Teen Killers dan Psikopat

Pemberitaan di  Indonesia dikejutkan oleh sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan sepasang remaja Ahmad Imam Al Hafitd (19) dibantu oleh kekasihnya Assyifa Ramadhani (19) dengan korban seorang remaja perempuan bernama Ade Sara Angelina Suroto (19). Bagaimana bisa mereka sepasang remaja mempunyai kecenderungan membunuh secara sadis dan tidak mempunyai rasa bersalah ?

Pembunuhan ini dilatar belakangi cemburu Syifa terhadap Sara karena pernah berpacaran dengan Hafidt kekasih barunya. Pasangan ini kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Sara, dan pada hari Rabu tanggal 5 maret 2014, Hafiz dibantu Asifah menghabisi nyawa Sara di dalam mobil Kia Visto di sepanjang perjalanan wilayah Jakarta Selatan—Jakarta Timur, Pelaku memukul dan menyetrum korban. Setelah korban pingsan, pelaku menyumpal mulut korban dengan koran, karena sumpalan inilah korban mengalami kematian (Diketahui sesuai hasil otopsi, penyebab kematian korban adalah akibat sumbatan di tenggorokan) setelah tak bernyawa lagi, korban pun dibuang di pinggir jalan tol, di Kilometer 41 Tol JORR ruas Bintara, Bekasi Timur (Kompas.com)

Ada beberapa tulisan menarik tentang Teen Killers melalui Psikopatologi, dan didapatkan fakta dalam penelitian di Amerika Serikat seperti yang tertulis dalam website National Organization of Victims of Juvenile Murderers antara lain:

Meskipun jumlah psikopat remaja secara global sangat kecil, didapat fakta dalam beberapa kasus pembunuhan yang dilakukan oleh remaja terindikasi pelakunya memang seorang Psikopat. Beberapa ahli telah mengidentifikasi dan terlibat dalam penyidikan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh remaja dan didapat fakta bahwa pembunuhan yang mengerikan bisa dilakukan oleh remaja. Mereka bisa saja melakukan pembunuhan terhadap orang yang terdekat dan paling mereka kasihi.

Meskipun jarang terjadi, psikopat remaja seringkali sangat berbahaya, mereka berumur sangat muda ketika melakukan kejahatan yang sangat kejam.  Mereka mengalami hal yang menurut istilah psikopatologi disebut “gangguan otak biologis”.  Karena mereka sangat berbahaya maka diragukan apakah  bisa dikembalikan ke dalam masyarakat.  Bagaimana cara menangani mereka masih menjadi diskusi yang menarik,  apakah di amanakan di Penjara ataukah di Rumah sakit ? Perawatan medis dengan bantuan Psikiater ketika di penjara tentunya menjadi hal yang penting.

Psikopat telah terbukti tidak dapat disembuhkan dan kemungkinan besar akan kembali melakukan perbuatan berulang,  masalah remaja yang terindikasi psikopat dan melakukan kejahatan telah menjadi perdebatan yang tidak berujung, akankah pelaku remaja tersebut bisa berasimilasi kembali dengan masyarakat, dilain sisi aspek keselamatan masyarakat perlu juga diperhatikan.

Psikopatologi dan Gangguan Otak

Penelitian baru memberikan bukti kuat bahwa psikopati terkait dengan kelainan struktural tertentu di otak. Penelitian yang dilakukan di King College London Institute of Psychiatry adalah yang pertama mengkonfirmasi psikopati itu adalah berhubungan dengan perkembangan syaraf neuro- kelompok yang berbeda dari Antisocial personality disorder(ASPD) atau gangguan kepribadian anti – sosial.  Studi ini didanai oleh Institut Riset Kesehatan Nasional (NIHR) Biomedical Research Centre for Mental Health London dan Maudsley NHS Foundation Trust dan Institute of Psychiatry di King College London dan dipublikasikan dalam Archives of General Psychiatry.

Kejahatan kejam dilakukan oleh sekelompok kecil pelaku pria yang mengidap ASPD. Sekitar setengah dari tahanan laki-laki akan memenuhi kriteria diagnostik untuk ASPD. Sebagian besar pria tersebut bukan psikopat (ASPD – P) . Mereka ditandai dengan ketidakstabilan emosional , impulsif dan tingginya tingkat gangguan mood dan kecemasan. Mereka biasanya menggunakan agresi dengan cara reaktif dalam menanggapi ancaman atau rasa frustrasi .

Namun, sekitar sepertiga dari pria tersebut akan memenuhi kriteria diagnostik tambahan untuk psikopati (ASPD + P).  Mereka mempunyai ciri kurangnya empati dan penyesalan, dan menggunakan agresi secara terencana untuk mengamankan apa yang mereka inginkan ( status, uang dll ) . Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa otak psikopat berbeda secara struktural dari otak yang sehat, tapi sampai sekarang belum ada yang meneliti perbedaan-perbedaan ini dalam populasi pelaku kekerasan dengan ASPD .

Dr Nigel Blackwood dari TIO  dan penulis utama studi ini mengatakan : ‘Dengan menggunakan scan MRI kami menemukan bahwa psikopat memiliki kelainan otak struktural dibanding dengan mereka yang hanya memiliki ASPD hanya bermasalah dengan dengan otak sosial” .  Hal ini menambah bukti perilaku dan perkembangan yang psikopati adalah subkelompok penting ASPD dengan dasar neurobiologis  berbeda dan memerlukan perawatan yang berbeda.  Dr Nigel berkata “Ada perbedaan yang jelas antara perilaku mereka yang didiagnosis dengan ASPD dengan mereka yang memiliki psikopati. Kami menjelaskan mereka yang tidak psikopati sebagai ‘panas kepala’ dan orang-orang dengan psikopati sebagai ‘berhati dingin”

Para peneliti menggunakan Magnetic Resonance Imaging ( MRI ) untuk memindai otak dari 44 pria dewasa pelaku kekerasan didiagnosis dengan Kepribadian Anti – Social Disorder ( ASPD ). Kejahatan yang dilakukan mencakup pembunuhan, pemerkosaan, percobaan pembunuhan dan penganiayaaan berat. Dari jumlah tersebut, 17 memenuhi diagnosis untuk psikopati (ASPD + P) dan 27 tidak (ASPD – P). Mereka juga mengamati otak dari 22 non – kriminal yang sehat .

Studi ini menemukan bahwa ASPD + P pelanggar ditampilkan volume materi abu-abu secara signifikan berkurang pada korteks prefrontal anterior rostral dibandingkan dengan ASPD – P pelanggar dan non – pelanggar yang sehat. Daerah ini penting dalam memahami emosi dan niat orang lain dan diaktifkan ketika orang berpikir tentang perilaku moral. Kerusakan daerah ini dikaitkan dengan gangguan empati terhadap orang lain, respon yang buruk terhadap rasa takut dan tertekan dan kurangnya ‘sadar diri’ emosi seperti rasa bersalah atau malu .

Apakah Psikopat Memiliki Kepedulian terhadap orang lain ?

Narapidana yang psikopat tidak memiliki dasar neurofisiologis “bawaan” yang memungkinkan mereka untuk berempati dengan orang lain orang lain, demikian menurut sebuah studi baru oleh ahli saraf di University of Chicago dan University of New Mexico .

“Kurangnya empati merupakan karakteristik ciri individu dengan psikopati” menurut penulis utama studi tersebut , Jean Decety dan Profesor Irving B. Harris pengajar Psikologi dan Psikiatri di Universitas Chicago. Sekitar 1 persen dari populasi umum Amerika Serikat adalah Psikopat dan 30 persen dari populasi penjara AS (laki-laki dan perempuan). Pelaku kriminal yang psikopat bertanggung jawab untuk kejahatan berulang dan kekerasan dalam masyarakat. Mereka untuk pertama kalinya bahwa proses kerja saraf yang terkait dengan proses empatik telah diperiksa langsung pada individu dengan psikopati , terutama dalam menanggapi persepsi orang lain sakit atau penderitaan.

Hasil penelitian dapat membantu psikolog klinis merancang program pengobatan yang lebih baik untuk psikopat, diterbitkan dalam artikel , ” Responses to Brain Scenario Empathy” diterbitkan secara online di journalJAMA Psychiatry. Bergabung  dalam penelitian ini adalah Laurie Skelly seorang mahasiswa pascasarjana di UChicago dan Kent Kiehl profesor psikologi di University of New Mexico.

Untuk penelitian ini, tim peneliti menguji 80 tahanan antara usia 18 dan 50 di lembaga pemasyarakatan. Orang-orang secara sukarela untuk tes dan diuji untuk tingkat psikopati menggunakan ukuran standar. Mereka kemudian di pindai dengan teknologi MRI fungsional, untuk menentukan respon mereka terhadap serangkaian skenario yang menggambarkan orang-orang yang sengaja menyakiti . Mereka juga diuji respons mereka dengan melihat video singkat dari ekspresi wajah yang menunjukkan rasa sakit.

Studi ini menemukan para peserta dalam kelompok psikopati tinggi menunjukkan aktivasi kurang signifikan dalam korteks prefrontal ventromedial, lateral korteks orbitofrontal, amigdala dan bagian abu-abu periaqueductal otak, tetapi lebih banyak aktivitas di striatum dan insula bila dibandingkan dengan merak yang tidak psikopat. Mereka mendapat kesempulan dari penelitian ini bahwa ada 2 jenis pelaku kriminal:

1. Mereka yang dapat direhabilitasi dan masukkan kembali masyarakat.
2. Mereka yang tidak dapat disembuhkan .

Yang terakhir ini termasuk mereka yang menderita psikopat. Sebelum 4 dekade yang lalu ketika Dr Herve Cleckley dari University of Georgia memulai penelitiannya sedikit yang diketahui tentang gangguan ini. Disimpulkan bahwa psikopat tidak memiliki hati nurani dan belas kasihan dan bisa melakukan kejahatan keji tanpa merasa apa-apa. Mereka juga dapat muncul dengan sangat normal dan waras.

Karya Dr Cleckley itu dilanjutkan oleh Dr Robert  dari University of British Columbia. Dia bekerja di penjara dan melihat perbedaan dalam beberapa narapidana. Mereka adalah manipulatif dan sering sulit untuk didiagnosa.

Kedua peneliti berkeseimpulan jumlah Psikopat adalah sekitar 2 % dari populasi. Mereka berpendapat narapidana harus bisa direhabilitasi dan itu akan menjadi hasil yang sangat baik jika mereka bisa kembali masuk ke masyarakat sebagai warga negara yang produktif. Namun hal ini tidak mungkin dengan Psikopat,  karena mereka tidak dapat disembuhkan. Seorang psikopat dapat melakukan 20 kejahatan dalam satu penelitian terhadap diagnosis kejahatan. Penelitian di University of New Mexico menunjukkan bahwa scan otak penjahat yang melakukan kekerasan menunjukkan amigdala (pusat emosi otak manusia) terpisah dari lobus frontal. Psikopat bisa melakukan di luar apa yang manusia bisa membayangkan.

Pemidanaan pelaku Remaja yang psikopat

Penelitian pada masalah perkembangan otak remaja sering disalahpahami menjadi faktor yang meringankan perilaku kriminal menunjukkan bahwa Penelitian ini sering disalah gunakan. Penelitian ilmiah yang disebut ” Brain Overclaim Syndrome “ menjelaskan mengapa penelitian pengembangan lobus frontal begitu sering dikutip oleh para pengacara untuk meringankan hukuman seringkali tidak mengindahkan perilaku yang berbahaya. Mereka berdalih  “Otak tidak melakukan kejahatan – orang melakukannya”.  Artikel penting di New York Times ini yang berjudul “Brain On Stand” memberikan wawasan yang signifikan ke dalam masalah yang rumit ini. Adalah sangat berbahaya bagi remaja pembunuh psikopat  diberi keringanan hukuman dan kembali ke masyarakat.

Dalam sejarah manusia usia dewasa dalam setiap kebudayaan yaitu pada saat pubertas. Setiap agama dan budaya memiliki entri ritual menjadi dewasa sekitar usia 13-14. Masa remaja itu sendiri sepenuhnya penemuan Revolusi Industri di mana masuk ke dunia kerja ditunda oleh wajib sekolah untuk menjaga para pekerja muda tidak bersaing dengan pekerja yang lebih tua di pabrik.

Pelopor Psikolog kognitif Jean Piaget mendefinisikan usia sekitar 12 seperti ketika kita mendapatkan “pemikiran operasional formal”  ( tahap pemikiran yang paling matang dan pembangunan abstrak). Pemikiran operasional formal adalah tingkat paling maju dicapai dan terus sampai dewasa. Tidak ada masa yang lebih lanjut dari kematangan dalam berpikir seseorang selain operasi formal, yang dicapai selama masa pubertas.

Inilah sebabnya mengapa banyak dari kita menentang wajib penjara hukuman, dan bukan hanya mendukung minimum wajib, karena setiap kasus kejahatan tersebut memiliki kondisi yang sangat individual . Setiap kriminal berbeda, setiap situasi berbeda.  Kita tidak boleh menilai sewenang-wenang berdasarkan usia tetapi oleh kesalahan dan maksud dari pelaku individual, tidak peduli usia mereka, terutama setelah mereka telah memasuki masa pubertas.

Hukum di setiap negara bagian di Amerika Serikat sudah melakukan hal ini, dan ini adalah mengapa jaksa memiliki dan menerapkan kebijaksanaan yang signifikan dalam cara mereka menjatuhkan hukuman terhadap setiap pelanggaran dan pelaku. Hakim harus memiliki beberapa pedoman dalam penetapan hukuman juga, untuk menghadapi faktor-faktor setiap individu.

Studi psikopatologis dan ilmu penilaian risiko sangat penting dalam membantu kita untuk mengidentifikasi dan memilah-milah antara kriminal yang bisa direhabilitasi dan bertanggung jawab sehingga dapat re-entry ke dalam masyarakat dan siapa yang tidak .

Penelitian lobus frontal  TIDAK menjelaskan faktor-faktor yang alasan perilaku kriminal.  Isu yang relevan dalam mempertimbangkan kejahatan  keji dan terencana yang dilakukan oleh remaja adalah apakah ada atau tidak mereka memiliki kemampuan untuk mengetahui apa yang mereka lakukan dan bahwa perbuatan itu salah dilakukan. Kriminalitas dan kesalahan didefinisikan dalam hukum dan dalam kesehatan mental sebagai kemampuan untuk membentuk niat.

Masalah kekerasan remaja merupakan epidemi nasional di Amerika Serikat, secara signifikan lebih buruk di sini daripada di tempat lain di dunia. Tidak ada negara lain datang bahkan dekat dengan tingginya angka pembunuh remaja.  Amerika Serikat memiliki faktor budaya , isu-isu sosial-ekonomi, akses ke senjata,  sistemik , dan pandangan tentang kekerasan yang unik .

Sistem peradilan anak di Amerika Serikat menggunakan berbagai pendekatan , pencegahan , intervensi , pendekatan berbasis masyarakat.  Banyak pihak yang perlu membantu  pelaku remaja mengubah kehidupan mereka dan memberi mereka bantuan yang mereka butuhkan, tetapi untuk melindungi keselamatan masyarakat ketika pelaku diindikasikan adalah seorang remaja Pikopat akan menjadi hal yang berbeda.

Analisa terhadap perbuatan Hafidt dan Assyifa

Sudah membunuh masih tersenyum ? apakah mereka Psikopat ?

Sudah membunuh masih tersenyum ? apakah mereka Psikopat ?

Berdasarkan tulisan diatas, jika kita melihat perbuatan pasangan ini, terlihat mereka sudah terindikasi psikopat. Bisa terlihat dari perbuatan mereka terhadap korban yang sadis sekali dan bahkan seperti sama sekali tidak menyesali perbuatan mereka.  Apabila benar dugaan itu, mereka harus di ganjar hukuman penjara yang lama sekali atau kalau perlu penjara seumur hidup, tujuannya adalah menyelamatkan masyarakat daripada perbuatan yang dimungkinkan akan diulang oleh mereka.  Hakim juga harus berhati – hati dengan hal – hal yang meringankan terdakwa nantinya yang pasti akan diungkapkan oleh Pengacara. Seharusnya hakim bisa mendengar keterangan seorang psikiater apakah benar mereka terindikasi psikopat. Hukuman terhadap seorang psikopat harus berbeda, karena ada masyarakat yang harus dilindungi dari perbuatan mereka.

BREAKING NEWS

Pada hari ini 4 November 2014, Penuntut Umum/ Jaksa menuntut kedua terdakwa dengan hukuman penjara SEUMUR HIDUP, tulisan ini semoga juga membawa pandangan kepada Hakim untuk menjatuhkan vonis, bukan untuk membalas perbuatan mereka namun lebih untuk melindungi masyarakat dari perbuatan lanjutan mereka…….

6 Komentar

Filed under Uncategorized

6 responses to “Teen Killers dan Psikopat

  1. Tia

    Si Hafit ini anaknya SpOG (dokter kandungan) yang dipenjara 4 tahun kasus aborsi. Ada hubungannya nggak yaa

  2. reality show

    hal-hal seperti itu terjadi di Indonesia karena saat ini masyarakat Indonesia terutama anak-anak muda nya sedang krisis identitas dan krisis keyakinan beragama sehingga kesulitan menentukan mana hal yang kira-kira baik dan mana hal yang kira-kira salah, agama diperlukan manusia sebagai koridor dan sebagai pembatas perilaku manusia, karena di Indonesia mayoritas masyarakat nya memeluk agama islam maka saat ini mayoritas anak-anak muda Indonesia menjauhi agama karena takut jadi teroris dan takut dianggap teroris, hal itu terjadi karena adanya sikap saling curiga dan saling tuduh di masyarakat karena efek dari tindakan densus 88 saat menangani teroris yang terkesan tidak mengenal hukum dan ditayangkan di berbagai media informasi visual seperti televisi hal demikian tentu saja menimbulkan kecemasan di masyarakat karena teroris menjadi musuh yang seperti siluman musuh yang tidak terlihat dan seperti virus yang menular, jadi tolong cara penanganan teroris oleh densus 88 tolong di kaji ulang jangan malah menimbulkan kecemasan dan saling curiga dalam masyarakat yang akhirnya malah membuat masyarakat terutama kalangan muda nya menjauhi agama, sebaiknya contoh lah penanganan komunis dan gerombolan pengacau beragama saat di jaman orde baru dulu masyarakat saat itu tidak di buat panik dan cemas.

    @reality show: terima kasih atas masukkannya..

  3. reality show

    http://m.tempo.co/read/news/2014/04/12/078570146/Ini-Pola-Baru-Penggalangan-Dana-Teroris

    mohon di akses link tersebut, apakah ini untuk membuat efek terorism lagi di masyarakat seperti efek jokowi? baru terduga saja koq sudah di publikasikan aturan seperti apa itu?? berita ini pun masuk juga di halaman yahoo Indonesia tgl 12/04/2014 dan akibat dari publikasi an berita ini banyak pihak yang dirugikan mulai dari perusahaan Multy Level Marketing karena banyak MLM mulai eksis semenjak tahun 90an hingga saat ini gara-gara berita teroris perolehan anggota menjadi menurun, lalu pedagang buku/toko buku menjadi bahan ejekan dan omset menjadi turun, lalu pedagang herbal/toko herbal/toko obat tradisional omset nya pun menjadi turun, pemberitaan tersebut sangat merugikan pihak-pihak tersebut, sebaiknya dalam mempublikasikan suatu hal yang penting cantum kan saja nama pelaku nya atau nama toko nya agar menjadi jelas dan tidak saling curiga dalam masyarakat, apakah publikasi an seperti tersebut bisa di ajukan ke pengadilan karena telah merugikan menyangkut hajat hidup seseorang?. Terima kasih.

  4. Saya jadi ingat buku karangan andrea hirata. Disana dia menulis pembunuh itu mayoritas bukanlah mereka yang berwajah sangar, badan penuh dengan tato dan suka berkata2 kasar. Tapi penampilannya rapi, wajahnya baik, dan tutur katanya lembut.

    • Terutama pada kasus dimana tersangkanya Psikopath…. Sama sekali diluar gambaran kita dengan gambaran pembunuh yang sangar dan bertato …. Trims bang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s