Category Archives: Darfur

FPU Indonesia VII

Setelah melaksanakan tugas di Malaysia selama 2 tahun, saya kembali ke Jakarta dan mendapat penugasan baru di Biro Misi Internasional yang memang tugasnya tidak asing bagi saya, yaitu melakukan segala hal yang berhubungan dengan penempatan Personil Polri di Misi Internasioanl PBB dari penyiapan Personil hingga Materialnya, dan kebetulan sekarang Get in Touch lagi dengan pasukan Formed Police Unit (FPU), tidak terasa setelah berkesempatan sebagai Pioneer FPU pada tahun 2007, sekarang sudah ter deploy FPU Indonesia yang ke VII di El Fasher Darfur Sudan pada bulan November 2014. Tentunya setiap tahun diadakan penyempurnaan dari segi peralatan dan metoda perekrutan dan pelatihan. Nampak sekali dari Gears yang mereka gunakan semakin sesuai dengan kondisi lapangan. Sekilas cerita bagaimana saya sebagai team awal yang survey ke bakal tempat penugasan, sungguh susah membayangkan gears apa yang cocok untuk digunakan untuk bertugas di daerah dengan alam yang sama sekali berbeda dengan Indonesia, salah satu contoh sederhana adalah kacamata hitam, ternyata bertugas di daerah Gurun Pasir yang panas ini jangan sekali kali menggunakan kacamata dengan gagang metal, akan terasa terbakar di wajah, karena gagang metal itu sebagai penghantar panas yang sempurna, jadi sebaiknya menggunakan kacamata bergagang plastik yang bukan penghantar panas. Well, pengalaman membuat perfect kan ?

Komandan FPU VII, AKBP Rendra Salipu

Komandan FPU Indonesia ke VII kali  ini dipercayakan kepada AKBP Rendra Salipu, lulusan AKPOL angkatan 96 yang telah lulus dengan sistem penilaian yang sangat ketat, berikut dengan 100 orang pasukan utama yang bertugas dalam berbagai pengamanan dalam missi UNAMID dan 40 orang pasukan pendukung yang memfasilitasi segala kegiatan di Camp Garuda dari Memasak, memelihara Alkom, Water Treatment, dan Genset, juga petugas Kesehatan, Logistik dan Administrasi.

Tugas pasukan Utama dan Pendukung adalah seperti dua sisi mata uang, mereka harus saling mendukung untuk pelaksanaan tugas dalam misi perdamaian UNAMID.  Seperti beberapa kali saya tuliskan tentang FPU, penugasan mereka tidak pernah berubah sesuai mandat yang diberikan, yaitu melaksanakan pengamanan terhadap personil dan barang milik PBB.  Dalam kesehariannya mereka melakukan pengawalan terhadap Individual Police Officer (IPO) yang melakukan patroli ke Camp pengungsian Internal, dimana terdapat ribuan hingga ratusan ribu pengungsi akibat konflik yang tidak kunjung mereda dari awal tahun 2000 an ini.

Berikut ini sekilas penugasan mereka, baik dari Pasukan Utama dan Pasukan Pendukung:

Suasana IDP Camp Um Barro

Suasana IDP Camp Um Barro

Pasukan Utama pada minggu ini satu peleton mendapat kesempatan untuk bertugas di Luar kota Elfasher, yaitu di Team Site Um Barro yang memakan waktu 1 jam dan 30 Menit menggunakan Helikopter. Permasalahan yang terjadi adalah Camp Pengungsian Internal yang terdapat di Um Barro walaupun mendapat perlindungan dari Batalion Army dari negara Senegal, penduduk lokal terpaksa mengungsi karena mendapat serangan dari Gerombolan Janjaweed di daerah Abuleha dan Orchi, sehingga sekitar 6000 orang kini menempati IDP (Internal Displaced Person) Camp Um Barro. Tugas dari 1 peleton FPU tersebut adalah membantu Senegal Batalion untuk mengamankan penyaluran bantuan Kemanusiaan dari PBB. Kondisi Pengungsi sangat memprihatinkan karena tempat yang terbatas, sehingga hanya perempuan dan anak – anak yang dapat tinggal di IDP Camp sedangkan Laki laki tinggal di sekelilingnya, mereka bahkan tinggal tanpa pelindung hanya bersandar di balik pohon untuk mengindari panas. Saya mendapatkan liputan langsung eksklusif dari pasukan FPU yang berada di Um Barro, dan inilah dokumentasinya:

IMG-20150212-WA0013[1]

Deploy FPU Indonesia dari El Fasher hingga Um Barro menggunakan Helicopter PBB

Mendafat Briefing tentang penugasan bersama dari Batalion Senegal

Mendapat Briefing tentang penugasan bersama dari Batalion Senegal

Suasana pengamanan di IDP Camp walaupun kena Badai Pasir

Suasana pengamanan di IDP Camp walaupun kena Badai Pasir

Danton FPU memberikan pengarahan sebelum berangkat ke IDP Camp UM Barro

Danton FPU memberikan pengarahan sebelum berangkat ke IDP Camp UM Barro

Dan tidak kalah Pentingnya adalah peran pasukan pendukung FPU, mereka adalah yang bertugas untuk memastikan semua pekerjaan di Missi berjalan lancar, dan inilah dokumentasinya:

Petugas MTO (Motor Transport Officer) Memastikan setiap kendaraan FPU layak Pakai

Petugas MTO (Motor Transport Officer) Memastikan setiap kendaraan FPU layak Pakai

Petugas Kesehatan sedang melakukan Fogging di Camp Garuda

Petugas Kesehatan sedang melakukan Fogging di Camp Garuda

Demikian sekilas mengenai penugasan FPU VII, terlihat jelas keprofesionalan mereka sebagai Duta Indonesia di Misi Internasional yamg membawa nama harum Indonesia. Untuk menjamin Sustainability pasukan FPU Indonesia, pada saat inipun di kantor sedang mempersiapkan FPU VIII yang akan berangkat akhir tahun ini, sehingga ada kesinambungan dan selama Misi UNAMID belum dibubarkan. Semoga sukses dan tetap selamat rekan rekan FPU VII, God Bless You all…

5 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, FPU, IDP, UNAMID

Persenjataan FPU Indonesia: SS2-V5

persiapan patroli

Formed Police Unit (FPU) Indonesia di Darfur Sudan sudah pada kontingen yang ke 5, sudah banyak yang dilakukan dalam upaya mencapai perdamaian di missi gabungan antara PBB dan Uni Afrika yang disebut United Nations African Union Mission in Darfur (UNAMID), ada yang istimewa dalam kontingen ke 5 ini dengan diperkenalkannya senjata personal yang baru yaitu SS2-V5 buatan Pindad. Sekarang kita mendapat persenjataan produksi anak bangsa yang ternyata tidak kalah dengan buatan impor lainnya, atau setidaknya persenjataan FPU yang terdahulu yaitu STYER.Proses pergantian ini berjalan seiring dengan rotasi pasukan FPU 5 yang membawa senjata baru dan FPU 4 pulang membawa senjata yang lama, hal ini tidak menjadi masalah karena yang membawa pasukan ini satu pesawat carter.

Pindad_SS2

Secara umum gambaran Senjata Serbu (SS) seri SS2-V5 ini adalah:

Water point IDP Abu SoukSS2-V5 dibuat pertama kali 2006 silam yang dikembangkan oleh pabrik senjata kebanggaan Indonesia PT Pindad mulai dari tipe SS2-V1, SS2-V2 dan SS2-V4, yang membedakan SS2-V5 dengan produk sebelumnya adalah panjang larasnya, dan SS2-V5 ini paling pendek diantara tipe lainnya, sebagai gambaran SS2-V5 paling pendek larasnya sedangkan yang paling panjang SS2-V4.
SS2-V5 didisain oleh PT Pindad untuk memenuhi kebutuhan senjata perang kota. Ukurannya lebih pendek, lebih ringan, nyaman dipakai, tahan terhadap kelembaban tinggi dan lebih akurat setelah mengoreksi sustain rate of fire.
SS2-V5 memiliki panjang laras 252mm. Bandingkan dengan SS2 V1 = 460mm, SS2 V2 = 403mm dan SS2 V4- 460mm. Dengan laras yang lebih pendek tersebut, membuat SS2 V5 juga memiliki panjang senapan paling pendek diantara seluruh varian SS2 yang rata rata memiliki panjang 920- 990mm. Sementara SS2 V5 hanya 770mm.
SS2-V5 memiliki popor senjata extended dan bisa dilipat, penambahan picatinny rail yang memudahkan telescope keluar-masuk, telescope lebih akurat dan front handle yang memudahkan pengoperasian senjata.
SS2-V5 memiliki tiga model fire mode: otomatis, single shot dan machine. Pindad mengaku telah mengujinya diberbagai medan sesuai standar TNI baik air sungai, rawa dan laut dan kekuatan karet.
SS2-V5 buatan 2012 mempunyai berat 3,39 kilogram ini sudah digunakan pasukan Korps Pasukan Khusus (Kopassus) serta diekspor ke sejumlah negara Afrika dan sekarang digunakan oleh pasukan perdamaaian kebanggaan Polri FPU-5.

SS2-V5 PindadSekarang kita dengar comment dari Komandan Kontingen FPU 5, AKBP Reza Arief tentang senjata ini:
1. Dengan laras yang tidak terlalu panjang sehingga nyaman dibawa pada saat jalan kaki dan pada saat membawa kendaraan.
2. Akurasi tinggi pada saat penembakan, serupa dan senyaman pada saat menembakkan M16, akan lebih spesial lagi dengan menggunakan peluru 5TJ daripada menggunakan 4TJ buatan Pindah karena grain nya lebih besar.
3. Recoil nya (hentakan kebelakang akibat penembakan) sangat kecil dan halus dibandingkan pendahulunya SS1 varian pendahulunya bahkan lebih mulus dari M16 yang terkenal paling “halus”,  padahal secara teori semakin pendek laras akan semakin besar Recoilnya , terbukti dari beberapa senjata M16 yang dipendekkan  hasil recoilnya semakin besar.
4. Kekurangan yang dirasakan adalah di mekanik Trigger yang masih kurang stabil, kadang ringan tiba – tiba bisa agak keras mungkin ini disebabkan oleh material Spring yang kurang bagus. Walaupun demikian ketidak stabilan Trigger tidak terlalu mempengaruhi keakuratan bila digunakan untuk Combat Shooting maupun Tactical shooting mungkin sangat terasa apabila digunakan pada saat kompetisi.
5. Senjata ini mungkin dirancang menggunakan popor tetap bahkan sudah menggunakan adjustable butt produk magpul, tapi sayangnya masih menggunakan popor lipat yang dikunci untuk mencegah terlipat, permasalahannya penguncinya tidak permananen sehingga masih sering goyang, disarankan untuk dibuat paten sehingga lebih nyaman.
6. Kekurangan lainnya adalah Handcarry handle yang juga merupakan tempat dan pelindung pisir (rear sight) materialnya kurang kuat sehingga ada beberapa senjata yang bengkok karena jatuh tidak disengaja.
7. Kelebihan dari senjata ini adalah sudah mengadopsi rail System, Ato Piccatinny sehingga tidak perlu modifikasi tambahan jika hendak memasang accessories lainnya seperti Alat optik, Senter, Laser Pointer maupun Rail Cover, semuanya kompatibel dengan yang ada di pasaran produk apa saja asalkan mempunyai Rail System.

moon shop

Tugas FPU 5 akan berakhir hingga bulan Oktober 2013, kita doakan bersama agar dalam bertugas di UNAMID Darfur Sudan tidak menemui kendala yang berarti, dan pasukan sebanyak 140 orang ini bisa kembali dengan selamat.

12 Komentar

Filed under Darfur, FPU, PBB, police, Polisi, UNAMID

In Memoriam Boas Wosiri

Bebarapa waktu yang lalu Polri kehilangan seorang pahlawannya Brigadir Boas Wosiri dalam peristiwa penyerangan teroris di Aceh Besar. Banyak kenangan yang saya dapat dengan Boas, Ia adalah seorang anak buah saya dalam tugas PBB sebagai FPU (Formed Police Unit) di Darfur Sudan tahun 2008-2009 kemarin…. ditempat yang jauh dari keluarga, cuaca yang ekstrim dan menghadapi bahaya kelompok pemberontak bersenjata di Darfur tentunya menimbulkan kedekatan tersendiri… kita saling menjaga, mengingatkan dan menghibur… agar kita tidak terlalu merasa “Home Sick”, dan sosok Boas ini adalah sosok yang sangat menyenangkan……. Namun dibalik itu Ia adalah seorang Prajurit Polri yang Profesional…

Boas (yang ditandai)

Boas (yang ditandai)

Pengalaman Boas dalam banyak penugasan tempur di daerah Konflik serta beberapa pelatihan anti teror didalam maupun diluar negeri membuat ia banyak diserahi tugas mengajari teknik dan taktis dilapangan oleh para komandannya… dan dalam kondisi apapun Boas tidak pernah mengeluh untuk diserahi tanggung jawab apapun….

Prosesi pemakaman Boas

Prosesi pemakaman Boas

Boas sendiri kelahiran Bumi Papua, yang merantau ke Pulau Jawa menjadi polisi dengan kemampuannya sendiri… setelah Polisi ditempatkan di Brimob kemudian disekolahkan Akademi Perawat … namun karena Intelegensia dan kemampuan fisiknya yang Prima ia lebih banyak bertugas di Pasukan Khusus Polri Detasemen Gegana … dan lebih khusus lagi menjadi team CRT Densus 88 Mabes Polri, banyak melakukan penugasan berbahaya di daerah daerah konflik dan banyak tugas penangkapan teroris…

In memoriam Boas Wosiri

In memoriam Boas Wosiri

Meninggalkan istri yang berasal dari Suku Batak, 1 orang anak laki – laki dan anak yang masih dalam kandungan Istrinya…. Boas yang saya kenal adalah seorang yang rendah hati, hangat, selalu bersedia menolong, loyal kepada teman atasan dan bawahan….. humoris … dan saya berani bertaruh tidak ada yang tidak mengenal Boas di lingkungannya karena kesupelannya dalam bergaul…..

Selamat Jalan Boas, Pahlawanku… Beristirahatlah dengan tenang… Jasamu tidak akan kulupakan…..

7 Komentar

Filed under Darfur, FPU, PBB

Catatan Perjalanan Seorang Peacekeeper Dari Tengah Gurun Pasir Darfur.

“A life without adventure is likely to be unsatisfying, but a life in which adventure is allowed to take whatever form it will is sure to be short.”

Bertrand Russell quotes (English Logician and Philosopher 1872-1970)

Pada suatu sore pada saat hendak main bulutangkis, saya ditelepon oleh sesorang dari Mabes Polri, saya diberitahu bahwa saya ditunjuk langsung sebagai Wakil Komandan Kontingen Misi Perdamaian Polri di Darfur, seketika adrenalin saya meningkat, membayangkan Darfur suatu daerah yang setahu saya adalah daerah konflik yang paling berbahaya di dunia, banyak televisi berita dunia yang menceritakan tentang Konflik Darfur, ….Yes… this is my biggest Adventure ever !

Inilah negara Sudan dengan ibukota Khartom, dan perjalanan kami dari Port Sudan hingga Al Fashir Darfur region

Missi Perdamaian ini dinamakan United Nations African Nation Mission In Darfur (UNAMID) adalah suatu missi kerjasama antara Uni Afrika dan PBB dalam membawa kedamaian di Darfur Sudan. Permasalahannya adalah pemberontakan penduduk Darfur terhadap pemerintah pusat Sudan, masalahnya sangat klasik yaitu tidak meratanya pembagian pusat dan daerah, terutama semenjak ditemukan ladang minyak baru disini. Konflik yang telah berjalan 5 tahun ini mengakibatkan korban 350 ribu jiwa dan 2,5 juta orang tinggal di Internal Displaced Personal Camp (kamp pengungsi lokal).

Barang dari Indonesia pertama kali diturunkan di Port Of Sudan

Ada banyak hal baru yang saya dapatkan dalam missi saya ini, yang jelas sangat jauh berbeda dengan missi saya sebelumnya di Bosnia Hercegovina 97-98. Missi ini adalah pertama kalinya Polri mengirimkan kontingen dalam ikatan pasukan yang disebut Formed Police Unit (FPU) yaitu unit lengkap mandiri dan bersenjata terdiri dari 140 orang. Dengan daerah missi di gurun pasir juga merupakan tantangan tersendiri, karena tidak pernah ada seorangpun dari kami yang berpengalaman mengalami kondisi alam ini.

Fpu Indonesia pada saat istirahat Patroli di IDP camp

Saya ditunjuk sebagai “Team Advance” dengan dua orang rekan lainnya berangkat pada tanggal 5 Mei 2008 untuk mengurus dan mengawasi pengiriman ribuan item peralatan, camp portable, bahan makanan serta puluhan kendaraan milik FPU Indonesia (140 kontainer 20′ dan 53 buah kendaraan) yang dikirim dari Tanjung Priok Indonesia dan berlabuh di kota pelabuhan satu – satunya di Sudan, Port Of Sudan. Setelah sampai di Pelabuhan Port Of Sudan ternyata bukan akhir dari perjalanan kami, pengurusan Custom yang terkendala Birokrasi serta jarak tempuh yang sangat jauh hingga sampai di tempat penugasan kami Al Fasher Darfur, kalau diukur dari skala peta berjarak 2700 Km hampir dua setengah panjang pulau jawa, dengan jalan yang buruk melewati padang pasir yang luas. Pengiriman barang tersebut melewati pusat logistic UN di Sudan di kota Al Obeid, kalau diperhitungkan lama perjalanan dari Port Sudan hingga sampai di Al Fasher memakan waktu 5 bulan.

Foto bersama para perwira FPU Indonesia

Pada Bulan ke lima setelah barang sebagian besar tiba di Al Fashir, pasukan utama FPU tiba di El Fasher pada tanggal 12 Oktober 2008, menggunakan pesawat carter dari Halim Perdana Kusuma, hari – hari pertama setelah kedatangan pasukan FPU Indonesia pada tanggal adalah melakukan orientasi lapangan ke IDP Camp yang masuk dalam Area Of Responsibilitynya, yaitu IDP camp “El Salam”, “Abu Shouk” dan “Zam–Zam” rata – rata IDP Camp ini dihuni sekitar 100 ribu pengungsi, di dalam IDP camp tokoh masyarakat informal disebut “Sheik” (setingkat dengan desa/lingkungan) dan diatasnya adalah “Omda” yang biasanya membawahi beberapa Sheik.

Melakukan community Policing bertemu dengan Sheik di IDP camp

Kendala awal bagi pasukan dan seperti pernah saya alami sendiri adalah penyesuaian fisik untuk menghadapi iklim gurun yang ganas: bibir pecah, dehidrasi, mengeluarkan darah dari hidung adalah hal yang rata – rata dialami, namun kendala itu cepat dapat diatasi. Pada waktu kedatangan sementara kontingen FPU Indonesia ditempatkan pada “transit camp” karena camp Indonesia masih dalam tahap pembangunan, yang memakan waktu selama 2 bulan, bagi anggota FPU kebutuhan hidup sehari- hari seperti bahan makanan di drop secara regular dan dimasak oleh anggota “Support Unit”, air untuk MCK dan minum juga di drop tiap hari.

Peragaan FPU Indonesia pada upacara medal parade di Basecamp FPU Indonesia.

FPU Indonesia melaksanakan tugasnya secara “full performance” setelah melewati jangka waktu 2 minggu waktu penyesuaian dan orientasi, tugasnya adalah melakukan patroli di 3 (tiga) IDP Camp yang merupakan wilayah tanggung jawabnya, terbagi dalam shift siang dan malam, setiap patroli terdiri dari 1 peleton menggunakan 2 buah “Armored Personnel Carrier” (APC) dan mobil patroli. Patroli ini merupakan joint patrol bersama UN CIVPOL dengan melaksanakan “Community Policing”, “Pemolisian Masyarakat” , kami membantu masyarakat Darfur di dalam IDP camp agar bisa mempunyai daya tangkal terhadap gangguan kamtibmas di lingkungan sekitarnya. Tepat setahun masa tugas FPU kami disembarkasi dan digantikan oleh FPU Indonesia 2 sebagai FPU pengganti kami.

Pemberian tanda jasa PBB kepada 3 orang ‘team Advance’ oleh kepala polisi UNAMID, Jend. Michel Fryer dari Afsel.

Memang berat tugas yang harus kami lakukan, namun kalau ditarik ke belakang pengalaman ini sangat berharga buat saya dan rekan – rekan FPU lainnya, dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup saya……

Reinhard Hutagaol Sik

Akbp/Wakil Komandan Kontingen FPU Indonesia di Sudan/UNAMID

*Tulisan ini dimuat dalam majalah bulanan Polda Jambi Siginjai.

6 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, FPU, IDP, PBB, police, Polisi, polri, sudan, UNAMID

Nareen, My Nepalese Policeman Friend…

Insp. Nareen

Insp. Nareen

Pernahkah anda membayangkan jikalau anda  menjadi polisi hendak menangkap buronan dan karena suatu peristiwa buronan itu menjadi boss anda ? Inilah yang terjadi di negara Nepal, tempat kawan saya Nareen tinggal dan menjadi seorang polisi  … kami berkenalan pada saat sama – sama sebagai “team aju” kontingen FPU Indonesia dan Nepal PBB di Darfur Sudan, dalam penantian yang tidak ada henti karena lamanya proses pergerakan barang kontingen dari Port Sudan hingga El Fasher yang menempuh jarak ribuan Kilometer melintasi gurun Pasir….. dan kami sama – sama ditempatkan di Pusat Logistik PBB di Al Obeid, daerah pertengahan antara Port Sudan dan El Fasher, berbulan bulan kami tinggal di dalam akomodasi yang berbentuk kontainer..  dari pagi setelah breakfast di Dining Room kami ngobrol sambil menunggu lunch, kemudian ngobrol lagi sambil menunggu Supper… begitu tiap hari … bosen ngga ? Tapi menarik banyak cerita menarik yang saya dapat darinya…. tentang keindahan negaranya Nepal yang berada di kaki Everest, tentang budaya masyarakatnya yang ramah, dan yang paling sering cerita tentang kedongkolannya terhadap Rezim baru yang memerintah di negerinya, yaitu rezim Komunis Maois yang menggulingkan Raja Nepal… yang secara otomatis mengacaukan semua tatanan birokrasi yang telah ada selama ratusan tahun…

Pada awalnya negara ini menganut sistem Monarki dan mendapat pemberontakan dari Partai Komunis Nepal (Maoist) yaitu partai yang menganut paham komunis ala ketua Mao Ze Dong, kelompok Maois ini diketuai oleh Pushpa Kamal Dahal … pemberontakan ini memacu “civil war” yang berlangsung 10 tahun dari tahun 1996 hingga 2006 yang menelan korban 12.800 orang tewas… dan perang sipil ini berakhir dengan perjanjian damai pada 21 November 2006 dengan bantuan United Nation Mission In Nepal, perjanjian damai ini memberikan jalan kepada Partai Komunis Nepal (Maoist) untuk memerintah negara ini dan menganulir sistem Monarki yang diperintah oleh Raja Terakhir Gynanendra, menyerahkan kekuasaan dan kemudian menjadi Republik Rakyat Nepal…. (…Hmmmm jadi inget kaisar PuYi raja terakhir Cina dalam film “Last Emperor” … pantesan aja kelompok ini memuja – muja Ketua Mao..)

Nareen adalah lulusan Akedemi Kepolisian Nepal pada zaman Monarki,  dia sendiri lulusan tahun 2003 dan langsung mendapat pangkat Inspektur (letnan), pada masa kelulusannya memang tengah hebat – hebatnya “Civil War” sehingga ia langsung ditempatkan sebagai danton pada pasukan kepolisian khusus (semacam brimob) yang memerangi pemberontakan Maoist di utara Nepal… banyak keberhasilan yang ia dapatkan hingga beberapa kali dapat menangkap pimpinan pemberontak lokal… Setelah beberapa saat dalam pasukan ia dipromosikan di Mabes Polisi Nepal di bagian Interpol, tugasnya ialah mengirimkan DPO dan “Red Notice” para pemberontak Moist ke pusat Interpol di Lyon…..

Pada tahun 2006 Raja Gyanandra menyerah dan turun tahta menyerahkan pemerintahan kepada pemberontakan Maoist, inilah awal dari problem besar, walaupun Maoist tidak membubarkan kepolisian, tapi jabatan – jabatan penting di Kepolisian diganti oleh orang – orang Maoist, bayangkan bagaimana bisa segerombolan pemberontak yang tidak tahu apa – apa tentang polisi namun tahu cara bergeriliya di hutan menjadi Kapolri mereka ? …. namun itulah yang terjadi … mereka tidak bisa berbuat apa – apa, How come your ex #1 enemy become your boss ? merekapun sekarang sekarang merasa was – was takut kalau perbuatan mereka dahulu (pada saat memburu pemberontak) ketahuan dan disingkirkan dari Kepolisian…. :mrgreen:

Nah itulah curhat si Nareen selama di Al Obeid yang selalu berulang ulang ia sampaikan, hmmmm saya jadi membayangkan …. andaikan PKI pada tahun 1965 menang di Indonesia …. pasti yang dialami para anggota Polri sama dengan yang dialami Nareen sekarang :P …….. Thanks GOD it wasn’t Happen….

3 Komentar

Filed under Darfur, FPU, PBB, Polisi, polri, sudan

SULITNYA MENCARI AIR DI DARFUR

Hehehe, masih kebagian nih ..cerita dari rekan – rekan yang masih bertugas di Darfur …. kali ini masalah yang paling utama kalau berdinas di daerah Gurun seperti Darfur … Ya …mau ngga mau masalah air … dan memang persoalan air ini memang diakui salah satu penyebab konflik Darfur… bahkan telah ratusan tahun sebelum konflik separatisme ini terjadi…  konflik yang sekarang memang lebih “bernada” politis , tapi kalau mau ditarik benang merah….. konflik ini terjadi antara Ras Asli Afrika  “Darfurian” yang kebanyakan adalah “petani yang berladang“, melawan Ras Arab Nomaden yang sehari hari adalah “pengembala”… konflik selalu terjadi , terutama pada saat kering yang berkepanjangan .. Yang jelas “Darfurian” mememerlukan air untuk ladangnya dan mereka berebut dengan Suku Arab Nomaden yang juga membutuhkan air untuk Ternak peliharannya … beginilah cerita ini berlangsung ratusan tahun lamanya…..

Team Water didepan truck watertank kebanggaan, terdiri dari driver , pengawal dan petugas water treatment

"Team Water" didepan truck watertank kebanggaan, terdiri dari driver , pengawal dan petugas water treatment

Nah sentimen inilah yang terjadi sampai sekarang, Penduduk Asli “Darfurian” melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat Sudan, karena keberadaan mereka kurang diperhatikan … Dan patut diakui Pemerintah pusat Sudan mengalami kesulitan menghadapi pemberontakan ini… karena Pemerintah pusat  yang mempunyai kedekatan dengan “ras Arab”  mereka menggunakan tangan Suku Arab Nomaden yang lebih dikenal dengan nama “Janjaweed” untuk memerangi pemberontakan tersebut …..  dan dilanjutkanlah konflik yang memang sudah terjadi selama ratusan tahun itu…

Berada di water Point beserta tentara pemerintah Sudan dengan pengawalan ketat ... baru tau kan betapa berbahaya nya water bussiness ini ???

Berada di "water Point" beserta tentara pemerintah Sudan dengan pengawalan ketat ... baru tau kan betapa berbahaya nya water bussiness ini ???

Kembali ke cerita air ….. Pada awalnya FPU Indonesia mengambil air di “water point” yang dekat dari camp FPU.. masih terletak di kota dengan jarak sekitar 3 Km dari Camp…Namun seiring dengan makin sulitnya air … dan juga sumber air tersebut menjadi tempat mengambil air seluruh warga kota El Fasher .. antrian antara warga lengkap dengan Donkey dan kuda, dan sedikitnya air yang didapat… menjadikan kerusuhan… hingga truk tangki milik UN termasuk FPU Indonesia diancam penduduk  agar tidak mengambil air di sumber air itu lagi …bahkan puncaknya terjadi perusakan kendaraan tangki air milik UN.

Mengisi air ke tangki

Mengisi air ke tangki.... perlu dikawal juga

Untuk menghindari konflik dengan penduduk, akhirnya pihak UN mengalah dengan mencari “waterpoint” yang lebih jauh … dan memang jaraknya sekitar 45 Km dari Camp FPU. Memang FPU Indonesia “self sustaintment” dalam memenuhi kebutuhannya sendiri termasuk air … maka itu dalam list property FPU indonesia dilengkapi dengan 4 tangki air … masing masing 2 buah kapasitas 10 rb liter dan 2 buah kapasitas 16 rb liter. Sebagai gambaran .. paling tidak kebutuhan air untuk seluruh pasukan FPU Indonesia yang berjumlah 140 (minus 3 orang termasuk saya yang telah kembali jadi jmlnya 137 org) adalah 100 liter per orang perhari untuk semua termasuk Mandi dan Minum, jadi totalnya adalah 13.700 liter perhari.  Memang bisa sekali angkut dengan truk yang 16.000 liter … namun karena jarak dan medan yang berat makanya biasanya kita membawa 2 buah truk secara bergantian…. dan selain itu perlu dilengkapi dengan pengawal dengan personel bersenjata ? kenapa .. wah… air ini komodity yang susah …! bisa dimungkinkan terjadi pengahadangan dari gerombolan bersenjata untuk merampok air .. dan ini pernah terjadi pada batalion Rwanda yang juga bertugas dengan UN..

Melintasi gurun menuju Water Point

Melintasi gurun menuju "Water Point"

Untuk personil yang mengurusi air ada teknisinya tersendiri terdiri dari Driver tangki, pengawal dan teknisi water treatment … air juga sesampai di camp dilakukan water treatment sehingga aman dikonsumsi dan digunakan pasukan FPU… hmmmm kalau sudah cerita begini … pasti kita berpikir deh: NO PLACE AS GOOD AS OUR COUNTRY…. hehe .. Indonesia we love you !!

Demikian update cerita dari Darfur .. kepada rekan – rekan yang masih bertugas :  Tetap semangat yaa !!!……

Foto courtesy Akbp Dr. Yanuar

14 Komentar

Filed under Blogger, Darfur, FPU, Janjaweed, PBB, police, Polisi, polri, Publik, sudan

Welcome to Indonesian FPU’s GARUDA camp

Setelah 6 bulan berada di daerah missi, dan selama ini tinggal di tenda “transit camp” , mulai minggu ini kami pindah ke camp baru Indonesian FPU, yang dinamakan GARUDA Camp… Camp GARUDA  ini adalah camp yang cukup reprtesentatif, dibangun dengan kontainer tempat tinggal “Prefab”  yang menjamin kenyamanan bagi pasukan FPU Indonesia, terutama di daerah gurun yang mempunyai panas ekstrim….

Tampak atas camp Garuda Indonesia

Tampak atas camp Garuda Indonesia

Camp kita cukup luas, yaitu berukuran 400 M x 300 M dan terletak dalam “SuperCamp”yaitu camp tempat seluruh kegiatan UNAMID dilakukan … size Supercamp sendiri sekitar 5 Km x 2 Km … tempat FPU indonesia sendiri terletak pada selatan Super camp, “tetangga” kami sementara yang sudah settle dan mempunyai camp adalah antara lain Enginering Batalion Mesir, Batalion “Force Protection” Rwanda 16, untuk selanjutnya akan dibangun camp – camp pasukan yang akan datang seperti dari Batalion Mobil dari Nepal, dan FPU dari Mesir dan Jordan… dan juga dibangun rumah sakit, perkantoran, pergudangan, kantin, sarana welfare dan olahraga, mess bagi pegawai UNAMID, sehingga pada akhirnya “supercamp” adalah pusat seluruh kegiatan UNAMID di seluruh Darfur.

Tampak Dalam Kontainer yang dihuni Max 4 Orang.

Tampak Dalam Kontainer yang dihuni Max 4 Orang.

Walaupun secara operasional belum sempurna betul, kami sudah pindah ke camp baru ini, dengan pertimbangan perbaikan akan dilaksanakan sampai berjalan, karena pada prinsipnya kita juga belum bisa melihat kekurangan apabila belum menempatinya. Persis seeperti menempati rumah baru …

Tanpak Camp dari sisi bagian dalam, dengan jalan penghubung antar Container

Tanpak Camp dari sisi bagian dalam, dengan jalan penghubung antar Container

Camp ini dilengkati juga dengan sarana pendukung seperti, Kantor, Masjid, Ruang makan, Dapur, Ruang Rekreasi … untuk listrik menggunakan Genset besar 3 buah dengan kapasitas besar yang diyalakan secara bergantian selama 24 jam. Juga dilengkapi dengan “Water Treatment” yang mengolah air sehingga aman dikonsumsi oleh pasukan.

Tampak depan, sebelah kiri adalah ruang makan dan sebelah kanan adalah Prefab

Tampak depan, sebelah kiri adalah ruang makan dan sebelah kanan adalah Prefab

Diharapkan dengan berdirinya camp baru “GARUDA” ini, diharapkan kesegaran anggota secara phisik dan mental akan menjadi baik dan pada akhirnya kinerja FPU Indonesia dalam meningkat secara signifikan …. ya pasti !

Sejenak menjelang Apel Pagi, Nampak muka muka anggota FPU Indonesia yang gembira

Sejenak menjelang Apel Pagi, Nampak muka muka anggota FPU Indonesia yang gembira

Walaupun pada saat tulisan ini saya telah berada di Indonesia kembali setelah  menjalani tugas selama 1 tahun, dan mendahului rekan – rekan lain, saya akan tetap melengkapi tulisan – tulisan saya mengenai Sudan, UNMAID dan FPU yang belum sempat saya tulis …. Thanks

11 Komentar

Filed under Darfur, FPU, PBB, police, Polisi, polri, UNAMID