Review Situasi Peredaran Narkoba di ASEAN

istock-174825736-webbannerSetiap tahun ASEAN mengeluarkan ASEAN Drugs Monitoring Report yang merupakan program inti dari ASEAN-NARCO sebagai upaya untuk pengendalian Narkoba di kawasan ASEAN, melalui sharing informasi dan pengumpulan data dari negara – negara anggota ASEAN. Setiap tahun diadakan konferensi ASEAN Drug Monitoring Network (ADMN) sebagai instrumen pengumpulan informasi yang dikembangkan untuk semua penggunaan Negara Anggota ASEAN untuk memantau situasi narkoba dan peringatan dini pada situasi narkoba. Dibawah ini adalah informasi tentang situasi narkoba di kawasan ASEAN diambil dari ASEAN Drugs Monitoring Report tahun 2017

Situasi peredaran narkoba dikawasan ASEAN cukup mengkhawatirkan dengan masuknya tablet metamfetamin dan metamfetamin kristal dari pusat produksi Narkoba di Golden Triangle (Segitiga Emas) yaitu di bagian utara negara Myanmar, Laos dan Thailand.

Jenis narkoba utama yang digunakan luas di kawasan ASEAN adalah ganja, opium, heroin, tablet methamphetamine (yaba) dan sabu-sabu methamphetamine.

Situasi peredaran Narkoba di ASEAN semakin mengkhawatirkan dengan munculnya New Psychoactive Substance (NPS/Zat-Zat Psikoaktif Baru) dan narkoba jenis lain seperti kokain, ekstasi, ketamin dan Erimin 5 (Happy five)

Berdasarkan data dari Negara-negara Anggota ASEAN, penyalahgunaan non-medis dari obat-obatan farmasi diketahui semakin meningkat.

Di ASEAN, Opioid farmasi yang disalahgunakan adalah metadon, morfin, tramadol, alphaprodine, buprenorfin dan fentanil serta produk farmasi lainnya. Lebih dari 50 persen orang yang menerima pengobatan Rehabilitasi adalah pengguna Amphetamine Types Stimulant (ATS) seperti amfetamin, metamfetamin, ekstasi dan cathinones sintetis.

Sebagian besar pengguna narkoba yang direhabilitasi di Brunei Darussalam, Kamboja, Filipina, Malaysia dan Singapura adalah pengguna Shabu atau kristal methamphetamine, sementara di Thailand dan Laos adalah pengguna tablet metamfetamin. Penggunaan metamfetamin sangat mengkhawatirkan di ASEAN sama halnya dengan penyalahgunaan NPS dan metadon.

Pada tahun 2017, telah dilakukan rehabilitasi terhadap lebih dari 300.000 pengguna narkoba di ASEAN. Angka pemakai yang direhabilitasi secara keseluruhan adalah 50,6 per seratus ribu populasi (1,8 kali meningkat dari tahun sebelumnya). Indonesia memiliki angka terendah dibandingkan dengan Thailand.

Tingkat penerimaan rehabilitasi di Malaysia, Filipina, Singapura dan Indonesia menurun dibandingkan tahun 2016 sementara Thailand, Kamboja, Myanmar dan Brunei Darussalam meningkat.

Angka pengguna narkoba ASEAN secara keseluruhan adalah 70,1 per seratus ribu penduduk, mulai dari 17,3 di Indonesia hingga 317,9 di Thailand.

Angka pelaku meningkat di Brunei Darussalam, Kamboja, Thailand dan Myanmar sementara Malaysia dan Singapura menurun.

69,1 persen dari semua pelanggar terkait dengan ATS.

Pada tahun 2017, ada 357.443 kasus narkoba di ASEAN. Sejumlah 64,6 persen dari keseluruhan kasus adalah pemakai jenis ATS termasuk amfetamin, metamfetamin, ekstasi, cathinonoes dan pseudoephedrine.

Pada tahun 2017, penyitaan Narkoba jenis ATS menyumbang lebih dari 90 persen dari semua penyitaan yang dilakukan oleh seluruh aparat penegak hukum di ASEAN.

1 persen dari penyitaan adalah jenis CNS Depressants (keduanya Benzodiazepine dan Barbiturat)

Lebih dari 60 persen pelanggar hukum yang ditangkap oleh Negara Anggota ASEAN terlibat dalam pelanggaran terkait narkoba jenis metamfetamin (tablet dan kristal)

Laos, Malaysia dan Vietnam adalah negara-negara dimana jumlah pelanggar metamfetamin kurang signifikan.

Filipina melaporkan penggunaan “bitcoin” sebagai cara pembayaran, Bitcoin adalah jaringan pembayaran inovatif dan jenis uang baru. Tiga operasi terpisah yang dilakukan oleh penegak hukum di Filipina berhasil menyita total 223 tablet ‘fly high’ dan 1044 tablet ekstasi bitcoin.Narkoba tersebut dikirim dari Belanda dan tersangka ditangkap adalah warga negara India. Internet dan pos paket juga digunakan untuk perdagangan Narkoba.

Dari 230.990 kasus Narkoba jenis ATS yang dilaporkan oleh Negara Anggota ASEAN, 98 persen adalah kasus yang berhubungan dengan metamfetamin dengan total penyitaan lebih dari 200 metrik ton.

Lebih dari 5.000 tersangka asing ditangkap di negara Anggota ASEAN dan ini termasuk Warga Asing ASEAN yang melakukan kejahatan narkoba di Negara Anggota ASEAN lainnya.

Terdapat 90 persen dari tersangka asing kasus narkoba yang  melintasi perbatasan antar ASEAN adalah warga negara ASEAN, serta sejumlah 7 persen berasal dari  Asia dan Eropa dan 3 persen dari bagian dunia lainnya.

Pada tahun 2018, Tim Jaringan Pemantau Narkoba ASEAN bekerja pada pengumpulan data dan masukan untuk tren narkoba pada tahun 2018.

Situasi mengkhawatirkan yang masih menjadi ancaman adalah banyaknya ATS yang diproduksi dan diperdagangkan di wilayah segitiga emas dalam jumlah besar pada satu waktu. Sejumlah besar bahan kimia prekursor ditemukan diselundupkan ke lokasi produksi di Segitiga Emas.

Tren perdagangan obat terlarang lewat laut meningkat dan juga penggunaan wadah komersial sebagai metode pengiriman narkoba.

Penanggulangan Kejahatan dengan Kesadaran Sendiri

Alternatif penegakan hukum di dunia sekarang sudah berkembang, dulu selalu kita berpikiran agar memberlakukan hukuman yang sangat berat bagi pelaku pidana agar kapok, pada tulisan saya sebelumnya ada pertentangan pendapat mengenai penerapan hukuman mati, apakah masih efektif menghilangkan kejahatan, kita sekarang berpikir, misalnya pada kejahatan narkotika, apakah dengan menerapkan hukuman mati bagi para pengedar akan menghilangkan peredaran narkoba ? Jawabannya tidak.

Perbedaan itu sekarang terlihat dari keberadaan penjara, berdasarkan data di negara – negara maju seperti Belanda, jumlah penghuni penjara semakin lama semakin berkurang, berbanding terbalik dengan penjara di negara berkembang yang sudah sangat penuh sesak melebihi kapasitas.

cb70dc40a4
Penjara yang kosong di Breda Belanda, yang sekarang beralih fungsi menjadi perkantoran dan pusat hiburan.

Dalam teori pemidanaan baru dikenal istilah “Reintegrative Shaming” atau mengintegrasikan rasa malu dalam masyarakat, teori ini menekankan pentingnya rasa malu dalam hukuman pidana. Teori menyatakan bahwa hukuman harus lebih fokus pada perilaku pelanggar daripada karakteristik pelaku. Teori ini dikembangkan oleh kriminolog Australia John Braithwaite di Australian National University pada tahun 1989. Hal ini terkait dengan perspektif kriminologi positif, yang dikembangkan oleh kriminolog Israel, Natti Ronel dan tim penelitinya.

Seperti contoh di negara Eropa, beberapa peraturan sudah mengarah kepada kesadaran masyarakat sendiri untuk mematuhinya atau tidak, dengan kata lain mereka menjadi malu kalau melakukan kejahatan, dan dorongan dari masyarakat untuk “menerima” para pelanggar kedalam masyarakat, bukannya menjauhkan atau membully bahkan memberi stigma “penjahat” dengan inilah akan timbul rasa malu seseorang apabila melakukan kejahatan, beberapa peraturan itu antara lain:

Di beberapa negara eropa sudah ada jalan bebas hambatan yang “no speed limit” terserah seseorang, mau gas pol sekencang – kencangnya dipersilahkan, dengan syarat harus menjaga jarak yang aman dengan kendaraan didepannya, nah dengan adanya aturan ini justru menurut penelitian angka kecelakaan menurun.

Di beberapa negara Eropa juga masyarakat pengguna Narkotika, mau make Ganja, putaw, ekstasi, cocaine, morphin, shabu atau narkotika lainnya diperbolehkan asalkan dalam jumlah dan kadar  tertentu yang dibatasi dan di lokalisir pada daerah tertentu. Kalau mereka melaporkan ke pemerintah bahwa mereka pengguna, pemerintah memberikan sarana kepada mereka, seperti memberikan jarum suntik baru bagi pengguna heroin, dan apabila sudah bosan langsung difasilitasi untuk rehabilitasi. Hasilnya apa ? justru angka pemakai narkotika menurun drastis.

Nah pertanyaannya apakah hal yang menjadi contoh diatas sudah bisa diterapkan dalam hukum kita ? mudah – mudahan pada suatu saat nanti, saat ini belum deh.

Penerapan Hukuman Mati, Pertarungan Klasik di Konferensi Narkotika Sedunia

IMG-20180314-WA0043Semenjak pindah di BNN dan ditugaskan di bagian kerjasama Internasional, ada satu konferensi wajib diikuti oleh BNN dan beberapa kementerian dan lembaga yang berkaitan yaitu Konferensi Komisi obat dan Narkotika (CND / Commission on Narcotic and Drugs), Konferensi ini selalu dilaksanakan tiap tahun di Wina Austria dan penyelenggaranya adalah UNODC (United Nations Office of Drugs and Crime) yaitu sebuah badan di PBB yang bertanggung jawab dalam bidang Narkoba dan Kriminalitas dan melaporkan dalam sidang tahunan PBB. Kenapa selalu di Wina ? karena kantor pusat UNODC berada di Wina.

Mandat dan fungsi CND adalah meninjau dan menganalisis situasi obat-obatan global, dengan mempertimbangkan isu-isu terkait pencegahan penyalahgunaan narkoba, rehabilitasi pengguna narkoba dan pasokan dan perdagangan obat-obatan terlarang. Dibutuhkan tindakan melalui resolusi dan keputusan.

12-CND-OpeningFungsi Normatif CND  berdasarkan konvensi pengendalian obat internasional diberikan otorisasi untuk mem pertimbangkan semua hal yang berkaitan dengan tujuan Konvensi dan memastikan pelaksanaannya. Sebagai organ perjanjian di bawah Konvensi Tunggal Narkotika (1961) dan Konvensi tentang Zat Psikotropika (1971), Komisi memutuskan, berdasarkan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk menempatkan obat-obatan narkotika dan zat psikotropika di bawah kontrol internasional. Sesuai dengan Konvensi Menentang lalu lintas berbahaya pada Obat Narkotika dan Zat Psikotropika (1988), Komisi memutuskan, atas rekomendasi Badan Pengendalian Narkotika Internasional (INCB/ International Narcotic Control Board), untuk menempatkan bahan kimia prekursor yang sering digunakan untuk pembuatan obat-obatan terlarang di bawah kendali internasional. Komisi juga dapat memutuskan untuk menghapus atau memodifikasi tindakan pengendalian internasional atas obat-obatan terlarang, zat psikotropika atau prekursor. Mandat Komisi diperluas lebih lanjut pada tahun 1991. Komisi berfungsi sebagai badan pengatur  yang menyetujui anggaran Dana Program Pengendalian Narkoba Internasional PBB, yang dikelola oleh UNODC untuk memerangi masalah narkoba dunia.

Keanggotaan CND dalam resolusi 1991/49, memperbesar keanggotaan Komisi dari 40 menjadi 53 anggota, dengan pembagian kursi berikut di antara kelompok-kelompok regional: 11 untuk Negara Afrika, 11 untuk negara-negara Asia,
10 untuk Amerika Latin dan Karibia, 6 untuk Negara-negara Eropa Timur, 14 untuk negara-negara Eropa Barat dan lainnya, setiap negara tersebut menjadi anggota CND selama empat tahun. Anggota dipilih dari Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan khusus dan Pihak pada Konvensi Tunggal Narkotika, tahun 1961, dengan memperhatikan keterwakilan negara-negara yang merupakan produsen penting daun opium atau koka, negara-negara yang penting di bidang pembuatan obat-obatan narkotika, dan negara-negara di mana kecanduan obat-obatan terlarang atau lalu lintas gelap dalam narkotika obat merupakan masalah penting dan dengan mempertimbangkan prinsip distribusi geografis yang adil. Indonesia pada kali ini tidak menjadi anggota komisi ini sehingga dalam pertemuan ini menjadi Observer (Peninjau).

Apa saja sih yang dibicarakan dalam CND ini ? Permasalahan utama dari Narkotika adalah menurunkan Supply (pasokan) dan Demand (kebutuhan),  2 hal inilah yang banyak dibicarakan, untuk mengurangi supply diperlukan penegakan hukum atau berbagai alternatif lain yang ditawarkan dan juga dalam mengurangi demand yaitu dengan salah satunya dengan memanfaatkan komunitas,  berkembang lagi, bagaimana kalau sudah terlanjur memakai ? tentunya harus di rehabilitasi, dan juga banyak  alternatif cara penanganannya. Juga dengan penggolongan jenis narkotika, dalam forum inilah akan ada kesepakatan penggolongan Narkotika, contohnya Methapetamine (Ice, Shabu) yang menjadi golongan 1 Narkotika yang tadinya hanya golongan 2, Jadi intinya forum CND adalah membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Narkotika dan segala aspeknya yaitu strategi, kebijakan dan politisasi sehingga tidak jarang pro dan kontra pendapat yang didukung kelompok negara terjadi, dan peran negara superpower terasa sekali untuk mempengaruhi suatu keputusan.

Yang seru dari pertemuan ini adalah pada saat negara memberikan statement , pada kesempatan itu setiap negara memberikan penjelasan tentang situasi narkoba di negaranya masing – masing serta kebijakan untuk menanggulanginya, entah kenapa penjatuhan hukuman mati bagi para pengedar Narkoba untuk mengurangi supply menjadi topik paling diperdebatkan sejak konferensi CND ini ada, negara – negara  yang tergabung dalam Uni Eropa adalah negara yang paling menekankan dan mempengaruhi negara lain yang masih menerapkan hukuman mati untuk mencabutnya, atau setidak – tidaknya moratorium hukuman mati. Saat ini tercatat masih 22 negara yang masih menerapkan hukuman mati di dunia. Tapi jangan Kuatir masih ada negara besar Tiongkok yang tetap ngotot membela hukuman mati, dengan alasan bahwa korban mati yang ditimbulkan akan lebih besar daripada pengedar yang dieksekusi. Indonesia tentu saja tetap mendukung pelaksanaan hukuman mati, karena masih menjadi hukum positif, dan sikap sebagian besar masyarakat yang masih mendukung pelaksanaan hukuman mati. Demikian sekilas info dari Wina, Austria.

Indonesia konsumen terbesar Narkoba di Dunia ?

369149263
Bahaya peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba

Setelah tertangkapnya 2 kapal pengangkut Narkoba yang berasal dari Taiwan yaitu kapal Wanderlust yang ditangkap Polda Metrojaya mengangkut 1 ton Amphetamin (Shabu) dan Kapal Sunrise Glory yang ditangkap gabungan BNN, TNI AL dan Bea Cukai juga membawa 1,37 ton Shabu, ditambah lagi penangkapan ratusan kilogram  sabhu yang berasal dari Malaysia di Banda Aceh dan Medan, kita jadi bertanya tanya seberapa besar sih demand akan Narkotika di Indonesia ? Kok sudah ditangkap berton – ton masih juga banjir narkoba, seberapa besar sih konsumsi anak bangsa terhadap narkoba, sehingga supply banyak sekali ?

Demikian beberapa fakta yang saya ketahui tentang peredaran gelap Narkotika di Indonesia;  Jumlah pemakai di Indonesia diperkirakan 5 juta orang atau 2% dari jumlah penduduk, data ini diapat dari survey tahunan BNN yang melibatkan outsourching dari Universitas Indonesia. Angka ini mungkin terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang punya 18 juta pemakai atau 18% dari total jumlah penduduk.

Jenis narkotika yang populer dan digunakan sebagian besar pemakai adalah ganja dan diikuti narkotika berbahan sintetis yaitu Shabu atau Amphetamine. Khusus harga narkotika Shabu di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, dibawah Jepang dan Australia, yaitu Rp 1 M sampai Rp 1,2 M/Kg, lucunya tidak mengecilkan demand shabu di Indonesia. Terdapat kecenderungan masyarakat sekarang beralih ke Narkotika Sintetis terutama Shabu.

Ada data yang sungguh mengejutkan dari harga jual narkoba sintetis jenis Shabu, di tingkat pemroduksi di perbatasan Tiongkok/Myanmar harga 1Kg Shabu sekitar Rp 40 jt, biasanya shabu ini di bawa melalui indochina dan Thailand dan menuju “gudang” di Malaysia, sampai di Malaysia harga pasaran sudah Rp 200 jt/Kg, mereka menjadikan Malaysia sebagai “Stepping Stone” sebelum menuju ke Indonesia dan lebih mengejutkan lagi apabila Shabu ini berhasil diloloskan melalui jalur laut (selat Malaka) menuju pantai Timur indonesia dari Aceh sampai Lampung ataupun melalui perbatasan darat di Kalimantan, harganya melonjak fantastis menjadi Rp 1 M/Kg atau naik 5x lipat, jadi bisa dibayangkan keuntungan para bandar apabila bisa meloloskan Shabu hanya dari Malaysia ke Indonesia.

Kalau kita hitung kasar berapa sih konsumsi para pengguna Shabu di Indonesia ? kalau ada 4 juta saja pemakai di Indonesia,  dan setiap orang butuh 1/4 gram/hari, jadi diperlukan 1 ton sehari, jadi kebutuhan Shabu di Indonesia kurang lebih 30 ton/bulan. Suatu angka yang fantastis dan “Inconvinient Truth” kenyataan yang tidak mengenakkan, pantas saja berton – ton Shabu masuk ke indonesia, bagaikan banjir dimusim hujan.

money
Uang sitaan Narkoba di AS, 2,4 juta Dollar Cash

Berapa uang yang dihasilkan oleh para bandar ? kalau 1Kg = Rp 1M, maka uang dari 1 ton Shabu adalah Rp 1 M x 1000Kg artinya Rp 1 Triliun. Jadi perbulan uang yang berputar dari penjualan Shabu adalah 30 T dan kalkulasi setahun menghasilkan Rp 360 T, suatu angka yang sangat – sangat fantastis, maka tak heran bila seorang terpidana mati Freddy Budiman yang telah dieksekusi, menurut team Money Laundring BNN mempunyai uang sekitar Rp 7 Triliun.

Kesimpulan, kenapa peredaran narkoba di Indonsia sangat massif ? sebenarnya ini karena jumlah penduduk Indonesia yang besar, namun juga mempunyai pola wilayah yang unik dengan kepulauannya, yang mengakibatkan banyaknya jalur masuk ke Indonesia dan disinyalir 80% masuknya narkotika (baca:Shabu) ke Indonesia adalah melalui laut. Lalu kenapa harganya mahal ? Hal ini menjadi dilema penegak hukum juga, karena ketatnya pengawasan lembaga penegak hukum di bidang pengawasan peredaran gelap narkoba dari BNN dan Polri, maka sialnya jadi berlaku hukum ekonomi, dengan demand yang tinggi sekali namun supply yang terbatas, otomatis harga menjadi tinggi,  nah lebih sialnya ini jadi hal menguntungkan bandar.

Bagaimana cara mengatasinya ? sudah nyata bahwa penangkapan berton – ton narkoba (baca:shabu) di Indonesia masih merupakan fenomena gunung es, hanya sedikit yang timbul di permukaan, sebagian besar masih tersembunyi di dalam air.  The power of money, masih merupakan daya penarik terbesar bagi para pengedar, dengan usaha yang sedikit berisiko namun menjanjikan keuntungan yang sangat besar, seperti contoh Freddy Budiman, legacy nya walaupun sudah di eksekusi masih meninggalkan uang yang banyak sekali.  Walaupun beresiko ditembak mati atau dieksekusi mereka tidak takut, mereka hanya takut 1 hal, yaitu menjadi miskin. Inilah sementara yang harus dilakukan, para pengedar narkoba harus di miskinkan, karena kejahatan narkoba memerlukan uang untuk modal barang, kalau mereka tidak ada uang, tidak mungkin mereka akan berusaha lagi, maka hilanglah 1 jaringan pengedar, cukup masuk akal kan ?

Narkotika Sintetis

Pola konsumerisme Narkotika dan obat terlarang di dunia ini sekarang sudah banyak berubah. Pada awalnya di dunia ini kita hanya mengenal jenis – jenis Narkotika Alami seperti Heroin/Candu/Putaw (yang berasal dari tanaman opium), Cocaine (yang berasal dari tanaman  Coca) dan Hasish atau Mariyuana (Yang berasal dari tanaman Cannabis sativa/ganja),  terminologi Narkotika ini telah ada dalam masyarakat dunia dalam jangka waktu ratusan tahun, sebagaimana kita melihat Negara Tiongkok pada abad ke 18  dengan mudahnya dikalahkan Kolonialis dari Inggris dengan menyuplai Candu sehingga orang – orang tidak produktif dan menjadi gampang untuk dikalahkan.

220px-Albert_Hofmann_Oct_1993Namun dalam jangka waktu beberapa puluh tahun ke belakang ini dikenal jenis narkotika sintetis oleh peradaban manusia, dimulai dengan temuan LSD yang bergolongan Halucinogen  pada tahun 60 an oleh Albert Hofmann (11 Januari 1906 – 29 April 2008) adalah ilmuwan Swiss yang dikenal menjadi orang pertama yang mensintesis, menelan, dan belajar tentang efek psychedelic dari dietilamida asam lysergik (LSD). Hofmann juga orang pertama yang mengisolasi, mensintesis, dan menamai senyawa psychedelic utama psilocybin dan psilocin dan menjadikan Narkotika LSD ini menjadi golongan “New Pshycoaktive Substance”  (NPS) yang pertama kali di dunia, pada zaman ini kita melihat bagaimana penggunaan LSD marak di kalangan anak muda pada zaman itu, memang LSD menjadikan penggunanya halusinasi yang berlebihan dan berwarna, sehingga pada saat itu disebut ‘The Colors Generation”, dan bahkan mempengaruhi pop kultur pada saat itu hingga banyak mempengaruhi music pada saat itu, band besar Beatles, Rolling Stones berasal dari generasi itu. Penggunaan NPS yang marak pada tahun – tahun itu tentunya tidak menurunkan pamor Narkotika Alami seperti Cocaine, Heroin dan Mariyuana.

DR-ALEXANDER-SHULGIN---20-008Semenjak penemuan LSD ini, membuka mata para Ahli – ahli kimia yang “gila” dan  untuk menciptakan lagi, jenis jenis narkotika sintetis yang membuat orang lebih “enak’ dalam ber-narkoba – ria, hingga pada tahun 80 an timbullah kembali jenis narkotika yang sangat phenomenal yang dikenalkan oleh Alexander Theodore “Sasha” Shulgin (17 Juni 1925 – 2 Juni 2014) adalah seorang ahli kimia, ahli biokimia, kimiawan, farmakologi, psikofarmakologi, dan penulis Amerika. Ia dikreditkan dengan memperkenalkan MDMA (ekstasi) kepada psikolog pada akhir 1970-an untuk penggunaan psikofarmasi dan untuk penemuan sintesis dan bio essay pribadi dari lebih dari 230 senyawa psikoaktif untuk potensi psikedelik dan entaktogenik.  Sasha mendapatkan gelar, “Godfather of the ecstasy“, setelah mengembangkan metode sintesis baru untuk MDMA – bentuk ekstasi yang paling murni – pada tahun 1976.  Dia menyerahkannya kepada teman terapisnya Leo Zeff, yang mulai menggunakan efek obat tersebut pada sebuah keadaan emosional individu dengan meramu narkotika sintetis methaphenapine dicampur dengan narkotika dengan jenis Halucinogen yang terdapat dalam LSD, sehingga timbullah sejenis Narkotika sintesis jenis baru yaitu Ecstasy,  tak lama setelah diperkenalkan, ekstasi masuk ke arus utama, menyusup ke budaya klub Malam di New York dan Chicago, dan memukul daerah turisme di Ibiza, sebelum akhirnya mendarat di Inggris, karena tingginya psikedelik obat tersebut, kembali karena jenis narkotika ini, maka timbullah pop kultur baru dan “musik” baru, yang luar biasa pengguna narkotika ini dapat menikmati jenis music ini ketika “high”.

220px-Nagai_NagayoshiPada saat yang bersamaan penggunaan narkotika Alami masih tetap eksis bahkan ada peningkatan dalam penggunaan Heroin kelas rendah yang dikenal dengan nama lain Putaw dengan ciri penggunanya ingin merasakan “high” yang terus menerus kalau bisa 24 jam,  penggunaan putaw ini lah yang menyebabkan banyak anak Muda Indonesia yang terkena pengaruh narkotika ini mengalami  kematian dikarenakan penggunaan jarum suntik yang salah bahkan penyebaran penyakit HIV dan Aids. Karena tingginya risiko kematian jenis Narkotika ini, lagi – lagi diciptakanlah jenis narkotika baru yang efeknya hampir sama dengan Heroin, yaitu Methaphetamine atau nama lainnya Shabu yang bisa membuat pemakainya “High” selam 24 jam tanpa terlalu beresiko kematian dan tertular penyakit, namun ternyata jenis narkotika ini bukanlah jenis baru,  penciptanya hanya “menciptakan kembali” , karena penemu awalnya adalah Nagai Nagayoshi (8 Agustus 1844 – 10 Februari 1929) adalah seorang ahli kimia organik dan farmakolog Jepang yang terkenal, yang terkenal dengan studinya tentang efedrin, Tapi pada tahun 1893, Nagai membuat jejak kimiawi yang hidup dalam keburukan:  dia menggunakan efedrin untuk mensintesis meth. Pada tahun 1919, anak didik yang lebih muda dari Nagai bernama Akira Ogata menemukan metode baru untuk mensintesis bentuk kristal dari stimulan baru, yang memberi meth crystal dunia. Pada Perang Dunia II, bagaimanapun, obat itu menyebar luas sebagai alat praktis untuk membuat prajurit awak tank dan bomber terjaga.  Pada tahun 1942, Adolf Hitler menerima suntikan meth reguler IV dari dokternya, Theodor Morell.  Dua tahun kemudian perusahaan farmasi Amerika Abbott Laboratories memenangkan persetujuan FDA untuk meth sebagai resep pengobatan untuk sejumlah penyakit mulai dari alkoholisme hingga penambahan berat badan.

th
Ecstasy (MDMA)

Penggunaan secara massif Narkotika sintetis mulai terasa semenjak kurang – lebih 5 tahun belakangan ini, dan itu berdampak global, dan lucunya daerah – daerah penghasil Narkotika Alami secara tradisional yaitu daerah Amerika Selatan (Mexico, Colombia) dan Segitiga Emas (Myamar, Laos, Thailand) mulai berganti dengan memproduksi narkotika sintetis.  Di dunia ini sampai sekarang terdata ada lebih 800 NPS, sedangkan di Indonesia sendiri menurut bali besar laboratorium BNN ditemukan 68 jenis NPS, dan sayangnya baru 60 yang terdata di Daftar Kementerian Kesehatan, sehingga bila ditemukan pada seseorang NPS selain yang 60 seperti dalam daftar, kemungkinan besar bisa bebas dalam sidang pengadilan.

shabu
Shabu (Methaphethamine)

Kenapa Narkotika sintetis lebih disukai ? Menurut beberapa pengguna yang pernah saya wawancarai berkata, alasan utama mereka menggunakan narkotika sintesis adalah kurangnya risiko kematian dibandingkan menggunakan jenis Narkotika Alami jenis Putau, Misalnya. Namun ini adalah anggapan yang luar biasa salah, Narkotika Sintesis mempunyai efek yang buruk seperti Narkotika

th0P58JY91
LSD

alami dan bahkan bisa lebih buruk, karena yang paling dahulu diserang adalah fungsi otak, kalau kita bandingkan seorang pengguna Narkotika Alami setelah mendapat rehabilitasi ia masih bisa kembali dengan mudah bersosialisasi dengan masyarakat, beda halnya dengan pengguna narkotika sintesis, banyak penyakit pasca rehab yang timbul yaitu antisosial, paranoid dan halusinasi.

Summary dari tulisan saya ini, saya melihat pencipta narkotika Sintetis adalah ilmuwan yang dihormati, lulus dari Universitas terkemuka dan pada mulanya mereka menciptakan untuk tujuan mulia, penyembuhan berbagai jenis penyakit.  Nah, pada selanjutnya jenis obat – obatan ini disalah – gunakan untuk tujuan “lain”  tentunya jauh dari harapan penemunya, berarti si penyalah gunalah, manusia goblok yang menggunakannya sehingga membahayakan dirinya sendiri.  Pesan saya, jangan gunakan Narkotika jenis apapun baik jenis sintetis maupun alami. Hiduplah sehat saja … tanpa Narkoba, Ok ?

 

Anti Narkoba, hindari Lost Generation

bnnKenapa saya pilih judul itu? yes sekarang saya kembali mengalami tour of duty, sejak beberapa bulan ini saya pindah ke Badan Narkotik Nasional (BNN) badan yang dibuat pemerintah untuk melaksanakan tugas utamanya P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika) kadang kita bertanya, kenapa sih masalah pemberantasan Narkoba tidak diserahkan saja kepada penegak hukum saja yaitu Polisi ? saya pun berpikiran begitu tadinya, apa tidak merupakan pemborosan menggunakan dua badan yang tugasnya hampir sama untuk memberantas Narkoba ? ternyata setelah bergabung disini saya menyadari bahwa justru penegakan hukum adalah bagian terkecil dan terletak di ujung daripada pemberantasan narkoba, kalau kita masih menggunakan pendekatan hukum untuk menangkap para pengedar narkoba, sesungguhnya kita telah gagal, karena intinya adalah bagaimana Masyarakat umum mempunyai daya tangkal yang kuat untuk tidak terjebak dalam lingkup penggunaan Narkoba.

Dan terbukti, tidak ada satupun negara di dunia ini mampu dengan upayanya sendiri untuk mencegah beredarnya narkoba dan adanya pengguna narkoba di negaranya. Pemerintah memandang perlunya masalah penyalahgunaan Narkoba ini ditangani secara Holistik dari akar permasalahannya sampai upaya yang paling akhir yaitu penegakan hukum dan BNN telah menangkap keinginan pemerintah dengan didasari oleh UU sebagai dasar operasionalnya yaitu Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Di Undang undang ini beberapa hal yang selama ini diperdebatkan yaitu apakah pengguna narkoba adalah kriminal ? sehingga perlu di penjara ? Kita harus menyadari bersama bahwa pengguna narkoba adalah justru merupakan korban, ia harus diselamatkan jiwanya dan mentalnya, dan wajib menjalani rehabilitasi.

Tugas pokok BNN adalah P4GN yaitu: Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, Ada beberapa bagian di BNN yang mencakup semua aspek tersebut yaitu bagian Pencegahan, Pemberdayaan Masyarakat, Kerjasama dan hukum, Rehabilitasi dan Pemberantasan. Seperti yang saya sebutkan terdahulu, bagian yang terakhir adalah yang merupakan penegakan hukum, ini menunjukkan bahwa penegakan hukum adalah upaya paling terakhir dari upaya pemberantasan penggunaan Narkoba.

Beberapa fakta yang saya dapatkan selama mulai bekerja di BNN, ternyata bahaya penyalah-gunaan Narkoba di Masyarakat Indonesia telah sampai angka yang mengkuatirkan, angka prevalensi Masyarakat Indonesia pengguna Narkoba aktif adalah kurang lebih 6 Juta orang, dan jenis narkoba baru yang termasuk NPS (New Psychoactive Substances)ada ratusan sedangkan yang bisa terdata dalam Laboratorium BNN sampai Juni 2017, 65 NPS telah ditemukan dan baru 48 jenis yang masuk dalam daftar , memang saat ini banyak jenis Narkoba baru yang aneh – aneh muncul, yang paling terkenal ialah jenis Flakka rumus kimianya adalah pyrrolidinopentiophenone atau PVP atau alpha-PVP. Flakka adalah jenis obat sintetis yang bisa membuat orang menjadi hyperaktif dan menjadi Zombie.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana mencegah narkoba? hal ini tidak dapat dipandang enteng, apabila dibiarkan, angka pengguna narkoba akan menjadi banyak sekali dan satu dasawarsa kedepan dapat menimbulkan “lost generation”, bayangkan anak muda yang menjadi tiang masa depan Indonesia, menjadi orang orang yang tidak kreatif dan produktif karena sebagian besar saraf otaknya rusak? (jenis narkoba sintetis yang paling besar efeknya untuk merusak jaringan otak, memang bisa direhabilitasi tapi efek goblok karena otak rusak akan menimpa seumur hidup),  cara paling ekstrim kita bisa contoh Presiden Duterte di Filipina, dengan menembak mati semua bandar dan pemakai sehingga bisa menekan peredaran narkoba sampai ke titik nol, dalam hati kecil saya sih setuju banget,  karena kejahatan narkoba adalah extraordinary crime, sehingga cara pencegahannya tidak bisa dengan cara yang biasa pula, nah itulah yang harus kita pikirkan bersama seluruh komponen negara ini, kita harus berupaya yang extraordinary (bukan yang biasa biasa saja) untuk menanggulangi peredaran dan penyalalahgunaan Narkoba, ayo stop narkoba demi masa depan negara kita.

Amoy Singkawang Korban Perdagangan Orang di Tiongkok (Bagian 2)

Kasus Bong Lian Mie (BLM)

zizing-sketchesSdri Bong Lian Mie (bukan nama sebenarnya) pada bulan Mei 2016 datang ke KBRI Beijing meminta bantuan pemulangan dirinya ke Indonesia. BLM adalah perempuan asal Singkawang berusia 30 tahun dan saat meminta kepulangan telah menikah dengan laki-laki RRT bernama Sdr. Chen Yuan Jie.

BLM datang ke RRT pada November 2015, didatangkan dari Singkawang oleh agen pernikahan yang datang langsung dari Anhui untuk menjemput BLM. Sebelum pergi ke RRT, BLM mengaku diberi pinjaman uang sejumlah Rp 7 juta, kemudian Rp 8 juta yang rencananya akan dibayarkan setelah mendapa pekerjaan di RRT. Selain menikah, BLM juga berniat bekerja di RRT.

Sesampainya di RRT dan dinikahkan, suami dan keluarga tidak seperti yang dibayangkan BLM.  Mereka tinggal di sebuah desa terpencil di Provinsi Anhui yang masih harus ditempuh 3 jam dari kota kecil  Anqing di Huaning County. Kendaraan umum, transportasi juga sangat sulit ditempuh.

BLM mengatakan ybs sering berkelahi dengan suami dan mertua karena hal-hal sepele seperti dilarang mandi terlalu sering (mandi sehari sekali dianggap sering), dilarang mencuci baju setiap hari karena untuk menghemat air,  disuruh memasak menggunakan tungku kayu bakar (padahal ada kompor gas), membantu suami dan keluarga bekerja di ladang, dan lain-lain. Bila tidak bekerja maka tidak diberi makan. BLM juga pernah mencoba bekerja di restoran tetangga pada siang hari dan mendapatkan gaji 1000 RMB selama sebulan. Suami BLM sering memaki dan memukul, tidak jarang berkelahi di jalanan. Karena tidak tahan, BLM meminta diceraikan dan dipulangkan ke Indonesia. Suami tidak mau memulangkan karena telah membayar mahal untuk mendatangkan ybs, sehingga BLM diminta mengganti uang yang dikeluarkan (kalau mau diceraikan atau pulang) sejumlah 160.000 RMB atau sekitar 400 juta rupiah.

Karena sering ribut, BLM mengadu ke polisi dan di depan polisi suami berjanji menceraikan secara baik-baik. Namun, suami ingkar janji dan mengusir BLM serta menahan paspor ybs agar ybs tidak pernah bisa kembali ke Indonesia.

Dalam penanganan kasus oleh KBRI, KBRI mengontak suami dan keluarganya secara intensif untuk meminta pengembalian paspor dan bercerai secara baik-baik agar tidak meninggalkan masalah di kemudian hari. Namun pihak keluarga suami selalu mengulur waktu dan tidak menyambut dengan baik upaya dialog yang dilakukan oleh KBRI, sehingga diputuskan untuk membuat SPLP  (Surat Pengganti Laksana Paspor) dan mengurus visa sebagai exit permit. Hal itu pun memakan waktu yang cukup lama mengingat diperlukan lost certificate untuk membuat paspor dan exit permit,  setelah ada persetujuan dari polisi bahwa hal tersebut dapat dilakukan. BLM harus datang kembali ke Anhui, karena Public Security Bureau dan Exit Entry Bureau Beijing juga tidak dapat menerbitkan visa atau exit permit di Beijing.

Sesampainya di kantor Polis Anhui, pihak keluarga dan suami BLM telah menunggu kedatangan untuk menahan kepulangan BLM. Pihak keluarga mendapatkan informasi dari Kepolisian. Keluarga tersebut mengangkat beberapa issue untuk menahan kepulangan Sdri. BLM, yaitu (1) Masalah uang (2) Masalah perceraian (3) Masalah ID ibu mertua dan kunci emas, sebagai berikut:

(1) Terkait masalah uang
Keluarga minta pengembalian uang yang telah dikeluarkan untuk mendatangkan calon pengantin dari Indonesia yaitu sejumlah 160.000 RMB. Menjawab hal ini KBRI menyampaikan bahwa itu adalah urusan antara keluarga suami dengan mak comblang atau agen pencari jodoh yang menerima uang tersebut, mengingat Sdri. BLM juga tidak pernah menerima uang tersebut. Keluarga suami dipersilahkan mengurus dengan agen pencari jodoh yang digunakan, apabila tidak puas agar membawa urusan tersebut ke Polisi. Hal itu juga didukung oleh pihak kepolisian sehingga keluarga tidak lagi mengangkat soal pengembalian uang.

2) Terkait masalah proses perceraian:
Pihak keluarga suami meminta sebelum kepulangan, Sdri. BLM harus lebih dahulu mengurus  proses perceraian hingga selesai. Proses ini harus diselesaikan di Hefei mengingat pernikahan dengan orang asing untuk warga di Provinsi Anhui harus pergi ke Hefei. Permintaan penyelesaian proses perceraian ini nampaknya disarankan oleh polisi yang menyadari bahwa suami tidak akan dapat menikah kembali seumur hidup bilamana tidak ada proses perceraian. Sesuai aturan yang ada saat ini, RRT seseorang yang sudah tercatat menikah tidak boleh menikah sebelum ada proses perceraian.  Pernikahan yang baru bisa dilakukan setelah ada akte cerai.

Terkait usulan ini disampaikan bahwa KBRI tidak menentang permintaan proses perceraian, namun kedatangan KBRI adalah untuk mengurus visa bukan perceraian, agar dapat segera pulang mengingat lbu Sdri. BLM sedang sakit keras. KBRI juga menyampaikan catatan bahwa Sdri. BLM datang ke KBRI karena suami telah ingkar janji untuk menceraikan.

KBRI telah juga telah mengontak pihak keluarga secara intensif baik langsung (menelpon keluarga tersebut) maupun tidak langsung (melalui kepolisian) untuk meminta pengembalian paspor dan menyarankan perceraian sebagaimana yang diinginkan oleh Sdri. BLM,  tetapi tidak pernah disambut baik oleh keluarga pihak suami. Sdri. BLM juga telah cukup lama berada di KBRI karena menunggu pengembalian paspor dan lost certificate dari kepolisian  Anqing sehingga telah mendapat jeda waktu yang lebih dari cukup untuk proses perceraian seandainya  keluarga menginginkan hal tersebut. Oleh karena itu KBRI menilai tidak mungkin untuk menunda kepulangan Sdri. BLM demi proses perceraian yang seharusnya bisa dilakukan secara lebih awal, bilamana keluarga suami bermaksud menyelesaikan hal ini.

(3) Terkait masalah ID ibu mertua dan kunci emas:
Keluarga menyampaikan bahwa Sdri. BLM membawa ID ibu mertua dan kunci emas yang harus dikembalikan kepada keluarga. KBRI menyampaikan bahwa semua yang datang ke KBRI diperiksa secara mendetail. Saat datang di KBRI, Sdri. BLM tidak membawa tas, pakaian, ID atau perhiasan sebagaimana yang dituduhkan. Bahkan Sdri. BLM juga tidak membawa sehelai pakaian pun atau koper, pakaian yang dibawa hanya pakaian yang melekat dibadannya sehingga KBRI memberikan kebutuhan dasar termasuk makanan dan pakaian. Uang yang digunakan untuk perjalanan dari Anhui ke Beijing dengan bus juga adalah gaji diterimanya setelah bekerja paruh waktu di restoran milik tetangga. Sdri. BLM pernah bekerja selama satu bulan di restoran milik tetangga dan menerima 1000 RMB sebagai gajinya.

Setelah mendengar penjelasan tersebut polisi menyetujui dan memberikan exit permit untuk kepulangan BLM dan keluarga pihak suami tidak dapat menahan kepulangan ybs.

(sumber: release dari KBRI Beijing)