Kapolri Jendral Sutanto menutup latihan Pra-Operasi FPU Indonesia dalam persiapan Missi ke Darfur

Rangkaian latihan pra operasi FPU Indonesia dalam rangka persiapan untuk missi ke Darfur yang dilaksanakan tanggal 23 Januari sampai 23 Februari (1 bulan) telah berakhir dengan sukses tanpa ada kendala, hasil yang diharapkan adalah anggota FPU benar – benar siap menghadapi medan tugas di Darfur nantinya…. dan nampaknya tujuan itu tercapai, indikatornya para pimpinan Polri terkesan dengan kesigapan anggota FPU dalam menjalani setiap materi latihan dan penampilan mereka dalam peragaan dalam upacara penutupan….


Kehadiran Kapolri Jendral Sutanto dalam upacara penutupan Lat Pra Ops menandakan Kapolri sangat concern terhadap keberangkatan FPU Indonesia ke Darfur, hal ini dipandang sangat wajar karena Mabes Polri pertama kali mengirimkan personilnya dalam ikatan pasukan…. sesuatu hal yang baru dan masih meraba – raba mencari format yang sesuai…. kendala pasti ada, yang paling krusial adalah pemenuhan material dan logistik bagi FPU Indonesia, lain halnya untuk penyiapan personil FPU.. anggota Brimob sebagai back bone FPU adalah personil yang sangat terlatih dan mempunyai readiness yang tinggi….

Latihan dan kegiatan yang di laksanakan selama 1 bulan ini antara lain :

1. Latihan kesiapan pasukan dalam menghadapi team Pre Deployment Visit dari PBB, untuk menguji kemampuan dalam ikatan pasukan FPU Indonesia (dalam minggu pertama latpraops)
2. Pengenalan daerah Missi Darfur oleh komandan Kontingen UNMIS Akbp Ari Laksmana.
3. Pengenalan Budaya Masyarakat Sudan oleh Dubes Sudan.
4. Human Right dan pengenalan Peace Keeping Operation oleh Deplu.
5. Latihan Bahasa Arab dan Inggris oleh Sekolah Bahasa Polri dan test Bahasa Inggris dari PDV team PBB.
6. Latihan berkuda oleh Direktorat Satwa Mabes Polri.
7. Latihan mengemudi mobil left steering, mengemudi truk dan mengemudi Armored Personal Car (APC).
8. Vaksinasi personil FPU (12 macam vaksin) dan test kesehatan jiwa oleh Bid DOKKES Mabes Polri.
9. Latihan menembak (pengenalan senjata Styer, tembak reaksi, tembak sniper, pistol) oleh PUSLAT Brimob Polri.
10. Cross Country dan Speed Marching oleh PUSLAT Brimob Polri.
11. Latihan luar di Pelabuhan Ratu dengan asumsi medan sesungguhnya (penghadangan, penyerangan, patroli, navigasi, PHH, penyergapan rumah) oleh PUSLAT Brimob Polri.
12. Pembekalan Duta Besar Amerika Serikat tentang keadaan di Darfur (beliau pernah 5 tahun berdinas di Sudan)
13. Pengarahan dari Australian Federal Police (AFP) tentang Peace Keeping Operation.
14. Persiapan peragaan dalam upacara penutupan.

Latihan dan kegiatan tersebut dapat diikuti oleh seluruh personil FPU dan menunjukkan kesiapannya untuk di terjunkan ke daerah Missi yang mempunyai kondisi Ekstrim di Darfur.

Kapolri dalam sambutannya menekankan kepada seluruh anggota FPU agar dapat menjaga nama baik Indonesia, karena baiknya tugas FPU Indonesia akan membawa baik Indonesia, namun buruknya FPU Indonesia juga membawa buruk nama Indonesia di mata Internasional.

Dalam upacara penutupan ini juga diperagakan kemampuan FPU Indonesia dalam menghadapi tugas di Darfur dan terlihat para tamu undangan termasuk Kapolri memberikan respon yang positif atas peragaan ini, juga dipamerkan jenis – jenis material dan Logistik yang akan dibawa FPU Indonesia ke Darfur….

FPU Indonesia direncanakan berangkat keseluruhan pada tgl 1 sd 10 Mei 2008, namun akan ada team yang berangkat duluan (termasuk saya)…. karena kami akan mengurus clereance peralatan setelah kapal mendarat di Port Of Sudan, dan ada juga team yang ikut dengan Kapal Cargo Container yang mengangkut peralatan FPU dari Tanjung Priok.

Demikian para pembaca blog saya… Mohon doa restu agar FPU Indonesia (140 orang) dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan paling penting pulang kembali dengan selamat bertemu dengan keluarga.

Iklan

SERAGAM BARU KHUSUS FPU INDONESIA DI DARFUR

22022008971.jpg

Ini adalah hasil survey saya pada bulan Oktober 2007 ke Darfur dalam menyiapkan kontingen FPU Indonesia untuk diberangkatkan. Pada saat itu saya, komandan kontingen AKBP Johny Asadoma dan seorang dari personil Logistik Mabes Polri AKP Sugianta ditugaskan untuk memelihat kemungkinan peralatan apa yang cocok digunakan di daerah tugas nantinya, hal ini sangat krusial mengingat peralatan standar Indonesia hanya sesuai dengan kondisi tropis Indonesia.

Pada saat meninjau Darfur kami baru sadar bahwa kalau kita menggunakan perlengkapan standar yang biasa dipakai di Indonesia akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasukan, bahkan bisa berakibat fatal dalam penugasan….

Kita jangan terlalu jauh dulu berbicara masalah kendaraan atau akomodasi yang memang harus disiapkan khusus untuk daerah gurun…. Kita bicara dulu masalah Perlengkapan Perorangan yang akan dikenakan oleh masing – masing prajurit… contonya Pakaian : Pakaian itu harus benar – benar nyaman digunakan, cocok dengan daerah gurun, dan bisa mencegah dehidrasi yang berlebihan, dan warna harus disesuaikan dengan gurun dengan asumsi warna yang gelap akan cenderung menyerap panas matahari dibandingkan warna terang, dan satu lagi masalah kepraktisan… berdasarkan pengalaman kami di sana celana coklat tua akan selalu tampak kotor karena derah yang selalu berdebu, lain halnya dengan warna lain seperti abu – abu atau putih…. hal ini berdampak angota akan sering sekali mencuci celananya dengan hambatan keterbatasan air… Demikian juga masalah sepatu, sepatu yang digunakan di daerah gurun ternyata berbeda sama sekali dengan sepatu yang digunakan di daerah tropis…. sepatu itu harus mampu mencegah panas yang berlebihan di mata kaki para pasukan agar nyaman dalam pergerakan, kemudian bobot harus ringan dan harus kuat…..

Atas dasar inilah kami merancang pakaian dan sepatu yang cocok digunakan oleh pasukan FPU Indonesia di Darfur…… Bagaimana tanggapannya ? Not bad kan ?????

DEVILS ON THE HORSEBACK (JANJAWEED) VS POLICE ON THE HORSEBACK (FPU INDONESIA)

Janjaweed
Devils on the Horseback

police in the horseback

Police on the Horseback

Nah ini yang seru ! ….dalam rangka penugasan FPU Indonesia ke Darfur, pasukan dipersiapkan dengan segala kemampuan di dalam menghadapi penugasan di daerah yang super extrem seperti di Darfur, extrem disini selain kondisi alam juga kalau – kalau harus berhadapan dengan Milisia extrem seperti Janjaweed yang mempunyai julukan “SETAN BERKUDA” (Devils on the Horseback)…..

Untuk menghadapi hal tersebut setiap personel FPU dibekali juga kemampuan untuk mengendarai kuda (siapa tahu dapat kuda sitaan Jannjaweed dan diharuskan membawanya………..iya ngga ha ha ha …???).

Kuda memang cocok menjadi kendaraan utama di daerah gurun seperdti di Darfur, terutama dengan “terrain” yang khusus seperti jurang yang terjal “pass way” yang sempit yang tidak terjangkau oleh kendaraan sejenis APC apalagi mobil walaupun mempunyai sistem penggerak roda 4 X 4…..

Memang FPU Indonesia bisa jadi FPU yang TERLENGKAP kemampuannya diantara semua FPU yang rencananya akan bergabung di Darfur, hebat bukan ????

Pengakuan Seorang Pelaku Curanmor (Spesialis Toyota Kijang)

Pencurian Kendaraan Bermotor berada pada tingkat yang sangat memprihatinkan khususnya di Jakarta dalam kurun waktu sebulan bisa puluhan Kendaraan bermotor baik beroda 4 dan roda 2 hilang dicuri…… Pada suatu saat saya pernah menangkap seorang tersangka Curanmor, karena didorong rasa ingin tahu yang tinggi tentang sepak terjang mereka, saya mencoba untuk mengorek caranya untuk melakukan Curanmor… ternyata dengan cara persuasif saya bisa mengorek keterangan darinya, ada hal yang menarik setelah saya korek dari dia, Ia menjelaskan secara gamblang cara ia dan kawanannya beroperasi (tentunya bila ia sampai mau jujur …… harus melalui cara khusus/persuasif, karena biasanya kalau mereka sampai tertangkap biasanya tutup mulut…..)

Dari beberapa pertemuan saya dapat menyimpulkan metode dan cara ia melakukan curanmor, dan inilah apa yang saya dapat :

Kelompoknya dikenal dengan nama “Kelompok Indramayu” karena sebagian besar mereka berasal dari daerah Indramayu dan sekitarnya (Cirebon/Kuningan)…., memang kelompok ini bukan satu – satunya yang ada masih ada beberapa kelompok lainnya yang pelakunya berasal dari Indramayu… Kelompok mereka rata – rata berjumlah 5 sampai 8 orang, dengan pembagian tugas masing – masing.

Memilih sasaran :

Sasaran mereka adalah mobil yang di parkir di dalam rumah, mereka justru tidak pernah melakukan Curanmor dengan mobil yang di parkir di tempat umum. Target mereka hanya mobil Toyota jenis Kijang Kapsul LGX, LSX maupun jenis yang paling baru Kijang Innova, alasannya karena jenis mobil ini gampang untuk jual kembali dan memang paling gampang dibongkar, memang ia tidak pernah mencuri selain jenis Totota Kijang.

Biasanya mereka dalam beroperasi mencari sasaran menggunakan mobil rental, dengan mobil tersebut mereka berkeliling mencari sasaran mobil – mobil yang diparkir di dalam rumah, tentunya mereka mencari sasaran pada saat pemilik sudah memarkirkan kendaraannya pada malam hari…

Sasaran harus mempunyai syarat : Mudah mencapai akses jalan besar, tidak melewati keramaian/ tidak berada di kawasan yang padat.

Waktu :

Waktu beroperasi mereka adalah waktu yang mereka anggap dimana orang paling lengah yaitu : Menjelang Subuh atau menjelang Magrib.

Alat :

Perlalatan Wajib mereka adalah Gunting Gembok/rantai, obeng, tang, kabel dan bor portable.

Cara :

Mereka masuk ke dalam rumah dengan menggunting gembok pagar depan.

Setelah masuk ke rumah/garasi yang terdapat mobil pertama – tama mereka mengecek apakah alarm mobil aktif atau tidak, kalau masih aktif mereka meng-deaktifkan alarm dengan memotong kabel alarm di bawah mesin.

Kunci Depan mereka buka dengan memakai penggaris melalui kaca depan agar kunci pintu tidak rusak, kalau tidak sempat mereka menggunakan kunci “T”.

Stir yang terkunci dibuka dengan membor menggunakan alat bor portable, caranya : rumah kunci di bor dari bawah, bor tersebut akan memotong pengait besi yang mengunci stir di dalam rumah kunci, setelah terpotong maka stir akan bebas kembali… demikian juga satu rangkaian rumah kuncinya… dengan demikian dapat di stater dengan lubang kunci yang tebuka dengan menggunakan obeng.

Namun kendaraan tersebut tidak lansung di stater, karena akan membangunkan pemilik rumah, mereka mendorong dulu kendaraan sampai ke luar pagar, lalu stater dan go ….. bye bye

Pembagian tugas/ hasil :

Dalam melakukan aksinya mereka paling sedikit 5 orang, sebagian mengawasi di jalan kalau ada yang melihat ia segera memberi tahu rekannya di dalam dan apabila orang yang melihat membahayakan mereka harus melumpuhkannya, satu orang stand by di mobil rental mereka kalau ketahuan mereka segera kabur, tentunya mereka telah survey juga jalan yang paling cepat untuk escape.

Hasil setelah dipotong ongkos operasional dibagi rata sesama mereka.

Save House :

Setelah mobil bisa dikendarai mereka meluncur ke Save House yang biasanya terletak di lingkungan mereka, karena sekitar lingungan mereka sudah terbina dan maklum akan pekerjaan mereka. Biasanya mereka mengeluarkan mobil setelah ada pemesan.

Cerita – cerita pada saat melakukan aksi :

Pernah kelompok mereka melakukan curanmor dalam satu hari sampai 5 (lima) mobil.

Rata – rata dalam sebulan mereka mengambil 10 (sepuluh) buah mobil, maksimal mereka pernah mengambil sampai 23 (dua puluh tiga) mobil dalam sebulan.

Pembeli mobil mereka ia tidak pernah tahu, namun ia jelaskan ada seseorang yang mengambil mobil mereka sampai 50 (lima puluh) mobil, biasanya bertransaksi di jalan tol.

Harga mobil dijual 20 (dua puluh) juta rupiah untuk jenis kijang kapsul dan 30 (tiga puluh) juta rupiah untuk jenis Innova.

Pernah suatu saat pada saat mencuri mobil mereka mendapati uang sejumlah 20 juta milik pemilik mobil yang di taruh di dalam laci mobil (waaah dapet dobel yaaa boss….)

Istilah yang lazim dipakai mereka : Pemetik = Pencuri, Asbak = Penadah, Selendang = Surat – surat kendaraan Palsu, KTP = Plat Mobil.

Ok Pembaca POP, ini sekedar tambahan pengetahuan bagaimana kelompok curanmor melakukan aksinya, saya pernah bertanya juga bagaimana supaya aman mobil kita dari aksi Curanmmor ? Ia berkata : Semua cara pengaman dengan menggunakan alarm, kunci rahasia, kunci stang setir dapat di tembus…. jadi percuma saja……. hah ! tapi ada sasaran yang tidak pernah mereka dekati….. yaitu Rumah yang memiliki Anjing… karena buat rombongan mereka terlalu beresiko untuk dimasuki, bukan karena takut namun gongongan anjing bisa membangunkan pemilik rumah … Nah rekan rekan ada baiknya kalau mau aman mobil kita, peliharalah seekor anjing………!!!

catatan : meskipun beberapa orang anggota kelompok ini sudah tertangkap namun kelompok ini masih eksis sampai sekarang… beware ! 

PERSENJATAAN FPU : Non Lethal Weapon (Pepper Ball Launcher)

Pepper Ball Launcher

Salah satu persyaratan FPU untuk ditugaskan dalam Mission Area adalah : Kemampuan Pengendalian Huru Hara (PHH), karena dalam penugasan pasukan perdamaian tidak mungkin diturunkan unsur Militer dalam menangani huru – hara/demonstrasi, salah satu contoh pada Missi PBB di Kosovo (2002), pada saat itu polisi masih usur sipil tidak bersenjata (Unarmed), pada saat itu PBB dihadapkan demostrasi besar – besaran yang melibatkan hampir 200 rb orang, karena pada saat itu polisi hanya sebagai Police Observer yang bekerja perseorangan dan bukan ikatan kelompok apalagi mempunyai kemampuan PHH, akhirnya pada saat itu diturunkanlah UN Military yang tentu saja tidak punya kemampuan PHH…. hasilnya dapat diduga….. sapu bersiiiiih…. pada saat itu terdata kurang lebih 200 (dua ratus) demonstran tewas karena kekurang mampuan militer menangani PHH (dan memang mereka tidak dilatih untuk itu…) Setelah peristiwa Kosovo PBB berpikir untuk menugaskan kepolisian berseragam (Formed Police Unit) yang dapat menangani huru – hara dan ganguan kriminalitas bersenjata…. Semenjak saat itu FPU selalu ada dalam setiap missi perdamaian PBB seperti di Timor Leste, Haiti, Liberia dan terakhir di Sudan….

Launcher

Dalam tulisan ini saya akan membahas salah satu persenjataan Non Lethal (tidak mematikan) yang digunakan oleh FPU Indonesia dalam penugasan ke Darfur, yaitu Pepper Ball Launcher ….. senjata ini adalah modifikasi dari senjata permainan perang – perangan anak muda sekarang yaitu Paint Ball atau Soft Gun, cuma peluru cat diganti dengan Pepper Ball yaitu gas air mata…. yang menimbulkan rasa pedih di kulit dan mata, ini terasa lebih menjamin terlindunginya HAM (he he he), Penggunaan Pepper Ball Launcher berkaca dari pengalaman buruk penggunaan Peluru Karet yang ternyata bisa juga menimbulkan Kematian atau setidaknya Luka Parah apabila ditembakkan dari jarak dekat……

Pepper Ball launcher ini menggunakan Gas untuk penembakannya…. bisa melesatkan 3 peluru per detik…. dan apabila terkena tubuh, peluru bulat plastik akan pecah dan mengeluarkan gas air mata…. (aduuuh periiih…. ), Tempat peluru bola dalam senjata bisa memuat 100 (seratus) peluru, Pepper Bal Launcher adalah persenjataan PHH tingkat peleton, dalam setiap peleton minimal ada 2 orang penembak …. Sekarang bagaimana keiistimewaan PBL dibandingkan Pelontar Gas Air Mata ?…. Menggunakan PBL adalah lebih efektif karena sasaran (para demonstran) dapat dibidik sesuai target, sedangkan penggunaan Gas Air Mata dengan Pelontar, akan menghasilkan ledakan dari tabung Gas Air Mata, menyebabkan Gas Air Mata Tersebar ke udara secara meluas tetapi dampak gas air mata seperti senjata makan tuan, karena petugas polisi pun terkena dampaknya….

Pepper BAll berisi Gas Air Mata…… Bentuk Peper Ball yang dimasukkan dalam Launcer

GO FPU’ers !!!!, FYI : FPU Indonesia mendekati keberangkatannya karena KEPPRES tentang keberangkatan telah ditanda – tangani oleh Presiden……….

PERSENJATAAN FPU INDONESIA DALAM MISI PBB DI UNAMID

Steyr AUG A3
Steyr AUG A3

Persenjataan adalah hal yang paling penting dan mutlak dalam suatu misi/penugasan, khususnya dalam misi PBB yang bersenjata seperti dalam missi FPU Indonesia ke UNAMID…. persenjataan tersebut harus mengalami berbagai macam uji coba apakah sesuai dengan daerah penugasan, dari berbagai macam jenis yang telah di ujicoba Mabes Polri terpilihlah senjata STEYR AUG A3, senjata ini dipandang sangat cocok dalam daerah penugasan nantinya, alasannya : Jenisnya mudah digunakan, tahan cuaca (khususnya daerah panas seperti di Darfur), dan sudah terbukti tangguh dalam setiap penugasan.

Steyr AUG adalah rangkaian senapan yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977 oleh perusahaan senjata Austria Steyr Mannlicher. AUG adalah singkatan dari Armee Universal Gewehr, yang berarti “Senapan Tentara Universal”. Nama Steyr AUG sendiri lebih sering digunakan untuk menyebut versi yang spesifik, yaitu varian senapan serbu bullpup kaliber 5.56 mm NATO, dengan warna hijau dan teleskop yang terintegrasi. Senapan ini sebenarnya telah memiliki banyak varian, mulai dari senapan submesin, senapan penembak jitu, sampai senapan mesin ringan. Senapan ini telah diadopsi menjadi senapan utama angkatan bersenjata Austria, Australia, Selandia Baru, Luxembourg, Irlandia, dan juga sempat dipakai oleh Malaysia. Satuan Polisi Khusus Indonesia yaitu Gegana Brimob Polri dan Detasemen 88  juga menggunakan Steyr AUG.

Steyr AUG A3

Bagaimana kemampuan AUG ?…… AUG adalah salah satu senapan pertama yang menggunalan desain bullpup, yang membuatnya 25% lebih pendek dari senapan lain yang panjang larasnya sama, tanpa mengorbankan performa dan akurasi. Sebagian besar varian AUG dilengkapi dengan bidikan teleskopik 1.5x yang terintegrasi. AUG dianggap memiliki desain ergonomis yang modern. Fitur lain misalnya kemampuan dipakai oleh penembak tangan kanan maupun kidal, dan pengunaan bahan-bahan plastik transparan.
Steyr AUG A2, laras 407 mm.

Laras Steyr AUG bisa ditukar-tukar dengan mudah, misalnya ke laras karabin atau ke laras lebih panjang. Bahkan AUG memiliki perangkat modifikasi yang bisa merubahnya menjadi senapan submesin. Varian lain, seperti varian senapan mesin ringan yang memiliki laras lebih berat, tak bisa dimodifikasi dan sudah diatur dari pabrik.

Steyr AUG 9 mm.

Berikut ini berbagai varian dari Steyr :

* Steyr AUG A1 — Versi standar yang diperkenalkan pada tahun 1977. Awalnya hanya berwarna hijau dengan laras 20 inci.
* Steyr AUG A2 — Serupa dengan A2, tetapi alat bidiknya bisa dicopot dan diganti dengan picatinny rail.
* Steyr AUG A3 — Sudah banyak dimodifikasi. Memiliki picatinny rail yang terintegrasi pada bagian atas dan samping. Menggunakan peluru 6.8 mm Remington SPC.
* Steyr AUG P— AUG A1 dengan laras lebih pendek.
* Steyr AUG P Special receiver— AUG P dengan picatinny rail.
* Steyr AUG 9 mm (AUG SMG/AUG Para)— AUG yang dimodifikasi untuk menggunakan peluru 9 x 19 mm.
* Steyr AUG M203 — AUG dimodifikasi untuk menggunakan pelontar granat M203.
* Steyr AUG LSW (Light Support Weapon) — AUG sebagai senjata pendukung ringan.
* Steyr AUG HBAR (Heavy-Barreled Automatic Rifle) — AUG dengan laras lebih panjang dan berat, bolt tertutup, sebagai senapan mesin ringan.
* Steyr AUG LMG (Light Machine Gun)— Berdasarkan AUG HBAR, tapi dengan bolt terbuka, dan alat bidik 4X bukan 1,5x seperti AUG biasa.
* Steyr AUG LMG–T— Sama dengan LMG, tapi dengan picatinny rail.
* Steyr AUG HBAR–T— Senapan penembak jitu berdasarkan HBAR.
* Steyr AUG Z— AUG A2 versi semi-otomatis untuk pasar sipil.
* Steyr USR— AUG A2 yang disesuaikan untuk pasar sipil Amerika Serikat.
* F88 Austeyr — AUG yang dimodifikasi untuk Australia.

Steyr AUG

Steyr AUG A1
Tipe Senapan serbu
Negara asal Austria
Sejarah pemakaian
Digunakan 1978–sekarang
Pemakai Austria, Australia, Timor Timur,
Irlandia, Indonesia, Luxembourg,
Malaysia, Oman, Pakistan, Filipina,
Selandia Baru, Arab Saudi, Tunisia,
Amerika Serikat, Inggris
Perang Timor Timur, Afghanistan, Irak
Sejarah produksi
Tahun 1977
Produsen Steyr Mannlicher
Diproduksi 1978—
Varian Lihat Varian
Spesifikasi
Berat 3,6 kg (kosong)
Panjang 790 mm
Panjang laras 508 mm

Peluru 5.56 x 45 mm NATO,
9 x 19 mm (AUG SMG)
Mekanisme Operasi gas, bolt berputar
Kec. tembak 650 butir/menit
Kec. peluru 992 m/s
Jarak efektif 450–500 m
Pengisian Magazen 30 atau 42-butir

Sumber : pribadi dan wikipedia

UNITED NATIONS PRE DEPLOYMENT VISIT (PDV)

PDV dari UNDPKO

Mr Faisal (menggunakan jas) dengan KakorBrimob Irjen Wenas, perwakilan AFP beserta pasukan FPU.

Setelah latihan beberapa minggu untuk menghadapi PDV team dari PBB, akhirnya pada tanggal 1 Februari 2008 team PDV dari UN DPKO ( United Nations Department Of Peace Keeping Operation) datang dari New York untuk meninjau kesiapan pasukan dan material FPU Indonesia, hal ini teramat penting karena di tangan mereka keberangkatan FPU Indonesia dapat di syah kan atau tidak, tergantung dari penilaian mereka terhadap kesiapan FPU Indonesia baik dari personil maupun material….

Tampak atas tempat latihan

Tampak atas formasi peragaan kemampuan FPU berikut peralatannya.

Hal – hal yang diujikan adalah sebagai berikut : Bagi para perwira mendapatkan test dan wawancara dalam bahasa Inggris sebagai syarat pokok dalam setiap missi perdamaian PBB, bagi anggota FPU lainnya diujikan bagaimana kemampuan pasukan dalam materi : Riot Control, VVIP Protection, Patroling, Guarding Camp dan Community Policing, setelah dilakukan test terhadap perorangan (Key Position) dan Pasukan dilakukan juga pengecekan terhadap peralatan yang akan dibawa FPU Indonesia, apakah sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan PBB untuk daerah missi, berbicara masalah spektek tentunya agak berbeda karena semua peralatan harus tahan pada cuaca panas gurun pasir di Darfur Sudan….

Mr faisal memberikan presentasi

Mr Faisal dari UNDPKO sebagai team PDV memberikan presentasi mengenai tugas FPU didaerah Missi.

Sebagai wakil UNDPKO yang melaksanakan PDV adalah Mr Faisal dari Pakistan, di tangan beliau kontingen FPU Indonesia bisa berangkat atau tidak, karena hasil penilaian akan langsung dikirim ke Security Counsil (Dewan Keamanan) PBB. Mr Faisal melakukan PDV selama 1 minggu di Indonesia. Pelaksanaan test bahasa Inggris untuk para perwira dilaksanakan di Sekolah Bahasa Polri Cipinang, sedangkan untuk pelaksanaan test kemampuan pasukan dilaksanakan di Markas Korps Brimob Polri Kelapa Dua, Depok….. Pada akhir Kunjungan Mr Faisal menyatakan kekagumannya kepada kesiapan FPU Indonesia dan akan merekomendasikan segera ke Dean Keamanan PBB untuk segera memberangkatkan FPU Indonesia ke daerah Missi UNAMID (United Nations African Mission In Darfur).

Ok FPU’ers segera siapkan fisik dan mentalmu untuk menghadapi tugas mulia kita…… Brigade !