1992 tercatat kurang lebih 350 ribu pistol di 45 negara dan sekitar 200 ribu di Amerika Serikat sendiri. Di Indonesia berdasarkan data yang memakainya ialah Kopassus TNI AD, PasKhas TNI AU, Korps Brimob Polri dan Detasemen 88 Polri.

JENIS KALIBER GLOCK

TEST OLEH SAYA

Wow … memang pistol ini luar biasa…. sangat ringan, akurat, aman… saya mencoba zeroing pada jarak 10 M…. pada sebuah lesan target statis… ledakan tidak terlalu memekakkan telinga, tidak begitu terasa “hentakannya” dan hasilnya akurat sekali…. titik hitam dengan perkenaan 1 mm sampai 2 mm, memang sih… kata orang “not the gun” but “the man behind the gun”… tapi dengan pistol sesempurna ini sepertinya tidak ada kesulitan sama sekali bagi pemula yang baru belajar menembak pistol Glock….. termasuk saya……

(sumber : situs Glock dan Wikipedia)





For FPU’ers : Belajar dari tragedi Heskenita..

7 03 2008

Seorang yang kehilangan temannya

Pada saat pelatihan pra Operasi FPU di Kelapa dua, kami sempat mendapat guest speaker komandan kontingen Indonesia pada UNMIS (United Nations Mission In Sudan) AKBP Ary Laksmana, beliau menjelaskan mengenai situasi terakhir di Sudan, pada bagian terakhir beliau mejelaskan tragedy Heskenita dimana terjadi penyerangan terhadap personil African Mission In Sudan (kemudian bermetaformosa menjadi UNAMID sebagai Hybrid Mission) yang berada di site camp Heskenita di daerah Nyala, Darfur (tempat dimana FPU Indonesia akan ditempatkan).

Pertolongan pertma oleh team medis sebelum bantuan udara melalui helikopter datang

Saya pun berupaya mendapatkan sumber – sumber data mengenai peristiwa tersebut dan menemukan AMIS News bulletin yang dikirimkan oleh rekan saya Ariek, berikut ini kejadiannya :

Pada sore hari, Sabtu 29 September 2007, segerombolan orang dengan bersenjata lengkap menggunakan 30 buah kendaraan menerobos masuk ke kamp pasukan perdamaian Uni Afrika (AMIS) yang netral, penyerangan mendadak ini tidak diduga membuat pasukan ini kalang kabut….. penyerangan ini mengakibatkan 10 pasukan perdamaian AMIS meninggal dunia dan 1 orang dilaporkan hilang… dilaporkan juga peralatan, senjata dan kendaraan di rampas para penyerang.

Tentara AMIS yang selamat tetapi terluka

Sebagai reaksi dari penyerangan ini, Sekertaris Jendral PBB Ban Ki Moon di New York mengutuk serangan yang ‘Mengejutkan dan brutal’ dan menyerukan agar siapapun yang ‘bertanggung – jawab ‘ atas penyerangan ini segera di tangkap dan diadili, ia juga mengucapkan rasa duka yang mendalam terhadap keluarga yang ditinggalkan…. Ia menegaskan kembali agar para pihak yang bertikai agar sangat memprioritaskan resolusi damai, seperti yang disepakati oleh pemerintah Sudan dan pemberontak di Libya pada 27 Oktober 2007, Uni Afrika dan PBB segera bersiap untuk bersama – sama membentuk Operasi perdamaian dalam konteks Hybrid Mission UNAMID (telah terbentuk pada tanggal 1 Januari 2008).

Penyerangan ini juga disesalkan oleh utusan special untuk Uni Afrika dan PBB yaitu Dr Saleh Ahmad Salim dan Mr Jean Aliason, mereka menyatakan penyerangan ini sebagai : ‘Tindakan pengecut terhadap keberadaan pasukan perdamaian’ dan menyuarakan agar pihak yang bertikai untuk secara serius berkomitmen terhadap proses perdamaian dan mencegah terjadinya kekerasan……

lintasan peritiwa penyerangan

Menurut AKBP Ary Laksmana penyerangan ini diakibatkan kelengahan pasukan AMIS dalam mengantisipasi serangan…. Sebelum serangan ini telah berbulan – bulan hampir setiap hari didatangi oleh sekelompok orang menggunakan kendaraan mampir untuk meminta air atau makanan serta mengobrol dengan para penjaga site camp ini, bahkan mereka diberi kesempatan untuk masuk ke dalam…. Pada saat penyerangan para penjaga site camp tidak menyangka bahwa sekelompok orang yang biasa mengunjungi mereka tiba – tiba menyerang…. Dan membunuh siapapun yang terlihat, mengambil apapun yang bisa di manfaatkan….. makanan, minuman, senjata, kendaraan dan lainnya…. Pasukan AMIS tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan perlawanan karena tidak siap sama sekali…. Mereka jadi sasaran pembantaian…. Pada saat itu adalah bulan puasa dan mereka sedang menyiapkan untuk berbuka puasa….

penghormatan terhadap pejuang perdamaian

Learning Point untuk hal ini….. Mari para FPU’ers kewaspadaan tetap diperhatikan dalam setiap kegiatan, jangan mudah percaya dengan penduduk lokal, apalagi membiarkan mereka masuk ke dalam camp kita… dan mematuhi segala SOP (Standar Operation Procedure) berdasarkan ROE (Rule Of Engagement) yang merupakan penjabaran tugas – tugas FPU seperti tertuang di resolusi 1769 tentang UNAMID. Dengan mengikuti hal ini niscya 140 orang FPU’ers sama – sama berangkat dan sama – sama kembali dengan selamat ke Indonesia.





Kontingen FPU Indonesia tampil di acara ‘Tukul Arwana’ Empat Mata

5 03 2008

Tukul and FPU Indonesia

Untuk mengatasi kebosanan setelah berlatih panjang, sebagai intermezzo team FPU Indonesia mendapat hiburan dengan menonton acara ‘Tukul Arwana’ Empat Mata di Trans 7, maka sore itu tanggal 4 Maret jam 7 malam, rombongan besar FPU bergerak dari Mako Korps Brimob Kelapa dua, dengan seragam baru yang ‘dipercepat’ pembagiannya untuk menonton acara Tukul….. Karena sampai terakhir baret biru UN dan sepatu gurun belum sempat dibagikan…..

Dan Kontingen and Tukul

Acara Empat Mata tersebut disiarkan secara Live dari studio Trans 7 di Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan….. walau tempat duduk membludak bahkan sampai duduk bersila, tetap ‘seru’ dan ‘heboh’. Memang FPU Indonesia tidak mendapat ‘scene’ Khusus… namun yang penting ‘kehadiran’ nya bisa di kenal khalayak ramai (terutama dengan seragamnya yang lain daripada lain he he he) ….Tukul ternyata menyelipkan beberapa adegan untuk mengenalkan FPU Indonesia, seperti menyapa Komandan kontingen Akbp Johny Asadoma dan duduk diantara pasukan……. Memang selama ini pemberitaan FPU Indonesia terhadap khalayak masih ‘miskin’ informasi, dengan melalui blog saya ini berusaha mengenalkan eksistensi FPU Indonesia.

Tukul In Action

Ada catatan sedikit tentang acara tersebut, walaupun saya sendiri jarang menonton acara tersebut… setelah saya perhatikan ternyata ‘Tukul’ adalah seorang Entertainer sejati, keahliannya dalam ber-improfisasi sangat mengagumkan… scene demi scene berlalu hanya berdasarkan keahliannya berspontanitas …. ‘Lap Top’ nya hanya sebagai bahan dasar untuk memancing ‘kelucuan’ nya….selebihnya adalah improfisasi … Sutradara/pengarah terlihat banyak berdiskusi dengan Tukul di Jeda acara untuk menentukan jalan selanjutnya dari talkshow ini…. Sebagai guest speaker pada acara tersebut dengan judul besar ‘Suara halus’ adalah Ussy ‘Meong’, pak Bolot, pak Untung Bupati Sragen, Pengacara Elsa Syarif… seorang yang bisa menirukan suara hewan dan seorang yang yang bisa memainkan musik dengan sisir…. salut akan kekompakan team acara, Copywriter dan pengarah acara Trans 7 yang menampilkan acara ‘Live’ Empat Mata dengan baik sekali …





Kapolri Jendral Sutanto menutup latihan Pra-Operasi FPU Indonesia dalam persiapan Missi ke Darfur

27 02 2008

Rangkaian latihan pra operasi FPU Indonesia dalam rangka persiapan untuk missi ke Darfur yang dilaksanakan tanggal 23 Januari sampai 23 Februari (1 bulan) telah berakhir dengan sukses tanpa ada kendala, hasil yang diharapkan adalah anggota FPU benar – benar siap menghadapi medan tugas di Darfur nantinya…. dan nampaknya tujuan itu tercapai, indikatornya para pimpinan Polri terkesan dengan kesigapan anggota FPU dalam menjalani setiap materi latihan dan penampilan mereka dalam peragaan dalam upacara penutupan….


Kehadiran Kapolri Jendral Sutanto dalam upacara penutupan Lat Pra Ops menandakan Kapolri sangat concern terhadap keberangkatan FPU Indonesia ke Darfur, hal ini dipandang sangat wajar karena Mabes Polri pertama kali mengirimkan personilnya dalam ikatan pasukan…. sesuatu hal yang baru dan masih meraba – raba mencari format yang sesuai…. kendala pasti ada, yang paling krusial adalah pemenuhan material dan logistik bagi FPU Indonesia, lain halnya untuk penyiapan personil FPU.. anggota Brimob sebagai back bone FPU adalah personil yang sangat terlatih dan mempunyai readiness yang tinggi….

Latihan dan kegiatan yang di laksanakan selama 1 bulan ini antara lain :

1. Latihan kesiapan pasukan dalam menghadapi team Pre Deployment Visit dari PBB, untuk menguji kemampuan dalam ikatan pasukan FPU Indonesia (dalam minggu pertama latpraops)
2. Pengenalan daerah Missi Darfur oleh komandan Kontingen UNMIS Akbp Ari Laksmana.
3. Pengenalan Budaya Masyarakat Sudan oleh Dubes Sudan.
4. Human Right dan pengenalan Peace Keeping Operation oleh Deplu.
5. Latihan Bahasa Arab dan Inggris oleh Sekolah Bahasa Polri dan test Bahasa Inggris dari PDV team PBB.
6. Latihan berkuda oleh Direktorat Satwa Mabes Polri.
7. Latihan mengemudi mobil left steering, mengemudi truk dan mengemudi Armored Personal Car (APC).
8. Vaksinasi personil FPU (12 macam vaksin) dan test kesehatan jiwa oleh Bid DOKKES Mabes Polri.
9. Latihan menembak (pengenalan senjata Styer, tembak reaksi, tembak sniper, pistol) oleh PUSLAT Brimob Polri.
10. Cross Country dan Speed Marching oleh PUSLAT Brimob Polri.
11. Latihan luar di Pelabuhan Ratu dengan asumsi medan sesungguhnya (penghadangan, penyerangan, patroli, navigasi, PHH, penyergapan rumah) oleh PUSLAT Brimob Polri.
12. Pembekalan Duta Besar Amerika Serikat tentang keadaan di Darfur (beliau pernah 5 tahun berdinas di Sudan)
13. Pengarahan dari Australian Federal Police (AFP) tentang Peace Keeping Operation.
14. Persiapan peragaan dalam upacara penutupan.

Latihan dan kegiatan tersebut dapat diikuti oleh seluruh personil FPU dan menunjukkan kesiapannya untuk di terjunkan ke daerah Missi yang mempunyai kondisi Ekstrim di Darfur.

Kapolri dalam sambutannya menekankan kepada seluruh anggota FPU agar dapat menjaga nama baik Indonesia, karena baiknya tugas FPU Indonesia akan membawa baik Indonesia, namun buruknya FPU Indonesia juga membawa buruk nama Indonesia di mata Internasional.

Dalam upacara penutupan ini juga diperagakan kemampuan FPU Indonesia dalam menghadapi tugas di Darfur dan terlihat para tamu undangan termasuk Kapolri memberikan respon yang positif atas peragaan ini, juga dipamerkan jenis – jenis material dan Logistik yang akan dibawa FPU Indonesia ke Darfur….

FPU Indonesia direncanakan berangkat keseluruhan pada tgl 1 sd 10 Mei 2008, namun akan ada team yang berangkat duluan (termasuk saya)…. karena kami akan mengurus clereance peralatan setelah kapal mendarat di Port Of Sudan, dan ada juga team yang ikut dengan Kapal Cargo Container yang mengangkut peralatan FPU dari Tanjung Priok.

Demikian para pembaca blog saya… Mohon doa restu agar FPU Indonesia (140 orang) dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan paling penting pulang kembali dengan selamat bertemu dengan keluarga.





SERAGAM BARU KHUSUS FPU INDONESIA DI DARFUR

24 02 2008

22022008971.jpg

Ini adalah hasil survey saya pada bulan Oktober 2007 ke Darfur dalam menyiapkan kontingen FPU Indonesia untuk diberangkatkan. Pada saat itu saya, komandan kontingen AKBP Johny Asadoma dan seorang dari personil Logistik Mabes Polri AKP Sugianta ditugaskan untuk memelihat kemungkinan peralatan apa yang cocok digunakan di daerah tugas nantinya, hal ini sangat krusial mengingat peralatan standar Indonesia hanya sesuai dengan kondisi tropis Indonesia.

Pada saat meninjau Darfur kami baru sadar bahwa kalau kita menggunakan perlengkapan standar yang biasa dipakai di Indonesia akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasukan, bahkan bisa berakibat fatal dalam penugasan….

Kita jangan terlalu jauh dulu berbicara masalah kendaraan atau akomodasi yang memang harus disiapkan khusus untuk daerah gurun…. Kita bicara dulu masalah Perlengkapan Perorangan yang akan dikenakan oleh masing – masing prajurit… contonya Pakaian : Pakaian itu harus benar – benar nyaman digunakan, cocok dengan daerah gurun, dan bisa mencegah dehidrasi yang berlebihan, dan warna harus disesuaikan dengan gurun dengan asumsi warna yang gelap akan cenderung menyerap panas matahari dibandingkan warna terang, dan satu lagi masalah kepraktisan… berdasarkan pengalaman kami di sana celana coklat tua akan selalu tampak kotor karena derah yang selalu berdebu, lain halnya dengan warna lain seperti abu – abu atau putih…. hal ini berdampak angota akan sering sekali mencuci celananya dengan hambatan keterbatasan air… Demikian juga masalah sepatu, sepatu yang digunakan di daerah gurun ternyata berbeda sama sekali dengan sepatu yang digunakan di daerah tropis…. sepatu itu harus mampu mencegah panas yang berlebihan di mata kaki para pasukan agar nyaman dalam pergerakan, kemudian bobot harus ringan dan harus kuat…..

Atas dasar inilah kami merancang pakaian dan sepatu yang cocok digunakan oleh pasukan FPU Indonesia di Darfur…… Bagaimana tanggapannya ? Not bad kan ?????





PERSENJATAAN FPU : Non Lethal Weapon (Pepper Ball Launcher)

9 02 2008

Pepper Ball Launcher

Salah satu persyaratan FPU untuk ditugaskan dalam Mission Area adalah : Kemampuan Pengendalian Huru Hara (PHH), karena dalam penugasan pasukan perdamaian tidak mungkin diturunkan unsur Militer dalam menangani huru – hara/demonstrasi, salah satu contoh pada Missi PBB di Kosovo (2002), pada saat itu polisi masih usur sipil tidak bersenjata (Unarmed), pada saat itu PBB dihadapkan demostrasi besar – besaran yang melibatkan hampir 200 rb orang, karena pada saat itu polisi hanya sebagai Police Observer yang bekerja perseorangan dan bukan ikatan kelompok apalagi mempunyai kemampuan PHH, akhirnya pada saat itu diturunkanlah UN Military yang tentu saja tidak punya kemampuan PHH…. hasilnya dapat diduga….. sapu bersiiiiih…. pada saat itu terdata kurang lebih 200 (dua ratus) demonstran tewas karena kekurang mampuan militer menangani PHH (dan memang mereka tidak dilatih untuk itu…) Setelah peristiwa Kosovo PBB berpikir untuk menugaskan kepolisian berseragam (Formed Police Unit) yang dapat menangani huru – hara dan ganguan kriminalitas bersenjata…. Semenjak saat itu FPU selalu ada dalam setiap missi perdamaian PBB seperti di Timor Leste, Haiti, Liberia dan terakhir di Sudan….

Launcher

Dalam tulisan ini saya akan membahas salah satu persenjataan Non Lethal (tidak mematikan) yang digunakan oleh FPU Indonesia dalam penugasan ke Darfur, yaitu Pepper Ball Launcher ….. senjata ini adalah modifikasi dari senjata permainan perang – perangan anak muda sekarang yaitu Paint Ball atau Soft Gun, cuma peluru cat diganti dengan Pepper Ball yaitu gas air mata…. yang menimbulkan rasa pedih di kulit dan mata, ini terasa lebih menjamin terlindunginya HAM (he he he), Penggunaan Pepper Ball Launcher berkaca dari pengalaman buruk penggunaan Peluru Karet yang ternyata bisa juga menimbulkan Kematian atau setidaknya Luka Parah apabila ditembakkan dari jarak dekat……

Pepper Ball launcher ini menggunakan Gas untuk penembakannya…. bisa melesatkan 3 peluru per detik…. dan apabila terkena tubuh, peluru bulat plastik akan pecah dan mengeluarkan gas air mata…. (aduuuh periiih…. ), Tempat peluru bola dalam senjata bisa memuat 100 (seratus) peluru, Pepper Bal Launcher adalah persenjataan PHH tingkat peleton, dalam setiap peleton minimal ada 2 orang penembak …. Sekarang bagaimana keiistimewaan PBL dibandingkan Pelontar Gas Air Mata ?…. Menggunakan PBL adalah lebih efektif karena sasaran (para demonstran) dapat dibidik sesuai target, sedangkan penggunaan Gas Air Mata dengan Pelontar, akan menghasilkan ledakan dari tabung Gas Air Mata, menyebabkan Gas Air Mata Tersebar ke udara secara meluas tetapi dampak gas air mata seperti senjata makan tuan, karena petugas polisi pun terkena dampaknya….

Pepper BAll berisi Gas Air Mata…… Bentuk Peper Ball yang dimasukkan dalam Launcer

GO FPU’ers !!!!, FYI : FPU Indonesia mendekati keberangkatannya karena KEPPRES tentang keberangkatan telah ditanda – tangani oleh Presiden……….





PERSENJATAAN FPU INDONESIA DALAM MISI PBB DI UNAMID

6 02 2008
Steyr AUG A3

Steyr AUG A3

Persenjataan adalah hal yang paling penting dan mutlak dalam suatu misi/penugasan, khususnya dalam misi PBB yang bersenjata seperti dalam missi FPU Indonesia ke UNAMID…. persenjataan tersebut harus mengalami berbagai macam uji coba apakah sesuai dengan daerah penugasan, dari berbagai macam jenis yang telah di ujicoba Mabes Polri terpilihlah senjata STEYR AUG A3, senjata ini dipandang sangat cocok dalam daerah penugasan nantinya, alasannya : Jenisnya mudah digunakan, tahan cuaca (khususnya daerah panas seperti di Darfur), dan sudah terbukti tangguh dalam setiap penugasan.

Steyr AUG adalah rangkaian senapan yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977 oleh perusahaan senjata Austria Steyr Mannlicher. AUG adalah singkatan dari Armee Universal Gewehr, yang berarti “Senapan Tentara Universal”. Nama Steyr AUG sendiri lebih sering digunakan untuk menyebut versi yang spesifik, yaitu varian senapan serbu bullpup kaliber 5.56 mm NATO, dengan warna hijau dan teleskop yang terintegrasi. Senapan ini sebenarnya telah memiliki banyak varian, mulai dari senapan submesin, senapan penembak jitu, sampai senapan mesin ringan. Senapan ini telah diadopsi menjadi senapan utama angkatan bersenjata Austria, Australia, Selandia Baru, Luxembourg, Irlandia, dan juga sempat dipakai oleh Malaysia. Satuan Polisi Khusus Indonesia yaitu Gegana Brimob Polri dan Detasemen 88  juga menggunakan Steyr AUG.

Steyr AUG A3

Bagaimana kemampuan AUG ?…… AUG adalah salah satu senapan pertama yang menggunalan desain bullpup, yang membuatnya 25% lebih pendek dari senapan lain yang panjang larasnya sama, tanpa mengorbankan performa dan akurasi. Sebagian besar varian AUG dilengkapi dengan bidikan teleskopik 1.5x yang terintegrasi. AUG dianggap memiliki desain ergonomis yang modern. Fitur lain misalnya kemampuan dipakai oleh penembak tangan kanan maupun kidal, dan pengunaan bahan-bahan plastik transparan.
Steyr AUG A2, laras 407 mm.

Laras Steyr AUG bisa ditukar-tukar dengan mudah, misalnya ke laras karabin atau ke laras lebih panjang. Bahkan AUG memiliki perangkat modifikasi yang bisa merubahnya menjadi senapan submesin. Varian lain, seperti varian senapan mesin ringan yang memiliki laras lebih berat, tak bisa dimodifikasi dan sudah diatur dari pabrik.

Steyr AUG 9 mm.

Berikut ini berbagai varian dari Steyr :

* Steyr AUG A1 — Versi standar yang diperkenalkan pada tahun 1977. Awalnya hanya berwarna hijau dengan laras 20 inci.
* Steyr AUG A2 — Serupa dengan A2, tetapi alat bidiknya bisa dicopot dan diganti dengan picatinny rail.
* Steyr AUG A3 — Sudah banyak dimodifikasi. Memiliki picatinny rail yang terintegrasi pada bagian atas dan samping. Menggunakan peluru 6.8 mm Remington SPC.
* Steyr AUG P— AUG A1 dengan laras lebih pendek.
* Steyr AUG P Special receiver— AUG P dengan picatinny rail.
* Steyr AUG 9 mm (AUG SMG/AUG Para)— AUG yang dimodifikasi untuk menggunakan peluru 9 x 19 mm.
* Steyr AUG M203 — AUG dimodifikasi untuk menggunakan pelontar granat M203.
* Steyr AUG LSW (Light Support Weapon) — AUG sebagai senjata pendukung ringan.
* Steyr AUG HBAR (Heavy-Barreled Automatic Rifle) — AUG dengan laras lebih panjang dan berat, bolt tertutup, sebagai senapan mesin ringan.
* Steyr AUG LMG (Light Machine Gun)— Berdasarkan AUG HBAR, tapi dengan bolt terbuka, dan alat bidik 4X bukan 1,5x seperti AUG biasa.
* Steyr AUG LMG–T— Sama dengan LMG, tapi dengan picatinny rail.
* Steyr AUG HBAR–T— Senapan penembak jitu berdasarkan HBAR.
* Steyr AUG Z— AUG A2 versi semi-otomatis untuk pasar sipil.
* Steyr USR— AUG A2 yang disesuaikan untuk pasar sipil Amerika Serikat.
* F88 Austeyr — AUG yang dimodifikasi untuk Australia.

Steyr AUG

Steyr AUG A1
Tipe Senapan serbu
Negara asal Austria
Sejarah pemakaian
Digunakan 1978–sekarang
Pemakai Austria, Australia, Timor Timur,
Irlandia, Indonesia, Luxembourg,
Malaysia, Oman, Pakistan, Filipina,
Selandia Baru, Arab Saudi, Tunisia,
Amerika Serikat, Inggris
Perang Timor Timur, Afghanistan, Irak
Sejarah produksi
Tahun 1977
Produsen Steyr Mannlicher
Diproduksi 1978—
Varian Lihat Varian
Spesifikasi
Berat 3,6 kg (kosong)
Panjang 790 mm
Panjang laras 508 mm

Peluru 5.56 x 45 mm NATO,
9 x 19 mm (AUG SMG)
Mekanisme Operasi gas, bolt berputar
Kec. tembak 650 butir/menit
Kec. peluru 992 m/s
Jarak efektif 450–500 m
Pengisian Magazen 30 atau 42-butir

Sumber : pribadi dan wikipedia





Australian Federal Police (AFP) meninjau latihan FPU Indonesia

31 01 2008

Keberangkatan kontingen FPU Indonesia dengan nama “Garuda Bhayangkara” mendapat antusiasme dari banyak negara, memang ini karena “reputasi” Indonesia yang baik dalam setiap “Peace Keeeping Mission“, dan pada hari ini FPU Indonesia mendapat kunjungan dari Australian Federal Police (AFP), kunjungan ini karena mereka sangat concern terhadap keikutsertaan Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia.

Dari AFP hadir 3 orang yaitu Mr Jason dari JCLEC (Jakarta Centre Law Enforcement Cooporation), Mr Grand dari Pusat Pelatihan Peacekeeping AFP dan seorang penerjemah kebangsaan Australia yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Dalam sesi Introduction Mr Grand menjelaskan operasional Pusat Pelatihan Peace Keeping di Australia, Ia menjelaskan pada saat ini ada 400 orang Polisi Australia yang sedang menjalankan Misi Internasional dan semuanya sebelum berangkat dilatih di pusat pelatihan ini, bertempat di Canberra dan mempunyai sarana yang lengkap, bahakan mempunyai tempat latihan yang dibuat ‘mirip’ dengan negara tujuan missi ini (kebanyakan missi Internasional sekarang di Afrika), mereka membangun ‘perkampungan’ (mirip di negara berpadang pasir, dan Australia banyak tempat seperti ini), dan mereka mempunyai aturan untuk ‘mengisolasi’ peserta latihan dari dunia luar dengan ‘menyita’ Handphone dan alat komunikasi lainnya…. bahkan mereka di hadapkan dengan para pelatih yang berpakaian seperti teroris yang menyerang mereka… wow ! saya membayangkan bagaimana ’seru’ nya mengikuti pendidikan tersebut… pada akhirnya mereka menjanjikan untuk menyediakan tempat bagi 2 orang polri untuk mengikuti pelatihan tersebut.

menonton peragaan

Setelah acara tersebut mereka menyaksikan peragaan kesiapan FPU Indonesia di daerah missi yang dilatihkan setiap hari…..