Penipuan Internet korban WNI dan WNA

Semenjak saya bertugas di interpol pada bagian yang membidangi Cybercrime, barulah saya tahu bahwa banyak juga para pelaku penipuan internet yang diduga berasal dari indonesia, di meja saya setiap hari ada saja laporan Interpol negara lain yang melaporkan ada warganegaranya menjadi korban penipuan melalui internet, semua ceritanya hampir sama: “warga negara mereka membeli barang dari suatu website, berkomunikasi dengan pemilik website tersebut dan mereka mentransfer sejumlah uang dengan dijanjikan barang akan dikirim segera, pada kenyataan barang tidak pernah sampai ke alamat mereka”. Namun disisi lain  ada banyak pula warganegara Indonesia yang menjadi Korban penipuan dengan pelaku di luar negeri  dan melaporkan perkaranya  interpol , berikut ini beberapa ceritanya:

Berikut ini sedikit profile dari pelaku Indonesia, dengan Korban Orang diluar Indonesia:

alibaba
alibaba.com

Sarana penipuan yang lazim para pelaku ini lakukan adalah melalui situs jual beli alibaba.com dan yahoo auction.  Modus nya mereka menawarkan sejumlah barang yang memang laku di pasaran seperti sepeda, alat – alat komputer, kacamata dan lain – lain melalui perusahaan fiktif, dan perusahaan fiktif ini menawarkan barangnya dengan harga yang miring, seharga ratusan dolar, namun ada juga korban dari luar negeri yang membeli sepeda motor seharga 4000 dolar bahkan tertipu membeli mobil seharga 8000 dolar.  Mereka selalu menggunakan Costumer Service yang bersedia berkomunikasi lewat email, messenger dan telepon, dan meminta down paymen dahulu, kemudian akan mengirimkan barang melalui jasa pengiriman tertentu, tetap tidak terkirim…  alasan mereka tertahan bea cukai dan minta biaya tambahan, sampai akhirnya korban sadar telah tertipu.  Alamat paling banyak dari kelompok ini adalah alamat Jakarta, Medan, Jogja, batam dan Surabaya. Mereka menggunakan akun  bank lokal tentunya dengan menggunakan identitas palsu. Korbannya banyak dari negara maju,  mayoritas berasal dari Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Australia sedangkan sisanya dari banyak negara eropa.  Ada banyak kesulitan dari para korban ini mereka menganggap Indonesia sudah memakai single identity padahal begitu mudahnya kita membuat KTP Palsu (ketika meminta kita untuk mengecek pemilik akun yang dikirimnya)

Profile Penipu dari Luar negeri dengan korban warganegara Indonesia:

Untuk korban yang berasal dari indonesia berbeda dengan diatas, pada umumnya korban WNI lebih banyak ditipu karena mereka dijanjikan sesuatu uang atau barang sehingga mereka mempunyai harapan besar, disaat itulah mereka tertipu, pelakunya diduga keras adalah jaringan penipu dari Afrika, Modusnya adalah seseorang diantara mereka menghubungi email pribadi kita (yang jelas mereka banyak stock email pribadi) mengaku akan mengirimkan uang dengan jumlah yang sangat besar yang berasal dari warisan, hasil pampasan perang dan lain – lain, dan uang itu akan ditaruh dalam sebuah peti, dan sebelum mereka mendapat uang itu mereka harus mengirimkan uang terlebih dahulu. Banyak sekali sih varian penipuannya, termasuk dari sebuah perusahaan yang menawarkan bisa bekerja, kemudian mereka minta sejumlah uang, karena harapan yang besar orang itu mengirimkan uang dan sampai sadar mereka tertipu, korbannya banyak justru orang yang berpendidikan.

Kalau melihat 2 hal tersebut diatas terlihat jelas perbedaannya kan ?  Untuk korban WNA dengan pelaku WNI mereka lebih rasional dan menginginkan sesuatu barang dengan harga yang miring, sedangkan korban WNI dengan pelaku WNA  lebih banyak kepada hal yang irasional dan memberi harapan akan mendapat rejeki nomplok.

Nasihat saya pasti ini : When it is too good to be true, then it is not true ….

Iklan

Indonesia Basis Penipuan Internet Internasional ?

Minggu lalu saya mendapat tugas untuk turut menyaksikan penangkapan terbesar Internet Fraud (penipuan Internet) yang menurut saya adalah pengungkapan terbesar kejahatan internet selama ini, namun ada yang lebih menarik dalam kejahatan yang diungkap ini, pelakunya yang tertangkap semuanya warga negara Asing, yaitu warga negara China dan Taiwan. (keseluruhan 177 orang, 76 WN China dan 101 WN Taiwan). Mereka semua ditangkap dari 10 lokasi yang berbeda di seputar Jakarta. Hal ini adalah bentuk kerjasama P to P (Police to Police) yang nyata tanpa melihat batas politik, bisa dilihat polisi Taiwan dan polisi China bekerja sama yang tidak akan mungkin terjadi dalam tatanan kenegaraan, karena sampai saat ini pemerintah China tidak mengakui Taiwan sebagai sebuah negara namun sebagai sebuah propinsi yang membangkang.

Sebenarnya bagaimana sih cara kerja mereka bekerja ?

Barang Bukti yg ditemukan di TKP, telepon yg menggunakan jaringan internet
Barang Bukti yg ditemukan di TKP, telepon yg menggunakan jaringan internet

Kelompok ini sebenarnya lebih dikategorikan sebagai kelompok penipu telepon yang juga marak di Indonesia bahkan pernah saya bahas di tulisan saya: Kelompok penipu telepon atau SMS, namun bedanya kelompok ini bekerja menggunakan “internet Phone” atau lebih dikenal dengan Voice Over Internet Protocol (VOIP) yang terkoneksi dengan HP atau telepon rumah korban. Modus penipuannya memang banyak variasinya, ada yang mengaku pejabat tinggi bagian internal kemudian mencari korban bawahannya dan meminta sejumlah uang ke rekening tertentu karena diketahui ada pelanggaran prosedur, ada yang mengaku sebagai polisi menakut – nakuti pengusaha yg “nakal” akan sebuah kasus, kemudian agar kasus tersebut di “peti es – kan” meminta sejumlah uang untuk ditransfer ke rekening tertentu. Rekening yang dimaksud adalah rekening lokal milik kelompok penipu ini.

Bagaimana sebuah kerjasama internasional Kepolisian dibuat ?

Pertemuan delegasi Taiwan, Indonesia dan China untuk melakukan penyelidikan bersama
Pertemuan delegasi Taiwan, Indonesia dan China untuk melakukan penyelidikan bersama

Setelah terdapat banyak korban tertipu dengan mengirimkan sejumlah uang, terdata korban sudah ratusan orang dengan kerugian jutaan RMB (mata uang China), korban berasal dari China dan Taiwan. Polisi di kedua negara sudah mulai “gerah” dengan perbuatan kelompok ini dan mulai menangkapi mereka satu – persatu, karena “sering” tertangkap berbagai kelompok penipu ini mengalihkan daerah operasinya ke negara lain, tercatat beberapa negara sebagai basis baru mereka yaitu : Kamboja, Thailand, Indonesia dan Philiphina namun tetap saja mereka mencari korban WN China dan Taiwan karena memang pelakunya juga WN China dan Taiwan. Karena disinyalir daerah operasi mereka bergerak ke luar negeri maka untuk pengungkapannya dibutuhkan kerjasama internasional antar Kepolisian, kemudian kepala kepolisian China dan Taiwan mengutus perwira tingginya untuk menghadap Kapolri dalam hal ini diwakili Kabareskrim Komjen Ito Sumardi, dari pertemuan ini dibentuklah sebuah Task Force tiga negara tersebut, dan mulai lah operasi penyelidikan untuk menemukan terhadap para tersangka.

Bagaimana cara pengungkapannya ?

Salah seorang Tsk sedang diidentifikasi oleh kepolisian China
Salah seorang Tsk sedang diidentifikasi oleh kepolisian China

Sebenarnya pengungkapan jaringan penipu internasional ini tidak serumit yang diduga, seperti sudah dijelaskan mereka menggunakan VOIP dalam melaksanakan aksinya, dari telp internet yang tersambung dengan jaringan telpon dan HP para korban, setelah tersambung barulah mereka melakukan penipuan tersebut. Nah, tentunya pada saat mereka menelpon korban terdeteksi lah IP (Iternet Protocol Address) tempat mereka berasal, dari IP inilah keberaadaan mereka bisa di lacak, karena mereka pasti menggunakan internet access melalui provider di Indonesia yang berbayar. Setelah dapat alamat pelanggan Internet mulailah dilakukan pengintaian terhadap tempat kegiatan tersangka, dan didapatlah 10 tempat di Jakarta, ciri tempat lokasi mereka adalah: Rumah kontrakan di daerah mayoritas keturunan seperti di Pluit, Kemayoran dan BSD Serpong agar tidak dicurigai, dalam satu rumah beroperasilah 20 sampai 30 orang satu rumah, mereka sistem kerjanya persis seperti “telemarketing”, mereka mendapatkan persen dari setiap uang yang berhasil mereka dapatkan dari korban. Kepolisian melakukan pengintaian akan aktifitas mereka dengan membagi rumah target dalam unit – unit. Setelah yakin betul akan posisi dan kegiatan mereka maka ditetapkanlah hari H dan jam J penggerebekan, dan setiap unit yang melakukan penggerebekan harus disertai penerjemah yang bisa berbahasa mandarin.

Sebagian Tsk yang didapat dari satu TKP
Sebagian Tsk yang didapat dari satu TKP

Pada hari H pada tanggal 11 Juni 2011 jam 10.00, dilaksanakalah operasi serentak pada 10 tempat di Jakarta, 10 tempat tersebut didapat berdasarkan IP address yang berhasil dilacak, seperti disebutkan tadi yang berhasil ditangkap adalah 177 orang, terdiri 76 WN China dan 101 WN Taiwan. Karena TKP dan Korban dari perbuatan ini bukan di Indonesia, maka tidak dibelakukan hukum pidana Indonesia. Polri hanya dapat menangkap dan menyerahkan tersangka kepada pihak imigrasi untuk di deportasi.

Jadi kesimpulannya ada 2 hal yang menarik… pertama kejahatan internet adalah kejahatan transnasional dan borderless jadi dimanapun negara didunia bisa dijadikan tempat beroperasi, kedua …penipuan ini ternyata hanya bisa terjadi di negara – negara yang masih berbudaya korup yang masih membudayakan uang damai dan pelicin dan inilah yang jadi “incaran” para pelaku penipuan dengan modus seperti ini … maka…… kalau bersih , kenapa harus takut ? hehehe