CERITA PERAMPOK SUMATRA (BAGIAN IV)

TERTANGKAPNYA SANG LEGENDA

Robin keteika tertangkap di Jambi
Robin ketika tertangkap di Jambi

Seperti dalam tulisan saya sebelumnya : Cerita perampok Sumatra (Bagian III) THE NEXT GENERATION:  FASTER AND MORE CRUEL…. Perampok ini bernama Julianto alias Robin, ia adalah generasi baru perampok yang lebih mobil, bersenjata lengkap dan  sangat kejam,  karena daerah operasinya yang sangat luas Robin merupakan incaran polisi seluruh Sumatra dan Jawa dan Mabes Polri, yang paling mencengangkan dalam seluruh aksinya Robin telah menewaskan (sembilan) orang termasuk 6 (enam) anggota Polri. Dua korban terakhirnya adalah Brigadir Barita Simanjuntak anggota Poltabes Medan dan Briptu Endang Wahyudi anggota Polres Garut.Namun beberapa waktu yang lalu Robin akhirnya dapat tertangkap di di rumah kontrakannya sebuah ruko di Pasar Desa Keras Wetan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi.

Robin merambah dunia hitam sejak 2005. Aksinya bermula di Sumatera Utara, Jambi, Jawa barat, dan beberapa tempat lain hingga di tempat kelahirannya di Ngawi, Jawa Timur. Dalam setiap aksinya kelompoknya pasti selalu menggunakan senjata api organik (bukan rakitan) dan tidak segan – segan membunuh setiap orang yang menghalanginya, dan celakanya yang sering jadi korban adalah polisi, karena secara psikologis dan tugas mereka yang paling siap menghadapi kelompok ini… dan sayangnya mereka adalah yang tewas menjadi korban.

Aksi spektakuler yang terjadi dari Robin adalah ketika ia berhasil lari dari Lembaga Pemasyarakatan Jambi menggunakan seutas tali beberapa tahun yang lalu, dan baru terbongkar setelah ia tertangkap kemarin, ternyata ia menyogok seorang petugas lapas dengan uang 300 juta, atas peristiwa ini Polisi Jambi sedang mengusut tersangka petugas lapas yang terindikasi penyuapan tersebut.

Keahlian menembak Robin ternyata karena ia pernah berdinas menjadi tentara di Aceh dan kemudian di pecat, senjata yang didapatnya dari penyelundupan senjata dari negara tetangga seperti Malaysia, ada juga didapat merupakan hasil curian dan rampasan anggota TNI/POLRI, …dalam melakukan aksinya rombongan Robin selalu berafiliasi dengan kelompok perampok lokal sebagai petunjuk jalan, Robin turun tangan sebagai “eksekutor” dalam aksinya.

Berikut ini beberapa dari banyak peristiwa perampokan yang dilakukan Robin Cs. :

Pada tahun 2005 ia melakukan perampokan di pabrik kelapa sawit di Sumatera Utara, dia merampas uang Rp 725 juta dan membunuh 3 orang, Termasuk seorang Polisi.

Pada tahun 2006 ia melakukan perampokan terhadap KUD sungai Bahar Jambi, yang mengakibatkan kerugian 1,4 M, ia tertangkap dan divonis 15 tahun dan hanya menjalani 2 Tahun setelah ia melarikan diri dari Lapas Jambi.

Pada tahun 2008 merampok dan membunuh Andry Anwar manager perkebunan PT Asiatic dan membawa kabur sebuah Mobil Mitsubisi Strada.

Pada tahun 2009 Robin cs melakukan perampokan pom bensin di Samarang, Garut, menewaskan seorang Polisi Briptu Endang Wahyudi anggota Polres Garut.

Petualangannya berakhir pada tanggal 21 April 2010 pukul 06.30 WIB itu bermula saat 2 intel Polres Ngawi menyamar sebagai pembeli dan memesan nasi ke warung milik Robin (selama pelarian Robin ia membuka warung nasi di ruko yang dikontraknya). Saat itu kebetulan Robin juga keluar ke meja pembeli. Saat kemunculan Robin, 2 polisi tersebut langsung menangkap dan sempat terjadi aksi kejar-kejaran saat Robin berusaha kabur. Rupanya Robin ditembak dan terkena kaki kanannya saat di belakang ruko yang berukuran 4 x 7 meter tersebut. Terungkaplah bahwa selama pelariannya ia mengganti nama menjadi Rahmad, demikianlah pengakuan dua orang pembantunya yang dipekerjakannya di warungnya.

Demikianlah Kisah sang legenda berakhir, namun kita tetap harus waspada karena kelihaiannya, jangan sampai ia bisa lolos kembali dari Lembaga Pemasyarakatan, dan yang paling penting dengan tertangkapnya sang legenda bukan berarti kejahatan telah hilang, masih banyak lagi ” the next generation after Robin”…. waspadalah …. waspadalah ….

TAMBAHAN

Robin tidak di bawa ke sidang pengadilan, ia tewas tertembak di tangan polisi sewaktu melarikan diri pada saat dibon dari tahanan Polres Garut oleh Reserse Mobil Mabes Bareskrim Mabes Polri untuk menunjukkan TKP lainnya …. STORY END

Denny Indrayana Bicara Blak-Blakan

Denny Indrayana in Action
Denny Indrayana in Action

Siapa yang tidak kenal dengan sosok seorang Denny Indrayana ?? seorang anggota dari Satgas Mafia Hukum bentukan Presiden RI yang sejauh ini telah membuat heboh pemberitaan media dengan 2 temuannya yaitu: Sel mewah Artalita di Rutan Pondok Bambu dan yang paling terbaru adalah menggiring ekspose Susno Duaji yang mensinyalir adanya Mafia Hukum di tubuh Polri dan yang lebih menghebohkan lagi adalah pertemuannya dengan tidak sengaja dengan buronannya Gayus Tambunan di Food Court Lucky Plaza.

Pada hari ini tgl 5 Februari, mas Denny membicarakannya secara lugas dan blak – blakan  dalam rakernis dan penataran fungsi Reserse Polri di Hotel Mercure Ancol.

Gaya bicaranya yang khas dosen  tanpa teks mengungkapkan berbagai polemik yang berkembang di tengah masyarakat tentang polisi, khususnya yang lagi booming belakangan ini masalah Mafia Kasus yang melibatkan Gayus Tambunan dan beberapa oknum Polri.  Ada beberapa cerita menarik yang sempat saya catat pada waktu mendengarkan ceramah terbukanya :

Tentang Pembentukan Satgas Mafia Hukum

Denny Indrayana merasa beruntung sekali bisa bergabung dengan satgas Mafia Hukum, karena program ini di Back-Up penuh oleh Presiden dan mendapat Political Support, Ia juga mengungkapkan rahasia kenapa pak Kuntoro dipilih oleh Presiden SBY sebagai ketua Satgas, walaupun ia sendiri tidak mempunyai latar belakang hukum….? Mas Denny meyitir perkataan pak Presiden : “Pak Kuntoro, He is a delivery man…”, artinya Presiden percaya penuh  segala tugas yang yang diberikan pasti berhasil, dan memang berhasil kan ?

Ada yang menarik juga mengenai penamaan Satgas ini, kenapa harus dikatakan Mafia sepertinya kasar sekali ?  SBY tetap menginginkan istilah ini karena memang Mafia Hukum realitasnya sudah menjadi persoalan bangsa, dan hal ini bukan “Mission Imposible”, Kenapa istilahnya bukan Satgas MARKUS (Makelar Kasus) ? istilah ini menurut SBY adalah : “Political Incorrect”, karena akan menyinggung golongan agama tertentu karena nama seorang di Alkitab, memang ada usulan lain yaitu satgas CAKAR (Calo Perkara) tapi setelah timbang – menimbang diputuskan namanya menjadi Satgas Mafia Hukum.

Tentang Pertemuannya dengan Gayus di Food Court Lucky Plaza

Mas Denny pergi ke Singapura dengan rekannya sesama Satgas Mas Ahmad Santosa, ia mengakui pada saat menginjakkan kaki di Singapura mereka masih gelap dan  masih bingung bagaimana cara menemukan Gayus di belantara gedung – gedung Singapura. Setelah check in di Hotel JW Marriot mereka berencana makan di food court Lucky Plaza, dalam hati Denny terbersit : “Mudah – mudahan ada Gayus…”, baru 5 langkah masuk ke food court, ia dicolek oleh rekannya Mas Ahmad. “Eh Den, sini kamu liat … ada Gayus”, Denny masih tidak percaya, Mas Ahhmad kembali menegaskan : ” Coba kamu lihat dari samping …”, memang benar setelah diperhatikan memang benar itu Gayus dengan menggunakan T-Shirt warna putih dan celana Krem 3/4, memang mereka mengenal sebelumnya sosok Gayus, karena sebelum lari ke Singapura mereka sempat bertemu. Lalu mereka langsung menegor Gayus dengan tidak dapat meyembunyikan keterkejutannya mereka melakukan pembicaraan sambil menyantap nasi Padang, mereka melakukan pembicaraan selama 2 jam….Sementara itu Denny menelepon pak Ito Kabareskrim Polri bahwa mereka telah berhasil menemukan Gayus, ternyata Gayus juga telah dibuntuti personil dari Bareskrim Polri ( mereka baru tahu setelah pulang, pada saat mereka minta difoto oleh seseorang, orang yang memotret adalah seorang anggota Bareskrim)

Akhirnya mereka berhasil membujuk Gayus dan permintaannya ia ingin membicarakannya kepada istrinya, karena  itu mereka mengantar ke hotel Gayus (hotel Mandarin) menunggu di lorong kamar hotel… dan akhirnya ia mendapat persetujuan dari istrinya, Pada saat itu juga anggota dari Bareskrim telah turut bersama mereka mengatur cara pemulangan Gayus.  Denny mengatakan pertemuannya dengan Gayus secara kebetulan merupakan perpaduan antara Doa, Ikhtiar dan Kerja Keras…..

Salut deh buat Mas Denny 🙂 Sukses selalu dengan Satgasnya….

Tanya Rudy Giuliani, Bagaimana Cara Menurunkan Kejahatan ?

Rudi Giuliani, Mayor NY, 1 January 1994 – 31 December 2001
Rudi Giuliani, Mayor NY, 1 January 1994 – 31 December 2001

Jika ada manusia di dunia ini yang dianggap berhasil menurunkan crime rate di suatu daerah yang selama ini dianggap “surga” nya kejahatan yaitu New York  pasti semua bilang ….”Oh, itu karena jasa Mr. Giuliani, sekarang New York aman.. tidak seperti dulu …” , hal ini langsung saya dengar dari New Yorker sendiri, yaitu adik ipar saya yang telah tinggal 20 tahunan di NY dan menikah dengan seorang Italian-American.

Saya jadi penasaran dan mulai buka internet saya, bagaimana sih sepak terjang Mr. Giuliani yang menjadi legenda dan dikenang sebagai seseorang yang berhasil menurunkan angka kejahatan di New York ?

Mr. Rudi Guiliani adalah seorang Mayor (gubernur negara bagian) New York, selama 2 periode , dari tahun 1994 hingga 2001… sebenarnya kalau tidak ada aturan maksimal 2 kali terpilih, banyak New Yorker masih menginginkan beliau sebagai Mayor.

Ia terlahir pada tanggal 28 May 1944, di Brooklyn NY, ayahnya Harold Angelo Giuliani (1908–1981) dan ibunya Helen C. D’Avanzo (1909–2002) adalah berasal dari golongan buruh berpenghasilan rendah, keduanya adalah imigran dari Italy yang mencoba peruntungan hidup di Amerika Serikat. Ayahnya, Harold banyak berurusan dengan polisi karena seperti kebanyakan imigran Italia mereka banyak berhubungan dengan mafia (organized crime) yang mengelola perjudian dan peminjaman uang. Walaupun berasal dari keluarga yang banyak berurusan dengan aparat hukum, Rudi justru menyelesaikan kuliahnya dari New York University School of Law di Manhattan, dengan predikat Cum Laude dan mendapat gelar Juris Doctor . Ia memulai kariernya pada United States Department of Justice (Departemen Hukum Amerika Serikat) sebagai Jaksa, dan karier cemerlangnya dimulai ketika ia diangkat menjadi Jaksa Distrik kantor wilayah Selatan New York, ia dihadapkan pada kasus-kasus “high profile” seperti kasus menghebohkan yang terjadi di bursa efek Wall Steet yang melibatkan terdakwa Ivan Boesky dan Michael Milken dan ia juga banyak menangani penuntutan kasus-kasus Peredaran Narkoba, Kejahatan Terorganisir, dan banyak Kasus Korupsi, Ia juga ditunjuk sebagai ketua “Komisi Peradilan Mafia” yang telah sukses memenjarakan 11 tokoh – tokoh utama “organized crime”, termasuk yang paling terkenal adalah John Gotty dari “five families” bos Mafia dari New York.

Pada tahun 1993 ia mengikuti pilkada gubernur New York, dengan perahunya partai Republik (Ia memang seorang Republikan sejati) melawan calon Partai Demokrat George Marlin, dalam kampanyenya Rudi Giuliani menjanjikan apabila menang ia akan fokus pada Kepolisian kota NewYork untuk menghilangkan “street crime” dan gangguan keamanan untuk meningkatkan kualitas hidup warga New York… Tema kampanye yang sederhana itu ternyata menarik minat New Yorker yang bosan dengan keadaan kotanya yang sangat rawan dan berbahaya untuk ditinggali ….dan dampaknya Rudi Giuliani menang sebagai Mayor New York, dan kembali menang tidak terbendung pada pemilihan kedua pada tahun 1997.

Penegakan Hukum Ala Giuliani

Pada masa pertamanya sebagai Mayor, Giuliani bahu membahu dengan kepala kepolisian kota NewYork Bill Bratton utuk mengadopsi strategi pencegahan kejahatan yang agresif berdasarkan pendekatan “Broken Window” yang ditemukan oleh profesor political scientist Mr. James Q. Wilson. Caranya adalah membasmi segala “kejahatan kecil” yang selama ini dianggap remeh oleh polisi seperti: grafitti (mencoret tembok), pemeras jalanan (tukang kompas), pecandu narkoba, dan segala bentuk-bentuk premanisme…. dalam teorinya, taknik ini dipergunakan untuk “Menyampaikan Pesan” bahwa pemerintah dan kepolisian “serius” untuk mulai menertibkan kota. Ada satu prinsip dari teori ini yaitu “untuk menertibkan kejahatan besar harus dimulai dari menertibkan kejahatan kecil/street crime”, dengan tidak memberikan toleransi sama sekali pada kejahatan kecil, otomatis kejahatan besar tidak akan berkembang…. dan teori ini terbukti

Giuliani dan Bratton juga mengenalkan “pendekatan komparatif statistik Kejahatan” (istilah mereka CompStat) yang memetakan kejadian kriminal berdasarkan lokasi geografisnya, sehingga dapat dilihat secara jelas Pola kejahatan di suatu daerah, juga dapat diketahui daerah yang mempunyai klasifikasi “rawan” maupun “tidak rawan”, Nah hebatnya data ini digunakan sebagi indikator keberhasilan anggota Polisi dalam bertugas, ia dikatakan berhasil apabila wilayah yang menjadi tanggung jawabnya dari klasifikasi “rawan” menjadi “tidak rawan” dan dianggap tidak berhasil apabila data tersebut kebalikannya dari “tidak rawan” menjadi “rawan”. Walaupun CompStat pada awalnya banyak dikritik karena akhirnya banyak polisi yang memanipulasi data kejahatan diwilayahnya karena takut dikatakan “tidak bekerja” namun berkat pengawasan internal kepolisian yang ketat tidak ada lagi manipulasi data, bahkan ComStat mendapat penghargaan oleh Kennedy School of Government sebagai inovasi terbaik pemerintahan tahun 1996.

National, New York City, and other major city crime rates (1990–2002).
National, New York City, and other major city crime rates (1990–2002).

Pada masa pemerintahan Giuliani angka kejahatan di New York turun secara signifikan, bahkan Sosiologis dari University Of California Frank Zimring dalam bukunya “The Great American Crime Decline” mengatakan apa yang dilakukan oleh Giuliani sebagai “Kebijakan yang paling fokus dalam sejarah penegakan hukum” ia mengatakan pula kejahatan di New York turun hingga setengahnya atas kebijakan Giuliani itu, suatu pujian yang setinggi langit …..

Keberhasilan Penurunan Kejahatan ini menyebabkan kepala Polisi New York Bill Bratton “dipinang” oleh Mayor Los Angeles untuk menjadi Kepala Kepolisian LA, karena LA sebagai kota pesaing NY merasa “panas kuping” atas keberhasilan NY menurunkan kejahatan, dibanding dengan LA yang masih tetap tinggi …. wah ternyata dua kota ini bersaing yaa hahaha…

Sungguh suatu kisah yang membuat saya merinding, suatu kesuksesan seorang anak yang lahir dari keluarga Mafia, dan justru menjadi seorang anti-mafia, dan menjadi seorang yang selalu dikenang oleh Masyarakat New York….

Inti dari kisah ini kalau kita mau berusaha dan Serius, pasti Tuhan akan membuka jalan….. Salam Sukses !

Polisi Sebagai Terpidana Dalam Lembaga Pemasyarakatan

Kemarin saya berkesempatan memberi pengarahan kepada para pegawai lapas di Lembaga Pemasyarakatan Jambi, setelah selesai saya berkesempatan meninjau kedalam sel – sel tahanan, dan “miris” rasanya didalamnya terdapat belasan anggota Polisi yang terlibat tindak Pidana dan divonis penjara…. suatu jumlah yang tidak sedikit … wuiih.. kalau dilihat perbuatannya… mereka adalah terpidana kasus Narkoba, dan perbuatan lainnya seperti Pencurian dan Penganiayaan…

Police Behind Bars
Police Behind Bars

Semenjak Polri bukan lagi bagian integral dari Angkatan Bersenjata pada awal tahun 2000 an, Polisi sudah 100% tunduk pada aturan Pidana Umum, artinya diadili dalam Pengadilan Umum dan apabila divonis Penjara masuk dalam Penjara Umum… dan bisa dibayangkan Polisi dipenjara bareng orang yang pernah ditangkapnya :mrgreen: dan kisah itu benar – benar terjadi,…. setidaknya di Lapas yang kemarin saya lihat … Seorang anggota Polisi pernah dikeroyok beramai – ramai narapidana lainnya pada saat masuk, sebelumnya terkenal sebagai polisi yang suka menangkap orang dan “sadis” terhadap tangkapannya …Polisi yang masuk pun harus membayar “upeti” terhadap para preman narapidana agar tidak diganggu ….

Kalau kita bandingkan dengan anggota TNI, mereka tetap berada dalam lingkup peradilan militer dan tahanan militer walaupun kejahatan yang mereka lakukan termasuk “kejahatan umum” seperti yang tercantum dalam KUHP, menurut pendapat saya kalau negara ini ingin menegakkan “supremasi hukum” mestinya semua mendapat perlakuan yang sama didalam hukum tanpa memandang bulu baik itu Polri, TNI atau siapapapun ….

Saya jadi ingat pengalaman saya dulu sewaktu Polri masih tunduk pada hukum militer, karena dituduh terlibat perkelahian yang tidak saya lakukan, saya bolak balik dipanggil Polisi Militer dan diperiksa …. saya pada waktu itu berpikir kalaupun saya terbukti melakukan tindak Pidana pengeroyokan (170 Kuhp yo 351 KUHP) masakah saya diadili di pengadilan militer ? ngga nyambung blass kan ? hehe… 😛 untung perbuatan saya tidak terbukti, karena memang saya tidak melakukan… saya pun bersumpah keadaan ini harus diubah …

Keadaanpun berubah Polisi kembali kejati dirinya sebagai anggota masyarakat umum… dalam lingkup peradilan umum… nah  sumpah saya jadi berbalik ke saya … pada saat itu kebetulan saya sebagai penyidik di Polda, dan karena saya yang paling senior, maka semua kasus Pidana yang melibatkan anggota Polri dilimpahkan ke saya …. walaaaah serba salah …..antara tugas dan ngga tega… tapi itulah  tantangannya… mau ngga mau saya  sudah mengantar belasan anggota Polri yang terkait Pidana kedalam penjara….. sighh sungguh ironi…

Makanya, saran saya kalau anda seorang Polisi jangaaaan deh terlibat perkara pidana… akan sakiiiit sekali kalau anda divonis penjara dan masuk Lapas …

Gendarmarrie, Polisi Banci atau Tentara Banci ?

Lambang Italian Carabinieri
Lambang Italian Carabinieri

Di beberapa negara Eropa ada suatu institusi yang tidak kita kenal sistem tata negara kita, institusi ini unik sekali seakan akan berada di “dua alam” yaitu Kepolisian dan Militer secara bersamaan, dapat berganti peran secara bergantian tergantung keadaan, seperti Banci 🙂 … Institusi ini  dibilang Polisi juga ngga seluruhnya  benar karena aturannya sangat militer bahkan ikut diterjunkan dalam berbagai operasi militer, dibilang Militer juga tidak tepat karena kok mereka juga bertugas di bidang pencegahan dan penanggulangan kriminal yang berada dalam masyarakat…

lambang France Gendarmarrie
lambang France Gendarmarrie

Institusi ini bernama Gendarmarrie atau Gendarmary diperkenalkan awalnya di Perancis berasal dari kata “Gens d’armes” yang artinya “orang bersenjata” pada awalnya adalah pasukan kavaleri bersenjata dibawah Angkatan Bersenjata Perancis, namun setelah revolusi Perancis diperkenalkanlah pemisahan lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif … Negara pada waktu itu sangat kacau, sehinggga diperlukan Militer untuk “meredakan” keadaan, namun karena aturan itulah maka Militer harus diberi wewenang “sipil” untuk turun ke ranah “keamanan” negara, jauh dari tugasnya sebagai “pertahanan” . Maka dibentuklah “tentara” yang bisa bertugas “sipil” yaitu Gendarmerrie… Nah ide ini diadopsi ke beberapa negara lain di Eropa seperti Italia dengan “Carabinieri” , Spanyol dengan “Guardia Civil”, Belanda dengan “Marschautshce” atau kita sebut “Marsose”…

Carabinieri sedang patroli
Carabinieri sedang patroli

Gendermarie sebenarnya adalah militer namun ditugaskan dalam masyarakat sipil, karena itu mereka lebih disebut “Para-Militer” ketimbang “Militer”, namun mereka bisa juga ditugaskan dalam tugas – tugas militer dalam keadaan Perang atau dalam penanggulangan bencana alam, disisi lain mereka juga melakukan tugas pemolisian sipil seperti melakukan penyelidikan dan penyidikan, patroli jalan raya, laut dan udara dan penanggulangan huru – hara… bahkan mereka juga sebagai PM (Polisi Militer) yang melakukan penyidikan terhadap Militer atau sebagai Provost Militer… Gendarmarrie berada dalam lingkup Kementerian Pertahanan (Italy), dalam lingkup kementerian dalam negeri (Argentina dan Spanyol) bahkan berada dalam dua kementrian sekaligus Kementerian Dalam Negeri dan Pertahanan (Chili, Perancis, Belanda) … Inilah sekilas perbandingan Gendarmarrie (perancis) dan Carabiniery (Italy) seperti :  Gendarmarrie dan Carabinieri sama sama berada di bawah Menteri Pertahanan dan Menteri dalam Negeri, Gendarmarrie : Bertugas di daerah Rular (luar kota) sedangkan Polisi di daerah Urban (perkotaan), Carabiniery : Sama – sama dengan dengan polisi, baik diluar kota maupun didalam kota, jadi mereka saling bersaing.

France Gendarmerrie sedang Patroli
France Gendarmerrie sedang Patroli

Pada penugasan dalam ranah “kepolisian” tentunya ada rivalitas abadi Gendarmerrie dengan “Polisi” benaran …. mereka saling saingan untuk merebut hati masyarakat dengan tugasnya (malah bagus kan ? .. hehehe) Saya pernah melihat sendiri di Italy, masyarakat lebih percaya kepada Carabiniery ketimbang Polisi…. Alasan mereka Carabiniery lebih cepat tanggap kalau ada laporan masyarakat … saya pernah melihat statistik : ternyata Carabiniery lebih banyak menangani kasus kriminal dibandingkan Polisi…. Dibandingkan dengan “polisi biasa” Gendermarrie mempunyai kelebihan disiplin yang lebih tinggi, membuat mereka lebih kapabel ketika berurusan dengan kelompok kejahatan kekerasan yang bersenjata… disisi lain standar rekrutmen yang tinggi terutama di kesehatan dan Jasmani membuat mereka mempunyai calon anggota yang mempunyai kelebihan dibanding polisi. Gendermarrie mempunyai berbagai macam tugas polisi maupun militer, contohnya di Perancis Gendermarrie mempunyai tugas pengendalian massa/kerusuhan, anti teroris, penjagaan VVIP dan Obyek Vital, Pengawal Presiden Perancis, Pengawal bandara, Polisi Udara dan Air, dan SAR.

Lucu kan ? tapi menurut saya banyak positifnya kok…..kalau Polisi dan Carabinieri saingan untuk menanggulangi kejahatan .. pasti susah kan kalau ada mafia hukum ? haha… kalau tersangka bisa bebas karena disogok di Polisi, jangan – jangan bisa di tangkap lagi sama carabinieri atau sebaliknya….   🙂

Kita Getol Memberantas Judi, Tapi Perjudian Depan Pintu Rumah Kita ?

Pada tanggal 20 Januari kemarin telah dibukalah resort dan kasino terbesar, termegah dan termodern di Asia, terletak di Sentosa Island Singapura…. hal ini menjadi hal yang luar biasa bagi Singapura, mengapa ? karena resort perjudian ini juga ternyata dibuat dengan mengamandemen UU Singapura yang mengharamkan perjudian semenjak negara ini berdiri pada tahun 1965, dengan adanya Kasino ini diharapkan akan membantu Ekonomi Singapura yang beberapa tahun ini agak “seret” …. dan yang luar biasa juga adalah komplek kasino ini dibangun dengan biaya yang sangat fantastis yaitu USD 4 Milyar (hhmmmm saya sih berpikir walaupun besar, tapi kan BEP nya cepat kan ??? he he..)  oleh group perjudianyang selama ini beroperasi di Genting…. eitsss jangan salah resort perjudian ini bukan hanya di Sentosa saja, masih akan dibangun lagi satu kasino lagi di seberangnya Marina Bay oleh group pemilik kasino Sands yang terkenal dari Las Vegas…

Casino Sentosa
Casino Sentosa

Coba anda bayangkan, beberapa tahun yang lalu banyak orang Singapura datang ke Batam untuk bermain judi (karena perjudian di Singapura dilarang….)  mereka berduyun duyun datang ke Casino spot di Batam seperti Hotel Mandarin dan Planet Holywood… yang pastinya memberikan kesejahteraan yang luar biasa bagi warga Batam…. sampai ada instruksi menghentikan semua perjudian tanpa pandang bulu di Batam (baca: diseluruh Indonesia) …. Judi tutup…. No Singaporean …. dan lihatlah apa yang terjadi di Batam sekarang …. sepiiiii….seperti kota mati…

Pemerintah Singapura rupanya pintar…. daripada uang mereka mengalir ke luar negeri (…penduduknya kalau mau main judi pasti ke Genting Malaysia atau Batam..) mereka mengamandemen UU mereka dan memperbolehkan Judi di Negara Mereka, dan dibangunlah Infrastruktur Casino di Pulau sentosa ….. biayanya ? oooh jangan kuatir… tidak ada modal pemerintah .. semua swasta, dan dengan adanya casino diharapkan “mendongkrak” ekonomi mereka yang lagi “seret” dengan pembangunan kasino ini akan menyerap tenaga kerja sebanyak 40.000 orang dan diharapkan dalam 1 bulan operasi bisa menghasilkan USD 1 Milyar !!! hahaha … Pasti sebagian disumbang oleh penjudi dari Indonesia….artinya Indonesia turut membantu ekonomi Singapura kan ?….

Taukah anda apa dampak bagi Indonesia ? tebak sendiri lah … betapa gampangnya orang masuk ke Singapura… dari Batam tinggal naik ferry cepat 30 Menit, tidak perlu Visa dapat berkunjung 3 Minggu…, dan tidak ada aturan orang Indonesia untuk bermain Judi di Negara orang kan ? Ok , ada aturan untuk mencegah orang membawa uang ke luar negeri ? ngga ada tuh.. saya pernah ke Singapura dari Batam … aman 2x saja tidak ada pernah ada pemeriksaan cash money, mereka sangat welcome dengan orang Indonesia…( Sumber devisa mereka.. hehe..) … cuma satu yang sangat terlarang masuk Singapura: Rokok Indonesia .. haha..

Sebenarnya banyak ngga “penjudi” dari Indonesia ?… weleh boss… banyak sekali … sebut saja tempat yang pernah saya datangi : Casino Genting di Malaysia,  atau bahkan di Casino Crown Melbourne, banyak sekali saya dengar  logat Indonesia diantara para penjudi… seperti percakapan : “Horeee Gue menang nih ….”… dan saya mendengar penjudi Indonesia terkenal royal dan mempunyai uang “unlimited”, mereka banyak yang mendapat VIP membership di Casino tersebut… kalau kalah Rp 1 M atau 2 M sudah sering saya dengar…

Kesimpulannya, di tempat yang jauh aja Penjudi Indonesia datang… apalagi cuma Singapura ? yang aksesnya benar – benar gampang dan murah ….? daripada was- was bakalan ketangkap main judi di Indonesia, lebih baik dengan bebas datang ke Singapura…( naik pesawat dari Jkt hanya 500 rb, atau naik fery dari batam hanya 300 rb….)

Maukah uang kita hasil jerih payah, tetesan keringat bahkan darah buruh Indonesia .. dihabiskan para boss 2x nya berjudi di Luar negeri ? (baca: Singapura) ? Sedangkan pemerintah Indonesia sangat getol memberantas judi … (sama aja menyuruh orang Indonesia main judi diluar negeri kan ?) …Maukah kita melihat negara kita makin miskin sementara orang Singapura makin kaya dengan uang kita ???? silahkan jawab sendiri…

Nareen, My Nepalese Policeman Friend…

Insp. Nareen
Insp. Nareen

Pernahkah anda membayangkan jikalau anda  menjadi polisi hendak menangkap buronan dan karena suatu peristiwa buronan itu menjadi boss anda ? Inilah yang terjadi di negara Nepal, tempat kawan saya Nareen tinggal dan menjadi seorang polisi  … kami berkenalan pada saat sama – sama sebagai “team aju” kontingen FPU Indonesia dan Nepal PBB di Darfur Sudan, dalam penantian yang tidak ada henti karena lamanya proses pergerakan barang kontingen dari Port Sudan hingga El Fasher yang menempuh jarak ribuan Kilometer melintasi gurun Pasir….. dan kami sama – sama ditempatkan di Pusat Logistik PBB di Al Obeid, daerah pertengahan antara Port Sudan dan El Fasher, berbulan bulan kami tinggal di dalam akomodasi yang berbentuk kontainer..  dari pagi setelah breakfast di Dining Room kami ngobrol sambil menunggu lunch, kemudian ngobrol lagi sambil menunggu Supper… begitu tiap hari … bosen ngga ? Tapi menarik banyak cerita menarik yang saya dapat darinya…. tentang keindahan negaranya Nepal yang berada di kaki Everest, tentang budaya masyarakatnya yang ramah, dan yang paling sering cerita tentang kedongkolannya terhadap Rezim baru yang memerintah di negerinya, yaitu rezim Komunis Maois yang menggulingkan Raja Nepal… yang secara otomatis mengacaukan semua tatanan birokrasi yang telah ada selama ratusan tahun…

Pada awalnya negara ini menganut sistem Monarki dan mendapat pemberontakan dari Partai Komunis Nepal (Maoist) yaitu partai yang menganut paham komunis ala ketua Mao Ze Dong, kelompok Maois ini diketuai oleh Pushpa Kamal Dahal … pemberontakan ini memacu “civil war” yang berlangsung 10 tahun dari tahun 1996 hingga 2006 yang menelan korban 12.800 orang tewas… dan perang sipil ini berakhir dengan perjanjian damai pada 21 November 2006 dengan bantuan United Nation Mission In Nepal, perjanjian damai ini memberikan jalan kepada Partai Komunis Nepal (Maoist) untuk memerintah negara ini dan menganulir sistem Monarki yang diperintah oleh Raja Terakhir Gynanendra, menyerahkan kekuasaan dan kemudian menjadi Republik Rakyat Nepal…. (…Hmmmm jadi inget kaisar PuYi raja terakhir Cina dalam film “Last Emperor” … pantesan aja kelompok ini memuja – muja Ketua Mao..)

Nareen adalah lulusan Akedemi Kepolisian Nepal pada zaman Monarki,  dia sendiri lulusan tahun 2003 dan langsung mendapat pangkat Inspektur (letnan), pada masa kelulusannya memang tengah hebat – hebatnya “Civil War” sehingga ia langsung ditempatkan sebagai danton pada pasukan kepolisian khusus (semacam brimob) yang memerangi pemberontakan Maoist di utara Nepal… banyak keberhasilan yang ia dapatkan hingga beberapa kali dapat menangkap pimpinan pemberontak lokal… Setelah beberapa saat dalam pasukan ia dipromosikan di Mabes Polisi Nepal di bagian Interpol, tugasnya ialah mengirimkan DPO dan “Red Notice” para pemberontak Moist ke pusat Interpol di Lyon…..

Pada tahun 2006 Raja Gyanandra menyerah dan turun tahta menyerahkan pemerintahan kepada pemberontakan Maoist, inilah awal dari problem besar, walaupun Maoist tidak membubarkan kepolisian, tapi jabatan – jabatan penting di Kepolisian diganti oleh orang – orang Maoist, bayangkan bagaimana bisa segerombolan pemberontak yang tidak tahu apa – apa tentang polisi namun tahu cara bergeriliya di hutan menjadi Kapolri mereka ? …. namun itulah yang terjadi … mereka tidak bisa berbuat apa – apa, How come your ex #1 enemy become your boss ? merekapun sekarang sekarang merasa was – was takut kalau perbuatan mereka dahulu (pada saat memburu pemberontak) ketahuan dan disingkirkan dari Kepolisian…. :mrgreen:

Nah itulah curhat si Nareen selama di Al Obeid yang selalu berulang ulang ia sampaikan, hmmmm saya jadi membayangkan …. andaikan PKI pada tahun 1965 menang di Indonesia …. pasti yang dialami para anggota Polri sama dengan yang dialami Nareen sekarang 😛 …….. Thanks GOD it wasn’t Happen….

Baikuni and Ryan, Persamaan dan Perbedaan

Terungkap lagi pelaku “serial murder” yang korbannya disinyalir hingga 12 nyawa yaitu Baikuni alias babeh… wah,… imbang imbang deh dengan Ryan sang jagal dari jombang…. kok bisa ya ada monster yang berwujud manusia ? begitu hausnya dengan darah…. ? Sebagai seorang yang bertugas di penyidikan, saya sudah banyak sekali menemukan “kekejaman” seperti ini… namun saya menemukan suatu pola yang kurang lebih sama dari monster – monster yang haus darah ini, walaupun ada juga perbedaannya… semua data saya dapat dari media maupun hasil “nguping” rekan 2x penyidik yang menangani kedua kasus itu, inilah persamaan dan perbedaannya :

Monster 1 dan 2
Monster 1 dan 2

1. Orientasi Sex :
Persamaan : Mereka sama – sama Homoseksual …
Perbedaan : Babeh dalam kehidupan Homoseksualnya adalah sebagai “laki” atau bahasa di kalangannya sebagai “Top” dan dia mempunyai kecenderungan Phedophil, sedangkan Ryan di kehidupan homoseksualnya lebih banyak sebagai perempuan atau “Bot” (Bottom) dan tidak ada kecenderungan Phedophil.

2. Trauma Masa Kecil :
Persamaan : mereka mempunyai trauma masa kecil yang mengakibatkan mereka “membenci” wanita, menjadi homoseksual dan mempunyai “sifat pemarah” yang mengakibatkan mereka menjadi pembunuh berdarah dingin…
Perbedaan : Baikuni a.k.a babeh mempunyai trauma pada masa kecil ketika ia diperkosa seorang lelaki pada saat ia berusia 10 tahun, kebencian inilah yang menyebabkan ia menjadi homoseksual dan persis melakukan apa yang pernah didapatkannya (memperkosa anak kecil), Ryan mempunyai trauma masa kecil pada saat melihat ibunya selingkuh di depan matanya pada saat bapaknya tidak dirumah, hal inilah yang menyebabkan ia membenci wanita dan menjadi homoseksual, pada beberapa kesempatan ia pertah berkata : “ibuku adalah seorang yang paling kusayangi sekaligus paling kubenci”…

3. Motivasi Membunuh :
Persamaan : Mereka baik Baikuni maupun Ryan mempunyai motivasi yang sama yaitu tidak ingin ketahuan perbuatannya, terungkap juga dari keduanya mereka setelah membunuh pertama, kedua dan seterusnya… mereka makin lama makin menikmati saat – saat korban merenggang nyawanya…
Perbedaan : Baikuni membunuh lebih untuk menunjukkan “superior” artinya ia sebagai yang kuat menindas yang lemah, para korban  yang melawannya dibunuhnya, mungkin akibat trauma masa kecilnya sangat membekas didirinya… Ryan membunuh lebih banyak dimotivasi karena niat kepemilikan akan harta benda korban, walaupun ada juga karena tersinggung karena korban menghinanya…

Inilah sedikit kesimpulan dari dua monster itu….. ngeri kan ?

Dari saya ada tambahan persamaan dari mereka : ” Mereka sama – sama akan mati dalam eksekusi  didepan regu tembak …”