Arsip Kategori: sudan

Catatan Perjalanan Seorang Peacekeeper Dari Tengah Gurun Pasir Darfur.

“A life without adventure is likely to be unsatisfying, but a life in which adventure is allowed to take whatever form it will is sure to be short.”

Bertrand Russell quotes (English Logician and Philosopher 1872-1970)

Pada suatu sore pada saat hendak main bulutangkis, saya ditelepon oleh sesorang dari Mabes Polri, saya diberitahu bahwa saya ditunjuk langsung sebagai Wakil Komandan Kontingen Misi Perdamaian Polri di Darfur, seketika adrenalin saya meningkat, membayangkan Darfur suatu daerah yang setahu saya adalah daerah konflik yang paling berbahaya di dunia, banyak televisi berita dunia yang menceritakan tentang Konflik Darfur, ….Yes… this is my biggest Adventure ever !

Inilah negara Sudan dengan ibukota Khartom, dan perjalanan kami dari Port Sudan hingga Al Fashir Darfur region

Missi Perdamaian ini dinamakan United Nations African Nation Mission In Darfur (UNAMID) adalah suatu missi kerjasama antara Uni Afrika dan PBB dalam membawa kedamaian di Darfur Sudan. Permasalahannya adalah pemberontakan penduduk Darfur terhadap pemerintah pusat Sudan, masalahnya sangat klasik yaitu tidak meratanya pembagian pusat dan daerah, terutama semenjak ditemukan ladang minyak baru disini. Konflik yang telah berjalan 5 tahun ini mengakibatkan korban 350 ribu jiwa dan 2,5 juta orang tinggal di Internal Displaced Personal Camp (kamp pengungsi lokal).

Barang dari Indonesia pertama kali diturunkan di Port Of Sudan

Ada banyak hal baru yang saya dapatkan dalam missi saya ini, yang jelas sangat jauh berbeda dengan missi saya sebelumnya di Bosnia Hercegovina 97-98. Missi ini adalah pertama kalinya Polri mengirimkan kontingen dalam ikatan pasukan yang disebut Formed Police Unit (FPU) yaitu unit lengkap mandiri dan bersenjata terdiri dari 140 orang. Dengan daerah missi di gurun pasir juga merupakan tantangan tersendiri, karena tidak pernah ada seorangpun dari kami yang berpengalaman mengalami kondisi alam ini.

Fpu Indonesia pada saat istirahat Patroli di IDP camp

Saya ditunjuk sebagai “Team Advance” dengan dua orang rekan lainnya berangkat pada tanggal 5 Mei 2008 untuk mengurus dan mengawasi pengiriman ribuan item peralatan, camp portable, bahan makanan serta puluhan kendaraan milik FPU Indonesia (140 kontainer 20′ dan 53 buah kendaraan) yang dikirim dari Tanjung Priok Indonesia dan berlabuh di kota pelabuhan satu – satunya di Sudan, Port Of Sudan. Setelah sampai di Pelabuhan Port Of Sudan ternyata bukan akhir dari perjalanan kami, pengurusan Custom yang terkendala Birokrasi serta jarak tempuh yang sangat jauh hingga sampai di tempat penugasan kami Al Fasher Darfur, kalau diukur dari skala peta berjarak 2700 Km hampir dua setengah panjang pulau jawa, dengan jalan yang buruk melewati padang pasir yang luas. Pengiriman barang tersebut melewati pusat logistic UN di Sudan di kota Al Obeid, kalau diperhitungkan lama perjalanan dari Port Sudan hingga sampai di Al Fasher memakan waktu 5 bulan.

Foto bersama para perwira FPU Indonesia

Pada Bulan ke lima setelah barang sebagian besar tiba di Al Fashir, pasukan utama FPU tiba di El Fasher pada tanggal 12 Oktober 2008, menggunakan pesawat carter dari Halim Perdana Kusuma, hari – hari pertama setelah kedatangan pasukan FPU Indonesia pada tanggal adalah melakukan orientasi lapangan ke IDP Camp yang masuk dalam Area Of Responsibilitynya, yaitu IDP camp “El Salam”, “Abu Shouk” dan “Zam–Zam” rata – rata IDP Camp ini dihuni sekitar 100 ribu pengungsi, di dalam IDP camp tokoh masyarakat informal disebut “Sheik” (setingkat dengan desa/lingkungan) dan diatasnya adalah “Omda” yang biasanya membawahi beberapa Sheik.

Melakukan community Policing bertemu dengan Sheik di IDP camp

Kendala awal bagi pasukan dan seperti pernah saya alami sendiri adalah penyesuaian fisik untuk menghadapi iklim gurun yang ganas: bibir pecah, dehidrasi, mengeluarkan darah dari hidung adalah hal yang rata – rata dialami, namun kendala itu cepat dapat diatasi. Pada waktu kedatangan sementara kontingen FPU Indonesia ditempatkan pada “transit camp” karena camp Indonesia masih dalam tahap pembangunan, yang memakan waktu selama 2 bulan, bagi anggota FPU kebutuhan hidup sehari- hari seperti bahan makanan di drop secara regular dan dimasak oleh anggota “Support Unit”, air untuk MCK dan minum juga di drop tiap hari.

Peragaan FPU Indonesia pada upacara medal parade di Basecamp FPU Indonesia.

FPU Indonesia melaksanakan tugasnya secara “full performance” setelah melewati jangka waktu 2 minggu waktu penyesuaian dan orientasi, tugasnya adalah melakukan patroli di 3 (tiga) IDP Camp yang merupakan wilayah tanggung jawabnya, terbagi dalam shift siang dan malam, setiap patroli terdiri dari 1 peleton menggunakan 2 buah “Armored Personnel Carrier” (APC) dan mobil patroli. Patroli ini merupakan joint patrol bersama UN CIVPOL dengan melaksanakan “Community Policing”, “Pemolisian Masyarakat” , kami membantu masyarakat Darfur di dalam IDP camp agar bisa mempunyai daya tangkal terhadap gangguan kamtibmas di lingkungan sekitarnya. Tepat setahun masa tugas FPU kami disembarkasi dan digantikan oleh FPU Indonesia 2 sebagai FPU pengganti kami.

Pemberian tanda jasa PBB kepada 3 orang ‘team Advance’ oleh kepala polisi UNAMID, Jend. Michel Fryer dari Afsel.

Memang berat tugas yang harus kami lakukan, namun kalau ditarik ke belakang pengalaman ini sangat berharga buat saya dan rekan – rekan FPU lainnya, dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup saya……

Reinhard Hutagaol Sik

Akbp/Wakil Komandan Kontingen FPU Indonesia di Sudan/UNAMID

*Tulisan ini dimuat dalam majalah bulanan Polda Jambi Siginjai.

6 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, FPU, IDP, PBB, police, Polisi, polri, sudan, UNAMID

Nareen, My Nepalese Policeman Friend…

Insp. Nareen

Insp. Nareen

Pernahkah anda membayangkan jikalau anda  menjadi polisi hendak menangkap buronan dan karena suatu peristiwa buronan itu menjadi boss anda ? Inilah yang terjadi di negara Nepal, tempat kawan saya Nareen tinggal dan menjadi seorang polisi  … kami berkenalan pada saat sama – sama sebagai “team aju” kontingen FPU Indonesia dan Nepal PBB di Darfur Sudan, dalam penantian yang tidak ada henti karena lamanya proses pergerakan barang kontingen dari Port Sudan hingga El Fasher yang menempuh jarak ribuan Kilometer melintasi gurun Pasir….. dan kami sama – sama ditempatkan di Pusat Logistik PBB di Al Obeid, daerah pertengahan antara Port Sudan dan El Fasher, berbulan bulan kami tinggal di dalam akomodasi yang berbentuk kontainer..  dari pagi setelah breakfast di Dining Room kami ngobrol sambil menunggu lunch, kemudian ngobrol lagi sambil menunggu Supper… begitu tiap hari … bosen ngga ? Tapi menarik banyak cerita menarik yang saya dapat darinya…. tentang keindahan negaranya Nepal yang berada di kaki Everest, tentang budaya masyarakatnya yang ramah, dan yang paling sering cerita tentang kedongkolannya terhadap Rezim baru yang memerintah di negerinya, yaitu rezim Komunis Maois yang menggulingkan Raja Nepal… yang secara otomatis mengacaukan semua tatanan birokrasi yang telah ada selama ratusan tahun…

Pada awalnya negara ini menganut sistem Monarki dan mendapat pemberontakan dari Partai Komunis Nepal (Maoist) yaitu partai yang menganut paham komunis ala ketua Mao Ze Dong, kelompok Maois ini diketuai oleh Pushpa Kamal Dahal … pemberontakan ini memacu “civil war” yang berlangsung 10 tahun dari tahun 1996 hingga 2006 yang menelan korban 12.800 orang tewas… dan perang sipil ini berakhir dengan perjanjian damai pada 21 November 2006 dengan bantuan United Nation Mission In Nepal, perjanjian damai ini memberikan jalan kepada Partai Komunis Nepal (Maoist) untuk memerintah negara ini dan menganulir sistem Monarki yang diperintah oleh Raja Terakhir Gynanendra, menyerahkan kekuasaan dan kemudian menjadi Republik Rakyat Nepal…. (…Hmmmm jadi inget kaisar PuYi raja terakhir Cina dalam film “Last Emperor” … pantesan aja kelompok ini memuja – muja Ketua Mao..)

Nareen adalah lulusan Akedemi Kepolisian Nepal pada zaman Monarki,  dia sendiri lulusan tahun 2003 dan langsung mendapat pangkat Inspektur (letnan), pada masa kelulusannya memang tengah hebat – hebatnya “Civil War” sehingga ia langsung ditempatkan sebagai danton pada pasukan kepolisian khusus (semacam brimob) yang memerangi pemberontakan Maoist di utara Nepal… banyak keberhasilan yang ia dapatkan hingga beberapa kali dapat menangkap pimpinan pemberontak lokal… Setelah beberapa saat dalam pasukan ia dipromosikan di Mabes Polisi Nepal di bagian Interpol, tugasnya ialah mengirimkan DPO dan “Red Notice” para pemberontak Moist ke pusat Interpol di Lyon…..

Pada tahun 2006 Raja Gyanandra menyerah dan turun tahta menyerahkan pemerintahan kepada pemberontakan Maoist, inilah awal dari problem besar, walaupun Maoist tidak membubarkan kepolisian, tapi jabatan – jabatan penting di Kepolisian diganti oleh orang – orang Maoist, bayangkan bagaimana bisa segerombolan pemberontak yang tidak tahu apa – apa tentang polisi namun tahu cara bergeriliya di hutan menjadi Kapolri mereka ? …. namun itulah yang terjadi … mereka tidak bisa berbuat apa – apa, How come your ex #1 enemy become your boss ? merekapun sekarang sekarang merasa was – was takut kalau perbuatan mereka dahulu (pada saat memburu pemberontak) ketahuan dan disingkirkan dari Kepolisian…. :mrgreen:

Nah itulah curhat si Nareen selama di Al Obeid yang selalu berulang ulang ia sampaikan, hmmmm saya jadi membayangkan …. andaikan PKI pada tahun 1965 menang di Indonesia …. pasti yang dialami para anggota Polri sama dengan yang dialami Nareen sekarang :P …….. Thanks GOD it wasn’t Happen….

3 Komentar

Filed under Darfur, FPU, PBB, Polisi, polri, sudan

Noordin M Top, From Hero to Zero…

Tidak banyak komentar yang saya akan tulis dalam tulisan ini, hanya ucapan selamat kepada Polri cq Densus 88 yang telah menamatkan perjalanan sang pahlawan kembali ke titik nol …. (From Hero to Zero)

When he was a Hero

When he was a Hero

Kematian membuat engkau menjadi nol lagi, tidak seperti sewaktu dikau hidup sewaktu menjadi pahlawan …

From Hero to Zero

From Hero to Zero

Jangan ada lagi Noordin lain,  mari kita kembali membangun negara tercinta ini  bebas dari paham radikal yang justru membunuh kita …

6 Komentar

Filed under Blogger, hukum, polri, Publik, sudan, teroris

SULITNYA MENCARI AIR DI DARFUR

Hehehe, masih kebagian nih ..cerita dari rekan – rekan yang masih bertugas di Darfur …. kali ini masalah yang paling utama kalau berdinas di daerah Gurun seperti Darfur … Ya …mau ngga mau masalah air … dan memang persoalan air ini memang diakui salah satu penyebab konflik Darfur… bahkan telah ratusan tahun sebelum konflik separatisme ini terjadi…  konflik yang sekarang memang lebih “bernada” politis , tapi kalau mau ditarik benang merah….. konflik ini terjadi antara Ras Asli Afrika  “Darfurian” yang kebanyakan adalah “petani yang berladang“, melawan Ras Arab Nomaden yang sehari hari adalah “pengembala”… konflik selalu terjadi , terutama pada saat kering yang berkepanjangan .. Yang jelas “Darfurian” mememerlukan air untuk ladangnya dan mereka berebut dengan Suku Arab Nomaden yang juga membutuhkan air untuk Ternak peliharannya … beginilah cerita ini berlangsung ratusan tahun lamanya…..

Team Water didepan truck watertank kebanggaan, terdiri dari driver , pengawal dan petugas water treatment

"Team Water" didepan truck watertank kebanggaan, terdiri dari driver , pengawal dan petugas water treatment

Nah sentimen inilah yang terjadi sampai sekarang, Penduduk Asli “Darfurian” melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat Sudan, karena keberadaan mereka kurang diperhatikan … Dan patut diakui Pemerintah pusat Sudan mengalami kesulitan menghadapi pemberontakan ini… karena Pemerintah pusat  yang mempunyai kedekatan dengan “ras Arab”  mereka menggunakan tangan Suku Arab Nomaden yang lebih dikenal dengan nama “Janjaweed” untuk memerangi pemberontakan tersebut …..  dan dilanjutkanlah konflik yang memang sudah terjadi selama ratusan tahun itu…

Berada di water Point beserta tentara pemerintah Sudan dengan pengawalan ketat ... baru tau kan betapa berbahaya nya water bussiness ini ???

Berada di "water Point" beserta tentara pemerintah Sudan dengan pengawalan ketat ... baru tau kan betapa berbahaya nya water bussiness ini ???

Kembali ke cerita air ….. Pada awalnya FPU Indonesia mengambil air di “water point” yang dekat dari camp FPU.. masih terletak di kota dengan jarak sekitar 3 Km dari Camp…Namun seiring dengan makin sulitnya air … dan juga sumber air tersebut menjadi tempat mengambil air seluruh warga kota El Fasher .. antrian antara warga lengkap dengan Donkey dan kuda, dan sedikitnya air yang didapat… menjadikan kerusuhan… hingga truk tangki milik UN termasuk FPU Indonesia diancam penduduk  agar tidak mengambil air di sumber air itu lagi …bahkan puncaknya terjadi perusakan kendaraan tangki air milik UN.

Mengisi air ke tangki

Mengisi air ke tangki.... perlu dikawal juga

Untuk menghindari konflik dengan penduduk, akhirnya pihak UN mengalah dengan mencari “waterpoint” yang lebih jauh … dan memang jaraknya sekitar 45 Km dari Camp FPU. Memang FPU Indonesia “self sustaintment” dalam memenuhi kebutuhannya sendiri termasuk air … maka itu dalam list property FPU indonesia dilengkapi dengan 4 tangki air … masing masing 2 buah kapasitas 10 rb liter dan 2 buah kapasitas 16 rb liter. Sebagai gambaran .. paling tidak kebutuhan air untuk seluruh pasukan FPU Indonesia yang berjumlah 140 (minus 3 orang termasuk saya yang telah kembali jadi jmlnya 137 org) adalah 100 liter per orang perhari untuk semua termasuk Mandi dan Minum, jadi totalnya adalah 13.700 liter perhari.  Memang bisa sekali angkut dengan truk yang 16.000 liter … namun karena jarak dan medan yang berat makanya biasanya kita membawa 2 buah truk secara bergantian…. dan selain itu perlu dilengkapi dengan pengawal dengan personel bersenjata ? kenapa .. wah… air ini komodity yang susah …! bisa dimungkinkan terjadi pengahadangan dari gerombolan bersenjata untuk merampok air .. dan ini pernah terjadi pada batalion Rwanda yang juga bertugas dengan UN..

Melintasi gurun menuju Water Point

Melintasi gurun menuju "Water Point"

Untuk personil yang mengurusi air ada teknisinya tersendiri terdiri dari Driver tangki, pengawal dan teknisi water treatment … air juga sesampai di camp dilakukan water treatment sehingga aman dikonsumsi dan digunakan pasukan FPU… hmmmm kalau sudah cerita begini … pasti kita berpikir deh: NO PLACE AS GOOD AS OUR COUNTRY…. hehe .. Indonesia we love you !!

Demikian update cerita dari Darfur .. kepada rekan – rekan yang masih bertugas :  Tetap semangat yaa !!!……

Foto courtesy Akbp Dr. Yanuar

14 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, FPU, Janjaweed, PBB, police, Polisi, polri, Publik, sudan

KEBUDAYAAN MASYARAKAT DARFUR (BAGIAN I)

Tulisan ini adalah tulisan bersambung yang saya dapat dari berbagai sumber tulisan, pada awalnya untuk membangun pengertian buat kontingen FPU Indonesia mengetahui masyarakat Darfur, namun tidak ada salahnya saya Share di Blog ini, semoga bermanfaat :

Masyarakat Darfur Antri di Sumber air

Masyarakat Darfur Antri di Sumber air

Darfur adalah wilayah Sudan yang mayoritas penduduknya beragama Muslim, pada sebelum konflik tercatat 6 juta penduduk terdiri dari masyarakat Arab dan Non Arab, letak Darfur berada di sebelah Barat Sudan. Darfur adalah willayah tandus, dengan gurun pasir yang merata, musim kering yang panjang, dan sumberdaya alam yang terbatas, sebelum konflik yang mengakibatkan rusaknya tatanan hidup, masyarakat Darfur merasa nyaman dengan hidupnya meskipun hidup dengan tantangan alam seperti ini. Masyarakat Darfur sebenarnya adalah masyarakat yang tidak senang menonjolkan diri, tetapi sebagai dukungan terhadap komunitasnya, dan atas restu kepala sukunya ia berani untuk berduel untuk menyelesaikan permasalahan pribadi, adat, atau permasalahan antar dua pihak.

Kebudayaan Darfur adalah gabungan dari berbagai adat istiadat, tradisi, dan kepercayaan agama dari berbagai suku yang ada di Darfur, setiap suku mempunyai bahasa sendiri, penampilan seni dan tarian tersendiri pula, namun karena kebudayaan Islam yang dianut sebagian besar penduduk Darfur mereka mempunyai perayaan keagamaan dan ritual yang sama dan juga menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utama dalam berkomunikasi, walaupun masyarakat Darfur dimarginalkan oleh pemerintah pusat namun semangat kebudayaan dan hubungan antar suku berjalan dengan damai.  Namun perbedaan sangat terjadi setelah konflik di Darfur, pemerintah Sudan seperti banyak dituduhkan Media Asing  melakukan pemusnahan secara sistematik (genosida) tatanan kehidupan Masyarakat Darfur yaitu:  penghancuran cara hidup bermasyarakat  Darfur, pengrusakan harkat hidup dan tempat tinggal masyarakat Darfur dan pembunuhan serta perkosaan terhadap Masyarakat sipil Darfur mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap budaya mereka,  apakah ini benar ?  Quo Vadiz…

SUKU – SUKU, TEMPAT DAN BAHASA
Darfur terdiri dari tiga negara bagian, Shamal Darfur (Darfur Utara), Janub Darfur (Darfur Selatan) dan Gharab Darfur (Darfur Barat). Darfur mempunyai arti “Tanah orang Fur” , adalah tempat tinggal dari 40 (empat pulah) sampai 90 (sembilan puluh) suku – suku (Flint and the Wall 2005:8) Suku ini terdiri dari kumpulan keluarga yang menginduk kepada satu kelompok etnik yang dominan. Suku terdiri dari anggota suku, pengunjung dari desa tetangga, tamu dan fakir serta pengajar Qur’an atau Ustad.

Konflik yang terjadi pada saat ini membagi banyak suku – suku dalam katagori arab dan non arab. Yang termasuk suku non Arab adalah masyarakat pribumi asli, masyarakat “Black Africa”, pada saat suku – suku arab mengklaim mereka sebagi keturunan dari Timur tengah, dan mencari awal kelahiran sebagai keturunan dari Nabi Muhammad SAW.  Suku – suku non Arab di darfur sebagian besar bermata-pencaharian sebagai petani (yang memiliki stok kebutuhan hidup), dan termasuk orang Fur (yang secara turun-temurun bertempat tinggal di Tengah dan Timur Darfur), orang Zaghawa(Shamal Darfur/Chad) dan orang Masalit (Gharab Darfur/Chad). Suku-suku Arab secara umum hidup berpindah-pindah pastoralis, dan termasuk orang Sharafa (Darfur Selatan) ,orang Rizeigat (Darfur Tenggara), dan orang Taisha ( Darfur Selatan).

Komunikasi, pada kedua level antara level individu dan level kesukuan, telah lama menjadi sebuah pijakan dasar bagi penyelesaian konflik di Darfur,  sehingga sudah dipastikan bahwa bahasa adalah sebuah bagian yang penting dari kebudayaan orang Darfur.  Orang Arab dan orang non Arab, keduanya sama mengunakan bahasa Arab.  Sementara masyarakat Darfur yang keturunan non Arab juga menggunakan bahasa suku mereka. Meskipun saat ini ada beberapa inisiatif yang telah diambil untuk membuat tulisan untuk bahasa Suku, utamanya diantara orang Masalit, bahasa kesukuan,  mengikuti sebuah tradisi lisan, dan tidak memiliki tulisan mereka sendiri.  Secara turun-temurun, ketika konflik muncul, maka diadakan pertemuan antara omda atau sheik (pimpinan informal kesukuan di Darfur mengikuti tradisi arab). Musyawarah ini diadakan hampir selalu dalam bahasa kesukuan, terkecuali jika konflik terjadi diantara suku yang berbeda, dalam kasus ini bahasa Arab lazim digunakan.

Kebijakan “Arabisasi” pemerintah Sudan berpengaruh terhadap bahasa kesukuan di beberapa bagian tertentu di Darfur. Orang Zaghawa di propinsi El Bain,sebuah daerah di timur Darfur yan didominasi oleh orang Arab, tidak lagi berbicara dalam bahasa orang Zaghawa, disebabkan oleh generasi yang dipaksakan berkomunikasi dalam bahasa Arab. Serupa dengan daerah lain di Darfur, para murid hanya dibolehkan untuk berbicara dalam bahasa Arab di sekolah, serta ditegur secara lisan atau dipukuli oleh gurunya jika mereka berbicara dalam bahasa kesukuannya. Terdapat juga beberapa contoh orang dewasa yang dilecehkan, diejek, atau diganggu secara fisik di jalanan karena para pendukung fanatik “Arabisasi” mendengar mereka berbicara dalam bahasa kesukuan mereka.

(bersambung….)

5 Komentar

Filed under Darfur, sudan

Africa is Save, When The Holy Spirit Comes Down….

Judul lagu itu sangat menggugah saya, dan lagu itu dinyanyikan dalam suatu kebaktian di gereja El Fasher yang saya ikuti….. kesungguhan untuk “merubah” Afrika menjadi wilayah yang aman dari segala konflik tergambar dari doa dan lagu yang dibawakan oleh jemaat gereja itu…

Church of El Fasher

Church of El Fasher

Gereja UNAMID Church Service pada awalnya diperuntukkan sebagai sarana keimanan para staffnya, namun seiring dengan berkembangnya gereja ini, juga menampung kebutuhan rohani penduduk lokal…  di Sudan penduduk beragama kristen sebagian besar berasal dari wilayah selatan Sudan, karena negara Sudan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Nasionalnya, maka baru pertama kali saya melihat ada Alkitab ditulis dalam huruf Arab yang dibawa oleh teman saya…

Choir Gereja

Choir Gereja

Sungguh besar Kemuliaan Tuhan dinampakkan, walaupun gereja ini nampak sangat sederhana, beratapkan seng dan lantai semen biasa.. tidak menghilangkan atmosfir kekudusan dalam menjalankan ibadah, gereja inipun tidak terikat dengan satu denominasi tertentu… sehingga bisa diikuti semua orang yang haus akan Kehadiran NYA… Sungguh Yesus Anak Domba Allah menunjukkan Kemuliannya di El Fasher untuk memberi Kedamaian di seluruh Sudan, dan berkat Roh Kudus, Afrika Diselamatkan ……..

Suasana dalam gereja

Suasana dalam gereja

Suasana Luar Gereja

Suasana Luar Gereja

 

Africa is Save, When The Holly Spirit Comes Down….

11 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, sudan

Rekan TNI di UNAMID…

UNAMID adalah suatu institusi besar di Sudan, bahkan sekarang di klaim sebagai missi terbesar yang pernah dijalankan oleh UN, bayangkan dengan seluruh personilnya mendekati 30 ribu, terdiri dari Civilian Staff, Militer, Civilian Police, Local Staff, FPU, Military Observer dll… untuk berjalannya organisasi yang besar ini dibutuhkan banyak staff sebagai pendukungnya, nah berkaitan ini UNAMID melalui UNDPKO mengirimkan permintaan ke pemerintah Indonesia untuk bisa mengirimkan SO (Staff Officer) untuk mengisi jabatan – jabatan pendukung operasional UNAMID.

Rekan TNI dari SO (Staff Officer) UNAMID

Rekan TNI dari SO (Staff Officer) UNAMID, Ki - Ka : May. Pnb Destrianto, May. Tek Rudi, Kapt. Sri, May. Kav. Doddy

Bersama ini Mabes TNI mengirimkan 4 orang perwira terbaiknya untuk ditempatkan sebagai SO (Staff Officer) di UNAMID, sekarang pertanyaaanya, apa bedanya dengan MilObs (Military Observer) yang selama ini lebih dikenal dalam penugasan PBB ?  SO diutamakan untuk pekerjaan staff pendukung di setiap Missi, dan mempunyai keahlian yang spesifik sehingga memang dicari yang mempunyai keahlian sesuai dengan bidang yang dibutuhkan, biasanya missi mengirimkan pemberitahuan bidang apa yang dibutuhkan dan segera disesuaikan oleh negara kontributor, untuk missi UNAMID sementara diisi oleh 4 perwira TNI yang ahli dalam bidangnya untuk bergabung oleh banyak SO dari berbagai negara lain.

Sekilas tentang rekan TNI di UNAMID

Mayor PNB Destrianto,  dari TNI AU. Penerbang yang masih lajang ini (hayoo… daftar … daftar )  lulusan AAU tahun 1996, jabatan terakhir di Indonesia berada di Squadron 2 Halim Perdana Kusuma, Destri adalah SO pertama yang ditempatkan di UNAMID El Fasher, jauh mendahului rekan – rekannya,  sewaktu pertama kali menginjakkkan kaki di El Fasher hanya sendiri, untung ada rekan – rekan FPU sebagai teman mengobrol sampai beberapa bulan kemudian 3 rekannya datang.  Di UNAMID sendiri mendapat jabatan sebagai “Planning Schedule Airops”  alias mengatur jadwal penerbangan seluruh penerbangan UNAMID, suatu jabatan yang sangat vital.. bagi kami sendiri ada suatu kemudahan.. karena selalu ada “bocoran” kapan pesawat in out Lapangan Terbang El Fasher, daripada kita menunggu terlalu lama karena sering juga didelay… tinggal menelpon saja kawan kita yang satu ini … thanks buddy … :)

Mayor. Tek. Rudy, adalah lulusan seangkatan Destrianto, AAU 96. Jabatan terakhir di  Lap terbang Hussain Sastranegara bandung ( yah pasti lah TNI AU ngga jauh dari lapangan terbang xixixi..) di UNAMID ditempatkan di bagian Terminal/ Bandara suatu jabatan yang penting karena ia yang memeriksa kelayakan pesawat yang akan diterbangkan, dan juga melihat kelayakan bandara yang digunakan.  Tidak banyak SO yang mempunyai kemampuan teknik seperti beliau ini… maju terus Rud !

Kapten Wara Sri, Wah … mba ini adalah satu – satunya Srikandi Indonesia di sarang penyamun… eh salah… di Gurun Pasir El Fasher… Mba yang satu ini juga dipilih karena mempunya keahlian yang sangat spesifik, yaitu “Air Traffict Controller” Di Indonesia berdinas sebagai Kasubbag Pers, Disbang Ops, Mabes TNI- AU, menduduki jabatan tidak jauh dari keahliannya tersebut yaitu sebagai “Air Flight Follow” yaitu bagian komunikasi pesawat – pesawat dari dan keluar airspace missi UNAMID… Saya dapat bocoran bahwa mba Sri sangat jago masak… dan karena tinggal serumah dengan para rekan pria SO lainnya… jadinya membawa keberuntungan buat mereka, hehehe… yang lain tinggal gantian mencuci piring saja.. ok ?

Mayor. KAV. Dody, adalah lulusan AKMIL 1995, dan sudah lulus juga Sesko AD, di Indonesia jabatan terakhir di Pusdik Kavaleri Cimahi, Bandung. Sangat menguasai peralatan “armored” seperti Tank dan Panser sesuai dengan kecabangannya Kavaleri, sesuai dengan keahliannya itu ia ditempatkan di COE (Contigent Owned Equipment) yaitu divisi yang bekerja untuk menginventarisir peralatan milik TCC (Troop Contribution Country)  untuk dilakukan “reimbushment” , termasuk peralatan milik FPU Indonesia, pelaksanaan “reimbushment” atas peralatan yang kita pakai tergantung penilaian team verifikasi dari COE, keep on good work, Dod !

Senang mempunyai rekan – rekan briliant seperti kalian…  yang penting merah putih tetap jaya di El Fasher… Ok ?

20 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, PBB, sudan, UNAMID

Latihan di Padang Pasir….

Sebagai pasukan dalam penugasan pada “hostile area” seperti Darfur, selalu dibutuhkan kesiap – siagaan dalam menghadapi setiap ancaman, tercatat beberapa kali pasukan UN di  Darfur mendapat “ambush” dalam melaksanankan tugasnya, yang terparah terjadi di team site Heskenita, Darfur Selatan, dimana pasukan Nigeria Batalion diserang pada suatu sore oleh ratusan milisi bersenjata, tercatat 10 orang pasukan tewas, seperti saya pernah tulis disini.

Full Gear

Latihan tembak reaksi

Bentuk latihan yang dilaksanakan adalah tentu saja latihan “kontra ambush” , sehingga anggota FPU Indonesia selalu “aware” dengan kondisi apabila tiba – tiba di “ambush” oleh pihak tertentu.  Prinsip suatu latihan adalah kontiunitas, sehingga setiap anggota paham secara luar kepala apa yang harus dilakukan, tentunya dalam berbagai skenario yang diperkirakan mungkin terjadi…..

Latihan menghadapi ambush

Latihan menghadapi ambush

Dalam latihan ini anggota FPU Indonesia sudah memakai “gears” yang terbaru, seperti “Body Veist”, “Arm and Leg Protector” , yang disesuaikan dengan warna gurun,  sebelumnya kami memakai warna hitam  yang kurang baik buat kamuflase, bahkan menjadikan gampang dibidik… bagaikan “lesan (target) berjalan”.. karena warnanya yang sangat kontras dengan lingungan sekitar.

Apel Pasukan setelah latihan

Apel Pasukan setelah latihan

Namun perlu dicatat, kedatangan kami bukanlah untuk membawa masalah, namun memberikan yang terbaik untuk penyelesaian konflik di Darfur, tentunya sesuai “motto” dari Korps Brigade Mobil : “Jiwa ragaku untuk kemanusiaan …!”, nantikan kabar kami selanjutnya dari Darfur :)

19 Komentar

Filed under Darfur, FPU, police, Polisi, polri, sudan, UNAMID

Kepala Negara Bisa Jadi Tersangka lho…

Presiden Omar Al Bashir

Presiden Omar Al Bashir

Jadi kepala negara bukannya kebal terhadap hukum, baik hukum pidana, perdata maupun hukum internasional… Seperti yang saya lihat di negara tempat saya bertugas sekarang ini Sudan, Presidennya telah ditetapkan oleh International Criminal Court (ICC) sebagai tersangka dalam tuduhan “Crimes Against Humanity” dan  “War Crimes” atas konflik yang terjadi di Darfur, dan telah dikeluarkan Surat perintah penangkapan (Warrant Arrest) terhadapnya, walaupun surat perintah ini belum ada suatu institusipun yang akan melaksanakannya, namun setidaknya Presiden Omar Al Bashir tidak bisa bebas berpergian ke 180 negara yang menanda tangani kesepakatan bersama ICC.

Apa sih yang terjadi di Darfur ?

Konflik ini dimulai 5 tahun yang lalu, antara masyarakat Darfur ( Dar= tanah, Fur=orang suku Fur)  yang merupakan indigionus Africa dan “Half blood” Arab melawan pemerintah Sudan yang keturunan Arab.   Kalau saya melihat konflik ini sama seperti terjadi di banyak negara berkembang yaitu konflik antara pemerintah pusat melawan daerah,  tentunya berkaitan dengan kesenjangan pembangunan dan bagi hasil antara pusat dan daerah…..  yang  bangsa Indonesia pernah alami seperti konflik di Papua dan Aceh.

Darfur tadinya adalah suatu negara yang dipimpin oleh seorang Sultan, namun akibat kolonialisasi Inggris pada tahun 1890, mereka menggabungkan Mesir, Darfur dan Sudan sebagai suatu negara, namun setelah Mesir merdeka dan Sudan merdeka pada tahun 1956 dari Inggris, wilayah Darfur tetap masuk kedalam wilayah Sudan.  Seiring dengan berjalan pembangunan pasca kemerdekaan, rakyat Darfur merasakan kesenjangan atas hasil pembangunan dan mulai melakukan pemberontakan pada tahun 2003.

Pemerintah pusat Sudan yang beribukota di Kharthoum mulai kewalahan menghadapi konflik separatisme ini,  untuk mengatasi hal ini mereka memanfaatkan sentimen konflik antar ras yang terjadi jauh sebelum pemberontakan ini terjadi,  jadi ceritanya di Darfur bibit – bibit konflik sudah terjadi antara suku bangsa keturunan Afrika (suku Fur) dan indo Africa Arab (Suku Zagawa) yang adalah petani dengan suku Arab Nomaden (Janjaweed) yang pekerjaannya adalah beternak secara nomad, dari dulu konflik ini selalu berkisar masalah perebutan tanah dan sumber air….  Nah konflik inilah yang dimanfaatkan oleh pemerintah Sudan, mereka “memberi angin” terhadap Janjaweed untuk melawan suku bangsa asli Darfur, yang terjadi malah diluar kontrol… terjadi pembunuhan masal, pemerkosaan dan pengusiran masyarakat suku bangsa Asli Darfur dari tempat tinggalnya…

Data yang sering di rilis media Internasional mengatakan korban akibat konflik ini meninggal sebanyak 300 ribu jiwa, dan mengakibatkan 2,5 juta jiwa terusir dari kampung halamannya dan menjadi “pengungsi lokal” (Internal displaced Personal) yang menghuni kamp pengungsi IDP yang terletak di seluruh Darfur.

Kenapa Presiden Sudan bisa menjadi tersangka ?

Kepala Penuntut ICC Mr. Lois Moreno-Ocampo yang berkedudukan di Den Haag mengatakan Presiden Sudan Omar Al Bashir menghadapi 10 tuntutan terhadap kejahatan yang dilakukannya, diantaranya : “Kejahatan terhadap Kemanusiaan” dan “Kejahatan Perang” dan menurut Moreno ia adalah ” Dalang dari penghancuran keberadaan tiga suku bangsa asli Darfur (termasuk Fur dan Zaghawa) ..”

Presiden, jabatan yang rawan…

Serba salah juga berpendapat tentang tuntutan ini, karena bangsa kita pernah (dan masih) mengalami hal yang sama seperti di Sudan, konflik pusat dan daerah yang berimplikasi terhadap keutuhan negara tentunya harus dipertahankan sebisa mungkin, dan biar bagaimanapun setiap konflik pasti berujung dengan jatuhnya korban, pengusiran penduduk dan banyak sekali kriminalitas yang menyertainya…..

Presiden Omar Al Bashir sebagai kepala negara yang berdaulat tentunya memikirkan segala cara untuk tetap mempertahankan keutuhan negaranya, tidak mungkin suatu pemberontakan daerah dibiarkan begitu saja, kalau perlu dibasmi dengan kekuatan bersenjata… coba kita bandingkan dengan negara kita, apakah Presiden SBY bisa dikenakan tuduhan yang sama dengan Presiden Sudan ketika memerintahkan militernya menumpas gerakan separatis Aceh misalnya ?

Nah, kasus Presiden Omar Al Bashir menurut saya bisa menjadi hal yang “kurang menyenangkan”  bagi seluruh kepala negara dunia terutama yang negaranya terjadi konflik separatisme, karena dialah kepala negara pertama yang sedang berkuasa menjadi seorang tersangka, kalau ngga hati – hati akan banyak lagi Kepala Negara didunia menjadi tersangka hanya karena ingin menegakkan kedaulatan dan keutuhan negaranya….. jadi mikir kan ?

9 Komentar

Filed under Darfur, hukum, Janjaweed, sudan

REHAT SEJENAK DI KHARTOUM

Kemarin  hari Rabu sampai Jumat ada kesempatan juga nih untuk melihat kota, jauh dari gurun pasir, jauh dari Om Onta dan Om Donkey..  Ceritanya saya jadi utusan dari FPU untuk mengikuti “Medal Parade” , waduh tanpa pikir dua kali saya langsung membuat MOP (Movement of Personel) sebagai ticket saya menuju Khartoum… kesempatan yang jarang nih euy… lumayan bisa lihat lampu jalan lagi, bisa ke mall satu – satunya di Khartoum Afra, dan yang penting bisa ketemu kawan – kawan di lain missi UNMIS yang berpusat di Khartoum… iya nih saya ketemu lagi dengan Okta temen sejati saya, bayangkan kita tuh SMA sekelas, AKPOL masuk bareng, missi PBB juga bareng dua kali lagi samaan ke Bosnia dan Sudan ini, … apa lagi yaa.. oh ya kita pernah 3 kali tugas di tempat sama di Jawa Timur, pengasuh Akpol dan di Polda Metro.. weleh memang loe ngga bisa jauh dari gue ta:mrgreen: dan satu lagi adalah Irfing.. dia ini bekas Danmenkor (ketua senat) angkatan AKPOL saya tahun 92, nice to meet you all buddy..!

Okta, saya, Irfing

Okta, saya, Irfing

Singkat kata saya tiba di Khartoum, wah memang beda banget nget nget dengan El Fasher :P  bayangin aja sehari hari disana pemandangan cuma pasir dan pasir melulu, dan ada lagi yang lebih membuat saya exciting ! saya dibayarin nginep di hotel bintang lima di Khartoum, namanya Rotana Hotel.. hmmmh bedaaa banget ya rasanya tidur di tenda sama di hotel bintang lima :P

Hotel Rotana, Khartoum

Hotel Rotana, Khartoum

Jadilah kita menikmati suasana kebersamaan itu.. walaupun sebentar tapi acara kita padat banget, dari acara formal menghadiri Medal Parade yang dihadiri bapak Dubes dan UNMIS Police Commisioner, sampe acara non formal.. makan kepala kambing !!! hehehe sementara lupa dulu deh dietnya………

Foto bersama bersama pak Dubes dan Police Commisioner UNMIS

Foto bersama bersama pak Dubes dan Police Commisioner UNMIS

Akhirnya berakhir juga deh rehat sejanak saya, kembali ke El Fasher…  walau cuma 2 hari tapi lumayan lah sekilas melihat ‘peradaban’… kapan ya bisa begini lagi ? hiks hiks…..    dan kawan saya sudah menunggu lagi di sana….. Haloo Mr.Camel nice to see you again ! :mrgreen:

My Best Friend

My Best Friend

4 Komentar

Filed under Blogger, FPU, PBB, sudan, UNAMID

Sehari bersama FPU Indonesia

Setelah tiga bulan bertugas di UNAMID (United Nations African Union Mission In Darfur) di El Fasher Darfur, segalanya nampak lebih terorganisir, tugas yang menjadi tanggung jawab FPU Indonesia sudah terlaksana dengan sangat baik, seperti pernah saya sebutkan tugas FPU sesuai Mandat yang diberikan PBB adalah : “Menjaga keamanan seluruh personel PBB beserta seluruh assetnya, dan juga melakukan patroli untuk menciptakan keamanan di kamp IDP (Internal Displaced Personal)”.  FPU yang terdiri dari 4 peleton selalu bergantian melakukan tugasnya, yang paling utama sehari – hari adalah melakukan pengawalan terhadap CIVPOL (Civilian Police) melakukan “Community Policing” di sekitar IDP Camp, dan IDP camp yang menjadi AOR (Area Of Responsibility) FPU ada 3 yaitu : IDP Camp ZAM – ZAM, IDP Camp ABU SHOUK, dan IDP Camp AL SALAM, jadi pleton – pleton itu habis terbagi di ketiga tempat tersebut..

Danton memberikan arahan sebelum berangkat tugas di Camp FPU Indonesia.

Patroli berjalan kaki disekitar IDP Camp ABU SHOUK

Berfoto bersama CIVPOL polwan dari Afsel, Language Asisten dan Mr. Onta

Tugas melakukan pengawalan terhadap CIVPOL terbagi dalam dua shift yaitu siang dan sore hari, dan bermula dari “Meeting Point” yang telah ditentukan, melakukan meeting sebelum berangkat dengan team leader CIVPOL untuk menyamakan presepsi apa yang akan dikerjakan CIVPOL selama melakukan “Comunity Policing” , biasanya sehari hari mereka bertemu dengan pemimpin “Informal” yang berada di IDP camp yang disebut “SHEIK” , atau setingkat lebih tingginya  disebut “OMDA”, dan beberapa OMDA dipimpin oleh seorang “Chief OMDA” , nah gambaran kalau di Indonesia mungkin SHEIK setingkat RT, kemudian OMDA setingkat Lurah, dan Chief OMDA adalah kepala OMDA diseluruh IDP Camp. Pelaksanaan tugas CIVPOL dengan dikawal FPU biasanya mendatangi SHEIK atau OMDA untuk menanyakan apakah ada kejadian yang meresahkan masyarakat, atau menampung laporan/komplain tentang keamanan di dalam IDP Camp, dari hasil pantauan tersebut CIVPOL membuat laporan harian ke Sector CIVPOL yang ada (di El Fasher adalah Sector North), kemudian di setiap IDP Camp tersebut untuk CIVPOL ada yang disebut CPC (Community Policing Centre), nah FPU Indonesia secara bergantian dan terus menerus membantu CPC untuk melaksanakan tugas “Community Policing”.

Menjaga CIVPOL yang sedang berkomunikasi dengan “OMDA”

Sejenak dengan anak – anak di IDP Camp, anak anak korban perang…

Tugas pengawalan terhadap CPC ke IDP camp terbagi dalam dua shift, yaitu shift pagi jam 8 sd jam 12, dan Shift sore Jam 2 sd jam 6, yang menjadi gambaran pada saat ini adalah pleton 3 yang dipimpin oleh IPTU Alex Fritz Tobing,  dimulai ketika persiapan berangkat di Camp FPU Indonesia pada pukul 07.30 pagi, memberikan sedikit arahan kepada anak buahnya untuk melaksanakan tugasnya, berangkat ke “Meeting Point”  dan berangkat ke IDP Camp “ABU SHOUK”  pada pukul 09.00, kemudian bersama CIVPOL melakukan “Community Policing” bertemu dengan Chief OMDA bertanya jawab tentang situasi dan kondisi, tugas sebagai pengawal mempunyai resiko tersendiri, anggota FPU harus menguasai jalan – jalan disekitar IDP Camp dan harus tahu apabila dalam keadaan “Emergency” jalan terdekat dan aman untuk mencapai titik aman,  yang saya lihat …. anggota FPU sudah sangat hapal lingkungan IDP Camp, bahkan mereka sangat diterima dengan baik oleh masyarakat IDP cam , jauh lebih baik daripada CIVPOL itu sendiri….. mungkin karena keramahan bangsa Indonesia yang pandai “Bersosialisasi” , saya melihat sendiri masyarakat di IDP camp sangat merasa aman dengan kehadiran FPU Indonesia, bahkan salah satu chief OMDA mengirimkan surat kepada PBB bahwa mereka sangat terkesan dan merasa aman atas kehadiran FPU Indonesia di IDP camp, pada tepat jam 12 siang peleton FPU selesai melaksanakan tugas dan kembali ke camp…..

Berfoto selesai melaksanakan tugas dengan aman…, salam dari Darfur !

Well Thanks GOD, tugas terlaksana dengan baik dan tidak kurang suatu apapun… mudah – mudahan terus begini sampai setahun kedepan, sehingga kami bisa bertemu keluarga dalam keadaan aman dan tidak kurang suatu apapun…. Amin….

11 Komentar

Filed under Darfur, FPU, IDP, PBB, police, Polisi, polri, sudan, UNAMID

Addicted to Facebook (Di tengah Gurun Pasir….)

Facebook Narcissism

Facebook Narcissism

Wah sungguh hebat jejaring sosial  milik Mark Zukerberg  ini, mengalahkan semua jejaring sosial yang ada sebelumnya…  dulu saya suka Friendster, namun setelah ada Facebook saya jadi “berselingkuh”  hampir – hampir saya tidak pernah menengok lagi ke rumah saya yang lama itu….  memang benar dikatakan mantan pacar saya bahwa saya tuh “Internet Freak”,  dalam sehari saya bisa berjam – jam di depan komputer dengan “Internet Connection Unlimited” yang saya punya dirumah, walaupun dengan harga yang cukup mahal,  speedy office yang 800 ribu sebulan, kalau di kantor sih gratis yaa :)  tapi sesuai lah dengan kapasitas bandwith saya yang tinggi, apalagi setelah saya bisa menularkan “habbit gila” ini kepada mantan pacar… mengajarinya membuat blog…. dan ternyatanya Blognya lebih ngetop dari Blog saya ini …..dan udah dijadikan buku dan film juga … Selain FaceBook yang fenomenal ini saya sering juga berinteraksi di Forum seperti Forum Kompas, Detik dan yang paling ramai di Kaskus….  Tapi dari semua itu tidak ada yang lebih bikin “kangen” dan “Addicted” daripada Facebook….

Nah persoalan ini timbul ketika saya ditugasi ke Darfur Sudan, weleh, mak.!!! masih bisakah saya berinteraksi dengan Jaring Sosial ini ?????  Wah ternyata masih bisa kok , asyik… asyik…!!  Saya mulai missi di Sudan ini tidak langsung ke Darfur namun masih melewati beberapa kota sebelum sampai kesini yaitu : Port Sudan, Khartoum, El Obeid ….. di ketiga kota ini tidak ada masalah karena External Modem dan Internet Conection yang merupakan satu paket dari Sudani Telecom masih nyambung dengan baik, tapi ketika memasuki daerah tugas sebenarnya di El Fasher, Darfur masalah mulai datang, ternyata Sudani Telecom seluruh BTS nya di sabotase pihak pemberontak, weleh…. ada sih pilihan lain dengan menggunakan Zain Internet Connection dengan paket modemnya ,  walaupun hati mendongkol terpaksa membeli lagi paket Zain…  namun weleh weleh … koneksinya kaya siput banget..  sepertinya berat banget cuma untuk buka “Home Page” nya, namun  demikian tetap saja laku disini,  karena memang tidak ada pilihan lain untuk berinternet selain Zain …

Tapi dewa penyelamat datang setelah UN memberikan komputer di kantor, cuma sssttttttt jangan bilang – bilang yaa, sebenarnya akses ke Facebook diproteksi karena komputer UN ini Strictly for Office Purpose…. jadi di blok kalau mau buka, hehehe saya ngga kehilangan akal, saya menggunakan Proxy Anonymous site untuk membuka situs ini, dan BINGO !!!!!…. saya bisa kembali membuka situs jejaring sosial favorit saya ini…. dan kesuksesan saya adalah : saya juga berhasil menularkan kecanduan Facebook ke para  anak buah FPU …. hehehe…. mereka sangat bersemangat,  apalagi Facebook dilengkapi sarana chat yang bisa menghubungkan dengan keluarga atau kekasih di tanah air,  mereka tahan main “fesbuk” walaupun  hanya melalui koneksi super lambat, …. dan tidak secepat koneksi internet saya (walaupun curang hehehehhehe).

Nah, ini dia beberapa diantaranya, para perwira FPU “young gun” yang kecanduan Facebook di Gurun pasir (kalau ada yang berminat, silahkan buka FB saya dan lihat di “Friends” saya, cukup mengklik lambang Facebook di kanan atas Blog saya ini),  dibawah ini foto profile yang saya ambil dari Facebook mereka  :mrgreen:  … dengan “actionnya” masing – masing :P  ,  keren kan ?

Sekarang cerita tentang “addicted” saya ke Facebook,  tidak rugi dengan kebiasaan ini, …..banyak sekali ternyata kesempatan untuk bertemu kembali teman lama, baik waktu zaman SD, SMP dan SMA…   dan saya menemukan kembali “harta karun” yang susah sekali ditemukan, yaitu foto – foto lama, saya yang saya sendiri sudah ngga tau dimana tersimpan,  nah dari teman saya sewaktu SD PSKD V panglima polim Jakarta namanya Julianto, ia men “tag” saya dalam fotonya, suprise !! saya menemukan kembali foto sewaktu saya SD kelas 1 !!!!! bayangkan betapa berharganya foto ini, ini dia fotonya :


Tebak yang mana saya ???? hehehe…. yang aneh sendiri, berdiri di paling belakang dan paling kanan…

Ok, sekarang pertanyaan saya, apakah kamu sekalian kecanduan Facebook juga ? bagaimana tidak ? apalagi yang berada di tempat yang gampang koneksi Internet nya, Wong saya aja di Gurun Pasir sepi ini masih menyempatkan setiap saat ber “Facebook” ria kok … hehhehe :P

18 Komentar

Filed under Darfur, FPU, PBB, Polisi, polri, Publik, sudan

Merry Christmas From Darfur….

Biarpun jauh dari keluarga (…salah satu hal yang paling menyedihkan) pada hari Natal ini, tidak mengurangi niat kami (anggota FPU yang beragama Nasrani) untuk merayakan Lahirnya Yesus Kristus ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan seluruh umat di Dunia….. Ia yang disebut “Raja Damai” membawa kedamaian dihati kami… dan mungkin akan membawa kedamaian juga bagi warga Darfur yang sedang tercabik – cabik akibat konflik yang tidak kunjung selesai ini…………

Natal Sederhana di Hall Transit Camp FPU Indonesia....

.... Pohon natal bukan dari cemara tapi pohon perdu, karena tdk ada pohon cemara... :)

Acara dilaksanakan dengan sederhana di dalam “Hall” tenda kami.. serta mengundang “tetangga” kami Rwanda Batallion…. dilanjutkan dengan makan malam bersama di “Dining Hall” kami… kamipun saling mengisi acara dengan vokal group masing-masing…

Kolaborasi Vocal Group dari Rwanda Batalion dan FPU

Kolaborasi Vocal Group dari Rwanda Batalion dan FPU

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya mengucapkan “Selamat Natal dan Tahun Baru” Kepada semua yang merayakannya, teriring permintaan kami agar pembaca blog ini mendoakan keselamatan kami semua selama mengikuti tugas di Darfur ini…..

Kami semua FPU Indonesia dan Rwanda Batalion mengucapkan Selamat Natal 08 dan Tahun Baru 09, God Bless U All

FPU Indonesia dan Rwanda Batalion mengucapkan Selamat Natal 08 dan Tahun Baru 09, God Bless U All

Khusus juga saya ucapkan selamat Natal kepada istri tercinta Amy, anak – anakku Alessandro, Carlo dan Matteo… Aku mencintai kalian semua…

18 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, FPU, keluarga, PBB, Polisi, polri, sudan, UNAMID

Oh no…! Not Goat Again….

Baca judulnya : Kambing, Kambing dan Kambing lagi…

Penduduk Darfur mayoritas pekerjaannya adalah pengembala ternak, hampir disetiap rumah penduduk di Darfur mempunyai ternak di halaman rumahnya, Sapi, Kambing, Domba, Donkey atau onta…. itu dalam skala keluarga…. dalam suatu lingkungan biasanya ada juga yang menjadi “pemain besar” , mereka mempunyai ratusan bahkan ribuan ternak………

Pada saat kami tinggal di Cam Zam Zam El Fasher, saya melihat ribuan Sapi dan kambing atau Domba melewati Camp kami pada pagi hari untuk mencari rumput, dan pada sore harinya kembali melewati jalan yang sama, convoy sapi yang terpanjang pernah saya lihat adalah barisan sapi dari paling depan sampai ke belakang sampai 4 kilometer panjangnya…. bayangkan berapa ribu sapi dalam rombongan itu….

Dengan kondisi ini bisa ditebak, harga daging pasti murah sekali……. sebagai gambaran seekor sapi besar disini hanya seharga 400 pound, kalau di rupiahkan seharga 2 juta rupiah, dan seekor Kambing 55 Pound atau seharga 200 ribu rupiah…. murah kan.. ?

Bakar .. bakar jangan sampe gosong yaaa....

Bakar .. bakar jangan sampe gosong yaaa....

Kondisi ini ternyata tidak disia – siakan oleh para anggota FPU, dengan patungan dalam jumlah uang yang sedikit bisa pesta barbeque… dalam moment moment tertentu, secara bergantian, dan yang menjadi favorit adalah barbeque Kambing……. katanya mereka sih untuk perbaikan Gizi … :) selama saya disini, sering sekali mereka mengundang saya: “Komandan, nanti malam diharapkan datang ke tenda, kita nyate kambing…” Weleh – weleh.. apa pada ngga pada tau saya mengidap kolesterol agak tinggi apa yaaaaaaa :mrgreen:

Desert Party dengan menu...... Sate Kambing, sop Kambing.. all Kambing

Desert Party dengan menu...... Sate Kambing, sop Kambing.. all in Kambing

Jadi jawaban saya selalu : “Oh No …! Not Goat Again…!” tetapi demi menghargai yah terpaksa datang juga dan mencicipi… namun malah keterusan, makan kambing kebanyakan……. waduuhhhh habis enak syiiih ! hahahha…….  :mrgreen:

14 Komentar

Filed under Darfur, FPU, keluarga, PBB, police, Polisi, polri, Publik, sudan, UNAMID

Gurun pun kutempuh demi dikau kekasihku……

Perjalanan peralatan FPU yang sangat jauh dari Port Sudan ke Al Obeid yang berjarak 2700 Km, sungguh suatu tantangan tersendiri bagi team advance seperti saya, dengan segala tantangan baik cuaca maupun birokrasi yang panjang…. khususnya buat mendatangkan “kekasih” tercinta Armored Personal Carrier (APC) dan belasan truk milik kami, seyogiyanya perjalanan itu semua dari sudah di kontrakkan dengan perusahaan transportasi lokal….. dari Port Sudan sampai ke “final destination” El Fasher….. namun perusahaan ini menyerah pada sepertiga perjalanan, yaitu hanya sampai AL OBEID, kenapa ? karena sampai lokasi ini lah jalan aspal masih terjangkau, sisanya sepanjang 600 KM melewati gurun pasir, memang kalau dipaksakan bisa saja dilewati, namun yang mereka takutkan adalah tidak terjaminnya keamanan selama melewati sisa jalan ini, sudah ratusan kejadian berupa perampokan terjadi di sepanjang jalan ini…. baik bantuan makanan World Food Program (WFP) maupun peralatan militer milik PBB, kejadian paling mengkhawatirkan adalah dirampokkanya 2 (dua) Kontainer berisi amunisi milik China Engineering Batalion … suatu tamparan bagi PBB karena ternyata amunisi dalam salah satu kontener yang hilang adalah peluru 12,7 MM yang sering dipakai oleh kelompok pemberontak, makanya untuk mengantisipasi hal itu pihak PBB menyarankan agar setiap Troop Contribution Country (TCC) termasuk FPU Indonesia mengambil sendiri kendaraannya dari Al Obeid sampai El Fasher.

Beristirahat sejenak bersama sang kekasih.. dalam perjalanan menuju El Fasher

Beristirahat sejenak bersama sang kekasih.. dalam perjalanan menuju El Fasher

Perencanaan adalah hal yang sangat penting dalam melakukan convoy ini, terutama memikirkan aspek keamanan dan logistik  ( air, makan dan BBM) jarak yang 600 Km kalau jalan beraspal dapat ditempuh dalam waktu 10 Jam, namun dalam kondisi gurun pasir ditempuh dalam waktu 5 (lima) hari…. team mekanik, Protection Force, Driver yang berkemampuan baik dalam kondisi gurun…. yang menjadi tanggung jawab kami adalah membawa “kekasih” kami berupa 12 buah Truk dan 9 APC…

Akhirnya dalam waktu yang ditentukan, beberapa personil yang ditunjuk berangkat ke Al OBEID dengan charter flight, namun didahului beberapa hari sebelumnya oleh team mekanik, untuk mempersiapkan segala kendaraan agar siap dikendarai…..

Akhirnya juga demi “kekasih” tercinta, berangkatlah team pengemudi  FPU dari Al Obeid menuju El Fasher, melewati padang gurun, dengan segala keganasan alamnya….

kendala di perjalanan untungnya tidak ada yang terlalu berarti, hanya ada beberapa kendaraan yang terjebak dalam pasir dan ada kendaraan yang patah pernya…

Setelah melewati waktu tempuh 5 hari bersama sang “kekasih”  sampailah semua dengan selamat di El Fasher…. Raut muka yang lelah dan gosong terbakar matahari tidak mengurangi rasa gembira karena telah berhasil melaksanakan tugas….

Berfoto bersama setelah sang kekasih tiba...

Berfoto bersama sang kekasih setelah tiba...

17 Komentar

Filed under Darfur, FPU, PBB, Polisi, polri, Publik, sudan, UNAMID