Africa is Save, When The Holy Spirit Comes Down….

Judul lagu itu sangat menggugah saya, dan lagu itu dinyanyikan dalam suatu kebaktian di gereja El Fasher yang saya ikuti….. kesungguhan untuk “merubah” Afrika menjadi wilayah yang aman dari segala konflik tergambar dari doa dan lagu yang dibawakan oleh jemaat gereja itu…

Church of El Fasher
Church of El Fasher

Gereja UNAMID Church Service pada awalnya diperuntukkan sebagai sarana keimanan para staffnya, namun seiring dengan berkembangnya gereja ini, juga menampung kebutuhan rohani penduduk lokal…  di Sudan penduduk beragama kristen sebagian besar berasal dari wilayah selatan Sudan, karena negara Sudan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Nasionalnya, maka baru pertama kali saya melihat ada Alkitab ditulis dalam huruf Arab yang dibawa oleh teman saya…

Choir Gereja
Choir Gereja

Sungguh besar Kemuliaan Tuhan dinampakkan, walaupun gereja ini nampak sangat sederhana, beratapkan seng dan lantai semen biasa.. tidak menghilangkan atmosfir kekudusan dalam menjalankan ibadah, gereja inipun tidak terikat dengan satu denominasi tertentu… sehingga bisa diikuti semua orang yang haus akan Kehadiran NYA… Sungguh Yesus Anak Domba Allah menunjukkan Kemuliannya di El Fasher untuk memberi Kedamaian di seluruh Sudan, dan berkat Roh Kudus, Afrika Diselamatkan ……..

Suasana dalam gereja
Suasana dalam gereja

Suasana Luar Gereja
Suasana Luar Gereja

 

Africa is Save, When The Holly Spirit Comes Down….

Iklan

Rekan TNI di UNAMID…

UNAMID adalah suatu institusi besar di Sudan, bahkan sekarang di klaim sebagai missi terbesar yang pernah dijalankan oleh UN, bayangkan dengan seluruh personilnya mendekati 30 ribu, terdiri dari Civilian Staff, Militer, Civilian Police, Local Staff, FPU, Military Observer dll… untuk berjalannya organisasi yang besar ini dibutuhkan banyak staff sebagai pendukungnya, nah berkaitan ini UNAMID melalui UNDPKO mengirimkan permintaan ke pemerintah Indonesia untuk bisa mengirimkan SO (Staff Officer) untuk mengisi jabatan – jabatan pendukung operasional UNAMID.

Rekan TNI dari SO (Staff Officer) UNAMID
Rekan TNI dari SO (Staff Officer) UNAMID, Ki - Ka : May. Pnb Destrianto, May. Tek Rudi, Kapt. Sri, May. Kav. Doddy

Bersama ini Mabes TNI mengirimkan 4 orang perwira terbaiknya untuk ditempatkan sebagai SO (Staff Officer) di UNAMID, sekarang pertanyaaanya, apa bedanya dengan MilObs (Military Observer) yang selama ini lebih dikenal dalam penugasan PBB ?  SO diutamakan untuk pekerjaan staff pendukung di setiap Missi, dan mempunyai keahlian yang spesifik sehingga memang dicari yang mempunyai keahlian sesuai dengan bidang yang dibutuhkan, biasanya missi mengirimkan pemberitahuan bidang apa yang dibutuhkan dan segera disesuaikan oleh negara kontributor, untuk missi UNAMID sementara diisi oleh 4 perwira TNI yang ahli dalam bidangnya untuk bergabung oleh banyak SO dari berbagai negara lain.

Sekilas tentang rekan TNI di UNAMID

Mayor PNB Destrianto,  dari TNI AU. Penerbang yang masih lajang ini (hayoo… daftar … daftar )  lulusan AAU tahun 1996, jabatan terakhir di Indonesia berada di Squadron 2 Halim Perdana Kusuma, Destri adalah SO pertama yang ditempatkan di UNAMID El Fasher, jauh mendahului rekan – rekannya,  sewaktu pertama kali menginjakkkan kaki di El Fasher hanya sendiri, untung ada rekan – rekan FPU sebagai teman mengobrol sampai beberapa bulan kemudian 3 rekannya datang.  Di UNAMID sendiri mendapat jabatan sebagai “Planning Schedule Airops”  alias mengatur jadwal penerbangan seluruh penerbangan UNAMID, suatu jabatan yang sangat vital.. bagi kami sendiri ada suatu kemudahan.. karena selalu ada “bocoran” kapan pesawat in out Lapangan Terbang El Fasher, daripada kita menunggu terlalu lama karena sering juga didelay… tinggal menelpon saja kawan kita yang satu ini … thanks buddy … 🙂

Mayor. Tek. Rudy, adalah lulusan seangkatan Destrianto, AAU 96. Jabatan terakhir di  Lap terbang Hussain Sastranegara bandung ( yah pasti lah TNI AU ngga jauh dari lapangan terbang xixixi..) di UNAMID ditempatkan di bagian Terminal/ Bandara suatu jabatan yang penting karena ia yang memeriksa kelayakan pesawat yang akan diterbangkan, dan juga melihat kelayakan bandara yang digunakan.  Tidak banyak SO yang mempunyai kemampuan teknik seperti beliau ini… maju terus Rud !

Kapten Wara Sri, Wah … mba ini adalah satu – satunya Srikandi Indonesia di sarang penyamun… eh salah… di Gurun Pasir El Fasher… Mba yang satu ini juga dipilih karena mempunya keahlian yang sangat spesifik, yaitu “Air Traffict Controller” Di Indonesia berdinas sebagai Kasubbag Pers, Disbang Ops, Mabes TNI- AU, menduduki jabatan tidak jauh dari keahliannya tersebut yaitu sebagai “Air Flight Follow” yaitu bagian komunikasi pesawat – pesawat dari dan keluar airspace missi UNAMID… Saya dapat bocoran bahwa mba Sri sangat jago masak… dan karena tinggal serumah dengan para rekan pria SO lainnya… jadinya membawa keberuntungan buat mereka, hehehe… yang lain tinggal gantian mencuci piring saja.. ok ?

Mayor. KAV. Dody, adalah lulusan AKMIL 1995, dan sudah lulus juga Sesko AD, di Indonesia jabatan terakhir di Pusdik Kavaleri Cimahi, Bandung. Sangat menguasai peralatan “armored” seperti Tank dan Panser sesuai dengan kecabangannya Kavaleri, sesuai dengan keahliannya itu ia ditempatkan di COE (Contigent Owned Equipment) yaitu divisi yang bekerja untuk menginventarisir peralatan milik TCC (Troop Contribution Country)  untuk dilakukan “reimbushment” , termasuk peralatan milik FPU Indonesia, pelaksanaan “reimbushment” atas peralatan yang kita pakai tergantung penilaian team verifikasi dari COE, keep on good work, Dod !

Senang mempunyai rekan – rekan briliant seperti kalian…  yang penting merah putih tetap jaya di El Fasher… Ok ?

Sehari bersama FPU Indonesia

Setelah tiga bulan bertugas di UNAMID (United Nations African Union Mission In Darfur) di El Fasher Darfur, segalanya nampak lebih terorganisir, tugas yang menjadi tanggung jawab FPU Indonesia sudah terlaksana dengan sangat baik, seperti pernah saya sebutkan tugas FPU sesuai Mandat yang diberikan PBB adalah : “Menjaga keamanan seluruh personel PBB beserta seluruh assetnya, dan juga melakukan patroli untuk menciptakan keamanan di kamp IDP (Internal Displaced Personal)”.  FPU yang terdiri dari 4 peleton selalu bergantian melakukan tugasnya, yang paling utama sehari – hari adalah melakukan pengawalan terhadap CIVPOL (Civilian Police) melakukan “Community Policing” di sekitar IDP Camp, dan IDP camp yang menjadi AOR (Area Of Responsibility) FPU ada 3 yaitu : IDP Camp ZAM – ZAM, IDP Camp ABU SHOUK, dan IDP Camp AL SALAM, jadi pleton – pleton itu habis terbagi di ketiga tempat tersebut..

Danton memberikan arahan sebelum berangkat tugas di Camp FPU Indonesia.

Patroli berjalan kaki disekitar IDP Camp ABU SHOUK

Berfoto bersama CIVPOL polwan dari Afsel, Language Asisten dan Mr. Onta

Tugas melakukan pengawalan terhadap CIVPOL terbagi dalam dua shift yaitu siang dan sore hari, dan bermula dari “Meeting Point” yang telah ditentukan, melakukan meeting sebelum berangkat dengan team leader CIVPOL untuk menyamakan presepsi apa yang akan dikerjakan CIVPOL selama melakukan “Comunity Policing” , biasanya sehari hari mereka bertemu dengan pemimpin “Informal” yang berada di IDP camp yang disebut “SHEIK” , atau setingkat lebih tingginya  disebut “OMDA”, dan beberapa OMDA dipimpin oleh seorang “Chief OMDA” , nah gambaran kalau di Indonesia mungkin SHEIK setingkat RT, kemudian OMDA setingkat Lurah, dan Chief OMDA adalah kepala OMDA diseluruh IDP Camp. Pelaksanaan tugas CIVPOL dengan dikawal FPU biasanya mendatangi SHEIK atau OMDA untuk menanyakan apakah ada kejadian yang meresahkan masyarakat, atau menampung laporan/komplain tentang keamanan di dalam IDP Camp, dari hasil pantauan tersebut CIVPOL membuat laporan harian ke Sector CIVPOL yang ada (di El Fasher adalah Sector North), kemudian di setiap IDP Camp tersebut untuk CIVPOL ada yang disebut CPC (Community Policing Centre), nah FPU Indonesia secara bergantian dan terus menerus membantu CPC untuk melaksanakan tugas “Community Policing”.

Menjaga CIVPOL yang sedang berkomunikasi dengan “OMDA”

Sejenak dengan anak – anak di IDP Camp, anak anak korban perang…

Tugas pengawalan terhadap CPC ke IDP camp terbagi dalam dua shift, yaitu shift pagi jam 8 sd jam 12, dan Shift sore Jam 2 sd jam 6, yang menjadi gambaran pada saat ini adalah pleton 3 yang dipimpin oleh IPTU Alex Fritz Tobing,  dimulai ketika persiapan berangkat di Camp FPU Indonesia pada pukul 07.30 pagi, memberikan sedikit arahan kepada anak buahnya untuk melaksanakan tugasnya, berangkat ke “Meeting Point”  dan berangkat ke IDP Camp “ABU SHOUK”  pada pukul 09.00, kemudian bersama CIVPOL melakukan “Community Policing” bertemu dengan Chief OMDA bertanya jawab tentang situasi dan kondisi, tugas sebagai pengawal mempunyai resiko tersendiri, anggota FPU harus menguasai jalan – jalan disekitar IDP Camp dan harus tahu apabila dalam keadaan “Emergency” jalan terdekat dan aman untuk mencapai titik aman,  yang saya lihat …. anggota FPU sudah sangat hapal lingkungan IDP Camp, bahkan mereka sangat diterima dengan baik oleh masyarakat IDP cam , jauh lebih baik daripada CIVPOL itu sendiri….. mungkin karena keramahan bangsa Indonesia yang pandai “Bersosialisasi” , saya melihat sendiri masyarakat di IDP camp sangat merasa aman dengan kehadiran FPU Indonesia, bahkan salah satu chief OMDA mengirimkan surat kepada PBB bahwa mereka sangat terkesan dan merasa aman atas kehadiran FPU Indonesia di IDP camp, pada tepat jam 12 siang peleton FPU selesai melaksanakan tugas dan kembali ke camp…..

Berfoto selesai melaksanakan tugas dengan aman…, salam dari Darfur !

Well Thanks GOD, tugas terlaksana dengan baik dan tidak kurang suatu apapun… mudah – mudahan terus begini sampai setahun kedepan, sehingga kami bisa bertemu keluarga dalam keadaan aman dan tidak kurang suatu apapun…. Amin….

Oh no…! Not Goat Again….

Baca judulnya : Kambing, Kambing dan Kambing lagi…

Penduduk Darfur mayoritas pekerjaannya adalah pengembala ternak, hampir disetiap rumah penduduk di Darfur mempunyai ternak di halaman rumahnya, Sapi, Kambing, Domba, Donkey atau onta…. itu dalam skala keluarga…. dalam suatu lingkungan biasanya ada juga yang menjadi “pemain besar” , mereka mempunyai ratusan bahkan ribuan ternak………

Pada saat kami tinggal di Cam Zam Zam El Fasher, saya melihat ribuan Sapi dan kambing atau Domba melewati Camp kami pada pagi hari untuk mencari rumput, dan pada sore harinya kembali melewati jalan yang sama, convoy sapi yang terpanjang pernah saya lihat adalah barisan sapi dari paling depan sampai ke belakang sampai 4 kilometer panjangnya…. bayangkan berapa ribu sapi dalam rombongan itu….

Dengan kondisi ini bisa ditebak, harga daging pasti murah sekali……. sebagai gambaran seekor sapi besar disini hanya seharga 400 pound, kalau di rupiahkan seharga 2 juta rupiah, dan seekor Kambing 55 Pound atau seharga 200 ribu rupiah…. murah kan.. ?

Bakar .. bakar jangan sampe gosong yaaa....
Bakar .. bakar jangan sampe gosong yaaa....

Kondisi ini ternyata tidak disia – siakan oleh para anggota FPU, dengan patungan dalam jumlah uang yang sedikit bisa pesta barbeque… dalam moment moment tertentu, secara bergantian, dan yang menjadi favorit adalah barbeque Kambing……. katanya mereka sih untuk perbaikan Gizi … 🙂 selama saya disini, sering sekali mereka mengundang saya: “Komandan, nanti malam diharapkan datang ke tenda, kita nyate kambing…” Weleh – weleh.. apa pada ngga pada tau saya mengidap kolesterol agak tinggi apa yaaaaaaa :mrgreen:

Desert Party dengan menu...... Sate Kambing, sop Kambing.. all Kambing
Desert Party dengan menu...... Sate Kambing, sop Kambing.. all in Kambing

Jadi jawaban saya selalu : “Oh No …! Not Goat Again…!” tetapi demi menghargai yah terpaksa datang juga dan mencicipi… namun malah keterusan, makan kambing kebanyakan……. waduuhhhh habis enak syiiih ! hahahha…….  :mrgreen:

Gurun pun kutempuh demi dikau kekasihku……

Perjalanan peralatan FPU yang sangat jauh dari Port Sudan ke Al Obeid yang berjarak 2700 Km, sungguh suatu tantangan tersendiri bagi team advance seperti saya, dengan segala tantangan baik cuaca maupun birokrasi yang panjang…. khususnya buat mendatangkan “kekasih” tercinta Armored Personal Carrier (APC) dan belasan truk milik kami, seyogiyanya perjalanan itu semua dari sudah di kontrakkan dengan perusahaan transportasi lokal….. dari Port Sudan sampai ke “final destination” El Fasher….. namun perusahaan ini menyerah pada sepertiga perjalanan, yaitu hanya sampai AL OBEID, kenapa ? karena sampai lokasi ini lah jalan aspal masih terjangkau, sisanya sepanjang 600 KM melewati gurun pasir, memang kalau dipaksakan bisa saja dilewati, namun yang mereka takutkan adalah tidak terjaminnya keamanan selama melewati sisa jalan ini, sudah ratusan kejadian berupa perampokan terjadi di sepanjang jalan ini…. baik bantuan makanan World Food Program (WFP) maupun peralatan militer milik PBB, kejadian paling mengkhawatirkan adalah dirampokkanya 2 (dua) Kontainer berisi amunisi milik China Engineering Batalion … suatu tamparan bagi PBB karena ternyata amunisi dalam salah satu kontener yang hilang adalah peluru 12,7 MM yang sering dipakai oleh kelompok pemberontak, makanya untuk mengantisipasi hal itu pihak PBB menyarankan agar setiap Troop Contribution Country (TCC) termasuk FPU Indonesia mengambil sendiri kendaraannya dari Al Obeid sampai El Fasher.

Beristirahat sejenak bersama sang kekasih.. dalam perjalanan menuju El Fasher
Beristirahat sejenak bersama sang kekasih.. dalam perjalanan menuju El Fasher

Perencanaan adalah hal yang sangat penting dalam melakukan convoy ini, terutama memikirkan aspek keamanan dan logistik  ( air, makan dan BBM) jarak yang 600 Km kalau jalan beraspal dapat ditempuh dalam waktu 10 Jam, namun dalam kondisi gurun pasir ditempuh dalam waktu 5 (lima) hari…. team mekanik, Protection Force, Driver yang berkemampuan baik dalam kondisi gurun…. yang menjadi tanggung jawab kami adalah membawa “kekasih” kami berupa 12 buah Truk dan 9 APC…

Akhirnya dalam waktu yang ditentukan, beberapa personil yang ditunjuk berangkat ke Al OBEID dengan charter flight, namun didahului beberapa hari sebelumnya oleh team mekanik, untuk mempersiapkan segala kendaraan agar siap dikendarai…..

Akhirnya juga demi “kekasih” tercinta, berangkatlah team pengemudi  FPU dari Al Obeid menuju El Fasher, melewati padang gurun, dengan segala keganasan alamnya….

kendala di perjalanan untungnya tidak ada yang terlalu berarti, hanya ada beberapa kendaraan yang terjebak dalam pasir dan ada kendaraan yang patah pernya…

Setelah melewati waktu tempuh 5 hari bersama sang “kekasih”  sampailah semua dengan selamat di El Fasher…. Raut muka yang lelah dan gosong terbakar matahari tidak mengurangi rasa gembira karena telah berhasil melaksanakan tugas….

Berfoto bersama setelah sang kekasih tiba...
Berfoto bersama sang kekasih setelah tiba...

Pasukan Formed Police Unit (FPU) Indonesia tiba di Darfur

Catatan : Tulisan saya ini juga di posting di situs Peacekeeper Indonesia : http://Pralangga.org yang pemiliknya adalah rekan saya Luigi Pralangga.

Setelah menyiapkan jalan bagi FPU Indonesia sebagai Advance team (3 orang) selama lebih kurang 5 bulan, akhirnya pasukan FPU Indonesia dipimpin oleh Komandan Kontingen AKBP Drs. Johni Asadoma M.Hum yang berjumlah keseluruhan 140 orang menapakkan kaki di lapangan terbang El Fasher, Darfur menggunakan pesawat khusus Vim Airlines yang berangkat dari Halim Perdana Kusuma, FPU Indonesia terdiri dari 110 orang “Tactical Unit” dalam 4 peleton yang keseluruhan berasal dari Satuan Brigade Mobil Polri dan 30 orang “Support Unit” yang berasal dari Kesehatan, Elektonik dan Komunikasi, Mekanik dan Juru Masak.

FPU Indonesia tiba di El Fasher
FPU Indonesia tiba di El Fasher

Bagi POLRI hal ini merupakan sejarah baru, karena inilah kali pertama POLRI mengirimkan personil dalam ikatan pasukan, selama ini hanya secara personal yang tergabung dalam Civilian Police (Civpol) dalam berbagai missi perdamaian PBB yang tergabung dalam UNAMID (United Nations African Union Hybrid Mission In Darfur).

Bagaimana peran FPU dalam misi perdamaian PBB?. Dalam aturan yang dirancang Dewan Keamanan PBB mengenai Rules of Enggagement FPU, tugas pokoknya adalah :

Menjaga setiap personil PBB dan assetnya, dan melakukan tugas khusus dalam lingkup tugas keamanan dan ketertiban seperti Riot Control, dan menjaga camp keamanan kamp pengungsi.

Sekarang pertanyaannya bagaimana perbedaannya dengan satuan militer yang juga ada dalam setiap missi perdamaian?. FPU merupakan konsep baru dalam misi perdamaian PBB, ini tercipta karena ada dirasakan adanya “Security Gap” antara tugas Militer yang “full armed” dan “Too Powerful” dalam menciptakan ketertiban masyarakat dan disisi lain kurangnya lemahnya polisi sipil PBB yang tidak bersenjata, “Security Gap” itu kira – kira harus diisi dengan Polisi yang mempunyai kemampuan Paramiliter, pengendalian huru-hara, mampu bergerak secara cepat dan mobile dan mampu mengendalikan keamanan dan ketertiban masyarakat secara cepat.

Anggota FPU Indonesia dengan unsur militer UNAMID
Anggota FPU Indonesia dengan unsur militer UNAMID

Nah, dari pemikiran tersebut terciptalah konsep FPU dalam setiap misi perdamaian PBB.

Kehadiran FPU di Darfur memang sangat diharapkan, namun proses itu memakan waktu yang panjang, saya sendiri sebagai team advance menghabiskan waktu 5 bulan menyertai peralatan FPU Indonesia dari Port Sudan sampai El Fasher, problem ini terkendala birokrasi yang sangat rumit dari pemerintah Sudan dan juga jarak tempuh yang jauh (2700 Km dari Pelabuhan Port Sudan sampai ke El Fasher!) juga medan perjalanan yang sangat buruk (tanpa jalan aspal melewati padang pasir).

Dalam rancangan UNAMID akan ditempatkan 14 (empat belas) FPU di seluruh misi, namun sampai sekarang dalam 1 tahun pertama berdirinya UNAMID baru ada 3 FPU termasuk Indonesia. Tugas pertama yang menanti adalah melakukan pengawalan terhadap UN Civpol untuk melakukan “Community Policing” di Camp Pungungsi Lokal (Internal Displaced Personal Camp/IDP Camp) selama ini tugas itu dilakukan oleh militer PBB namun memang seperti saya katakan terdahulu, tugas itu sebenarnya merupakan tugas kepolisian.

Hari – hari pertama pasukan FPU Indonesia adalah melakukan orientasi lapangan ke IDP Camp yang masuk dalam Area Of Responsibilitynya, yaitu IDP camp El Salam, Abu Shouk dan Zam–Zam, rata – rata IDP Camp ini dihuni sekitar 100 ribu pengungsi, mengunjungi tokoh masyarakat yang dikenal “Sheik” (tokoh informal setingkat dengan desa/lingkungan) dan diatasnya adalah “Omda” yang biasanya membawahi beberapa Sheik, kemudian FPU mendapatkan “Induction Training” oleh UN Integrated Mission Training Center untuk mengenal lebih dalam tentang konflik yang terjadi di Darfur.

Perkenalan dengan para Sheikh
Perkenalan dengan para Sheikh
Patroli pengamanan di salah satu penampungan pengungsi (IDP Camp)
Patroli pengamanan di salah satu penampungan pengungsi (IDP Camp)

Mandat yang berlaku seperti tertera dalam Resolusi No. 1769 Dewan Keamanan PBB, adat-istiadat masyarakat setempat dan hal – hal yang mendasar lainnya. Untuk sementara kontingen FPU Indonesia ditempatkan pada “transit camp” karena camp Indonesia masih dalam tahap pembangunan, diperkirakan akan memakan waktu selama 2 bulan, mengenai kebutuhan hidup sehari- hari seperti bahan makanan di drop secara regular dan dimasak oleh anggota “Support Unit” FPU, air untuk MCK dan minum juga di drop tiap hari.

Kendala awal bagi pasukan adalah penyesuaian fisik untuk menghadapi iklim gurun yang ganas, yang merupakan pengalaman baru bagi kami, bibir pecah, dehidrasi, mengeluarkan darah dari hidung adalah hal yang rata – rata dialami, namun kendala itu cepat dapat diatasi.

Transit Camp FPU Indonesia
Transit Camp FPU Indonesia

FPU Indonesia saat ini sudah melaksanakan tugasnya secara “full performance” setelah melewati jangka waktu 2 minggu waktu penyesuaian dan orientasi, tugasnya adalah melakukan patroli di 3 (tiga) IDP Camp yang merupakan AOR, terbagi dalam shift siang dan malam, setiap patroli terdiri dari 1 peleton menggunakan 2 buah Armored Personnel Carrier (APC) dan mobil patroli. Patroli ini merupan joint patrol bersama UN CIVPOL yang melaksanakan Community Policing.

Harapan kami adalah FPU Indonesia dapat melaksanakan tugasnya secara baik, dan sampai terakhir masih mendapat tanggapan sangat positif dari masyarakat darfur dan juga dari PBB sebagai pengguna kami, dan pulang dengan lengkap dan selamat setelah satu tahun kedepan.

AKBP REINHARD HUTAGAOL Sik
Wakil Komandan Kontingen FPU Indonesia

INDONESIAN FPU 1st PERFORMING DUTY

Persiapan Patroli menuju IDP Camp
Persiapan Patroli menuju IDP Camp

Waduh…. sunguh berbahagia ada kesempatan lagi buat saya untuk mengupdate blog tercinta ini, mohon maaf karena rasa gembira yang menggebu – gebu karena koneksi internet yang sudah kembali, ternyata hanya dirasakan beberapa hari saja, setelah itu kembali down…     Ya sudah………, ga usah diperpanjang karena masalah ini sudah basi , karena memang beginilah “mission area” sesungguhnya, penuh dengan kesengsaraan :mrgreen:

Patroling FPU disekitar IDP camp
Patroling FPU disekitar IDP camp

Ada sesuatu yang berita yang menggembirakan dari FPU Indonesia di Darfur ini, FPU Indonesia telah diserahi tangung – jawab untuk melaksanakan tugasnya, walaupun sesungguhnya waktunya masih prematur karena keberadaan kami masih di “transit camp’, para petinggi UNAMID melihat kami sudah layak melaksanakan tugas seperti yang di “mandatkan” yaitu : “Menjaga setiap personil UNAMID beserta asset – assetnya, dan menjaga keamanan di Internal Displaced Personal Camp (IDP Camp)”

Secara garis besar dapat saya katakan: Sementara tugas FPU “tidak bersentuhan langsung” dengan para pengungsi di IDP camp, tugas kami adalah menjaga “Police Advisor” yaitu UNAMID Civilian Police melaksanakan “Community Policing” di IDP Camp, selama ini yang menjadi “Force Protection” bagi mereka adalah Militer dari Batalion Rwanda, namun setelah kami ada akan ada alih tugas dari Militer ke FPU untuk menjamin keselamatan “Police Advisor” dalam melaksanakan tugasnya.

Secara global schedule yang dilaksanakan adalah shift pagi (09.00 – 13.00) dan Shift Sore (14.00 – 18.00), dengan dua tujuan IDP Camp yaitu IDP camp “AL SALAM” dan “ABU SHOUUK” yang mempunyai total jumlah pengungsi masing – masing sekitar 50 rb orang, untuk pelaksanaan pengawalan 4 peleton bergantian shift pagi dan sore.

Dari suara – suara yang saya dapat dari masyarakat dan anggota PA yang dikawal, kualitas kerja FPU Indonesia mempunyai disiplin yang baik dan dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat pengungsi, dengan kehadiran FPU di IDP camp diharapkan membawa rasa aman bagi para pengungsi dari gangguan – gangguan kriminalitas dari kelompok tertentu yang sering mengganggu mereka.

Kehadiran mu membawa rasa aman kah ?
Kehadiran mu membawa rasa aman kah ?

Demikian update terbaru dari El Fasher, Darfur… Nantikan kami selanjutnya