Akankah Antasari Azhar Bebas akibat pembelaan Media ? (Melihat kasus OJ Simpson)

Antasari azhar, sebenarnya masalah sederhana atau ribet sih ?
Antasari azhar, sebenarnya masalah sederhana atau ribet sih ?

Setelah penangkapan terhadap tersangka utama/ otak pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnain yaitu ketua KPK Antasari Azhar, bergulirlah upaya dari tersangka untuk melakukan pembelaan melalui media massa, seperti kita ketahui bersama; permasalahan awal dari pembunuhan ini diduga kuat  ada “cinta segitiga” antara Nasrudin dan Antasari Azhar, sehingga berujung pada pembunuhan berencana terhadap Nasrudin..

Mr. OJ Simpson = Mr. AA ?????
Mr. OJ = Mr. AA ?????

Dalam tulisan ini saya membandingkan bagaimana Kasus O. J. Simpson yaitu kasus pembunuhan yang melibatkan aktor sekaligus mantan pemain “American Football” Amerika O. J. Simpson. Ia diadili karena didakwa membunuh mantan istri Nicole Brown Simpson dan Ronald Goldman (pacar mantan istri) pada 1994. Kasus pidana ini mendapat sorotan luas dari media massa dan publik Amerika Serikat karena O.J. Simpson adalah mantan bintang sepak bola Amerika berkulit hitam. Setelah melalui pengadilan berkepanjangan, Simpson dinyatakan tak bersalah dan dibebaskan pada 3 Oktober 1995. Memang keputusan bebas ini diakui juga akibat besarnya “pembelaan” media massa terhadap OJ Simpson, media massa menggambarkan ia sesorang yang “tidak tercela”, “pahlawan”,  sehingga setidaknya mempengaruhi keputusan Juri yang membebaskan ia.

Kembali ke kasus Antasari Azhar, sekilas yang menjadi opini publik adalah seorang Antasari yang “petualang cinta”, “tidak setia” , “ceroboh”, dan “bodoh” ….. entah siapa konsultan “Public Relation” dari beliau tapi seperti dilihat jajaran pengacaranya adalah “jajaran pengacara yang katanya top” yang sering sekali terlihat “memanfaatkan” Media untuk menggangkat kepopulerannya …..  hahaha…. salah satunya Farhat Abbas…. dan lainnya… mereka adalah pengacara yang selain lihai dalam bidang hukum juga lihai dalam memanfaatkan media untuk mendukung kasusnya…..

Foto ehm eh pak AA dengan Ms. Caddy... waduh gimana menangkalnya ya ?
Foto ehm eh pak AA dengan Ms. Caddy... waduh gimana menangkalnya ya ?

…..dan langsung terlihat bagaimana “setting” media massa terhadapnya seperti dalam konfresi Pers pertama di rumahnya, Ia didampingi oleh istrinya terlihat “mesra” membantah segala “perbuatannya” apalagi “perselingkuhannya”…. tujuannya sudah jelas bukan ?  Melalui Media Massa diharapkan mengaburkan “motif”  sebenarnya dari   peristiwa ini yang diduga keras adalah rasa “ketidaknyamanan” pak Antasari karena diancam dibeberkan skandalnya cintanya oleh Nasrudin…

…. Upaya lain dalam memutar dan membangun “opini”  melalui Media massa adalah menghembuskan bahwa ada “Skenario Besar” dibalik peristiwa ini, dengan meyakinkan masyarakat bahwa “tidak mungkin” seseorang “sehebat” dan “sebersih” Antasahari Azhar terjerembab hanya karena persoalan “peyeum” eh “peyempuan”…. hahaha… kalau anda menyimak tulisan saya sebelumnya, dalam bagian comment pembaca… sebagian besar comment mengatakan mereka tidak percaya persoalan yang diangkat hanya sesederhana itu saja.. yaitu cinta segitiga antara : Antasari, Rani “caddy’ , dan Nasrudin… mulailah dikait – kaitkan dengan “teori konspirasi”, atau juga pelaksanaan pemilu kemarin, atau beberapa peristiwa pengungkapan korupsi oleh KPK beberapa lama ini….. jadi sebenarnya anda juga yang harus bijak menyikapi : Percaya skenario yang sederhana atau skenario yang ribet ????

Upaya lain adalah mencoba mengukit : “ketidakprofesionalismean tindakan polisi” weleh .. hal ini mah basi banget… tapi saya mengingat ada dijajaran pengacara Antasasari yang senang sekali mengungkit masalah ini melalui media massa…. hayooo siapa ituu ?

Akhir dari tulisan ini saya mencoba berhayal … akankah Antasari diselamatkan oleh “Pembelaan Media Massa ????” seperti saya beri contoh kasus OJ Simpson di Amerika Serikat …. bisa iya bisa tidak sih… kenapa ? bisa kalau dengan opini ini menggoyahkan keputusan Hakim dalam sidang pengadilan yang ragu atas penyidikan polisi dan penuntutan jasa… artinya Polisi dan Jaksa kurang mampu menghadirkan “Alat Bukti” dalam sidang pengadilan yang bisa meyakinkan hakim bahwa pak Antasari adalah tersangkanya…. Nah keadaan “gamang” ini bisa diputar – balikkan dengan opini melalui media massa….. Akankah terjadi ? ok kita lihat episode berikutnya dari kasus ini… akankah Media tetap membela Antasari…

Oh ya, OJ Simpson bisa jadi lebih beruntung dari Antasari, kenapa ? karena di Amerika yang menganut sistem hukum “Anglo Saxon” menggunakan sistem “Juri” dalam menentukan seseorang “bersalah” atau “tidak bersalah” dan “Juri” ini biasanya representasi belasan Masyarakat dalam sidang pengadilan yang ditunjuk ..  tentunya masyarakat akan lebih terpengaruh dengan pemberitaan Media apalagi menyangkut idola masyarakat seperti OJ Simpson,  Lain halnya di Indonesia yang meggunakan prinsip “continental” dalam sidang pengadilan, artinya Hakim lah yang langsung menetapkan seseorang terdakwa bersalah atau tidak, dan seperti diketahui hakim dalam sidang pengadilan ada 3 orang… nah… menurut saya seorang Hakim agak sulit dipengaruhi “pembelaan Media Massa” karena mereka lebih menilai obyektifitas hukum seperti yang hadir dalam sidang pengadilan…

Kita Nantikan bersama hasilnya …. penasaran kan ? hehehe……

Antasari Azhar dan Napsu Membunuh…

Mr. Clean, to be cleaned by Ms. Caddy ?Mr. Clean, to be cleaned by Ms. Caddy ?

Jawaban atas tulisan saya terdahulu Dor….! Nasrudin tertembak… terjawab dengan gamblang… seluruh rangkaian cerita bak cerita novel John Grisham terungkap sudah, dalam satu rangkaian yang cerita yang hampir utuh dari otak pelaku, pendana, penghubung ke eksekutor, pencari eksekutor dan eksekutornya sendiri…. suatu pengungkapan kejahatan yang sempurna.. “perfect” and “two thumbs up” …. tinggal bagaimana cerita ini bisa di aplikasikan dalam berkas untuk sidang pengadilan…

Pada kesempatan ini saya mengucapkan selamat atas kerja keras rekan rekan satuan Jatanras (Kejahatan Kekerasan) Polda Metro Jaya, yang bekerja siang dan malam tanpa lelah berupaya mengungkap peristiwa pembunuhan ini… “Puzzle nya sudah lengkap gambarnya” seperti kata salah satu kanitnya dalam status Facebook terakhirnya.. hehehe….

ok, tentang dugaaan dalam tulisan saya sebelumnya, pembunuhan ini menggunakan pembunuh bayaran terbukti sudah.. kemudian memang perencanaannya sedemikian cermat, jadi memang pembunuhan ini sudah direncanakan dengan baik…. artinya memang sengaja diincar…. tapi begitulah seperti kata kunci yang selalu menjadi pegangan penyidik kepolisian : “tidak ada kejahatan yang sempurna” atau “kejahatan selalu meninggalkan bekas” … jadi merangkai Puzzle selalu dari setiap “ketidaksempurnaan” ini… makin lama Puzzle ini makin lengkap …. dan lengkap… dan akhirnya timbullah gambarnya.

Logika penyelidikan sebenarnya adalah seperti logika umum saja, apabila anda sering membaca novel – novel detektif anda juga bisa berpikir seperti penyidik… mencoba menghubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya, mencari “keganjilan” yang terjadi … nah, hal – hal yang ganjil ini kemudian harus diburu hingga mendapatkan jawaban, jawaban ini kemudian dihubungkan dengan jawaban lainnya, hingga terdapatlah “gambar” yang utuh dan lengkap…. persis seperti merangkai sebuah “Puzzle”…

Hal yang sangat penting dalam pengungkapan kejahatan adalah mencari “Motif” …. terutama pada kasus pembunuhan yang direncanakan… menilik pembunuhan terhadap Nasrudin yang sedemikan rapihnya, maka yang pertama kali dicari adalah “motif” melakukan pembunuhan ini: Cemburu ? persaingan bisnis kah ? permasalahan keluarga kah ?… Hal inilah yang pertama dicari oleh para penyidik… makanya penyidik akan lebih kesulitan mencari pelaku jikalau motif tidak diketemukan, atau pembunuhan yang tidak berencana.. contohnya perampokan dengan korban dibunuh, hal ini biasanya terjadi dengan spontan, untuk mempertahankan diri, dan mencegah perbuatannya diketahui orang…. pertanyaannya, bagaimana polisi bisa menduga bahwa pembunuhan ini direncanakan atau tidak ? mudah saja, selalu cermati “Modus Operandi” dari kejahatan, contoh dalam kejadian pembunuhan Nasrudin … mungkinkah kita sebut peristiwa itu pembunuhan spontan, kalau kejadiannya dilakukan di tengah jalan sepi sehabis bermain golf, menembak langsung ke kepala korban tanpa peringatan dulu, dan tidak ada harta benda yang diambil atau bukan perampokan ? itu semua sudah direncanakan dengan rapih dan sudah pasti terencana….

Apa bedanya sih hukuman pembunuhan biasa dan terencana ? sudah pasti beda banget lah.. kalau melihat KUHP itu adalah pasal 338 (pembunuhan biasa) dan pasal 340 (pembunuhan berencana) … bisa kita lihat pada pasal 340 maksimal ancaman hukumannya adalah hukuman mati, sedangkan pada pasal 338 tidak ada ancaman hukuman mati… jadi seperti pembunuhanan berencana terhadap Boedyharto Angsono yang diotaki oleh menantunya sendiri Gunawan Santosa.. otak pelaku dan eksekutor semua mendapat vonis hukuman mati karena terbukti dalam sidang pengadilan melakukan Pembunuhan berencana… akan kah dalam peristiwa ini akan dijatuhi hukum yang sama ? Kita lihat saja dalam sidang pengadilan nanti…..

To Kill or to be killed

Napsu membunuh pada manusia sudah ada semanjak sejarah manusia itu sendiri berawal, pada zaman awal manusia… dalam Alkitab disebutkan anak ADAM yaitu Kain membunuh Habil karena korban bakarannya lebih diterima oleh Allah, sehingga menimbulkan iri hati….  Dalam sejarah kedinasan saya, saya melihat faktor yang menyebabkan orang membunuh sesamanya adalah hampir sama faktornya dari zaman manusia mula – mula yaitu iri hati, cemburu, merasa terancam dan rasa kehormatan yang terusik…. jadi dalam setiap peristiwa pembunuhan penyidik harus mencari terlebih dahulu “motif” dari pembunuhan tersebut, dan menarik beberapa waktu kebelakang , mengumpulkan cerita – cerita, gossip, atau informasi apapun yang mendukung “motif” terjadinya pembunuhan itu…

Khusus pada peristiwa pembunuhan Nasrudi Zulkarnain, no wonder dan berani taruhan.. semenjak awal pasti yang dikejar adalah masalah sekitar lapangan golf dan Ms. Caddy … dan itu bisa bisa sangat memungkinkan menjadi “motif” mengapa bisa terjadi pembunuhan itu…. selain faktor – faktor lain tentunya…  seperti mengumpulkan Puzzle dan mencocokkan gambarnya… syaratnya adalah jangan gampang menyerah, dan jangan berhenti… pasti Puzzle itu makin lama makin jelas gambarnya…

Napsu membunuh manusia terhadap manusia yang lain akan selalu ada dalam sejarah manusia……dan siapa yang terbunuh dan yang membunuh akan selalu berganti… Sebelum dihukum oleh hukum Tuhan,  ada suatu institusi yang menegakkan hukum Manusia … yaitu kepolisian…. Jadi, selama ada peradaban manusia.. polisi akan tetap ada untuk menegakkan Hukum Manusia…

Kepada para tersangka pembunuh Nasrudin baik otak pelaku, penyandang dana sampai eksekutor di lapangan…. silahkan menikmati Hukum Manusia dulu …. Baru Hukum TUHAN…

Dor !…. Nasrudin tertembak….

Mobil BMW Silver yang ditembak di kaca, tembus, dan mengenai pelipis korban.... Courtesy detik.com
Mobil BMW Silver yang ditembak di kaca, tembus, dan mengenai pelipis korban.... Courtesy detik.com

Dor !!  …..  aksi penembakan di tempat umum kembali terjadi !… kali ini korban adalah seorang Direktur sebuah perusahaan bernama Nasrudin Zulkarnain, pada hari Sabtu 14 Maret 2009 sekitar pukul 14.00 WIB pada saat selesai bermain golf di Modernland Tangerang, Pada saat Nasrudin  didalam mobilnya (sebuah BMW warna Silver) dan sedang meninggalkan lapangan golf, datanglah sebuah sepeda motor Yahama Scorpion ditumpangi dua orang, lalu mereka merapat dan menembak kearah jok belakang, tembakan mengenai kepala korban, tersangka langsung kabur tanpa mengambil suatu barang apapun….  dan korban tewas setelah dirawat, tanpa pernah sadar kembali dari komanya…

Menilik kejadian ini saya jadi ingat peristiwa yang mirip modus operandinya yang menimpa Dirut PT Asaba Sakti Bakti (Asaba), Boedyharto Angsono dan pengawalnya, Serka Edy Siyep. Keduanya tewas pada Sabtu 19 Juli 2003 pukul 05.30 WIB di halaman Gelanggang Olah Raga Pluit Penjaringan, Jakarta Utara.  Saat itu Boedyharto baru selesai bermain basket, pada saat hendak naik mobil Mercynya datang sebuah sepeda Motor dinaiki dua orang, mereka langsung menembak Supir Serka Edi Siyep dan tewas ditempat, kemudian menembak juga Boedyharto Angsono yang sempat lari… namun tertembak juga dan tewas ditempat.  Kasus ini dilatarbelakangi oleh dendam keluarga. Otak eksekusi ini adalah Gunawan Santosa, eks menantu Boedyharto. Sedangkan eksekutor penembakan adalah empat prajurit Marinir yang selama ini dekat dengan Gunawan. Mereka adalah Suud Rusli, Syam Achmad, Santoso S, serta Fidel Husni. Gunawan saat ini menanti proses eksekusi oleh Kejaksaan setelah divonis hukuman mati.

Kalau melihat Modus Operandi dari dua kejadian diatas terlihat ada kemiripan :

Pertama, para pelaku melakukan aksinya pada saat korban berada atau hendak masuk mobil, artinya sudah para pelaku sudah merencanakan saat yang tepat dan ditunggu.
Kedua, TKP berada di tempat yang sepi, tentunya bukan tempat yang ramai seperti di Mall atau tempat ramai lainnya… areal golf course dan parkiran lapangan basket memang relatif sepi… artinya aksi ini terencana secara cermat…  dan mengharapkan sedikit mungkin saksi yang melihat.
Ketiga, Pelaku melakukan aksinya dengan menaiki motor dan berboncengan, kemudian salah satu pelaku melakukan aksinya, setelah selesai langsung naik motor dan kabur….pasti sudah terencana baik  “eksekusi” dan “escape” dalam melakukan aksinya…
Keempat, tidak ada sesuatu barang yang diambil.. ini bisa diasumsikan bahwa tujuan penembakan memang untuk membunuh .. bukan untuk merampok… dan asumsi saya pembunuhan ini pasti sudah direncanakan dengan sangat cermat…

Nah, saya sendiri tidak berani mengatakan… apakah pelaku mungkin juga seorang yang terlatih dalam menggunakan senjata api, lebih dalam lagi  apakah pelakunya adalah aparat TNI atau POLRI seperti kejadian sebelumnya… biarkanlah penyelidikan polisi mengungkapnya, selamat bekerja kawan…

Terakhir, kita jangan membiarkan aksi coboy coboy jalanan itu berkembang dan menjadi besar… …. kalaupun pelakunya adalah “pembunuh bayaran” .. jangan sampai menjadi profesi ini sebagai alternatif menarik dikala kesulitan ekonomi dinegara ini………. Tumpas habis sampai keakar – akarnya !

Profiling (mencari tersangka berdasarkan kultur perilaku dan ras..)

criminal-profile-300x162

Pernah tau cerita di FBI Files (acara dicovery pay tv) ? disitu pernah diceritakan pelaku serial murder diungkap melalui metoda profiling, dikisahkan ada seorang pembunuh psikopat yang selalu menculik dan memperkosa dan membunuh perempuan…. TKP nya tersebar di lebih 10 negara bagian…. dan meninggalkan korbannya di TKP yang jauh dari pemukiman penduduk, dan susah mencari saksi dan alat bukti untuk mengungkap peristiwa itu….korban perempuan terdata sampai 25 orang sampai pelaku tertangkap….. (cerita ini diadaptasi menjadi film hollywood…. namun dengan jalan cerita yang lebih absurd dan tidak masuk akal karena sang profiling digambarkan seorang cenayang)

Dalam tulisan ini saya tidak membahas kasusnya (capeee deeeh…) tapi metode pengungkapannya, mereka (FBI) menggunakan ahli profiling, memang pemahaman orang seperti digambarkan adalah seorang cenayang, clairfoyant… yang mempunyai kemampuan paranormal, tetapi sebenarnya profiling itu adalah ilmu yang sangat ilmiah, menggunakan data statistik, logika dan bukan ilmu metafisika……. lho ?

Coba buka di website resmi FBI yang dimaksud profiling adalah ‘menggambaran seorang tersangka yang dicari berdasarkan jenis – jenis kejahatan yang biasa dilakukan oleh segolongan orang dari kultur atau ras tertentu‘ jadi ternyata ‘ada jenis – jenis kejahatan yang biasanya dilakukan oleh ras atau kultur tertentu dan tidak dilakukan oleh ras atau ras lain‘ ….. bingung ? Sebenarnya tidak….. contohnya : FBI pernah mengidentifikasi berdasarkan statistik di semua negara bagian bahwa : orang kulit hitam biasanya membunuh orang dengan berkelompok (keroyokan) dibanding orang kulit putih yang perorangan, contoh lain : orang kulit putih lebih banyak membunuh didalam rumah dibanding orang kulit hitam diluar rumah, ….. atau orang kulit putih lebih banyak membunuh menggunakan pisau dibanding kulit hitam…. itu juga masih digolongkan lagi, misalnya orang kulit putih dibedakan lagi dengan ras/kultur : hispanik, italia, irlandia seperti juga orang kulit hitam : mereka dibedakan dengan jamaican, cuban atau native african….. ternyata percaya ngga percaya setiap kultur/ras mempunyai pola kejahatan yang berbeda…..

Itu baru dari penggolongan berdasarkan ras/kultur…. FBI masih juga menggolongkan kejahatan itu berdasarkan umur pelaku….. hasil sementara yang didapat : makin tua usia pelaku…. semakin terencana perbuatan pelaku (ini pasti masuk logika kan ?) …. bahkan FBI bisa menentukan umur pelaku berdasarkan kejahatan yang dilakukannya…

Kembali ke cerita awal, FBI melalui ahli profiling nya … bisa menentukan kira kira gambaran tersangka (lengkap dengan rekaan wajah tersangka…… tentu ini ilmu profiling tingkat tinggi, coba bagaimana menentukan wajah berdasarkan jenis kejahatan…) dan tepat sekali …… pelakunya : white man, umur sekitar 40 tahun, sendiri (tidak menikah), seorang intelektual (akademisi), mempunyai riwayat bisexsual…. dsb dsb (lengkap banget ! ), dan mulai lah FBI mencari seseorang dengan metoda seperti itu …. woilaaa berhasil !!!!

Nah itu sekedar gambaran, dan pernah saya coba praktekan juga….. pada saat menemukan korban pembunuhan beberapa waktu yang lalu…, seorang wanita paruh baya, seorang diri dalam rumahnya, dan ditemukan bekas penganiayaaan…. (detilnya tidak saya ungkapkan karena takut dianggap SARA…….. he he)

Woilaaaa…… berhasil juga… ….. percaya ngga percaya sih ternyata di Indonesia juga berlaku ilmu profiling ini… dan ternyata beberapa suku bangsa di Indonesia mempunyai cara dan metoda melakukan kejahatan yang spesifik yang tidak dilakukan suku bangsa lain……

Anda bisa menebak kan suku bangsa apa dan apa ??? dan metoda melakukan kejahatannya bagaimana ?? coba gambarkan sendiri …. mungkin anda bisa jadi penyidik handal seperti FBI……

Kronologis Penyidikan Kasus GRIBALDI

GribaldidiBONkePoldaRiau6368Penyidikan kasus GRIBALDI dimulai ketika ditemukannya sesosok mayat pada tanggal 28 Desember 2004 di jalan lintas timur Sumatra Km 73 Bayung Lincir, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Mayat tersebut dalam keadaan terbakar dan hanya menyisakan sepasang kaki dengan sepatunya, mayat tersebut atas inisiatif kapolsek di bawa ke RS Raden Matahir, Jambi untuk diotopsi. Pertimbangannya adalah masalah kedekatan lokasi (1,5 jam dari TKP) dibandingkan dengan ke Palembang (6 jam), keesokan harinya peristiwa ini menjadi headline di koran lokal jambi, tak lama sesudah itu datanglah keluarga yang mengaku kehilangan putrinya yang bernama LISTI KARTIKA BAIDURI. Setelah mengidentifikasi sepatu dan cincin yang ditemukan di TKP, yakinlah mereka bahwa mayat tersebut adalah putri mereka. Sat 1 Dit Reskrim Polda Jambi mulai melakukan penyelidikan atas kejadian ini, cara paling lazim adalah mengungkap siapa – siapa yang terakhir terlihat bersama korban. Keterangan yang diperoleh dari keluarga LISTI terlihat belakangan dekat dengan GRIBALDI seorang perwira polisi berdinas di Polda, karena berjanji akan memasukkan adik korban menjadi PNS di Pemda Tanjung Jabung Timur.

Untuk menemukan alat bukti yang dibutuhkan pihak penyidik dari Resum Polda Jambi, Poltabes Jambi dan Polsek Bayung Lincir mulai menggeledah rumah GRIBALDI, ia pada saat itu tidak ada di rumah, pada rumah tersebut ditemukan dalam jumlah besar amunisi, uang sebanyak Rp 40 Juta, beberapa buah HP yang belakangan diketahui adalah milik korban, beberapa BPKB mobil yang belakangan diketahui milik korban yang dirampok mobilnya, sejumlah ijazah milik korban, foto – foto, kartu nama dan belasan cap berbagai instansi polri dan sipil, belakangan diketahui untuk memalsukan surat.
Penyidik memang belum menemukan alat bukti yang akurat untuk membuktikan keterkaitan GRIBALDI dengan korban LISTI, dan walau kurang alat bukti mulai diperiksa sementara sebagai saksi, untuk melihat alibinya. Ternyata GRIBALDI mempunyai alibi yang kuat yaitu pada saat korban ditemukan atau kira – kira waktu pembunuhan, GRIBALDI berada di rumah dikuatkan dengan keterangan istrinya SES EKOWATI, pada hari itu pula terlihat GRIBALDI sebagai wasit pertandingan volley dalam rangka Hut Satpam di Polda Jambi.
Berdasarkan Tempat Kejadian Perkara, GRIBALDI pada pertengahan Januari 2005 di bawa ke Polres Musi Banyu Asin untuk dilakukan penyidikan. Turut dibawa mobil Panther miliknya untuk dilakukan pengecekan laboratoris untuk mengetahui apakah ada bekas darah didalamnya. Hasil pemeriksan forensik pada mobil GRIBALDI ditemukan bercak darah, tetapi belum bisa dipastikan golongan darahnya, sehingga di sita oleh Polres Muba, belakangan diketahui bercak darah tersebut bergolongan darah O, identik dengan golongan darah LISTI.
Berdasarkan hasil koordinasi antar penyidik Polda Jambi dan Polres Muba, diketahui pada bulan Agustus 2004 ada penemuan mayat berjenis kelamin laki – laki, dibunuh dengan modus yang sama yaitu dibakar, TKP berada di daerah Sungai Liat, Muba tidak jauh dari TKP LISTI, penyidik membandingkan foto korban di TKP ternyata mirip dengan NGADIMIN, seorang tersangka yang sedang dicari Polda berkaitan dengan kasus penipuan. Guna keperluan identifikasi Keluarga dari NGADIMIN dipanggil, berikut juga team DOKPOL dari Mabes Polri untuk melakukan otopsi pada kuburan NGADIMIN (pada waktu itu korban tidak dikenal sehingga langsung dikuburkan), hasilnya mayat terlihat terbakar dan pada tubuh mayat terdapat 4 (empat) proyektil peluru yang bersarang dibadan, dari pemeriksaan Odontologi Forensik dapat dipastikan mayat tersebut NGADIMIN. Berdasarkan informasi dari keluarga korban, GRIBALDI sering terlihat bersama korban sebelum ia hilang pada bulan Agustus 2004.

Hasil pemeriksaan di Polres Muba selama 3 (tiga) hari, belum juga ditemukan petunjuk, alibi, apalagi pengakuan darinya, hal ini tidak cukup untuk membuktikan GRIBALDI sebagai tersangka, dan ia kemudian dibawa lagi ke Jambi. Demi menggiatkan penyidikan, dilakukanlah penahanan terhadap GRIBALDI dengan perkara pemilikan amunisi tanpa ijin, penahanan ini dilakasanakan oleh Sat Reskrim Poltabes Jambi. Sementara di tahan, GRIBALDI diharapkan tidak bisa melarikan diri, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi perbuatannya.

Upaya selanjutnya yang dilakukan penyidik adalah melakukan penyelidikan terhadap semua aktifitas yang pernah dilakukan GRIBALDI, termasuk orang – orang yang pernah berhubungan dekat dengannya. Didapatlah informasi bahwa ada beberapa orang lain selain NGADIMIN dan LISTI yang pernah berhubungan dekat dengan GRIBALDI, ternyata HILANG atau ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar, mereka adalah : MUHAMMAD ALI (MAMAT) 35 thn, pengemudi mobil sewaan, hilang bersama mobilnya jenis Izusu panther warna silver No.Pol.: B-8467-CE, pada tanggal 15 April 2004 ditemukan telah menjadi mayat dalam kedaan terbakar di daerah Talang Kerinci, Riau. Mobilnya tidak ditemukan. GUSMARNI 31 thn, hilang sejak bulan Juli 2003 setelah berhubungan dengan GRIBALDI karena membantu menguruskan asuransi Jasa Raharja suaminya yang meninggal tertabrak mobil GRIBALDI. NURMATA LILI (MARTHA) 29 thn, hilang sejak bulan Agustus 2004 setelah menikah dengan GRIBALDI, ketika ditanyakan GRIBALDI, ia pergi ke Jakarta untuk mengikuti kursus kecantikan. YENI FARIDA 29 thn, hilang sejak bulan April 2004 setelah GRIBALDI berjanji menguruskan adiknya masuk Secaba Polri. RUSDIN SIDAURUK 41 thn, pengemudi mobil rental jenis Toyota Kijang BK 1274 EP, warna biru yang dipakai GRIBALDI ketika hendak pulang cuti dari Medan, kemudian ditemukan tanggal 2 Nopember 1999 di Km 17 Desa Pasir Putih Bagan Batu Kab. Bengkalis Riau telah menjadi mayat dengan luka tembak di kepala. Mobil tidak ditemukan.

Penyidik Polda Jambi, berkesimpulan Modus Operandi yang dilakukan oleh GRIBALDI adalah selalu mengeksekusi korban di luar wilayah Jambi, upaya yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan Polda yang berbatasan, yaitu Polda Riau dan Sumatra Selatan. Informasi yang diharapkan adalah data penemuan mayat tidak dikenal diwilayahnya.
Didapatlah data penemuan mayat tidak dikenal di desa Kubu Rokan, Riau. Terdapat 2 (dua) TKP dengan jarak tidak berjauhan, keduanya berjenis kelamin wanita, pada TKP pertama korban adalah wanita dengan luka tembak di kepala, ditemukan oleh masyarakat pada bulan Juli 2003, sedangkan korban kedua juga wanita dengan keadaan terbakar, ditemukan pada bulan Agustus 2004. Keduanya langsung dikuburkan oleh masyarakat setempat karena tidak ada yang mengenali, walaupun sudah disiarkan media massa. Setelah melihat foto TKP terlihat korban pertama adalah mirip GUSMARNI dan yang kedua adalah mirip NURMATA LILI.
Penyidik Polda Jambi dan keluarga korban pada awal maret 2005 datang ke tempat penguburan mayat tidak dikenal tersebut, kemudian mayat itu diangkat dan dibawa ke Jambi untuk diotopsi. Berdasarkan hasil identifikasi dapat disimpulkan bahwa benar kedua korban tersebut adalah GUSMARNI dan NURMATA LILI. Hasil otopsi menerangkan juga GUSMARNI ditembak dengan 7 peluru dan masih terdapat proyektil di badan korban, sedangkan NURMATA LILI penyebab kematiannya akibat tusukan benda tajam di perutnya.

Penyidik Polda Jambi sampai saat ditemukannya mayat GUSMARNI dan NURMATA LILI, belum juga mendapatkan alat bukti khususnya saksi yang mengetahui, melihat atau mendengar peristiwa ini. Saksi petunjuk yang mengatakan keberadaan GRIBALDI dengan korban pada saat terakhir sebelum hilang tidak dapat membuktikan peristiwa pembunuhan itu sendiri. GRIBALDI sendiri selalu membuat cerita yang sulit diukur kebenarannya, ia terlihat tenang seprti tidak ada masalah yang menimpanya, karena selalu ada saja alibi yang susah untuk dibuktikan, sebagai contoh: ia selalu mengaitkan perbuatannya dengan ALI YUSUF, yang berjasa atas karier dan keuangannya, sehingga ia tidak bisa menolak perintah ALI YUSUF untuk membunuh para korban. Sampai terakhir Penyidik tidak dapat membuktikan keterkaitan ALI YUSUF dalam setiap pembunuhan yang dilakukan GRIBALDI. Karena penyidik hampir frustrasi, pada akhir Maret 2005 Wadir Reskrim Polda Jambi Akbp EDI berinisiatif pergi ke Medan, untuk mencari bahan keterangan dan melakukan otopsi atas korban RUSDIN SIDAURUK, yang telah dimakamkan keluarganya di Tarutung, Sumatra Utara. RUSDIN SIDAURUK diketahui berdasarkan kartu nama yang disita dari rumah GRIBALDI, dalam kartu nama tersebut tertulis nama sebuah perusahaan rental mobil milik ALAM SINAGA, ketika di telepon ternyata ALAM SINAGA mengatakan pernah kerampokan sebuah mobilnya, dan supirnya adalah RUSDIN SIDAURUK yang mayatnya ditemukan Polisi tanggal 2 Nopember 1999 di Km 17 Desa Pasir Putih Bagan Batu Kab. Bengkalis Riau.

Hasil penyelidikan di Medan didapatlah hasil Sdr. ALAM SINAGA mengenali GRIBALDI sebgai orang yang merental mobilnya Jenis Toyota Kijang warna biru BK 1274 EP di Stasiun Kereta Api lapangan Merdeka Medan tanggal 31 0ktober 1999 sekira jam 16.00 wib dengan sopirnya bernama RUSDIN SIDAURUK. Penyidik Polda Jambi pergi juga ke Tarutung untuk melakukan otopsi atas mayat RUSDIN SIDAURUK, yang dilakukan oleh team Forensik, USU. Dari otopsi tersebut diketahui RUSDIN SIDAURUK meninggal akibat ditembak, dan ditemukan 7 proyektil peluru yang masih bersarang di badannya. Ada temuan selanjutnya bahwa GRIBALDI masih mempunyai istri bernama DARNAWATI dan anak 3 orang, mereka tinggal di Jl. Tunas Jaya Gang Parkit No.19 B Kel. Labuai Kec. Tangkerang Labuai, Pekan Baru, Riau.
Pada saat pulang dari Medan, penyidik melewati Pekan Baru dan menuju ke alamat tersebut diatas, di rumah tersebut di parkir dalam halaman 3 (tiga) buah mobil: Izuzu Panther warna Silver, Toyota Kijang warna hitam, dan Jimny Katana. Kedua mobil tersebut patut dicurigai sebagai mobil yang hilang disertai terbunuhnya pengemudinya, Izuzu Panther yang dikendarai MAMAT dan Toyota Kijang yang dikemudikan RUSDIN SIDAURUK, pada saat pulang DANARWATI dan Ketiga Mobil tersebut dibawa ke Polda Jambi untuk dijadikan alat bukti serta dikonfirmasi dengan GRIBALDI.
Sesampai di Jambi, dilakukanlah pemeriksaan kembali terhadap GRIBALDI untuk peristiwa pembunuhan terhadap MAMAT dan RUSDIN SIDAURUK, berdasarkan alat bukti petunjuk mobil Izuzu Panther warna Silver dan Toyota Kijang warna hitam (dahulu berwarna biru). Tetapi penyidik kembali menemukan kesulitan dengan pembuktian alibinya, GRIBALDI selalu dengan cerdas menjawab pertanyaan dengan saksi – saksi fiktif yang dikarangnya, GRIBALDI sadar betul penyidik pasti tidak bisa mendapatkan saksi yang langsung mengetahui semua pembunuhan yang ia lakukan. Begitu pula terhadap saksi DANARWATI, tidak banyak keterangan yang bisa diberikan, kecuali petunjuk dititipkannya mobil – mobil tersebut yang kurang lebih berdekatan waktunya dengan hilangnya korban.
Titik terang penyidikan didapat ketika saksi DANARWATI selesai diperiksa dan hendak pulang ke Pekanbaru, Hand Phone nya tertinggal di ruang pemeriksaan, dan ketika di periksa ada sebuah SMS dari nomor tidak dikenal, namun dipercaya dari GRIBALDI yang tertulis : “BARANG SUDAH SAMPAI KE BAPAK DI MEDAN ?” ketika didesak DANARWATI mengakui bulan lalu ia di telepon GRIBALDI untuk mengantarkan sebuah bungkusan yang pernah ditinggalkan GRIBALDI sebelum ia di tahan, kepada orang tuanya di Medan. DANARWATI sendiri tidak mengetahui apa isi bungkusan itu, namun dari diskripsinya penyidik menduga keras bahwa isinya pistol yang digunakan untuk membunuh para korban.
Malam itu juga penyidik Polda Jambi berangkat ke Medan menuju rumah orang tua GRIBALDI dengan alamat Jln. Bilal Ujung Gang Buntu No 189 C Medan. Setelah dilakukan penggeledahan di dapatlah sepucuk pistol jenis revolver cal. 38 merek S&W di sembunyikan dalam tanah di kebun belakang rumah.
Ternyata pistol itu adalah yang dicuri GRIBALDI sewaktu menjabat sebagai Parik Irwasda Polda Jambi, yang sedang melakukan Wasrik logistik di Polres Bungo pada tahun 2001. Kejadian itu membuat Baur Logistik Polres Aipda MUSLIM terkena tahanan disiplin dan terpotong gajinya untuk membayar ganti rugi senjata yang hilang. Dilakukan juga uji balistik untuk membandingkan proyektil yang didapat dari tubuh korban dengan pistol tersebut, dan hasilnya identik, artinya pistol itulah yang digunakan GRIBALDI untuk mengeksekusi korban.
Dengan ditemukannya pistol tersebut runtuhlah segala alasan serta alibi yang selama ini diberikan GRIBALDI, akhirnya ia mengakui setidaknya telah melakukan pembunuhan terhadap 7 (tujuh) orang, yaitu : LISTI KARTIKA BAIDURI, NGADIMIN, MUHAMMAD ALI (MAMAT), GUSMARNI, NURMATA LILI (MARTHA), YENI FARIDA dan RUSDIN SIDAURUK. Pada bulan Mei 2005 kasus pembunuhan ini dilimpahkan ke Polda Riau dan Polres Muba, Bulan Januari 2006 Gribaldi di sidangkan di PN Bagan Batu untuk pembunuhan RUSDIN SIDAURUK dan di vonis 20 tahun dengan PU masih banding, dan di PN rengat dituntut HUKUMAN MATI dan GRIBALDI masih banding, masih menunggu lagi PN Muba.

KORBAN POLISI PEMBUNUH !

Berikut dibawah ini korban – korban pembunuhan berencana yang dilakukan oleh seorang Polisi bernama Iptu Gribaldi Handayani:

mamatMUHAMMAD ALI (MAMAT) 35 thn, pengemudi mobil sewaan, ia dibunuh oleh GRIBALDI dan mengambil mobilnya jenis Izusu panther warna silver No.Pol.: B-8467-CE, pada tanggal 15 April 2004 ditemukan telah menjadi mayat dalam kedaan terbakar di daerah Talang Kerinci, Riau.

gusmarniGUSMARNI 31 thn, hilang sejak bulan Juli 2003 setelah berhubungan dengan GRIBALDI karena membantu menguruskan asuransi Jasa Raharja suaminya yang meninggal tertabrak mobil GRIBALDI. Ditemukan 2 tahun kemudian di daerah air Molek Riau, dengan 6 buah peluru bersarang dibadannya.

nurmataliliNURMATA LILI als MARTHA, 29 thn, hilang sejak bulan Agustus 2004 setelah menikah dengan GRIBALDI (istri ke dua), ketika ditanyakan GRIBALDI, ia pergi ke Jakarta untuk mengikuti kursus kecantikan. 29 thn, ditermukan 2002, TKP Jl Riau Medan 2001, MO ditembak.

yenifarYENI FARIDA 29 thn, hilang sejak bulan April 2004 setelah GRIBALDI berjanji menguruskan adiknya masuk Secaba Polri, mayat tdk ditemukan.

rusdin (1)RUSDIN SIDAURUK 41 thn, pengemudi mobil rental jenis Toyota Kijang BK 1274 EP, warna biru yang dipakai GRIBALDI ketika hendak pulang cuti dari Medan, kemudian ditemukan tanggal 2 Nopember 1999 di Km 17 Desa Pasir Putih Bagan Batu Kab. Bengkalis Riau telah menjadi mayat dengan luka tembak di kepala. Mobil Kijang tersebut ditemukan di rumah GRIBALDI.

ngadiminNGADIMIN 50 thn, Swasta, TKP sungai Liat Muba 2004, ia tewas dengan cara ditembak dan di bakar, GRIBALDI kesal karena ia menagih janjinya untuk memasukkan beberapa orang untuk menjadi Polisi.

listyCustomLISTI KARTIKA BAIDURI 21 Thn, TKP Bayung Lincir, Musi Banyu Asin Km 73, Pertemuan pertama dengan GRIBALDI ketika ia berjanji menguruskan adiknya untuk menjadi PNS di kabutaten Tanjung Jabung Timur, ketika ia menagih janjinya membuat gusar GRIBALDI, kemudian pada pada suatu malam menghabisinya dengan menembak dan membakarnya dengan menyiram bensin.

POLISI PEMBUNUH !

RotationofGribaldidanistri-1Masyarakat Jambi beberapa waktu yang lalu dikejutkan oleh serangkaian pembunuhan berantai (Serial Murdered), tercatat di kepolisian korbannya sebanyak 7 (tujuh) orang dan dengan TKP tersebar di daerah Riau dan Sumatra selatan, dan yang lebih mengejutkan, tersangkanya adalah seorang Polisi, Iptu Gribaldi Handayani SH, Perwira Pertama berdinas di Polda Jambi, terdapat pertanyaan besar di masyarakat : Bagaimana seorang Polisi yang seharusnya menjadi pelayan dan pelindung masyarakat melakukan hal yang sangat mengerikan ini ????. Dalam pergaulan masyarakat dan sesama polisi, Gribaldi dikenal sebagai sosok yang ramah dan senang membantu orang lain. Para keluarga korban dan korban sendiri pada awalnya merasa sangat terbantu atas kehadiran GRIBALDI, mereka menaruh kepercayaan kepadanya, bahkan sudah dianggap sebagai keluarga.

Saya sendiri turut terlibat dalam penyelidikan dan penyidikan dugaan pembunuhan ini, kami para penyidik dari Satuan Reserse Umum Polda Jambi pada awalnya ragu apakah GRIBALDI adalah tersangkanya, benarkah ia begitu tega melakukan semua pembunuhan tersebut, sikapnya yang berani dengan gaya yang meyakinkan berhasil membuat para penyidik dalam kasus ini menjadi ragu. Karena minimnya alat bukti yang ada, GRIBADLDI tidak langsung diperiksa sebagai tersangka. Pada saat interogasi terhadap GRIBALDI Penyidik menemui kesulitan, ia terlihat cerdik dengan gaya bicaranya yang tegas, sebelum menjawab selalu dipikirkan dulu, cerita yang diterangkannya mempunyai pola yang jelas dengan menggabungkan fakta, alibi, argumentasi dan khayalan yang baik, sehingga kami penyidik kalau tidak melakukan cross check keterangannya dengan fakta di lapangan, bisa terlihat keterangannya adalah suatu hal yang benar. Saya melihat, sepanjang proses penyidikan GRIBALDI tidak pernah sedikitpun merasa bersalah, tidak ada empati terhadap korban yang dibunuhnya, bahkan ia menyalahkan mereka.

Ketika membaca sebuah tulisan pada sebuah website Prof SARLITO, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tentang psikopat, barulah penulis menyadari bahwa ada beberapa kemiripan ciri seorang psikopat dapat ditemukan di dalam diri GRIBALDI. Ciri itu antara lain sbb. :

1. Kurangnya rasa empati selalu berbohong,

2. Emosi yang tidak terkedali,

3. Egoistis,

4. Manipulatif,

5. Tidak mempunyai rasa toleransi

Saya kemudian membandingkan ciri – ciri tersebut diatas dengan beberapa sikap GRIBALDI selama penanganan. Untuk itu diperlukan suatu metoda dan cara khusus untuk melakukan penyidikan terhadap seorang Psikopat, mengingat rumitnya kondisi kejiwaan seorang tersangka.

(bagian pertama)