Yuk Ngerti Kriminologi, Seri 1 (Kejahatan itu Ternyata Dipelajari)

Pada penulisan ini saya mau memberikan sedikit pemahaman kepada para pembaca Blog saya tentang Kriminologi yaitu Ilmu yang mempelajari tentang kejahatan, bagaimana seorang kok bisa berbuat jahat ? Banyak diantara kita sampai sekarang terlibat perdebatan yang tidak berujung dengan pertanyaan: Seorang menjadi jahat itu karena apa ya ? Apakah karena faktor keturunan (Genetika), Faktor Kelainan Kejiwaan Seseorang atau karena pengaruh lingkungan ? Pada kenyataannya ternyata setiap pendapat ini dihargai dalam khazanah ilmu pengetahuan, dan semua mempunyai argumen tersendiri. organised-crime-cartoon

Saya pribadi sampai sekarang paling membela pendapat bahwa kejahatan disebabkan oleh faktor lingkungan, hal ini bukan karena tiba – tiba, pengalaman kerja saya sebagai seorang polisi, banyak meyakinkan saya bahwa pendapat ini benar, menurut saya semua orang yang lahir ke dunia dapat diumpamakan seperti kertas putih yang kosong dan yang belum ditulisi, atau lebih dikenal dengan istilah “Tabularsa” (a blank sheet of paper) dan seiring dengan perkembangannya mulai lah ia terpengaruh dengan lingkungannya, dimulai dengan lingkungan terdekatnya yaitu orang tua, sekolah dan teman dari lingkungan tempat dia tinggal (Peer Group). Memang orang tua yang paling berpengaruh pada pengembangan perilaku anak tersebut, namun ternyata setelah anak itu telah mampu bersosialisasi ternyata lingkungan sekolah dan tempat tinggal lebih berpengaruh, namun sayangnya arahnya lebih dominan kepada perilaku buruk.

Nah, seorang ahli Kriminologi dari Amerika bernama Edwin H Suterland (1883 – 1950) yang menemukan Teori Asosiasi Diferensial atau Differential Association pada tahun 1934 dalam bukunya Principle of Criminology. Sutherland berpendapat bahwa: Perilaku kriminal merupakan perilaku yang dipelajari dalam lingkungan sosial. Artinya tingkah laku manusia dapat dipelajari dengan berbagai cara. Karena itu, perbedaan tingkah laku kriminal  bertolak ukur pada apa dan bagaimana itu caranya tingkah laku kriminal itu dipelajari. Teori ini menegaskan bahwa tidak ada tingkah laku jahat diwariskan secara genetik dari kedua orangtua. Pola perilaku jahat tidak diwariskan tetapi dipelajari melalui suatu pergaulan yang akrab. Penjelasan sederhana mengenai pendapat Suterland adalah sebagai berikut: Setiap orang dimungkinkan melakukan hubungan dengan kelompok yang melakukan aktivitas kriminal, dalam hubungan tersebut terjadi sebuah proses belajar yang meliputi: teknik kejahatan, motif, dorongan, sikap dan alasan rasional kenapa mereka melakukan suatu kejahatan atau tidak melakukan kejahatan. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Criminal behavior is learned;
(Perilaku kejahatan adalah didapat melalui proses belajar);

2. Criminal behavior is learned in Interaction with other person in a proccess of communication;
(Kejahatan dipelajari dengan cara berinteraksi dengan orang melalui proses komunikasi);

3. The principal part of the learning of criminal behavior occurs within intimate personal groups;
(Bagian paling penting dari mempelajari tingkah laku kriminal adalah pada saat bergaul erat secara personal dalam kelompok itu);

4. When criminal behavior is learned, the learning includes (a) techniques of committing the crime, which are sometimes very complicated, sometimes very simple and (b) the specific direction of motives, drives, rationalizations, and attitudes;
(Ketika kejahatan dipelajari, yang dipelajari termasuk (a) teknik melakukan kejahatan yang kadang sulit dilakukan maupun kejahatan sederhana dan (b) bagaimana  motif, dorongan, alasan, dan sikap terhadap kejahatan itu sendiri)

5. The specific direction of motives and drives is learned from definitions of the legal codes as favorable or unfavorable;
(Alasan khusus dari motif dan dorongan melakukan kejahatan dipelajari dari  aturan hukum yang berlaku itu apakah menguntungkan atau tidak menguntungkan);

6. A person becomes delinquent because of an excess of definitions favorable to violation of law over definitions unfavorble to violation of law;
(Seseorang menjadi “nakal” disebabkan pemahaman bahwa  ternyata lebih enak dan menguntungkan melakukan pelanggaran hukum daripada tidak melanggar hukum);

7. Differential associations may vary in frequency, duration, priority, and intencity;
(Asosiasi yang berbeda dalam mempelajari kejahatan  mungkin akan berbeda dalam frekuensi, lamanya bergaul, prioritas kejahatan, dan intensitas bergaul dengan kelompok yang melakukan kejahatan);

8. The process of learning criminal behavior by association with criminal and anticriminal patterns involves all of the mechanism that are involved in any other learning;
(Proses pembelajaran perilaku jahat melalui bergabungnya dengan pola-pola kejahatan dan anti kejahatan meliputi seluruh mekanisme yang juga melibatkan pembelajaran lainnya);

9. While criminal behavior is an expression of general needs and values, it is not explained by those general needs and values, since noncriminal behavior is an expression of the same needs and values
(Walaupun perilaku jahat merupakan penjelasan dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum di kelompoknya, tidak dapat menjelaskan mengapa perilaku yang non-kriminal bisa terjadi, apakah karena ada kebutuhan dan nilai yang sama?)

Wuih, memang agak susah juga menjelaskan pendapatnya Suterland ini dalam bahasa yang sederhana, tapi intinya setiap orang jahat pasti  tidak ujuk – ujuk terjadi, tetapi itu terjadi karena ia bergaul (berasosiasi) dengan teman – teman yang memang berperilaku jahat dan dalam waktu yang tidak sebentar. Dari pergaulan ini si calon penjahat ini melihat nilai yang berbeda, dan alasan yang membuat dia yakin kenapa harus berbuat jahat. Tentunya ia melihat bahwa berbuat jahat ternyata lebih menguntungkan baginya. Ternyata teori ini terbukti (kenapa seorang anak menjadi begal):

Liputan6.com 05 Mar 2015. Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan anak usia remaja menjadi pelaku kejahatan begal dipengaruhi banyak faktor seperti pengaruh lingkungan dan teman sebaya. “Dari hasil penyelidikan kami, pemicu anak melakukan begal bukan disebabkan oleh faktor tunggal, tapi banyak faktor. Salah satunya pengaruh lingkungan dan teman sebaya,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Susanto di Jakarta, Selasa. Yang pertama, kata Susanto, anak yang berinteraksi dengan teman atau lingkungan sosial yang terbiasa melakukan kekerasan akan permisif dengan perilaku kekerasan tersebut.

Setelah mempelajari tentang teori ini tentunya kita semua menjadi berpikir, pasti cara mendidik anak – anak kita agar tidak berperilaku jahat adalah menjauhkannya dari lingkungan yang berperilaku buruk dan dari sekolah yang terkenal pergaulannya buruk, hal itu memang benar,  tapi menurut saya pengawasan orang tua yang penting. Komunikasi dengan anak adalah hal yang terutama, jangan mereka dibiarkan mendapat norma – norma yang tidak baik dari lingkungan luar yang sangat berbeda dengan perilaku positif yang kita ajarkan dirumah, dan yang paling penting jadikan diri kita sebagai orang tua menjadi contoh bagi anak – anak kita, contohnya bagaimana kita melarang anak kita agar tidak merokok kalau kita sendiri sebagai orangtua tetap merokok ? dan perhatikan ini penting ! menurut penelitian merokok adalah pintu gerbang untuk kenakalan yang lain, seperti menghisap ganja dan narkoba jenis lainnya.

Ok, demikianlah seri pertama dari “Yuk Ngerti Kriminologi” , di tulisan selanjutnya akan saya jabarkan tentang bagaimana pendapat ahli lainnya tentang bagaimana seseorang bisa menjadi jahat oleh karena lingkungannya….

1 Komentar

Filed under Blogger

FPU Indonesia VII

Setelah melaksanakan tugas di Malaysia selama 2 tahun, saya kembali ke Jakarta dan mendapat penugasan baru di Biro Misi Internasional yang memang tugasnya tidak asing bagi saya, yaitu melakukan segala hal yang berhubungan dengan penempatan Personil Polri di Misi Internasioanl PBB dari penyiapan Personil hingga Materialnya, dan kebetulan sekarang Get in Touch lagi dengan pasukan Formed Police Unit (FPU), tidak terasa setelah berkesempatan sebagai Pioneer FPU pada tahun 2007, sekarang sudah ter deploy FPU Indonesia yang ke VII di El Fasher Darfur Sudan pada bulan November 2014. Tentunya setiap tahun diadakan penyempurnaan dari segi peralatan dan metoda perekrutan dan pelatihan. Nampak sekali dari Gears yang mereka gunakan semakin sesuai dengan kondisi lapangan. Sekilas cerita bagaimana saya sebagai team awal yang survey ke bakal tempat penugasan, sungguh susah membayangkan gears apa yang cocok untuk digunakan untuk bertugas di daerah dengan alam yang sama sekali berbeda dengan Indonesia, salah satu contoh sederhana adalah kacamata hitam, ternyata bertugas di daerah Gurun Pasir yang panas ini jangan sekali kali menggunakan kacamata dengan gagang metal, akan terasa terbakar di wajah, karena gagang metal itu sebagai penghantar panas yang sempurna, jadi sebaiknya menggunakan kacamata bergagang plastik yang bukan penghantar panas. Well, pengalaman membuat perfect kan ?

Komandan FPU VII, AKBP Rendra Salipu

Komandan FPU Indonesia ke VII kali  ini dipercayakan kepada AKBP Rendra Salipu, lulusan AKPOL angkatan 96 yang telah lulus dengan sistem penilaian yang sangat ketat, berikut dengan 100 orang pasukan utama yang bertugas dalam berbagai pengamanan dalam missi UNAMID dan 40 orang pasukan pendukung yang memfasilitasi segala kegiatan di Camp Garuda dari Memasak, memelihara Alkom, Water Treatment, dan Genset, juga petugas Kesehatan, Logistik dan Administrasi.

Tugas pasukan Utama dan Pendukung adalah seperti dua sisi mata uang, mereka harus saling mendukung untuk pelaksanaan tugas dalam misi perdamaian UNAMID.  Seperti beberapa kali saya tuliskan tentang FPU, penugasan mereka tidak pernah berubah sesuai mandat yang diberikan, yaitu melaksanakan pengamanan terhadap personil dan barang milik PBB.  Dalam kesehariannya mereka melakukan pengawalan terhadap Individual Police Officer (IPO) yang melakukan patroli ke Camp pengungsian Internal, dimana terdapat ribuan hingga ratusan ribu pengungsi akibat konflik yang tidak kunjung mereda dari awal tahun 2000 an ini.

Berikut ini sekilas penugasan mereka, baik dari Pasukan Utama dan Pasukan Pendukung:

Suasana IDP Camp Um Barro

Suasana IDP Camp Um Barro

Pasukan Utama pada minggu ini satu peleton mendapat kesempatan untuk bertugas di Luar kota Elfasher, yaitu di Team Site Um Barro yang memakan waktu 1 jam dan 30 Menit menggunakan Helikopter. Permasalahan yang terjadi adalah Camp Pengungsian Internal yang terdapat di Um Barro walaupun mendapat perlindungan dari Batalion Army dari negara Senegal, penduduk lokal terpaksa mengungsi karena mendapat serangan dari Gerombolan Janjaweed di daerah Abuleha dan Orchi, sehingga sekitar 6000 orang kini menempati IDP (Internal Displaced Person) Camp Um Barro. Tugas dari 1 peleton FPU tersebut adalah membantu Senegal Batalion untuk mengamankan penyaluran bantuan Kemanusiaan dari PBB. Kondisi Pengungsi sangat memprihatinkan karena tempat yang terbatas, sehingga hanya perempuan dan anak – anak yang dapat tinggal di IDP Camp sedangkan Laki laki tinggal di sekelilingnya, mereka bahkan tinggal tanpa pelindung hanya bersandar di balik pohon untuk mengindari panas. Saya mendapatkan liputan langsung eksklusif dari pasukan FPU yang berada di Um Barro, dan inilah dokumentasinya:

IMG-20150212-WA0013[1]

Deploy FPU Indonesia dari El Fasher hingga Um Barro menggunakan Helicopter PBB

Mendafat Briefing tentang penugasan bersama dari Batalion Senegal

Mendapat Briefing tentang penugasan bersama dari Batalion Senegal

Suasana pengamanan di IDP Camp walaupun kena Badai Pasir

Suasana pengamanan di IDP Camp walaupun kena Badai Pasir

Danton FPU memberikan pengarahan sebelum berangkat ke IDP Camp UM Barro

Danton FPU memberikan pengarahan sebelum berangkat ke IDP Camp UM Barro

Dan tidak kalah Pentingnya adalah peran pasukan pendukung FPU, mereka adalah yang bertugas untuk memastikan semua pekerjaan di Missi berjalan lancar, dan inilah dokumentasinya:

Petugas MTO (Motor Transport Officer) Memastikan setiap kendaraan FPU layak Pakai

Petugas MTO (Motor Transport Officer) Memastikan setiap kendaraan FPU layak Pakai

Petugas Kesehatan sedang melakukan Fogging di Camp Garuda

Petugas Kesehatan sedang melakukan Fogging di Camp Garuda

Demikian sekilas mengenai penugasan FPU VII, terlihat jelas keprofesionalan mereka sebagai Duta Indonesia di Misi Internasional yamg membawa nama harum Indonesia. Untuk menjamin Sustainability pasukan FPU Indonesia, pada saat inipun di kantor sedang mempersiapkan FPU VIII yang akan berangkat akhir tahun ini, sehingga ada kesinambungan dan selama Misi UNAMID belum dibubarkan. Semoga sukses dan tetap selamat rekan rekan FPU VII, God Bless You all…

5 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, FPU, IDP, UNAMID

Ideologi Al Qaeda, ISIS dan turunannya

Al-Qaida didasarkan pada ideologi ekstrim, kekerasan dan dioperasionalisasikan oleh jaringan dan individu yang mengejar ide-ide melalui kekerasan teroris. Hal ini mulai berlalu pada tahun 1999 ketika sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap tokoh , group yang berafiliasi ke kelompok teroris (resolusi 1267 ) pertama kali diperkenalkan dan tetap berlaku hingga 15 tahun kemudian. Pertanyaan utama setelah kematian Usama bin Laden pada bulan Mei 2011 adalah apakah atau bagaimana Al-Qaida akan bertahan setelah kematian propagandis utamanya? Dan apakah ISIS adalah penjelmaan baru Al-Qaeda ? ternyata tidak. ISIS adalah bagian dari gerakan Al-Qaida, meskipun perbedaan muncul siapa yang harus memimpin gerakan atau bagaimana tujuannya harus dicapai.

Al-Baghdadi

Al-Baghdadi

Menurut analisis jangka pendek, Al-Qaeda adalah gerakan yang menjadi ideologi umum dari gerakan radikal yang muncul di jazirah Arab dan beberapa tempat lain di dunia. Memang kadang-kadang membingungkan, mereka mempunyai kepemimpinan terpisah dengan kelompok inti yang sebagian besar tersembunyi di Asia Selatan. Gerakan Al-Qaeda termasuk Al-Qaeda inti mumpunyai berbagai macam kelompok yang berafiliasi dan sel, individu atau kelompok terkait lainnya (yang mungkin tidak secara formal atau publik berjanji akan loyal terhadap Al-Qaida inti) dan satu lagi kelompok sempalan yang langsung berasal dari satu ideologi tapi kadang-kadang bersaing dalam otoritas, “branding”, perekrutan dan pendanaan. Al-Qaeda adalah gerakan yang dinamis, dibentuk oleh kelompok dan individu yang mendukung dan berkembang. Hal ini dipengaruhi oleh konteks sosial dan politik dan mereka mencoba untuk mengambil keuntungan dari konflik lokal. Hal ini juga dipengaruhi oleh perubahan sosial dan operasi anti-terorisme oleh suatu negara.

Ayman Mohammed al-Rabbi al-Zawahiri

Ayman Mohammed al-Rabbi al-Zawahiri

Meskipun ISIS mencapai peningkatan pesat dari pada tahun 2014 dan dikeluarkannya pengumuman resmi oleh Aiman ​​Muhammad Rabi al-Zawahiri pada tanggal 3 Februari 2014, yang menyatakan bahwa Al-Qaeda tidak memiliki hubungan dengan ISIS. ISIS tetap menganut ideologi Al-Qaida, sehingga ISIS disebut sebagai kelompok sempalan Al-Qaeda. Perbedaan pribadi jelas antara Abu Bakr al-Baghdadi dan Al-Zawahiri tidak boleh disalah artikan sebagai sinyal bahwa ISIS tidak mengakui ideologi Al-Qaeda. Al-Qaida inti dan ISIS mengejar tujuan strategis yang sama, meskipun mereka mempunyai perbedaan taktis tentang tahapan perjuangan dan perbedaan substantif tentang kepemimpinan pribadi.

Pengumuman Al-Baghdadi tentang sebuah “Khilafah” pada tanggal 29 Juni 2014 dan pidato publik pada tanggal 4 Juli 201412 menunjukkan langkah dari ISIS untuk mengambil keuntungan teritorial. Klaimnya telah membentuk suatu negara Islam adalah untuk untuk melegitimasi tindakan barbar dan membawa makna religius, historis dan ideologis. Dengan menggunakan istilah “khalifah” ISIS bermaksud untuk mengeksploitasi konotasi agama, sejarah dan ideologi kata, mencapai kembali ke khalifah sejarah di tahun-tahun awal Islam. Hal ini juga sejalan dengan apa yang Usama bin Laden yang menjelaskan bahwa tahap akhir dari kampanye teror Al-Qaida yaitu: Pembentukan struktur politik berdasarkan kesalahpahaman tentang agama. Hal ini dirancang untuk mendorong relawan internasional lebih lanjut untuk bergabung dengan gerakan ini. Kekerasan publik ekstrem telah menjadi tema yang berulang dari gerakan Al-Qaeda. Penggunaan kekerasan oleh ISIS adalah merupakan track record yang serupa dengan kebrutalan oleh Al-Qaida di Irak.

Kita melihat bahwa telah terjadi evolusi Al-Qaeda sebagai seperangkat ide “ekstrim” diadakan dan menyebar melalui serangkaian kelompok dan jaringan sosial yang semakin beragam . Ancaman abadi bagi perdamaian dan keamanan internasional yang ditimbulkan oleh gerakan Al-Qaida berasal dari promosi tanpa henti kekerasan teroris. Ancaman berulang dari Al-Qaeda inti dan beberapa kelompok terkait pada 90 an dan ISIS saat ini kemampuan keuangan dan logistik untuk merencanakan, mendanai, memfasilitasi atau melaksanakan serangan teroris. Perencanaan jangka menengah dan jangka panjang utama adalah tahapan saat pejuang teroris asing terkait dengan gerakan Al-Qaeda. Para diaspora asli dari Al-Qaeda inti dan rekan seperti Al-Qaida di Semenanjung Arab dan Al-Shabaab pada gilirannya membantu mendirikan, memperkuat atau memperpanjang kelompok Al-Qaida dan kelompok terkait lainnya. Banyak tokoh operasional senior dalam asosiasi Al-Qaida adalah veteran, membawa berbagai keterampilan, kemampuan dan jaringan sosial yang meningkatkan ancaman teroris. Sementara itu, pemahaman publik yang terus berkembang, kemampuan pemerintah beberapa tahun terakhir dapat menghambat gelar penuh terorisme. Pengawasan preventif dan investigasi yang tetap penting untuk melawan terorisme.

Bagian dari ancaman berkembang di tangan sekitar 15.000 fighters asing yang telah berjuang dengan Al-Qaida dan afiliasinya di Republik Arab Suriah dan Irak. Mereka berasal dari lebih dari 80 negara dan merupakan inti dari sebuah diaspora baru yang mungkin benih ancaman selama bertahun-tahun yang akan datang. Beragam basis sosial dan kadang-kadang suku banyak jaringan hadir dengan gerakan Al-Qaida di Irak dan Suriah adalah menghasilkan pelatihan bersama dan mempunyai pengalaman operasional. Pada tahun 2014, ada jaringan-jaringan yang mencakup individu dari Chechnya, Federasi Rusia, di samping berbagai etnis anggota diaspora Chechnya yang merupakan penduduk dari Negara-Negara Eropa. Ada contoh pejuang teroris asing dari Perancis, Federasi Rusia dan Inggris dan Irlandia Utara yang beroperasi bersama-sama. Kehadiran inti “kelompok Khorasan” Al-Qaeda di Suriah, mengingat bahwa begitu banyak pejuang teroris asing berada di daerah, adalah tanda betapa berbahayanya ancaman sel tersembunyi.

Pembauran individu dari berbagai negara, dan kadang-kadang dari organisasi yang berbeda, telah membantu membentuk evolusi Al-Qaeda. Pada 1980-an dan 1990-an banyak orang menempa inti Al-Qaeda dan afiliasinya berkumpul di Afghanistan. Ikatan sosial didirikan dan kemudian berkembang menjadi sebuah jaringan yang rumit dari aktivis Al-Qaeda dan simpatisan di sejumlah negara. Pada tahun 2014, ada empat pusat tertentu untuk melanjutkan interaksi sosial yang intens: Republik Arab Suriah, Irak, Libya dan Yaman. Selain itu, kurangnya pemerintahan yang efektif di beberapa negara telah menyebabkan penguatan signifikan dari jaringan tempur teroris asing dengan akses mudah ke persediaan luas amunisi standar militer.

Al-Qaeda dan asosiasinya tetap aktif di Afghanistan. Selama pertempuran pada tahun 2014, pasukan keamanan nasional Afghanistan secara teratur mengalami perlawanan dari pejuang teroris non-Afghanistan di seluruh negeri, khususnya di utara-timur, timur dan selatan. Dalam sebagian besar, para pejuang adalah berasal dari kelompok Tehrik-e Taliban Pakistan, Harakat ul-Mujahidin / HUM yang mempertahankan kamp-kamp pelatihan di provinsi-provinsi timur. Serangan terhadap konsulat India di Herat pada tanggal 23 Mei 2014 yang direncanakan dan dilakukan oleh Lashkar-e-Tayyiba. Pada bulan Januari 2014, pasukan keamanan nasional Afghanistan menyita bahan propaganda yang berasal dari Irak berbasis afiliasi Al-Qaida di Afghanistan utara-timur. Gerakan Islam Uzbekistan tetap aktif  dari Faryab ke Badakhshan. Pejuangnya terlibat dalam serangan terhadap Bandara Internasional Jinnah di Karachi, Pakistan, pada tanggal 8 Juni 2014. Serangan itu, di mana setidaknya 10 pejuang berpartisipasi, merupakan operasi teroris terbesar di luar Afghanistan di mana Gerakan Islam Uzbekistan telah terlibat secara langsung dan sinyal ancaman berkelanjutan yang itu pose di luar perbatasan Afghanistan. Di Provinsi Baghlan, sekelompok pejuang yang sebelumnya di bawah komando Gulbuddin Hekmatyar menyatakan kesetiaan mereka kepada ISIS. ISIS juga menarik untuk faksi radikal dalam gerakan Taliban, seperti “Da Fidayano Mahaz”, “Tora Bora Mahaz” dan “Zarqawi Grup”. Beberapa warga negara Arab yang berafiliasi dengan Al-Qaida tetap berhubungan dengan orang-orang yang berangkat ke Republik Suriah dan Irak. Pada bulan Juli, ketika enam orang yang berafiliasi dengan Al-Qaida tewas akibat serangan pesawat tak berawak di Waziristan Utara, Abdul Mohsen Abdallah Ibrahim al Charekh (saat ini bergabung dengan Front Al-nusrah) mengungkapkan kesedihannya karena kehilangan teman-temannya.

Diambil dan diterjemahkan sebagian dari “Sixteenth report of the Analytical Support and Sanctions Monitoring Team submitted pursuant to resolution 2161 (2014) concerning Al-Qaida and associated individuals and entities”

1 Komentar

Filed under teroris

Perbedaan Polisi Indonesia dengan Malaysia

POLRI dan PDRMSetelah tulisan saya tentang perbedaan sistem kenaikan pangkat di Malaysia dan Indonesia yang berdasarkan Merit System atau Time Based di sini. Saya berpikir bukan hanya sytem kepangkatan saja tapi masih banyak sekali aspek kedinasan yang berbeda.  Well, kalau ditanya kenapa sih banyak perbedaan ? toh kan sama sama polisinya.  Jawabannya sih sederhana saja, Indonesia adalah bekas jajahan Belanda dan Malaysia adalah bekas jajahan Inggris, hal ini berdampak sangat signifikan karena Belanda dan Inggris adalah dua negara yang berbeda dalam system hukum. Inggris dikenal dengan system hukum “Anglo Saxon” , dan Belanda dengan system “Continental”. Dengan perbedaan system hukum pasti juga berbeda cara kerja polisinya.

Berikut ini sebagian kecil dari perbedaan dan persamaannya :

Penangkapan
Di Indonesia berlaku 24 jam sama dengan di Malaysia.

Penahanan
Di Indonesia Polisi bisa menahan 20 hari dan dapat diperpanjang oleh kejaksaan 40 hari, bila ada perbuatan yang diancam lebih 9 tahun dapat diperpanjang pengadilan 60 hari. Sedangkan di Malaysia polisi tidak boleh menahan, polisi hanya boleh menahan atas perintah jaksa sampai 7 hari dan dapat diperpanjang lagi sampai 7 hari.

Proses Penyidikan
Di Indonesia polisi melakukan pemberkasan (Proses Verbal) lalu selesai melakukan penyidikan menyerahkan ke Jaksa artinya Polisi lebih banyak berperan dalam penyidikan. Di Malaysia Polisi dan Jaksa sudah bekerja sama semenjak penyidikan dimulai, karena Jaksa yang memberi izin penahanan.

Perekrutan
Di Indonesia ada 4 sumber perekrutan, Tantama (Khusus Brimob dan Polair), Bintara, Perwira Akademi Kepolisian dan Perwira Sumber Sarjana, syarat dari umur 18 hingga 22 tahun (Kecuali yang sumber sarjana yang ditentukan pada saat pendaftaran) dan tidak boleh menikah. Di Malaysia ada sekolah untuk Perwira, Sersan, Konstabel dan Konstabel Sokongan, dengan syarat umur 18 sampai 28, bagi perwira maksimal 35 tahun apabila mendapat gelar sarjana. Di Malaysia sumber perwira hanya satu pintu karena tidak ada Akademi Polisi. Dan yang unik bagi yang telah menikah, diperbolehkan juga mendaftar.

Umur Pensiun
Di Indonesia 58 tahun. Di Malaysia lebih tua sedikit, mereka pensiun pada usia 60 tahun.

Estafet Kepemimpinan
Di Indonesia Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) melalui fit and proper test dari DPR, apabila lolos ia akan ditunjuk menjadi Kapolri, sedangkan Wakapolri diangkat kemudian oleh Presiden tanpa Fit dan Proper test. Di Malaysia Inspector General (IG) atau kepala polisi diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dan yang unik wakil kepala kepolisiannya sudah pasti akan menggantikan kepala polisi, apabila umur dan kesehatan memungkinkan, bandingkan dengan di Indonesia tidak pernah ada dalam sejarah Wakapolri menjadi Kapolri.

Struktur dalam pemerintahan
Di Indonesia Polri berada dibawah presiden langsung, jadi Kapolri setingkat dengan Menteri. Di Malaysia dibawah Menteri Dalam Negeri, jadi kepala polisinya setingkat dengan Dirjen.

Demikianlah sekilas perbedaan Polisi Indonesia (Polri) dan Polisi Malaysia (PDRM), demikian kata pepatah “lain ladang lain belalang ”  perbedaan ini jelas karena sejarah awalnya pun berbeda, namun walaupun ada perbedaan ada persamaan yang hakiki dari semua kepolisian di Seluruh dunia yaitu “To Serve” dan  “To Protect” , yaitu Melayani dan Melindungi masyarakat, begitulah tugas utama korps polisi masing- masing negara dalam menjaga keamanan dalam negerinya.

5 Komentar

Filed under Malaysia, police, polri

Kuliner Malaysia

Malaysia adalah negara multi-kultural yang terdiri dari 3 golongan ras, Melayu , India dan China. Karena perpaduan inilah maka kuliner di Malaysia ada 3 yaitu makanan India, Melayu dan China.   Bagi Melayu yang muslim mereka tidak bisa memakan masakan India dan China, bukan karena haram karena mengandung daging babi tapi juga karena meragukan cara pemotongan hewan yang tidak sesuai. Demikian halnya bagi warga keturunan India yang Hindu mereka tidak memakan daging sapi.  Akhirnya terjadi kompromi atas makanan tersebut, yang saya perhatikan terjadi  adaptasi makanan tersebut sehingga bisa juga dikonsumsi semua warga Malaysia. Berikut ini contoh beberapa kuliner umum di Malaysia, khususnya di Kuala Lumpur;

Nasi Kandar,

Penyajian Nasi Kandar, pilih sendiri Lauknya

Penyajian Nasi Kandar, pilih sendiri Lauknya

Di Malaysia ada jenis kuliner oleh India Muslim (disebut Mamak). Kuliner mamak terkenal disini dengan nama “kedai mamak”, mereka adalah berasal india selatan dan membuat makanan khas sendiri yang dinamakan “Nasi Kandar”, kata kandar sendiri berarti pikulan, dahulu di negara bagian Penang mereka menjual nasi ini dengan pikulan ini dan sejak dari itu mereka menamakan restoran mereka dengan “Nasi Kandar”. Nasi kandar ini cara penyajiannya seperti masakan Padang, dipajang di etalase kaca

Penyajian Nasi Kandar

Penyajian Nasi Kandar

namun tidak dihidangkan semua di meja, kita harus memilih lauknya yang hampir semuanya dimasak kari, ada beberapa yang istimewa seperti ayam goreng remapahnya, penyajiannya adalah nasi plus lauknya disiram kuah kari.   Tersedia juga makanan khas india dengan roti india seperti roti Chanai (roti dengan kuah kari). Kedai mamak banyak yang buka 24 jam,  sehingga orang ke kedai mamak bukan hanya untuk makan, bisa juga sekedar nongkrong untuk menikmati teh tarik atau minum kopi, semua etnis bisa makan di nasi Kandar dan merupakan ciri khas Malaysia. Hampir di setiap sudut kota ada kedai Mamak namun salah satu Nasi kandar yang terkenal dan banyak cabangnya adalah Nasi kandar Pelita.

Nasi Lemak,

Nasi Lemak

Nasi Lemak

Makanan asli melayu ini sebenarnya mirip dengan nasi uduk di Indonesia, yaitu nasi yang di aron dengan santan kelapa. Yang membedakan adalah makanan ini dihidangkan dengan ikan teri kering, kacang dan mentimun dan diberi sambal goreng merah. Pada setiap tempat yang menyediakan nasi lemak, kita bisa memilih berbagai macam lauk, yang paling favorit adalah ayam goreng, telur asin, rendang dan cumi dimasak sambal. Sepertinya bukan malaysian kalau tidak memakan nasi lemak sebagai sarapan mereka. Walaupun biasanya untuk sarapan saja, namun sudah banyak pula yang menghidangkan 24 jam, salah satu yang paling terkenal adalah nasi lemak “Antar Bangsa” di Kampung Baru Kuala Lumpur dan Nasi lemak “Village Park” di Uptown Damansara Petaling Jaya.

Banana Leaf Rice (Nasi Daun Pisang),

Banana Leaf Rice

Banana Leaf Rice

Keunikan dari makanan ini adalah penyajiannya selalu diatas daun pisang, asal makanan ini adalah India Selatan yang beragama Hindu, cara penyajiannya selalu oleh seorang pramusaji yang menaruh nasi di atas daun pisang, di siram kuah kari, dan lauk pilihan kita yang kebanyakan dimasak kari, yes India adalah Kari. Pada umumnya masakan di Banana Leaf Rice dan di Nasi Kandar hampir sama, cuma masalahnya bagi sebagian Muslim  masih meragukan kehalalannya, makanya ada alternatif masakan India adalah Nasi Kandar di Kedai Mamak. Banana Leaf Rice yang terkenal adalah di Restoran Nirvana Maju, Bangsar dan Restoran Lotus di Jalan Gassing Petaling Jaya.

Yong Tau Fu,

Yong Tau Fu

Yong Tau Fu

Makanan yang berasal dari suku Hakka China terutama terbuat dari tahu yang telah diisi dengan daging giling campuran atau pasta ikan (surimi). Variasi makanan ini termasuk sayuran dan jamur disatukan dengan daging giling atau surimi. Kalau di Indonesia mungkin mirip dengan bakso tahu. Yong tau fu dapat dimakan dalam berbagai cara, baik kering dengan saus atau disajikan sebagai hidangan sup. Makanan ini terutama terdapat di Malaysia dan Singapura. Yong tau fu tidak digolongkan makanan halal karena menggunakan daging babi bisa terdapat di daerah pecinan, namun di Kuala Lumpur terdapat juga Yong Tau Fu yang halal di daerah Ampang.

Chicken Rice (Nasi Ayam),

Nasi Ayam

Nasi Ayam

Nasi ayam adalah hidangan yang diadaptasi dari imigran Cina awal berasal dari provinsi Hainan di Cina selatan. Hal ini dianggap salah satu hidangan nasional Singapura dan Malaysia. Cara membuatnya ayam disiapkan dalam metode tradisional Hainan dengan menyeduh seluruh ayam pada suhu mendidih dalam kaldu daging babi dan tulang ayam, menggunakan kembali kaldu berulang-ulang dan hanya menambah air bila diperlukan, Kaldu inilah yang juga dibuat untuk menanak nasi.  Penyajiannya nasi kaldu ayam dan dagingnya ditambah dengan nam, saus, daun bawang, bawang putih cincang, jahe, minyak wijen dan kecap. Kebanyakan nasi ayam di Malaysia itu juga menawarkan alternatif dari ayam panggang bukan rebus biasa atau ayam kukus. Di Indonesia kita kenal sebagai nasi ayam Hainan. Variasi lainnya termasuk versi BBQ atau juga pilihan ayam panggang madu.   Nasi ayam juga sangat populer dengan masyarakat Melayu yang Muslim, setelah disesuaikan agar sesuai dengan keinginan Melayu dengan bumbu pedas dan menambah bumbu makanan. Ayam dikukus, lalu digoreng atau dipanggang sehingga menghasilkan tekstur kering untuk daging ayam. Bumbu cabe telah dimodifikasi, bawang putih dan jahe kurang digunakan, dan asam jawa ditambahkan ke bumbu untuk rasa. Nasi ayam Malaysia tersedia di banyak toko kopi Cina, restoran atau kaki lima tetapi juga chain restoran seperti The Chicken rice Shop dan OldTown White Coffee.

Makanan makanan ini adalah yang umum terdapat di Malaysia yang uniknya terjadi adaptasi sehingga bisa dikonsumsi semua, unik bukan ?

2 Komentar

Filed under Uncategorized

Merit System Vs Time Based

Setelah hampir 2 tahun bertugas di Malaysia dan kebetulan berkantor di Mabes Polis Diraja Malaysia  (PDRM), banyak aturan – aturan kepolisian Malaysia yang menarik apabila dibandingkan dengan aturan yang berlaku pada POLRI.  Salah satunya adalah  mengenai promosi kepangkatan dan jabatan.  Dibawah ini antara lain perbedaannya:

Perwira PDRM Sumber: polisjohor.gov.my

Perwira PDRM
Sumber: polisjohor.gov.my

Di POLRI pengumuman kenaikan pangkat dan promosi jabatan adalah dua hal yang berbeda. Di PDRM hal ini berlaku satu kali, jadi seorang yang mengalami promosi jabatan sekaligus Ia juga mendapat pangkat yang baru, kecuali pindah jabatan dengan pangkat yang sama.

Di  POLRI apabila seorang perwira mendapat jabatan baru yang membawa konsekuensi Ia akan naik pangkat, tidak langsung naik pangkat, Ia harus menunggu masa kenaikan pangkat yang terdekat, yaitu pada tanggal 1 Januari atau 1 Juli setiap tahunnya.  Di PDRM setiap promosi jabatan sekaligus naik pangkat, Perwira yang dipromosikan dengan jabatan baru langsung berhak menyandang pangkat baru,  hanya pangkat  itu mendapat sebutan “acting” , dan baru “confirm” dengan pangkat baru setelah minimal 6 bulan.

Ada hal lain yang menarik adalah masa untuk kenaikan pangkat, di PDRM tidak ada waktu yang pasti kapan seeorang bisa menyadang sebuah pangkat, bisa dikatakan sebagai “Merit system”, yang menurut wikipedia disebutkan:

“The merit system is the process of promoting and hiring government employees based on their ability to perform a job, rather than on their political connections”

(Merit system adalah proses dari promosi pegawai pemerintah berdasarkan kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaannya bukan dari koneksi politik).

Untuk menjalankan system ini, bagi khususnya perwira PDRM mereka harus melakukan interview untuk mendapatkan kenaikan pangkat, pada Interview ini akan dilihat bagaimana kemampuan profesionalisme perwira ini dalam tugas yang diembannya, berdasarkan input dari sekelilingnya: dari komandan, rekan kerja dan bahkan bawahan. Yang wajib melakukan interview untuk kenaikan pangkat adalah dari pangkat Inspektur sampai pangkat DSP (Deputy Superintendent of Police) atau pangkat Mayor. Setelah itu dari pangkat DSP ke Superintendent (AKBP) dan seterusnya tidak diperlukan lagi interview. Prosesnya setelah seseorang perwira PDRM lulus dalam interview, barulah bagian SDM PDRM mencarikan jabatan yang setingkat lebih tinggi. Dalam surat pengumuman tertulis perwira PDRM tersebut mendapat jabatan baru sekaligus pangkat baru.

Anggota POLRI  Sumber:  polrespariaman.wordpress.com

Anggota POLRI
Sumber: polrespariaman.wordpress.com

Berbeda dengan di POLRI tidak sepenuhnya mengadopsi “Merit System” tapi cenderung lebih ke sistem “Time Based”, artinya ada waktu tertentu (4 sd 5 tahun pada satu pangkat) bagi setiap anggota POLRI dalam menyandang pangkat tertentu. Memang ada syarat tambahan untuk bisa mendapat pangkat, yaitu dengan kewajiban menjalani pendidikan tertentu dan tidak bermasalah dalam dinas, hal ini dapat berpengaruh cepat atau lambatnya seorang anggota Polri dalam naik pangkat. Pada system ini, seorang perwira POLRI yang akan naik pangkat, harus sudah mendapat jabatan baru yang pangkatnya setingkat lebih tinggi, walaupun tidak otomatis naik pangkat.

Yang terakhir pasti akan ditanyakan lebih baik mana “Merit System” atau “Time Based” ? Pasti masing masing mempunyai kekurangan dan kelebihan masing masing, antara lain:

Bagi sistem “Time Based” terlihat bahwa satu angkatan rekrutmen akan rata – rata menyandang pangkat yang sama, terutama terlihat pada lulusan Akademi Kepolisian, dengan catatan tidak bermasalah, mereka paling tidak pangkat terakhir akan sampai di Komisaris Besar (Kolonel). Sedangkan pada “Merit System” kelulusan satu angkatan tidak merata dalam kepangkatan, sebagai contoh seorang perwira tinggi PDRM yang berpangkat Deputy Commissioner (bintang 3) satu angkatannya masih ada yang tertinggal jauh bahkan masih inspektur.

Bagi sistem “Time Based” sepertinya banyak yang “Safety Player” artinya banyak perwira yang tidak mau menonjolkan diri dan kemampuannya, dengan pertimbangan toh akan naik pangkat sama – sama, asalkan tidak bermasalah dalam kedinasan. Berbeda dengan “Merit System” seorang yang naik pasti karena ia mempunyai “Kelebihan” dalam menjalankan tugasnya dibandingkan perwira yang lain. Mereka memang dipacu untuk selalu berinovasi dan kreatif agar terlihat mempunyai kelebihan dibanding rekan lainya. Namun saya juga melihat ada kekurangan sistem ini, kenaikan pangkat berarti “Satu tersenyum, namun banyak kecewa”, karena sulitnya seseorang untuk mendapatkan kenaikan pangkat, sehingga kadang terjadi jegal-menjegal yang justru terjadi pada kawan satu angkatan.

Kesimpulannya, menurut saya kedua sistem ini tidak ada yang baik dan buruk, karena sudah diterapkan dalam POLRI atau di PDRM sejak lama, dan menurut saya semua sistem ini ada kekurangan dan kelebihannya sendiri – sendiri, akhir kata, jayalah selalu POLRI dan PDRM ….

2 Komentar

Filed under Akpol, Blogger, hukum, police, Polisi, polri, Publik

Ada (Nama) Orang Indonesia di Kepolisian Luar Negeri

Pada waktu mengikuti ASEANAPOL Conference di Manila, pada saat jamuan makan saya bertemu dengan seseorang dan mengenalkan dirinya dengan bahasa Indonesia yang baik, “Halo saya dari Australian Federal Police (AFP) dan nama saya Budi”,  saya agak terkejut, kok ada orang Indonesia dengan nama yang sangat Indonesia bisa jadi Polisi Australia ? Kemudian kita duduk dalam satu meja yang sama dan mulai bercerita, ya memang mas Budi ini (Nama lengkapnya Budi Tandu) adalah seorang kelahiran Indonesia dengan bapak orang Tanjung Pinang dan ibu dari Semarang.  Mas Budi dari lahir sampai SMP masih tinggal di Indonesia, sampai suatu ketika orangtuanya memutuskan pindah ke Australia, dari sana Budi melanjutkan sekolah High School nya, lanjut ke Universitas dan setelah lulus mendaftar di Australian Federal Police dan diterima,  patut diketahui bahwa masuk ke AFP  tidak mudah dan melalui persyaratan yang sangat ketat (AFP bisa disamakan dengan FBI di Amerika).

Budi, kedua dari Kanan

Budi, kedua dari Kanan

Setelah berdinas beberapa tahun Budi mendapatkan pos promosi di pos kantor AFP Manila. Budi bercerita perannya di Manila sangat signifikan, terutama karena wajahnya yang “Melayu” dan mirip dengan orang Filipina ia banyak mendapat tugas di daerah berbahaya seperti di Mindanao. Memang menerjunkan anggota AFP yang “bule” agak rawan karena tingginya angka penculikan orang asing disana,  makanya peran mas Budi sangat diperlukan.  Ia bercerita juga pernah turut berpartisipasi aktif dalam pembebasan sandera warga negara Australia di Mindanao. Melengkapi obrolan kita ia juga bercerita tentang keluarganya ia memiliki seorang istri yang “bule” dan dikaruniakan 2 orang anak.

Ada cerita unik lain tentang seorang Polisi orang ‘Indonesia” yang bekerja di kepolisian Negara lain. Pada suatu ketika ada seorang buronan Red Notice terdeteksi masuk wilayah Indonesia, Ia bernama Bradec Ludek seorang warga negara Cheko, setelah bekerja dengan NCB Interpol Indonesia terdeteksi lah keberadaan tersangka Bradec Ludek di Jogjakarta Indonesia.  Kemudian Polri mengamankan  tersangka sekaligus menginformasikan penangkapan Tersangka ke kepolisian Cheko.  Gayung bersambut kepolisian Cheko mengirim utusan Polisi nya untuk “menjemput”  tersangka.  Kepolisian Cheko mengirimkan email nama – nama team yang akan datang ke Indonesia. Ada yang menarik perhatian, dari beberapa nama kok ada nama seorang Letnan Kolonel Polisi (pemimpin rombongan) yang bernama “Teddy Sunardi”, lah ini kan nama yang Indonesia banget ya ?

Teddy Sunardi, Berdiri di tengah

Teddy Sunardi, Berdiri di tengah

Pada saat rombongan polisi Cheko datang ke Indonesia, tampilah sesorang yang berbahasa Indonesia fasih dan berkata : “Halo, Saya Teddy Sunardy..” , dan setelah berbicara panjang, siapa itu Teddy terungkap sudah, Ia adalah seorang keturunan Indonesia dengan bapak orang Bandung dan ibu Cheko, Mas Teddy ini sempat menamatkan sekolah SMA nya di Bandung sampai lulus,  namun ia meneruskan kuliah di Cheko jurusan Komputer, bersamaan dengan pindahnya orang tuanya kembali ke Cheko.  Setelah menjadi Sarjana Komputer, Mas Teddy mencoba keberuntungan mendaftar di Akademi Kepolisian Cheko yang bergengsi, dan mulai berkarier di kepolisian Cheko.  Perlu di ketahui melihat Pangkatnya sekarang (Letkol), Mas Teddy saya pikir termasuk cemerlang dalam kariernya.  Dan karena sarjana komputernya, Teddy Sunardy menjadi seorang kepolisian Cheko yang bertugas di bagian Cybercrime.

Demikian cerita dua orang putra kelahiran Indonesia yang bertugas di Kepolisian Luar negeri, ternyata mereka dua – duanya tidak memalukan Indonesia tanah kelahirannya, mendapat pos yang bagus di Kepolisian tempatnya bekerja dan mereka semuanya menjadi Polisi yang diandalkan di negaranya, hebat kan ?

5 Komentar

Filed under polri