Tanya Rudy Giuliani, Bagaimana Cara Menurunkan Kejahatan ?

Rudi Giuliani, Mayor NY, 1 January 1994 – 31 December 2001
Rudi Giuliani, Mayor NY, 1 January 1994 – 31 December 2001

Jika ada manusia di dunia ini yang dianggap berhasil menurunkan crime rate di suatu daerah yang selama ini dianggap “surga” nya kejahatan yaitu New York  pasti semua bilang ….”Oh, itu karena jasa Mr. Giuliani, sekarang New York aman.. tidak seperti dulu …” , hal ini langsung saya dengar dari New Yorker sendiri, yaitu adik ipar saya yang telah tinggal 20 tahunan di NY dan menikah dengan seorang Italian-American.

Saya jadi penasaran dan mulai buka internet saya, bagaimana sih sepak terjang Mr. Giuliani yang menjadi legenda dan dikenang sebagai seseorang yang berhasil menurunkan angka kejahatan di New York ?

Mr. Rudi Guiliani adalah seorang Mayor (gubernur negara bagian) New York, selama 2 periode , dari tahun 1994 hingga 2001… sebenarnya kalau tidak ada aturan maksimal 2 kali terpilih, banyak New Yorker masih menginginkan beliau sebagai Mayor.

Ia terlahir pada tanggal 28 May 1944, di Brooklyn NY, ayahnya Harold Angelo Giuliani (1908–1981) dan ibunya Helen C. D’Avanzo (1909–2002) adalah berasal dari golongan buruh berpenghasilan rendah, keduanya adalah imigran dari Italy yang mencoba peruntungan hidup di Amerika Serikat. Ayahnya, Harold banyak berurusan dengan polisi karena seperti kebanyakan imigran Italia mereka banyak berhubungan dengan mafia (organized crime) yang mengelola perjudian dan peminjaman uang. Walaupun berasal dari keluarga yang banyak berurusan dengan aparat hukum, Rudi justru menyelesaikan kuliahnya dari New York University School of Law di Manhattan, dengan predikat Cum Laude dan mendapat gelar Juris Doctor . Ia memulai kariernya pada United States Department of Justice (Departemen Hukum Amerika Serikat) sebagai Jaksa, dan karier cemerlangnya dimulai ketika ia diangkat menjadi Jaksa Distrik kantor wilayah Selatan New York, ia dihadapkan pada kasus-kasus “high profile” seperti kasus menghebohkan yang terjadi di bursa efek Wall Steet yang melibatkan terdakwa Ivan Boesky dan Michael Milken dan ia juga banyak menangani penuntutan kasus-kasus Peredaran Narkoba, Kejahatan Terorganisir, dan banyak Kasus Korupsi, Ia juga ditunjuk sebagai ketua “Komisi Peradilan Mafia” yang telah sukses memenjarakan 11 tokoh – tokoh utama “organized crime”, termasuk yang paling terkenal adalah John Gotty dari “five families” bos Mafia dari New York.

Pada tahun 1993 ia mengikuti pilkada gubernur New York, dengan perahunya partai Republik (Ia memang seorang Republikan sejati) melawan calon Partai Demokrat George Marlin, dalam kampanyenya Rudi Giuliani menjanjikan apabila menang ia akan fokus pada Kepolisian kota NewYork untuk menghilangkan “street crime” dan gangguan keamanan untuk meningkatkan kualitas hidup warga New York… Tema kampanye yang sederhana itu ternyata menarik minat New Yorker yang bosan dengan keadaan kotanya yang sangat rawan dan berbahaya untuk ditinggali ….dan dampaknya Rudi Giuliani menang sebagai Mayor New York, dan kembali menang tidak terbendung pada pemilihan kedua pada tahun 1997.

Penegakan Hukum Ala Giuliani

Pada masa pertamanya sebagai Mayor, Giuliani bahu membahu dengan kepala kepolisian kota NewYork Bill Bratton utuk mengadopsi strategi pencegahan kejahatan yang agresif berdasarkan pendekatan “Broken Window” yang ditemukan oleh profesor political scientist Mr. James Q. Wilson. Caranya adalah membasmi segala “kejahatan kecil” yang selama ini dianggap remeh oleh polisi seperti: grafitti (mencoret tembok), pemeras jalanan (tukang kompas), pecandu narkoba, dan segala bentuk-bentuk premanisme…. dalam teorinya, taknik ini dipergunakan untuk “Menyampaikan Pesan” bahwa pemerintah dan kepolisian “serius” untuk mulai menertibkan kota. Ada satu prinsip dari teori ini yaitu “untuk menertibkan kejahatan besar harus dimulai dari menertibkan kejahatan kecil/street crime”, dengan tidak memberikan toleransi sama sekali pada kejahatan kecil, otomatis kejahatan besar tidak akan berkembang…. dan teori ini terbukti

Giuliani dan Bratton juga mengenalkan “pendekatan komparatif statistik Kejahatan” (istilah mereka CompStat) yang memetakan kejadian kriminal berdasarkan lokasi geografisnya, sehingga dapat dilihat secara jelas Pola kejahatan di suatu daerah, juga dapat diketahui daerah yang mempunyai klasifikasi “rawan” maupun “tidak rawan”, Nah hebatnya data ini digunakan sebagi indikator keberhasilan anggota Polisi dalam bertugas, ia dikatakan berhasil apabila wilayah yang menjadi tanggung jawabnya dari klasifikasi “rawan” menjadi “tidak rawan” dan dianggap tidak berhasil apabila data tersebut kebalikannya dari “tidak rawan” menjadi “rawan”. Walaupun CompStat pada awalnya banyak dikritik karena akhirnya banyak polisi yang memanipulasi data kejahatan diwilayahnya karena takut dikatakan “tidak bekerja” namun berkat pengawasan internal kepolisian yang ketat tidak ada lagi manipulasi data, bahkan ComStat mendapat penghargaan oleh Kennedy School of Government sebagai inovasi terbaik pemerintahan tahun 1996.

National, New York City, and other major city crime rates (1990–2002).
National, New York City, and other major city crime rates (1990–2002).

Pada masa pemerintahan Giuliani angka kejahatan di New York turun secara signifikan, bahkan Sosiologis dari University Of California Frank Zimring dalam bukunya “The Great American Crime Decline” mengatakan apa yang dilakukan oleh Giuliani sebagai “Kebijakan yang paling fokus dalam sejarah penegakan hukum” ia mengatakan pula kejahatan di New York turun hingga setengahnya atas kebijakan Giuliani itu, suatu pujian yang setinggi langit …..

Keberhasilan Penurunan Kejahatan ini menyebabkan kepala Polisi New York Bill Bratton “dipinang” oleh Mayor Los Angeles untuk menjadi Kepala Kepolisian LA, karena LA sebagai kota pesaing NY merasa “panas kuping” atas keberhasilan NY menurunkan kejahatan, dibanding dengan LA yang masih tetap tinggi …. wah ternyata dua kota ini bersaing yaa hahaha…

Sungguh suatu kisah yang membuat saya merinding, suatu kesuksesan seorang anak yang lahir dari keluarga Mafia, dan justru menjadi seorang anti-mafia, dan menjadi seorang yang selalu dikenang oleh Masyarakat New York….

Inti dari kisah ini kalau kita mau berusaha dan Serius, pasti Tuhan akan membuka jalan….. Salam Sukses !

Iklan

Gendarmarrie, Polisi Banci atau Tentara Banci ?

Lambang Italian Carabinieri
Lambang Italian Carabinieri

Di beberapa negara Eropa ada suatu institusi yang tidak kita kenal sistem tata negara kita, institusi ini unik sekali seakan akan berada di “dua alam” yaitu Kepolisian dan Militer secara bersamaan, dapat berganti peran secara bergantian tergantung keadaan, seperti Banci 🙂 … Institusi ini  dibilang Polisi juga ngga seluruhnya  benar karena aturannya sangat militer bahkan ikut diterjunkan dalam berbagai operasi militer, dibilang Militer juga tidak tepat karena kok mereka juga bertugas di bidang pencegahan dan penanggulangan kriminal yang berada dalam masyarakat…

lambang France Gendarmarrie
lambang France Gendarmarrie

Institusi ini bernama Gendarmarrie atau Gendarmary diperkenalkan awalnya di Perancis berasal dari kata “Gens d’armes” yang artinya “orang bersenjata” pada awalnya adalah pasukan kavaleri bersenjata dibawah Angkatan Bersenjata Perancis, namun setelah revolusi Perancis diperkenalkanlah pemisahan lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif … Negara pada waktu itu sangat kacau, sehinggga diperlukan Militer untuk “meredakan” keadaan, namun karena aturan itulah maka Militer harus diberi wewenang “sipil” untuk turun ke ranah “keamanan” negara, jauh dari tugasnya sebagai “pertahanan” . Maka dibentuklah “tentara” yang bisa bertugas “sipil” yaitu Gendarmerrie… Nah ide ini diadopsi ke beberapa negara lain di Eropa seperti Italia dengan “Carabinieri” , Spanyol dengan “Guardia Civil”, Belanda dengan “Marschautshce” atau kita sebut “Marsose”…

Carabinieri sedang patroli
Carabinieri sedang patroli

Gendermarie sebenarnya adalah militer namun ditugaskan dalam masyarakat sipil, karena itu mereka lebih disebut “Para-Militer” ketimbang “Militer”, namun mereka bisa juga ditugaskan dalam tugas – tugas militer dalam keadaan Perang atau dalam penanggulangan bencana alam, disisi lain mereka juga melakukan tugas pemolisian sipil seperti melakukan penyelidikan dan penyidikan, patroli jalan raya, laut dan udara dan penanggulangan huru – hara… bahkan mereka juga sebagai PM (Polisi Militer) yang melakukan penyidikan terhadap Militer atau sebagai Provost Militer… Gendarmarrie berada dalam lingkup Kementerian Pertahanan (Italy), dalam lingkup kementerian dalam negeri (Argentina dan Spanyol) bahkan berada dalam dua kementrian sekaligus Kementerian Dalam Negeri dan Pertahanan (Chili, Perancis, Belanda) … Inilah sekilas perbandingan Gendarmarrie (perancis) dan Carabiniery (Italy) seperti :  Gendarmarrie dan Carabinieri sama sama berada di bawah Menteri Pertahanan dan Menteri dalam Negeri, Gendarmarrie : Bertugas di daerah Rular (luar kota) sedangkan Polisi di daerah Urban (perkotaan), Carabiniery : Sama – sama dengan dengan polisi, baik diluar kota maupun didalam kota, jadi mereka saling bersaing.

France Gendarmerrie sedang Patroli
France Gendarmerrie sedang Patroli

Pada penugasan dalam ranah “kepolisian” tentunya ada rivalitas abadi Gendarmerrie dengan “Polisi” benaran …. mereka saling saingan untuk merebut hati masyarakat dengan tugasnya (malah bagus kan ? .. hehehe) Saya pernah melihat sendiri di Italy, masyarakat lebih percaya kepada Carabiniery ketimbang Polisi…. Alasan mereka Carabiniery lebih cepat tanggap kalau ada laporan masyarakat … saya pernah melihat statistik : ternyata Carabiniery lebih banyak menangani kasus kriminal dibandingkan Polisi…. Dibandingkan dengan “polisi biasa” Gendermarrie mempunyai kelebihan disiplin yang lebih tinggi, membuat mereka lebih kapabel ketika berurusan dengan kelompok kejahatan kekerasan yang bersenjata… disisi lain standar rekrutmen yang tinggi terutama di kesehatan dan Jasmani membuat mereka mempunyai calon anggota yang mempunyai kelebihan dibanding polisi. Gendermarrie mempunyai berbagai macam tugas polisi maupun militer, contohnya di Perancis Gendermarrie mempunyai tugas pengendalian massa/kerusuhan, anti teroris, penjagaan VVIP dan Obyek Vital, Pengawal Presiden Perancis, Pengawal bandara, Polisi Udara dan Air, dan SAR.

Lucu kan ? tapi menurut saya banyak positifnya kok…..kalau Polisi dan Carabinieri saingan untuk menanggulangi kejahatan .. pasti susah kan kalau ada mafia hukum ? haha… kalau tersangka bisa bebas karena disogok di Polisi, jangan – jangan bisa di tangkap lagi sama carabinieri atau sebaliknya….   🙂

Rancangan UU Hukum Acara Pidana, Siapkah Polri ???

Pembuatan RUU KUHAP yang telah sampai tahap final sangat mengejutkan… terutama bagi Polri, banyak hal – hal yang berubah dalam penyidikan, perubahan itu bukan gradual … menurut saya sangat Revolusioner… sampai – sampai saya berpikir, akan sanggupkah polri melaksanakan ? Bahkan kekuatiran tersebut tercermin dalam statement Kapolri seperti tertulis disini.

Bagi saya yang sangat beruntung pernah melihat sistem penyidikan kriminal di banyak negara lain, pada awalnya sangat terheran – heran bagaimana mereka bisa melakukan penyidikan dengan aturan yang sangat ketat ? saya lalu tersenyum mencibir, wah kalau aturan ini dibawa ke Indonesia apa bisa ya diterapkan ? saya merenung…. eh, ternyata saat itu akan tiba, aturan – aturan penyidikan yang ‘pernah’ saya dengar dari negara – negara maju itu ternyata diterapkan dalam RUU KUHAP….

Jangan bingung
Jangan bingung

saya mencatat ada beberapa peraturan yang sangat berubah dalam hal penyidikan, saya sedikit akan membahasnya satu – persatu:

PENAHANAN

Bagi seorang penyidik hal ini sangat membantu, karena dalam masa penahanan inilah seorang penyidik melengkapi berkas perkara, mencari alat bukti,  menanti hasil dari laboratorium forensic atau apapun yang berkaitan dengan perkara penyidikan….  selama ini penyidik mendapat waktu yang agak panjang selama 20 hari dan dapat diperpanjang 40 hari … tau ngga sekarang berapa hari kewenangan penyidik ? 5 hari hehe … lihat pasal perbandingan KUHAP dan RUU KUHAP :

Pasal 24 KUHAP

(1) Perintah penahanan yang diberikan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, hanya berlaku paling lama dua puluh hari.

(2) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperIukan guna kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh penuntut umum yang berwenang untuk paling lama empat puluh hari.

Pasal 60 RUU KUHAP

(1) Penahanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) dan ayat (2) dilakukan untuk waktu paling lama 5 (lima) hari.

Hal yang menarik dalam RUU ini bahwa tidak akan ada lagi PRA PERADILAN yang menggugat keabsyahan Penangkapan, Penahanan dan penghentian Penyidikan, karena akan ada pemutus yaitu HAKIM KOMISARIS, ialah yang menetapkan penahanan terhadap seseorang bisa dilakukan atau tidak, artinya penyidik harus memohon kepada Hakim Komisaris terlebih dahulu apakah tersangka dapat ditahan atau tidak, tidak seperti sekarang hanya dari keputusan penyidik semata, lihat pasal 60 kelanjutannya :

Pasal 60 RUU KUHAP

(2) Dalam jangka waktu penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyidikbersama-sama dengan Penuntut Umum menghadapkan tersangka yang dapat didampingi Penasihat Hukum kepada Hakim Komisaris.

(3) Hakim Komisaris memberitahu tersangka mengenai :
a. tindak pidana yang disangkakan terhadap tersangka;
b. hak-hak tersangka; dan
c. perpanjangan penahanan.

(4) Hakim Komisaris menentukan perpanjangan penahanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf c diperlukan atau tidak.

(5) Dalam hal Hakim Komisaris berpendapat perlu perpanjangan penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c, perpanjangan penahanan diberikan untuk waktu paling lama 25 (dua puluh lima) hari.

(6) Dalam hal Hakim Komisaris melakukan perpanjangan penahanan, Hakim Komisaris memberitahukannya kepada tersangka.

(7) Dalam hal masih diperlukan waktu penahanan untuk kepentingan Penyidikan dan/atau Penuntutan, hakim Pengadilan negeri berwenang melakukan penahanan atas permintaan Penuntut Umum, untuk waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari.

(8) Waktu penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) atas permintaan Penuntut Umum dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari dan dalam hal masih diperlukan dapat diberikan perpanjang lagi untuk waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari.

(9) Apabila jangka waktu perpanjangan penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) terlampaui, Penyidik dan/atau Penuntut Umum harus mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum.

Saya baru menilik dari satu aspek, yaitu PENAHANAN… Sangat jelas perbedaannya kan ? akankah waktu 5 hari (dari 20 hari sebelumnya) cukup untuk mennuntaskan segala aspek pembuktian ? termasuk mencari alat bukti ? Belum lagi harus bertarung di depan hakim komisaris menyampaikan argumen agar penahanan atau perpanjangan penahanan dapat dikabulkan, repot ya…

Yang jelas Polisi mau tidak mau harus siap…. jangan kita hanya mengeluh tidak mampu, buktikan dulu dengan bekerja, dimana ada usaha disitu ada jalan.. Kami siap berubah …  😉

… bersambung …

Image Tertindas (Polisi Vs Rakyat ? )

Nah….. inilah yang menjadi problem berat bagi Polri dalam beberapa waktu belakangan ini…. KPK secara tidak sengaja tiba – tiba tergambarkan sebagai sebuah lembaga yang tertindas dan teraniaya oleh sebuah lembaga besar … hehehe dan mohon maaf  “kesan ketertindasan ” ini digambarkan sendiri oleh seorang pribadi, yang juga seorang anggota Polri (walaupun pernyataan ini tidak mewakili institusi) …. Penggambaran “cicak” dan “buaya” ternyata berdampak sangat besar, kesan yang ditangkap oleh sebagian besar masyarakat Indonesia KPK (apalagi setelah pak Bibit dan Chandra ditahan) adalah sebuah institusi yang “tertindas” dan “teraniaya” … sehingga gelombang simpati dari masyarakat terus bergulir seperti bola salju yang semakin lama semakin besar, dan ini menjadi komoditas media yang sangat “laku” dijual … hehe … memang pintar TVone atau MetroTV  dari peristiwa ini mereka mendapat “spot” iklan yang besar….

Pada tulisan ini saya tidak mempermasalahkan masalah hukum yang menimpa KPK, saya pun tidak mengkritisi Polri institusi yang “membesarkan” saya…  Saya akan mengupas bahwa “Image tertindas” yang dilakukan oleh polisi akan berdapak dengan “bersatu” nya rakyat … artinya begini,  Polisi selalu digambarkan sebagai “penguasa” dan “penindas rakyat”, apabila ada suatu “ketidak adilan” muncul ditengah masyarakat yang dilakukan oleh polisi… hal itu akan menimbulkan semacam “perlawanan” dari masyarakat, “perlawanan” ini bertujuan untuk membela “orang”  atau “lembaga” yang tertindas oleh polisi… adalah suatu hal yang sangat berbahaya apabila ada suatu moment tertangkap oleh media pers dan image yang terkesan adalah “Polisi menindas rakyat”…

Saya mengambil contoh peristiwa yang paling dasyat adalah peristiwa Polisi versus Rakyat yang terjadi pada tahun 1992 di Los Angeles, dimana 4 petugas polisi melakukan penangkapan Rodney King seorang Afrika-Amerika karena ngenbut di jalan raya, pada saat penangkapan terjadi “perlawanan” oleh Rodney King dan keempat polisi tersebut mencoba melumpuhkannya, namun “tidakan” yang dilakukan keeempat polisi sangat berlebihan sehingga yang terlihat seperti “penyiksaan” … dan “apesnya” adegan “penyiksaan” itu tidak sengaja terekam kamera video oleh seseorang bernama George Holliday.

Penyiksaan Polisi LA terhadap Rodney King yang tidak sengaja terekam, dan kemudian menjadi heboh setelah ditayangkan TV

Peristiwa ini kemudian menjadi sangat heboh setelah terungkap oleh Media Pers, baik elektronik maupun cetak… koran koran dan TV di Amerika Serikat secara berulang – ulang menampilkan ulang peristiwa ini, membahasnya, menghujatnya, menghadirkan saksi, menghadirkan komentator yang makin membuat suasanya jadi “panas” , polisi diangkap sebagai lembaga “penindas” kaum yang lemah, bertindak diluar batas, tidak prosedural, tidak adil terhadap golongan tertentu … dsb …dsb …. makin hari makin besarlah cercaan masyarakat terhadap Polisi Los Angeles, makin tidak percaya dan semua “menghujat” polisi atas peristiwa itu… Polisi disebut penindas, sedangkan Rodney (yang juga pelanggar) dianggap orang yang tertindas dan menjadi “pahlawan”(seperti yang terjadi belakangan ini kan ?)

Puncak “meledak” nya kemarahan rakyat adalah setelah terjadi Pengadilan terhadap ke 4 polisi tersebut dengan tuduhan “Melebihi batas kewenangan” dan “penganiayaan”, namun sepertinya pengadilan itu tidak jujur dan adil (disebabkan juri semuanya dari ras kulit putih), sehingga ke 4 polisi ini dibebaskan …. itulah yang memicu “perlawanan rakyat” kerusuhan itu terjadi selama 7 hari, yang terjadi malah kerusuhan antara ras kulit hitam melawan kulit putih (malah ngga nyambung kan ?), Lima puluh tiga orang tewas saat kerusuhan dengan sebanyak 2.000 orang terluka. Perkiraan kerugian material bervariasi antara sekitar $ 800 juta dan $ 1 miliar. Sekitar 3.600 kebakaran terjadi di berbagai wilayah, menghancurkan 1.100 bangunan, dengan panggilan kebakaran datang satu kali setiap menit di beberapa hal; luas juga terjadi penjarahan. Toko yang dimiliki oleh Korea dan Asia imigran yang ditargetkan secara luas, meskipun toko dimiliki oleh orang kulit putih dan Afrika-Amerika menjadi sasaran para perusuh juga. Kerusuhan berhenti setelah tentara Amerika turun ke kota menggantikan polisi yang tidak mampu mengatasi.

Nah Kesimpulan cerita ini, polisi harus bersikap adil dalam setiap peristiwa, jangan ada kesan adanya “penindasan” oleh polisi .. apalagi apabila “diperkeruh” oleh Media Massa.. bisa terjadi opini publik terbalik yang membela kaum yang “tertindas” itu ….  mudah – mudahan ….

TULISAN SAYA DI COPY PASTE MAJALAH LIBERTY

Kalau saja saya tidak sedang main ke rumah teman, saya tidak tahu hal ini….. pada saat itu di ruang tamunya ada sebuah majalah yang baru dibelinya… hmmmmmmh majalah Liberty…. ini majalah yang kebanyakan bercerita tentang hal – hal mistis dan supranatural….. sambil iseng iseng saya baca, temanya tetang orang “kesurupan”, mereka membahas dari berbagai aspek, dari pakar psikologi hingga pakar supranatural… tapi saya kaget begitu membaca halaman berikutnya…. mereka membicarakan tentang pengungkapan kejahatan dengan menggunakan cara – cara supranatural …. kok sama persis dengan tulisan saya beberapa waktu yang lalu : Pengungkapan Kejahatan Menggunakan DUKUN (Metafisik) Mungkinkah ? , tulisan itu tanpa ada yang dikurangi dan ditambahkan … hanya judulnya saja yang diganti, dan seolah olah mereka melakukan wawancara dengan saya, dengan judul : “Pengakuan seorang reserse” ….

Saya pribadi menyesalkan kejadian tersebut, memang tulisan di blog adalah tulisan yang bersifat umum, bisa di baca setiap orang, namun setidaknya etika dalam menyadur tulisan dilakukan terlebih dahulu… minimal memberi tahu saya terlebih dahulu dan meminta izin….. saya pribadi pasti tidak akan keberatan kok tulisan saya digunakan, dan tidak pernah berniat mencari keuntungan dengan dimuatnya tulisan saya…. Apalagi sekelas “majalah” yang setahu saya cukup diminati dan beroplah lumayan besar…

Yah sudahlah…. yang penting saya sudah memuat hal ini…. saya hanya ingin “mengetuk” hati redakturnya, tolong perhatikan etika dalam “penulisan” , jangan asal Copy Paste tulisan orang…..

ini adalah cover majalah tersebut, majalah Liberty terbaru edisi bulan Mei :

ini adalah tulisan tersebut :

tulisan saya yang di Copas

tambahan :

majalah liberty mendapat rekor muri karena menjadi majalah “terlama” yang pernah terbit di Indonesia

MAJALAH TERTUA YANG TERBIT HINGGA USIA 50 TAHUN MASIH TETAP EKSIS HINGGA SEKARANG

Pemegang rekor : Majalah Liberty

Majalah Liberty berdiri atau lahir pada tanggal 12 September 1953. saat ini oplah majalah Liberty mencapai 85.000 eksemplar, majalah liberty telah beredar di seluruh pelosok Indonesia serta diluar negeri seperti di Hongkong, Tiwan, Malaysia, dan Singapura. Tahun 2003 merupakan tahun emas karena genap berumur 50 tahun majalah Liberty dari pertama hingga sekarang selalu mengulas tentang masalah – masalah supranatural dan mistik karena karakteristiknya tak pernah beranjak dari dunia supranatural dan mistik disamping kehidupan realitas lainnya seperti kriminal, kesehatan, jagad aneh, tragedy dll.
Penghargaan ini diserahkan pada tanggal 1 Juni 2003 di Surabaya oleh Bp. Jaya Suprana.

masa bisanya cuma copy paste ? tanpa menyebutkan sumber tulisan pula ????? 🙂

CERITA PERAMPOK SUMATRA (SERI I)

Ketika saya pindah ke Jambi dari Jakarta pada tahun 2004, saya pikir kejahatan yang ada di sini akan lebih konvensional lah daripada di jakarta, paling – paling maling ternak dan mencuri hasil kebon…. Ternyata pendapat saya salah…..di Sumatra (termasuk Jambi) ternyata banyak perampokan bersenjata, memang konvensional… tapi modus mereka jauh lebih jahat, lebih sadis dan lebih berani dari model – model perampok di tanah Jawa….

Yang saya kaget mereka semua menggunakan senjata api, mereka sangat terorganisir, mereka berdarah dingin dan tidak segan segan membunuh korban…. Bahkan Polisi ada beberapa orang yang menjadi korban mereka….

Hasil rampokan mereka pun tidak tanggung – tanggung, contohnya perampokan bank Mandiri di Kabupaten Sarolangun pada tahun 2007 yang menghasilkan Rp 1,2 M, perampokan uang Koperasi di daerah Sungai Bahar yang membawa uang Rp 1,8 M, perampokan toke (juragan) karet di Bangko yang memgakibatkan 800 juta dan korban tertembak mati, Penembakan juragan Ayam di Telanai Jambi dan mengakibatkan korban mati dan membawa uang puluhan juta, perampokan bersenjata rumah seorang pengusaha SPBU di jambi dan membawa uang 200 juta, perampokan bersenjata terhadap toke sawit di daerah tebo dengan kerugian 1,1 M, perampokan terhadap sejumlah besar alat berat di Sumatra dengan mengambil mikrochips komputer penggerak Alat Berat (komponen ini mahal harganya)…. dan masih sangat banyak lagi…. Otak saya sendiri sampai tidak mengingat karena saking banyaknya….

Yang jelas…. Setelah saya amati, sekali melakukan aksinya paling tidak mereka membawa hasil uang dalam jumlah yang sangat besar, mereka selalu bersenjata api baik yang asli atau senjata rakitan (dalam bahasa sumatra disebut “kecepek”)…. Kalau mereka dalam aksinya mendapat perlawanan mereka tidak segan – segan mencederai korbannya bahkan membunuhnya, mereka selalu bekerja dalam suatu kelompok dengan peserta paling sedikit 5 orang, dan YANG UNIK…mereka dalam melakukan aksinya seolah – olah selalu tahu bahwa target memang sedang menyimpan uang dalam jumlah yang besar…. Berarti selalu mereka mendapat informasi dari “orang dalam”…

Saya tahu banyak tentang kelompok itu ketika dipercaya pimpinan menjadi kepala unit Reserse Operasional lapangan di Polda Jambi…. Saya melakukan inventarisir segala yang berkaitan dengan kelompok – kelompok itu… ternyata yang saya temukan adalah sebagai berikut :

Kelompok ini selalu menggunakan senjata api, senjata tersebut didapat dari selundupan luar negeri, atau dari Aceh eks konflik bersenjata, kalau senjata rakitan didapat dari para pengerajin besi yang biasa membuat senjata rakitan untuk berburu Babi, tersebar di seluruh Sumatra.

Kelompok – kelompok perampok itu selalu menggunakan mobil rental dalam melakukan aksinya.

Mereka selalu mempunyai informasi yang akurat tentang korban, tentang kondisi keuangannya karena mereka mempunyai “informan” yang biasanya adalah “orang dalam” dan ia mendapat “jatah” hasil rampokannya.

Kelompok ini beroperasi dalam wilayah jelajah yang luas, seluruh Sumatra, kecuali Aceh.

Mereka rata – rata saling mengenal sesama kelompok perampok, dan sering berobah formasi, bertukar anggota…. Tergantung keaadaan.

Daerah – daerah yang teridentifikasi sebagai sumber perekrutan kelompok kelompok ini (mohon maaf bukan sara): Lubuk Linggau daerah perbatasan dengan Jambi, Musi Banyuasin daerah epil, Kayu agung, Srensen perbatasan Riau dan Jambi, Lampung daerah utara, Jambi daerah Pulau Pandan, Medan Kota dan Lubuk Pakam.

Di setiap kota yang akan dirampok pasti ada “penguasa” yang biasanya mantan – mantan rampok juga… mereka selalu sebelum merampok “meminta ijin” terlebih dahulu dengan “penguasa” dan memberikan fee hasil rampokan.

Teridentifikasi juga beberapa diantara mereka adalah mantan polisi dan tentara, sehingga mereka dalam beraksi menggunakan cara – cara yang “militer” sekali, dan sangat disiplin serta teroganisir….

Setelah teridentifikasi, maka saya dan team menemukan metode untuk menanggulangi para perampok itu dan metode tersebut cukup berhasil untuk menangkap banyak dari kelompok perampok tersebut…. Walaupun tidak tertangkap semuanya, namun paling tidak mereka akan lebih hati – hati dalam melaksanakan aksinya…..

faktor – faktor apa yang memicu “berkembang” nya kelompok – kelompok perampok itu ? apakah penyebab para korban “rentan” terhadap perampokan ? akan saya tulis pada bagian kedua tulisan saya.

Pada tulisan selanjutnya juga, saya akan mengulas tentang seorang “Perampok Legendaris” yang sangat licin dan belum tertangkap hingga sekarang, pelaku perampokan di hampir seluruh Sumatra (bahkan menyebrang ke Jawa) …. Beberapa kali ditembak, digrebek tetapi selalu berhasil lolos…. Siapakah dia ? ikutin saja terus tulisan saya……….

PERSENJATAAN FPU : PISTOL GLOCK

Pistol Glock
Pistol Glock

Saya pernah membahas persenjataan FPU untuk perorangan yaitu Styer AUG A3.. sekarang saya membahas kembali persenjataan untuk anggota FPU khusus untuk perwira, yaitu pistol Glock.

Pistol Glock adalah pistol terbaik yang pernah dibuat di dunia dan juga paling banyak terjual… banyak agen – agen penegak hukum dan militer di dunia yang memakainya termasuk Indonesia… dan semuanya puas dengan pistol ini…. bentuknya yang stylish tidak mengurangi keakuratan, kecepatan dan kekuatan pistol ini… dan ada yang lebih istimewa dari pistol ini… karena komponen besi dalam pistol ini hanya 30 % selebihnya berbahan dasar polymer atau plastik keras… jadi ringan sekali, lebih ringan 86% dari besi…. dan satu … lagi pistol ini juga mempunyai keamanan yang baik sehingga jarang terjadi “salah ledak” kalau kita mengikuti prosedur standar….

Safe Action Pistol
Safe Action Pistol

Glock merupakan nama dari jenis – jenis pistol yang di produksi pabrik Glock GmbH dari Deutsch Wagram, didirikan tahun 1963 oleh seorang insinyur bernama Gaston Glock.

SEJARAH

Pada bulan mei 1980, perusahaan ini mendapat undangan untuk bersaing mendapat kontrak dari pemerintah Austria untuk menyuplai Militer Austria dengan senjata pistol baru menggantikan pistol ex perang dunia ke II yaitu pistol Walther P38, beberapa sampel dari beberapa perusahaan diberikan dan setelah menjalani beberapa test kekuatan, perusahaan ini memenangkan tender dengan model glock 17 nya. Dan masuk sebagai pistol standar Militer Austria pada tahun 1982 dengan nama P80 (pistole 80). Beberapa saat kemudian dipakai juga oleh angkatan bersenjata Belanda, Norwegia dan Swedia. Glock 17 terus dikembangkan dengan beberapa modifikasi dan beberapa alternatik kaliber dan beberapa variasi dimensi dan berat namun tetap mengacu pada bentuk dasar. Pistol Glock mendapatkan sukses penjualan yang luar biasa, pada tahun 1992 tercatat kurang lebih 350 ribu pistol di 45 negara dan sekitar 200 ribu di Amerika Serikat sendiri. Di Indonesia berdasarkan data yang memakainya ialah Kopassus TNI AD, PasKhas TNI AU, Korps Brimob Polri dan Detasemen 88 Polri.

JENIS KALIBER GLOCK

TEST OLEH SAYA

Wow … memang pistol ini luar biasa…. sangat ringan, akurat, aman… saya mencoba zeroing pada jarak 10 M…. pada sebuah lesan target statis… ledakan tidak terlalu memekakkan telinga, tidak begitu terasa “hentakannya” dan hasilnya akurat sekali…. titik hitam dengan perkenaan 1 mm sampai 2 mm, memang sih… kata orang “not the gun” but “the man behind the gun”… tapi dengan pistol sesempurna ini sepertinya tidak ada kesulitan sama sekali bagi pemula yang baru belajar menembak pistol Glock….. termasuk saya……

(sumber : situs Glock dan Wikipedia)