Kesalahan Fatal Penanganan Terorisme: “Pembantaian Atlet Israel Pada Olympiade Munich 1972”

*Dalam tulisan ini saya menceritakan bagaimana kesalahan dalam penanganan terorisme oleh kepolisian Munich Jerman Barat yang berkibat fatal terbunuhnya semua sandera para atlet Israel dalam Olympiade Munich 1972 yang lebih dikenal dengan istilah “Black September”, hal ini adalah era dibentuknya pertama kali pasukan khusus anti teror Kepolisian Jerman GSG9 yang terkenal itu, belajar dari kesalahan ini.*

Pada tanggal 4 september 1972, kelompok radikal yang dikenal dengan kelompok “Black September” yang merupakan anggota terpilih dari sayap militer PLO (Palestinian Liberation Organisation) melancarkan aksi teror dengan sasaran perkampungan atlet Israel peserta Olimpiade Munich 1972. Mereka merancanakan untuk menculik atlet Israel sebagai jaminan tukar tawanan Palestina yang ditawan di Israel. Pukul 04.30 dini hari ketika para olahragawan ini tengah tertidur lelap, Jam 4.00 pagi, 8 anggota Black September memanjat pagar setinggi 1.8 meter.

Adalah pegulat Israel Yossef Gutfreund yang awalnya mendengar bunyi mencurigakan di apartemennya ketika ia memeriksanya ia mendapati pintu apartemennya berusaha dibuka sebelum akhirnya ia mulai berteriak memerintahkan teman-temannya yang lain untuk menyelamatkan diri mereka seraya mendorong tubuh kekarnya menahan laju pintu dari tekanan para anggota Black September. Dua orang atlet Israel berhasil meloloskan diri, sementara delapan lainnya memilih untuk bersembunyi. Seorang atlet angkat berat, Yossef Romano berusaha merebut senjata sang penyelusup, tragisnya ia lalu tertembak dan tewas seketika layaknya nasib Mosche Weinberg, pelatih gulat yang juga tewas saat hendak menyerang anggota penyelusup lainnya dengan pisau buah.

Setelah menawan sembilan atlet Israel pihak Black September menuntut dibebaskannya 234 tawanan Palestina dari penjara Israel dan dua pemimpin kelompok kiri Baader-Meinhoff dari penjara Jerman Barat dan rute aman menuju Mesir, namun untuk pembebasan tahanan Palestina, pemerintah Israel menolak mentah-mentah permintaan itu kecuali untuk rute aman tujuan Kairo yang disanggupi pihak Jerman.

Menteri Bavaria yang juga pengurus Perkampungan Olimpiade menawarkan diri sebagai ganti tetapi tawaran ditolak. Kanselir Jerman Barat Willy Brandt menghubungi Perdana Menteri Israel Golda Meir melalui telepon. Israel enggan memenuhi tuntutan tersebut. Jerman sendiri bersedia membebaskan pemimpin Baader-Meinhof, Ulrike Meinhof dan Andreas Baader.

*Dalam pembahasan ini akan dibahas kesalahan apa yang dilakukan dalam penanganan teroris*


Kesalahan Pertama

Kesalahan pertama yang mendasar adalah kesiapan kepolisian Jerman dalam menghadapi ancaman terorisme, mereka tidak terlatih dan tidak pernah dilatihkan dalam menangani skenario serangan terorisme dalam event sebesar Olimpiade, pihak penyelenggara Olimpiade menganggap pesta Olahraga ini akan aman – aman saja,  jadi mereka menempatkan petugas keamanan sekedarnya, terbukti para teroris “Black September” ini dapat melompati pagar perkampungan atlet tanpa diketahui pihak keamanan, sebenarnya kontingen Israel sempat protes mengenai “lemahnya” penjagaan pihak keamanan, namun tidak ditanggapi panitia penyelenggara.

Konstitusi Jerman pasca perang dunia II mengatakan bahwa militer tidak bisa membantu Kepolisian dalam “masa damai”,  jadi pada saat itu kepolisian Jerman bingung untuk menghadapi hal ini, untuk menangani teroris tidak mampu dan meminta bantuan Militer pun tidak bisa.

Karena Israel menolak untuk bernegoisasi dengan teroris, terutama untuk menyelamatkan para atlet, maka tidak ada pilihan lain bagi Kepala Kepolisian Munich Manfred Scheiber untuk melakukan “operasi pembebasan teroris”. Namun ternyata itu sangat fatal karena anggota kepolisian Munich tidak pernah dilatih untuk membebaskan sandera teroris dan memang tidak ada unit anti teror. Jadilah dibuatlah dengan “terpaksa” sebuah operasi yang dinamakan “Operasi Sunshine” sebagai jawaban dari aksi teroris tersebut.

Kesalahan Kedua

Penyerbu dari Kepolisian, terlihat secara "live TV" dan ditonton juga oleh pihak penyandera...
Penyerbu dari Kepolisian, terlihat secara "live TV" dan ditonton juga oleh pihak penyandera...

Setelah operasi itu dijalankan ditugaskanlah beberapa anggota Polisi untuk menyerbu kedalam kamar atlet Israel tempat mereka disandera, namun kembali ada kesalahan fatal, mereka tidak berkoordinasi dengan media terutama televisi, operasi ini diliput secara “live” oleh televisi, nah…. masalahnya para teroris melihat langsung dari TV upaya penyerbuan tersebut …. gawat kan ?  Nah begitu pihak kepolisian sadar bahwa upaya penyerbuan telah diketahui melalui “live TV” oleh penyandera, maka segera mereka membatalkan penyerbuan, daripada timbul korban dari Polisi…

Akhirnya  karena tidak bisa dilakukan “penyerbuan” maka kepala Kepolisan Munich melakukan plan “B” dengan membawa para penyadera dan tawanannya menggunakan helikopter menuju ke Bandara Furstenfeldbruck menuju Jet 727 yang menunggu.

Rencananya Polisi hendak menjebak komplotan tersebut di Bandara Furstenfeldbruck.  Di bandara inilah komplotan tersebut minta disiapkan sebuah pesawat yang akan menerbangkan mereka ke Kairo, Mesir.  Jet Palsu pun disiapkan dengan 6 personil polisi yang disamarkan sebagai kru pesawat dan dengan mengerahkan Sniper, pihak Kepolisian mendapat informasi dari pengamatan pelaku teroris berjumlah 5 orang dengan tawanan 8 orang.  Di lapangan udara telah disetting lokasi pendaratan Helikopter, 3 sniper ditempatkan di depan helikopter pada atas gedung dan 2 orang sniper ditempatkan dibelakang helikopter di bersembunyi di belakang sebuah truk dan satu lagi dibalik sebuah gundukan.  Rencananya 2 orang dari teroris akan naik ke Pesawat  dan pada saat itulah polisi yang menyamar menjadi crew pesawat akan “melumpuhkan”  teroris tersebut, pada saat penembakan diatas pesawat tersebut akan menjadi “kode” bagi Sniper untuk memulai tembakan mematikan teroris yang berada di helikopter.

Rencana penempatan anggota Polisi di bandara.
Rencana semula penempatan anggota Polisi di bandara.

Kesalahan ketiga

Pada pengangkutan teroris melalui helikopter dari perkampungan Atlet menuju Bandara, barulah diketahui polisi bahwa teroris bukan 5 orang melainkan 8 orang. Hal inilah yang membuat berantakan rencana pembebasan sandera, namun ada yang lebih fatal lagi, ternyata tidak ada komunikasi diantara polisi yang berada di bandara, mereka sama sekali tidak di lengkapi dengan radio komunikasi …. makin banyak saja kesalahannya kan ?

Kesalahan Keempat

Ternyata pilot helikopter tidak di “brief” terlebih dahulu tempat pendaratan di Bandara, jadi mereka mendarat meleset jauh dari rencana semula. Para petugas Sniper menjadi kesulitan lagi untuk melakukan penembakan tepat sasaran, karena sekarang mereka posisinya sejajar dengan rekan mereka yang bersembunyi di belakang helikopter.

Kesalahan Kelima

Para crew  anggota polisi yang berada di pesawat ternyata meninggalkan pesawat sebelum helikopter datang, mereka ternyata “tidak mampu” melaksanakan missi ini, dan memilih  “mengundurkan diri” dengan membatalkan missi secara sepihak, suatu gambaran ketidakprofesionalan mereka, *Hal inilah yang menurut saya paling bodoh* Nah masalahnya mereka meninggalkan pesawat tanpa berkomunikasi dulu dengan anggota lain di bandara, karena memang tidak dilengkapi radio komunikasi.

Kesalahan Keenam

Pada saat 2 orang teroris turun dari helikopter dan mengecek kedalam pesawat, mereka mendapati pesawat telah kosong, lalu mereka kembali berlari menuju helikopter, Salah satu sniper yang berada di belakang Helikopter melihat mereka berlari kemudian melepaskan tembakan, bagi Sniper yang berada diatas gedung dipikir itu adalah kode tembakan dari dalam pesawat bahwa 2 teroris itu dilumpuhkan, malah terjadi tembak menembak antara mereka, para tawanan yang ada di dalam Helikopter di lempar Granat oleh penyandera dan mereka semua tewas… Drama penyanderaan 21 jam itupun berakhir . Sebelas atlet Israel, lima anggota Black September dan seorang polisi Jerman Barat tewas, sedangkan 3 sisa anggota Black September tertangkap.

Inilah foto setelah kejadian, helikopter terbakar
Inilah foto setelah kejadian, helikopter terbakar

Kesimpulan

Penanganan aksi terorisme sama sekali tidak terkoordinasi dengan baik, Kepolisian Munich kurang tanggap dengan keamanan para atlet terbukti tidak pernah ada latihan/ skenario penanganan terorisme, mereka tidak memprediksi akan terjadi aksi terorisme dalam Olimpiade tersebut.

Jadi jelas terlihat bagaimana kacaunya penanganan pembebasan Teroris, yang tidak terencana, yang akibatnya bisa fatal sekali …… Semua 11 sandera tewas.  Dan ini merupakan pukulan telak yang memalukan bagi pemerintah Jerman Barat.

Baru setelah peristiwa memalukan ini pemerintah Jerman mendirikan satuan anti teroris GSG9 yang Indonesia juga belajar dari mereka, dengan dikirimnya perwira muda Prabowo Subianto.

Melihat cerita ini Indonesia ngga malu – maluin dalam penanganan teroris kan ?  Saluuut… 🙂

Metoda Serangan Teroris Terbaru, “Urban War But Still Suicide Mission”

*Sudah lama nih ngga update blog, mohon maaf banyak persoalan  mengganggu aktifitas, tapi kalau kita terlalu berkutat masalah itu…. capyee deeh ngga akan maju … so, inilah tulisan baru saya :)*

Terdapat berbagai varian penyerangan teroris menyerang berbagai target yang dianggap “musuh” kelompok teroris tertentu, dalam hal ini kita tegaskan kembali kelompok tersebut merupakan kelompok Islam garis keras yang berafiliasi kepada Al Qaeda, cara – cara mereka sangat luar biasa, dan kebanyakan menggunakan “suicide mission” atau misi bunuh diri, kenapa mereka menggunakan metoda ini ? tentunya kelompok ini ingin mencapai hasil yang sangat optimal dengan mencapai kedalam pusat lingkungan target….

Metode mereka selalu baru, berkembang, sebangun dengan perkembangan pencegahan teror bom bunuh diri dari aparat penegak keamanan, dan sudah pernah saya bahas di tulisan saya ini, Bagaimana cara mereka berkembang ? saya ambil contohnya:  Pengamanan keamanan Hotel Jw Marriot yang sudah sangat diperketat pasca peristiwa bom mobil yang meluluh lantakkan hotel tersebut pada tanggal 5 agustus 2003, tentunya  kelompok teroris mempelajari “kelemahan” security hotel tersebut dan berhasil “meledakkan” kembali hotel tersebut pada tanggal 17 Juli 2009, hal apa yang mereka buat untuk “mengelabui” ketatnya security hotel JW Marriot ? salah satunya dengan memasukkan Ibrahim menjadi karyawan toko bunga yang ada di dalam hotel, 2 tahun sebelum aksi, mereka juga memanfaatkan kelengahan petugas (karena sudah merasa kenal dengan Ibrahim) untuk memasukkan bahan – bahan bom kedalam hotel, sedangkan kita tahu juga “sang penganten” (pelaku bom bunuh diri) bebas masuk ke dalam hotel, memesan kamar tanpa dicurigai .

Demikian juga dalam skala yang lebih besar, selalu saja pihak keamanan menemukan cara yang lebih teliti untuk mencegah serangan teroris tersebut, seiring dengan itu pihak teroris selalu berusaha menemukan “bolong” nya sistem keamanan tersebut…. inilah yang terjadi di Mumbai India pada tanggal 26 sampai 29 November 2008, para teroris menemukan metode baru untuk membuat “teror” yang lebih menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat *Pada hatekadnya aksi teror dari teroris adalah membuat rasa takut dan kepanikan yang luar biasa dari masyarakat sehingga berdampak politis yang menguntungkan tujuan politis mereka* … Kelompok teroris Laskar-e-Taiba yang berasal dari Pakistan melakukan serangan bunuh diri terhadap kota Mumbai.

Menurut saya pribadi, serangan teroris ini merupakan jawaban atas semakin diperketatnya keamanan dalam negeri India atas serangan teror bom yang sering dilakukan, biasanya kelompok teroris melakukan pemboman terhadap kereta api dan stasiunnya, dimana metode transportasi umum ini paling diminati oleh sebagian besar penduduk India.. Kelompok teroris ini mempunyai rencana orisinal yang tidak didapat dengan hanya membawa bomb ransel maupun bom mobil:
1. Membuat suatu “teror” yang rumit, yang membawa dampak kepanikan yang luar biasa dari penduduk, tentunya diliput Media massa sehingga tersiar ke seluruh dunia dan  “gaung” nya mendunia.
2. Membuat teror dengan cakupan wilayah yang cukup luas.
3. Target Warga negara Asing juga termasuk.

Berdasarkan pertimbangan mereka cara – cara “konvensional” berupa serangan bunuh diri menggunakan bom ransel dan bom mobil ternyata sudah makin susah dilakukan dan kurang memberikan “dampak” yang luar biasa, maka mereka menemukan cara yang lebih gampang yaitu serangan bunuh diri menggunakan cara “perang kota” (urban war), sasaran mereka adalah membunuh  “semua orang” yang ada di depan mereka ….

Persiapan Serangan

Laskar E Taiba melakukan perekrutan secara ketat dan terpilihlah 10 orang anak muda yang mempunyai kelebihan secara fisik dan intelegensia, mereka mempunyai safehouse di Azizabad dekat kota Karachi, dan mereka dilatih cara militer, menggunakan senjata (AK 47 dan granat), latihan perang kota dan yang lebih penting mereka dilatih mengenali daerah sasaran, sehingga pada waktu serangan mereka tahu persis dimana mereka bisa sembunyi dan bertahan apabila ada serangan balasan, mereka mempelajari wilayah serangan berdasarkan gambar dari “google earth” … dan hapal luar kepala daerah target sasaran … hebat kan ? saya jadi ingat bagaimana teroris mempelajari pesawat pada saat serangan 9/11 …

Ajmal Kasab, satu satunya teroris yang masih hidup, tertangkap pd serangan di Stasiun Kereta Chapati
Ajmal Kasab, satu satunya teroris yg masih hidup, tertangkap pd serangan di Stasiun Kereta Chhatrapati Shivaji

Serangan Teroris Mumbai

Serangan ini dimulai tanggal 26 sd 29 November 2008, ketika 10 orang teroris dari Laskar E Taiba dari Pakistan membajak kapal penangkap ikan milik nelayan India, kemudian mereka merapatkan diri di Mumbai yang memang kota semenanjung di pinggir laut, kemudian mereka menyebar tiap 2 orang ke masing masing target (jadi total ada 5 target), dalam target sasaran mereka adalah yang utama adalah orang asing atau siapapun yang ada didepan mereka dihantam dengan rentetan peluru AK-47.

 5 sasaran Target  @2 orang teroris
5 sasaran Target @2 orang teroris

inilah sasaran mereka:
1. Stasiun Kereta Chhatrapati Shivaji (diserang oleh 2 orang termasuk yang tertangkap hidup Ajmal Kasab) menewaskan 58 orang dan melukai 104 orang, lalu dua orang ini bergerak menuju Rumah Sakit Cama untuk membunuh semua orang yang terbaring sakit (sadiss banget euy) namun keburu dilumpuhkan oleh pasukan anti teror Polisi India.

2. Leopold Cafe diserang juga oleh 2 orang kelompok teroris itu, mereka membantai para pengunjung Cafe dan mengakibatkan tewas 10 orang termasuk orang asing.

3. Taj Mahal Hotel dan Oberoi Trident Hotel diserang oleh masing – masing 2 orang teroris, mereka menyandera para pengunjung hotel dan menembakinya.  Teroris dapat dilumpuhkan oleh pasukan komando India.

4. Nariman House, tempat sinagog agama Yahudi di Mumbai juga diserang 2 orang teroris, mereka menyandera dan membunuh Rabbi yang bekerja di Nariman House. Teroris juga dapat dilumpuhkan.

Pada tanggal 29 November 2010 serangan berakhir,  dari 10 teroris berhasil dilumpuhkan dengan 9 orang tewas tertembak dan 1 orang tertangkap. Namun total korban tewas sangat banyak yaitu 173 orang (termasuk petugas keamanan) dan melukai 308 orang, diantara yang tewas terdapat 28 orang asing dari 10 negara. Kenapa 10 orang ini sangat kuat 3 hari 3 malam terus menyerang tanpa lelah ? Ternyata hasil otopsi mereka mengkonsumsi cocaine dan amphetamine untuk tetap “kuat”, Serangan teroris ini cukup sukses bukan ?

Cara serangan teroris ini akan juga terjadi di Indonesia ?

Jawabannya :  Ya… Serangan Teroris di Mumbai sangat menginspirasi para kelompok teroris di seluruh dunia terutama yang mempunyai link dengan Al Qaeda,  termasuk di Indonesia… Tahukah beberapa waktu yang lalu terungkap ada pelatihan teroris di daerah Jento Aceh ? Ternyata peserta pelatihan sudah dipersiapkan untuk melakukan aksi “urban war” menyerang berbagai target spesifik yang berdampak luas dan berencana melakukan pembunuhan terhadap pejabat tinggi negara.

Jadi … waspadalah … waspadalah .. jangan sampai negara kita menjadi sasaran lagi oleh kelompok teroris dengan metode serangan terbarunya.. bisa kacau kita …


Indonesia Sebagai Watchdog Dalam Prespektif Keamanan Australia ?

Apa sih maksud tulisan saya ?  Logikanya sederhana saja…. Andaikan kita tinggal di suatu lingkungan, tentunya kita tidak ingin pencuri masuk ke rumah kita, lebih baik kita mencegahnya sewaktu masuk ke halaman kita, namun lebih baik lagi apabila mencegahnya di rumah tetangga, sebelum sejengkalpun melangkah ke pekarangan kita… menggunakan “watchdog” dari tetangga… Demikian juga negara Australia, mereka pasti berhitung tentang “ancaman nyata” yang bakal mengganggu keamanan dalam negeri mereka, dan ancaman itu berasal dari utara: Asia… seperti juga Indonesia….

Watchdog
Watchdog

Untuk mencapai hal tersebut pemerintah Australia tentunya beng rupaya “menyeret” Indonesia dalam suatu kerjasama yang “menguntungkan kedua belah pihak”, banyak bantuan berupa dana, perlengkapan dan bantuan teknis lainnya digelontorkan kepada pihak keamanan (juga polisi) Indonesia, seperti membiayai peralatan, pendidikan, dan bantuan teknis lainnya terhadap pihak keamanan Indonesia, contoh lainnya adalah mulusnya perjanjian Extradisi antar dua negara…Bandingkan dengan Singapura yang sampai sekarang belum kan ? …

Saya mencatat ada 3 (tiga) hal yang menjadi “concern” pemerintah Australia sebagai faktor pengganggu keamanan dalam negeri yang “patut’ dicegah (di Indonesia) sebelum masuk sejengkalpun dari teritorial mereka.

  1. Terorisme: Hal ini tidak perlu dijelaskan lagi, warga negara Australia pernah menjadi korban yang paling banyak dalam bom bali tahun 2002, yang terjadi di pintu gerbang mereka, Indonesia… Dengan hal ini mereka akan berupaya sekeras mungkin mencegah terorisme masuk ke Australia, dan kalau perlu bibitnya sudah dihancurkan di Indonesia…saya yakin sekali banyak agen rahasia Australia bekerja di Indonesia untuk melihat “potencial thread” dari terorime Internasional yang berupa “bantuan uang”, “personil” maupun senjata atau bom yang berupaya masuk ke Australia dari Indonesia. Hal ini diperkuat dengan dikeluarkannya The Australian Anti-Terrorism Act 2005 sebagai dasar legal bagi pencegahan terorisme.
  2. Narkoba: Patut diakui Indonesia adalah perlintasan narkoba menuju ke Australia, makanya aparat keamanan Australia sangat berkepentingan untuk mencegahnya selama masih di Indonesia….. kalau hal ini sih sudah sangat terbukti contoh Kasus Bali Nine, yaitu 9 terdakwa kejahatan Narkoba asal Australia yang tertangkap ketika hendak menyelundupkan 8 Kg Heroin ke Australia dan mereka diadili di Bali Indonesia, hal itu tidak terlepas dari kerjasama kepolisian Indonesia dan Australia…. namun hal ini mendapat kritikan sangat keras dari masyarakat Australia, karena ternyata beberapa dari terdakwa mendapat hukuman mati hal  ini bertentangan dengan konstitusi mereka yang melarang hukuman mati atau menyerahkan tersangka ke negara lain yang memungkinkan warga negara Australia dihukum mati…. pusing ngga ?
  3. Asyluym Seeker/Imigran Gelap: Negara Australia saat ini menjadi destinasi favorit bagi Asylum Seeker (pencari suaka) dan Imigran Gelap untuk mencari penghidupan yang lebih baik….  dan sialnya Indonesia menjadi “sasaran antara” para pencari suaka dan imigran gelap untuk memasuki Australia, kebanyakan mereka berasal dari negara yang sedang bergejolak seperti Irak, Iran, Afganistan, hingga suku Rohingga di Bangladesh….mereka biasanya menggunakan perahu untuk menembus pantai Australia dari wilayah terdekat Australia seperti NTB dan NTT….. Warga negara australia kurang berkenan apabila negara mereka “dibanjiri” oleh imigran gelap dan pencari suaka… hal ini juga didukung oleh Parlemen dan Pemerintah Australia, atas dasar itu mereka memberikan bantuan dana yang besar untuk operasi penangkapan pencari Suaka dan imigran gelap kepada pihak imigrasi, kepolisian dan pihak  lainnya di Indonesia untuk sedapat mungkin mencegah mereka masuk ke Australia.

Nah sekarang pertanyaannya menyangkut kedaulatan dalam negeri kita,  apakah mau kita seperti ini ?  Wajarkah ? …. kembali saya lemparkan kepada para pembaca… 😛

Identifikasi Mayat Pelaku Teroris

Beberapa waktu yang lalu pemberitaan di Media Pers di Indonesia diramaikan dengan penyergapan para pelaku teroris oleh Densus 88 yang berujung pada terbunuhnya para pelaku teroris, sebut saja dari awalnya penggerebekan di Temanggung pada tanggal 8 Agustus 2009 yang mengakibatkan Ibrohim “the florist” terbunuh, tak beberapa lama kemudian pada tanggal 17 September di Jebres Solo yang mengakibatkan meninggalnya Teroris yang paling dicari yaitu Noordin M Top beserta pengikutnya yaitu Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Aji alias Ario Sudarsono dan Adib Susilo, dan terakhir di Ciputat pada tanggal 9 Oktober 2009 yang mengakibatkan tewasnya Syaifudin Zuhri dan Muhamad Syahrir … ada satu hal yang membuat penasaran banyak orang … kenapa proses identifikasi memakan waktu lama sekali, bahkan sudah kasat mata terlihat atau sudah identik sidik jari mayat dengan pembanding masih saja diperlukan test yang lebih lanjut yaitu test DNA.

courtesy www.cartoonstock.com
courtesy http://www.cartoonstock.com

Alasan yang paling logic adalah mengindari “Error in Persona” atau “salah orang”, hal ini sangat penting dalam institusi yang bertugas di Bidang Hukum seperti Polisi, Jaksa dan Hakim karena setiap pekerjaan di institusi ini dipayungi oleh Hukum, termasuk “apabila terpaksa” membunuh tersangka (dan sanksi hukum pula apabila salah dalam tindakan yang dilakukan)  Terlihat jelas dalam setiap statement yang yang di keluarkan oleh Kapolri maupun Kadiv Humas Polri, mereka tidak akan mengumumkan apabila “siapa” tokoh teroris yang terbunuh belum jelas ….

Berikut ini cara Polisi melakukan identifikasi terhadap mayat, bukan hanya terhadap pelaku teroris tapi terhadap setiap kematian yang tidak wajar seperti kecelakaan, pembunuhan dan lain sebagainya :

1. Identifikasi dengan membandingkan foto : Hal ini dilakukan oleh petugas dengan melihat korban secara fisik membandingkan raut muka dengan foto pembanding, namun cara ini kurang akurat .

2. Identifikasi dengan melihat identitas korban : Petugas bisa mencari data identitas yang didapat dari korban, misalnya KTP atau SIM, namun cara ini juga kurang akurat karena diketahui banyak juga beredar identitas palsu, dan juga akan tidak efektif apabila korban dalam keadaan terbakar sehingga kartu identitas juga terbakar.

3. Identifikasi melalui saksi atau orang yang kenal korban ( Metode Visual): Metode ini yang paling Lazim dilakukan, mereka para saksi biasanya orang terdekat seperti istri/suami, anak, ayah/ibu, mereka bisa mengidentifikasi dengan pengenalan wajah, atau menunjukkan ciri – ciri lahir seperti tahi lalat, bekas luka yang mereka kenal, walaupun cara ini lazim dilakukan tapi tidak sepenuhnya akurat, karena perubahan phisik seseorang bisa sangat berbeda, apalagi apabila dari saksi sudah lama tidak berhubungan, atau akan makin sulit lagi apabila mayat ditemukan tidak dalam keadaan sempurna seperti terbakar, korban mutilasi atau bahkan tinggal tulang belulang.

4. Identifikasi dengan mengenali barang milik Korban: Hal ini juga harus menggunakan saksi untuk mengenali barang yang digunakan, cara ini cukup efektif apabila Mayat Korban tidak utuh lagi dan sulit dikenali, mereka bisa mengenali korban dari benda yang biasa dipakai korban seperti Pakaian, cincin, kalung atau Gelang, walaupun benda itu dikenali namun metode ini juga masih banyak kelemahannya masih diperlukan metode lain yang lebih akurat untuk memastikan.

5. Identifikasi menggunakan gigi (Dental Forensic): Perlu diketahui setiap manusia mempunyai pola yang spesifik di giginya, setiap orang kan pernah copot giginya, bolong dan ditambal, atau bertumpukan. Apabila sesorang pernah pergi kedokter gigi biasanya akan ada identifikasi gigi ini di kartu pasien sebelum dilakukan penanganan oleh Dokter, data ini disebut Odontogram, nah data Odontogram tersebut yang digunakan dalam proses identifikasi mayat, dengan membandingkan jumlah gigi, bentuk gigi, susunan, tambalan, protesa gigi antara Mayat dan Data Odontogram dengan cara pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi dan rahang, metode ini sangat efektif apabila kondisi mayat dalam keadaan tidak utuh atau terbakar.

6. Identifikasi Sidik Jari : Bisa dikatakan metode ini mendekati sempurna, karena diketahui setiap Manusia tidak ada yang sama sidik jarinya walaupun dia terlahir kembar identik sekalipun, lumrah dalam setiap pengurusan administrasi pengambilan sidik jari dilakukan, seperti dalam membuat Surat Kelakuan Baik, sidik jari ini kemudian dimasukkan ke dalam kartu dan disimpan di kantor polisi, nah data inilah yang digunakan sebagai pembanding apabila ditemukan korban, identifikasi dilakukan dengan cara menyocokkan 14 titik yang sama dari sidik jari pembanding dan yang ada di mayat. Cara identifikasi ini sangat akurat namun ada kelemahannya yaitu ketika sidik jari korban sudah rusak biasanya pada mayat yang tenggelam atau terbakar.

7. Identifikasi DNA: Metode ini diyakini adalah metode paling akurat dalam identifikasi, dan keunggulan Identififikasi dengan cara ini adalah proses Identifikasi dapat dilaksanakan dengan kondisi apapun mayat, bahkan kondisi korban tinggal tulang belulang. DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid), adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Ilmuwan forensik dapat menggunakan DNA yang terletak dalam darah, semen, kulit, liur atau rambut yang tersisa di tempat kejadian kejahatan untuk mengidentifikasi kemungkinan tersangka, sebuah proses yang disebut fingerprinting genetika atau pemrofilan DNA (DNA profiling). Diketahui setiap hubungan darah mempunyai kemiripan dalam struktur DNA nya, jadi pembanding untuk identifikasi paling sering adalah anak atau saudara kandung. Dalam metoda terbaru identifikasi DNA diketahu waktu paling cepat adalah 24 jam untuk mengetahui hasilnya.

Dari beberapa medota tersebut diatas biasanya dilakukan secara berjenjang dari indentifikasi phisik sampai indentifikasi DNA, khusus dalam identifikasi mayat teroris digunakan cara yang paling akurat, kenapa ? hal ini digunakan menambah kepercayaan masyarakat atas tugas polisi, karena tanpa hasil yang terbaik bukan tidak mungkin hasil kerja polisi akan sia sia, bisa saja beredar isyu bahwa tokoh teroris itu sebenarnya orang lain, dan jangan sampai terjadi “error in persona” bisa hancur reputasi Polri kalau hal ini terjadi.

Khusus dalam identifikasi korban kecelakaan massal atau bahasa internasionalnya Disaster Victim Identification seperti contoh korban bom bali, kecelakaan pesawat atau gempa di Padang belakangan ini karena menyangkut aspek waktu dan kepraktisan, maka apabila identifikasi visual oleh keluarga korban sudah bisa, tidak dilanjutkan dengan metode lain.

Demikian sekilas share pengetahuan dari saya … mudah mudahan berguna.

Noordin M Top, From Hero to Zero…

Tidak banyak komentar yang saya akan tulis dalam tulisan ini, hanya ucapan selamat kepada Polri cq Densus 88 yang telah menamatkan perjalanan sang pahlawan kembali ke titik nol …. (From Hero to Zero)

When he was a Hero
When he was a Hero

Kematian membuat engkau menjadi nol lagi, tidak seperti sewaktu dikau hidup sewaktu menjadi pahlawan …

From Hero to Zero
From Hero to Zero

Jangan ada lagi Noordin lain,  mari kita kembali membangun negara tercinta ini  bebas dari paham radikal yang justru membunuh kita …

WAJAH BARU TERORIS DI INDONESIA

Tulisan ini sekedar menghubungkan peristiwa terorisme yang terjadi belakangan ini berdasarkan apa yang saya lihat dalam media pers baik televisi atau media cetak, teroris yang saya maksud adalah teroris yang berafiliasi dengan Noordin M Top, mudah mudahan nyambung ….. 🙂

Saifudin Jailani .... Sang Maestro perekrut pelaku bom bunuh diri ...
Saifudin Jailani .... Sang Maestro perekrut pelaku bom bunuh diri ... Foto dari detik.com

Teroris di Indonesia memang telah bertransformasi dengan bentuk dan metode baru dalam menyebarkan teror…. hal itu wajar dalam setiap perbuatan manusia  selalu belajar dari hal yang pernah dikerjakannnya, melakukan trial and error, apa yang bagus diteruskan dan tidak baik ditinggalkan….

Kalau kita melihat peristiwa teror bom pada tanggal 17 Juli di JW Marriot dan Ritz Carlton, saya melihat bahwa cara dan metode mereka melakukan aksinya berbeda dengan teror bomb sebelumnya seperti:  Bali 1, Bali 2 , Kedutaan Australia dan beberapa aksi teror bom lainnya, antara lain :

1. Infiltrasi Agen : Hal ini yang sangat mengagumkan, seperti kita tahu bahwa Ibrohim alias Boim pekerja penata bunga di Hotel JW Marriot, telah disusupkan ke hotel ini 2 (dua) tahun sebelum peristiwa bomb terjadi, kenapa begitu lama ? kalau menurut saya ia disisipkan demikian lama untuk mengenal jengkal demi jengkal targetnya,  kemudian membangun hubungan emosional dengan pekerja lain, sehingga pada saat ia “menyelundupkan” bom ke dalam Hotel tidak melalui pemeriksaan yang ketat atau bahkan tidak diperiksa, bahkan ia bisa memberi akses kepada orang lain si pelaku bom bunuh diri untuk masuk dan mempelajari situasi ….. cerdik bukan ? dan tidak heran pelaksanaan aksi teror bomb “almost perfect” dan jadilah Boim sebagai “jendral lapangan” pengendali aksi ….

2. Rekrutment: Telah terjadi juga perubahan yang sangat berbeda, kelompok teroris ini ternyata menggunakan pemuda yang sangat belia sebagai pelaku bom bunuh diri,  secara psikologis memang usia ini masih sangat labil, sehingga gampang dimasuki suatu pemahaman yang radikal yang menganjurkan mereka untuk mengorbankan dirinya…. Ditambah lagi dimasuki seorang yang sangat mengusasai tentang pemahaman tersebut Saifudin Jailani seorang sarjana cemerlang lulusan Yaman. Kenapa mereka berbuat ini ? Menurut saya kembali ke masalah efisiensi, mereka bisa merekrut banyak orang dalam waktu singkat, dan menjadikan mereka pasukan Martir, berbeda hal nya mereka mengambil calon dari pesantren atau akademisi yang lebih “berisi” pemahamannya… tingkat kegagalan ? pasti tinggi kan ? mereka pasti lebih banyak “berdebat”  ketimbang memberi pengertian kepada mereka yang masih “hijau”  …

3. Target Sasaran: Ada perubahan jenis target, pada aksi berikutnya walaupun keburu digagalkan oleh Densus 88, mereka mengincar Pemerintahan atau Kepala Negara yaitu Presiden… Selama ini kita mengenal kelompok ini selalu mentargetkan Amerika Serikat dan Sekutunya negara barat lainnya berikut kepentingannya, namun sekarang mereka menargetkan juga Presiden, Istana Presiden dan Lambang negara lainnya, kenapa hal ini terjadi ? Menurut saya bisa banyak hal, terungkap dari media yang saya baca, mereka merasa dendam atas dieksekusinya ketiga rekan mereka Amrozi Cs,  ada hal lain yang bisa saya lihat … mungkin juga sebagai ungkapan frustasi kelompok ini karena ternyata sangat sulit mewujudkan cita cita mereka dan cara yang paling efektif menurut mereka adalah membunuh kepala negara, yang jelas mereka belajar dari Pembunuhan  Rajif Gandhi, Anwar Sadat  dan Hariri… Mereka ingin menimbulkan chaos dan kepanikan dari masyarakat dan memanfaatkan situasi kekosongan kekuasaan seandainya aksi pembunuhan ini berhasil dan yang lebih penting menyampaikan pesan bahwa mereka telah membunuh kepala negara “sekuler” yang tidak sesuai dengan tujuan dan cita cita mereka.

4. Pola Waktu Eksekusi: Terungkap dalam penjelasan Kapolri kepada pers bahwa kalau tidak tertangkap duluan mereka akan melaksanakan aksinya lagi 14 hari setelah peristiwa pertama, dan akan dilakukan aksi lain dengan waktu yang berdekatan. Kalau kita melihat peristiwa sebelumnya, peristiwa bom Bali 1 , 2 , Bom Kedutaan Australia dan Bom Kuningan jarak peristiwa satu dan lainnya bisa bulanan hingga tahunan, tapi dalam aksi yang terbaru mereka merencanakan aksi terus menerus dan tanpa henti dalam jarak waktu hanya dalam hitungan hari, hal ini terindikasi dengan besarnya persediaan bahan peledak dan terungkapnya banyak calon pelaku bom bunuh diri dikabarkan Saifudin Jailani telah merekrut 15 orang yang siap melaksanakan aksinya, kenapa hal ini terjadi ? Menurut pendapat saya hal ini merupakan trend baru aksi teror, seperti yang terjadi di serangan di kota Mumbai dan aksi teror masif di Pakistan, mereka ingin menjadikan Indonesia sebagai “area perang” yang nyata… pola perjuangan mereka menjadi “urban war” atau perang kota…. yang pastinya akan menimbulkan kepanikan masyarakat yang luar biasa…tentunya untuk percepatan pencapaian tujuan mereka…

Kesimpulan

Memang masih banyak lagi “perbedaan”  yang bisa saya lihat, tapi menurut saya sifatnya sangat teknis kepolisian …. Memang kelompok teroris adalah kelompok yang sangat cepat bertransformasi dan beradaptasi dengan cara dan metode baru, hal ini wajar karena kelompok ini selalu diburu dan hal ini adalah cara mereka untuk tetap survive dan eksis…. Mudah mudahan tulisan saya sedikit memberi pemikiran kepada kita semua, bagaimana cara yang paling efektif untuk melawan aksi teror dengan wajah baru mereka…. sudah dapat metodanya ? jangan khawatir mereka pasti menemukan cara yang lebih baru ….

Saya sih berharap keberuntungan tidak akan pernah berpihak kepada mereka … NO PLACE FOR TERRORISM  !

Indonesia Unite

Indonesia bersatu melawan terorisme
Indonesia bersatu melawan terorisme
Jangan takut dengan teroris, theyre suck and coward... bloody hell for you !!!
Jangan takut dengan teroris, they're suck and coward......bloody hell for you !!!

Posting ini menghimbau bagi anda untuk bergabung dengan kami untuk tidak takut lagi atas ancaman teroris, mari kita bersatu padu untuk melawan teroris, tidak perlu repot-repot….. cukup tanamkan dalam hati untuk TIDAK setuju dengan segala aksi teroris … itu saja sudah cukup membantu … JANGAN JADIKAN NEGARA KITA LADANG SUBUR BAGI TERORISME…….

Bagi anda pengguna Twitter bisa bergabung di #indonesiaunited atau klik : Indonesian United , bagi yang ingin bersimpati di Forum Kaskus klik disini

Jayalah Indonesia….. !!!!

Memahami Pesan Bomb di JW Marriot dan Ritz Carlton

OMG … saya mendapat sms tentang bomb ini hanya 3 menit setelah meledaknya bomb ini, bahkan di tv pun belum ada berita tentang peristiwa ini …. di Metro TV yang pertama mensinyalir bahwa ada sebuah ledakan … bahkan mereka awalnya menconfirm adanya bom berasal dari genset yang meledak. Begitu saya mendengar ada 2 buah ledakan dari tempat yang hampir berdekatan, saya langsung berkesimpulan: “mmmhhh that is afirmative a terrorist act ….!”

Ritz Carlton Hotel... riwayatmu kelam ...
Ritz Carlton Hotel... riwayatmu kelam ...

Saya jadi teringat suatu pendapat mengenai aksi terorist dari Arthur H. Garrison : Defining Terrorism: Philosophy of the Bomb, Propaganda by Deed and Change Through Fear and Violence.

Terrorism is not victim based, it is goal and objective based. When terrorism is understood from this point of view, it is clear that one man’s terrorist is not another man’s freedom fighter. Terrorism cannot be defined by attacks on ‘civilians’ or on ‘innocents.’

Teroris tidak melihat seberapa korban yang jatuh, tetapi mereka lebih berdasarkan tujuan, bila teroris dimengerti dari titik pandang ini.. sangat jelas bahwa seorang teroris adalah bukan seorang pejuang pembebasan, teroris tidak hanya didefinisikan dengan menyerang target sipil atau tidak berdosa…Nah kembali melihat peristiwa ini, kita bisa menganalisa kira – kira “bahasa dan pesan” apa yang ingin pelaku sampaikan dalam peristiwa ini ….

Sebelum kita menginjak ke sana, mari kita lihat bagaimana bomb itu meledak secara teknis, saya menduga bom itu adalah bomb “High Explosive” adalah bomb yang sangat jelas berbeda dengan peristiwa teror yang melanda Indonesia sebelum ini.. ??

Kenapa High Expolsive ? High Explosive Bomb adalah bomb yang berasal dari pabrikan yang biasa digunakan oleh militer atau pertambangan,  ciri – cirinya:

1. Asap yang ditimbulkan pasca ledakan, asap yang timbul hanya asap putih, karena pada dasarnya bomb ini tidak mempunyai efek bakar.

2. Efek Blast, atau letupan udara akibat ledakan sangat terlihat… terlihat dari korban yang bajunya robek robek namun tidak terbakar dan kaca pecah, beberapa korban yang dekat TKP juga terlempar akibat besarnya efek Blast.

Apa bedanya dengan Low Eksplosive Bomb ? Bomb ini adalah bomb yang dirakit tersendiri tidak menggunakan bomb standar pabrik, namun jangan dibayangankan karena disebut “low explosive”  hasilnya juga “low” , bisa dibayangkan bomb yang di Bali yang menggunakan pupuk Urea, atau bomb yang di JW Marriot sebelum peristiwa ini menggunakan Bahan Bakar Solar.  Biasanya “Low Expolosive Bomb” setelah ledakan akan menimbulkan asap hitam akibat terbakarnya residu tidak sempurna, dan akan terjadi kebakaran…

Jadi kesimpulan dan pesan apa yang hendak disampaikan dengan aksi teror ini ?

1. Peristiwa ini  peristiwa bomb bunuh diri (confirmed by KAPOLRI sore ini), saya pastikan penjagaan masuk ke hotel Ritz Carlton atau JW Marriot sangat ketat sehingga memang agak sulit seorang membawa bomb menggunakan mobil atau ransel berisi bomb masuk kedalam.  Saya menduga bom diselundupkan secara sedikit sedikit dari tamu yang terlebih dahulu menginap dihotel, seperti disinyalir oleh sebuah stasiun televisi. Sungguh suatu cara yang cerdik, mereka menginap sebagai tamu hotel dan merakit bomb di kamar hotel, dan meledakkan dirinya dengan membawa tas berisi bomb tanpa dicurigai.

2. Kalau melihat Jenis bomb yang “High Explosive” dan saya menduga  mereka adalah “Kelompok berbeda” dengan “Kelompok teroris terdahulu”, atau bisa jadi mereka adalah kelompok bentukan baru, seperti yang disinyalir oleh Presiden SBY dalam keterangan Pers jam 15.00 tadi yaitu kelompok kelompok yang anti kemapanan dan keberhasilan ekonomi (juga pilpres) Indonesia juga jangan menampikkan peristiwa di Papua beberapa hari belakangan ini kan ? Dan kemungkinan yang paling mungkin adalah pelaku dari sempalan kelompok Noordin M top yang masih bergerak hingga sekarang.

3. Patut dicurigai juga mengenai ledakan yang nyaris terjadi sebelum kedatangan team sepak bola Menchester United ke Indonesia, pesan yang disampaikan jelas yaitu Indonesia adalah negara tidak aman

4. Kenapa pelaksanaannya hari “H” nya hari Jumat dan Jam “J” nya jam 8 pagi ? hehe terus terang saya belum bisa menganalisis sejauh ini …. terlalu banyak faktor misalnya: Jam pergantian Satpam atau security, Jam breakfast para tamu hotel ramainya jam segitu sehingga kalau ada pembawa bomb tidak terlihat,  sampai agar “pesan” nya lebih terasa kalau pagi hari dengan pasti hadirnya semua media pers  ke lokasi dan “pesan” nya lebih menggaung dipenjuru dunia..

5. Kenapa terjadi di dua buah hotel asing yang merupakan milik Amerika Serikat ? hmmmmh bisa jadi pertimbangan juga sih  .. ,memang selama ini “Hospitaly Industri” selalu menjadi “soft target” bagi peristiwa ini , ingat peristiwa di Pakistan , India, Mesir ? beberapa waktu belakangan ini ? semua terjadi di Hotel … pesannya ? Tentunya melabrak kepentingan asing (terutama Amerika) di Indonesia ….

Begitulah sekedar unek unek saya yang hanya tebak buah manggis… satu harapan saya peristiwa ini segera terungkap … yang jelas si pelaku teror telah berhasil menyampaikan pesannya …. semoga pesan itu segera terbantahkan dengan diungkapnya peristiwa ini ….. NO PLACE FOR TERRORISM ….one man’s terrorist is not another man’s freedom fighter….