Indonesia konsumen terbesar Narkoba di Dunia ?

369149263
Bahaya peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba

Setelah tertangkapnya 2 kapal pengangkut Narkoba yang berasal dari Taiwan yaitu kapal Wanderlust yang ditangkap Polda Metrojaya mengangkut 1 ton Amphetamin (Shabu) dan Kapal Sunrise Glory yang ditangkap gabungan BNN, TNI AL dan Bea Cukai juga membawa 1,37 ton Shabu, ditambah lagi penangkapan ratusan kilogram  sabhu yang berasal dari Malaysia di Banda Aceh dan Medan, kita jadi bertanya tanya seberapa besar sih demand akan Narkotika di Indonesia ? Kok sudah ditangkap berton – ton masih juga banjir narkoba, seberapa besar sih konsumsi anak bangsa terhadap narkoba, sehingga supply banyak sekali ?

Demikian beberapa fakta yang saya ketahui tentang peredaran gelap Narkotika di Indonesia;  Jumlah pemakai di Indonesia diperkirakan 5 juta orang atau 2% dari jumlah penduduk, data ini diapat dari survey tahunan BNN yang melibatkan outsourching dari Universitas Indonesia. Angka ini mungkin terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang punya 18 juta pemakai atau 18% dari total jumlah penduduk.

Jenis narkotika yang populer dan digunakan sebagian besar pemakai adalah ganja dan diikuti narkotika berbahan sintetis yaitu Shabu atau Amphetamine. Khusus harga narkotika Shabu di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, dibawah Jepang dan Australia, yaitu Rp 1 M sampai Rp 1,2 M/Kg, lucunya tidak mengecilkan demand shabu di Indonesia. Terdapat kecenderungan masyarakat sekarang beralih ke Narkotika Sintetis terutama Shabu.

Ada data yang sungguh mengejutkan dari harga jual narkoba sintetis jenis Shabu, di tingkat pemroduksi di perbatasan Tiongkok/Myanmar harga 1Kg Shabu sekitar Rp 40 jt, biasanya shabu ini di bawa melalui indochina dan Thailand dan menuju “gudang” di Malaysia, sampai di Malaysia harga pasaran sudah Rp 200 jt/Kg, mereka menjadikan Malaysia sebagai “Stepping Stone” sebelum menuju ke Indonesia dan lebih mengejutkan lagi apabila Shabu ini berhasil diloloskan melalui jalur laut (selat Malaka) menuju pantai Timur indonesia dari Aceh sampai Lampung ataupun melalui perbatasan darat di Kalimantan, harganya melonjak fantastis menjadi Rp 1 M/Kg atau naik 5x lipat, jadi bisa dibayangkan keuntungan para bandar apabila bisa meloloskan Shabu hanya dari Malaysia ke Indonesia.

Kalau kita hitung kasar berapa sih konsumsi para pengguna Shabu di Indonesia ? kalau ada 4 juta saja pemakai di Indonesia,  dan setiap orang butuh 1/4 gram/hari, jadi diperlukan 1 ton sehari, jadi kebutuhan Shabu di Indonesia kurang lebih 30 ton/bulan. Suatu angka yang fantastis dan “Inconvinient Truth” kenyataan yang tidak mengenakkan, pantas saja berton – ton Shabu masuk ke indonesia, bagaikan banjir dimusim hujan.

money
Uang sitaan Narkoba di AS, 2,4 juta Dollar Cash

Berapa uang yang dihasilkan oleh para bandar ? kalau 1Kg = Rp 1M, maka uang dari 1 ton Shabu adalah Rp 1 M x 1000Kg artinya Rp 1 Triliun. Jadi perbulan uang yang berputar dari penjualan Shabu adalah 30 T dan kalkulasi setahun menghasilkan Rp 360 T, suatu angka yang sangat – sangat fantastis, maka tak heran bila seorang terpidana mati Freddy Budiman yang telah dieksekusi, menurut team Money Laundring BNN mempunyai uang sekitar Rp 7 Triliun.

Kesimpulan, kenapa peredaran narkoba di Indonsia sangat massif ? sebenarnya ini karena jumlah penduduk Indonesia yang besar, namun juga mempunyai pola wilayah yang unik dengan kepulauannya, yang mengakibatkan banyaknya jalur masuk ke Indonesia dan disinyalir 80% masuknya narkotika (baca:Shabu) ke Indonesia adalah melalui laut. Lalu kenapa harganya mahal ? Hal ini menjadi dilema penegak hukum juga, karena ketatnya pengawasan lembaga penegak hukum di bidang pengawasan peredaran gelap narkoba dari BNN dan Polri, maka sialnya jadi berlaku hukum ekonomi, dengan demand yang tinggi sekali namun supply yang terbatas, otomatis harga menjadi tinggi,  nah lebih sialnya ini jadi hal menguntungkan bandar.

Bagaimana cara mengatasinya ? sudah nyata bahwa penangkapan berton – ton narkoba (baca:shabu) di Indonesia masih merupakan fenomena gunung es, hanya sedikit yang timbul di permukaan, sebagian besar masih tersembunyi di dalam air.  The power of money, masih merupakan daya penarik terbesar bagi para pengedar, dengan usaha yang sedikit berisiko namun menjanjikan keuntungan yang sangat besar, seperti contoh Freddy Budiman, legacy nya walaupun sudah di eksekusi masih meninggalkan uang yang banyak sekali.  Walaupun beresiko ditembak mati atau dieksekusi mereka tidak takut, mereka hanya takut 1 hal, yaitu menjadi miskin. Inilah sementara yang harus dilakukan, para pengedar narkoba harus di miskinkan, karena kejahatan narkoba memerlukan uang untuk modal barang, kalau mereka tidak ada uang, tidak mungkin mereka akan berusaha lagi, maka hilanglah 1 jaringan pengedar, cukup masuk akal kan ?

Iklan

Anti Narkoba, hindari Lost Generation

bnnKenapa saya pilih judul itu? yes sekarang saya kembali mengalami tour of duty, sejak beberapa bulan ini saya pindah ke Badan Narkotik Nasional (BNN) badan yang dibuat pemerintah untuk melaksanakan tugas utamanya P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika) kadang kita bertanya, kenapa sih masalah pemberantasan Narkoba tidak diserahkan saja kepada penegak hukum saja yaitu Polisi ? saya pun berpikiran begitu tadinya, apa tidak merupakan pemborosan menggunakan dua badan yang tugasnya hampir sama untuk memberantas Narkoba ? ternyata setelah bergabung disini saya menyadari bahwa justru penegakan hukum adalah bagian terkecil dan terletak di ujung daripada pemberantasan narkoba, kalau kita masih menggunakan pendekatan hukum untuk menangkap para pengedar narkoba, sesungguhnya kita telah gagal, karena intinya adalah bagaimana Masyarakat umum mempunyai daya tangkal yang kuat untuk tidak terjebak dalam lingkup penggunaan Narkoba.

Dan terbukti, tidak ada satupun negara di dunia ini mampu dengan upayanya sendiri untuk mencegah beredarnya narkoba dan adanya pengguna narkoba di negaranya. Pemerintah memandang perlunya masalah penyalahgunaan Narkoba ini ditangani secara Holistik dari akar permasalahannya sampai upaya yang paling akhir yaitu penegakan hukum dan BNN telah menangkap keinginan pemerintah dengan didasari oleh UU sebagai dasar operasionalnya yaitu Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Di Undang undang ini beberapa hal yang selama ini diperdebatkan yaitu apakah pengguna narkoba adalah kriminal ? sehingga perlu di penjara ? Kita harus menyadari bersama bahwa pengguna narkoba adalah justru merupakan korban, ia harus diselamatkan jiwanya dan mentalnya, dan wajib menjalani rehabilitasi.

Tugas pokok BNN adalah P4GN yaitu: Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, Ada beberapa bagian di BNN yang mencakup semua aspek tersebut yaitu bagian Pencegahan, Pemberdayaan Masyarakat, Kerjasama dan hukum, Rehabilitasi dan Pemberantasan. Seperti yang saya sebutkan terdahulu, bagian yang terakhir adalah yang merupakan penegakan hukum, ini menunjukkan bahwa penegakan hukum adalah upaya paling terakhir dari upaya pemberantasan penggunaan Narkoba.

Beberapa fakta yang saya dapatkan selama mulai bekerja di BNN, ternyata bahaya penyalah-gunaan Narkoba di Masyarakat Indonesia telah sampai angka yang mengkuatirkan, angka prevalensi Masyarakat Indonesia pengguna Narkoba aktif adalah kurang lebih 6 Juta orang, dan jenis narkoba baru yang termasuk NPS (New Psychoactive Substances)ada ratusan sedangkan yang bisa terdata dalam Laboratorium BNN sampai Juni 2017, 65 NPS telah ditemukan dan baru 48 jenis yang masuk dalam daftar , memang saat ini banyak jenis Narkoba baru yang aneh – aneh muncul, yang paling terkenal ialah jenis Flakka rumus kimianya adalah pyrrolidinopentiophenone atau PVP atau alpha-PVP. Flakka adalah jenis obat sintetis yang bisa membuat orang menjadi hyperaktif dan menjadi Zombie.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana mencegah narkoba? hal ini tidak dapat dipandang enteng, apabila dibiarkan, angka pengguna narkoba akan menjadi banyak sekali dan satu dasawarsa kedepan dapat menimbulkan “lost generation”, bayangkan anak muda yang menjadi tiang masa depan Indonesia, menjadi orang orang yang tidak kreatif dan produktif karena sebagian besar saraf otaknya rusak? (jenis narkoba sintetis yang paling besar efeknya untuk merusak jaringan otak, memang bisa direhabilitasi tapi efek goblok karena otak rusak akan menimpa seumur hidup),  cara paling ekstrim kita bisa contoh Presiden Duterte di Filipina, dengan menembak mati semua bandar dan pemakai sehingga bisa menekan peredaran narkoba sampai ke titik nol, dalam hati kecil saya sih setuju banget,  karena kejahatan narkoba adalah extraordinary crime, sehingga cara pencegahannya tidak bisa dengan cara yang biasa pula, nah itulah yang harus kita pikirkan bersama seluruh komponen negara ini, kita harus berupaya yang extraordinary (bukan yang biasa biasa saja) untuk menanggulangi peredaran dan penyalalahgunaan Narkoba, ayo stop narkoba demi masa depan negara kita.