Kenapa Polisi Sasaran Penembakan ?

219129_polisi-ditembak-inspektur-dua-dwiyatna_663_382Kita melihat trend penembakan anggota Polisi mulai marak di Indonesia, sudah belasan polisi Bhayangkara menjadi korban penembakan, kalau dilihat dari modusnya dapat dilihat peristiwa penembakan tersebut dilakukan oleh kelompok teroris. Inilah sebagian data yang bisa didapat (Khusus yang dicurigai dilakukan oleh kelompok teroris):

1) Maret 2010, Penembakan di Polsek Prembun, Kebumen, Briptu Yona Anton (29) tewas tertembak dini hari sekitar pukul 01.00. dini hari, tidak ada saksi yang melihat.
2) April 2010, Penembakan di Pos Pol Kentengrejo, Purwodadi, Purworejo, jawa Tengah. yang menewaskan Briptu Iwan Eko Nugroho (26) dan Bripka Wagino (60) yang diperkirakan juga ditembak pada dini hari, tidak ada saksi yang melihat.
3) September 2010, Tiga polisi tewas dalam penyerangan terhadap Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, yang terjadi pada pukul 01.00 WIB menewaskan Bripka Riswandi, Aipda Deto Sutejo dan Aiptu B Sinulingga.
3) Agustus 2012, Penembakan di pos polisi di Singosaren Plasa, Serengan, Solo, oleh orang tak dikenal. Seorang anggota polisi yang tengah berjaga, Bripka Dwidata Subekti (53) tewas akibat penyerangan tersebut. penyerangan terjadi sekitar pukul 21.00 WIB ketika kios di pertokoan tersebut hendak tutup. Ketika itu, sebuah sepeda motor dengan dua pengendara berhenti di selatan Singosaren Plasa.
4) Oktober 2012, dua personel polisi Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman ditemukan tewas dengan leher tergorok di Gunung Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir.
5) Desember 2012, 4 anggota Polisi dari kesatuan Brimob tewas dalam penyergapan di Poso yaitu Briptu Ruslan, Briptu Winarto, dan Briptu Wayan Putu Ariawan dan Briptu Eko Wijaya.
6) Juli 2013, pada pukul 04.30 WIB. anggota Polantas Gambir Aipda Patah Satiyono di Jalan Cirendeu Raya, Jakarta Selatan, tewas ditembak ketika hendak berangkat dinas dari rumahnya di Bojong Gede, Depok.
7) Agustus 2013, anggota Kepolisian Sektor Pondok Aren Bripka Maulana dan Aipda Kus Hendratma menjadi korban penembakan orang tidak dikenal di Jalan Graha Raya Pondok Aren.
8) September 2013, Bripka Sukardi tewas ditembak orang tak dikenal tepat di depan Gedung KPK, Selasa sekitar pukul 22.20 WIB. Ketika ditembak, Sukardi tengah mengawal truk pengangkut peralatan konstruksi.

Osama Bin Laden dan Penggantinya Ayman Al Zawahiri
Osama Bin Laden dan suksesornya Ayman Al Zawahiri

Berbagai aksi teror yang terjadi beberapa waktu belakangan ini harus dilihat melalui trend global terorisme, yaitu pasca pergantian kepemimpinan Al Qaeda dari Osama Bin Laden yang tewas oleh pasukan khusus AS Navy Seals ke pimpinan baru Al Qaeda yaitu Ayman Al Zawahiri.  Dibawah kepemimpinannya terjadi perubahan yang signifikan terhadap metode perjuangan Al Qaeda, yaitu Perubahan Sasaran.  Tadinya Osama bin Laden hanya menekankan penyerangan terhadap Amerika Serikat, kepentingannya serta sekutu-sekutunya.

Sekarang pada masa kepemimpinan  Ayman Al Zawahiri  ia menyerukan untuk simpatisan dan anggota Al Qaeda agar membuat sel – sel kecil untuk menyerang aparat pemerintah atau Ighiyalat.  Penyerangan ini dilakukan terhadap negara – negara yang tidak menerapkan Hukum Syariah (Hukum Islam).   Sel – sel perjuangan Al Qaeda sekarang  tidak lagi bersifat komando vertikal dari atas ke bawah namun sel – sel itu kini bergerak secara otonom. Mereka menentukan target sendiri, dan mencari pendanaan sendiri  (Fa’i). Beberapa perampokan Bank dan toko emas di Indonesia belakangan ini disinyalir merupakan upaya sel ini untuk membiayai perjuangannya.

Di indonesia ada kelompok yang menamakan diri Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santosa dan Mujahidin Indonesia Barat pimpinan Umar. Pada saat ini mereka telah terkooptasi secara regional, global dan nasional untuk melakukan teror terhadap pemerintah yang belum menerapkan hukum Syariah.

Kasus penembakan terhadap Polisi tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara lain seperti Pakistan, Afganishtan, Suriah , Mesir dan Thailand. Ini merupakan reaksi dari fatwa yang dikeluarkan oleh Ayman Al Zawahiri. Tujuannya penembakan polisi ini adalah membuat kepanikan dalam masyarakat, sehingga masyarakat tidak percaya lagi terhadap perlindungan keamanan yang diberikan oleh Polisi.

Khusus di Indonesia Kenapa polisi menjadi sasaran ? Karena polisi adalah garda terdepan dalam menumpas terorisme. Sudah lebih 900 orang tersangka teroris yang ditangkap dan dibawa ke proses pengadilan. Diantara yang telah mendapat vonis ada yang masih bergabung dengan kelompok tersebut ada yang sudah sadar. Contoh yang telah sadar adalah Ustad Abdul Ayub (salah satu mantan pendiri Jamaah Islamiyah)  sekarang bersama BNPT melakukan Deradikalisasi terhadap para mantan teroris agar kembali ke ajaran yang benar.

Di dalam buku Tazqiroh karangan Abu Bakar Baasyir bukan hanya polisi yang menjadi sasaran, tetapi lawyer, jaksa, hakim.  Itulah sebabnya sidang perkara terorisme dengan jaksa Silalahi di poso dan lainnya dilaksanakan di Jakarta dengan alasan keamanan, karena Jaksa dan Hakim diteror setiap mau melaksakanan sidang.

Beberapa hal yang menjadi kesimpulan dari peristiwa penembakan Polisi:
1) Teror yang terjadi kepada polisi ini adalah teror terhadap Negara, bukan hanya kepada polisi saja, sehingga menjadi tugas dan tanggung jawab bersama dalam penanggulangannya.
2) Detasemen Khusus 88 dibentuk karena ada terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dibentuk karena ada peristiwa terorisme. Densus 88 menangkap pelaku terorisme untuk mencegah agar tidak terjadi korban masyarakat atas aksi terorisme. Pemikiran ini sering dibalik dan dipelintir sebagian kelompok yang menginginkan dibubarkannya Densus 88 seolah olah tugas Densus memusuhi agama tertentu. Padahal hanya merasa kepentingannya terancam.
3) Penangkapan yang dilakukan polisi terhadap pelaku terorisme tidak mungkin dilakukan secara senyap karena harus ada tahapan melalui SOP yang harus dilalui, sehingga dalam melakukan tahapan tahapan tersebut tidak mungkin dihindari terlihat oleh masyarakat.
4) Anggota Polri yang meninggal akibat serangan teroris adalah Pahlawan.

*Pointers dari penjelasan Direktur Penindakan BNPT*

Iklan

The Next Generation of Terrorist

Setelah beberapa kejadian teror belakangan ini, yaitu peristiwa bom buku dan bom di Mesjid Polresta Cirebon, memang kedua peristiwa ini tidak berkaitan karena berbeda kelompok. Bom buku di buat oleh kelompok Pepi Fernando dan Bom Mesjid oleh kelompok Sigit Qurdowi (telah tewas dalam penggerebekan densus 88 di Solo), berdasarkan pendalaman jaringan kelompok Sigit Qurdowi adalah pemain lama karena merupakan DPO peristiwa bom Gereja beberapa tahun yang lalu, yang menarik adalah kelompok Pepi Fernando yang merupakan generasi baru yang mandiri tidak ada hubungan dengan kelompok – kelompok teroris yang pernah ada, mereka adalah generasi ketiga dari kelompok teroris yang ada di Indonesia.

Al Qaeda,  anak muda
Al Qaeda, anak muda

Mengenai teroris ini saya mengutip tulisan Tito Karnavian, Deputi Kepala Desk Antiteror BNPT di Majalah Tempo 2 Mei , Ia menggolongkan kelompok teroris ini menjadi 3 generasi :

1) Generasi pertama, adalah kelompok inti Al-Qaidah. Misalnya Mohammad Atef dan kawan-kawan, yang bertanggung jawab atas penyerangan World Trade Center, Amerika Serikat, 11 September 2001. Di Indonesia mereka adalah anggota Al-Jamaah al-Islamiyah lulusan pelatihan paramiliter di Afganistan dan kamp militer di Filipina Selatan. Serangan bom Bali pada 2002 dan bom Mega Kuningan, Jakarta, pada 2009 oleh Noor Din. M. Top serta Urwah cs dilakukan oleh generasi ini.

2) Generasi kedua, adalah mereka yang pernah dilatih kelompok inti Al-Qaidah. Serangan teror bom di Bali pada 12 Oktober 2002 oleh Imam Samudra dan kawan-kawan, serangan bom di Metro Manila akhir 2000 oleh Faturrahman al-Ghozi cs, serta serangan bom kereta di Spanyol pada 11 Maret 2004 merupakan sebagian aksi generasi ini, di Indonesia mereka adalah yang dilatih oleh para lulusan Afganistan dan Filipina Selatan. Generasi ini diwakili Suryo dan kawan-kawan, yang merampok kantor Bank CIMB di Medan. Sebelum perampokan, Suryo mengikuti latihan paramiliter di Aceh pada awal 2010 dengan instruktur di antaranya Mustakim dan Enceng Kurnia, keduanya lulusan pelatihan di Filipina Selatan. Rencana pengeboman beberapa kantor kedutaan dan markas kepolisian oleh kelompok Shoghir-ditangkap di Klaten, Jawa Tengah, pertengahan 2010-adalah contoh lain dari keompok generasi kedua.

3) Generasi Ketiga, adalah mereka tidak pernah dilatih oleh generasi pertama dan kedua. Mereka sedikit bersentuhan dengan jaringan Al-Qaidah atau afiliasinya dan aktif dalam kegiatan keagamaan di sel sendiri. Pemikiran radikal mereka berkembang. Mereka memperoleh kemampuan kemiliteran secara otodidaktik, termasuk dalam membuat bom serta merencanakan dan melakukan serangan. Mereka tidak pernah berlatih di Afganistan dan Filipina Selatan serta tak pernah dilatih alumni pelatihan dua tempat itu. Generasi ketiga hanya terhubung sedikit-atau bahkan tidak terhubung secara fisik-dengan jaringan struktur kelompok radikal. Kelompok Pepi Fernando disinyalir merupakan sel yang lepas dari struktur jaringan dan tidak memiliki “chain of command” dengan gerakan lama.

Saya mempelajari beberapa orang teroris yang menjalankan aksinya dengan mandiri tanpa terkait dengan kelompok teror yang ada, inilah kisah mereka:

Pelaku bom London Mohammad Sidiq Khan (30 tahun) dan Shehzad Tanweer (20 tahun) mereka adalah simpatisan berat perjuangan dari Al Qaeda, mereka adalah generasi ketiga orang pakistan yang hidup di Inggris, seperti imigran Pakistan lainnya mereka merasakan kehidupan yang keras sebagai golongan minoritas, banyak hak – hak mereka yang tidak terakomodir, kehidupan mereka semakin teralieniasi dan terpinggirkan, dan mereka sangat takjub dengan keberhasilan “Al Qaeda” melakukan serangan ke jantung Amerika dalam peristiwa 9/11 suatu simbol kemenangan “Islam” atas dunia barat, mereka lalu mempunyai “ide” untuk melakukan “hal yang sama” di Inggris, mereka ingin “menghukum” Inggris karena keterlibatannya dalam serangan ke Irak dan Afganistan yang bagi mereka adalah serangan terhadap “Islam”. mulailah mereka mencari jalan untuk melakukan aksinya, mereka bergabung dalam Forum di Internet bagi Islam Radical dan berhasil menemukan jalan, mereka melalui internet bisa berhubungan dengan kelompok radikal di Pakistan, lalu mereka berangkat ke Pakistan, diajari meracik bom, dan bagaimana melakukan aksi “bom bunuh diri”, mereka akhirnya bertemu dengan utama tokoh Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri. dan mendapatkatkan support penuh dan mereka dibuat video kesaksian sebelum melakukan bom bunuh diri, kemudian pulanglah mereka ke Inggris untuk merncanakan aksinya, mereka lalu mengajak 2 orang lagi Germaine Lindsay (19 tahun) dan Hasib Hussain (18 tahun), dan mereka berhasil dalam melakukan aksinya :
– Sidique Mohammad Khan (keturunan Pakistan), meledakkan bom pada jam 8:50 pada 7 juli 2005 (peristiwa 7/7) dalam kereta bawah tanah dalam perjalanan antara Edgware Road menuju Paddington. Ia tinggal di Beeston, Leeds bersama istri dan anak muda, di mana ia bekerja sebagai guru mengajar di sekolah dasar. Ledakan Nya menewaskan 7 orang, termasuk dirinya.
– Shehzad Tanweer (keturunan pakistan) meledakkan bom pada jam 8:50 pada 7 juli 2005, dalam perjalanan antara Liverpool Street dan Aldgate. Ia tinggal di Leeds dengan ibunya dan ayah bekerja di toko ikan, ledakannya menewaskan 8 orang, termasuk dirinya.
– Germaine Lindsay (kelahiran Jamaika) meledakkan bom perjalanan di antara King’s Cross St Pancras dan Russell Square , jam 8:50 pada 7 Juli 2005,  Ia tinggal di Aylesbury , Buckinghamshire dengan istrinya yang sedang hamil dan anak muda. Nya ledakan menewaskan 27 orang, termasuk dirinya.
– Hasib Hussain (keturunan Pakistan) meledakkan bom di bus tingkat di daerah Tavistock Square pada jam 09:47 pada 7 juli 2005, Ia tinggal di Leeds dengan saudaranya dan kakak iparnya, ledakan menewaskan 14 orang termasuk dirinya.

Demikianlah kisah “heroik” dari pelaku bom London yang mengguncangkan itu, bisa dibayangkan bahwa mereka hanya beberapa orang yang “simpati” terhadap perjuangan “Al Qaeda” , mereka berusaha mencari sendiri cara untuk melaksanakan aksinya, merancangnya, dan mengeksekusi (diri) nya sendiri.

Kesimpulannya yang perlu diwaspadai adalah paham dan ideologi “jihad” yang ditularkan melalui aksi – aksi fenomenal Al Qaeda ternyata memberi inspirasi dari para kaum muda untuk melakukan aksi yang sama, contoh yang paling dekat di Indonesia ada Pepi Fernando dan kawan – kawan, mereka segolongan pemuda yang ingin melakukan Jihad terinspirasi oleh perjuangan Al Qaeda diseluruh dunia, menurut saya kelompok – kelompok simpatisan ini masih akan banyak terbentuk selama pemerintah belum berhasil untuk menetralisasi pemahaman radikal dan mengisolasi pemahaman itu agar tidak berkembang. Upaya ini dapat dikemas dengan program pencerahan atau deradikalisasi dan kontraradikalisasi, bukan hanya “tembak ditempat” semata terhadap pelaku teror.

Menjadikan Seseorang Menjadi Teroris (Proses Radikalisasi)

Kita mendengar dalam berita heboh beberapa waktu yang lalu bagaimana beberapa orang hilang akibat di “cuci otak” , inilah cara kelompok NII merekrut anggotanya. Sebagai sebuah organisasi tentunya kelompok radikal ataupun kelompok teroris membutuhkan kader untuk melaksanakan berbagai kegiatan mereka, demi mencapai tujuan organisasi.

Radikal
Radikal

Kita melihat bagaimana seseorang yang berpendidikan diputar balikkan pengetahuannya sehingga mendukung suatu paham yang sangat berbeda dengan jalan pikiran seseorang, dan bahkan bisa digunakan sebagai alat – alat untuk melakukan teror. Hebatnya sang perekrut tahu sekali bagaimana tipe orang yang akan direkrutnya, apakah dia sebagai “pencari dana”, “perekrut” atau bahkan “sayap militer” dari kelompoknya. Mereka menggunakan ilmu phsychologie untuk melaksanakan perekrutannya, dan didahului dengan menanamkan ideologi yang “radikal” kepadanya, metode ini dinamakan Radikalisasi. Kelompok seperti ini giat melakukan Radikalisasi di masyarakat untuk mencari kader anggota atau mencari dukungan masyarakat

Saya melihat referensi yang ditulis oleh DR. Petrus Golose dalam bukunya Deradikalisasi Terorisme, Proses terjadinya Radikalisasi yaitu proses penyebaran dan penyerapan pemikiran–pemikiran kelompok radikal termasuk kelompok teroris. Proses radikalisasi ditandai dengan adanya penyebaran pemikiran radikal di masyarakat, sekaligus perekrutan anggota oleh kelompok radikal ataupun kelompok teroris.

Ada beberapa tahapan dari seorang individu dalam proses Radikalisasi :

a) Tahap Perekrutan
Pada tahap ini sebuh organisasi teroris melakukan perekrutan terhadap anggotanya, perekrutan ini berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh organisasi tersebut seperti : umur, agama, tingkat pendidikan, perekonomian, status sosial dan kehidupan sehari – hari dalam masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya yang terjadi di Indonesia target Radikalisasi yang terjadi di Indonesia mempunyai keragaman sebagai berikut:
1. Mayoritas laki – laki.
2. Usia berkisar antara 16 sampai 35 tahun.
3. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang Islam.
4. Tingkat ekonomi beragam ada yang dari tidak mampu maupun dari keluarga mampu.
5. Tingkat pendidikan rata – rata setingkat SMA atau MAN atau pondok pesantren dan hanya sedikit yang mempunyai
tingkat pendidikan tinggi.

b) Tahap pengindentifikasian diri.
Tahap ini merupakan tahapan terpenting dalam Radikalisasi, yang bertujuan untuk membuat target memiliki krisis identitas hingga berada didalam kondisi yang tidak stabil dan kehilangan identitas diri, caranya mereka dibuat selalu tidak puas akan kondisi ekonomi, sosial dan politik selain itu target dibuat agar tidak kritis.

c) Tahap Indoktrinasi.
Tahap ini target diberikan paham atau ideologi teroris secara intensif, tujuan utama dari tahap ini adalah membuat target menjadi percaya dan yakin sepenuhnya, bahwa ajaran yang ditanamkan kepada mereka merupakan kebenaran mutlak, dan tidak perlu diibantah atau dikritisi lagi.

d) Tahap pengertian Jihad yang disesatkan.
Dalam tahap ini target sudah termasuk kedalam kelompok kecil (sel) dari organisasi radikal atau teroris, akan menerima kewajiban secara pribadi untuk ikut serta dalam Jihad. Tahap ini terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu:
1. Komitmen untuk melakukan teror dengan cara Jihad
2. Pesiapan dan pelatihan fisik.
3. Pelatihan mental.
4. Merencanakan serangan teror.

Proses terjadinya Radikalisasi
Proses terjadinya Radikalisasi

Demikian sekilas proses Radikalisasi yang dilakukan kelompok teroris dan kelompok radikal lainnya, sekarang pertanyaannya mampukah anda mempunyai pertahanan diri yang baik sehingga tidak terjebak dalam ideologi radikal ?

Gerakan Radikal dalam Lintasan Sejarah Indonesia

Radikalisme dalam Islam telah mengakar lama di dalam masyarakat Indonesia, bahkan pada masa kemerdekaan. Pada masa itu kaum radikal kerap bersilangan pendapat dengan golongan lain untuk memperjuangkan kemerdekaan dan bahkan berbeda visi dengan kaum nasionalis.  Berikut ini sekilas mengenai gerakan Radikal di Indonesia yang berhasil saya himpun:

SM kartosuwirjo
SM kartosuwirjo

1. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat
– Pendiri Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo
– Tujuan menegakkan syariat islam secara formal dan mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).
– Pemicunya adalah ketika pemerintah Indonesia menyetujui perjanjian Renville. Konsekuensi yang timbul dari perjanjian Renville yaitu pemerintah RI dan pasukan Divisi Siliwangi harus meninggalkan wailayah Jawa Barat. Namun Kartosuwiryo bersama kelompok Hizbullah, Sabilillah dan Masyumi lebih memilih untuk bertahan di Jawa Barat. Mereka berupaya melakuan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Perjuangan ini yang menjadi cikal bakal lahirnya Tentara Islam Indonesia (TII)
– Ketika Perjanjian Renville berakhir pada bulan Januari 1948, pasukan Divisi Siliwangi kembali ke Jawa Barat. Namun keberadaan pasukan ini dikecam oleh Kartosuwiryo cs. Akibatnya timbul koflik antara pasukan Siliwangi dengan kubu Kartosuwiryo.

Kahar Muzakar
Kahar Muzakar

2. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Sulawesi Selatan
– Tokoh utama Abdul Kahar Muzakar
– Menerima tawaran Kartosuwiryo untuk menjabat Panglima Divisi IV TII wilayah Sulawesi yang kemudian diberi nama Divisi Hasanuddin
– Tercatat telah melakukan aksi penyerangan terhadap TNI, perusakan, penculikan terhadap dokter dan para pendeta Kristen.
– Pada 2 Februari 1965 , Kahar Muzakar tewas tertembak dalam Operasi Tumpas dan Operasi Kilat yang dilancarkan oleh TNI.

Daud beureuh
Daud beureuh

3. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Aceh
Daud Beureueh menjadi tokoh utama.
– Berhasil menguasai hampir sebagian besar wilayah Aceh, hanya kota-kota besar seperti Banda Aceh (Kutaraja), Sigli, Langsa di utara dan Meulaboh di daerah selatan yang tetap dalam penguasaan RI.
– Dilatarbelakangi oleh perasaan kecewa Daud Beureueh terhadap pemerintahan Soekarno. Kekecewaan itu bermula ketika Soekarno tidak menepati janjinya untuk menerapkan syariat islam di wilayah Aceh setelah perang kemerdekaan usai.
– Pemberontakan di Aceh dapat selesai setelah pada tanggal 26 Mei 1959 Aceh diberikan status Daerah Istimewa dan otonomi luas terutama dibidang agama, adat dan pendidikan.
– Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-Undang No.18 Tahun 1965. Kebijakan inilah yang membuat rakyat Aceh kembali kecewa.

Hasan Tiro
Hasan Tiro

4. Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
Teuku Muhammad Di Tiro atau Hasan Tiro bersama pengikutnya mendeklarasikan kemerdekaan GAM.
– Pembentukan GAM bertujuan untuk memisahkan diri dari RI dan membentuk pemerintahan sendiri dan memperbaiki seluruh aspek kehidupan baik sosial, politik dan ekonomi.
– Konfik yang tidak selesai menjadi alas n dibentuknya Daerah Operasi Militer (DOM). Berakhir Agustus 1998.
– Selama berlangsung proses perdamaian antara GAM dengan pemerintah RI, berbagai aksi serangan teror terus dilancarkan oleh GAM yang sasarannya tidak hanya meliputi wilayah Aceh dan sekitarnya tetapi juga sampai Jakarta.
– Perundingan keempat pada tanggal 26-31 Mei 2005 pada akhirnya membuahkan kesepakatan damai. Naskah perjanjian perdamaian di beri judul “Memorandum of Understanding between The Government of Indonesia and Free Aceh Movement”.

Abdullah Sungkar
Abdullah Sungkar

5. Al-Jama’ah Al-Islamiyah
– Kematian para tokoh DI/TII menimbulkan perpecahan di antara anggota yang disebabkan perselisihan antara jama’ah Fillah yang dipimpin Djaja Sujadi dan jama’ah Sabilillah yang dipimpin Adah Djaelani Tirtapradja. Keduanya sama-sama Anggota Komandan Tertinggi (AKT) TII yang lansung di lantik Kartosuwiryo.
– Akibat dari perselisihan dan perebutan kekuasaan tersebut akhirnya Djaja Sujadi dibunuh oleh Adah Djaelani Tirtapradja.
– Tertangkapnya Adah Djaelani Tirtapradja tahun 1980 memicu perpecahan di tubuh jama’ah Sabilillah dan DI/TII kembali terurai dalam kelompok-kelompok kecil yang saling bersaing dan tidak saling mengakui keberadaan kelompok lain.
– Salah satu kelompok yang cukup kuat dan berpengaruh di Jawa Tengah adalah Kelompok Abdullah Sungkar yang dikelola besama Abu Bakar Ba’asyir.
Abdullah Sungkar mendirikan pondok pesantren di Desa Ngruki Kabupaten Sukoharjo dan diberi nama Al-Mukmin. Berbagai kegiatan dan ajaran agama dijalankan untuk memperluas ajaran dan pengaruh NII.
– Karena muatan dakwah yang dibawakan keduanya bertentangan dengan pemerintah RI maka pada tahun 1983 keduanya ditangkap dan dipidana penjara atas perbuatan subversif dengan vonis sembilan tahun. Pada tanggal 11 Februari 1985 keduanya melarikan diri ke Malaysia saat perkara mereka masih dalam proses kasasi.
– Di Malaysia mereka mendirikan madrasah yang bernama Lukmanul Hakim yang dijadikan tempat melakukan persiapan dan memberangkatkan para pemuda dari Indonesia, Malaysia dan Singapura untuk melakukan latihan perang dan jihad di Afghanistan. Para pemuda tersebut dilatih di Military Academy Mujahidin Afghanistan di Sadaa, Pakistan.
– Pada tahun 1993, Abdullah Sungkar menyatakan diri keluar dari NII dan mendeklarasikan pendirian Al-Jama’ah Al Islamiyah (JI).

Lone Wolf

Lone Wolf
Lone Wolf

Lone Wolf (serigala tunggal) adalah istilah suatu kejahatan kekerasan (terorisme) dengan memberi dukungan terhadap suatu ideologi, gerakan dan kelompok tertentu,  namun pelakunya adalah pejuang tunggal yang sama sekali terlepas dari organisasi atau struktur kelompok tersebut, bisa dikatakan pejuang tunggal ini hanya merupakan simpatisan individual yang melakukan aksinya sendiri atas inisiatif sendiri tanpa komando kelompok tersebut.  Ternyata kejahatan model begini sudah banyak terjadi di dunia, bahkan di indonesia. Perbuatan lone wolf ini banyak menimbulkan kengerian dan korban jiwa yang sangat banyak. Saya mencari data tentang sejarah, latar belakang  dan pelaku kejahatan yang “lone wolfer” di seluruh dunia,  dan inilah hasilnya :

Kenapa disebut Lone Wolf ?
Istilah ini dipopulerkan oleh FBI yang pada tahun 90’an membuat suatu operasi “Lone Wolf” untuk menangkap Alex Curtis dan Tom Metzger pelopor “white supremacists” atau supermasi kulit putih, bagi Alex Curtis dan Tom Metgzer mereka melakukan kampanye kepada sesama kaum rasis di Amerika untuk tergerak melakukan tindakannya sendiri – sendiri tanpa komando untuk melakukan pembunuhan, penggunaan senjata biologis untuk menghancurkan ras lain, hal ini untuk mencegah penangkapan terhadap anggota lain yang mudah dilakukan kalau itu berupa kelompok (tentunya tercatat). Alex Curtis mempopulerkan 5 kata apabila seorang lone wolfers tertangkap yaitu : “I have nothing to say”. Tom Megzer juga mengembangkan perjuangan yang berdiri sendiri, tanpa pemimpin dengan sel individu yang tidak ada hubungannya dengan sebuah organisasi.

Pada kenyataannya memang perjuangan dengan “Lone Wolf” sulit sekali di deteksi, karena pelaku adalah tunggal dan tidak pernah punya kontak pribadi dengan kelompok yang lebih besar sehingga sulit melakukan kegiatan intelejen terhadap pelaku teroris tunggal dibanding kelompok teroris konvensional.

Para Lone Wolfer

timothy mcveigh
timothy mcveigh

1. Timothy McVeigh, pelaku pemboman Kota Oklahoma menggunakan bom truk,

akibat perbuatan "lone wolfer" timothy mcveigh

yang menewaskan 168 orang dan ratusan orang lainnya terluka. ia sering disebut sebagai contoh klasik dari “Lone Wolfer”. Meskipun ada tersangka lain bernama Terry Nichols dihukum karena bersekongkol dengan dia, ia bekerja sama karena dibawah tekanan. McVeigh mengancam Nichols akan membunuh dirinya atau keluarganya jika ia tidak bekerja sama dalam membantunya mencampur pupuk dan bahan lainnya untuk dibuat bom. McVeigh dinyatakan bersalah dan dihukum mati pada tanggal 19 April 1995.

Theodore Kaczynski
Theodore Kaczynski

2. Theodore Kaczynski , yang dikenal sebagai “Unabomber “. Ia antara tahun 1978 hingga 1995 terlibat dalam pengiriman “paket bom” ke banyak orang, menewaskan tiga orang dan melukai 23 lainnya. Ia adalah seorang anti kemapanan yang mengancam untuk melanjutkan pemboman kecuali manifesto anti-industrinya diterbitkan oleh New York Times disetujui oleh pemerintah AS. Ia membuat bomnya pada sebuah gubuk ditengah hutan yang tanpa dialiri listrik yang sesuai dengan “anti kemapanannya”, sebenarnya Kaczynski adalah seorang Jenius lulusan Universitas Havard, ia divonis seumur hidup oleh pengadilan AS.

Ahmad bin Abu Ali

3. Ahmad bin Abu Ali, seorang tunawisma pelaku bom sepeda yang nyaris menewaskan 2 anggota polantas di pos Kalimalang Jakarta.

Sepeda yang digunakan Ahmad Bin Abu Ali
Sepeda yang digunakan Ahmad Bin Abu Ali

Ahmad bersimpati terhadap perjuangan islam di seluruh dunia dari media yang dilihat dan dibacanya, ia membuat bom sederhana dari bahan dasar petasan dan paku yang ditaruh di sepedanya, ia berniat membawa bom dan ditaruh pada sepedanya dan akan meledakkannya dekat anggota polisi yang bertugas. Namun sayangnya ledakan itu kurang tepat sehingga mengenai dirinya sendiri, ledakan itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB pada tanggal 30 Sept 2009 dan terjadi di belakang AKP Heri yang sedang mengatur lalu lintas.

Surat Jihad Ahmad
Surat Jihad Ahmad

Dia menerita luka parah dan patah tulang dan meninggal beberapa jam kemudian, dari hasil penyelidikan polisi ia tidak terkait dengan kelompok teroris manapun, ia adalah seorang “lone Wolfer” ….. 🙂

Setelah menyimaki para pelaku terorisme yang “Lone wolf” diatas tentunya ada satu pemikiran, betapa berbahaya nya mereka… mereka adalah seorang pribadi yang tidak bisa dilacak, tenggelam dalam obsesi pribadinya dan penuh dendam…. bagaimana cara mengatasinya ? mmmmhhh banyak – banyak berdoa saja,  semoga tidak banyak orang seperti model begini….

Saya Radikal ?

Radicalism
Radicalism

Kita mungkin tercengang apabila mendengar seseorang yang sedemikian yakinnya terhadap paham atau ideologinya sehingga rela mengorbankan nyawanya sekalipun untuk membela keyakinannya itu seperti menyediakan tubuhnya sebagai ‘bom’ yang berjalan, dan meledakkan tubuhnya di target tertentu. Bagaimana menumbuhkan pemahaman yang radikal sehingga menganggap ‘nyawa’ sendiri kurang begitu berarti dibanding kehormatan yang didapat apabila menyerahkan nyawanya bagi paham/ideologi yang diyakininya masih menjadi pertanyaan yang besar. Banyak para pakar meyakini penyebaran paham radikal lebih mudah bagi golongan anak muda, kedewasaan berpikir mereka masih belum sempurna dan masih gampang dipengaruhi, apalagi dengan suatu pemahaman yang ‘lain’ dan menarik bagi mereka. Terdapat berbagai wacana mengenai faktor penyebab mengapa paham radikal dapat tumbuh dan berkembang dikalangan generasi muda seperti :

a) Pendidikan yang rendah dan metode pangajaran yang Dogmatis
Pendidikan yang rendah dianggap sebagai penyebab mengapa generasi muda tertarik untuk terlibat dalam kegiatan radikal. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang memadai untuk mencari alternatif penyelesaian selain bertindak radikal atau menganalisis dampak negatif yang diakibatkan dari tindakan radikal tersebut. Hal ini tidak menutup kenyataan adanya anggota teroris yang berpendidikan tinggi atau bahkan bergelar doktor, sebagai aktor intelektual dibalik penyebaran ajaran radikal dan serangan terorisme.
Proses pengajaran dalam pendidikan formal dan informal yang dogmatis dan satu arah membuka kesempatan bagi paham radikal untuk dapat masuk ke dalam benak anak didik. Dengan metode pengajaran satu arah anak didik dapat dengan mudah disuapi ajaran radikal terlebih bila pendekatan tersebut dilakukan secara intensif dan eksklusif, melalui agen perubahan sosial yang sangat dipercaya baik oleh anak didik, orang tua ataupun institusi pendidikan.

b) Krisis Identitas dan Pencarian Motivasi Hidup
Generasi muda secara psikologi masih berupaya mencari jati diri dan motifasi hidup. Dalam pencarian tersebut generasi muda sangat rentan dengan tekanan kelompok (peer pressure) dan memiliki kebutuhan akan panutan (role model). Tekanan kelompok dilakukan dengan adanya perekrutan dan seleksi oleh organisasi radikal berkedok kelompok keagamaan dan forum studi yang terbatas. Setelah kandidat masuk di dalam lingkar kelompok akan dilakukan komunikasi yang lebih intensif untuk mempengaruhi prilaku anggota baru melalui dialog, ceramah kelompok kecil bahkan ritual sumpah setia. Pengaruh kelompok ini begitu besar sehingga anggota baru terus – menerus dituntut mengikuti arus perubahan dan penanaman nilai-nilai kelompok radikal.
Generasi muda juga perlu panutan, kebutuhan akan panutan diberikan oleh sahabat atau kerabat yang lebih dahulu terlibat oleh kelompok radikal. Panutan dini tidak saja kepada orang yang masih hidup dan mereka kenal tapi juga tokoh-tokoh Islam seperti Nabi Muhammad S.A.W., para sahabat dan pejuang-pejuang Islam lainnya. Dalam masa kejayaan Islam. Cerita kepahlawanan tersebut tentunya telah di interprestasikan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan organisasi radikal.

c) Keadaan Ekonomi yang Kurang Memadai
Keadaan ekonomi yang kurang memadai serta sikap apatis terhadap kehidupan di masa depan dapat dianggap sebagai salah satu faktor penyebab mengapa generasi muda tertarik dengan kegiatan radikal. Generasi muda tidak mempunyai kebanggaan secara materi dan tidak memiliki pandangan positif mengenai masa depan yang dihadapi didunia. Dengan keadaan seperti itu, penghancuran terhadap diri sendiri dan orang lain dapat dianggap sebagai hal yang wajar. Materi dan kenikmatan dunia yang tidak dapat diperoleh saat ini akan digantikan dengan kenikmatan akhirat sebagai imbalan dari perjuangan dan pengorbanannya setelah mati syahid.

d) Keterasingan Secara Sosial dan Budaya
Salah satu mengapa alasan genarasi muda tertarik bergabung pada organisasi radikal adalah adanya rasa keterasingan dan adanya jarak diantara masyarakat umum dengan anggota organisasi radikal tersebut. Dengan adanya rasa keterasingan dan jarak itu, teroris tidak merasa menjadi bagian dari masyarakat, tidak merasa memiliki dan terikat oleh masyarakat tersebut.

e) Keterbatasan Akses Politik
Alasan suatu organisasi melakukan aksi radikal adalah karena aspirasi politiknya tidak dapat disalurkan melalui jalur politik formal berdasarkan kaedah hukum yang berlaku sehingga diperlukan terobosan kontroversial untuk dapat menyampaikan pesan organisasi tersebut ke masyarakat luas. Adanya rasa ketakutan yang mendalam, diharapkan oleh organisasi radikal akan membuat pesan yang ingin disampaikan tertanam dan melekat di benak target khalayak.

f) Solidaritas antara Sesama Umat yang Tinggi
Sesama umat, satu agama terjalin suatu tali persaudaraan yang kuat yang melintasi perbedaan suku, negara dan geografis. Rasa solidaritas yang tinggi tersebut menciptakan suatu tali batin dan empati. Apabila satu disakiti maka yang lain akan merasa disakiti pula. Apabila ada sekelompok umat yang ditindas oleh pemerintah atau agama lain maka, umat Islam dimana pun berada merasa terpanggil melakukan perlawanan untuk membantu umat Islam yang tertindas.

g) Dualisme Aspirasi Masyarakat
Tanggapan masyarakat tampak mendua dalam aksi radikal dan teror yang dilakukan di Indonesia. Sebagian ada yang menyesali, meratapi dan mengutuk adanya serangan teroris. Tetapi sebagian lagi berlaku anomali, mendukung aksi radikal dan teror tersebut. Mereka bahkan secara terang-terangan menyebutkan bahwa terpidana teroris sebagai pahlawan dan bagi teroris yang terpidana mati telah mereka sediakan tempat pemakaman khusus.

Tentunya semua faktor penyebab berkembangnya radikalisme dan terorisme tersebut tidak berdiri sendiri, tapi menjadi suatu kondisi yang kait-mengkait, sehingga memerlukan penanganan secara simultan. Demikianlah pembahasan tentang tumbuh dan berkembangnya radikalisme di kalangan anak muda, semoga menjadi pemahaman bagi kita semua.

Sumber tulisan:  Deradikalisasi oleh Petrus Reinhard Golose

Perjuangan Atau Terorisme ?

Saya pernah berbicara dengan seorang Akademisi, ia mengatakan bahwa tahanan pelaku terorisme tidak boleh disamakan dengan pelaku kriminal biasa, mereka adalah tahanan politik ….. Kata – kata teroris adalah suatu pembusukan daripada nilai perjuangan mereka…. mereka berjuang bukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, mereka berjuang untuk suatu tujuan politik … Setelah saya renungi, sepertinya memang benar juga, memang pelaku – pelaku teroris dimanapun juga di dunia mereka berjuang untuk sebuah tujuan Politik seperti:

Macan Tamil di Srilangka
Macan Tamil di Srilangka

Macan Tamil ( Tiger Eelam) di Srilangka, mereka termasuk daftar organisasi teroris dari PBB dan terdaftar sebagai organisasi teroris di 32 negara,  bermaksud memisahkan diri dengan saudara – saudara mereka setanah air yang mayoritas dari etnis Sinhala dan beragama Budha, sedangkan mereka minoritas Hindu dari etnis Tamil… pada intinya mereka memperjuangkan hak politik mereka (melalui organisasi ini) untuk bisa berdiri sama tinggi dengan rekan sebangsanya dari etnis Sinhala,  Macan Tamil sudah melakukan perjuangan bersenjata dan melakukan aksi – aksi teror untuk melemahkan moral pemerintah pusat,  cara – cara teror adalah cara yang dipandang efektif untuk melemahkan moral lawan, namun ….. dengan cara itulah mereka di cap sebagai kelompok teroris, padahal jelas perjuangan mereka adalah perjuangan politis …. dan untuk mencapai tujuan mereka punya hak juga untuk menempuh cara yang mereka anggap benar, taktik yang banyak mereka gunakan: 1. Bom bunuh diri menggunakan anggota organisasi ini yang telah di doktrin terdiri dari anak anak dan wanita 2. Pembunuhan tokoh (Perdana menteri India Rajiv Gandhi dan Presiden Srilangka Ranasinghe Premadasa) 3. Penyerangan terhadap target sipil (pemboman stasion kereta, dan pembunuhan massal). Macan Tamil mengalami kekalahan besar tahun lalu setelah pemimpin Kharismatik mereka Velupillai Prabhakaran terbunuh dalam suatu serangan pemerintah Srilangka di Jaffna.

Hamas di Palestina
Hamas di Palestina

Hamas (Ḥarakat al-Muqāwamat al-Islāmiyyah) Organisasi ini adalah organisasi yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh PBB dan banyak negara lainnya, cita cita organisasi ini adalah mendirikan negara Palestina di seluruh tanah palestina , tanpa negara Israel lagi ada didalamnya. Persis seperti pada sebelum tahun 1967 pada saat negara Israel belum ada di peta manapun di dunia. Menurut saya pribadi tujuan organisasi politik ini adalah benar, karena pada hatekatnya organisasi politik manapun mempunyai tujuan atau cita – cita tertentu, dan mereka berhak menempuh cara apapun untuk mencapai tujuan tersebut.  Cara – cara perjuangan mereka yang disebut Intifada menggunakan taktik gerilya, penggunaan bom bunuh diri dan menggunakan roket untuk melawan Israel, tetap dipandang sebagai aksi teroris. Namun sampai sekarang tujuan kelompok ini belum mendapat kemajuan karena negara Israel masih berdiri dengan kokoh, dan lucunya mereka masih mendapat rifal utama dari bangsa sendiri yaitu kelompok Fattah (PLO) yang bersifat lebih moderat dan tetap mengakui negara Israel.

From Zero to Hero (perjuangan yang berhasil dan tidak disebut teroris lagi), ini adalah contoh suatu kelompok yang bertujuan politis yang pernah dicap sebagai kelompok teroris, namun seiring dengan berhasilnya perjuangan mereka cap itu sirna dengan sendirinya, seperti contohnya :

Maoist di Nepal
Maoist di Nepal

Maoist di Nepal (The Unified Communist Party of Nepal), kelompok ini dalam perjuangannya pernah tercatat sebagai kelompok teroris oleh PBB, beberapa tokoh utamanya pernah sebagai buronan “Red Notice” oleh interpol, tujuan utama kelompok politik ini adalah mengubah bentuk negara yang bersistem Kerajaan menjadi sistem Komunis, dan perjuangan mereka telah berhasil, sehingga mau tidak mau julukan sebagai “teroris” ditinggalkan, dan aparat keamanan yang dulunya mengejar mereka terpaksa mengakui eksistensi dan berada dibawah kepemimpinan kelompok yang dulu mereka lawan. Pada masa perjuangan mereka antara tahun 1994 – 2002 banyak sekali aksi teror yang dilakukan oleh kelompok Maoist terhadap pemerintah seperti aksi pemboman, penculikan dan pembunuhan, jadi aksi teror adalah salah satu cara perjuangan bukan ?

Sedikit kesimpulan saya mengenai hal diatas :

1. Sebenarnya kelompok teroris yang ada sekarang ini, dari paham politik manapun, semuanya untuk memperjuangkan suatu tujuan politik tertentu, tidak ada kelompok teroris yang bertujuan pribadi dan keuntungan semata, nah kalau kelompok ini bisa disebut kelompok Gangster atau Mafia.

2. Jadi kalau mau jujur kelompok teroris di Indonesia seperti JI, NII atau yang terbaru JAT adalah suatu kelompok yang memperjuangkan suatu tujuan Politik yaitu menjadikan Indonesia sebagai suatu Negara yang berdasarkan Syariat Islam. Dan kalau mau jujur pula UU Anti Terorisme adalah suatu Kriminalisasi dari upaya perjuangan politik yang dilakukan kelompok ini. tapi bagi pemerintah UU ini perlu diadakan untuk mencegah berkembangnya lebih besar kelompok ini, kalau kelompok ini terlanjur besar dan powerful pemerintah akan sangat kesulitan menghadapinya, bisa – bisa kejadian seperti kelompok Maoist di Nepal.

3. Aksi aksi Teror adalah suatu bagian dari perjuangan, jadi mohon maaf selama paham atau ideologi atau cita – cita suatu kelompok ini, melalui perorangan yang ikut didalamnya tidak di Re-edukasi atau bagi anggota kelompok radikal tidak dilakukan De-radikalisasi untuk menghilangkan paham itu, maka selama itu aksi perjuangan mereka (salah satunya) melalui aksi teror tetap akan ada, dan tidak pernah akan hilang.

4. Yang paling tidak diharapkan adalah jika kelompok politik ini menjadi “The Winner”, dari mereka yang tercap sebagai “teroris” akan menjadi Pahlawan (from Zero to Hero)….. sudah terbukti bukan ? Maka itu waspadalah, jangan biarkan kelompok ini menjadi besar dan menjadi pemenang … hehehe … 😛