Anarko Sindikalis

41NZtLXyUVL._AC_ tanggal 11 April 2020, Kapolda Metro Jaya me-release tentang penangkapan 5 Pemuda pada saat pandemi Covid 19, mereka disinyalir merupakan kelompok “Anarko Sindikalis” yang melakukan aksi vandalisme, dengan mencoret dinding dengan pulisan provokasi “Sudah krisis saatnya membakar”, “Kil the rich” , sontak berita ini menjadi top stories, ditambah beberapa hari setelahnya ada penayangan video seseorang yang mengaku sebagai ketua Anarko Sindikalis Indonesia, videonya disini. Berdasarkan itu saya jadi penasaran ingin tahu dan melakukan riset pustaka, dan dapat hasil dibawah ini, semoga menambah pengetahuan kita semua.

Apakah Anarki ? Anarkisme adalah filosofi politik untuk mendesak masyarakat agar memerintah diri – sendiri, berdasarkan pada institusi sukarela. Ini sering digambarkan sebagai masyarakat tanpa kewarganegaraan (stateless society), beberapa penulis telah mendefinisikan mereka lebih spesifik sebagai lembaga yang didasarkan pada perkumpulan bebas yang non-hirarkis. Anarkisme tidak menginginkan negara, dan menganggap negara adalah berbahaya. Anarkisme melibatkan otoritas yang terbalik atau organisasi hierarkis dalam menjalankan semua hubungan manusia, namun tidak terbatas pada sistem negara.

Ada banyak jenis dan tradisi anarkisme, tidak semuanya eksklusif satu sama lain. Aliran pemikiran anarkis dapat berbeda secara fundamental, mendukung apa pun dari individualisme ekstrem hingga kolektivisme. Anarkisme dibagi kedalam kategori anarkisme sosial dan anarki individualis atau gabungan keduanya.

Anarkisme sering dianggap sebagai ideologi sayap kiri radikal dan banyak dari ekonomi anarkis dan filsafat hukum anarkis mencerminkan interpretasi anti-statist dari komunisme, kolektivisme, sindikalisme, atau ekonomi partisipatif. Beberapa kelompok anarko individualis adalah penganut sosialis atau komunis,  dilain pihak beberapa anarko-komunis juga individualis.

Anarkisme sebagai gerakan sosial secara teratur mengalami naik turun popularitasnya. Kecenderungan sentral dari anarkisme sebagai gerakan sosial massa telah diwakili oleh anarko-komunisme dan anarko-sindikalisme, sedangkan anarkisme individualis terutama merupakan obsesi perorangan yang tetap mempengaruhi arus yang lebih besar dan ia juga juga berpartisipasi dalam organisasi anarkis besar.  Identifikasi kelompok anarkis adalah sebagai berikut:
1. Menentang semua bentuk agresi dan mendukung pertahanan diri atau non-kekerasan (Anarko-pasifisme)
2. Mendukung penggunaan langkah-langkah militan, termasuk revolusi dan propaganda, menuju suatu masyarakat anarkis. (Anarko-Sindikalis)

Sejak tahun 1890-an, istilah libertarianisme telah digunakan sebagai sinonim untuk anarkisme dan digunakan hampir secara eksklusif dalam pengertian ini sampai tahun 1950-an di Amerika Serikat. Pada saat ini, liberal klasik di Amerika Serikat mulai menggambarkan diri mereka sebagai libertarian dan sejak itu menjadi perlu untuk membedakan filosofi individualis dan kapitalis mereka dari anarkisme sosialis. Dengan demikian, yang pertama sering disebut sebagai libertarianisme sayap kanan atau sekadar libertarianisme sedangkan yang terakhir digambarkan dengan istilah sosialisme libertarian, libertarianisme sosialis, libertarianisme kiri, libertarianisme kiri, dan anarkisme kiri. Libertarian kanan dibagi menjadi kaum minarkis dan anarko-kapitalis atau sukarelawan. Di luar dunia berbahasa Inggris, libertarianisme umumnya mempertahankan hubungannya dengan anarkisme sayap kiri.

Filsuf Jerman Immanuel Kant melihat anarki dari sudut pandang Pragmatis sebagai “Hukum dan Kebebasan tanpa Paksaan”. Bagi Kant, anarki gagal menjadi negara sipil sejati karena undang-undang hanya merupakan “rekomendasi yang kosong”  (“legitimasi”, secara etimologis fantastis dari legem timere, yaitu “takut akan hukum”) Agar ada negara seperti itu, kekuatan harus dimasukkan saat hukum dan kebebasan dipertahankan, sedangkan negara yang ideal menurut Kant adalah republik.

Kant mengidentifikasi empat jenis pemerintahan:
Hukum dan kebebasan tanpa paksaan (anarki)
Hukum dan paksaan tanpa kebebasan (despotisme)
Kekuatan tanpa kebebasan dan hukum (barbarisme)
Paksaan dengan kebebasan dan hukum (republik)

Doktrin Anarko-Sidikalisme

a. Internasionalisme
Perjuangan untuk membebaskan kelas pekerja dari kapitalisme dan negara hanya dapat terjadi apabila dilakukan secara internasional. PPAS menolak gagasan-gagasan nasional dan lebih memilih solidaritas internasional. Dalam praktik nyata, PPAS mendukung perjuangan lokal dari organisasi Anarko Sindikalis di tempat lain dan begitupun sebaliknya. Hal ini khususnya dapat terlihat dalam perjuangan melawan perusahaan multinasional yang memiliki bisnis di berbagai negara, yang mana perusahaan tersebut akan mendapat perlawanan dari banyak organisasi-organisasi Anarko Sindikalis di bermacam negara secara bersamaan. Membangun gerakan antar wilayah dan bangsa berarti membangun gerakan global untuk kemenangan dalam penghancuran kapitalisme.

b. Solidaritas dan Gotong Royong
PPAS mendukung setiap perjuangan di tempat kerja dan juga komunitas. Solidaritas dan gotong royong merefleksikan ide bahwa setiap orang harus bekerjasama dan membutuhkan satu sama lain. Tanpa solidaritas, kemenangan-kemenangan kecil ataupun perubahan sosial yang lebih luas sangat tidak mungkin dapat terjadi.

c. Kemandirian
PPAS berupaya membangun unit-unit ekonomi non-kapitalistik yang menghisap serta mengumpulkan keragaman dan kekayaan demi berjalannya kelompok secara tercatat dan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka melalui mekanisme formal atau non-formal. Keuangan PPAS didapat dari iuran para anggotanya sendiri dan bersifat tidak dipaksakan. PPAS menolak untuk mendapatkan subsidi dari para bos, organisasi para pemodal, partai politik dan juga negara beserta institusinya.

d. Penolakan Terhadap Kapitalisme dan Negara
PPAS adalah organisasi independen baik secara finansial, politik dan organisasi dan tidak bergantung pada kepentingan politik dan bisnis negara dan kapital. Hal ini karena perjuangan melawan kapitalisme dan negara harus ditentukan sendiri oleh organisasi akar rumput sehingga tidak membiarkan kepentingan-kepentingan tersebut mempengaruhi perjuangan. Pekerja dan pemodal tidak memiliki kesamaan. PPAS melawan bentuk kolaborasi antar pekerja dan bosnya seperti serikat pekerja yang birokratis dan skema lainnya. Dalam perjuangan di tempat kerja, kemenangan-kemenangan yang di dapat mungkin berhubungan dengan tuntutan material yang konkret, namun pada dasarnya tujuan utama dari sindikalis adalah untuk menggantikan sistem kapitalisme dan negara dengan masyarakat yang setara dan mandiri.

Sejarah Anarko-Sindikalisme di belahan dunia

Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei. Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.

Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh.

Anarko-Sindikalisme merupakan gabungan dari dua buah teori yakni anarkisme dan sindikalisme. Anarkisme berasal dari bahasa Yunani “anarki”, yang bermakna tanpa kekuatan, tanpa kekerasan atau pemerintah (Sumber informasi: Alexander, Berkman.” ABC Anarkisme: Anarkisme Untuk Pemula”. Penerbit: Daun Malam.2017. Hal. 23).

Tokoh yang terkenal dalam kelompok anarko-sindikalisme antara lain Rudolf Rocker, ia juga pernah menjelaskan ide dasar dari pergerakan ini, apa tujuannya, dan kenapa pergerakan ini sangat penting bagi masa depan buruh dalam pamfletnya yang berjudul Anarchosyndicalism pada tahun 1938.

Anarko-Sindikalisme adalah cabang dari anarkisme yang berkonsentrasi kepada pergerakan buruh. Sindikalis merupakan kata Prancis yang bermakna “serikat buruh”. Para penganut ideologi ini disebut dengan Anarko-Sindikalis. Anarko-Sindikalis berpendapat bahwa serikat buruh merupakan kekuatan yang potensial untuk menuju kepada revolusi sosial, menggantikan kapitalisme dan negara dengan tatanan masyarakat baru yang mandiri dan demokratis oleh kelas pekerja (Sumber informasi: Rudolf Rocker. “Anarko Sindikalisme: Filsafat Radikal Kaum Pekerja”. Salatiga: PARABEL. 2017. Hal. 117)

Setiap serikat dagang secara federatif dipersatukan dengan seluruh organisasi dalam perdagangan yang sama di seluruh negri, dan pada gilirannya juga dengan seluruh perdagangan terkait, sehingga semuanya disatukan dalam aliansi-aliansi industrial yang umum. Tugas dari aliansi ini adalah menyusun aksi kerja sama dari kelompok-kelompok lokal, melakukan pemogokan berdasarkan solidaritas saat dibutuhkan, dan memenuhi tuntutan perjuangan antara modal dan buruh dari waktu ke waktu.

Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Misalnya slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang adalah “Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan.” Pernyataan tersebut sarat akan penggunaan kekerasan dalam sebuah metode gerakan.

Sejarah Anarko-Sindikalisme di Indonesia

Edward Douwes Dekker alias Multatuli disebut oleh kaum anarkis sebagai inspirator pertama gerakan mereka di Indonesia. Sebab, teks-teks Multatuli memberikan pengaruh signifikan terhadap pekerja anarkis dan sindikalis di Belanda pada awal abad ke-20. Hal itu terekam dalam buku karya M Welcker tahun 1992 berjudul ”Eduard Douwes Dekker, Biografisch Woordenboek van het Sosialisme en de Arbeiderbeweging di Nederland.” (hal 45-58).

Penulis Belanda, K van Dijk, dalam buku terbit tahun 2007 berjudul The Nederlands Indies and the Great War 1914–1918, mengutip pernyataan anggota Indian Social Democratic Union yang menyebut Douwes Dekker sebagai ’Nasionalis Anarkis’ (hal 47-50). Sementara anarkisme sebagai praktik perjuangan, juga terekam ada di Indonesia pada masa pergerakan pra-kemerdekaan. Misalnya, dalam surat kabar lokal Surabaya, Jawa Timur, yakni Soerabaijasch Nieuwsblad, menuliskan artikel tentang pemberotakan anggota Serikat Tentara dan Pelaut (Union of Soldiers and Sailors), November 1918.

Mereka melawan institusi angkatan laut kerajaan Belanda dan mendirikan dewan tentara dan pelaut. Terdapat pengaruh anarkis dalam gerakan tersebut terekam dalam barisan kalimat artikel Soerabaijasch Nieuwsblad yang menyebutkan: ”Ada pelaut yang sangat muda dengan ide anarkis yang jelas”.

Sementara mengenai kelompok anarkis pertama di Indonesia, berdasarkan buku sejarah, muncul antara tahun 1914-1916. Hal terebut terdapat dalam buku Review of the Anarchist Movement in the South Seas.

Pada buku itu, terdapat bukti publikasi anarkis China tahun 1927, bahwa ada kelompok mereka yang menyebar propaganda anarkisme di Hindia Belanda dengan mendirikan surat kabar Minsheng (Suara Rakyat) tahun 1927. Namun, pada era awal setelah Indonesia merdeka, kaum anarkis di Indonesia tak memunyai peran signifikan.

Bahkan, Presiden Soekarno sempat mengkhawatirkan kecenderungan alias tendensi anarko-sindikalisme di Partai Buruh Indonesia, seperti terdapat dalam buku GA van Klinken tahun 2003, berjudul Minorities, Modernity and the Emerging Nation. Christians in Indonesia, a Biographical Approach. (hal 193).

Gerakan anarkisme di Indonesia kembali mencuat sejak era 1990-an, melalui menjamurnya komunitas-komunitas musik punk dan hardcore. Anarkisme muncul di Indonesia pada tahun 1990an. Pada tahun 1993-1994, sebuah skema punk Indonesia muncul. Perlahan-lahan, bagian itu beralih ke aktivitas anti-kediktatoran dan anti-fasis; mereka membangun hubungan dengan gerakan sosial dan dengan gerakan buruh.

Seperti yang dideskripsikan oleh aktivis Indonesia, gerakan anarkis muncul sekitar tahun 1998. “Pada waktu itu anarki identik dengan punk, dan beberapa orang di komunitas itu mulai menaruh perhatian lebih pada ideologi dan nilai anarkis. Sejak saat itu, wacana anarkis mulai berkembang di antara individu dan kolektif di komunitas punk/hardcore, dan kemudian berada dalam kelompok aktivis, pelajar, pekerja yang lebih luas.

Beberapa kongres diadakan. Kelompok-kelompok itu belum begitu stabil, sering hancur dan diganti dengan yang baru. Pada akhir tahun 1990’an dan pada awal tahun 2000’an, Komite Aksi Rakyat Tertindas dan Anti Fasis-Rasis Action ada untuk beberapa waktu di Jakarta, dan ada info-shop Brainwashing Corporation yang mencoba menyebarkan informasi tentang anarkisme dan juga teori-teorinya.

Persebaran Anarko di Indonesia (Pada akhir tahun 1990’an dan pada awal tahun 2000’an, Komite Aksi Rakyat Tertindas dan Anti Fasis-Rasis Action ada untuk beberapa waktu di Jakarta, dan ada info-shop Brainwashing Corporation yang mencoba menyebarkan informasi tentang anarkisme dan juga teori-teorinya. Di Bandung, kolektif konter-kultur aktif, melakukan aksi langsung “dalam kehidupan sehari-hari”; “Forum Bantuan Reksa Dana/Mutual Aid Forum” ada di Malang.

Pada tahun 2001, sekelompok anarkis dari Jawa Barat memproklamirkan (berlawanan dengan orientasi budaya yang berkembang) gagasan untuk membentuk sebuah “anarko-platformis” dan gerakan anarko-sindikalis.
pada tanggal 1 Mei 2007, kelompok-kelompok seperti Affinitas (Yogyakarta), Jaringan Otonomis (Jakarta), Apokalips (Bandung), Jaringan Otonomi Kota (Salatiga), aktivis individu dari Bali dan Semarang, juga beberapa orang dari band punk Jakarta melakukan koordinasi. Penyatuan ini untuk memulai gerakan tertentu yang disebut dengan “Jaringan Anti-Otoritarian”.

Aksi May Day tahun 2007 mengumpulkan lebih dari 100 orang dan menandai kemunculan anarkisme di dalam pandangan publik. Setelah itu, kelompok-kelompok baru muncul di berbagai kota, dan anarkisme mengambil bagian aktif dalam demonstrasi sosial, tindakan melawan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Pada May Day 2008, 200 orang ambil bagian dalam demonstrasi anarkis. Meskipun kelompok dari Bandung (“Apokalips”) dan Salatiga (“The Melawan Syndicate”) menolak untuk mendukungnya, demonstrasi ini digagas oleh kolektif di Jakarta dan “Affinitas” dari Yogyakarta. Aksi tersebut ditujukan terhadap perusahaan besar yang diakhiri bentrokan dengan polisi di dekat gedung perusahaan milik milyuner dan politisi Aburizal Bakrie. Peserta dalam aksi tersebut ditangkap.

Pada tahun 2010, kelompok anarkis beroperasi di pulau Jawa (di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Pati, Surabaya, Rembang, Randublatung, Salatiga, Porong), Sumatra (di Palembang, Pekanbaru, Medan, Ace), Kalimantan (di Balikpapan), Sulawesi (di Makassar, Manado dan Gorontalo) dan di Bali.

Beberapa anarkis Indonesia sekarang tertarik pada anarko-sindikalisme. Sehingga, pada awal tahun 2010, sekelompok aktivis di Surabaya, Jakarta dan daerah lain menciptakan sebuah inisiatif kecil, yang bernama Workers Power Syndicate, yang mengklaim diri sebagai anarko-sindikalis dan pada tahun 2012 membantu karyawan pabrik garmen Garmondo Jaya di Bogor selama ada konflik buruh.

Kegiatan Kelompok Anarko di Indonesia (5 tahun terakhir)

a. 2016, Tanggal 1 November PPAS (Persaudaraan Pekerja Anarko Sindikalis) berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa pekerja di Surabaya menuntut tingkat upah yang rendah.

b. 2017, PPAS (Persaudaraan Pekerja Anarko Sindikalis) memasukkan kelompok-kelompok lokal di Jakarta dan Surabaya, serta beberapa anggota serikat pekerja independen dari driver Uber (KUMAN).

c. 2017, serikat driver uber (KUMAN) memasuki konflik tenaga kerja dengan perusahaan Uber, mengkordinir aksi pemogokan kerja dan unjuk rasa dimana aksi tersebut didukung oleh anarko-sindikalis Internasional, International Workers Association (IWA). Tanggal 7 September 2017 panggilan IWA (International Workers Association) di sejumlah negara di seluruh dunia, aksi solidaritas dengan perjuangan driver Uber Indonesia dijalankan.

d. 2017, Bulan September, anggota Sekretariat IWA mengunjungi Indonesia untuk mengadakan serangkaian diskusi mengenai anarkisme dan anarko-sindikalisme yang berlangsung di kantor pusat PPAS Jakarta dan juga di tempat anarkis Yogyakarta.

e. 2018, 1 Mei, Pada peringatan Mayday di Jakarta, PPAS (Persaudaraan Pekerja Anarko Sindikalis) ikut berpartisipasi tetapi keberadaannya ditolak oleh massa dari KSPSI Andi Gani Nenawea, sehingga terjadi bentrok dan anggota PPAS kemudian lari mendekat ke massa KSPI sehingga sempat menimbulkan kericuhan antara PPAS dengan massa buruh KSPSI dan KSPI.

f. 2018, aksi Mayday di kota Jogjakarta, massa dari Federasi Mahasiswa Libertarian Salatiga ikut bergabung dalam aksi di sekitar UIN Jogjakarta dan melakukan pelemparan bom molotov ke pos polisi dekat kampus UIN Jogjakarta. Menyusup serta membuat provokasi sehingga terjadi kerusuhan menyebabkan dibakarnya Pos Polisi saat peringatan Mayday 2018 di Simpang Tiga UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah berlangsung Aksi Unjuk Rasa oleh gabungan Elemen Mahasiswa : FMJ (Front Mahasiswa Jogyakarta) , PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), FAM-J (Front Aksi Mahasiswa Jogjakarta).

h. 2019, pada Aksi Mayday, Aksi Anarko di berbagai wilayah pada 1 Mei di Indonesia antara lain di: DKI Jakarta, PT Transjakarta telah melaporkan aksi pengurasakan pagar pembatas di Halte Transjakarta Tosari saat peringatan May Day ke pihak kepolisian. Sulawesi Selatan, Di Makassar gerombolan perusuh berbaju hitam merusak gerai McDonald’s dan dan Kantor Dirlantas Polda Sulsel di Jalan AP Pettarani, Makassar. Jawa Barat, Aksi vandalisme yang dilakukan di antaranya mencoret sekolah, aspal jalan, hingga kendaraan yang terparkir di sekitar jalan tersebut. Aksi pengejaran antara massa dan pihak kepolisian sempat terjadi sebelum akhirnya berhasil diamankan di area sekitar Monumen Perjuangan dan Jalan Japati. Jawa Timur, Jembatan Majapahit yang menjadi sasaran corat-coret kelompok beratribut Anarko memiliki panjang 47 meter. Dengan lebar jalur pejalan kaki (trotoar) 1 meter pada setiap sisinya. Mereka salah satunya menuliskan kata ‘menolak upah murah’ tepat di pagar jembatan. Polisi menyebut telah menangkap lima orang dari massa berpakaian hitam-hitam dan memakai penutup wajah. Penangkapan dilakukan saat aksi Hari Buruh Sedunia di depan Grahadi, Surabaya.

i. 2020, Polres Metro Tangerang Kota menangkap lima pemuda anggota kelompok Anarcho Syndicalism. Mereka berencana bikin onar besar-besaran pada April mendatang di tengah wabah virus corona atau Covid-19. penangkapan kelompok ini bermula saat polisi menerima informasi adanya aksi vandalisme oleh warga Kota Tangerang, Banten. Sekelompok pemuda tersebut membuat tulisan dengan menggunakan cat pilok. Tulisan itu antara lain berbunyi ‘Sudah krisis saatnya membakar’, dibuat di tembok sebuah toko, Pasar Anyar, Jalan Kiasnawi Kelurahan Sukarasa, Kecamatan Tangerang. Pada lokasi yang sama, pelaku juga membuat beberapa tulisan provokatif lainnya seperti ‘kill the rich’, disertai lambang huruf ‘A’, kemudian ‘mati konyol, apa mati melawan’.

Jangan sampai jadi korban Sextortion

images-2

Sextortion adalah perbuatan pengancaman dengan tujuan pemerasan atau penyalahgunaan kekuasaan dengan mengekpolitasi secara sexual atau mengancam menyebarkan gambar atau informasi sexual seseorang. Sextortion juga mengacu pada bentuk pemerasan di mana informasi atau gambar seksual digunakan untuk memeras secara seksual dari korban. Media sosial dan pesan teks seringkali menjadi sumber materi seksual dan sarana pengancam untuk menyebarkan kepada orang lain. Contoh dari jenis sextortion ini adalah ketika orang diperas dengan gambar telanjang diri mereka sendiri yang mereka bagikan di internet melalui sexting. Mereka kemudian dipaksa melakukan tindakan seksual dengan orang yang memeras atau dipaksa berpose atau melakukan hubungan seksual di depan kamera, sehingga menghasilkan pornografi hardcore. Metode pemerasan ini juga sering digunakan untuk mengasingkan orang-orang LGBT yang menjaga kerahasiaan orientasi seksual mereka yang sebenarnya.

Bentuk lain sextortion adalah perbuatan korupsi, dimana orang-orang yang dipercayakan dengan kekuasaan, seperti pejabat pemerintah, hakim, pendidik, personel penegak hukum melakukan pemerasan dengan imbalan seksual untuk sesuatu kewenangan mereka seperti menahan seseorang atau memberikan izin. Contoh dari penyalahgunaan kekuasaan termasuk: pejabat pemerintah yang meminta seksual untuk mendapatkan lisensi atau izin, guru yang memperdagangkan nilai bagus untuk berhubungan seks dengan siswa, dan Pengusaha yang meminta seksual seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Sextortion melalui penggunaan webcam juga menjadi perhatian, terutama bagi mereka yang menggunakan webcam untuk flirting dan cybersex. Seringkali ini melibatkan cybercriminal yang menyamar sebagai orang lain – seperti orang yang menarik, mengawali komunikasi yang bersifat seksual dengan korban (sekitar 95% korban adalah laki-laki). Seringkali, cybercriminal hanya menunjukkan kepada korban video pra-rekaman dari pemain dari situs webcam cybersex yang cukup mereka kenal, kemudian mengirimkan pesan kepada korban di titik-titik dalam video di mana pelaku tampaknya mengetik di keyboard, untuk memberikan ilusi bahwa pelaku dalam video mengirim pesan kepada mereka. Korban kemudian dibujuk untuk membuka pakaian di depan webcam, dan mungkin juga dibujuk untuk melakukan perilaku seksual, seperti masturbasi. Video ini direkam oleh penjahat dunia maya, yang kemudian mengungkapkan maksud sebenarnya mereka dan menuntut uang atau layanan lain (seperti gambar korban yang lebih eksplisit, dalam kasus pemangsaan online), dan mengancam akan merilis video ke layanan video seperti YouTube dan kirimkan ke anggota keluarga dan teman-teman korban jika mereka tidak patuh. Kadang-kadang ancaman untuk membuat tuduhan pedofilia terhadap korban juga dibuat. Ini dikenal sebagai pemerasan webcam.

Dengan maraknya penggunaan media sosial kejadian tidak mengenakkan ini sekarang banyak terjadi pada masyarakat kita, Media sosial menjadikan kerawanan tersendiri bagi pemakainya untuk menjadi korban sextortion, Saya melihat ada peningkatan dalam pelaporan korban sextortion, dengan korban baik tua maupun muda, baik pria maupun wanita. Dan peristiwa terbanyak di Indonesia adalah Sextortion melalui media sosial dengan tujuan pemerasan untuk mendapatkan uang (bukan sexual), jikalau melihat list korbannya, adalah banyak orang – orang terpandang dan terpelajar, dari keluarga yang terlihat baik baik, bayangkan ketika seorang ibu baik baik dari keluarga terpandang menjadi korban sextortion, datang untuk melapor dengan penuh rasa malu dan takut, malu karena aibnya akan tersebar, dan takut akan diketahui suami atau anak2nya, demikian juga seorang bapak yang punya kedudukan, bagaimana perasaannya apabila mendapat kasus ini, seperti ibu tersebut takut dan malu apabila diketahui keluarga apalagi khalayak ramai. Maka pada kebanyakan kasus korban – korban ini menyerah pada pemerasan yang dilakukan oleh pelakunya, dengan ancaman akan menyebarkan video atau foto tidak senonohnya.

Cara pencegahan sexortion melalui media sosial adalah mudah sekali, “JANGAN MEMBUKA BAJU ATAU CELANAMU DI DEPAN KAMERA”, mudah sekali kan ? cuma kenapa ya banyak yang tetap melakukannya ? hehehe khilaf kali yaa…

Situs PN Jakpus Diretas, Pelaku Berhasil Diamankan.

IFGnPhOB0r6KGj2ADMoDho6vwsSCWB2830kM27Yx

Pada tanggal 19 Desember 2020, Dittipidsiber Bareskrim Polri menerima laporan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait aksi peretasan terhadap situs http://sipp.pn-jakartapusat.go.id/. Pada tanggal 8 Januari 2020, Unit 2 Subdit 1 Dittipidsiber Bareskrim Polri berhasil mengamankan pelaku peretasan tersebut, yaitu “CA” dan “AY”.

Tersangka “CA” merupakan pendiri komunitas Typical Idiot Security yang diketahui telah berhasil melakukan defacing terhadap sekitar 3.896 situs milik pemerintah, perusahaan, pribadi, baik dari dalam maupun luar negeri. Tersangka “AY” alias “KONSLET” diketahui berhasil melakukan defacing terhadap 352 situs dalam dan luar negeri. Kedua tersangka “CA” dan “AY” belajar melakukan deface/hacking secara otodidak. Pendidikan terakhir keduanya adalah lulusan SD dan SMP. Selama melakukan aksinya, mereka tidak pernah menetap di satu lokasi. Mereka pindah dari apartemen satu ke apartemen lain dengan cara menyewa. Selain defacing, mereka juga diduga terlibat aktifitas sindikat carding. Sampai saat ini Dittipidsiber Bareskrim Polri masih mendalami keterlibatan tersangka dalam aktifitas lainnya.

Tersangka CA melakukan peretasan terhadap situs pn-jakartapusat.go.id dengan menggunakan laptop Asus milik tersangka AY. CA menggunakan koneksi Apartemen Green Pramuka yang ia sewa bersama dengan AY. CA menggungah file php script yang berfungsi sebagai backdoor ke salah satu direktori situs pn-jakartapusat.go.id kemudian memberikan akses backdoor kepada AY. Selanjutnya, AY mengunggah file index.html yang mengubah tampilan muka situs pn-jakartapusat.go.id menjadi berbeda dengan tampilan yang diketahui umum.

Agar terhindar dari modus kejahatan ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, seperti :

Melakukan penetration test (pen-test) secara berkala,
Memperbaharui kata kunci dan username secara berkala,
Melakukan update firewall dan anti virus secara berkala,
Selektif dalam menggunakan koneksi WiFi.

Review Situasi Peredaran Narkoba di ASEAN

istock-174825736-webbannerSetiap tahun ASEAN mengeluarkan ASEAN Drugs Monitoring Report yang merupakan program inti dari ASEAN-NARCO sebagai upaya untuk pengendalian Narkoba di kawasan ASEAN, melalui sharing informasi dan pengumpulan data dari negara – negara anggota ASEAN. Setiap tahun diadakan konferensi ASEAN Drug Monitoring Network (ADMN) sebagai instrumen pengumpulan informasi yang dikembangkan untuk semua penggunaan Negara Anggota ASEAN untuk memantau situasi narkoba dan peringatan dini pada situasi narkoba. Dibawah ini adalah informasi tentang situasi narkoba di kawasan ASEAN diambil dari ASEAN Drugs Monitoring Report tahun 2017

Situasi peredaran narkoba dikawasan ASEAN cukup mengkhawatirkan dengan masuknya tablet metamfetamin dan metamfetamin kristal dari pusat produksi Narkoba di Golden Triangle (Segitiga Emas) yaitu di bagian utara negara Myanmar, Laos dan Thailand.

Jenis narkoba utama yang digunakan luas di kawasan ASEAN adalah ganja, opium, heroin, tablet methamphetamine (yaba) dan sabu-sabu methamphetamine.

Situasi peredaran Narkoba di ASEAN semakin mengkhawatirkan dengan munculnya New Psychoactive Substance (NPS/Zat-Zat Psikoaktif Baru) dan narkoba jenis lain seperti kokain, ekstasi, ketamin dan Erimin 5 (Happy five)

Berdasarkan data dari Negara-negara Anggota ASEAN, penyalahgunaan non-medis dari obat-obatan farmasi diketahui semakin meningkat.

Di ASEAN, Opioid farmasi yang disalahgunakan adalah metadon, morfin, tramadol, alphaprodine, buprenorfin dan fentanil serta produk farmasi lainnya. Lebih dari 50 persen orang yang menerima pengobatan Rehabilitasi adalah pengguna Amphetamine Types Stimulant (ATS) seperti amfetamin, metamfetamin, ekstasi dan cathinones sintetis.

Sebagian besar pengguna narkoba yang direhabilitasi di Brunei Darussalam, Kamboja, Filipina, Malaysia dan Singapura adalah pengguna Shabu atau kristal methamphetamine, sementara di Thailand dan Laos adalah pengguna tablet metamfetamin. Penggunaan metamfetamin sangat mengkhawatirkan di ASEAN sama halnya dengan penyalahgunaan NPS dan metadon.

Pada tahun 2017, telah dilakukan rehabilitasi terhadap lebih dari 300.000 pengguna narkoba di ASEAN. Angka pemakai yang direhabilitasi secara keseluruhan adalah 50,6 per seratus ribu populasi (1,8 kali meningkat dari tahun sebelumnya). Indonesia memiliki angka terendah dibandingkan dengan Thailand.

Tingkat penerimaan rehabilitasi di Malaysia, Filipina, Singapura dan Indonesia menurun dibandingkan tahun 2016 sementara Thailand, Kamboja, Myanmar dan Brunei Darussalam meningkat.

Angka pengguna narkoba ASEAN secara keseluruhan adalah 70,1 per seratus ribu penduduk, mulai dari 17,3 di Indonesia hingga 317,9 di Thailand.

Angka pelaku meningkat di Brunei Darussalam, Kamboja, Thailand dan Myanmar sementara Malaysia dan Singapura menurun.

69,1 persen dari semua pelanggar terkait dengan ATS.

Pada tahun 2017, ada 357.443 kasus narkoba di ASEAN. Sejumlah 64,6 persen dari keseluruhan kasus adalah pemakai jenis ATS termasuk amfetamin, metamfetamin, ekstasi, cathinonoes dan pseudoephedrine.

Pada tahun 2017, penyitaan Narkoba jenis ATS menyumbang lebih dari 90 persen dari semua penyitaan yang dilakukan oleh seluruh aparat penegak hukum di ASEAN.

1 persen dari penyitaan adalah jenis CNS Depressants (keduanya Benzodiazepine dan Barbiturat)

Lebih dari 60 persen pelanggar hukum yang ditangkap oleh Negara Anggota ASEAN terlibat dalam pelanggaran terkait narkoba jenis metamfetamin (tablet dan kristal)

Laos, Malaysia dan Vietnam adalah negara-negara dimana jumlah pelanggar metamfetamin kurang signifikan.

Filipina melaporkan penggunaan “bitcoin” sebagai cara pembayaran, Bitcoin adalah jaringan pembayaran inovatif dan jenis uang baru. Tiga operasi terpisah yang dilakukan oleh penegak hukum di Filipina berhasil menyita total 223 tablet ‘fly high’ dan 1044 tablet ekstasi bitcoin.Narkoba tersebut dikirim dari Belanda dan tersangka ditangkap adalah warga negara India. Internet dan pos paket juga digunakan untuk perdagangan Narkoba.

Dari 230.990 kasus Narkoba jenis ATS yang dilaporkan oleh Negara Anggota ASEAN, 98 persen adalah kasus yang berhubungan dengan metamfetamin dengan total penyitaan lebih dari 200 metrik ton.

Lebih dari 5.000 tersangka asing ditangkap di negara Anggota ASEAN dan ini termasuk Warga Asing ASEAN yang melakukan kejahatan narkoba di Negara Anggota ASEAN lainnya.

Terdapat 90 persen dari tersangka asing kasus narkoba yang  melintasi perbatasan antar ASEAN adalah warga negara ASEAN, serta sejumlah 7 persen berasal dari  Asia dan Eropa dan 3 persen dari bagian dunia lainnya.

Pada tahun 2018, Tim Jaringan Pemantau Narkoba ASEAN bekerja pada pengumpulan data dan masukan untuk tren narkoba pada tahun 2018.

Situasi mengkhawatirkan yang masih menjadi ancaman adalah banyaknya ATS yang diproduksi dan diperdagangkan di wilayah segitiga emas dalam jumlah besar pada satu waktu. Sejumlah besar bahan kimia prekursor ditemukan diselundupkan ke lokasi produksi di Segitiga Emas.

Tren perdagangan obat terlarang lewat laut meningkat dan juga penggunaan wadah komersial sebagai metode pengiriman narkoba.

Penanggulangan Kejahatan dengan Kesadaran Sendiri

Alternatif penegakan hukum di dunia sekarang sudah berkembang, dulu selalu kita berpikiran agar memberlakukan hukuman yang sangat berat bagi pelaku pidana agar kapok, pada tulisan saya sebelumnya ada pertentangan pendapat mengenai penerapan hukuman mati, apakah masih efektif menghilangkan kejahatan, kita sekarang berpikir, misalnya pada kejahatan narkotika, apakah dengan menerapkan hukuman mati bagi para pengedar akan menghilangkan peredaran narkoba ? Jawabannya tidak.

Perbedaan itu sekarang terlihat dari keberadaan penjara, berdasarkan data di negara – negara maju seperti Belanda, jumlah penghuni penjara semakin lama semakin berkurang, berbanding terbalik dengan penjara di negara berkembang yang sudah sangat penuh sesak melebihi kapasitas.

cb70dc40a4
Penjara yang kosong di Breda Belanda, yang sekarang beralih fungsi menjadi perkantoran dan pusat hiburan.

Dalam teori pemidanaan baru dikenal istilah “Reintegrative Shaming” atau mengintegrasikan rasa malu dalam masyarakat, teori ini menekankan pentingnya rasa malu dalam hukuman pidana. Teori menyatakan bahwa hukuman harus lebih fokus pada perilaku pelanggar daripada karakteristik pelaku. Teori ini dikembangkan oleh kriminolog Australia John Braithwaite di Australian National University pada tahun 1989. Hal ini terkait dengan perspektif kriminologi positif, yang dikembangkan oleh kriminolog Israel, Natti Ronel dan tim penelitinya.

Seperti contoh di negara Eropa, beberapa peraturan sudah mengarah kepada kesadaran masyarakat sendiri untuk mematuhinya atau tidak, dengan kata lain mereka menjadi malu kalau melakukan kejahatan, dan dorongan dari masyarakat untuk “menerima” para pelanggar kedalam masyarakat, bukannya menjauhkan atau membully bahkan memberi stigma “penjahat” dengan inilah akan timbul rasa malu seseorang apabila melakukan kejahatan, beberapa peraturan itu antara lain:

Di beberapa negara eropa sudah ada jalan bebas hambatan yang “no speed limit” terserah seseorang, mau gas pol sekencang – kencangnya dipersilahkan, dengan syarat harus menjaga jarak yang aman dengan kendaraan didepannya, nah dengan adanya aturan ini justru menurut penelitian angka kecelakaan menurun.

Di beberapa negara Eropa juga masyarakat pengguna Narkotika, mau make Ganja, putaw, ekstasi, cocaine, morphin, shabu atau narkotika lainnya diperbolehkan asalkan dalam jumlah dan kadar  tertentu yang dibatasi dan di lokalisir pada daerah tertentu. Kalau mereka melaporkan ke pemerintah bahwa mereka pengguna, pemerintah memberikan sarana kepada mereka, seperti memberikan jarum suntik baru bagi pengguna heroin, dan apabila sudah bosan langsung difasilitasi untuk rehabilitasi. Hasilnya apa ? justru angka pemakai narkotika menurun drastis.

Nah pertanyaannya apakah hal yang menjadi contoh diatas sudah bisa diterapkan dalam hukum kita ? mudah – mudahan pada suatu saat nanti, saat ini belum deh.

Penerapan Hukuman Mati, Pertarungan Klasik di Konferensi Narkotika Sedunia

IMG-20180314-WA0043Semenjak pindah di BNN dan ditugaskan di bagian kerjasama Internasional, ada satu konferensi wajib diikuti oleh BNN dan beberapa kementerian dan lembaga yang berkaitan yaitu Konferensi Komisi obat dan Narkotika (CND / Commission on Narcotic and Drugs), Konferensi ini selalu dilaksanakan tiap tahun di Wina Austria dan penyelenggaranya adalah UNODC (United Nations Office of Drugs and Crime) yaitu sebuah badan di PBB yang bertanggung jawab dalam bidang Narkoba dan Kriminalitas dan melaporkan dalam sidang tahunan PBB. Kenapa selalu di Wina ? karena kantor pusat UNODC berada di Wina.

Mandat dan fungsi CND adalah meninjau dan menganalisis situasi obat-obatan global, dengan mempertimbangkan isu-isu terkait pencegahan penyalahgunaan narkoba, rehabilitasi pengguna narkoba dan pasokan dan perdagangan obat-obatan terlarang. Dibutuhkan tindakan melalui resolusi dan keputusan.

12-CND-OpeningFungsi Normatif CND  berdasarkan konvensi pengendalian obat internasional diberikan otorisasi untuk mem pertimbangkan semua hal yang berkaitan dengan tujuan Konvensi dan memastikan pelaksanaannya. Sebagai organ perjanjian di bawah Konvensi Tunggal Narkotika (1961) dan Konvensi tentang Zat Psikotropika (1971), Komisi memutuskan, berdasarkan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk menempatkan obat-obatan narkotika dan zat psikotropika di bawah kontrol internasional. Sesuai dengan Konvensi Menentang lalu lintas berbahaya pada Obat Narkotika dan Zat Psikotropika (1988), Komisi memutuskan, atas rekomendasi Badan Pengendalian Narkotika Internasional (INCB/ International Narcotic Control Board), untuk menempatkan bahan kimia prekursor yang sering digunakan untuk pembuatan obat-obatan terlarang di bawah kendali internasional. Komisi juga dapat memutuskan untuk menghapus atau memodifikasi tindakan pengendalian internasional atas obat-obatan terlarang, zat psikotropika atau prekursor. Mandat Komisi diperluas lebih lanjut pada tahun 1991. Komisi berfungsi sebagai badan pengatur  yang menyetujui anggaran Dana Program Pengendalian Narkoba Internasional PBB, yang dikelola oleh UNODC untuk memerangi masalah narkoba dunia.

Keanggotaan CND dalam resolusi 1991/49, memperbesar keanggotaan Komisi dari 40 menjadi 53 anggota, dengan pembagian kursi berikut di antara kelompok-kelompok regional: 11 untuk Negara Afrika, 11 untuk negara-negara Asia,
10 untuk Amerika Latin dan Karibia, 6 untuk Negara-negara Eropa Timur, 14 untuk negara-negara Eropa Barat dan lainnya, setiap negara tersebut menjadi anggota CND selama empat tahun. Anggota dipilih dari Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan khusus dan Pihak pada Konvensi Tunggal Narkotika, tahun 1961, dengan memperhatikan keterwakilan negara-negara yang merupakan produsen penting daun opium atau koka, negara-negara yang penting di bidang pembuatan obat-obatan narkotika, dan negara-negara di mana kecanduan obat-obatan terlarang atau lalu lintas gelap dalam narkotika obat merupakan masalah penting dan dengan mempertimbangkan prinsip distribusi geografis yang adil. Indonesia pada kali ini tidak menjadi anggota komisi ini sehingga dalam pertemuan ini menjadi Observer (Peninjau).

Apa saja sih yang dibicarakan dalam CND ini ? Permasalahan utama dari Narkotika adalah menurunkan Supply (pasokan) dan Demand (kebutuhan),  2 hal inilah yang banyak dibicarakan, untuk mengurangi supply diperlukan penegakan hukum atau berbagai alternatif lain yang ditawarkan dan juga dalam mengurangi demand yaitu dengan salah satunya dengan memanfaatkan komunitas,  berkembang lagi, bagaimana kalau sudah terlanjur memakai ? tentunya harus di rehabilitasi, dan juga banyak  alternatif cara penanganannya. Juga dengan penggolongan jenis narkotika, dalam forum inilah akan ada kesepakatan penggolongan Narkotika, contohnya Methapetamine (Ice, Shabu) yang menjadi golongan 1 Narkotika yang tadinya hanya golongan 2, Jadi intinya forum CND adalah membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Narkotika dan segala aspeknya yaitu strategi, kebijakan dan politisasi sehingga tidak jarang pro dan kontra pendapat yang didukung kelompok negara terjadi, dan peran negara superpower terasa sekali untuk mempengaruhi suatu keputusan.

Yang seru dari pertemuan ini adalah pada saat negara memberikan statement , pada kesempatan itu setiap negara memberikan penjelasan tentang situasi narkoba di negaranya masing – masing serta kebijakan untuk menanggulanginya, entah kenapa penjatuhan hukuman mati bagi para pengedar Narkoba untuk mengurangi supply menjadi topik paling diperdebatkan sejak konferensi CND ini ada, negara – negara  yang tergabung dalam Uni Eropa adalah negara yang paling menekankan dan mempengaruhi negara lain yang masih menerapkan hukuman mati untuk mencabutnya, atau setidak – tidaknya moratorium hukuman mati. Saat ini tercatat masih 22 negara yang masih menerapkan hukuman mati di dunia. Tapi jangan Kuatir masih ada negara besar Tiongkok yang tetap ngotot membela hukuman mati, dengan alasan bahwa korban mati yang ditimbulkan akan lebih besar daripada pengedar yang dieksekusi. Indonesia tentu saja tetap mendukung pelaksanaan hukuman mati, karena masih menjadi hukum positif, dan sikap sebagian besar masyarakat yang masih mendukung pelaksanaan hukuman mati. Demikian sekilas info dari Wina, Austria.

Indonesia konsumen terbesar Narkoba di Dunia ?

369149263
Bahaya peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba

Setelah tertangkapnya 2 kapal pengangkut Narkoba yang berasal dari Taiwan yaitu kapal Wanderlust yang ditangkap Polda Metrojaya mengangkut 1 ton Amphetamin (Shabu) dan Kapal Sunrise Glory yang ditangkap gabungan BNN, TNI AL dan Bea Cukai juga membawa 1,37 ton Shabu, ditambah lagi penangkapan ratusan kilogram  sabhu yang berasal dari Malaysia di Banda Aceh dan Medan, kita jadi bertanya tanya seberapa besar sih demand akan Narkotika di Indonesia ? Kok sudah ditangkap berton – ton masih juga banjir narkoba, seberapa besar sih konsumsi anak bangsa terhadap narkoba, sehingga supply banyak sekali ?

Demikian beberapa fakta yang saya ketahui tentang peredaran gelap Narkotika di Indonesia;  Jumlah pemakai di Indonesia diperkirakan 5 juta orang atau 2% dari jumlah penduduk, data ini diapat dari survey tahunan BNN yang melibatkan outsourching dari Universitas Indonesia. Angka ini mungkin terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang punya 18 juta pemakai atau 18% dari total jumlah penduduk.

Jenis narkotika yang populer dan digunakan sebagian besar pemakai adalah ganja dan diikuti narkotika berbahan sintetis yaitu Shabu atau Amphetamine. Khusus harga narkotika Shabu di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, dibawah Jepang dan Australia, yaitu Rp 1 M sampai Rp 1,2 M/Kg, lucunya tidak mengecilkan demand shabu di Indonesia. Terdapat kecenderungan masyarakat sekarang beralih ke Narkotika Sintetis terutama Shabu.

Ada data yang sungguh mengejutkan dari harga jual narkoba sintetis jenis Shabu, di tingkat pemroduksi di perbatasan Tiongkok/Myanmar harga 1Kg Shabu sekitar Rp 40 jt, biasanya shabu ini di bawa melalui indochina dan Thailand dan menuju “gudang” di Malaysia, sampai di Malaysia harga pasaran sudah Rp 200 jt/Kg, mereka menjadikan Malaysia sebagai “Stepping Stone” sebelum menuju ke Indonesia dan lebih mengejutkan lagi apabila Shabu ini berhasil diloloskan melalui jalur laut (selat Malaka) menuju pantai Timur indonesia dari Aceh sampai Lampung ataupun melalui perbatasan darat di Kalimantan, harganya melonjak fantastis menjadi Rp 1 M/Kg atau naik 5x lipat, jadi bisa dibayangkan keuntungan para bandar apabila bisa meloloskan Shabu hanya dari Malaysia ke Indonesia.

Kalau kita hitung kasar berapa sih konsumsi para pengguna Shabu di Indonesia ? kalau ada 4 juta saja pemakai di Indonesia,  dan setiap orang butuh 1/4 gram/hari, jadi diperlukan 1 ton sehari, jadi kebutuhan Shabu di Indonesia kurang lebih 30 ton/bulan. Suatu angka yang fantastis dan “Inconvinient Truth” kenyataan yang tidak mengenakkan, pantas saja berton – ton Shabu masuk ke indonesia, bagaikan banjir dimusim hujan.

money
Uang sitaan Narkoba di AS, 2,4 juta Dollar Cash

Berapa uang yang dihasilkan oleh para bandar ? kalau 1Kg = Rp 1M, maka uang dari 1 ton Shabu adalah Rp 1 M x 1000Kg artinya Rp 1 Triliun. Jadi perbulan uang yang berputar dari penjualan Shabu adalah 30 T dan kalkulasi setahun menghasilkan Rp 360 T, suatu angka yang sangat – sangat fantastis, maka tak heran bila seorang terpidana mati Freddy Budiman yang telah dieksekusi, menurut team Money Laundring BNN mempunyai uang sekitar Rp 7 Triliun.

Kesimpulan, kenapa peredaran narkoba di Indonsia sangat massif ? sebenarnya ini karena jumlah penduduk Indonesia yang besar, namun juga mempunyai pola wilayah yang unik dengan kepulauannya, yang mengakibatkan banyaknya jalur masuk ke Indonesia dan disinyalir 80% masuknya narkotika (baca:Shabu) ke Indonesia adalah melalui laut. Lalu kenapa harganya mahal ? Hal ini menjadi dilema penegak hukum juga, karena ketatnya pengawasan lembaga penegak hukum di bidang pengawasan peredaran gelap narkoba dari BNN dan Polri, maka sialnya jadi berlaku hukum ekonomi, dengan demand yang tinggi sekali namun supply yang terbatas, otomatis harga menjadi tinggi,  nah lebih sialnya ini jadi hal menguntungkan bandar.

Bagaimana cara mengatasinya ? sudah nyata bahwa penangkapan berton – ton narkoba (baca:shabu) di Indonesia masih merupakan fenomena gunung es, hanya sedikit yang timbul di permukaan, sebagian besar masih tersembunyi di dalam air.  The power of money, masih merupakan daya penarik terbesar bagi para pengedar, dengan usaha yang sedikit berisiko namun menjanjikan keuntungan yang sangat besar, seperti contoh Freddy Budiman, legacy nya walaupun sudah di eksekusi masih meninggalkan uang yang banyak sekali.  Walaupun beresiko ditembak mati atau dieksekusi mereka tidak takut, mereka hanya takut 1 hal, yaitu menjadi miskin. Inilah sementara yang harus dilakukan, para pengedar narkoba harus di miskinkan, karena kejahatan narkoba memerlukan uang untuk modal barang, kalau mereka tidak ada uang, tidak mungkin mereka akan berusaha lagi, maka hilanglah 1 jaringan pengedar, cukup masuk akal kan ?

Anti Narkoba, hindari Lost Generation

bnnKenapa saya pilih judul itu? yes sekarang saya kembali mengalami tour of duty, sejak beberapa bulan ini saya pindah ke Badan Narkotik Nasional (BNN) badan yang dibuat pemerintah untuk melaksanakan tugas utamanya P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika) kadang kita bertanya, kenapa sih masalah pemberantasan Narkoba tidak diserahkan saja kepada penegak hukum saja yaitu Polisi ? saya pun berpikiran begitu tadinya, apa tidak merupakan pemborosan menggunakan dua badan yang tugasnya hampir sama untuk memberantas Narkoba ? ternyata setelah bergabung disini saya menyadari bahwa justru penegakan hukum adalah bagian terkecil dan terletak di ujung daripada pemberantasan narkoba, kalau kita masih menggunakan pendekatan hukum untuk menangkap para pengedar narkoba, sesungguhnya kita telah gagal, karena intinya adalah bagaimana Masyarakat umum mempunyai daya tangkal yang kuat untuk tidak terjebak dalam lingkup penggunaan Narkoba.

Dan terbukti, tidak ada satupun negara di dunia ini mampu dengan upayanya sendiri untuk mencegah beredarnya narkoba dan adanya pengguna narkoba di negaranya. Pemerintah memandang perlunya masalah penyalahgunaan Narkoba ini ditangani secara Holistik dari akar permasalahannya sampai upaya yang paling akhir yaitu penegakan hukum dan BNN telah menangkap keinginan pemerintah dengan didasari oleh UU sebagai dasar operasionalnya yaitu Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Di Undang undang ini beberapa hal yang selama ini diperdebatkan yaitu apakah pengguna narkoba adalah kriminal ? sehingga perlu di penjara ? Kita harus menyadari bersama bahwa pengguna narkoba adalah justru merupakan korban, ia harus diselamatkan jiwanya dan mentalnya, dan wajib menjalani rehabilitasi.

Tugas pokok BNN adalah P4GN yaitu: Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, Ada beberapa bagian di BNN yang mencakup semua aspek tersebut yaitu bagian Pencegahan, Pemberdayaan Masyarakat, Kerjasama dan hukum, Rehabilitasi dan Pemberantasan. Seperti yang saya sebutkan terdahulu, bagian yang terakhir adalah yang merupakan penegakan hukum, ini menunjukkan bahwa penegakan hukum adalah upaya paling terakhir dari upaya pemberantasan penggunaan Narkoba.

Beberapa fakta yang saya dapatkan selama mulai bekerja di BNN, ternyata bahaya penyalah-gunaan Narkoba di Masyarakat Indonesia telah sampai angka yang mengkuatirkan, angka prevalensi Masyarakat Indonesia pengguna Narkoba aktif adalah kurang lebih 6 Juta orang, dan jenis narkoba baru yang termasuk NPS (New Psychoactive Substances)ada ratusan sedangkan yang bisa terdata dalam Laboratorium BNN sampai Juni 2017, 65 NPS telah ditemukan dan baru 48 jenis yang masuk dalam daftar , memang saat ini banyak jenis Narkoba baru yang aneh – aneh muncul, yang paling terkenal ialah jenis Flakka rumus kimianya adalah pyrrolidinopentiophenone atau PVP atau alpha-PVP. Flakka adalah jenis obat sintetis yang bisa membuat orang menjadi hyperaktif dan menjadi Zombie.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana mencegah narkoba? hal ini tidak dapat dipandang enteng, apabila dibiarkan, angka pengguna narkoba akan menjadi banyak sekali dan satu dasawarsa kedepan dapat menimbulkan “lost generation”, bayangkan anak muda yang menjadi tiang masa depan Indonesia, menjadi orang orang yang tidak kreatif dan produktif karena sebagian besar saraf otaknya rusak? (jenis narkoba sintetis yang paling besar efeknya untuk merusak jaringan otak, memang bisa direhabilitasi tapi efek goblok karena otak rusak akan menimpa seumur hidup),  cara paling ekstrim kita bisa contoh Presiden Duterte di Filipina, dengan menembak mati semua bandar dan pemakai sehingga bisa menekan peredaran narkoba sampai ke titik nol, dalam hati kecil saya sih setuju banget,  karena kejahatan narkoba adalah extraordinary crime, sehingga cara pencegahannya tidak bisa dengan cara yang biasa pula, nah itulah yang harus kita pikirkan bersama seluruh komponen negara ini, kita harus berupaya yang extraordinary (bukan yang biasa biasa saja) untuk menanggulangi peredaran dan penyalalahgunaan Narkoba, ayo stop narkoba demi masa depan negara kita.