LIARKAN KAMI KEMBALI….

Ada cerita yang sangat menarik buat saya sepulang dari mengunjungi Stasion Penelitian dan Rehabilitasi Orangutan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Tanjungjabung Barat Jambi kemarin … tentunya tentang ‘warga binaan’ mereka orangutan. Ternyata ‘meliarkan’ Orangutan tidak semudah yang kita bayangkan bersama….

Peter memberi contoh berkehidupan bagi warga binaannya
Peter memberi contoh berkehidupan bagi warga binaannya

Semua itu berawal dari kedatangan seorang pionir reintroduksi orangutan Dr. Peter Pratje dari Frankfurt Zoological Society ke Jambi semenjak 10 tahun yang lalu… Ia pada awalnya berjuang sendirian, dan mencari lokasi yang paling tepat untuk reintroduksi oranghutan… ia menemukan lokasi pertamanya di daerah Tebo Jambi, sedangkan lokasi yang kemarin saya kunjungi adalah lokasi keduannya…. pada awalnya Ia hanya sendiri beserta staff lokal 3 orang dan 7 ekor orangutan, sampai terakhir kemarin ia telah berhasil ‘meliarkan’ kembali 109 orangutan ke habitatnya…. dan dari hasil ‘peng-liar-an tersebut’ telah didapat 3 bayi orangutan yang lahir di hutan…dan staff lokalnya saja ada sekitar 50 an orang… sungguh upaya yang luar biasa ..

Stasion penelitian dan Rehabilitasi ini bekerjasama dengan Departemen Kehutanan mereka “menampung” orangutan yang disita berdasarkan UU Konservasi Hewan dan Tumbuhan… yang menyatakan Orangutan adalah hewan yang dilindungi dan tidak boleh dipelihara dan hanya boleh hidup di habitatnya, Oleh stasion inilah Orangutan inilah di ‘manusiakan’ eh.. di ‘orangutankan’ kembali … 🙂

Ada beberapa hal yang menurut saya sangat menarik tentang ‘meng-orangutan-kan’ (reintroduksi) kembali ke habitatnya, yang sempat saya catat, anda pasti tercengang membacanya  :mrgreen:

  • Untuk reintroduksi orangutan ke habitatnya di hutan, ternyata tidak boleh ada orang hutan “native” (orangutan asli)  yang tinggal di kawasan itu, bisa berabe karena orangutan kota ini akan “diusir'” oleh penduduk asli orangutan ini, jadi jangan dibayangkan orangutan “native” akan mengajari orangutan kota ….., jadi pemilihan mengapa lokasi reintroduksi orangutan di Jambi, karena memang di Jambi tidak ada orangutan asli dan sudah punah, namun berdasarkan penelitian pustaka peninggalan Belanda pada abad ke 18 tercatat Jambi ada habitat orangutan Sumatra…. entah mengapa mereka sampai punah, makanya Jambi cocok jadi tempat reintroduksi orangutan.
  • Orangutan Sumatra berbeda dengan orangutan Kalimantan, cirinya dari warna bulunya orangutan sumatra lebih terang dan merah, dari bentuk fisiknya juga lebih kecil dari orangutan Kalimantan, nah untuk proses Reintroduksi Orangutan Sumatra tidak bisa untuk direintroduksi di Kalimantan demikian sebaliknya Orangutan Kalimantan tdk bisa di Sumatra….. Nah Celakanya kalau ada orangutan hasil persilangan Orangutan Sumatra dan Kalimantan…. mereka sama sekali tidak bisa direintroduksi kembali ke habitatnya…. baru tau kan ?
  • Ada banyak tempat reintroduksi orangutan yang gagal, kenapa ? karena mereka sudah mengkomersilkan orangutan tersebut menjadi obyek wisata, karena prinsipnya makin sering mereka bertemu kembali dengan manusia (berfoto, memberi makan dsb), mereka jadinya akan “manja” hanya menunggu belas kasihan pengunjung dan tidak lagi mau mencari makan di hutan, dan ada hal yang gawat lainnya mereka banyak ketularan penyakit manusia….. oooo.. makanya pada saat kunjungan stasion itu sangat tertutup bagi dunia luar dan kami dilarang menyentuh orang utan….
  • Lama proses orangutan kota untuk reintroduksi ke habitatnya di hutan tidak tentu, namun paling cepat bisa 3 bulan, namun ada juga yang sampai tahunan, kenapa sebabnya ? karena dulunya ia sangat dimanja oleh pemiliknya…. seperti contohnya seorang orangutan bernama Bimbim, bayangkan menurut petugas sewaktu disita dari pemiliknya ia sudah diperlakukan seperti manusia, diberi baju, dipakaikan pampers dan tidur di tempat tidur …. weleh.. kasian juga kamu Bim… pantesan kemarin saya liat mukanya Bimbim seperti sedih … mungkin kangen kehidupan kotanya lagi 🙂
  • Orangutan sifatnya kan seperti manusia, dia makhluk yang mencontoh apa yang dilihatnya secara visual… jadi ternyata mereintroduksi orangutan untuk membuat sarang, makan buah hutan dan banyak hal lainnya adalah hasil mencontoh tingkah laku “trainer’ nya… mereka ber “acting” tertentu yang dikehendaki, agar “ditiru” oleh orangutan…. oooo  begitu… seperti gambar Peter diatas … dia sedang memberi contoh warga binaannya… weleh weleh…

Waaah, saya salut – sesalutnya buat para pekerja di Stasion ini, sungguh pengorbanan yang luarbiasa… ditempat yang jauh dari peradaban … tidak ada tetangga, listrik apalagi internet… hanya untuk mengajari Orangutan kembali ke habitatnya… sungguh tugas yang mulia… Buat Peter , Kris, Siregar dan semua awak di station… tetap semangat yaa…

Iklan

Mengunjungi Fasilitas Station Penelitian Orangutan di Jambi

Pada tanggal 18 s/d 20 Februari saya ditunjuk untuk mendampingi tamu penting Duta Besar Australia, Mr. Bill Farmer. Maksud kedatangan beliau dan rombongan adalah mengunjungi fasilitas Station Penelitian Orangutan di Kabupaten Tanjabar, Kecamatan Renah Mendalu, Desa Lubuk Kambing.

Orangutan dan anaknya yang lahir di station rehabilitasi
Orangutan dan anaknya yang lahir di station rehabilitasi
Orangutan yang akan di Liarkan
Orangutan yang akan diliarkan

Mengapa kunjungan di fasilitas ini demikian penting bagi pemerintah Australia? Dikarenakan pemerintah Australia memiliki investasi yang tidak sedikit dalam mempertahankan Riset Stasiun ini untuk menjalankan fungsinya.

Fungsi dari Riset Stasiun adalah merehabilitasi Orangutan-Orangutan yang disita dari masyarakat agar siap dikembalikan ke alam bebas sebagai tempat hidup nya yang layak (habitat) bukan di kandang ataupun dikurung.

Fasilitas Riset Stasiun Orangutan yang menggunakan area seluas 10 ha ini terletak di tengah Hutan Produksi Terbatas yang memiliki luas lebih dari 30,000 ha yang bersebelahan dengan Hutan kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh seluas 143,000 ha, yang keseluruhannya merupakan habitat yang layak bagi orangutan maupun binatang-binatang yang dulindungi UU lainnya misalnya harimau, beruang, gajah serta ratusan jenis burung.

Jalan menuju lokasi yang benar 2x off road
Jalan menuju lokasi yang benar 2x off road

Fasilitas  ini sedemikian strategis untuk membuktikan kepada dunia bahwa Jambi memiliki niat dan rencana yang baik dalam mendukung upaya dunia mengurangi emisi untuk menanggulangi ekses negative Climate Change. Fasilitas maupun hutan-hutan di sekelilingnya yang dikelola dengan baik akan merupakan tempat penyerapan karbon, perlindungan tata air, perlindungan kesuburan tanah.

Kunjungan ini juga merupakan evaluasi bagi pemerintah Australia untuk meningkatkan bantuannya ke Jambi dalam rangka membantu pemerintah daerah untuk menyusun strategi pembangunan yang rendah emisi dalam rangka mewujudkan statement President SBY untuk mengurangi emisi nasional sebesar 26% sampai 41% sampai tahun 2030.

Station Rehabilitasi Orangutan
Station Rehabilitasi Orangutan

Bantuan Australia ke provinsi Jambi yang akan datang diperkirakan akan mengucurkan dana jutaan dolar untuk skema pengurangan kerusakan hutan, yang sementara ini masuk dalam rencana adalah di Sarolangun dan Merangin di prioritaskan sebagai pilot proyek walaupun Tanjabar juga tentunya akan terus mendapat perhatian. Komponen-komponen kegiatan yang akan dikerjasamakan adalah kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi jangka panjang untuk menghindari kegiatan yang hanya berorientasi pada keinginan memperoleh keuntungan cepat namun mengorbankan lingkungan dan fungsinya u ntuk kepentingan masa depan yang justru menambah emisi karbon. Oleh karenanya peranan ekonomi masyarakat agar tidak mengancam kondisi hutan akan mendapat prioritas. Jambi sendiri sudah menyiapkan rencana aksi untuk pembangunan rendah emisi melalui pengurangan kebakaran lahan dan upaya perlindungan lahan gambut melalui pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan yang tentunya tidak akan terlaksana bila hanya mengandalkan dana APBD.

Berfoto bersama Dubes dan Rombongan
Berfoto bersama Dubes dan Rombongan

Duta Besar Australia dalam kunjungan kerja ini didampingi oleh Ms. Susan Hunt, Direktur Kebun Binatang Perth, Mr. Martin Newberry perwakilan Pemerintah Australia Barat serta Mr. Leif Cook ahli primata dari Australia.