Walet Menyelamatkan Desa Air Hitam

Desa air Hitam, kapal nelayan dan rumah walet

Desa Air Hitam adalah desa yang sangat terpencil, terletak di muara sungai berbak Jambi dan untuk menuju ke desa ini sarana angkutan air merupakan sarana yang paling memungkinkan, untuk lewat darat tidak ada jalan, kalaupun dipaksakan hanya bisa mengendarai sepeda motor menyusuri pantai selama 4 jam, itupun kalau laut tidak pasang. Alkisah pada pertengahan tahun 70 an dimulailah warga pertama yang datang ke Muara Sungai Berbak, lalu dinamailah daerah itu menjadi AIR HITAM, karena air yang mengalir di perairan sungai tersebut hitam seperti kopi, menurut seorang ahli penyebab hitamnya air sungai tersebut karena humus yang mengendap dari akar-akar gambut sepanjang sungai Berbak. Beberapa keluarga yang datang pertama adalah nelayan Bugis dari daerah Wajo dan satu keluarga keturunan Tionghoa berasal dari daerah Cocong Tembilahan Riau bernama Aliang.

Aliang

Aliang

Berkembanglah Desa Air Hitam menjadi sentra perikanan, Desa terpencil ini menjadi tempat transit dan berlabuh kapal – kapal nelayan dari seluruh daerah, mereka adalah nelayan dari daerah Lampung, Palembang , Riau bahkan dari Kalibaru Cilincing mereka datang ketempat ini untuk beristirahat dalam satu musim menangkap ikan. Aliang menangkap peluang ini, ia kemudian mendirikan pabrik es, untuk mengakomodir kebutuhan para nelayan akan es untuk mengawetkan ikan sebelum dijual di tempatnya berasal. Makin besarlah usaha Aliang bahkan ia mempunyai beberapa armada kapal penangkap ikan… dan Aliang dengan semua usahanya ia juga sangat berjiwa sosial, sehingga walaupun keluarganya satu-satunya warga keturunan namun ia sangat dihormati dan segala omongannya didengar oleh warga desa, walaupun ia bisa saja menjadi Kepala desa tapi ia lebih menyerahkan kepada kawannya seorang keturunan Bugis.

Sarang burung walet dibersihkan dari bulu dan kotoran, mutunya menjadi super

Sarang burung walet dibersihkan dari bulu dan kotoran, mutunya menjadi super

Kemudian pada tahun 2006 terjadilah permasalahan yang memberatkan para nelayan, dimulai dengan melonjaknya harga minyak dunia hingga 120 usd/barel sehingga pemerintah mau tidak mau mengetatkan pembelian solar, hal ini mengakibatkan langkanya solar untuk mesin kapal nelayan, mulai saat itulah banyak nelayan yang kolaps mereka tidak mampu lagi membeli solar karena mahal dan langka… dan otomatis tidak bisa melaut lagi… demikian usaha pabrik es dan armada kapal ikan Aliang.

Ditengah kebingungan Aliang mencoba membuat “rumah” walet didasarkan tinjauannya ke daerah kelahirannya di Tembilahan yang duluan membudidayakan walet…. pada awalnya ia dibilang “gila” oleh warga sekitarnya, karena ia menginvestasikan uang dengan jumlah tidak sedikit untuk mebuat rumah walet…. sebagai catatan karena terpencilnya daerah tersebut, harga semen 4 kali lipat harga pasaran… Ternyata hasilnya malah bagus sekali, waletnya banyak sekali yang ‘bersarang’ di rumah waletnya, hasilnya pun luar biasa…. karena kesuksesannya banyak warga desa mencoba membuat hal yang sama… dan .. Luar biasa … gara – gara walet perekonomian Desa Air Hitam yang tadinya Suram bahkan mendekati kota mati … sekarang jadi bergairah kembali…. investasi pun mengalir dari berbagai tempat, banyak penduduk yang diserahi tanggung jawab akan rumah walet… Berkat usaha pioner Aliang, Desa Air Hitam menjadi berdenyut kembali….. Pedagang dari Singapura dan Hongkong langsung datang ke Air Hitam menggunakan kapal sendiri, sebagai gambaran rumah walet Aliang menghasilkan 25 Kilogram Sarang Walet per bulan, karena mutunya tinggi sarang Walet di Air Hitam dihargai 15 Juta/kilo, jadi sebulan ia menghasilkan 375 juta rupiah ! belum lagi dia bertindak sebagai trader dengan menampung hasil walet penduduk desa… konon nilainya sampai milyaran perbulan… suatu nilai yang fantastis kan ?

Rumah walet Aliang

Rumah walet Aliang

Cerita ini belum berakhir disini…. ingat kata pepatah : Kacang lupa dengan kulitnya ? Ternyata tidak berlaku buat Aliang, dia menyadari betul kehidupan dia berawal dari nelayan dan hasil ikan tangkapannya…. Ia tetap berkomitmen untuk tetap membeli hasil tangkapan ikan dari nelayan Desa Air Hitam dan tetap memberi subsidi solar kepada para nelayan…. konon pula ia rugi sebulan sampai 40 – 50 juta rupiah untuk tetap memutar roda perekonomian Desa, hmmm sungguh cara yang smart, sebab tanpa perekonomian desa ini akan mati, karena tidak semua warga desa mampu untuk membuat rumah walet yang harganya 200 jutaan…

Satu lagi, Aliang si Miliuner kampung ini ternyata tidak bisa membaca – tulis … dan itu saya saksikan sendiri ….. namun kalau menghitung uang kok bisa ya ?… Wow…, demikianlah kenang – kenangan saya sewaktu mengantar Dubes Inggris ke Air Hitam… masih banyak cerita lain menyusul …. tunggu ya hehe...

11 Komentar

Filed under Blogger, Publik

11 responses to “Walet Menyelamatkan Desa Air Hitam

  1. Wow… hebat. Walaupun sudah berhasil si Aliang tak lupa daratan, bahkan dia rela merugi puluhan juta demi membantu orang lain, bahkan orang2 yang tadinya menganggap dia gila😀

    @Bujang : Memang betul mas, saya sendiri sampai berpikir, kok bisa begitu ya ? ternyata dibalik subsidi itu Desa menjadi sejahtera… salam buat warga rimbo mas …

  2. Wah salut banget.. dengan si aliang yg dari namanya tentu saja orang keturunan bisa berbuat demikian. cerita yang mengharukan tentunya bagi masyrakat Desa air hitam.
    ditunggu cerita selanjutnya…

    @Atman : ya memang , sayapun waktu kesana sampai terkagum – kagum melihatnya…. jangan kuatir bro akan banyak kisah lain..🙂

  3. banyak orang di dunia ini yang hebat dan sukses bukan dari kepintaran dan kepandaian tapi karena keberanian dan keuletan… aliang buktinya

  4. Pak reinhard… Mantab niyh tulisan2nya… kaskuser juga pak..??

    @Mas Adit: hehe thanks mas, sekedar untuk mengkspresikan diri dan tidak kampung 2x amat (soalnya kita tinggal di kampung hehe), ia mas aku juga kaskuser di forum supra pernah buat heboh hehe… cuma skrg lagi ngga ngaskus dulu…🙂

  5. Izin copy ya pak,
    buat diposting di blog🙂

  6. nama saya ali usman lahir di air hitam laut tepatnya parit satu. namun saya besar di jakarta karna keadaan iklim di desa tempat saya lahir tidak cocok dengan keadaan kesehatan saya. itu yang mengakibatkan saya hijrah ketempat yang pas untuk saya, dan sekarang saya al-hamdulillah telah mempunyai dua orang putra, putra pertama namanya Najib Naufal dan yang kedua Faiz Naufal.

    @ali: memang air di air hitam betul berwarna hitam (walaupun pakai sumur bor), jadi bisa dibayangkan pasti banyak yang terganggu kesehatannya meminum air dari sana… syukurlah sudah menemukan kehidupan baru di Jakarta … salam kenal

    • ali usman

      Alhamdulillah lambat laun tapi pasti, jalanmenuju desa air hitam telah bisa di lewati dgn kendaraan beroda dua, dan mudah-mudahan yg akan datang telah di aspal dan dapat di lewati dgn kendaraan beroda empat. Thanks for Bapak Zumi Zola (bupati) kami, lanjutkan pembangunan infrastruktur…

  7. airnya hitam, masih dipertahankan, hebat nih orang yg tinggal di situ,…………………

  8. ali

    thank’s for all

  9. Gatho Loyo

    Kami kesana untuk melihat desa yang katanya diangkat oleh dinas Pariwisata Jambi menjadi desa Wisata. Salut untuk Desa Air Hitam

    @gatho : wow pasti pengalaman menarik pergi ke desa air hitam, bagus sekali kalau dijadikan desa wisata, cuma masalahnya bagaimana pergi kesana ? Susah banget dan sepertinya yang paling layak kalau naik transportasi laut dan sungai…..

  10. Baru baca postingan ini, alhamdulillah sekarang air hitam sudah semakin maju🙂 alhamdulillah masa kecil saya disana sebelum akhirnya merantau ke jogja,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s