Category Archives: teroris

Gerilya

Presentation1Perang gerilya adalah konsep awal perjuangan Republik Kita dalam merebut kemerdekaan dari tangan Penjajah Belanda. Bahkan sampai sekarang doktrin pertahanan Indonesia  adalah “Pertahanan Semesta” yang melibatkan rakyat dalam menangkal serangan asing ke wilayah Indonesia. Inti dalam pertahanan semesta adalah “Perang Gerilya“, dan keuntungan doktrin ini adalah tidak begitu penting negara kita menyiapkan peralatan perang yang canggih sebagai pertahanan terhadap musuh, cukup biarkan mereka masuk ke wilayah kita dan biarkan wilayah Indonesia menjadi Killing Zone, hingga musuh kewalahan dan angkat kaki.

Perang gerilya adalah karya orisinal bangsa Indonesia berdasarkan pengalamannya melawan penjajah, dan tahukah bahwa bapak doktrin Gerilya Dunia salah-satunya adalah Jenderal Abdul Harris Nasution, dengan bukunya  Fundamentals of Guerrilla Warfare, yang diterbitkan pada tahun 1953 dan sampai sekarang masih menjadi buku yang paling didiskusikan di Akademi Militer seluruh dunia.

Perang Gerilya ternyata sudah terbukti menjadi “Pembunuh Raksasa” kekuasaan militer yang superpower dapat ditumbangkan dengan metode perang ini, Success story nya adalah yang terjadi di Indonesia (1945-1949) sehingga berhasil mengusir penjajah Belanda, serta yang lainnya, seperti:

9954192._SX540_Cuba, (1953-1959) Revolusi yang dipimpin oleh duo maut  Fidel Castro dan Che Guevarra berhasil menumbangkan diktator Kuba Fulgencio Batista y Zaldívar yang ditunggangi Amerika Serikat, strategi yang digunakan juga adalah perang Gerilya melalui buku yang ditulis Che Gevarra yaitu “Esensi Perang Gerilya” pada tahun 1960.

MaoTiongkok, (1966-1969) Revolusi Kebudayaan yang dipimpin oleh Mao Zedong juga merupakan perang Gerilya. Mao Zedong menulis buku  “Perang Gerilya” pada tahun 1927 dan mengemukakan strategi “Desa mengepung kota” yang berhasil menumbangkan Chiang Kai Sek pemimpin Republik China melarikan diri ke Taiwan.

10-ho-chi-minhVietnam, (1957 – 1975)  Pemimpin Vietnam Utara, Ho Chi Minh yang kemudian menjadi presiden pertama Vietnam ini menggunakan taktik perang gerilya melawan Vietnam Selatan yang dibantu Amerika Serikat. Kekuatan taktik gerilya ini bertambah hebat di bawah kepemimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap yang berhasil memukul mundur AS dalam serangan besar – besaran terakhir yang dinamakan “Tet Offensive” yang mengakibatkan bersatunya kembali Vietnam.

the-afghan-warriors-during-the-soviet-warAfghanistan, (1979-1989) Perang Soviet- Afghanistan sering disamakan sebagai Perang Vietnam-nya Uni Soviet karena banyaknya biaya dan kesia-siaan konflik ini. Pasukan Soviet mendapat perlawanan yang luar biasa dengan taktik gerilya yang dilancarkan oleh pejuang Mujahidin. Pada akhirnya pada bulan Februari 1989 Soviet mengumumkan penarikan pasukan mereka dari Afghanistan.

Sekarang pertanyaannya, apakah rahasia perang Gerilya sehingga taktik ini bisa mengalahkan supremasi militer dunia ? 

Serangan mendadak “hit and run”, sabotase dan teror adalah cara utama dari perang gerilya,  pasukan gerilya bergerak dalam jumlah yang kecil, terus menerus membuat gangguan dan teror sehingga moral pasukan musuh menjadi rendah karena korban berjatuhan.

Hal yang paling penting dalam melakukan taktik Gerilya adalah harus adanya dukungan dari rakyat, karena mereka lah akan menjadi support team bagi pejuang gerilya.

Akibat banyaknya jatuh korban  dari musuh, hal ini dapat menimbulkan kehilangan dukungan dari warga negaranya, sehingga mereka menuntut agar perang dihentikan, hal ini terjadi pada Belanda, Soviet dan Amerika Serikat pada waktu melakukan agresi.

Indonesia pernah mengalami frustrasi akibat serangan Gerilya.

Ya, hal ini pernah dialami Indonesia ketika mendapat perlawanan gerilya dari Gerakan Aceh Merdeka, namun untung segera dapat diatasi dengan perjanjian damai. Dapat dibayangkan apabila konflik ini diteruskan bukan tidak mungkin Indonesia angkat kaki dari bumi Aceh.

Gerakan Santoso jangan dibiarkan.

santosoKelompok Santoso menjalankan taktik Gerilya melawan aparat Polri dan TNI di wilayah hutan sekitar Poso dan Sulawesi Tengah. Keberadaan kelompok ini tidak boleh dibiarkan, apabila gerakan ini membesar dan mendapat dukungan dari masyarakat pasti akan menimbulkan kesulitan  Polri dan TNI untuk membasminya.

Cara mengatasi Gerilya ?

Indonesia sebagai negara  penggagas taktik gerilya, tentunya juga mempunyai taktik ampuh untuk menawarkan gerakan ini, hal ini telah dibuktikan dalam beberapa episode pemberontakan dalam negeri yang kesemuanya menggunakan taktik gerilya, seperti dalam perang menumpas DI-TII di Jawa Barat, melawan Fretelin di Timor Timur, GAM di Aceh, OPM di Papua.  Taktik ini dinamakan “Gerilya anti Gerilya”  (GAG) taktik ini intinya  adalah:

Kembali merebut hari masyarakat di wilayah konflik agar tidak mendukung gerakan gerilya pemberontak.

Memutus pasokan logistik gerilya, terutama makanan dan amunisi, sehingga mereka pasti “turun gunung” mencari tambahan logistik, pada saat turun tersebut dilakukan penghadangan dan penangkapan.

Untuk melawan gerilya jangan menggunakan kekuatan masif, tapi gunakan taktik serupa yaitu gerilya juga, melakukan perlawanan dalam ikatan pasukan kecil dan melawan mereka di jantung daerah operasi mereka.

1 Komentar

Filed under Blogger, teroris

Ideologi Al Qaeda, ISIS dan turunannya

Al-Qaida didasarkan pada ideologi ekstrim, kekerasan dan dioperasionalisasikan oleh jaringan dan individu yang mengejar ide-ide melalui kekerasan teroris. Hal ini mulai berlalu pada tahun 1999 ketika sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap tokoh , group yang berafiliasi ke kelompok teroris (resolusi 1267 ) pertama kali diperkenalkan dan tetap berlaku hingga 15 tahun kemudian. Pertanyaan utama setelah kematian Usama bin Laden pada bulan Mei 2011 adalah apakah atau bagaimana Al-Qaida akan bertahan setelah kematian propagandis utamanya? Dan apakah ISIS adalah penjelmaan baru Al-Qaeda ? ternyata tidak. ISIS adalah bagian dari gerakan Al-Qaida, meskipun perbedaan muncul siapa yang harus memimpin gerakan atau bagaimana tujuannya harus dicapai.

Al-Baghdadi

Al-Baghdadi

Menurut analisis jangka pendek, Al-Qaeda adalah gerakan yang menjadi ideologi umum dari gerakan radikal yang muncul di jazirah Arab dan beberapa tempat lain di dunia. Memang kadang-kadang membingungkan, mereka mempunyai kepemimpinan terpisah dengan kelompok inti yang sebagian besar tersembunyi di Asia Selatan. Gerakan Al-Qaeda termasuk Al-Qaeda inti mumpunyai berbagai macam kelompok yang berafiliasi dan sel, individu atau kelompok terkait lainnya (yang mungkin tidak secara formal atau publik berjanji akan loyal terhadap Al-Qaida inti) dan satu lagi kelompok sempalan yang langsung berasal dari satu ideologi tapi kadang-kadang bersaing dalam otoritas, “branding”, perekrutan dan pendanaan. Al-Qaeda adalah gerakan yang dinamis, dibentuk oleh kelompok dan individu yang mendukung dan berkembang. Hal ini dipengaruhi oleh konteks sosial dan politik dan mereka mencoba untuk mengambil keuntungan dari konflik lokal. Hal ini juga dipengaruhi oleh perubahan sosial dan operasi anti-terorisme oleh suatu negara.

Ayman Mohammed al-Rabbi al-Zawahiri

Ayman Mohammed al-Rabbi al-Zawahiri

Meskipun ISIS mencapai peningkatan pesat dari pada tahun 2014 dan dikeluarkannya pengumuman resmi oleh Aiman ​​Muhammad Rabi al-Zawahiri pada tanggal 3 Februari 2014, yang menyatakan bahwa Al-Qaeda tidak memiliki hubungan dengan ISIS. ISIS tetap menganut ideologi Al-Qaida, sehingga ISIS disebut sebagai kelompok sempalan Al-Qaeda. Perbedaan pribadi jelas antara Abu Bakr al-Baghdadi dan Al-Zawahiri tidak boleh disalah artikan sebagai sinyal bahwa ISIS tidak mengakui ideologi Al-Qaeda. Al-Qaida inti dan ISIS mengejar tujuan strategis yang sama, meskipun mereka mempunyai perbedaan taktis tentang tahapan perjuangan dan perbedaan substantif tentang kepemimpinan pribadi.

Pengumuman Al-Baghdadi tentang sebuah “Khilafah” pada tanggal 29 Juni 2014 dan pidato publik pada tanggal 4 Juli 201412 menunjukkan langkah dari ISIS untuk mengambil keuntungan teritorial. Klaimnya telah membentuk suatu negara Islam adalah untuk untuk melegitimasi tindakan barbar dan membawa makna religius, historis dan ideologis. Dengan menggunakan istilah “khalifah” ISIS bermaksud untuk mengeksploitasi konotasi agama, sejarah dan ideologi kata, mencapai kembali ke khalifah sejarah di tahun-tahun awal Islam. Hal ini juga sejalan dengan apa yang Usama bin Laden yang menjelaskan bahwa tahap akhir dari kampanye teror Al-Qaida yaitu: Pembentukan struktur politik berdasarkan kesalahpahaman tentang agama. Hal ini dirancang untuk mendorong relawan internasional lebih lanjut untuk bergabung dengan gerakan ini. Kekerasan publik ekstrem telah menjadi tema yang berulang dari gerakan Al-Qaeda. Penggunaan kekerasan oleh ISIS adalah merupakan track record yang serupa dengan kebrutalan oleh Al-Qaida di Irak.

Kita melihat bahwa telah terjadi evolusi Al-Qaeda sebagai seperangkat ide “ekstrim” diadakan dan menyebar melalui serangkaian kelompok dan jaringan sosial yang semakin beragam . Ancaman abadi bagi perdamaian dan keamanan internasional yang ditimbulkan oleh gerakan Al-Qaida berasal dari promosi tanpa henti kekerasan teroris. Ancaman berulang dari Al-Qaeda inti dan beberapa kelompok terkait pada 90 an dan ISIS saat ini kemampuan keuangan dan logistik untuk merencanakan, mendanai, memfasilitasi atau melaksanakan serangan teroris. Perencanaan jangka menengah dan jangka panjang utama adalah tahapan saat pejuang teroris asing terkait dengan gerakan Al-Qaeda. Para diaspora asli dari Al-Qaeda inti dan rekan seperti Al-Qaida di Semenanjung Arab dan Al-Shabaab pada gilirannya membantu mendirikan, memperkuat atau memperpanjang kelompok Al-Qaida dan kelompok terkait lainnya. Banyak tokoh operasional senior dalam asosiasi Al-Qaida adalah veteran, membawa berbagai keterampilan, kemampuan dan jaringan sosial yang meningkatkan ancaman teroris. Sementara itu, pemahaman publik yang terus berkembang, kemampuan pemerintah beberapa tahun terakhir dapat menghambat gelar penuh terorisme. Pengawasan preventif dan investigasi yang tetap penting untuk melawan terorisme.

Bagian dari ancaman berkembang di tangan sekitar 15.000 fighters asing yang telah berjuang dengan Al-Qaida dan afiliasinya di Republik Arab Suriah dan Irak. Mereka berasal dari lebih dari 80 negara dan merupakan inti dari sebuah diaspora baru yang mungkin benih ancaman selama bertahun-tahun yang akan datang. Beragam basis sosial dan kadang-kadang suku banyak jaringan hadir dengan gerakan Al-Qaida di Irak dan Suriah adalah menghasilkan pelatihan bersama dan mempunyai pengalaman operasional. Pada tahun 2014, ada jaringan-jaringan yang mencakup individu dari Chechnya, Federasi Rusia, di samping berbagai etnis anggota diaspora Chechnya yang merupakan penduduk dari Negara-Negara Eropa. Ada contoh pejuang teroris asing dari Perancis, Federasi Rusia dan Inggris dan Irlandia Utara yang beroperasi bersama-sama. Kehadiran inti “kelompok Khorasan” Al-Qaeda di Suriah, mengingat bahwa begitu banyak pejuang teroris asing berada di daerah, adalah tanda betapa berbahayanya ancaman sel tersembunyi.

Pembauran individu dari berbagai negara, dan kadang-kadang dari organisasi yang berbeda, telah membantu membentuk evolusi Al-Qaeda. Pada 1980-an dan 1990-an banyak orang menempa inti Al-Qaeda dan afiliasinya berkumpul di Afghanistan. Ikatan sosial didirikan dan kemudian berkembang menjadi sebuah jaringan yang rumit dari aktivis Al-Qaeda dan simpatisan di sejumlah negara. Pada tahun 2014, ada empat pusat tertentu untuk melanjutkan interaksi sosial yang intens: Republik Arab Suriah, Irak, Libya dan Yaman. Selain itu, kurangnya pemerintahan yang efektif di beberapa negara telah menyebabkan penguatan signifikan dari jaringan tempur teroris asing dengan akses mudah ke persediaan luas amunisi standar militer.

Al-Qaeda dan asosiasinya tetap aktif di Afghanistan. Selama pertempuran pada tahun 2014, pasukan keamanan nasional Afghanistan secara teratur mengalami perlawanan dari pejuang teroris non-Afghanistan di seluruh negeri, khususnya di utara-timur, timur dan selatan. Dalam sebagian besar, para pejuang adalah berasal dari kelompok Tehrik-e Taliban Pakistan, Harakat ul-Mujahidin / HUM yang mempertahankan kamp-kamp pelatihan di provinsi-provinsi timur. Serangan terhadap konsulat India di Herat pada tanggal 23 Mei 2014 yang direncanakan dan dilakukan oleh Lashkar-e-Tayyiba. Pada bulan Januari 2014, pasukan keamanan nasional Afghanistan menyita bahan propaganda yang berasal dari Irak berbasis afiliasi Al-Qaida di Afghanistan utara-timur. Gerakan Islam Uzbekistan tetap aktif  dari Faryab ke Badakhshan. Pejuangnya terlibat dalam serangan terhadap Bandara Internasional Jinnah di Karachi, Pakistan, pada tanggal 8 Juni 2014. Serangan itu, di mana setidaknya 10 pejuang berpartisipasi, merupakan operasi teroris terbesar di luar Afghanistan di mana Gerakan Islam Uzbekistan telah terlibat secara langsung dan sinyal ancaman berkelanjutan yang itu pose di luar perbatasan Afghanistan. Di Provinsi Baghlan, sekelompok pejuang yang sebelumnya di bawah komando Gulbuddin Hekmatyar menyatakan kesetiaan mereka kepada ISIS. ISIS juga menarik untuk faksi radikal dalam gerakan Taliban, seperti “Da Fidayano Mahaz”, “Tora Bora Mahaz” dan “Zarqawi Grup”. Beberapa warga negara Arab yang berafiliasi dengan Al-Qaida tetap berhubungan dengan orang-orang yang berangkat ke Republik Suriah dan Irak. Pada bulan Juli, ketika enam orang yang berafiliasi dengan Al-Qaida tewas akibat serangan pesawat tak berawak di Waziristan Utara, Abdul Mohsen Abdallah Ibrahim al Charekh (saat ini bergabung dengan Front Al-nusrah) mengungkapkan kesedihannya karena kehilangan teman-temannya.

Diambil dan diterjemahkan sebagian dari “Sixteenth report of the Analytical Support and Sanctions Monitoring Team submitted pursuant to resolution 2161 (2014) concerning Al-Qaida and associated individuals and entities”

2 Komentar

Filed under teroris

Kenapa Polisi Sasaran Penembakan ?

219129_polisi-ditembak-inspektur-dua-dwiyatna_663_382Kita melihat trend penembakan anggota Polisi mulai marak di Indonesia, sudah belasan polisi Bhayangkara menjadi korban penembakan, kalau dilihat dari modusnya dapat dilihat peristiwa penembakan tersebut dilakukan oleh kelompok teroris. Inilah sebagian data yang bisa didapat (Khusus yang dicurigai dilakukan oleh kelompok teroris):

1) Maret 2010, Penembakan di Polsek Prembun, Kebumen, Briptu Yona Anton (29) tewas tertembak dini hari sekitar pukul 01.00. dini hari, tidak ada saksi yang melihat.
2) April 2010, Penembakan di Pos Pol Kentengrejo, Purwodadi, Purworejo, jawa Tengah. yang menewaskan Briptu Iwan Eko Nugroho (26) dan Bripka Wagino (60) yang diperkirakan juga ditembak pada dini hari, tidak ada saksi yang melihat.
3) September 2010, Tiga polisi tewas dalam penyerangan terhadap Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, yang terjadi pada pukul 01.00 WIB menewaskan Bripka Riswandi, Aipda Deto Sutejo dan Aiptu B Sinulingga.
3) Agustus 2012, Penembakan di pos polisi di Singosaren Plasa, Serengan, Solo, oleh orang tak dikenal. Seorang anggota polisi yang tengah berjaga, Bripka Dwidata Subekti (53) tewas akibat penyerangan tersebut. penyerangan terjadi sekitar pukul 21.00 WIB ketika kios di pertokoan tersebut hendak tutup. Ketika itu, sebuah sepeda motor dengan dua pengendara berhenti di selatan Singosaren Plasa.
4) Oktober 2012, dua personel polisi Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman ditemukan tewas dengan leher tergorok di Gunung Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir.
5) Desember 2012, 4 anggota Polisi dari kesatuan Brimob tewas dalam penyergapan di Poso yaitu Briptu Ruslan, Briptu Winarto, dan Briptu Wayan Putu Ariawan dan Briptu Eko Wijaya.
6) Juli 2013, pada pukul 04.30 WIB. anggota Polantas Gambir Aipda Patah Satiyono di Jalan Cirendeu Raya, Jakarta Selatan, tewas ditembak ketika hendak berangkat dinas dari rumahnya di Bojong Gede, Depok.
7) Agustus 2013, anggota Kepolisian Sektor Pondok Aren Bripka Maulana dan Aipda Kus Hendratma menjadi korban penembakan orang tidak dikenal di Jalan Graha Raya Pondok Aren.
8) September 2013, Bripka Sukardi tewas ditembak orang tak dikenal tepat di depan Gedung KPK, Selasa sekitar pukul 22.20 WIB. Ketika ditembak, Sukardi tengah mengawal truk pengangkut peralatan konstruksi.

Osama Bin Laden dan Penggantinya Ayman Al Zawahiri

Osama Bin Laden dan suksesornya Ayman Al Zawahiri

Berbagai aksi teror yang terjadi beberapa waktu belakangan ini harus dilihat melalui trend global terorisme, yaitu pasca pergantian kepemimpinan Al Qaeda dari Osama Bin Laden yang tewas oleh pasukan khusus AS Navy Seals ke pimpinan baru Al Qaeda yaitu Ayman Al Zawahiri.  Dibawah kepemimpinannya terjadi perubahan yang signifikan terhadap metode perjuangan Al Qaeda, yaitu Perubahan Sasaran.  Tadinya Osama bin Laden hanya menekankan penyerangan terhadap Amerika Serikat, kepentingannya serta sekutu-sekutunya.

Sekarang pada masa kepemimpinan  Ayman Al Zawahiri  ia menyerukan untuk simpatisan dan anggota Al Qaeda agar membuat sel – sel kecil untuk menyerang aparat pemerintah atau Ighiyalat.  Penyerangan ini dilakukan terhadap negara – negara yang tidak menerapkan Hukum Syariah (Hukum Islam).   Sel – sel perjuangan Al Qaeda sekarang  tidak lagi bersifat komando vertikal dari atas ke bawah namun sel – sel itu kini bergerak secara otonom. Mereka menentukan target sendiri, dan mencari pendanaan sendiri  (Fa’i). Beberapa perampokan Bank dan toko emas di Indonesia belakangan ini disinyalir merupakan upaya sel ini untuk membiayai perjuangannya.

Di indonesia ada kelompok yang menamakan diri Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santosa dan Mujahidin Indonesia Barat pimpinan Umar. Pada saat ini mereka telah terkooptasi secara regional, global dan nasional untuk melakukan teror terhadap pemerintah yang belum menerapkan hukum Syariah.

Kasus penembakan terhadap Polisi tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara lain seperti Pakistan, Afganishtan, Suriah , Mesir dan Thailand. Ini merupakan reaksi dari fatwa yang dikeluarkan oleh Ayman Al Zawahiri. Tujuannya penembakan polisi ini adalah membuat kepanikan dalam masyarakat, sehingga masyarakat tidak percaya lagi terhadap perlindungan keamanan yang diberikan oleh Polisi.

Khusus di Indonesia Kenapa polisi menjadi sasaran ? Karena polisi adalah garda terdepan dalam menumpas terorisme. Sudah lebih 900 orang tersangka teroris yang ditangkap dan dibawa ke proses pengadilan. Diantara yang telah mendapat vonis ada yang masih bergabung dengan kelompok tersebut ada yang sudah sadar. Contoh yang telah sadar adalah Ustad Abdul Ayub (salah satu mantan pendiri Jamaah Islamiyah)  sekarang bersama BNPT melakukan Deradikalisasi terhadap para mantan teroris agar kembali ke ajaran yang benar.

Di dalam buku Tazqiroh karangan Abu Bakar Baasyir bukan hanya polisi yang menjadi sasaran, tetapi lawyer, jaksa, hakim.  Itulah sebabnya sidang perkara terorisme dengan jaksa Silalahi di poso dan lainnya dilaksanakan di Jakarta dengan alasan keamanan, karena Jaksa dan Hakim diteror setiap mau melaksakanan sidang.

Beberapa hal yang menjadi kesimpulan dari peristiwa penembakan Polisi:
1) Teror yang terjadi kepada polisi ini adalah teror terhadap Negara, bukan hanya kepada polisi saja, sehingga menjadi tugas dan tanggung jawab bersama dalam penanggulangannya.
2) Detasemen Khusus 88 dibentuk karena ada terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dibentuk karena ada peristiwa terorisme. Densus 88 menangkap pelaku terorisme untuk mencegah agar tidak terjadi korban masyarakat atas aksi terorisme. Pemikiran ini sering dibalik dan dipelintir sebagian kelompok yang menginginkan dibubarkannya Densus 88 seolah olah tugas Densus memusuhi agama tertentu. Padahal hanya merasa kepentingannya terancam.
3) Penangkapan yang dilakukan polisi terhadap pelaku terorisme tidak mungkin dilakukan secara senyap karena harus ada tahapan melalui SOP yang harus dilalui, sehingga dalam melakukan tahapan tahapan tersebut tidak mungkin dihindari terlihat oleh masyarakat.
4) Anggota Polri yang meninggal akibat serangan teroris adalah Pahlawan.

*Pointers dari penjelasan Direktur Penindakan BNPT*

6 Komentar

Filed under Polisi, polri, teroris

Tambahan WNI yang masuk dalam daftar teroris

Setelah tulisan saya di WNI yang masuk daftar teroris PBB  ternyata beberapa saat kemudian ada tambahan dari komite 1267 dengan mendambahkan 3 orang WNI dan 1 organisasi yang masuk dalam daftar Teroris Dewan Keamanan PBB (Al Qaeda sanction list),  mereka itu adalah :

1) Mohammad Achwan, tempat/tanggal lahir: Tulungagung 4 Mei 1946, yang bersangkutan adalah Amir dari JAT (Jamaah Anshorut Tauhid), menurut catatan komite 1267 aktif terlibat dalam banyak kegiatan pelatihan dan pencarian dana untuk kegiatan teroris;

2) Son Hadi Bin Mujahir, tempat/tanggal lahir: Pasuruan 12 Mei 1971, yang bersangkutan adalah juru bicara dari JAT Media Center (JMC). Pada bulan Mei 2011 pada saat press conference memberi statement bahwa Osama Bin Laden meninggal sebagai pahlawan, posisi sehari – harinya adalah sebagai sekertaris JAT wilayah Jawa Timur;


3) Abdul Roshid Ridho Ba’asyir, putra dari Abu Bakar Ba’asyir, yang bersangkutan terlibat aktif dalam sayap militer JAT, laskar 99. Sebagai pimpinan pondok pesantren ia merekrut para muridnya untuk menjadi anggota JAT.

Organisasi yang dimasukkan dalam Al Qaida Sanction List adalah :

Jemaah Anshorut Tauhid (JAT), Kelompok ini bertanggung – jawab atas serangkaian aksi terorisme di Indonesia, Pemimpin dan pendiri kelompok ini adalah Abu Bakar Ba’asyir yang telah terlebih dahulu masuk dalam Al Qaida Sanction List. Kegiatan teror yang dilakukan oleh anggota JAT adalah aksi bom bunuh diri di Cirebon dan Solo, perampokan bank BII di Medan dan mendirikan kamp pelatihan teroris di Janto Aceh Utara.

*Seluruh data didapat dari website Dewan Keamanan PBB tentang resolusi 1267 (Al Qaeda Sanction List)

1 Komentar

Filed under PBB, teroris

WNI yang masuk daftar teroris PBB

Peristiwa 9/11 menimbulkan perubahan secara radikal konstelasi perpolitikan dunia, sikap yang sangat overprotected dan bahkan hingga paranoid negara – negara barat khususnya Amerika Serikat memjadikan tidak nyamannya free of movement bagi masyarakat Indonesia, ditandai dengan diterbitkannya Al Qaida Sanction List yang memuat daftar orang yang “dicekal” oleh Dewan Keamanan PBB yang tentunya melalui Amerika Serikat, bisa dibayangkan orang – orang yang namanya “mirip” dengan orang yang tercantum dalam list ini, tentunya akan susah sekali apabila membuat visa untuk bepergian ke luar negeri, karena data list ini dikirim ke seluruh dunia.

Sikap Paranoid Amerika serikat

Sikap Paranoid Amerika serikat


List ini adalah produk Dewan Keamanan PBB melalui resolusi No.1267 tahun 1999 dan diperbaharui dengan resolusi No. 1989 tahun 2011, telah membuat suatu daftar bagi perorangan dan organisasi yang terkait dengan jaringan Al-Qaida yang disebut Al Qaida Sanction List. List ini direview setiap kwartal dan bisa di delisting apabila personal maupun organisasi tersebut sudah tidak ada hubungan dengan AL Qaida, namun pada kenyataannya selama ini tidak pernah ada yang keluar dari list ini kecuali individu tersebut meninggal dunia.

Pihak yang berhak memasukkan atau mengeluarkan nama atau organisasi kedalam Al Qaida Sanction List adalah sebuah komite yang anggotanya adalah perwakilan dari 20 (dua puluh) negara anggota Dewan Keamanan PBB. Komite ini disebut juga sebagai komite 1267, mereka didukung oleh Analytical Support and Sanction Monitoring Team yang secara tahunan memberikan laporannya.

Sesuai data hingga saat ini terdapat 254 (dua ratus lima puluh empat) individu dan 84 (delapan puluh empat) organisasi yang termasuk dalam Al Qaida Sanction List, dan diantaranya terdapat 14 (empat belas) WNI yaitu:
1) Mohammad Iqbal Abdurrahman;
2) Abdullah Ansori;
3) Abu Bakar Ba’asyir;
4) Abu Rahim Ba’asyir (Putra dari ABB);
5) Agus Dwikarna;
6) Gun Gun Rusman Gunawan;
7) Nurjaman Riduan Isamudin (Hambali);
8) Aris Munandar;
9) Umar Patek;
10) Taufik Riki;
11) Abu Rusdan;
12) Parlindungan Siregar;
13) Yassin Sywal;
14) Zulkarnaen.

dan 2 (dua) organisasi, yaitu:
1) Yayasan Al Manahil Indonesia;
2) International Islamic Relief Organization (IIRO) Indonesian Branch.

Berdasarkan Resolusi 1267 untuk individu dan organisasi yang masuk dalam Al Qaida Sanction List diberlakukan hal – hal sebagai berikut:
1) pembekuan serta merta terhadap dana dan aset keuangan lainnya atau sumber ekonomis dari individu dan organisasi yang masuk dalam daftar (Freeze asset without delay/pembekuan asset serta merta);
2) larangan bepergian, terutama ke negara lain (Travel ban);
3) mencegah penyediaan, penjualan dan transfer terhadap senjata maupun material terkait dan bantuan atau pelatihan aktivitas militer (Arms embargo).

Menurut saya pribadi sikap yang harus diambil pemerintah Indonesia adalah sebagai berikut:

– Pada prinsipnya adalah kewajiban moral dari Pemerintah RI untuk melindungi Warga Negara Indonesia;
– Sesuai resolusi 1267 seseorang yang masuk Al Qaida Sanction List harus diberitahu secara resmi. Sampai saat ini belum ada aturan siapa yang mendapat tugas tersebut, pihak Kemenlu mengusulkan Polri dan hal ini akan dibahas kemudian hari;
– Pemberlakuan Freezing asset, Travel ban dan Arms embargo terhadap individu atau entitas yang masuk Al Qaida Sanction List belum bisa dilakukan karena belum ada payung hukum yang mengaturnya di Indonesia;
– Pemerintah Indonesia harus memberi data yang akurat kepada komite 1267 khususnya terhadap nama – nama yang masuk Al Qaida Sanction List, hal ini untuk menghindari orang yang mempunyai nama yang sama mendapat kesulitan apabila akan bepergian ke negara lain.

1 Komentar

Filed under PBB, teroris

The Next Generation of Terrorist

Setelah beberapa kejadian teror belakangan ini, yaitu peristiwa bom buku dan bom di Mesjid Polresta Cirebon, memang kedua peristiwa ini tidak berkaitan karena berbeda kelompok. Bom buku di buat oleh kelompok Pepi Fernando dan Bom Mesjid oleh kelompok Sigit Qurdowi (telah tewas dalam penggerebekan densus 88 di Solo), berdasarkan pendalaman jaringan kelompok Sigit Qurdowi adalah pemain lama karena merupakan DPO peristiwa bom Gereja beberapa tahun yang lalu, yang menarik adalah kelompok Pepi Fernando yang merupakan generasi baru yang mandiri tidak ada hubungan dengan kelompok – kelompok teroris yang pernah ada, mereka adalah generasi ketiga dari kelompok teroris yang ada di Indonesia.

Al Qaeda,  anak muda

Al Qaeda, anak muda

Mengenai teroris ini saya mengutip tulisan Tito Karnavian, Deputi Kepala Desk Antiteror BNPT di Majalah Tempo 2 Mei , Ia menggolongkan kelompok teroris ini menjadi 3 generasi :

1) Generasi pertama, adalah kelompok inti Al-Qaidah. Misalnya Mohammad Atef dan kawan-kawan, yang bertanggung jawab atas penyerangan World Trade Center, Amerika Serikat, 11 September 2001. Di Indonesia mereka adalah anggota Al-Jamaah al-Islamiyah lulusan pelatihan paramiliter di Afganistan dan kamp militer di Filipina Selatan. Serangan bom Bali pada 2002 dan bom Mega Kuningan, Jakarta, pada 2009 oleh Noor Din. M. Top serta Urwah cs dilakukan oleh generasi ini.

2) Generasi kedua, adalah mereka yang pernah dilatih kelompok inti Al-Qaidah. Serangan teror bom di Bali pada 12 Oktober 2002 oleh Imam Samudra dan kawan-kawan, serangan bom di Metro Manila akhir 2000 oleh Faturrahman al-Ghozi cs, serta serangan bom kereta di Spanyol pada 11 Maret 2004 merupakan sebagian aksi generasi ini, di Indonesia mereka adalah yang dilatih oleh para lulusan Afganistan dan Filipina Selatan. Generasi ini diwakili Suryo dan kawan-kawan, yang merampok kantor Bank CIMB di Medan. Sebelum perampokan, Suryo mengikuti latihan paramiliter di Aceh pada awal 2010 dengan instruktur di antaranya Mustakim dan Enceng Kurnia, keduanya lulusan pelatihan di Filipina Selatan. Rencana pengeboman beberapa kantor kedutaan dan markas kepolisian oleh kelompok Shoghir-ditangkap di Klaten, Jawa Tengah, pertengahan 2010-adalah contoh lain dari keompok generasi kedua.

3) Generasi Ketiga, adalah mereka tidak pernah dilatih oleh generasi pertama dan kedua. Mereka sedikit bersentuhan dengan jaringan Al-Qaidah atau afiliasinya dan aktif dalam kegiatan keagamaan di sel sendiri. Pemikiran radikal mereka berkembang. Mereka memperoleh kemampuan kemiliteran secara otodidaktik, termasuk dalam membuat bom serta merencanakan dan melakukan serangan. Mereka tidak pernah berlatih di Afganistan dan Filipina Selatan serta tak pernah dilatih alumni pelatihan dua tempat itu. Generasi ketiga hanya terhubung sedikit-atau bahkan tidak terhubung secara fisik-dengan jaringan struktur kelompok radikal. Kelompok Pepi Fernando disinyalir merupakan sel yang lepas dari struktur jaringan dan tidak memiliki “chain of command” dengan gerakan lama.

Saya mempelajari beberapa orang teroris yang menjalankan aksinya dengan mandiri tanpa terkait dengan kelompok teror yang ada, inilah kisah mereka:

Pelaku bom London Mohammad Sidiq Khan (30 tahun) dan Shehzad Tanweer (20 tahun) mereka adalah simpatisan berat perjuangan dari Al Qaeda, mereka adalah generasi ketiga orang pakistan yang hidup di Inggris, seperti imigran Pakistan lainnya mereka merasakan kehidupan yang keras sebagai golongan minoritas, banyak hak – hak mereka yang tidak terakomodir, kehidupan mereka semakin teralieniasi dan terpinggirkan, dan mereka sangat takjub dengan keberhasilan “Al Qaeda” melakukan serangan ke jantung Amerika dalam peristiwa 9/11 suatu simbol kemenangan “Islam” atas dunia barat, mereka lalu mempunyai “ide” untuk melakukan “hal yang sama” di Inggris, mereka ingin “menghukum” Inggris karena keterlibatannya dalam serangan ke Irak dan Afganistan yang bagi mereka adalah serangan terhadap “Islam”. mulailah mereka mencari jalan untuk melakukan aksinya, mereka bergabung dalam Forum di Internet bagi Islam Radical dan berhasil menemukan jalan, mereka melalui internet bisa berhubungan dengan kelompok radikal di Pakistan, lalu mereka berangkat ke Pakistan, diajari meracik bom, dan bagaimana melakukan aksi “bom bunuh diri”, mereka akhirnya bertemu dengan utama tokoh Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri. dan mendapatkatkan support penuh dan mereka dibuat video kesaksian sebelum melakukan bom bunuh diri, kemudian pulanglah mereka ke Inggris untuk merncanakan aksinya, mereka lalu mengajak 2 orang lagi Germaine Lindsay (19 tahun) dan Hasib Hussain (18 tahun), dan mereka berhasil dalam melakukan aksinya :
– Sidique Mohammad Khan (keturunan Pakistan), meledakkan bom pada jam 8:50 pada 7 juli 2005 (peristiwa 7/7) dalam kereta bawah tanah dalam perjalanan antara Edgware Road menuju Paddington. Ia tinggal di Beeston, Leeds bersama istri dan anak muda, di mana ia bekerja sebagai guru mengajar di sekolah dasar. Ledakan Nya menewaskan 7 orang, termasuk dirinya.
– Shehzad Tanweer (keturunan pakistan) meledakkan bom pada jam 8:50 pada 7 juli 2005, dalam perjalanan antara Liverpool Street dan Aldgate. Ia tinggal di Leeds dengan ibunya dan ayah bekerja di toko ikan, ledakannya menewaskan 8 orang, termasuk dirinya.
– Germaine Lindsay (kelahiran Jamaika) meledakkan bom perjalanan di antara King’s Cross St Pancras dan Russell Square , jam 8:50 pada 7 Juli 2005,  Ia tinggal di Aylesbury , Buckinghamshire dengan istrinya yang sedang hamil dan anak muda. Nya ledakan menewaskan 27 orang, termasuk dirinya.
– Hasib Hussain (keturunan Pakistan) meledakkan bom di bus tingkat di daerah Tavistock Square pada jam 09:47 pada 7 juli 2005, Ia tinggal di Leeds dengan saudaranya dan kakak iparnya, ledakan menewaskan 14 orang termasuk dirinya.

Demikianlah kisah “heroik” dari pelaku bom London yang mengguncangkan itu, bisa dibayangkan bahwa mereka hanya beberapa orang yang “simpati” terhadap perjuangan “Al Qaeda” , mereka berusaha mencari sendiri cara untuk melaksanakan aksinya, merancangnya, dan mengeksekusi (diri) nya sendiri.

Kesimpulannya yang perlu diwaspadai adalah paham dan ideologi “jihad” yang ditularkan melalui aksi – aksi fenomenal Al Qaeda ternyata memberi inspirasi dari para kaum muda untuk melakukan aksi yang sama, contoh yang paling dekat di Indonesia ada Pepi Fernando dan kawan – kawan, mereka segolongan pemuda yang ingin melakukan Jihad terinspirasi oleh perjuangan Al Qaeda diseluruh dunia, menurut saya kelompok – kelompok simpatisan ini masih akan banyak terbentuk selama pemerintah belum berhasil untuk menetralisasi pemahaman radikal dan mengisolasi pemahaman itu agar tidak berkembang. Upaya ini dapat dikemas dengan program pencerahan atau deradikalisasi dan kontraradikalisasi, bukan hanya “tembak ditempat” semata terhadap pelaku teror.

1 Komentar

Filed under teroris

Menjadikan Seseorang Menjadi Teroris (Proses Radikalisasi)

Kita mendengar dalam berita heboh beberapa waktu yang lalu bagaimana beberapa orang hilang akibat di “cuci otak” , inilah cara kelompok NII merekrut anggotanya. Sebagai sebuah organisasi tentunya kelompok radikal ataupun kelompok teroris membutuhkan kader untuk melaksanakan berbagai kegiatan mereka, demi mencapai tujuan organisasi.

Radikal

Radikal

Kita melihat bagaimana seseorang yang berpendidikan diputar balikkan pengetahuannya sehingga mendukung suatu paham yang sangat berbeda dengan jalan pikiran seseorang, dan bahkan bisa digunakan sebagai alat – alat untuk melakukan teror. Hebatnya sang perekrut tahu sekali bagaimana tipe orang yang akan direkrutnya, apakah dia sebagai “pencari dana”, “perekrut” atau bahkan “sayap militer” dari kelompoknya. Mereka menggunakan ilmu phsychologie untuk melaksanakan perekrutannya, dan didahului dengan menanamkan ideologi yang “radikal” kepadanya, metode ini dinamakan Radikalisasi. Kelompok seperti ini giat melakukan Radikalisasi di masyarakat untuk mencari kader anggota atau mencari dukungan masyarakat

Saya melihat referensi yang ditulis oleh DR. Petrus Golose dalam bukunya Deradikalisasi Terorisme, Proses terjadinya Radikalisasi yaitu proses penyebaran dan penyerapan pemikiran–pemikiran kelompok radikal termasuk kelompok teroris. Proses radikalisasi ditandai dengan adanya penyebaran pemikiran radikal di masyarakat, sekaligus perekrutan anggota oleh kelompok radikal ataupun kelompok teroris.

Ada beberapa tahapan dari seorang individu dalam proses Radikalisasi :

a) Tahap Perekrutan
Pada tahap ini sebuh organisasi teroris melakukan perekrutan terhadap anggotanya, perekrutan ini berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh organisasi tersebut seperti : umur, agama, tingkat pendidikan, perekonomian, status sosial dan kehidupan sehari – hari dalam masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya yang terjadi di Indonesia target Radikalisasi yang terjadi di Indonesia mempunyai keragaman sebagai berikut:
1. Mayoritas laki – laki.
2. Usia berkisar antara 16 sampai 35 tahun.
3. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang Islam.
4. Tingkat ekonomi beragam ada yang dari tidak mampu maupun dari keluarga mampu.
5. Tingkat pendidikan rata – rata setingkat SMA atau MAN atau pondok pesantren dan hanya sedikit yang mempunyai
tingkat pendidikan tinggi.

b) Tahap pengindentifikasian diri.
Tahap ini merupakan tahapan terpenting dalam Radikalisasi, yang bertujuan untuk membuat target memiliki krisis identitas hingga berada didalam kondisi yang tidak stabil dan kehilangan identitas diri, caranya mereka dibuat selalu tidak puas akan kondisi ekonomi, sosial dan politik selain itu target dibuat agar tidak kritis.

c) Tahap Indoktrinasi.
Tahap ini target diberikan paham atau ideologi teroris secara intensif, tujuan utama dari tahap ini adalah membuat target menjadi percaya dan yakin sepenuhnya, bahwa ajaran yang ditanamkan kepada mereka merupakan kebenaran mutlak, dan tidak perlu diibantah atau dikritisi lagi.

d) Tahap pengertian Jihad yang disesatkan.
Dalam tahap ini target sudah termasuk kedalam kelompok kecil (sel) dari organisasi radikal atau teroris, akan menerima kewajiban secara pribadi untuk ikut serta dalam Jihad. Tahap ini terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu:
1. Komitmen untuk melakukan teror dengan cara Jihad
2. Pesiapan dan pelatihan fisik.
3. Pelatihan mental.
4. Merencanakan serangan teror.

Proses terjadinya Radikalisasi

Proses terjadinya Radikalisasi

Demikian sekilas proses Radikalisasi yang dilakukan kelompok teroris dan kelompok radikal lainnya, sekarang pertanyaannya mampukah anda mempunyai pertahanan diri yang baik sehingga tidak terjebak dalam ideologi radikal ?

6 Komentar

Filed under Kriminal, teroris