Identifikasi Mayat Pelaku Teroris

Beberapa waktu yang lalu pemberitaan di Media Pers di Indonesia diramaikan dengan penyergapan para pelaku teroris oleh Densus 88 yang berujung pada terbunuhnya para pelaku teroris, sebut saja dari awalnya penggerebekan di Temanggung pada tanggal 8 Agustus 2009 yang mengakibatkan Ibrohim “the florist” terbunuh, tak beberapa lama kemudian pada tanggal 17 September di Jebres Solo yang mengakibatkan meninggalnya Teroris yang paling dicari yaitu Noordin M Top beserta pengikutnya yaitu Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Aji alias Ario Sudarsono dan Adib Susilo, dan terakhir di Ciputat pada tanggal 9 Oktober 2009 yang mengakibatkan tewasnya Syaifudin Zuhri dan Muhamad Syahrir … ada satu hal yang membuat penasaran banyak orang … kenapa proses identifikasi memakan waktu lama sekali, bahkan sudah kasat mata terlihat atau sudah identik sidik jari mayat dengan pembanding masih saja diperlukan test yang lebih lanjut yaitu test DNA.

Alasan yang paling logic adalah mengindari “Error in Persona” atau “salah orang”, hal ini sangat penting dalam institusi yang bertugas di Bidang Hukum seperti Polisi, Jaksa dan Hakim karena setiap pekerjaan di institusi ini dipayungi oleh Hukum, termasuk “apabila terpaksa” membunuh tersangka (dan sanksi hukum pula apabila salah dalam tindakan yang dilakukan)  Terlihat jelas dalam setiap statement yang yang di keluarkan oleh Kapolri maupun Kadiv Humas Polri, mereka tidak akan mengumumkan apabila “siapa” tokoh teroris yang terbunuh belum jelas ….

Berikut ini cara Polisi melakukan identifikasi terhadap mayat, bukan hanya terhadap pelaku teroris tapi terhadap setiap kematian yang tidak wajar seperti kecelakaan, pembunuhan dan lain sebagainya :

1. Identifikasi dengan membandingkan foto : Hal ini dilakukan oleh petugas dengan melihat korban secara fisik membandingkan raut muka dengan foto pembanding, namun cara ini kurang akurat .

2. Identifikasi dengan melihat identitas korban : Petugas bisa mencari data identitas yang didapat dari korban, misalnya KTP atau SIM, namun cara ini juga kurang akurat karena diketahui banyak juga beredar identitas palsu, dan juga akan tidak efektif apabila korban dalam keadaan terbakar sehingga kartu identitas juga terbakar.

3. Identifikasi melalui saksi atau orang yang kenal korban ( Metode Visual): Metode ini yang paling Lazim dilakukan, mereka para saksi biasanya orang terdekat seperti istri/suami, anak, ayah/ibu, mereka bisa mengidentifikasi dengan pengenalan wajah, atau menunjukkan ciri – ciri lahir seperti tahi lalat, bekas luka yang mereka kenal, walaupun cara ini lazim dilakukan tapi tidak sepenuhnya akurat, karena perubahan phisik seseorang bisa sangat berbeda, apalagi apabila dari saksi sudah lama tidak berhubungan, atau akan makin sulit lagi apabila mayat ditemukan tidak dalam keadaan sempurna seperti terbakar, korban mutilasi atau bahkan tinggal tulang belulang.

4. Identifikasi dengan mengenali barang milik Korban: Hal ini juga harus menggunakan saksi untuk mengenali barang yang digunakan, cara ini cukup efektif apabila Mayat Korban tidak utuh lagi dan sulit dikenali, mereka bisa mengenali korban dari benda yang biasa dipakai korban seperti Pakaian, cincin, kalung atau Gelang, walaupun benda itu dikenali namun metode ini juga masih banyak kelemahannya masih diperlukan metode lain yang lebih akurat untuk memastikan.

5. Identifikasi menggunakan gigi (Dental Forensic): Perlu diketahui setiap manusia mempunyai pola yang spesifik di giginya, setiap orang kan pernah copot giginya, bolong dan ditambal, atau bertumpukan. Apabila sesorang pernah pergi kedokter gigi biasanya akan ada identifikasi gigi ini di kartu pasien sebelum dilakukan penanganan oleh Dokter, data ini disebut Odontogram, nah data Odontogram tersebut yang digunakan dalam proses identifikasi mayat, dengan membandingkan jumlah gigi, bentuk gigi, susunan, tambalan, protesa gigi antara Mayat dan Data Odontogram dengan cara pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi dan rahang, metode ini sangat efektif apabila kondisi mayat dalam keadaan tidak utuh atau terbakar.

6. Identifikasi Sidik Jari : Bisa dikatakan metode ini mendekati sempurna, karena diketahui setiap Manusia tidak ada yang sama sidik jarinya walaupun dia terlahir kembar identik sekalipun, lumrah dalam setiap pengurusan administrasi pengambilan sidik jari dilakukan, seperti dalam membuat Surat Kelakuan Baik, sidik jari ini kemudian dimasukkan ke dalam kartu dan disimpan di kantor polisi, nah data inilah yang digunakan sebagai pembanding apabila ditemukan korban, identifikasi dilakukan dengan cara menyocokkan 14 titik yang sama dari sidik jari pembanding dan yang ada di mayat. Cara identifikasi ini sangat akurat namun ada kelemahannya yaitu ketika sidik jari korban sudah rusak biasanya pada mayat yang tenggelam atau terbakar.

7. Identifikasi DNA: Metode ini diyakini adalah metode paling akurat dalam identifikasi, dan keunggulan Identififikasi dengan cara ini adalah proses Identifikasi dapat dilaksanakan dengan kondisi apapun mayat, bahkan kondisi korban tinggal tulang belulang. DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid), adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Ilmuwan forensik dapat menggunakan DNA yang terletak dalam darah, semen, kulit, liur atau rambut yang tersisa di tempat kejadian kejahatan untuk mengidentifikasi kemungkinan tersangka, sebuah proses yang disebut fingerprinting genetika atau pemrofilan DNA (DNA profiling). Diketahui setiap hubungan darah mempunyai kemiripan dalam struktur DNA nya, jadi pembanding untuk identifikasi paling sering adalah anak atau saudara kandung. Dalam metoda terbaru identifikasi DNA diketahu waktu paling cepat adalah 24 jam untuk mengetahui hasilnya.

Dari beberapa medota tersebut diatas biasanya dilakukan secara berjenjang dari indentifikasi phisik sampai indentifikasi DNA, khusus dalam identifikasi mayat teroris digunakan cara yang paling akurat, kenapa ? hal ini digunakan menambah kepercayaan masyarakat atas tugas polisi, karena tanpa hasil yang terbaik bukan tidak mungkin hasil kerja polisi akan sia sia, bisa saja beredar isyu bahwa tokoh teroris itu sebenarnya orang lain, dan jangan sampai terjadi “error in persona” bisa hancur reputasi Polri kalau hal ini terjadi.

Khusus dalam identifikasi korban kecelakaan massal atau bahasa internasionalnya Disaster Victim Identification seperti contoh korban bom bali, kecelakaan pesawat atau gempa di Padang belakangan ini karena menyangkut aspek waktu dan kepraktisan, maka apabila identifikasi visual oleh keluarga korban sudah bisa, tidak dilanjutkan dengan metode lain.

Demikian sekilas share pengetahuan dari saya … mudah mudahan berguna.

3 Komentar

Filed under Blogger, hukum, teroris

3 responses to “Identifikasi Mayat Pelaku Teroris

  1. Analisanya mantap bro, tinggal naek cetak aja neh sptnya mengikuti jejak langkah pendahulunya…….he3x.Brp lama di jkt bro? Gut luck yah!!

  2. niken

    Thanx infonya pak.. Gara2 suka nntn CSI, Crossing Jordan, n Numbers jd tertarik ni ama dunia ‘syerem’ pengidentifikasian hehehe…bravo Polri!

  3. Si Rajin ????????

    kayakya tuh kalo identifikasi mayat pelaku teroris perhatikan orang-orang yang datang ikut melihtnya misalnya yang trgabung dalam tim EMER-C dan masyarakat lain bisa saja kan tatapan matanya menggoda biasanya pelakunya mundur kebelakang dan batuk-batuk ??????????????????????///

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s