Masyarakat Multikultural

Saya ingat pelajaran sewaktu kuliah dulu  masyarakat majemuk menurut J.S. Furnivall adalah: “Masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas maupun kelompok-kelompok yang secara budaya dan ekonomi terpisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda satu dengan lainnya”.

Upin dan Ipin representasi keragaman Ras di Malaysia, walaupun contoh ini tidak nyata

Upin dan Ipin wujud keinginan Multikulturalisme di Malaysia, walaupun kenyataannya berbeda

Persoalan itu begitu terlihat sekarang setelah saya bertugas di Malaysia, walaupun Indonesia adalah negara dengan masyarakat majemuk sama dengan Malaysia, tapi permasalahan yang terjadi sangat berbeda. Yang disebut majemuk dalam konteks Indonesia adalah kemajemukan suku – suku yang berbeda budayanya sedangkan di Malaysia lebih hakiki yaitu perbedaan ras yang pasti berbeda juga budayanya, agamanya dan perilakunya.

Yang sangat jelas terlihat adalah bagaimana 3 golongan ras besar di Malaysia yaitu dari Melayu, China dan India dalam praktek kehidupan sehari – harinya.  Mereka masing masing mempunyai pendidikan sendiri yang dikategorikan berdasarkan bahasa, Bagi anak – anak Melayu mereka masuk ke sekolah berbahasa Melayu, China ke sekolah China dan India ke sekolah India.

Pembedaan lingkungan sekolah tersebut kita melihat hal yang lebih besar yaitu lingkungan tempat tinggal, ada lingkungan perumahan India , lingkungan perumahan China dan juga Melayu.  Di masyarakat yang lebih luas juga begitu, masing masing orang memakai bahasanya masing – masing, ini terlihat dari televisi di Malaysia yang ada channel berbahasa Melayu, India dan China, dan bahkan mengkristal dengan pandangan Politik perkauman yaitu adanya Partai Politik Melayu, India dan China.

Didalam masyarakat Majemuk seperti di Malaysia Multikulturalisme dapat dikategorikan sebagai: “Pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik” (Azyumardi Azra, 2007). 

Saya melihat kebanggan menjadi satu bangsa agak kurang disini, hal ini disebabkan orang Cina dan India lebih memilih bahasanya sendiri atau bahasa Inggris dibandingkan bahasa nasional mereka bahasa Melayu. Kalau kita bandingkan di Indonesia, orang Cina mereka bangga berbahasa Indonesia dan mereka sebagai bangsa Indonesia. Saya jadi teringat ungkapan “Bahasa mempersatukan bangsa”, dan inilah fakta yang saya lihat.

Beruntunglah Founding Father negara Indonesia dari  awal telah menemukan gagasan yang brilian yaitu Bhineka Tunggal Ika, hal ini diimplementasi dengan cita cita Sumpah Pemuda yaitu Berbahasa, Berbangsa dan Berbudaya Indonesia, dan beruntunglah saya mempunyai bekas presiden Pak Harto yang ketika awal orde baru menerapkan kebijakan keras untuk menasionalisasi seluruh nama orang China menjadi nama Indonesia, menghapus semua sekolah berbahasa China, dan hal ini bisa kita rasakan sekarang, walaupun kita dari berbagai suku dan ras tapi kita semuanya dalam bingkai kesatuan Indonesia.

Catatan: Sekarang ada golongan masyarakat yang terobsesi untuk menggantikan Indonesia dengan konsep bernegara sesuai golongan mereka, ingat.. cita citamu tidak akan tercapai !

Tinggalkan komentar

Filed under Blogger, Publik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s