My late Father and Mom

My late father and mom when they were holding their firstborn son whose is me…. #missthem

 

View on Path

Iklan

Yuk Ngerti Kriminologi, Seri 1 (Kejahatan itu Ternyata Dipelajari)

Pada penulisan ini saya mau memberikan sedikit pemahaman kepada para pembaca Blog saya tentang Kriminologi yaitu Ilmu yang mempelajari tentang kejahatan, bagaimana seorang kok bisa berbuat jahat ? Banyak diantara kita sampai sekarang terlibat perdebatan yang tidak berujung dengan pertanyaan: Seorang menjadi jahat itu karena apa ya ? Apakah karena faktor keturunan (Genetika), Faktor Kelainan Kejiwaan Seseorang atau karena pengaruh lingkungan ? Pada kenyataannya ternyata setiap pendapat ini dihargai dalam khazanah ilmu pengetahuan, dan semua mempunyai argumen tersendiri. organised-crime-cartoon

Saya pribadi sampai sekarang paling membela pendapat bahwa kejahatan disebabkan oleh faktor lingkungan, hal ini bukan karena tiba – tiba, pengalaman kerja saya sebagai seorang polisi, banyak meyakinkan saya bahwa pendapat ini benar, menurut saya semua orang yang lahir ke dunia dapat diumpamakan seperti kertas putih yang kosong dan yang belum ditulisi, atau lebih dikenal dengan istilah “Tabularsa” (a blank sheet of paper) dan seiring dengan perkembangannya mulai lah ia terpengaruh dengan lingkungannya, dimulai dengan lingkungan terdekatnya yaitu orang tua, sekolah dan teman dari lingkungan tempat dia tinggal (Peer Group). Memang orang tua yang paling berpengaruh pada pengembangan perilaku anak tersebut, namun ternyata setelah anak itu telah mampu bersosialisasi ternyata lingkungan sekolah dan tempat tinggal lebih berpengaruh, namun sayangnya arahnya lebih dominan kepada perilaku buruk.

Nah, seorang ahli Kriminologi dari Amerika bernama Edwin H Suterland (1883 – 1950) yang menemukan Teori Asosiasi Diferensial atau Differential Association pada tahun 1934 dalam bukunya Principle of Criminology. Sutherland berpendapat bahwa: Perilaku kriminal merupakan perilaku yang dipelajari dalam lingkungan sosial. Artinya tingkah laku manusia dapat dipelajari dengan berbagai cara. Karena itu, perbedaan tingkah laku kriminal  bertolak ukur pada apa dan bagaimana itu caranya tingkah laku kriminal itu dipelajari. Teori ini menegaskan bahwa tidak ada tingkah laku jahat diwariskan secara genetik dari kedua orangtua. Pola perilaku jahat tidak diwariskan tetapi dipelajari melalui suatu pergaulan yang akrab. Penjelasan sederhana mengenai pendapat Suterland adalah sebagai berikut: Setiap orang dimungkinkan melakukan hubungan dengan kelompok yang melakukan aktivitas kriminal, dalam hubungan tersebut terjadi sebuah proses belajar yang meliputi: teknik kejahatan, motif, dorongan, sikap dan alasan rasional kenapa mereka melakukan suatu kejahatan atau tidak melakukan kejahatan. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Criminal behavior is learned;
(Perilaku kejahatan adalah didapat melalui proses belajar);

2. Criminal behavior is learned in Interaction with other person in a proccess of communication;
(Kejahatan dipelajari dengan cara berinteraksi dengan orang melalui proses komunikasi);

3. The principal part of the learning of criminal behavior occurs within intimate personal groups;
(Bagian paling penting dari mempelajari tingkah laku kriminal adalah pada saat bergaul erat secara personal dalam kelompok itu);

4. When criminal behavior is learned, the learning includes (a) techniques of committing the crime, which are sometimes very complicated, sometimes very simple and (b) the specific direction of motives, drives, rationalizations, and attitudes;
(Ketika kejahatan dipelajari, yang dipelajari termasuk (a) teknik melakukan kejahatan yang kadang sulit dilakukan maupun kejahatan sederhana dan (b) bagaimana  motif, dorongan, alasan, dan sikap terhadap kejahatan itu sendiri)

5. The specific direction of motives and drives is learned from definitions of the legal codes as favorable or unfavorable;
(Alasan khusus dari motif dan dorongan melakukan kejahatan dipelajari dari  aturan hukum yang berlaku itu apakah menguntungkan atau tidak menguntungkan);

6. A person becomes delinquent because of an excess of definitions favorable to violation of law over definitions unfavorble to violation of law;
(Seseorang menjadi “nakal” disebabkan pemahaman bahwa  ternyata lebih enak dan menguntungkan melakukan pelanggaran hukum daripada tidak melanggar hukum);

7. Differential associations may vary in frequency, duration, priority, and intencity;
(Asosiasi yang berbeda dalam mempelajari kejahatan  mungkin akan berbeda dalam frekuensi, lamanya bergaul, prioritas kejahatan, dan intensitas bergaul dengan kelompok yang melakukan kejahatan);

8. The process of learning criminal behavior by association with criminal and anticriminal patterns involves all of the mechanism that are involved in any other learning;
(Proses pembelajaran perilaku jahat melalui bergabungnya dengan pola-pola kejahatan dan anti kejahatan meliputi seluruh mekanisme yang juga melibatkan pembelajaran lainnya);

9. While criminal behavior is an expression of general needs and values, it is not explained by those general needs and values, since noncriminal behavior is an expression of the same needs and values
(Walaupun perilaku jahat merupakan penjelasan dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum di kelompoknya, tidak dapat menjelaskan mengapa perilaku yang non-kriminal bisa terjadi, apakah karena ada kebutuhan dan nilai yang sama?)

Wuih, memang agak susah juga menjelaskan pendapatnya Suterland ini dalam bahasa yang sederhana, tapi intinya setiap orang jahat pasti  tidak ujuk – ujuk terjadi, tetapi itu terjadi karena ia bergaul (berasosiasi) dengan teman – teman yang memang berperilaku jahat dan dalam waktu yang tidak sebentar. Dari pergaulan ini si calon penjahat ini melihat nilai yang berbeda, dan alasan yang membuat dia yakin kenapa harus berbuat jahat. Tentunya ia melihat bahwa berbuat jahat ternyata lebih menguntungkan baginya. Ternyata teori ini terbukti (kenapa seorang anak menjadi begal):

Liputan6.com 05 Mar 2015. Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan anak usia remaja menjadi pelaku kejahatan begal dipengaruhi banyak faktor seperti pengaruh lingkungan dan teman sebaya. “Dari hasil penyelidikan kami, pemicu anak melakukan begal bukan disebabkan oleh faktor tunggal, tapi banyak faktor. Salah satunya pengaruh lingkungan dan teman sebaya,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Susanto di Jakarta, Selasa. Yang pertama, kata Susanto, anak yang berinteraksi dengan teman atau lingkungan sosial yang terbiasa melakukan kekerasan akan permisif dengan perilaku kekerasan tersebut.

Setelah mempelajari tentang teori ini tentunya kita semua menjadi berpikir, pasti cara mendidik anak – anak kita agar tidak berperilaku jahat adalah menjauhkannya dari lingkungan yang berperilaku buruk dan dari sekolah yang terkenal pergaulannya buruk, hal itu memang benar,  tapi menurut saya pengawasan orang tua yang penting. Komunikasi dengan anak adalah hal yang terutama, jangan mereka dibiarkan mendapat norma – norma yang tidak baik dari lingkungan luar yang sangat berbeda dengan perilaku positif yang kita ajarkan dirumah, dan yang paling penting jadikan diri kita sebagai orang tua menjadi contoh bagi anak – anak kita, contohnya bagaimana kita melarang anak kita agar tidak merokok kalau kita sendiri sebagai orangtua tetap merokok ? dan perhatikan ini penting ! menurut penelitian merokok adalah pintu gerbang untuk kenakalan yang lain, seperti menghisap ganja dan narkoba jenis lainnya.

Ok, demikianlah seri pertama dari “Yuk Ngerti Kriminologi” , di tulisan selanjutnya akan saya jabarkan tentang bagaimana pendapat ahli lainnya tentang bagaimana seseorang bisa menjadi jahat oleh karena lingkungannya….

FPU Indonesia VII

Setelah melaksanakan tugas di Malaysia selama 2 tahun, saya kembali ke Jakarta dan mendapat penugasan baru di Biro Misi Internasional yang memang tugasnya tidak asing bagi saya, yaitu melakukan segala hal yang berhubungan dengan penempatan Personil Polri di Misi Internasioanl PBB dari penyiapan Personil hingga Materialnya, dan kebetulan sekarang Get in Touch lagi dengan pasukan Formed Police Unit (FPU), tidak terasa setelah berkesempatan sebagai Pioneer FPU pada tahun 2007, sekarang sudah ter deploy FPU Indonesia yang ke VII di El Fasher Darfur Sudan pada bulan November 2014. Tentunya setiap tahun diadakan penyempurnaan dari segi peralatan dan metoda perekrutan dan pelatihan. Nampak sekali dari Gears yang mereka gunakan semakin sesuai dengan kondisi lapangan. Sekilas cerita bagaimana saya sebagai team awal yang survey ke bakal tempat penugasan, sungguh susah membayangkan gears apa yang cocok untuk digunakan untuk bertugas di daerah dengan alam yang sama sekali berbeda dengan Indonesia, salah satu contoh sederhana adalah kacamata hitam, ternyata bertugas di daerah Gurun Pasir yang panas ini jangan sekali kali menggunakan kacamata dengan gagang metal, akan terasa terbakar di wajah, karena gagang metal itu sebagai penghantar panas yang sempurna, jadi sebaiknya menggunakan kacamata bergagang plastik yang bukan penghantar panas. Well, pengalaman membuat perfect kan ?

Komandan FPU VII, AKBP Rendra Salipu

Komandan FPU Indonesia ke VII kali  ini dipercayakan kepada AKBP Rendra Salipu, lulusan AKPOL angkatan 96 yang telah lulus dengan sistem penilaian yang sangat ketat, berikut dengan 100 orang pasukan utama yang bertugas dalam berbagai pengamanan dalam missi UNAMID dan 40 orang pasukan pendukung yang memfasilitasi segala kegiatan di Camp Garuda dari Memasak, memelihara Alkom, Water Treatment, dan Genset, juga petugas Kesehatan, Logistik dan Administrasi.

Tugas pasukan Utama dan Pendukung adalah seperti dua sisi mata uang, mereka harus saling mendukung untuk pelaksanaan tugas dalam misi perdamaian UNAMID.  Seperti beberapa kali saya tuliskan tentang FPU, penugasan mereka tidak pernah berubah sesuai mandat yang diberikan, yaitu melaksanakan pengamanan terhadap personil dan barang milik PBB.  Dalam kesehariannya mereka melakukan pengawalan terhadap Individual Police Officer (IPO) yang melakukan patroli ke Camp pengungsian Internal, dimana terdapat ribuan hingga ratusan ribu pengungsi akibat konflik yang tidak kunjung mereda dari awal tahun 2000 an ini.

Berikut ini sekilas penugasan mereka, baik dari Pasukan Utama dan Pasukan Pendukung:

Suasana IDP Camp Um Barro
Suasana IDP Camp Um Barro

Pasukan Utama pada minggu ini satu peleton mendapat kesempatan untuk bertugas di Luar kota Elfasher, yaitu di Team Site Um Barro yang memakan waktu 1 jam dan 30 Menit menggunakan Helikopter. Permasalahan yang terjadi adalah Camp Pengungsian Internal yang terdapat di Um Barro walaupun mendapat perlindungan dari Batalion Army dari negara Senegal, penduduk lokal terpaksa mengungsi karena mendapat serangan dari Gerombolan Janjaweed di daerah Abuleha dan Orchi, sehingga sekitar 6000 orang kini menempati IDP (Internal Displaced Person) Camp Um Barro. Tugas dari 1 peleton FPU tersebut adalah membantu Senegal Batalion untuk mengamankan penyaluran bantuan Kemanusiaan dari PBB. Kondisi Pengungsi sangat memprihatinkan karena tempat yang terbatas, sehingga hanya perempuan dan anak – anak yang dapat tinggal di IDP Camp sedangkan Laki laki tinggal di sekelilingnya, mereka bahkan tinggal tanpa pelindung hanya bersandar di balik pohon untuk mengindari panas. Saya mendapatkan liputan langsung eksklusif dari pasukan FPU yang berada di Um Barro, dan inilah dokumentasinya:

IMG-20150212-WA0013[1]
Deploy FPU Indonesia dari El Fasher hingga Um Barro menggunakan Helicopter PBB
Mendafat Briefing tentang penugasan bersama dari Batalion Senegal
Mendapat Briefing tentang penugasan bersama dari Batalion Senegal
Suasana pengamanan di IDP Camp walaupun kena Badai Pasir
Suasana pengamanan di IDP Camp walaupun kena Badai Pasir
Danton FPU memberikan pengarahan sebelum berangkat ke IDP Camp UM Barro
Danton FPU memberikan pengarahan sebelum berangkat ke IDP Camp UM Barro

Dan tidak kalah Pentingnya adalah peran pasukan pendukung FPU, mereka adalah yang bertugas untuk memastikan semua pekerjaan di Missi berjalan lancar, dan inilah dokumentasinya:

Petugas MTO (Motor Transport Officer) Memastikan setiap kendaraan FPU layak Pakai
Petugas MTO (Motor Transport Officer) Memastikan setiap kendaraan FPU layak Pakai
Petugas Kesehatan sedang melakukan Fogging di Camp Garuda
Petugas Kesehatan sedang melakukan Fogging di Camp Garuda

Demikian sekilas mengenai penugasan FPU VII, terlihat jelas keprofesionalan mereka sebagai Duta Indonesia di Misi Internasional yamg membawa nama harum Indonesia. Untuk menjamin Sustainability pasukan FPU Indonesia, pada saat inipun di kantor sedang mempersiapkan FPU VIII yang akan berangkat akhir tahun ini, sehingga ada kesinambungan dan selama Misi UNAMID belum dibubarkan. Semoga sukses dan tetap selamat rekan rekan FPU VII, God Bless You all…

Merit System Vs Time Based

Setelah hampir 2 tahun bertugas di Malaysia dan kebetulan berkantor di Mabes Polis Diraja Malaysia  (PDRM), banyak aturan – aturan kepolisian Malaysia yang menarik apabila dibandingkan dengan aturan yang berlaku pada POLRI.  Salah satunya adalah  mengenai promosi kepangkatan dan jabatan.  Dibawah ini antara lain perbedaannya:

Perwira PDRM Sumber: polisjohor.gov.my
Perwira PDRM
Sumber: polisjohor.gov.my

Di POLRI pengumuman kenaikan pangkat dan promosi jabatan adalah dua hal yang berbeda. Di PDRM hal ini berlaku satu kali, jadi seorang yang mengalami promosi jabatan sekaligus Ia juga mendapat pangkat yang baru, kecuali pindah jabatan dengan pangkat yang sama.

Di  POLRI apabila seorang perwira mendapat jabatan baru yang membawa konsekuensi Ia akan naik pangkat, tidak langsung naik pangkat, Ia harus menunggu masa kenaikan pangkat yang terdekat, yaitu pada tanggal 1 Januari atau 1 Juli setiap tahunnya.  Di PDRM setiap promosi jabatan sekaligus naik pangkat, Perwira yang dipromosikan dengan jabatan baru langsung berhak menyandang pangkat baru,  hanya pangkat  itu mendapat sebutan “acting” , dan baru “confirm” dengan pangkat baru setelah minimal 6 bulan.

Ada hal lain yang menarik adalah masa untuk kenaikan pangkat, di PDRM tidak ada waktu yang pasti kapan seeorang bisa menyadang sebuah pangkat, bisa dikatakan sebagai “Merit system”, yang menurut wikipedia disebutkan:

“The merit system is the process of promoting and hiring government employees based on their ability to perform a job, rather than on their political connections”

(Merit system adalah proses dari promosi pegawai pemerintah berdasarkan kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaannya bukan dari koneksi politik).

Untuk menjalankan system ini, bagi khususnya perwira PDRM mereka harus melakukan interview untuk mendapatkan kenaikan pangkat, pada Interview ini akan dilihat bagaimana kemampuan profesionalisme perwira ini dalam tugas yang diembannya, berdasarkan input dari sekelilingnya: dari komandan, rekan kerja dan bahkan bawahan. Yang wajib melakukan interview untuk kenaikan pangkat adalah dari pangkat Inspektur sampai pangkat DSP (Deputy Superintendent of Police) atau pangkat Mayor. Setelah itu dari pangkat DSP ke Superintendent (AKBP) dan seterusnya tidak diperlukan lagi interview. Prosesnya setelah seseorang perwira PDRM lulus dalam interview, barulah bagian SDM PDRM mencarikan jabatan yang setingkat lebih tinggi. Dalam surat pengumuman tertulis perwira PDRM tersebut mendapat jabatan baru sekaligus pangkat baru.

Anggota POLRI  Sumber:  polrespariaman.wordpress.com
Anggota POLRI
Sumber: polrespariaman.wordpress.com

Berbeda dengan di POLRI tidak sepenuhnya mengadopsi “Merit System” tapi cenderung lebih ke sistem “Time Based”, artinya ada waktu tertentu (4 sd 5 tahun pada satu pangkat) bagi setiap anggota POLRI dalam menyandang pangkat tertentu. Memang ada syarat tambahan untuk bisa mendapat pangkat, yaitu dengan kewajiban menjalani pendidikan tertentu dan tidak bermasalah dalam dinas, hal ini dapat berpengaruh cepat atau lambatnya seorang anggota Polri dalam naik pangkat. Pada system ini, seorang perwira POLRI yang akan naik pangkat, harus sudah mendapat jabatan baru yang pangkatnya setingkat lebih tinggi, walaupun tidak otomatis naik pangkat.

Yang terakhir pasti akan ditanyakan lebih baik mana “Merit System” atau “Time Based” ? Pasti masing masing mempunyai kekurangan dan kelebihan masing masing, antara lain:

Bagi sistem “Time Based” terlihat bahwa satu angkatan rekrutmen akan rata – rata menyandang pangkat yang sama, terutama terlihat pada lulusan Akademi Kepolisian, dengan catatan tidak bermasalah, mereka paling tidak pangkat terakhir akan sampai di Komisaris Besar (Kolonel). Sedangkan pada “Merit System” kelulusan satu angkatan tidak merata dalam kepangkatan, sebagai contoh seorang perwira tinggi PDRM yang berpangkat Deputy Commissioner (bintang 3) satu angkatannya masih ada yang tertinggal jauh bahkan masih inspektur.

Bagi sistem “Time Based” sepertinya banyak yang “Safety Player” artinya banyak perwira yang tidak mau menonjolkan diri dan kemampuannya, dengan pertimbangan toh akan naik pangkat sama – sama, asalkan tidak bermasalah dalam kedinasan. Berbeda dengan “Merit System” seorang yang naik pasti karena ia mempunyai “Kelebihan” dalam menjalankan tugasnya dibandingkan perwira yang lain. Mereka memang dipacu untuk selalu berinovasi dan kreatif agar terlihat mempunyai kelebihan dibanding rekan lainya. Namun saya juga melihat ada kekurangan sistem ini, kenaikan pangkat berarti “Satu tersenyum, namun banyak kecewa”, karena sulitnya seseorang untuk mendapatkan kenaikan pangkat, sehingga kadang terjadi jegal-menjegal yang justru terjadi pada kawan satu angkatan.

Kesimpulannya, menurut saya kedua sistem ini tidak ada yang baik dan buruk, karena sudah diterapkan dalam POLRI atau di PDRM sejak lama, dan menurut saya semua sistem ini ada kekurangan dan kelebihannya sendiri – sendiri, akhir kata, jayalah selalu POLRI dan PDRM ….

Makna dibalik Blood Moon

Blood Moon
Blood Moon

Tanggal 15 April 2014 akan terjadi fenomena alam yang tidak biasa, yaitu akan terlihat gerhana bulan, bulan berwarna merah seperti darah (Blood Moon) akibat planet Mars yang berwarna merah saat ini berada dalam titik terdekat dengan bumi. Gerhana bulan total itu proses terjadinya mulai pukul 12.58 WIB sampai 16.33 WIB di Indonesia umumnya masih siang belum terlihat, namun bagi daerah Indonesia Timur khususnya Papua bisa melihat gerhana itu pada pukul 18.33 WIT.

Dalam Alkitab ternyata telah tertulis fenomena alam ini, seperti tertulis dalam Perjanjian Lama, Kitab Yoel (Bahasa Sehari hari),  ayat 2:30,

“Matahari akan menjadi gelap dan bulan menjadi merah seperti darah. Semua itu akan terjadi sebelum Hari TUHAN tiba, hari yang dahsyat dan mengerikan!”

dan hal itu kembali diucapkan dalam Perjanjian baru oleh Petrus pada Kisah Para Rasul 2:20,

“Matahari akan menjadi gelap, bulan menjadi merah seperti darah sebelum Hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu datang”.

Apakah bulan darah merupakan suatu tanda akan datangnya hari kiamat, atau pertanda adanya suatu peristiwa besar ? Tidak ada yang tahu akan maksud hal tersebut  sampai hari itu benar terjadi, namun ada fakta menarik sehubungan gerhana bulan darah ini.  Berdasarkan data, dalam 500 tahun hanya pernah terjadi 3 kali peristiwa bulan darah, dan bila dikaitkan dengan sejarah, banyak kaitannya dengan sesuatu hal mengenai bangsa Yahudi/Israel:

1493 – 1494 ==> adalah masa ketika kejatuhan negara Spanyol dimana Bangsa Israel yang menetap disana terusir, ditahun yang sama Benua Amerika ditemukan oleh Christopus Colombus yang kemudian menjadi “rumah baru” bagi bangsa Israel.

1949 – 1950 ==> Adalah tepat pada saatnya Israel mendeklarasikan negaranya. Hal ini timbul setelah peristiwa Holocoust di Eropa yang mendorong para Survivor Israel kembali ke tanah asalnya.

1967 – 1968 ==> adalah masa dimana Israel memenangkan “Six Day War” atau Perang enam hari melawan Mesir dan negara Arab lainnya.

Dan ada fakta lain yang tak kalah menariknya, ternyata Bulan Darah  (termasuk yang tanggal 15 April ini)  akan terjadi 4 kali dalam 2 tahun, dan (kembali) berkaitan erat dengan bangsa Israel,

15 April 2014 ==> Adalah tepat pada hari raya Passover bagi bangsa Yahudi/Israel, yaitu memperingati bebasnya mereka dari Mesir.

8 Oktober 2014 ==> Adalah tepat pada hari raya Tabernacles, yaitu hari raya memperingati perjalanan 40 tahun dari Mesir hingga tanah Kanaan.

4 April 2015 ==> Kembali merupakan hari Passover bangsa Yahudi/Israel.

28 September 2015 ==> Kembali merupakan hari raya Tabernacles.

Apakah semua ini merupakan hal yang kebetulan ? Dalam Alkitab buku pertama Genesis (Kejadian) disebutkan Tuhan menggunakan Matahari, Bulan dan Bintang sebagai tanda, dan banyak sekali di dalam Alkitab disebutkan ketiga benda angkasa sebagai petunjuk. Ketika Yesus lahir dikatakan Bintang sebagai petunjuk bagi orang Majus (Wise Men) dari Timur untuk menunjukkan tempat kelahiran Yesus, atau Matahari selama bersinar sebagai petunjuk kemenangan Yosua memimpin bangsa Israel untuk mengalahkan musuh musuhnya.

Dalam buku terbarunya, “Four blood Moons” (Empat Bulan Darah), Pastor Hagee menjabarkan apa yang dia sebut sinyal surgawi. Dia menjelaskan bagaimana serangkaian bulan darah pada tahun 2014 dan 2015 akan memiliki makna besar bagi Israel.

Pastor John Hagee berkata:  “Allah akan berbicara dengan cara ini sekali lagi, ada firasat umum yang mengatakan bahwa akan ada perubahan dalam dunia ini dan Tuhan sedang mencoba untuk berkomunikasi dengan manusia dengan cara yang supranatural”,  ia berkata lagi: ” Saya percaya bahwa dalam dua tahun ke depan, kita akan melihat sesuatu yang dramatis terjadi di Timur Tengah yang melibatkan Israel yang akan mengubah arah sejarah di Timur Tengah dan berdampak pada seluruh dunia”.

Apakah kejadian itu ? Pastor Hagee sendiri mengakui bahwa ia tidak tahu, dan tidak ada seorangpun di muka bumi ini akan tahu kecuali Allah sendiri,   Amin.

Masyarakat Multikultural

Saya ingat pelajaran sewaktu kuliah dulu  masyarakat majemuk menurut J.S. Furnivall adalah: “Masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas maupun kelompok-kelompok yang secara budaya dan ekonomi terpisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda satu dengan lainnya”.

Upin dan Ipin representasi keragaman Ras di Malaysia, walaupun contoh ini tidak nyata
Upin dan Ipin wujud keinginan Multikulturalisme di Malaysia, walaupun kenyataannya berbeda

Persoalan itu begitu terlihat sekarang setelah saya bertugas di Malaysia, walaupun Indonesia adalah negara dengan masyarakat majemuk sama dengan Malaysia, tapi permasalahan yang terjadi sangat berbeda. Yang disebut majemuk dalam konteks Indonesia adalah kemajemukan suku – suku yang berbeda budayanya sedangkan di Malaysia lebih hakiki yaitu perbedaan ras yang pasti berbeda juga budayanya, agamanya dan perilakunya.

Yang sangat jelas terlihat adalah bagaimana 3 golongan ras besar di Malaysia yaitu dari Melayu, China dan India dalam praktek kehidupan sehari – harinya.  Mereka masing masing mempunyai pendidikan sendiri yang dikategorikan berdasarkan bahasa, Bagi anak – anak Melayu mereka masuk ke sekolah berbahasa Melayu, China ke sekolah China dan India ke sekolah India.

Pembedaan lingkungan sekolah tersebut kita melihat hal yang lebih besar yaitu lingkungan tempat tinggal, ada lingkungan perumahan India , lingkungan perumahan China dan juga Melayu.  Di masyarakat yang lebih luas juga begitu, masing masing orang memakai bahasanya masing – masing, ini terlihat dari televisi di Malaysia yang ada channel berbahasa Melayu, India dan China, dan bahkan mengkristal dengan pandangan Politik perkauman yaitu adanya Partai Politik Melayu, India dan China.

Didalam masyarakat Majemuk seperti di Malaysia Multikulturalisme dapat dikategorikan sebagai: “Pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik” (Azyumardi Azra, 2007). 

Saya melihat kebanggan menjadi satu bangsa agak kurang disini, hal ini disebabkan orang Cina dan India lebih memilih bahasanya sendiri atau bahasa Inggris dibandingkan bahasa nasional mereka bahasa Melayu. Kalau kita bandingkan di Indonesia, orang Cina mereka bangga berbahasa Indonesia dan mereka sebagai bangsa Indonesia. Saya jadi teringat ungkapan “Bahasa mempersatukan bangsa”, dan inilah fakta yang saya lihat.

Beruntunglah Founding Father negara Indonesia dari  awal telah menemukan gagasan yang brilian yaitu Bhineka Tunggal Ika, hal ini diimplementasi dengan cita cita Sumpah Pemuda yaitu Berbahasa, Berbangsa dan Berbudaya Indonesia, dan beruntunglah saya mempunyai bekas presiden Pak Harto yang ketika awal orde baru menerapkan kebijakan keras untuk menasionalisasi seluruh nama orang China menjadi nama Indonesia, menghapus semua sekolah berbahasa China, dan hal ini bisa kita rasakan sekarang, walaupun kita dari berbagai suku dan ras tapi kita semuanya dalam bingkai kesatuan Indonesia.

Catatan: Sekarang ada golongan masyarakat yang terobsesi untuk menggantikan Indonesia dengan konsep bernegara sesuai golongan mereka, ingat.. cita citamu tidak akan tercapai !

Cyberbullying dan Sexting

Salah satu permasalahan yang sering dihadapi Polisi pada masa kini adalah Bullying. Polisi sangat berusaha menentukan peran yang tepat dalam menangani perilaku bullying. Tapi hal itu mendapat kesulitan karena peraturan hukum yang tidak menjangkau perbuatan itu dikarenakan pelaku dan korban adalah kebanyakan remaja atau anak dibawah umur.

Cyberbullying_1Kehadiran social media (socmed) dan alat komunikasi lain memperumit situasi dan membuat pergeseran perilaku remaja. Umumnya kita ketahui bullying terjadi di dalam, di dekat sekolah atau di lingkungan bermain, namun akibat teknologi tersebut kini pelaku memungkinkan untuk memperluas jangkauan mereka.

Jangankan di Indonesia bahkan di Amerika Serikat sekalipun permasalahan ini masih sulit untuk dicari solusinya, dalam tulisan ini membahas  Cyberbullying dan Sexting yang terjadi di Amerika Serikat dan bagaimana penegak hukum menyikapinya.

Cyberbullying didefinisikan sebagai “Perbuatan yang disengaja dan diulang yang ditimbulkan melalui penggunaan komputer, ponsel, dan perangkat elektronik lainnya yaitu mengirim teks mengancam, posting atau mendistribusikan pesan memfitnah atau melecehkan, meng-upload atau mendistribusikan kebencian atau gambar atau video yang memalukan untuk menyakiti orang lain”

Di Amerika Serikat perkiraan jumlah remaja yang mengalami berbagai cyberbullying 5-72 persen, tergantung pada usia kelompok dan definisi cyberbullying.

Sexting adalah “mengirim atau menerima gambar telanjang atau setengah telanjang seksual eksplisit atau sugestif seksual atau video, umumnya melalui ponsel”.  Seringkali individu awalnya mengirim gambar tersebut kepada pacar, tetapi gambar-gambar itu dapat tersebar ke orang lain.  Sexting adalah masalah lain yang melibatkan remaja dan teknologi yang menimbulkan perhatian publik.

Cyberbullying_2Kembali di AS,  perkiraan jumlah remaja yang telah berpartisipasi dalam berbagai sexting 4-31 persen. tahun 2010 survei dari 4.400 siswa sekolah menengah dan tinggi menunjukkan bahwa 8 persen telah mengirimkan gambar telanjang atau setengah telanjang dari diri mereka sendiri kepada orang lain, dan 13 persen melaporkan menerima gambar tersebut dari teman sekelas.

Cyberbullying dan Sexting adalah masalah yang banyak dihadapi remaja dan sekolah karena dampak psikologis, emosional, perilaku, dan fisik yang dapat berasal dari korban. Para guru di sekolah di AS menyadari bahwa masalah ini sudah dalam tahap yang memprihatinkan.

Permasalahan penegak hukum di Amerika Serikat tentang Cyberbullying dan Sexting.

Petugas Polisi AS melaporkan bahwa sebagian besar cyberbullying terjadi melalui jaringan sosial atau pesan SMS. Contohnya sebuah insiden yang melibatkan siswa perempuan menyebarkan informasi fitnah tentang kegiatan seksual satu teman sekelas, pilihan pacarnya, dan hubungan lainnya.  Petugas polisi, administrator sekolah, dan orang tua bekerja sama untuk mengatasi masalah ini dengan menasihati siswa yang terlibat dan memberitahu bahwa perilaku mereka bisa dikategorikan kriminal dan pelecehan berikutnya akan ditindaklanjuti secara hukum.

Umumnya Sexting melibatkan pasangan yang berpacaran.  Salah satu pasangan yang berpacaran saling mengirimkan gambar telanjang.  Sering terjadi ketika pacar lelaki membagikan foto pacarnya tersebut kepada teman-temannya. Ketika ditemukan Gambar tersebut, secara informal petugas polisi berbicara dengan siswa dan orang tuanya tentang keseriusan situasi yang terjadi.

Seorang Polisi melaporkan melakukan penyidikan kasus pornografi anak dimana seorang gadis membuat sebuah video cabul untuk pacarnya, dan oleh pacarnya didistribusikan ke beberapa orang lain.  Ketika paksaan atau distribusi yang tidak sah terjadi maka akan dilakukan penyidikan formal hukum pidana.

Penegak hukum AS menangani Cyberbullying dan Sexting 

1.  Aparat penegak hukum membutuhkan kesadaran dan pemahaman tentang undang-undang untuk memahami implikasi hukum dari cyberbullying. Pertumbuhan ponsel dan penggunaan Internet di kalangan remaja telah mengubah perilaku dan norma  sosial remaja.  Cyberbullying adalah salah satu isu baru penegakan hukum yang paling signifikan yang harus segera dicari cara penanganan terbaiknya.    Cyberbullying adalah perbuatan bullying dalam bentuk baru yang mengandalkan perangkat teknologi dan media. Penelitian telah menunjukkan hubungan yang kuat antara online dan offline bullying.

2. Jika sekalipun tidak ada undang-undang pidana cyberbullying, penegakan hukum tidak boleh mengabaikan perilaku atau masalah ini.  Petugas Polisi harus membantu para profesional lain, seperti guru di sekolah memahami kewajiban hukum dan otoritas mengenai cyberbullying.  Pihak sekolah dapat mendisiplinkan siswa dengan melarang perilaku substansial yang dapat mengganggu lingkungan belajar di sekolah.  Aparat penegak hukum ketika memberi penerangan masyarakat tentang cyberbullying harus menekankan bahwa ada tingkat tanggung jawab: dimulai dari orang tua, kemudian pihak sekolah, dan apabila perbuatan ini serius bisa dilanjutkan pada penyidikan polisi sehingga sistem peradilan pidana bisa menghukum pelaku.

3.  Pelecehan online yang tidak tercakup oleh undang-undang cyberbullying tertentu dimungkinan diperkarakan dengan undang-undang tradisional.   Petugas polisi dapat memperkarakan siswa dalam insiden yang mengganggu tujuan pendidikan utama sekolah (misalnya, membuat video memalukan di sekolah dan mendistribusikan secara online) atau melanggar hak orang lain, terlebih lagi dalam perkara cyberbullying  yang serius seperti pelecehan ras, kelas, gender, atau orientasi seksual.   Polisi harus berkonsultasi kepada jaksa mereka untuk menentukan apa undang-undang pidana yang akan diterapkan.

4. Mempelajari Kasus high-profile penuntutan pidana terhadap remaja yang terlibat dalam Sexting, tergambarkan adanya kompleksitas dalam mengatasi perilaku ini.  Faktor usia pelaku dan konteks relasional di mana terjadi Sexting sering diperdebatkan oleh otoritas hukum dan politik.  Banyak negara bagian di AS telah memperkenalkan atau memberlakukan undang-undang Sexting, dengan hukuman mulai dari program pendidikan untuk pelanggar pertama kali, denda, atau penahanan jangka pendek.  Sexting terjadi dalam rangkaian kesatuan, mulai dari perilaku remaja yang menyimpang, korban yang signifikan dan perbuatan yang disengaja oleh orang lain.   Karena sifat sensitif dari gambar dan potensi untuk foto tersebut tetap tersimpan untuk publik, keterlibatan penegak hukum di semua tingkatan adalah penting.

Pemasalahan ini harus diantisipasi oleh Polri, karena mau atau tidak mau, cepat atau lambat masalah ini akan menghantui setiap remaja dan pelajar di Indonesia, dan bahkan sudah banyak terjadi belakangan ini.

*Disadur bebas dari FBI Law enforcement Bulletin: “Cyberbullying and Sexting: Law Enforcement Perceptions” By Justin W. Patchin, Ph.D., Joseph A. Schafer, Ph.D., and Sameer Hinduja, Ph.D.