Cerita Seru Seputar Ilmu Forensik (1) : Kasus Jack The Ripper, Sebuah Pembelajaran

*Halo.. pembaca blogku, bagi yang senang nonton tv kabel pasti banyak yang suka film seri televisi yang berbasis “Forensic Science” seperti CSI dan NCIS, kadang kita terkagum – kagum dengan ilmu forensik yang demikian canggih sehingga bisa mengungkap kejahatan, ditayangkan dalam film bagaimana dengan sejumput barang bukti dengan berbagai macam media dan bentuk dan dengan ilmu pengetahuan barang bukti itu bisa “berbicara”, namun tahukah bahwa ilmu forensik mengalami proses yang sangat panjang dalam penemuannya, dalam beberapa tulisan ke depan saya akan bercerita tentang kisah 2x seru ilmu forensik, selamat menikmati*

Pada tahun 1880 an di East London merupakan daerah yang menakutkan dan berbahaya, hal ini disebabkan kemiskinan yang menyebabkan banyak penduduk hidup dalam lingkungan sosial yang tidak sehat, pelaku kriminal dari berbagai jenis dari perampok, pencopet, pencuri dan pelacur berkeliaran di jalanan dan kekerasan sepertinya merupakan makanan sehari – hari.

Mayat Mary pada saat ditemukan di tempat tidur

Mayat Mary pada saat ditemukan di tempat tidur

Pada suatu pagi di November 1888 , tahun dimana juga pernah ditemukan 2 pembunuhan terhadap perempuan di area ini, seorang pemilik kontrakan datang menagih uang sewa ke kontrakannya yang dihuni oleh seorang pelacur bernama Mary Jane Kelly, ia mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, lalu ia mengintip melalui jendela yang rusak dan terkejutlah ia melihat sesosok mayat yang terpotong dan lantai ruangan nya basah oleh darah. Pada saat polisi datang, mereka menemukan tubuh perempuan itu telah dirusak, kedua buah buah-dadanya telah terpotong, organ hati dari mayat itu terletak diantara kaki korban, dan satu tangan yang terpotong diletakkan di perut. Pada tempat perapian ditemukan abu pakaian korban yang sengaja dibakar.

Saksi mengatakan pernah melihat seorang laki – laki dengan kumis dan menggunakan topi bola, dua saksi lain mendengar teriakan dalam kamar sekira jam 4 pagi, dan saksi dari tetangga mendengar langkah kaki meninggalkan kamar Mary dua jam setelah jam 4 pagi.

Korban lain dari "Jack The Ripper"

Korban lain dari "Jack The Ripper"

Pembunuhan yang mengerikan ini adalah seri terakhir pembunuhan kejam dari seorang pelaku yang mendapat julukan umum “Jack the Ripper” (ripper = orang yang membawa pisau), pembunuhan brutal sebelumnya terjadi pada seputaran tahun 1880, semua korban adalah perempuan dan terpotong tenggorokannya, namun pola potongan terhadap korban yang khas menunjukkan perbuatan ini pelakunya Jack the Ripper.

Berdasarkan banyak keterangan saksi dan alat bukti Forensik sederhana pada zaman itu, tidak ada seorang pun menjadi terdakwa dalam kasus Jack the Ripper walaupun banyak sekali alat bukti yang didapatkan di sekitar TKP. Hampir seabad setelah peristiwa ini teori tentang pembunuhan dan identitas daripada tersangka yang dicurigai tetap diterbitkan oleh banyak penulis, peneliti dan polisi. Pada saat itu memang ada tersangka yang diamankan berkaitan dengan pembunuhan ini, tapi tidak ada seorang pun yang terbukti secara syah berkaitan dengan pembunuhan ini.

Kasus Jack the Ripper menggambarkan bagaimana terbatasnya alat bukti potensial yang bisa didapat  ilmu Forensik zaman itu,  pada abad ke 20 bukti forensik menjadi solusi dari banyak kasus pembunuhan,  diakui akibat peristiwa Jack the Ripper yang terkenal dan tidak terungkap itu ilmu forensik mendapat lompatan besar dalam perkembangannya.

Forensik merupakan senjata bagi semua penyidik untuk mengungkap kejahatan, caranya ada 2 yaitu : Mencari pelakunya dan sebagai alat bukti dalam sidang pengadilan untuk mengungkap keterlibatan pelaku dalam TKP, dalam beberapa kasus bahkan bisa juga bekerja keduanya dengan menggunakan metode sidik jari, balistik , perbandingan DNA , analisis jejak elemen, ahli forensik modern bisa mengungkap fakta, membeberkan peristiwa secara detail dan memberi kemungkinan serta teori tentang suatu peristiwa, hal ini pasti tidak pernah ter-pikirkan oleh generasi penyidik zamannya Jack the Ripper.

Diakui juga, walaupun bagaimana hebatnya temuan alat bukti dari ilmu forensik, alat bukti itu baru bisa “berbicara” apabila seorang target tersangka didapat, nah mendapatkan tersangka sangat tergantung dari kerja penyidik polisi.

Ilmu Forensik bukan ilmu yang sempurna dalam penerapan nya,  alat bukti yang terbatas dan tidak lengkap mengakibatkan banyaknya interpretasi, kadang – kadang terdapat opini yang berbeda terhadap alat bukti yang didapat dengan fakta yang didapat. Pada kasus lain penanganan  yang salah terhadap barang bukti di lapangan mengakibatkan ilmu forensik tidak dapat diterapkan.

Ilmu Forensik bisa sangat berguna, tetapi barang bukti harus ditangani secara teliti dan cermat, kalau tidak ditangani dengan baik alat bukti ini tidak dapat “berbicara”, semua digunakan untuk mengungkap pelaku kejahatan dan membebaskan yang tidak bersalah.

9 Komentar

Filed under Blogger, hukum

9 responses to “Cerita Seru Seputar Ilmu Forensik (1) : Kasus Jack The Ripper, Sebuah Pembelajaran

  1. Ping-balik: Tiga Pria Palestina Ditangkap Terkait Pembunuhan Wisatawan AS | Indonesia Search Engine

  2. mardiaz fbi 243

    Secanggih2nya suatu alat terpulang kepada yang mengawakinya sehingga ada istilah “The man behind the gun”, tetapi tanpa teknologi sepintar2nya penyidik tidak dapat berbuat banyak. Saat ini Polri sedang mengmbangkan Inafis (Indonesian Automatic Fingerprint Identification System) yang megacu kepada AFIS di America sehingga pada bulan September 2010 Kepala Inafis Mabes Polri berkunjung ke FBI Academy di Quantico untuk melakukan study banding di Scientific Criminal Lab milik FBI yang dikabarkan Lab terlengkap di seluruh dunia. Namun bagaimana perkembangan INAFIS itu sendiri bagi penyidik Polri di jajaran? Tim INAFIS di jajaran Polri saat ini tak lain hanya 1 unit yang akan hadir dengan kendaraan barunya yang berwarna merah dan personilnya menggunakan rompi dan topi yang berada di TKP atas permintaan penyidik setempat sesuai wil hukumnya (Polda/Res/Sek) dan sejauh ini kinerja mereka belum semaksimal apa yang selama ini kita lihat di serial TV (CSI, Bones,Criminal Minds) malah belakangan yg terjadi adalah pertentangan istilah arti Inafis itu sendiri, beberapa pejabat meminta Inafis diganti saja dengan istilah lama seperti Puslabfor, Ident krn kepanjangan Inafis hanyalah menyinggung tentang fingerprint, sehingga di salah satu Polda (tak perlu sy sebutkan) ingin mengganti tulisan di kendaraan utk merubah sebutan tsb. Nah jawabannya jelas bahwa Polri saat ini masih mempermasalahkan hal2 sepele seperti yg sy ceritakan diatas,lantas kapan kita akan merubah organisasi Polri khususnya Inafis/Labfor utk bekerja secara profesional seperti apa yang dituliskan oleh bang Rere diatas agar penyidik dapat mengungkap suatu kejahatan dgn secara scintific??

  3. chris

    nice post sir, setuju dengan mardiazfbi243 tentang “The man behind the gun”, selain itu juga perlu dipertimbangkan piranti hukum yang berlaku terkait masalah identifikasi ini, setidaknya peralatan yang dipergunakan pun dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan ilmiah, dalam “Handbook of fingerprint recognition system (Jain et al, 2010)” disebutkan bahwa di beberapa negara maju, computation-tools yang digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari(daktiloskopi) harus menggunakan beberapa pendekatan (approaches) yang diakui di pengadilan dan undang-undang di negara tersebut (approaches ini didapatkan dari state-of-the-art penelitian daktiloskopi, jadi hasilnya yang terbaru dan dianggap paling efektif). Sebagai contoh untuk identifikasi manual menggunakan perumusan Galton, untuk identifikasi dengan komputasi, bidang ilmu yang terkait adalah image-processing, beberapa approaches yang banyak digunakan untuk penelitian daktiloskopi semisal di negara barat : orientation-image, artificial neural network algorithm dll, di jepang lebih banyak menggunakan algorithm yang berbasis phase-only-corelation. Setidaknya di indonesia pun dilakukan penelitian bidang ilmu biometrik khususnya daktiloskopi, sehingga tidak hanya sebagai user INAFIS saja tapi mengerti tentang bagaimana tools itu bekerja, mengetahui kelemahan dari masing2 tools, sehingga dapat disesuaikan dengan undang-undang daktiloskopi yang berlaku di indonesia dan kedepannya dapat mengembangkan sendiri tanpa tergantung negara lain.

    , Regards

    @Chris: terimakasih atas tanggapannya … sukses selalu GBU

  4. mardiaz fbi 243

    waduh si abang dah pulang dr ILEA neh,ditunggu seri berikutnya tp wajib dituliskan dgn segala kebenaran dan kejujuran,kwakakakakakaka.
    wajib ditulis pengalaman di pendidikan dan pengalaman pribadinya,termasuk foto2nya

    @Mardiaz: ok bro ini dalam proses, sekarang buat seri forensik dulu yaaa…

  5. mardiaz fbi 243

    Siiip bro,jangan lupa untuk diceritakan semua bang,hik2s…. jangan yg normatif bae

  6. Tulisan yang bagus dan sangat bermanfaat Bang.
    Ilmu forensik memang sangat vital dibutuhkan terutama untuk kejahatan-kejahatan yang minim meninggalkan jejak selain alat bukti forensik seperti sidik jari, DNA, rambut, dsb. Alhamdulillah Kepolisian kita saat ini sudah memiliki Puslabfor, Inafis, Ident dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Saya pribadi sih memilih berpikiran positif dengan segala kekurangan tersebut. Sebulan yang lalu pada saat ada TKP kebakaran Kapal di Pelabuhan saya bersama Kapuslabfor melakukan olah TKP. Beliau menyatakan bahwa rencana ke depan di setiap Polda akan didirikan Puslabfor. Semoga dengan adanya Puslabfor di setiap Polda nantinya dapat membantu kinerja penyidik Polri dalam mengungkap kejahatan.

    Saya sependapat dengan terma “The Man Behind The Gun”. Pola pikir penyidik-penyidik kita harus digugah agar dalam pekerjaannya mengungkap kejahatan dapat menggunakan beberapa pendekatan yang salah satunya adalah dengan menggunakan bukti forensik, sehingga pada saat pertama kali mendatangi TKP dalam benaknya sudah tahu dan paham apa yang mau dikerjakan dan apa yang mau dicari di TKP tersebut.

    Ada suatu doktrin kepolisian mengatakan bahwa 80% terungkapnya suatu kejahatan tergantung pada saat penanganan TKP pertama. “Chain of Custody” yang merupakan urutan perjalanan dan perlakuan terhadap barang bukti yang ditemukan di TKP mutlak harus menjadi konsen dan perhatian penyidik sehingga barang bukti tersebut akhirnya dapat “berbicara” dan membantunya dalam mengungkap siapa pelaku dan mencari alat bukti terkait kejahatan tersebut.

    Keep writing ya Bang. Supaya kita selalu bisa baca dan dapat pencerahan.

    Regard
    YSU

    @thanks bro, sukses selalu ya bro… blognya terus di update juga donk🙂

  7. Jessica Issakh

    It’s good. Thanks for the information. God Bless.

  8. amir

    menarik sekali tulisannya. kalo sebelumnya hanya tau lewat film yg kayak2 gini fiksi lagi. oiya pak baru nyadar kalo bapak itu polisi hehe maap. saya sekalian mau nanya ijin memiliki pistol buat warga sipil itu kena biaya berapa. saya cuma punya bb gun doang hehe.

    @amir: harus jadi anggota perbakin dulu baru bisa memiliki senjata, itupun harus dititipkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s