Monthly Archives: Juli 2010

Kesalahan Fatal Penanganan Terorisme: “Pembantaian Atlet Israel Pada Olympiade Munich 1972”

*Dalam tulisan ini saya menceritakan bagaimana kesalahan dalam penanganan terorisme oleh kepolisian Munich Jerman Barat yang berkibat fatal terbunuhnya semua sandera para atlet Israel dalam Olympiade Munich 1972 yang lebih dikenal dengan istilah “Black September”, hal ini adalah era dibentuknya pertama kali pasukan khusus anti teror Kepolisian Jerman GSG9 yang terkenal itu, belajar dari kesalahan ini.*

Pada tanggal 4 september 1972, kelompok radikal yang dikenal dengan kelompok “Black September” yang merupakan anggota terpilih dari sayap militer PLO (Palestinian Liberation Organisation) melancarkan aksi teror dengan sasaran perkampungan atlet Israel peserta Olimpiade Munich 1972. Mereka merancanakan untuk menculik atlet Israel sebagai jaminan tukar tawanan Palestina yang ditawan di Israel. Pukul 04.30 dini hari ketika para olahragawan ini tengah tertidur lelap, Jam 4.00 pagi, 8 anggota Black September memanjat pagar setinggi 1.8 meter.

Adalah pegulat Israel Yossef Gutfreund yang awalnya mendengar bunyi mencurigakan di apartemennya ketika ia memeriksanya ia mendapati pintu apartemennya berusaha dibuka sebelum akhirnya ia mulai berteriak memerintahkan teman-temannya yang lain untuk menyelamatkan diri mereka seraya mendorong tubuh kekarnya menahan laju pintu dari tekanan para anggota Black September. Dua orang atlet Israel berhasil meloloskan diri, sementara delapan lainnya memilih untuk bersembunyi. Seorang atlet angkat berat, Yossef Romano berusaha merebut senjata sang penyelusup, tragisnya ia lalu tertembak dan tewas seketika layaknya nasib Mosche Weinberg, pelatih gulat yang juga tewas saat hendak menyerang anggota penyelusup lainnya dengan pisau buah.

Setelah menawan sembilan atlet Israel pihak Black September menuntut dibebaskannya 234 tawanan Palestina dari penjara Israel dan dua pemimpin kelompok kiri Baader-Meinhoff dari penjara Jerman Barat dan rute aman menuju Mesir, namun untuk pembebasan tahanan Palestina, pemerintah Israel menolak mentah-mentah permintaan itu kecuali untuk rute aman tujuan Kairo yang disanggupi pihak Jerman.

Menteri Bavaria yang juga pengurus Perkampungan Olimpiade menawarkan diri sebagai ganti tetapi tawaran ditolak. Kanselir Jerman Barat Willy Brandt menghubungi Perdana Menteri Israel Golda Meir melalui telepon. Israel enggan memenuhi tuntutan tersebut. Jerman sendiri bersedia membebaskan pemimpin Baader-Meinhof, Ulrike Meinhof dan Andreas Baader.

*Dalam pembahasan ini akan dibahas kesalahan apa yang dilakukan dalam penanganan teroris*


Kesalahan Pertama

Kesalahan pertama yang mendasar adalah kesiapan kepolisian Jerman dalam menghadapi ancaman terorisme, mereka tidak terlatih dan tidak pernah dilatihkan dalam menangani skenario serangan terorisme dalam event sebesar Olimpiade, pihak penyelenggara Olimpiade menganggap pesta Olahraga ini akan aman – aman saja,  jadi mereka menempatkan petugas keamanan sekedarnya, terbukti para teroris “Black September” ini dapat melompati pagar perkampungan atlet tanpa diketahui pihak keamanan, sebenarnya kontingen Israel sempat protes mengenai “lemahnya” penjagaan pihak keamanan, namun tidak ditanggapi panitia penyelenggara.

Konstitusi Jerman pasca perang dunia II mengatakan bahwa militer tidak bisa membantu Kepolisian dalam “masa damai”,  jadi pada saat itu kepolisian Jerman bingung untuk menghadapi hal ini, untuk menangani teroris tidak mampu dan meminta bantuan Militer pun tidak bisa.

Karena Israel menolak untuk bernegoisasi dengan teroris, terutama untuk menyelamatkan para atlet, maka tidak ada pilihan lain bagi Kepala Kepolisian Munich Manfred Scheiber untuk melakukan “operasi pembebasan teroris”. Namun ternyata itu sangat fatal karena anggota kepolisian Munich tidak pernah dilatih untuk membebaskan sandera teroris dan memang tidak ada unit anti teror. Jadilah dibuatlah dengan “terpaksa” sebuah operasi yang dinamakan “Operasi Sunshine” sebagai jawaban dari aksi teroris tersebut.

Kesalahan Kedua

Penyerbu dari Kepolisian, terlihat secara "live TV" dan ditonton juga oleh pihak penyandera...

Penyerbu dari Kepolisian, terlihat secara "live TV" dan ditonton juga oleh pihak penyandera...

Setelah operasi itu dijalankan ditugaskanlah beberapa anggota Polisi untuk menyerbu kedalam kamar atlet Israel tempat mereka disandera, namun kembali ada kesalahan fatal, mereka tidak berkoordinasi dengan media terutama televisi, operasi ini diliput secara “live” oleh televisi, nah…. masalahnya para teroris melihat langsung dari TV upaya penyerbuan tersebut …. gawat kan ?  Nah begitu pihak kepolisian sadar bahwa upaya penyerbuan telah diketahui melalui “live TV” oleh penyandera, maka segera mereka membatalkan penyerbuan, daripada timbul korban dari Polisi…

Akhirnya  karena tidak bisa dilakukan “penyerbuan” maka kepala Kepolisan Munich melakukan plan “B” dengan membawa para penyadera dan tawanannya menggunakan helikopter menuju ke Bandara Furstenfeldbruck menuju Jet 727 yang menunggu.

Rencananya Polisi hendak menjebak komplotan tersebut di Bandara Furstenfeldbruck.  Di bandara inilah komplotan tersebut minta disiapkan sebuah pesawat yang akan menerbangkan mereka ke Kairo, Mesir.  Jet Palsu pun disiapkan dengan 6 personil polisi yang disamarkan sebagai kru pesawat dan dengan mengerahkan Sniper, pihak Kepolisian mendapat informasi dari pengamatan pelaku teroris berjumlah 5 orang dengan tawanan 8 orang.  Di lapangan udara telah disetting lokasi pendaratan Helikopter, 3 sniper ditempatkan di depan helikopter pada atas gedung dan 2 orang sniper ditempatkan dibelakang helikopter di bersembunyi di belakang sebuah truk dan satu lagi dibalik sebuah gundukan.  Rencananya 2 orang dari teroris akan naik ke Pesawat  dan pada saat itulah polisi yang menyamar menjadi crew pesawat akan “melumpuhkan”  teroris tersebut, pada saat penembakan diatas pesawat tersebut akan menjadi “kode” bagi Sniper untuk memulai tembakan mematikan teroris yang berada di helikopter.

Rencana penempatan anggota Polisi di bandara.

Rencana semula penempatan anggota Polisi di bandara.

Kesalahan ketiga

Pada pengangkutan teroris melalui helikopter dari perkampungan Atlet menuju Bandara, barulah diketahui polisi bahwa teroris bukan 5 orang melainkan 8 orang. Hal inilah yang membuat berantakan rencana pembebasan sandera, namun ada yang lebih fatal lagi, ternyata tidak ada komunikasi diantara polisi yang berada di bandara, mereka sama sekali tidak di lengkapi dengan radio komunikasi …. makin banyak saja kesalahannya kan ?

Kesalahan Keempat

Ternyata pilot helikopter tidak di “brief” terlebih dahulu tempat pendaratan di Bandara, jadi mereka mendarat meleset jauh dari rencana semula. Para petugas Sniper menjadi kesulitan lagi untuk melakukan penembakan tepat sasaran, karena sekarang mereka posisinya sejajar dengan rekan mereka yang bersembunyi di belakang helikopter.

Kesalahan Kelima

Para crew  anggota polisi yang berada di pesawat ternyata meninggalkan pesawat sebelum helikopter datang, mereka ternyata “tidak mampu” melaksanakan missi ini, dan memilih  “mengundurkan diri” dengan membatalkan missi secara sepihak, suatu gambaran ketidakprofesionalan mereka, *Hal inilah yang menurut saya paling bodoh* Nah masalahnya mereka meninggalkan pesawat tanpa berkomunikasi dulu dengan anggota lain di bandara, karena memang tidak dilengkapi radio komunikasi.

Kesalahan Keenam

Pada saat 2 orang teroris turun dari helikopter dan mengecek kedalam pesawat, mereka mendapati pesawat telah kosong, lalu mereka kembali berlari menuju helikopter, Salah satu sniper yang berada di belakang Helikopter melihat mereka berlari kemudian melepaskan tembakan, bagi Sniper yang berada diatas gedung dipikir itu adalah kode tembakan dari dalam pesawat bahwa 2 teroris itu dilumpuhkan, malah terjadi tembak menembak antara mereka, para tawanan yang ada di dalam Helikopter di lempar Granat oleh penyandera dan mereka semua tewas… Drama penyanderaan 21 jam itupun berakhir . Sebelas atlet Israel, lima anggota Black September dan seorang polisi Jerman Barat tewas, sedangkan 3 sisa anggota Black September tertangkap.

Inilah foto setelah kejadian, helikopter terbakar

Inilah foto setelah kejadian, helikopter terbakar

Kesimpulan

Penanganan aksi terorisme sama sekali tidak terkoordinasi dengan baik, Kepolisian Munich kurang tanggap dengan keamanan para atlet terbukti tidak pernah ada latihan/ skenario penanganan terorisme, mereka tidak memprediksi akan terjadi aksi terorisme dalam Olimpiade tersebut.

Jadi jelas terlihat bagaimana kacaunya penanganan pembebasan Teroris, yang tidak terencana, yang akibatnya bisa fatal sekali …… Semua 11 sandera tewas.  Dan ini merupakan pukulan telak yang memalukan bagi pemerintah Jerman Barat.

Baru setelah peristiwa memalukan ini pemerintah Jerman mendirikan satuan anti teroris GSG9 yang Indonesia juga belajar dari mereka, dengan dikirimnya perwira muda Prabowo Subianto.

Melihat cerita ini Indonesia ngga malu – maluin dalam penanganan teroris kan ?  Saluuut… 🙂

15 Komentar

Filed under Polisi, teroris

Metoda Serangan Teroris Terbaru, “Urban War But Still Suicide Mission”

*Sudah lama nih ngga update blog, mohon maaf banyak persoalan  mengganggu aktifitas, tapi kalau kita terlalu berkutat masalah itu…. capyee deeh ngga akan maju … so, inilah tulisan baru saya :)*

Terdapat berbagai varian penyerangan teroris menyerang berbagai target yang dianggap “musuh” kelompok teroris tertentu, dalam hal ini kita tegaskan kembali kelompok tersebut merupakan kelompok Islam garis keras yang berafiliasi kepada Al Qaeda, cara – cara mereka sangat luar biasa, dan kebanyakan menggunakan “suicide mission” atau misi bunuh diri, kenapa mereka menggunakan metoda ini ? tentunya kelompok ini ingin mencapai hasil yang sangat optimal dengan mencapai kedalam pusat lingkungan target….

Metode mereka selalu baru, berkembang, sebangun dengan perkembangan pencegahan teror bom bunuh diri dari aparat penegak keamanan, dan sudah pernah saya bahas di tulisan saya ini, Bagaimana cara mereka berkembang ? saya ambil contohnya:  Pengamanan keamanan Hotel Jw Marriot yang sudah sangat diperketat pasca peristiwa bom mobil yang meluluh lantakkan hotel tersebut pada tanggal 5 agustus 2003, tentunya  kelompok teroris mempelajari “kelemahan” security hotel tersebut dan berhasil “meledakkan” kembali hotel tersebut pada tanggal 17 Juli 2009, hal apa yang mereka buat untuk “mengelabui” ketatnya security hotel JW Marriot ? salah satunya dengan memasukkan Ibrahim menjadi karyawan toko bunga yang ada di dalam hotel, 2 tahun sebelum aksi, mereka juga memanfaatkan kelengahan petugas (karena sudah merasa kenal dengan Ibrahim) untuk memasukkan bahan – bahan bom kedalam hotel, sedangkan kita tahu juga “sang penganten” (pelaku bom bunuh diri) bebas masuk ke dalam hotel, memesan kamar tanpa dicurigai .

Demikian juga dalam skala yang lebih besar, selalu saja pihak keamanan menemukan cara yang lebih teliti untuk mencegah serangan teroris tersebut, seiring dengan itu pihak teroris selalu berusaha menemukan “bolong” nya sistem keamanan tersebut…. inilah yang terjadi di Mumbai India pada tanggal 26 sampai 29 November 2008, para teroris menemukan metode baru untuk membuat “teror” yang lebih menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat *Pada hatekadnya aksi teror dari teroris adalah membuat rasa takut dan kepanikan yang luar biasa dari masyarakat sehingga berdampak politis yang menguntungkan tujuan politis mereka* … Kelompok teroris Laskar-e-Taiba yang berasal dari Pakistan melakukan serangan bunuh diri terhadap kota Mumbai.

Menurut saya pribadi, serangan teroris ini merupakan jawaban atas semakin diperketatnya keamanan dalam negeri India atas serangan teror bom yang sering dilakukan, biasanya kelompok teroris melakukan pemboman terhadap kereta api dan stasiunnya, dimana metode transportasi umum ini paling diminati oleh sebagian besar penduduk India.. Kelompok teroris ini mempunyai rencana orisinal yang tidak didapat dengan hanya membawa bomb ransel maupun bom mobil:
1. Membuat suatu “teror” yang rumit, yang membawa dampak kepanikan yang luar biasa dari penduduk, tentunya diliput Media massa sehingga tersiar ke seluruh dunia dan  “gaung” nya mendunia.
2. Membuat teror dengan cakupan wilayah yang cukup luas.
3. Target Warga negara Asing juga termasuk.

Berdasarkan pertimbangan mereka cara – cara “konvensional” berupa serangan bunuh diri menggunakan bom ransel dan bom mobil ternyata sudah makin susah dilakukan dan kurang memberikan “dampak” yang luar biasa, maka mereka menemukan cara yang lebih gampang yaitu serangan bunuh diri menggunakan cara “perang kota” (urban war), sasaran mereka adalah membunuh  “semua orang” yang ada di depan mereka ….

Persiapan Serangan

Laskar E Taiba melakukan perekrutan secara ketat dan terpilihlah 10 orang anak muda yang mempunyai kelebihan secara fisik dan intelegensia, mereka mempunyai safehouse di Azizabad dekat kota Karachi, dan mereka dilatih cara militer, menggunakan senjata (AK 47 dan granat), latihan perang kota dan yang lebih penting mereka dilatih mengenali daerah sasaran, sehingga pada waktu serangan mereka tahu persis dimana mereka bisa sembunyi dan bertahan apabila ada serangan balasan, mereka mempelajari wilayah serangan berdasarkan gambar dari “google earth” … dan hapal luar kepala daerah target sasaran … hebat kan ? saya jadi ingat bagaimana teroris mempelajari pesawat pada saat serangan 9/11 …

Ajmal Kasab, satu satunya teroris yang masih hidup, tertangkap pd serangan di Stasiun Kereta Chapati

Ajmal Kasab, satu satunya teroris yg masih hidup, tertangkap pd serangan di Stasiun Kereta Chhatrapati Shivaji

Serangan Teroris Mumbai

Serangan ini dimulai tanggal 26 sd 29 November 2008, ketika 10 orang teroris dari Laskar E Taiba dari Pakistan membajak kapal penangkap ikan milik nelayan India, kemudian mereka merapatkan diri di Mumbai yang memang kota semenanjung di pinggir laut, kemudian mereka menyebar tiap 2 orang ke masing masing target (jadi total ada 5 target), dalam target sasaran mereka adalah yang utama adalah orang asing atau siapapun yang ada didepan mereka dihantam dengan rentetan peluru AK-47.

 5 sasaran Target  @2 orang teroris

5 sasaran Target @2 orang teroris

inilah sasaran mereka:
1. Stasiun Kereta Chhatrapati Shivaji (diserang oleh 2 orang termasuk yang tertangkap hidup Ajmal Kasab) menewaskan 58 orang dan melukai 104 orang, lalu dua orang ini bergerak menuju Rumah Sakit Cama untuk membunuh semua orang yang terbaring sakit (sadiss banget euy) namun keburu dilumpuhkan oleh pasukan anti teror Polisi India.

2. Leopold Cafe diserang juga oleh 2 orang kelompok teroris itu, mereka membantai para pengunjung Cafe dan mengakibatkan tewas 10 orang termasuk orang asing.

3. Taj Mahal Hotel dan Oberoi Trident Hotel diserang oleh masing – masing 2 orang teroris, mereka menyandera para pengunjung hotel dan menembakinya.  Teroris dapat dilumpuhkan oleh pasukan komando India.

4. Nariman House, tempat sinagog agama Yahudi di Mumbai juga diserang 2 orang teroris, mereka menyandera dan membunuh Rabbi yang bekerja di Nariman House. Teroris juga dapat dilumpuhkan.

Pada tanggal 29 November 2010 serangan berakhir,  dari 10 teroris berhasil dilumpuhkan dengan 9 orang tewas tertembak dan 1 orang tertangkap. Namun total korban tewas sangat banyak yaitu 173 orang (termasuk petugas keamanan) dan melukai 308 orang, diantara yang tewas terdapat 28 orang asing dari 10 negara. Kenapa 10 orang ini sangat kuat 3 hari 3 malam terus menyerang tanpa lelah ? Ternyata hasil otopsi mereka mengkonsumsi cocaine dan amphetamine untuk tetap “kuat”, Serangan teroris ini cukup sukses bukan ?

Cara serangan teroris ini akan juga terjadi di Indonesia ?

Jawabannya :  Ya… Serangan Teroris di Mumbai sangat menginspirasi para kelompok teroris di seluruh dunia terutama yang mempunyai link dengan Al Qaeda,  termasuk di Indonesia… Tahukah beberapa waktu yang lalu terungkap ada pelatihan teroris di daerah Jento Aceh ? Ternyata peserta pelatihan sudah dipersiapkan untuk melakukan aksi “urban war” menyerang berbagai target spesifik yang berdampak luas dan berencana melakukan pembunuhan terhadap pejabat tinggi negara.

Jadi … waspadalah … waspadalah .. jangan sampai negara kita menjadi sasaran lagi oleh kelompok teroris dengan metode serangan terbarunya.. bisa kacau kita …


2 Komentar

Filed under hukum, Polisi, teroris