Kepala Negara Bisa Jadi Tersangka lho…

9 03 2009
Presiden Omar Al Bashir

Presiden Omar Al Bashir

Jadi kepala negara bukannya kebal terhadap hukum, baik hukum pidana, perdata maupun hukum internasional… Seperti yang saya lihat di negara tempat saya bertugas sekarang ini Sudan, Presidennya telah ditetapkan oleh International Criminal Court (ICC) sebagai tersangka dalam tuduhan “Crimes Against Humanity” dan  “War Crimes” atas konflik yang terjadi di Darfur, dan telah dikeluarkan Surat perintah penangkapan (Warrant Arrest) terhadapnya, walaupun surat perintah ini belum ada suatu institusipun yang akan melaksanakannya, namun setidaknya Presiden Omar Al Bashir tidak bisa bebas berpergian ke 180 negara yang menanda tangani kesepakatan bersama ICC.

Apa sih yang terjadi di Darfur ?

Konflik ini dimulai 5 tahun yang lalu, antara masyarakat Darfur ( Dar= tanah, Fur=orang suku Fur)  yang merupakan indigionus Africa dan “Half blood” Arab melawan pemerintah Sudan yang keturunan Arab.   Kalau saya melihat konflik ini sama seperti terjadi di banyak negara berkembang yaitu konflik antara pemerintah pusat melawan daerah,  tentunya berkaitan dengan kesenjangan pembangunan dan bagi hasil antara pusat dan daerah…..  yang  bangsa Indonesia pernah alami seperti konflik di Papua dan Aceh.

Darfur tadinya adalah suatu negara yang dipimpin oleh seorang Sultan, namun akibat kolonialisasi Inggris pada tahun 1890, mereka menggabungkan Mesir, Darfur dan Sudan sebagai suatu negara, namun setelah Mesir merdeka dan Sudan merdeka pada tahun 1956 dari Inggris, wilayah Darfur tetap masuk kedalam wilayah Sudan.  Seiring dengan berjalan pembangunan pasca kemerdekaan, rakyat Darfur merasakan kesenjangan atas hasil pembangunan dan mulai melakukan pemberontakan pada tahun 2003.

Pemerintah pusat Sudan yang beribukota di Kharthoum mulai kewalahan menghadapi konflik separatisme ini,  untuk mengatasi hal ini mereka memanfaatkan sentimen konflik antar ras yang terjadi jauh sebelum pemberontakan ini terjadi,  jadi ceritanya di Darfur bibit – bibit konflik sudah terjadi antara suku bangsa keturunan Afrika (suku Fur) dan indo Africa Arab (Suku Zagawa) yang adalah petani dengan suku Arab Nomaden (Janjaweed) yang pekerjaannya adalah beternak secara nomad, dari dulu konflik ini selalu berkisar masalah perebutan tanah dan sumber air….  Nah konflik inilah yang dimanfaatkan oleh pemerintah Sudan, mereka “memberi angin” terhadap Janjaweed untuk melawan suku bangsa asli Darfur, yang terjadi malah diluar kontrol… terjadi pembunuhan masal, pemerkosaan dan pengusiran masyarakat suku bangsa Asli Darfur dari tempat tinggalnya…

Data yang sering di rilis media Internasional mengatakan korban akibat konflik ini meninggal sebanyak 300 ribu jiwa, dan mengakibatkan 2,5 juta jiwa terusir dari kampung halamannya dan menjadi “pengungsi lokal” (Internal displaced Personal) yang menghuni kamp pengungsi IDP yang terletak di seluruh Darfur.

Kenapa Presiden Sudan bisa menjadi tersangka ?

Kepala Penuntut ICC Mr. Lois Moreno-Ocampo yang berkedudukan di Den Haag mengatakan Presiden Sudan Omar Al Bashir menghadapi 10 tuntutan terhadap kejahatan yang dilakukannya, diantaranya : “Kejahatan terhadap Kemanusiaan” dan “Kejahatan Perang” dan menurut Moreno ia adalah ” Dalang dari penghancuran keberadaan tiga suku bangsa asli Darfur (termasuk Fur dan Zaghawa) ..”

Presiden, jabatan yang rawan…

Serba salah juga berpendapat tentang tuntutan ini, karena bangsa kita pernah (dan masih) mengalami hal yang sama seperti di Sudan, konflik pusat dan daerah yang berimplikasi terhadap keutuhan negara tentunya harus dipertahankan sebisa mungkin, dan biar bagaimanapun setiap konflik pasti berujung dengan jatuhnya korban, pengusiran penduduk dan banyak sekali kriminalitas yang menyertainya…..

Presiden Omar Al Bashir sebagai kepala negara yang berdaulat tentunya memikirkan segala cara untuk tetap mempertahankan keutuhan negaranya, tidak mungkin suatu pemberontakan daerah dibiarkan begitu saja, kalau perlu dibasmi dengan kekuatan bersenjata… coba kita bandingkan dengan negara kita, apakah Presiden SBY bisa dikenakan tuduhan yang sama dengan Presiden Sudan ketika memerintahkan militernya menumpas gerakan separatis Aceh misalnya ?

Nah, kasus Presiden Omar Al Bashir menurut saya bisa menjadi hal yang “kurang menyenangkan”  bagi seluruh kepala negara dunia terutama yang negaranya terjadi konflik separatisme, karena dialah kepala negara pertama yang sedang berkuasa menjadi seorang tersangka, kalau ngga hati – hati akan banyak lagi Kepala Negara didunia menjadi tersangka hanya karena ingin menegakkan kedaulatan dan keutuhan negaranya….. jadi mikir kan ?





MOHON PAMIT

15 05 2008

Kepada semua pembaca blog saya, dalam kesempatan yang singkat ini saya minta ijin dan mohon pamit serta mohon doanya, karena pada hari ini tgl 15 Mei akan berangkat penugasan ke Darfur, Sudan dengan lama penugasan 1 tahun.

Sebenarnya saya harus sudah berangkat pada tanggal 13 yang lalu, tapi karena masih ada kontak senjata di Khartum Ibukota Sudan, maka semua commercial flight di tunda keberangkatannya (saya naik emirates)…

…dan tadi pagi saya dapat telp dari perwakilan emirates Jakarta bahwa bandara Khaortum dibuka kembali…

Keberangkatan saya ini (advance team, cuma 3 orang beserta AKP Tuhana dan AKP Acmad) adalah suatu rangkaian dari keseluruhan pemberangkatan Formed Police Unit (FPU) sejumlah 140 orang yang akan bertugas dalam misi UNAMID di Darfur, Sudan.

Dan jangan kuatir, saya akan berusaha sekeras mungkin untuk terus meng update blog saya dari Sudan…

Sekali lagi Mohon Pamit, dan mohon doanya….

rere





KEADAAN DI DARFUR DILATIHKAN FPU INDONESIA

30 01 2008

FPU INDONESIA

Kondisi di Darfur yang masih belum stabil sekarang ini, dapat menimbulkan bahaya bagi anggota FPU Indonesia, oleh sebab itu latihan adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar…..

Dalam beberapa hari ini telah di skenariokan beberapa hal yang mungkin dihadapi di medan tugas nanti, seperti RIOT dan cara mengatasinya dengan PHH, Penyanderaan, Pengawalan VVIP, Kontak senjata dan cara mengatasinya, Pertolongan dan evakuasi bagi korban anggota FPU dan lain – lain.

Dalam latihan ini sudah ditampilkan dalam full form equipment, dengan tujuan didalam daerah tugas nanti masing – masing anggota sudah mahir menggunakannya, peralatan itu termasuk persenjataan, kendaraan dan perlengkapan lainnya. Dalam latihan ini sudah digunakan APC (Armored Personel Carrier) yang telah di cat putih sesuai warna PBB.

Pembebasan sandera

Dalam foto diatas diperlihatkan bagaimana FPU indonesia berlatih pembebasan sandera, menangkap tersangkanya dan mengamankan tersangka dengan APC untuk dibawa ke local police, untuk menjalani proses hukum, perlu diketahaui bahwa fungsi keplisian dalam tugas UNAMID adalah represif terbatas, yaitu hanya dalam upaya paksa menangkap tersangka dalam keadaan tertangkap tangan, atau sesuai perintah UNAMID Commisioner of Police…..

Evacuation

Dalam foto berikut diperlihatkan bagaimana evakuasi korban menggunakan helikopter, suatu hal yang mungkin dapat terjadi mengingat rawannya daerah penugasan dan letak rumah sakit yang jauh dari Indonesian Base, jadi penanganan korban hanya dalam tingkat awal karena fasilitas kesehatan FPU hanya hospital level I (treatment awal) sedangkan rumah sakit Level IV terletak di Khortum yang jaraknya ribuan km dari Indonesian Base.

VVIP protection

Diperagakan juga bagaimana VVIP escort yang mendapat serangan mendadak dan cara escapenya dan menyelamatkan VVIP sampai ke ’safe place’.

Dan the last but not least dilatihkan bagaimana pasukan FPU menghadapi Demonstrasi masa dan mengatasinya menggunakan PHH…





Selamat datang UNAMID

23 12 2007

UNAMIDUNAMID2

Pada awal pergantian tahun 2007 nanti (1 Januari 2008)…. akan terbentuk UNAMID (United Nations African Mission In Darfur) yang akan mengembalikan harkat hidup masyarakat Sudan khususnya Darfur dari sejarah tragis dan kelam… yang selama ini terjadi…..

Pada tanggal 31 juli 2007 Dewan Keamanan PBB bersepakat untuk menjalankan resolusi nomer 1769 yang berisikan pembentukan UNAMID yang bekerja berdasarkan chapter VII (peace making mission = menciptakan perdamaian = menggunakan kekuatan/memaksa perdamaian) dalam jangka waktu 12 bulan.

Tugas UNAMID seperti tertuang dalam mandat adalah : Melindungi masyarakat sipil dan tugas lainnya seperti memberikan perlindungan kepada bantuan kemanusiaan, memonitor perjanjian perdamaian antara pihak yang bertikai, membantu berjalannya proses politik lokal dan memberikan kontribusi kepada HAM dan tegaknya Hukum, juga memonitor dan melaporkan situasi di sepanjang perbatasan dengan Chad dan Central Afrika. Missi UNAMID akan berkantor pusat di El Fasher dan akan mempunyai 3 region yaitu El Fasher, El Geneina dan Nyala, dan akan ada 55 lokasi kantor UNAMID di Darfur.

Sekjen PBB dalam pernyataannya dalam sidang dewan keamanan PBB mengatakan, pembentukan UNAMID adalah “ Mengirimkan sinyal yang kuat dan jelas dari komitmen PBB untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Darfur, dan menutup episode tragis dalam sejarah kelam Sudan..” Ia juga mengatakan keputusan itu “bersejarah dan tidak pernah diperhitungkan sebelumnya“ tetapi ia mengingatkan juga bahwa “Hanya melalui proses politik para pihak yang bertikai kita akan mendapatkan solusi yang terbaik dari konflik ini

Pengerahan kekuatan UNAMID dengan bekerjasama dengan AMIS akan berjumlah 20000 tentara dan lebih dari 6000 polisi dan juga komponen sipil. Dalam kekuatan penuh UNAMID akan menjadi missi terbesar dan juga merupakan missi hybrid pertama dalam sejarah missi perdamaian PBB.

Sekjen PBB mendorong komunitas internasional untuk menyediakan dana dan SDM untuk ditempatkan ke UNAMID Darfur, ia juga merekomendasikan negara anggota PBB menyediakan bantuan dana kepada UNAMID lewat pembiayaan PBB.

PIMPINAN UNAMID

Rodolphe Adada dari Republik Congo telah ditunjuk oleh oleh Join Special Representative (JSR) Uni Afrika dan PBB untuk memimpin UNAMID. Ia akan melaporkan tugasnya kepada dua pihak : Pimpinan Uni Afrika dan Sekjen PBB, ia akan dibantu oleh wakilnya Henry Anyidoho dari Ghana. Perintah dari dari JSR akan dikeluarkan melalui Komisaris keamanan dan perdamaian Uni Afrika dan Sekjen PBB bagian operasi misi perdamaian (UNDPKO).Pelaksanaan tugas harian pasukan UNAMID akan diatur secara bersama.

Jendral Martin Luther Agwai dari Nigeria telah ditunjuk sebagai komandan pasukan (militer) UNAMID oleh Uni afrika dengan berkonsultasi dengan PBB dan akan melaporkan kepada JSR.

Demikian halnya juga untuk Kepala Kepolisian (Police Commisioner) UNAMID telah ditunjuk Michael Fryer dari Afrika Selatan dan Wakilnya telah ditunjuk Elizabeth Muwanga dari Uganda. Di pundak mereka masih banyak tugas yang menunggu antara lain :

Transfer Police Observer AMIS ke UNAMID… Pada saat ini terdapat 1400 PO pada AMIS untuk dapat diterima pada UNAMID mereka harus menjalani test ulang, apabila lulus mereka akan “berganti baju” menjadi PO UNAMID, plus ditambah lagi PO yang berasal bukan dari Uni Afrika (Indonesia juga sudah siap mengirimkan 4 orang PO di UNAMID dipimpin oleh Kombes Pol Charles Ngili Karo Ops Polda Gorontalo).

Mempersiapkan FPU (Formed Police Unit)…. sesuai mandat UNAMID mempersiapkan 19 (sembilan belas) FPU yang akan bertugas, dan yang akan dalam waktu dekat ini berangkat adalah FPU Nepal (Akan berangkat pada Januari akhir) dan sudah 8 (delapan) negara yang telah berkomitmen untuk mengirimkan FPU nya ke UNAMID yaitu: Burkina Faso, Kamerun, Mesir, Indonesia, Mali, Nigeria, Pakistan dan Senegal.

Sekali lagi … welcome UNAMID jalankan Missi mu untuk menciptakan perdamaian ABADI di Dunia……





Peace keeper at Cosmo Magazine….

19 12 2007

Hai semua, bersama ini saya tampilkan artikel Peacekeepers Indonesia di seluruh dunia dari  majalah Cosmopolitan edisi terakhir…….
Thanks buat mba galuh (cosmo feature writer) yang menuliskan sedikit tentang saya … :-)


Cosmo 1
cosmo2





Tentara Anak (Children Soldier)

9 12 2007

child soldier SudanBagi FPU’ers inilah hal yang paling memusingkan dan paling berbahaya apabila anda ditugaskan di Darfur, Sudan…. Anda harus berhadapan dengan milisi bersenjata dan mereka adalah ANAK – ANAK… faksi – faksi pemberontak di Darfur : SPLA (Sudan People Liberation Army), JEM (Justice Equal Movement), bahkan kontra mereka faksi JANJAWEED dan faksi lainnya menggunakan anak – anak (artinya seseorang dibawah 17 tahun..) sebagai mesin perang mereka. Banyak keuntungan yang didapat kalau menggunakan tentara anak : Yang paling dirasa manfaatnya adalah….. mereka belum dapat berpikir secara logik alias NEKAD… mereka selalu ditempatkan di garis terdepan dalam penyerangan atau jadi TAMENG HIDUP …, kemudian mereka belum terlalu memikirkan kesejahteraan (GAJI, TUNJANGAN) yang penting perut mereka terisi saja…

Cara rekruitment mereka : TIDAK ADA…… mereka diculik dari orang tuanya di IDP (Internal Displaced Person) Camp dari orang tuanya… dibawa ke hutan – hutan… dilatih secara brutal (yang tidak bisa survive selesai… karena mereka kadangkala diadu sesama sampai mati..), dilatih persenjataan dan akhirnya menjadi seorang tentara anak yang brutal dan ganas……

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Khususnya masalah konflik di Darfur, perlu di ingat permasalahanya sudah sangat kompleks… tidak jelas lagi siapa kawan dan siapa lawan…. kalau kita lihat peristiwa bulan lalu di HESKENITA, NYALA (tempat dimana FPU Indonesia akan ditempatkan..) pada waktu sore hari (menjelang buka puasa) diseranglah Site Camp Pasukan Perdamaian Uni Afrika (AMIS = African Mission In Sudan) yang ditempati 150 orang tentara dan civil AMIS oleh kurang lebih 1000 orang pemberontak yang menggunakan tentara anak… terjadilah pembantaian yang memakan korban 10 orang tentara AMIS dan hilang 50 orang lainnya…… pasukan pemberontak membawa apa saja yang dapat mereka bawa : Air, Makanan, Kendaraan, Senjata, Pakaian, Sepatu bahkan tenda tempat mereka tinggal….. Secara logika orang normal kita berpikir, dengan adanya Pasukan Perdamaian mustinya penduduk merasa terlindungi, dan sudah jelas Pasukan Perdamaian tidak mempunyai Mandat untuk menyerang pihak pemberontak…. namun apa yang terjadi…??? ngga heran kalau dosen saya di Coespu bilang : THIS IS THE CRAZIEST WAR EVER HAPPEN (IN SUDAN….)

children soldier in action

Ok FPU’ers bukannya saya menakut – nakuti… tapi itulah kenyataan yang akan kita hadapi…. tetap semangat yaaa !





APA YANG MUSTI DIPERSIAPKAN OLEH FPU INDONESIA ??

3 12 2007

Foto UN di Darfur

Tulisan ini membahas keluhan rekan – rekan calon FPU (Formed Police Unit) yang sampai sekarang masih terkatung – katung menunggu keputusan dari pemerintah untuk berangkat ke medan tugas ke UNAMID (United Nations African Mission In Darfur), kita bahas bersama mengenai hal – hal apa yang mesti dipersiapkan oleh Mabes Polri dalam keberangkatannya nanti. Kebetulan sekali sebulan yang lalu saya telah melakukan survey ke Darfur dan melakukan analisa tentang apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi medan tugas di sana, baik dari segi material maupun personal.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Konsep FPU sendiri adalah sebuah pasukan dalam ikatan kompi (SSK) yang mempunyai kelebihan di daerah missi, kelebihan tersebut adalah : Rapid Deployment yaitu perpindahan tugas yang cepat dalam mengatasi problem keamanan, artinya siap ditugaskan di daerah missi tertentu secara cepat tergantung ekskalasi keamanan, Riot Control kemampuan pengendalian massa yang tidak dipunyai polisi umum biasa, Urban War yaitu teknik dan taktik pertempuran kota, Freed Hostages pembebasan sandera, dan kemapuan mengatasi High Intense Criminal yaitu kriminalitas tingkat tinggi yang menggunakan Heavy Weapon/arms, jadi sudah tergambar bahwa kepolisian Indonesia yang mempunyai kemampuan ini adalah Brigade Mobil. Sedangkan pasukan pendukung FPU yang akan turut serta nanti juga orang – orang terbaik dari bagiannya masing – masing, untuk dokter yang berangkat adalah seorang ahli bedah, dari komlek seorang perwira adalah seorang ahli komunikasi lulusan ITB, untuk logistik dipersiapkan seorang ahli mekanik yang terbaik.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Jadi permasalahan personal apakah ada masalah ? Menurut saya kemampuan Kepolisian kita malah Over Qualified bisa diadu dengan FPU dari negara lain seperti dari Bangladesh dan Nepal yang sudah berada di Darfur, mereka kebanyakan berasal dari polisi Samapta. Tidak seperti pasukan Brimob kita calon FPU yang terbiasa bertugas di daerah Konflik di seluruh Indonesia (saya juga mendengar calon FPU adalah anggota terbaik di resimennya).
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Problem yang tergambar jelas pasti masalah Logistik, ya memang…….. karena untuk pasukan FPU yang berangkat sekarang ini seluruh peralatan pendukung baik untuk personal maupun pasukan harus dipersiapkan sendiri artinya menganut prinsip Self Sustaintment, pemerintah melalui Mabes Polri harus menyiapkan segala perlengkapan sampai ke Mission Area kemudian ada penilai dari PBB yang menilai peralatan itu untuk diadakan pergantian pembiayaan atau Reimbusment, permasalahannya bagi Polri hal pemberangkatan pasukan dengan metoda Self Sustaiment adalah hal yang baru, selain perlengkapan untuk personal dan pasukan, juga harus dipersiapkan akomodasi untuk pasukan sebelum UN mendirikan tempat permanen Hard Wall untuk pasukan……. (kira – kira 6 bulan setelah ditempatkan atau bisa lebih…….), jadi sementara belum permanen harus didirikan tenda…. tetapi believe me ngga akan kuat lah tinggal di tenda di Darfur dengan average temperatur 45 – 50 derajat Celcius di siang hari, dan 5 – 10 derajat Celcius di malam hari, jadi walaupun memakai tenda….. tetap juga harus memakai Air Conditioner, juga harus ada fasilitas MCK yang baik, Dapur yang baik, Ruang Rekreasi, ruang pertemuan dll….. tentunya dengan prinsip : Senyaman – nyamannya buat prajurit.. Pada waktu survey kemarin, Komandan kontingen mengusulkan kepada Mabes Polri untuk kalau bisa langsung memakai internasional kontraktor di sana untuk membangun fasilitas akomodasi, dengan tujuan tidak usah memakai tenda …. langsung akomodasi Hard Wall tapi terbentur dengan peraturan kontrak di negara kita.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Masalah kendaraan pasukan di Mission Area juga harus diperhatikan, tidak sembarang kendaraan bisa di bawa….. tapi harus masuk ke dalam Spefikasi Teknis (Spek Tek) UN, artinya kendaraan tersebut harus cocok dalam penugasan di Darfur yang sebagian besar daerah gurun pasir dan gunung berbatu….. namun banjir di musim hujan….. yang jelas setiap kendaraan harus 4X4 dengan ban Dessert , keperluan kendaraan tersebut antara lain untuk : Pengangkut pasukan (truk), Patroli (light truck), Mobil Komandan (jeep), Armored Personal Carrier (APC) khusus untuk daerah gurun, mobil tangki pengangkut bahan bakar, mobil tangki pengangkut air bersih, truk bengkel (Recovery Truck), Alat berat loader, jadi tahukah rekan – rekan dalam kesepakatan dalam survey UN menyanggupi total 53 (lima puluh tiga) kendaraaan….. tapi seperti saya sebutkan harus ditalangi dulu pembiayaan kendaraan tersebut oleh pemerintah.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Untuk Perlengkapan pribadi juga harus diperhatikan….. yang jelas persenjataan yang menjadi standar PBB yang tahan akan cuaca panas (belum ditentukan sih…. tapi saya dengar-dengar diupayakan menggunakan Styer cal 5,56 untuk setiap anggota, dan tambahan pistol glock cal 45 untuk para komandannya), demikian juga Body Armoured harus yang level 4, yang minimal menahan peluru cal 7,76 (peluru dari senjata yang paling banyak digunakan baik GOS maupun Pemberontak…… the amazing great weapon all the time AK – 47)
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Untuk sarana kesehatan juga harus dipersiapkan minimal Hospital level 2 artinya bisa untuk digunakan untuk Light Surgery…. artinya bisa melakukan operasi luka tembak, atau operasi penyelamatan nyawa sementara, sebelum datang Air Support.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Akhir kata ….. rekan – rekan FPU’ers pasti bisa membayangkan berapa biaya pengadaan seluruh peralatan ini…….( jangan kaget kalau saya pernah dengar sekitar 350 Milyar Rupiah), inilah yang sedang diperjuangkan oleh para pimpinan kita di Mabes Polri … memang meloloskan anggaran untuk FPU (yang sangat besar) di akhir tahun anggaran adalah hal yang bisa dikatakan mustahil….. Jadi saya berharap kita semua bisa mengerti kenapa perjalanan kita agak tersendat ….. Ok ?
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Jangan kecewa dulu rekan – rekan ….. tetap semangat …..





IDP CAMP

18 11 2007

IDP (Internal Displaced Person) adalah hal yang pasti terjadi dalam setiap konflik internal dalam suatu negara, contoh nya ngga usah jauh – jauh di Aceh berapa ribu orang Jawa transmigran yang terusir, demikian juga di Kalimantan banyak orang Madura terusir dalam skope lebih global bagaimana orang palestina terusir dari tanah yang di klaim “tanah perjanjian” oleh Kaum Israel…. namun perlu dibedakan juga dengan istilah “Pengungsi” atau “Exhile”, pengungsi adalah penduduk suatu negara yang terusir dari negaranya, contohnya orang Kurdi yang terusir dari Turki, atau Orang Bosnian yang terusir dari negara Serbia.

Di Darfur Sudan permasalahan yang terjadi adalah terusirnya penduduk dari tempat tinggalnya/ kampung halamannya dan mencari tempat yang lebih aman, sehingga mereka menjadi IDP, seperti pernah saya tulis dalam tulisan terdahulu, yang terjadi adalah konflik antara GOS (Goverment Of Sudan) dengan pasukan pemberontak yang tergabung dalam SLA (Sudan Liberation Army) dan JEM (Justice Equal Movement) dan beberapa faksi kecil lainnya, GOS memang sangat kewalahan menhadapi pemberontak ini, karena wilayah yang sangat luas dan daerah yang super extreem, gurun sahara, pegunungan… dibutuhkan orang – orang yang tahu wilayah dengan jelas untuk bisa menghadapi pemberontak…. Contohnya di pegunungan JABBEL MARRA (titik tertingginya 3000 m dpl) bermukim pemberontak dari fraksi JEM, GOS sampai saat ini tidak dapat memasuki pegunungan ini karena kesulitan jalan tembus, mereka hanya bisa menyerang dengan AIR RAID membomb target kemudian kembali. Makanya GOS memberi tugas kepada milisi bayaran “JANJAWEED” untuk menghadapi pemberontak, milisi JANJAWEED yang dalam bahasa arab berarti “SETAN BERKUDA” adalah suku bangsa arab yang nomaden sejak ratusan tahun yang lalu, mereka sangat tangguh dalam segala cuaca dan medan di daerah tersebut, mereka sangat cepat mobilitasnya, karena pada dasarnya mereka selalu berpindah tempat untuk mencari rumput segar buat ternak mereka (pada waktu naik helikopter dari Khortum ke Nyala saya melihat rombongan mereka dengan ribuan ternak dengan barisan panjaaang sekali hampir 2 km, dari onta, kuda, domba, kambing berbaris dengan rapi), sebenarnya pertikaian antara kaum “PENGEMBALA” (JANJAWEED) dengan “PETANI” (Orang FUR/Darfur asli) sudah berlangsung ratusan tahun juga, karena memperebutkan lahan dan sumber air, nah permasalahan inilah yang dimanfaatkan oleh GOS untuk memerangi DARFUR….. dan dari beberapa tulisan di internet terbukti bahwa kompensasi JANJAWEED kalau berhasil menghadapi orang FUR dari GOS adalah setiap tanah/lahan yang berhasil mereka rebut dari pemberontak.

From FOTO DI SUDAN

Taktik GOS ternyata berhasil…. orang FUR tidak berdaya menghadapi JANJAWEED karena pada dasarnya mereka adalah petani dan tidak seperti JANJAWEED yang mobilitasnya tinggi, terbiasa berperang, atau setidak – tidaknya mengahadapi binatang buas atau pencuri ternak.

Maka terusirlah orang – orang FUR dari kampung halamannya sendiri….. (tercatat ada 2,5 juta orang IDP) dari negaranya sendiri, mereka rata – rata pergi ke dekat dari daerah perkotaan, karena di situ banyak bantuan dari NGO internasional, WFP yang menyediakan bahan pangan, air bersih buat mereka sehari – hari. Status mereka menjadi IDP dan dari lembaga – lembaga ini menyediakan KAMP penampungan IDP (IDP CAMP)… di Darfur sendiri terdapat puluhan IDP Camp, yang terbesar terdapat di NYALA dengan hampir 200 ribu IDP’s.

Namun permasalah IDP Camp ternyata bukan hanya memberikan bantuan makanan dan pendidikan, ada masalah lain yaitu ganguan keamanan bagi pengungsi itu sendiri….. tercatat banyak peristiwa perampokan disertai pemerkosaan terhadap para IDP, kelompok – kelompok ini tahu sekali bahwa kebanyakan yang berada di Camp adalah wanita dan anak – anak……. pihak AMIS (African Mission In Sudan, pasukan UNI AFRIKA dengan missi di Darfur) tidak berdaya menghadapi permasalahan keamanan ini…. hingga PBB turun tangan langsung dan mencanangkan HYBRID MISSION yaitu gabungan antara UNI AFRIKA dan PBB menangani suatu missi perdamaian, dengan istilah baru UNAMID (United Nations African Mission In Darfur). Dengan pembagian komponen Militer tetap pada UNI AFRIKA sedangkan Komponen sipil/polisi dari UN.

FPU yang akan disiapkan dari negara – negara kontributor akan bertugas : Menyelamatkan aset dan personil PBB dan Menjaga keamana pada IDP kamp, termasuk dalam rencananya FPU Indonesia akan ditugaskan di Nyala akan mengamankan IDP kamp terbesar itu (rasanya hampir mustahil juga….. 170 org FPU mengamankan 200 ribu orang), jadi di Nyala terdapat 5 IDP kamp dan yang menjadi prioritas ada 3 buah, dengan secara shift bergantian (setiap kamp ada posko tak tetap) dan posko induk di SUPERCAMP yang merupakan markas PBB di Nyala yang panjangnya 5 Km kali 10 Km termasuk lapangan terbangnya (nantinya seluruh komponen PBB ada di sana dari Administratif, RS, Kamp Tentara Uni Afrika, kamp FPU dll)

Nah… Bagi calon – calon FPU Indonesia…. sudah kebayang kan tugasnya ? Selamat berlatih dan berjuang

GBU

From FOTO DI SUDAN




Indonesia Siap Kirim Pasukan Ke Darfur

2 10 2007

Indonesia siap mengirimkan pasukan civilian police ke Darfur, Sudan, bila diminta oleh PBB. Demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda kepada wartawan, usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Menteri Muda Luar Negeri Perancis, Rama Yade, di Kantor Presiden, Kamis (20/9) petang.

“Selama ini dalam upaya menyelesaikan konflik di Darfur, memang ada penggelaran pasukan yang disiapkan oleh Uni Afrika atau negara-negara Afrika secara kolektif. Menggelar pasukan perdamaian di sana, tapi kelemahannya adalah bahwa Afrika tidak cukup memiliki dukungan logistik manajemen dan dana. Karena itu Dewan Keamanan mengusulkan apa yang disebut operasi gabungan, hybrid operation dengan harapan, kemampuan pasukan perdamaian di Darfur memadai dalam rangka memulihkan situasi disana. Tetapi dalam resolusi yang disahkan Dewan Keamanan beberapa minggu lalu. Prioritas diberikan kepada Afrika, dalam hal pasukan dari Afrika tidak cukup memadai jumlahnya, maka PBB meminta negara-negara termasuk Indonesia untuk ancang-ancang menyiapkan pasukan ke Darfur,” kata Menlu.

“Kita memang didekati oleh PBB untuk pertama mengirimkan civillian police dari Polri, bahkan pendekatan pendahuluan sudah ada dan Polri sudah mengirim 6 perwira untuk mencermati perkembangan situasi di lapangan untuk observasi. Berdasarkan laporan dari tim ini, pembicaraan lebih lanjut dengan markas besar PBB baru akan dipastikan penggelarannya. Ancar-ancar sekitar 150 personil civilian police, yang berkaitan dengan tentara kita juga dijajaki apakah Indonesia bersedia untuk memenuhi kebutuhan, dan dari kita diharapkan sekitar 1000 personil yang merupakan kombinasi dari unit – unit yang berbeda,” lanjut Menlu.

“Saya katakan ancang-ancang karena nampaknya dengan dukungan logistik dan dana dari PBB, jumlah pasukan dari Afrika cukup banyak. Dengan kata lain, bisa jadi pasukan dari negara-negara di luar Afrika tidak diperlukan. Kita siap saja, karena tidak kurang Sudan sendiri sudah sangat mengharapkan kalau Indonesia bisa kontribusi,” tambahnya.

Kebutuhannya pasukan di Darfur, dikatakan Menlu, sekitar 20.000 personil. “Karena itu nampaknya Afrika bisa memenuhi. Afrika memang organisasi sub regionalnya itu seperti bagian selatan ada 14 negara, punya alokasi mengerahkan satu brigade pasukan barat juga begitu, serta Afrika bagian timur. Jadi dalam hal ada malapetaka, keperluan penggelaran pasukan cukup mampu. Kelemahannya memang di logistik dan dana. Karena itu ketika dana ini dijamin pengadaannya oleh PBB, nampaknya mereka mampu,” kata Menlu.

Menlu menjelaskan bahwa yang meminta Indonesia ancang-ancang itu dari PBB karena ada unit pasukan perdamaian, termasuk jumlah angka yang dibutuhkan. Mengenai pemilihan civilian police, dikatakan Menlu bahwa pilihan itu lebih realistis sekarang ini untuk di Darfur. Mengenai waktu pastinya, Menlu mengatakan lebih cepat lebih baik. “Prinsipnya, karena konfliknya sudah lama, lebih cepat lebih baik, tapi kita harus hati-hati jangan cepat-cepat berkesimpulan kita akan mengirim. Prinsipnya kita sedia, tapi apakah diperlukan,” katanya.

————————-

Sebagai tambahan informasi, bahwa memang saat ini di Sudan terdapat 2 misi, yang pertama adalah AMIS (African union Mission in Sudan) , dengan wilayah operasi di Darfur (tidak di semua wilayah Sudan, walau HQ/Markas Besarnya bertempat di Khartoum), keberadaan mereka memang untuk menyelesaikan konflik di Darfur. walaupun hingga saat ini belum bisa terselesaikan karena berbagai faktor (politik, ekonomi, SARA, dll), wilayah Sudan lainnya juga bergolak yaitu antara Utara (Pemerintah Pusat Sudan) dengan Selatan (pemberontak SPLM/A).

Pada Januari 2005 telah ditandatangani perjanjian damai antara Utara-Selatan (Comprehensive Peace Agreement), kemudian kedua pihak (yang bersepakat) mengundang UN untuk mengawasi pelaksanaan CPA tsb, dengan dikeluarkannya UN Resolusi 1590 (Maret 2005). UN mulai dengan misi UNAMIS kemudian berubah menjadi UNMIS. Pada resolusi PBB tesebut tidak secara spesifik menyebutkan CPA ataupun mission area, tetapi menyebutkan diundang oleh Pemerintah Sudan. Itulan sebabnya keberadaan UNMIS saat ini juga menangani sedikit masalah Darfur, walaupun konsentrasi tugas pada wilayah Utara-Selatan.

Di Darfur, UNMIS hanya mengirimkan petugas sipil untuk Humanitarian Aids serta beberapa Police Advisor (yang bertugas temporary, tetapi homebase di Khartoum) untuk mendukung pelaksanaan ditribusi bantuan kemanusiaan tersebut. Masalah pengamanan diserahkan kepada AMIS. Kegiatan UNMIS di Darfur saat ini disebut sebagai Light Support Operation (LSP) bukan HSP (Heavy Support Package).

Kontribusi UN hanya memberikan bantuan kemanusiaan pada masalah pangan serta kesehatan tapi tidak infrastruktur, khususnya kepada pengungsi di IDP camps yang tersebar di beberapa daerah di Darfur. Setelah melalui beberapa kali pembicaraan antara UN dengan AU (African Union), maka disepakai untuk dilaksanakan UNAMID (United Nations-African Mission in Darfur) sebagai Hybrid Operation, serta telah dikeluarkan resolusi PBB 1769 untuk hal tersebut. Dalam Resolusi PBB disebutkan bahwa Hybrid Ops akan dimulai pada Oktober 2007, dengan peran bahwa AMIS bertanggungjawab terhadap para
combatan & ex-combatants (DDR process) sedangkan PBB akan melaksanakan Heavy Support Package dengan mengirimkan beberapa organisasi PBB (WFP, UNHCR, Human rights Commission, etc), serta menjaga stabilitas Kamtibmas (khususnya di IDP camps dan distribusi bantuan kemanusiaan) dengan mengirimkan Police Advisor dan Formed Police Unit (UN FPU). Indonesia sudah menyiapkan 1 FPU, dan telah dilaksanakan peninjauan lapangan ke 4 lokasi di Darfur pada 15-22 September 2007 lalu. Sesuai rencana bahwa FPU POLRI akan berangkat ke darfur pada akhir 2007 ini.

Mengenai misi UNMIS, selain 10 Milobs (Military Observer) dari TNI yang sudah berada disini, saat ini sudah berada 6 Perwira POLRI sebagai Police Advisor, direncanakan masa penugasan selama 1 tahun dan setelah itu akan dilakukan rotasi untuk menjaga kesinambungan keberadaan POLRI pada misi ini (UNMIS).

Berita terkini, Ary Laksmana Widjaya ditempatkan sebagai Chief of Strategic Analysis Cell, Reform & Restructuring Unit, UNMIS Police MHQ Khartoum Sudan, sedangkan 5 Perwira yang baru tiba bergabung, telah selesai melaksanakan Induction Training dan per 1 Oktober 2007, akan ditempatkan di beberapa tempat: AKBP Budi Santoso (R&R Unit UNMIS Police MHQ), AKBP Kumpul & Kompol Da Costa ( Kadugli Team Site, Sector North), Kompol Tommy Aria & AKP Endo P. (Sector Juba, South).

Mohon doa restu sukses mengemban misi dan keselamatan selama Kontingen FPU Garuda XXII-2 bertugas di Darfur Region, kami senantiasa berupaya memberikan dedikasi dan prestasi yang membanggakan bagi Indonesia, membawa harum citra bangsa dan terus mengibarkan gelora merah putih di forum multi-lateral sepertu United Nations Peacekeeping.

Tulisan saya di http://Pralangga.org





Survey ke Darfur, Sudan

25 09 2007


Menyambung tulisan saya terdahulu, pada awalnya saya kira krisis di Sudan terjadi karena pertikaian antar ras, memang betul itu dalam konteks UNMIS (United Nation Mission In Sudan) yang menengahi konflik antara daerah Sudan Utara dengan Selatan, yang jelas di sini lebih kental unsur Sara, dimulai ketika pemerintah Sudan Khortum menggunakan hukum syariah secara nasional, tentu saja tidak bisa diterima oleh penduduk Sudan selatan yang mayoritas keturunan afrika dan Non Muslim. Memang pusat pemerintahan Khortum didominasi oleh warga Sudan keturunan Arab, maka terjadilah perang sipil dari 1994 dan baru berakhir 2 tahun yang lalu, UN sebagai mediator telah menemukan kedua belah pihak Selatan dan Utara, dan mencpai kesepakatan antara lain : Presiden Sudan mempunyai 2 wakil presiden yaitu Wapres dari Utara dan Wapres Selatan, demikian juga untuk penegakan hukum : di wilayah selatan tidak terikat hukum Syariah, demikian juga untuk kepolisian : ada dua kepolisian di Sudan : Kepolisian Sudan Utara dan Sudan selatan, Semenjak ada kesepakatan itu konflik mereda, dan dalam perjanjian akan ada Referendum tahun 2010 untuk menentukan apakah Selatan akan melepaskan diri atau tidak.

Namun lain halnya dengan wilayah Darfur (asal kata dari suku utamanya Fur, artinya orang dari tanah Fur), permasalahannya lain lagi, kalau saya lihat permasalahan utamanya adalah kesenjangan antara pusat dan daerah, sudah lama sekali wilayah Darfur di marginalisasi oleh pemerintah pusa/GoS (Goverment Of Sudan), padahal penduduk darfur tahu benar di wilayah mereka ditemukan cadangan minyak yang sangat besar, makanya mereka melakukan pemberontakan, tapi kebijakan yang kurang pas dilakukan oleh pemerintah Sudan : mereka menggunakan milisi Arab yang disebut JANJAWEED (bhs arab: setan berkuda) untuk melawan pemberontakan, padahal milisi ini bukan penduduk asli Darfur kebanyakan dari perbatasan Libia dan hidup mengembara, mungkin mereka dijanjikan akan mendapat tanah di Darfur, hingga terjadi pengusiran besar – besaran warga Darfur dari tanah mereka (suku Fur beragama Muslim), dan celakanya mereka juga mengusir rekan mereka sesama keturunan Arab yang menetap di Darfur (misalnya dari suku Zaghawa), jadi perang ini malah menjadi perang Tribalisme, karena ada beberapa suku lainya yg direkrut pemerintah untuk melawan pemberontak (catatan: di Darfur ada 100 lebih suku). Gos praktis hanya menguasai daerah perkotaan.

Jadi bingung kan ? Saya saja bingung… dan inilah informasi awal yang didapat pada kegiatan survey ke missi selama 1 minggu, dari tanggal 14 sd 22 Sept yang lalu.





Sudan here we come……

5 09 2007

 

peta sudan

Tidak pernah terbayangkan pada suatu saat saya bisa menginjak benua Afrika, sampai suatu siang saya di telp oleh seseorang Kombes di Mabes Polri yang menunjuk saya sebagai Wakil komandan Kontingen Polisi Indonesia pada missi PBB di Sudan, memang sebulan yang lalu saya baru pulang dari pelatihan FORM POLICE UNIT di Vicenza Italy, konsep FPU adalah bentuk baru penugasan kepolisian internasional pada setiap penugasan misi perdamaian PBB. FPU adalah suatu unit kepolisian yang mempunyai kemampuan taktis dan teknis dalam menghadapi setiap situasi darurat di suatu negara yang terdapat konflik internal. Konsepnya lebih dekap dengan gerakan militer, artinya dalam suatu kesatuan utuh (setingkat kompi) menempati suatu barak, menguasai suatu wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, mempunyai mobilitas yang tinggi, siap menghadapi kontak senjata atau kriminal tingkat tinggi yang menggunakan senjata, yang jelas dari Indonesia telah dipersiapkan FPU dari Brimob. (tentu saja polisi umum tidak mempunyai kemampuan seperti ini), dan mungkin dari 140 orang calon FPU Indonesia, mungkin hanya saya yang berasal dari polisi umum.

Kontingen FPU Indonesia direncanakan akan berangkat bulan desember 2007, dan direncanakan akan bertugas selama 1 tahun. Problem utama di Sudan adalah adanya pertikaian di dalam negara mereka di bagian barat Sudan, tepatnya di Dharfur, konflik yang terjadi memang lebi ke SARA, antara masyarakat Dharfur yang berkulit hitam yang merasa ditinggalkan oleh pemerintah pusat Sudan yang mayoritas keturunan Arab, dalam menghadapi konflik dan pemberontakan ini pemerintah Sudan menggunakan Milisi JANJAWEED yang merupakan suku pengembara keturunan Arab. Tugas FPU nantinya adalah membuat kedua pihak ini untuk tidak saling menyerang.

Memang kesulitan yang pati akan dihadapi adalah kami masih meraba – raba tentang Sikon di tempat tugas kami nantinya, wajar karena kami merupakan kontingen FPU pertama dari Indonesia, sebelum ini memang sudah banyak anggota Polri yang pernah ikut missi PBB, seperti di Kamboja, Namibia dan Bosnia Hercegovina. (saya sendiri pernah ikut missi ke bosnia tahun 1997) tapi sangat berbeda dengan FPU, pada waktu itu kami semua merupakan bagian dari CIVPOL (Civilian Police), dalam tugasnya kami lebih individual, dan dicampur dengan CIVPOL dari negara lain dan dengan penempatan di wilayah tugas yang berpencar.

Ok, saya mengharapkan doa restu dari semua yang membaca blog ini, mudah – mudahan tugas ini  bisa berhasil dan bisa pulang dengan selamat.