Arsip Kategori: teroris

Kenapa Polisi Sasaran Penembakan ?

219129_polisi-ditembak-inspektur-dua-dwiyatna_663_382Kita melihat trend penembakan anggota Polisi mulai marak di Indonesia, sudah belasan polisi Bhayangkara menjadi korban penembakan, kalau dilihat dari modusnya dapat dilihat peristiwa penembakan tersebut dilakukan oleh kelompok teroris. Inilah sebagian data yang bisa didapat (Khusus yang dicurigai dilakukan oleh kelompok teroris):

1) Maret 2010, Penembakan di Polsek Prembun, Kebumen, Briptu Yona Anton (29) tewas tertembak dini hari sekitar pukul 01.00. dini hari, tidak ada saksi yang melihat.
2) April 2010, Penembakan di Pos Pol Kentengrejo, Purwodadi, Purworejo, jawa Tengah. yang menewaskan Briptu Iwan Eko Nugroho (26) dan Bripka Wagino (60) yang diperkirakan juga ditembak pada dini hari, tidak ada saksi yang melihat.
3) September 2010, Tiga polisi tewas dalam penyerangan terhadap Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, yang terjadi pada pukul 01.00 WIB menewaskan Bripka Riswandi, Aipda Deto Sutejo dan Aiptu B Sinulingga.
3) Agustus 2012, Penembakan di pos polisi di Singosaren Plasa, Serengan, Solo, oleh orang tak dikenal. Seorang anggota polisi yang tengah berjaga, Bripka Dwidata Subekti (53) tewas akibat penyerangan tersebut. penyerangan terjadi sekitar pukul 21.00 WIB ketika kios di pertokoan tersebut hendak tutup. Ketika itu, sebuah sepeda motor dengan dua pengendara berhenti di selatan Singosaren Plasa.
4) Oktober 2012, dua personel polisi Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman ditemukan tewas dengan leher tergorok di Gunung Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir.
5) Desember 2012, 4 anggota Polisi dari kesatuan Brimob tewas dalam penyergapan di Poso yaitu Briptu Ruslan, Briptu Winarto, dan Briptu Wayan Putu Ariawan dan Briptu Eko Wijaya.
6) Juli 2013, pada pukul 04.30 WIB. anggota Polantas Gambir Aipda Patah Satiyono di Jalan Cirendeu Raya, Jakarta Selatan, tewas ditembak ketika hendak berangkat dinas dari rumahnya di Bojong Gede, Depok.
7) Agustus 2013, anggota Kepolisian Sektor Pondok Aren Bripka Maulana dan Aipda Kus Hendratma menjadi korban penembakan orang tidak dikenal di Jalan Graha Raya Pondok Aren.
8) September 2013, Bripka Sukardi tewas ditembak orang tak dikenal tepat di depan Gedung KPK, Selasa sekitar pukul 22.20 WIB. Ketika ditembak, Sukardi tengah mengawal truk pengangkut peralatan konstruksi.

Osama Bin Laden dan Penggantinya Ayman Al Zawahiri

Osama Bin Laden dan suksesornya Ayman Al Zawahiri

Berbagai aksi teror yang terjadi beberapa waktu belakangan ini harus dilihat melalui trend global terorisme, yaitu pasca pergantian kepemimpinan Al Qaeda dari Osama Bin Laden yang tewas oleh pasukan khusus AS Navy Seals ke pimpinan baru Al Qaeda yaitu Ayman Al Zawahiri.  Dibawah kepemimpinannya terjadi perubahan yang signifikan terhadap metode perjuangan Al Qaeda, yaitu Perubahan Sasaran.  Tadinya Osama bin Laden hanya menekankan penyerangan terhadap Amerika Serikat, kepentingannya serta sekutu-sekutunya.

Sekarang pada masa kepemimpinan  Ayman Al Zawahiri  ia menyerukan untuk simpatisan dan anggota Al Qaeda agar membuat sel – sel kecil untuk menyerang aparat pemerintah atau Ighiyalat.  Penyerangan ini dilakukan terhadap negara – negara yang tidak menerapkan Hukum Syariah (Hukum Islam).   Sel – sel perjuangan Al Qaeda sekarang  tidak lagi bersifat komando vertikal dari atas ke bawah namun sel – sel itu kini bergerak secara otonom. Mereka menentukan target sendiri, dan mencari pendanaan sendiri  (Fa’i). Beberapa perampokan Bank dan toko emas di Indonesia belakangan ini disinyalir merupakan upaya sel ini untuk membiayai perjuangannya.

Di indonesia ada kelompok yang menamakan diri Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santosa dan Mujahidin Indonesia Barat pimpinan Umar. Pada saat ini mereka telah terkooptasi secara regional, global dan nasional untuk melakukan teror terhadap pemerintah yang belum menerapkan hukum Syariah.

Kasus penembakan terhadap Polisi tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara lain seperti Pakistan, Afganishtan, Suriah , Mesir dan Thailand. Ini merupakan reaksi dari fatwa yang dikeluarkan oleh Ayman Al Zawahiri. Tujuannya penembakan polisi ini adalah membuat kepanikan dalam masyarakat, sehingga masyarakat tidak percaya lagi terhadap perlindungan keamanan yang diberikan oleh Polisi.

Khusus di Indonesia Kenapa polisi menjadi sasaran ? Karena polisi adalah garda terdepan dalam menumpas terorisme. Sudah lebih 900 orang tersangka teroris yang ditangkap dan dibawa ke proses pengadilan. Diantara yang telah mendapat vonis ada yang masih bergabung dengan kelompok tersebut ada yang sudah sadar. Contoh yang telah sadar adalah Ustad Abdul Ayub (salah satu mantan pendiri Jamaah Islamiyah)  sekarang bersama BNPT melakukan Deradikalisasi terhadap para mantan teroris agar kembali ke ajaran yang benar.

Di dalam buku Tazqiroh karangan Abu Bakar Baasyir bukan hanya polisi yang menjadi sasaran, tetapi lawyer, jaksa, hakim.  Itulah sebabnya sidang perkara terorisme dengan jaksa Silalahi di poso dan lainnya dilaksanakan di Jakarta dengan alasan keamanan, karena Jaksa dan Hakim diteror setiap mau melaksakanan sidang.

Beberapa hal yang menjadi kesimpulan dari peristiwa penembakan Polisi:
1) Teror yang terjadi kepada polisi ini adalah teror terhadap Negara, bukan hanya kepada polisi saja, sehingga menjadi tugas dan tanggung jawab bersama dalam penanggulangannya.
2) Detasemen Khusus 88 dibentuk karena ada terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dibentuk karena ada peristiwa terorisme. Densus 88 menangkap pelaku terorisme untuk mencegah agar tidak terjadi korban masyarakat atas aksi terorisme. Pemikiran ini sering dibalik dan dipelintir sebagian kelompok yang menginginkan dibubarkannya Densus 88 seolah olah tugas Densus memusuhi agama tertentu. Padahal hanya merasa kepentingannya terancam.
3) Penangkapan yang dilakukan polisi terhadap pelaku terorisme tidak mungkin dilakukan secara senyap karena harus ada tahapan melalui SOP yang harus dilalui, sehingga dalam melakukan tahapan tahapan tersebut tidak mungkin dihindari terlihat oleh masyarakat.
4) Anggota Polri yang meninggal akibat serangan teroris adalah Pahlawan.

*Pointers dari penjelasan Direktur Penindakan BNPT*

6 Komentar

Filed under Polisi, polri, teroris

Tambahan WNI yang masuk dalam daftar teroris

Setelah tulisan saya di WNI yang masuk daftar teroris PBB  ternyata beberapa saat kemudian ada tambahan dari komite 1267 dengan mendambahkan 3 orang WNI dan 1 organisasi yang masuk dalam daftar Teroris Dewan Keamanan PBB (Al Qaeda sanction list),  mereka itu adalah :

1) Mohammad Achwan, tempat/tanggal lahir: Tulungagung 4 Mei 1946, yang bersangkutan adalah Amir dari JAT (Jamaah Anshorut Tauhid), menurut catatan komite 1267 aktif terlibat dalam banyak kegiatan pelatihan dan pencarian dana untuk kegiatan teroris;

2) Son Hadi Bin Mujahir, tempat/tanggal lahir: Pasuruan 12 Mei 1971, yang bersangkutan adalah juru bicara dari JAT Media Center (JMC). Pada bulan Mei 2011 pada saat press conference memberi statement bahwa Osama Bin Laden meninggal sebagai pahlawan, posisi sehari – harinya adalah sebagai sekertaris JAT wilayah Jawa Timur;


3) Abdul Roshid Ridho Ba’asyir, putra dari Abu Bakar Ba’asyir, yang bersangkutan terlibat aktif dalam sayap militer JAT, laskar 99. Sebagai pimpinan pondok pesantren ia merekrut para muridnya untuk menjadi anggota JAT.

Organisasi yang dimasukkan dalam Al Qaida Sanction List adalah :

Jemaah Anshorut Tauhid (JAT), Kelompok ini bertanggung – jawab atas serangkaian aksi terorisme di Indonesia, Pemimpin dan pendiri kelompok ini adalah Abu Bakar Ba’asyir yang telah terlebih dahulu masuk dalam Al Qaida Sanction List. Kegiatan teror yang dilakukan oleh anggota JAT adalah aksi bom bunuh diri di Cirebon dan Solo, perampokan bank BII di Medan dan mendirikan kamp pelatihan teroris di Janto Aceh Utara.

*Seluruh data didapat dari website Dewan Keamanan PBB tentang resolusi 1267 (Al Qaeda Sanction List)

1 Komentar

Filed under PBB, teroris

WNI yang masuk daftar teroris PBB

Peristiwa 9/11 menimbulkan perubahan secara radikal konstelasi perpolitikan dunia, sikap yang sangat overprotected dan bahkan hingga paranoid negara – negara barat khususnya Amerika Serikat memjadikan tidak nyamannya free of movement bagi masyarakat Indonesia, ditandai dengan diterbitkannya Al Qaida Sanction List yang memuat daftar orang yang “dicekal” oleh Dewan Keamanan PBB yang tentunya melalui Amerika Serikat, bisa dibayangkan orang – orang yang namanya “mirip” dengan orang yang tercantum dalam list ini, tentunya akan susah sekali apabila membuat visa untuk bepergian ke luar negeri, karena data list ini dikirim ke seluruh dunia.

Sikap Paranoid Amerika serikat

Sikap Paranoid Amerika serikat


List ini adalah produk Dewan Keamanan PBB melalui resolusi No.1267 tahun 1999 dan diperbaharui dengan resolusi No. 1989 tahun 2011, telah membuat suatu daftar bagi perorangan dan organisasi yang terkait dengan jaringan Al-Qaida yang disebut Al Qaida Sanction List. List ini direview setiap kwartal dan bisa di delisting apabila personal maupun organisasi tersebut sudah tidak ada hubungan dengan AL Qaida, namun pada kenyataannya selama ini tidak pernah ada yang keluar dari list ini kecuali individu tersebut meninggal dunia.

Pihak yang berhak memasukkan atau mengeluarkan nama atau organisasi kedalam Al Qaida Sanction List adalah sebuah komite yang anggotanya adalah perwakilan dari 20 (dua puluh) negara anggota Dewan Keamanan PBB. Komite ini disebut juga sebagai komite 1267, mereka didukung oleh Analytical Support and Sanction Monitoring Team yang secara tahunan memberikan laporannya.

Sesuai data hingga saat ini terdapat 254 (dua ratus lima puluh empat) individu dan 84 (delapan puluh empat) organisasi yang termasuk dalam Al Qaida Sanction List, dan diantaranya terdapat 14 (empat belas) WNI yaitu:
1) Mohammad Iqbal Abdurrahman;
2) Abdullah Ansori;
3) Abu Bakar Ba’asyir;
4) Abu Rahim Ba’asyir (Putra dari ABB);
5) Agus Dwikarna;
6) Gun Gun Rusman Gunawan;
7) Nurjaman Riduan Isamudin (Hambali);
8) Aris Munandar;
9) Umar Patek;
10) Taufik Riki;
11) Abu Rusdan;
12) Parlindungan Siregar;
13) Yassin Sywal;
14) Zulkarnaen.

dan 2 (dua) organisasi, yaitu:
1) Yayasan Al Manahil Indonesia;
2) International Islamic Relief Organization (IIRO) Indonesian Branch.

Berdasarkan Resolusi 1267 untuk individu dan organisasi yang masuk dalam Al Qaida Sanction List diberlakukan hal – hal sebagai berikut:
1) pembekuan serta merta terhadap dana dan aset keuangan lainnya atau sumber ekonomis dari individu dan organisasi yang masuk dalam daftar (Freeze asset without delay/pembekuan asset serta merta);
2) larangan bepergian, terutama ke negara lain (Travel ban);
3) mencegah penyediaan, penjualan dan transfer terhadap senjata maupun material terkait dan bantuan atau pelatihan aktivitas militer (Arms embargo).

Menurut saya pribadi sikap yang harus diambil pemerintah Indonesia adalah sebagai berikut:

- Pada prinsipnya adalah kewajiban moral dari Pemerintah RI untuk melindungi Warga Negara Indonesia;
- Sesuai resolusi 1267 seseorang yang masuk Al Qaida Sanction List harus diberitahu secara resmi. Sampai saat ini belum ada aturan siapa yang mendapat tugas tersebut, pihak Kemenlu mengusulkan Polri dan hal ini akan dibahas kemudian hari;
- Pemberlakuan Freezing asset, Travel ban dan Arms embargo terhadap individu atau entitas yang masuk Al Qaida Sanction List belum bisa dilakukan karena belum ada payung hukum yang mengaturnya di Indonesia;
- Pemerintah Indonesia harus memberi data yang akurat kepada komite 1267 khususnya terhadap nama – nama yang masuk Al Qaida Sanction List, hal ini untuk menghindari orang yang mempunyai nama yang sama mendapat kesulitan apabila akan bepergian ke negara lain.

1 Komentar

Filed under PBB, teroris

The Next Generation of Terrorist

Setelah beberapa kejadian teror belakangan ini, yaitu peristiwa bom buku dan bom di Mesjid Polresta Cirebon, memang kedua peristiwa ini tidak berkaitan karena berbeda kelompok. Bom buku di buat oleh kelompok Pepi Fernando dan Bom Mesjid oleh kelompok Sigit Qurdowi (telah tewas dalam penggerebekan densus 88 di Solo), berdasarkan pendalaman jaringan kelompok Sigit Qurdowi adalah pemain lama karena merupakan DPO peristiwa bom Gereja beberapa tahun yang lalu, yang menarik adalah kelompok Pepi Fernando yang merupakan generasi baru yang mandiri tidak ada hubungan dengan kelompok – kelompok teroris yang pernah ada, mereka adalah generasi ketiga dari kelompok teroris yang ada di Indonesia.

Al Qaeda,  anak muda

Al Qaeda, anak muda

Mengenai teroris ini saya mengutip tulisan Tito Karnavian, Deputi Kepala Desk Antiteror BNPT di Majalah Tempo 2 Mei , Ia menggolongkan kelompok teroris ini menjadi 3 generasi :

1) Generasi pertama, adalah kelompok inti Al-Qaidah. Misalnya Mohammad Atef dan kawan-kawan, yang bertanggung jawab atas penyerangan World Trade Center, Amerika Serikat, 11 September 2001. Di Indonesia mereka adalah anggota Al-Jamaah al-Islamiyah lulusan pelatihan paramiliter di Afganistan dan kamp militer di Filipina Selatan. Serangan bom Bali pada 2002 dan bom Mega Kuningan, Jakarta, pada 2009 oleh Noor Din. M. Top serta Urwah cs dilakukan oleh generasi ini.

2) Generasi kedua, adalah mereka yang pernah dilatih kelompok inti Al-Qaidah. Serangan teror bom di Bali pada 12 Oktober 2002 oleh Imam Samudra dan kawan-kawan, serangan bom di Metro Manila akhir 2000 oleh Faturrahman al-Ghozi cs, serta serangan bom kereta di Spanyol pada 11 Maret 2004 merupakan sebagian aksi generasi ini, di Indonesia mereka adalah yang dilatih oleh para lulusan Afganistan dan Filipina Selatan. Generasi ini diwakili Suryo dan kawan-kawan, yang merampok kantor Bank CIMB di Medan. Sebelum perampokan, Suryo mengikuti latihan paramiliter di Aceh pada awal 2010 dengan instruktur di antaranya Mustakim dan Enceng Kurnia, keduanya lulusan pelatihan di Filipina Selatan. Rencana pengeboman beberapa kantor kedutaan dan markas kepolisian oleh kelompok Shoghir-ditangkap di Klaten, Jawa Tengah, pertengahan 2010-adalah contoh lain dari keompok generasi kedua.

3) Generasi Ketiga, adalah mereka tidak pernah dilatih oleh generasi pertama dan kedua. Mereka sedikit bersentuhan dengan jaringan Al-Qaidah atau afiliasinya dan aktif dalam kegiatan keagamaan di sel sendiri. Pemikiran radikal mereka berkembang. Mereka memperoleh kemampuan kemiliteran secara otodidaktik, termasuk dalam membuat bom serta merencanakan dan melakukan serangan. Mereka tidak pernah berlatih di Afganistan dan Filipina Selatan serta tak pernah dilatih alumni pelatihan dua tempat itu. Generasi ketiga hanya terhubung sedikit-atau bahkan tidak terhubung secara fisik-dengan jaringan struktur kelompok radikal. Kelompok Pepi Fernando disinyalir merupakan sel yang lepas dari struktur jaringan dan tidak memiliki “chain of command” dengan gerakan lama.

Saya mempelajari beberapa orang teroris yang menjalankan aksinya dengan mandiri tanpa terkait dengan kelompok teror yang ada, inilah kisah mereka:

Pelaku bom London Mohammad Sidiq Khan (30 tahun) dan Shehzad Tanweer (20 tahun) mereka adalah simpatisan berat perjuangan dari Al Qaeda, mereka adalah generasi ketiga orang pakistan yang hidup di Inggris, seperti imigran Pakistan lainnya mereka merasakan kehidupan yang keras sebagai golongan minoritas, banyak hak – hak mereka yang tidak terakomodir, kehidupan mereka semakin teralieniasi dan terpinggirkan, dan mereka sangat takjub dengan keberhasilan “Al Qaeda” melakukan serangan ke jantung Amerika dalam peristiwa 9/11 suatu simbol kemenangan “Islam” atas dunia barat, mereka lalu mempunyai “ide” untuk melakukan “hal yang sama” di Inggris, mereka ingin “menghukum” Inggris karena keterlibatannya dalam serangan ke Irak dan Afganistan yang bagi mereka adalah serangan terhadap “Islam”. mulailah mereka mencari jalan untuk melakukan aksinya, mereka bergabung dalam Forum di Internet bagi Islam Radical dan berhasil menemukan jalan, mereka melalui internet bisa berhubungan dengan kelompok radikal di Pakistan, lalu mereka berangkat ke Pakistan, diajari meracik bom, dan bagaimana melakukan aksi “bom bunuh diri”, mereka akhirnya bertemu dengan utama tokoh Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri. dan mendapatkatkan support penuh dan mereka dibuat video kesaksian sebelum melakukan bom bunuh diri, kemudian pulanglah mereka ke Inggris untuk merncanakan aksinya, mereka lalu mengajak 2 orang lagi Germaine Lindsay (19 tahun) dan Hasib Hussain (18 tahun), dan mereka berhasil dalam melakukan aksinya :
- Sidique Mohammad Khan (keturunan Pakistan), meledakkan bom pada jam 8:50 pada 7 juli 2005 (peristiwa 7/7) dalam kereta bawah tanah dalam perjalanan antara Edgware Road menuju Paddington. Ia tinggal di Beeston, Leeds bersama istri dan anak muda, di mana ia bekerja sebagai guru mengajar di sekolah dasar. Ledakan Nya menewaskan 7 orang, termasuk dirinya.
- Shehzad Tanweer (keturunan pakistan) meledakkan bom pada jam 8:50 pada 7 juli 2005, dalam perjalanan antara Liverpool Street dan Aldgate. Ia tinggal di Leeds dengan ibunya dan ayah bekerja di toko ikan, ledakannya menewaskan 8 orang, termasuk dirinya.
- Germaine Lindsay (kelahiran Jamaika) meledakkan bom perjalanan di antara King’s Cross St Pancras dan Russell Square , jam 8:50 pada 7 Juli 2005,  Ia tinggal di Aylesbury , Buckinghamshire dengan istrinya yang sedang hamil dan anak muda. Nya ledakan menewaskan 27 orang, termasuk dirinya.
- Hasib Hussain (keturunan Pakistan) meledakkan bom di bus tingkat di daerah Tavistock Square pada jam 09:47 pada 7 juli 2005, Ia tinggal di Leeds dengan saudaranya dan kakak iparnya, ledakan menewaskan 14 orang termasuk dirinya.

Demikianlah kisah “heroik” dari pelaku bom London yang mengguncangkan itu, bisa dibayangkan bahwa mereka hanya beberapa orang yang “simpati” terhadap perjuangan “Al Qaeda” , mereka berusaha mencari sendiri cara untuk melaksanakan aksinya, merancangnya, dan mengeksekusi (diri) nya sendiri.

Kesimpulannya yang perlu diwaspadai adalah paham dan ideologi “jihad” yang ditularkan melalui aksi – aksi fenomenal Al Qaeda ternyata memberi inspirasi dari para kaum muda untuk melakukan aksi yang sama, contoh yang paling dekat di Indonesia ada Pepi Fernando dan kawan – kawan, mereka segolongan pemuda yang ingin melakukan Jihad terinspirasi oleh perjuangan Al Qaeda diseluruh dunia, menurut saya kelompok – kelompok simpatisan ini masih akan banyak terbentuk selama pemerintah belum berhasil untuk menetralisasi pemahaman radikal dan mengisolasi pemahaman itu agar tidak berkembang. Upaya ini dapat dikemas dengan program pencerahan atau deradikalisasi dan kontraradikalisasi, bukan hanya “tembak ditempat” semata terhadap pelaku teror.

1 Komentar

Filed under teroris

Menjadikan Seseorang Menjadi Teroris (Proses Radikalisasi)

Kita mendengar dalam berita heboh beberapa waktu yang lalu bagaimana beberapa orang hilang akibat di “cuci otak” , inilah cara kelompok NII merekrut anggotanya. Sebagai sebuah organisasi tentunya kelompok radikal ataupun kelompok teroris membutuhkan kader untuk melaksanakan berbagai kegiatan mereka, demi mencapai tujuan organisasi.

Radikal

Radikal

Kita melihat bagaimana seseorang yang berpendidikan diputar balikkan pengetahuannya sehingga mendukung suatu paham yang sangat berbeda dengan jalan pikiran seseorang, dan bahkan bisa digunakan sebagai alat – alat untuk melakukan teror. Hebatnya sang perekrut tahu sekali bagaimana tipe orang yang akan direkrutnya, apakah dia sebagai “pencari dana”, “perekrut” atau bahkan “sayap militer” dari kelompoknya. Mereka menggunakan ilmu phsychologie untuk melaksanakan perekrutannya, dan didahului dengan menanamkan ideologi yang “radikal” kepadanya, metode ini dinamakan Radikalisasi. Kelompok seperti ini giat melakukan Radikalisasi di masyarakat untuk mencari kader anggota atau mencari dukungan masyarakat

Saya melihat referensi yang ditulis oleh DR. Petrus Golose dalam bukunya Deradikalisasi Terorisme, Proses terjadinya Radikalisasi yaitu proses penyebaran dan penyerapan pemikiran–pemikiran kelompok radikal termasuk kelompok teroris. Proses radikalisasi ditandai dengan adanya penyebaran pemikiran radikal di masyarakat, sekaligus perekrutan anggota oleh kelompok radikal ataupun kelompok teroris.

Ada beberapa tahapan dari seorang individu dalam proses Radikalisasi :

a) Tahap Perekrutan
Pada tahap ini sebuh organisasi teroris melakukan perekrutan terhadap anggotanya, perekrutan ini berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh organisasi tersebut seperti : umur, agama, tingkat pendidikan, perekonomian, status sosial dan kehidupan sehari – hari dalam masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya yang terjadi di Indonesia target Radikalisasi yang terjadi di Indonesia mempunyai keragaman sebagai berikut:
1. Mayoritas laki – laki.
2. Usia berkisar antara 16 sampai 35 tahun.
3. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang Islam.
4. Tingkat ekonomi beragam ada yang dari tidak mampu maupun dari keluarga mampu.
5. Tingkat pendidikan rata – rata setingkat SMA atau MAN atau pondok pesantren dan hanya sedikit yang mempunyai
tingkat pendidikan tinggi.

b) Tahap pengindentifikasian diri.
Tahap ini merupakan tahapan terpenting dalam Radikalisasi, yang bertujuan untuk membuat target memiliki krisis identitas hingga berada didalam kondisi yang tidak stabil dan kehilangan identitas diri, caranya mereka dibuat selalu tidak puas akan kondisi ekonomi, sosial dan politik selain itu target dibuat agar tidak kritis.

c) Tahap Indoktrinasi.
Tahap ini target diberikan paham atau ideologi teroris secara intensif, tujuan utama dari tahap ini adalah membuat target menjadi percaya dan yakin sepenuhnya, bahwa ajaran yang ditanamkan kepada mereka merupakan kebenaran mutlak, dan tidak perlu diibantah atau dikritisi lagi.

d) Tahap pengertian Jihad yang disesatkan.
Dalam tahap ini target sudah termasuk kedalam kelompok kecil (sel) dari organisasi radikal atau teroris, akan menerima kewajiban secara pribadi untuk ikut serta dalam Jihad. Tahap ini terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu:
1. Komitmen untuk melakukan teror dengan cara Jihad
2. Pesiapan dan pelatihan fisik.
3. Pelatihan mental.
4. Merencanakan serangan teror.

Proses terjadinya Radikalisasi

Proses terjadinya Radikalisasi

Demikian sekilas proses Radikalisasi yang dilakukan kelompok teroris dan kelompok radikal lainnya, sekarang pertanyaannya mampukah anda mempunyai pertahanan diri yang baik sehingga tidak terjebak dalam ideologi radikal ?

4 Komentar

Filed under Kriminal, teroris

Gerakan Radikal dalam Lintasan Sejarah Indonesia

Radikalisme dalam Islam telah mengakar lama di dalam masyarakat Indonesia, bahkan pada masa kemerdekaan. Pada masa itu kaum radikal kerap bersilangan pendapat dengan golongan lain untuk memperjuangkan kemerdekaan dan bahkan berbeda visi dengan kaum nasionalis.  Berikut ini sekilas mengenai gerakan Radikal di Indonesia yang berhasil saya himpun:

SM kartosuwirjo

SM kartosuwirjo

1. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat
- Pendiri Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo
- Tujuan menegakkan syariat islam secara formal dan mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).
- Pemicunya adalah ketika pemerintah Indonesia menyetujui perjanjian Renville. Konsekuensi yang timbul dari perjanjian Renville yaitu pemerintah RI dan pasukan Divisi Siliwangi harus meninggalkan wailayah Jawa Barat. Namun Kartosuwiryo bersama kelompok Hizbullah, Sabilillah dan Masyumi lebih memilih untuk bertahan di Jawa Barat. Mereka berupaya melakuan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Perjuangan ini yang menjadi cikal bakal lahirnya Tentara Islam Indonesia (TII)
- Ketika Perjanjian Renville berakhir pada bulan Januari 1948, pasukan Divisi Siliwangi kembali ke Jawa Barat. Namun keberadaan pasukan ini dikecam oleh Kartosuwiryo cs. Akibatnya timbul koflik antara pasukan Siliwangi dengan kubu Kartosuwiryo.

Kahar Muzakar

Kahar Muzakar

2. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Sulawesi Selatan
- Tokoh utama Abdul Kahar Muzakar
- Menerima tawaran Kartosuwiryo untuk menjabat Panglima Divisi IV TII wilayah Sulawesi yang kemudian diberi nama Divisi Hasanuddin
- Tercatat telah melakukan aksi penyerangan terhadap TNI, perusakan, penculikan terhadap dokter dan para pendeta Kristen.
- Pada 2 Februari 1965 , Kahar Muzakar tewas tertembak dalam Operasi Tumpas dan Operasi Kilat yang dilancarkan oleh TNI.

Daud beureuh

Daud beureuh

3. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Aceh
- Daud Beureueh menjadi tokoh utama.
- Berhasil menguasai hampir sebagian besar wilayah Aceh, hanya kota-kota besar seperti Banda Aceh (Kutaraja), Sigli, Langsa di utara dan Meulaboh di daerah selatan yang tetap dalam penguasaan RI.
- Dilatarbelakangi oleh perasaan kecewa Daud Beureueh terhadap pemerintahan Soekarno. Kekecewaan itu bermula ketika Soekarno tidak menepati janjinya untuk menerapkan syariat islam di wilayah Aceh setelah perang kemerdekaan usai.
- Pemberontakan di Aceh dapat selesai setelah pada tanggal 26 Mei 1959 Aceh diberikan status Daerah Istimewa dan otonomi luas terutama dibidang agama, adat dan pendidikan.
- Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-Undang No.18 Tahun 1965. Kebijakan inilah yang membuat rakyat Aceh kembali kecewa.

Hasan Tiro

Hasan Tiro

4. Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
- Teuku Muhammad Di Tiro atau Hasan Tiro bersama pengikutnya mendeklarasikan kemerdekaan GAM.
- Pembentukan GAM bertujuan untuk memisahkan diri dari RI dan membentuk pemerintahan sendiri dan memperbaiki seluruh aspek kehidupan baik sosial, politik dan ekonomi.
- Konfik yang tidak selesai menjadi alas n dibentuknya Daerah Operasi Militer (DOM). Berakhir Agustus 1998.
- Selama berlangsung proses perdamaian antara GAM dengan pemerintah RI, berbagai aksi serangan teror terus dilancarkan oleh GAM yang sasarannya tidak hanya meliputi wilayah Aceh dan sekitarnya tetapi juga sampai Jakarta.
- Perundingan keempat pada tanggal 26-31 Mei 2005 pada akhirnya membuahkan kesepakatan damai. Naskah perjanjian perdamaian di beri judul “Memorandum of Understanding between The Government of Indonesia and Free Aceh Movement”.

Abdullah Sungkar

Abdullah Sungkar

5. Al-Jama’ah Al-Islamiyah
- Kematian para tokoh DI/TII menimbulkan perpecahan di antara anggota yang disebabkan perselisihan antara jama’ah Fillah yang dipimpin Djaja Sujadi dan jama’ah Sabilillah yang dipimpin Adah Djaelani Tirtapradja. Keduanya sama-sama Anggota Komandan Tertinggi (AKT) TII yang lansung di lantik Kartosuwiryo.
- Akibat dari perselisihan dan perebutan kekuasaan tersebut akhirnya Djaja Sujadi dibunuh oleh Adah Djaelani Tirtapradja.
- Tertangkapnya Adah Djaelani Tirtapradja tahun 1980 memicu perpecahan di tubuh jama’ah Sabilillah dan DI/TII kembali terurai dalam kelompok-kelompok kecil yang saling bersaing dan tidak saling mengakui keberadaan kelompok lain.
- Salah satu kelompok yang cukup kuat dan berpengaruh di Jawa Tengah adalah Kelompok Abdullah Sungkar yang dikelola besama Abu Bakar Ba’asyir.
- Abdullah Sungkar mendirikan pondok pesantren di Desa Ngruki Kabupaten Sukoharjo dan diberi nama Al-Mukmin. Berbagai kegiatan dan ajaran agama dijalankan untuk memperluas ajaran dan pengaruh NII.
- Karena muatan dakwah yang dibawakan keduanya bertentangan dengan pemerintah RI maka pada tahun 1983 keduanya ditangkap dan dipidana penjara atas perbuatan subversif dengan vonis sembilan tahun. Pada tanggal 11 Februari 1985 keduanya melarikan diri ke Malaysia saat perkara mereka masih dalam proses kasasi.
- Di Malaysia mereka mendirikan madrasah yang bernama Lukmanul Hakim yang dijadikan tempat melakukan persiapan dan memberangkatkan para pemuda dari Indonesia, Malaysia dan Singapura untuk melakukan latihan perang dan jihad di Afghanistan. Para pemuda tersebut dilatih di Military Academy Mujahidin Afghanistan di Sadaa, Pakistan.
- Pada tahun 1993, Abdullah Sungkar menyatakan diri keluar dari NII dan mendeklarasikan pendirian Al-Jama’ah Al Islamiyah (JI).

8 Komentar

Filed under Blogger, hukum, Publik, teroris

Lone Wolf

Lone Wolf

Lone Wolf

Lone Wolf (serigala tunggal) adalah istilah suatu kejahatan kekerasan (terorisme) dengan memberi dukungan terhadap suatu ideologi, gerakan dan kelompok tertentu,  namun pelakunya adalah pejuang tunggal yang sama sekali terlepas dari organisasi atau struktur kelompok tersebut, bisa dikatakan pejuang tunggal ini hanya merupakan simpatisan individual yang melakukan aksinya sendiri atas inisiatif sendiri tanpa komando kelompok tersebut.  Ternyata kejahatan model begini sudah banyak terjadi di dunia, bahkan di indonesia. Perbuatan lone wolf ini banyak menimbulkan kengerian dan korban jiwa yang sangat banyak. Saya mencari data tentang sejarah, latar belakang  dan pelaku kejahatan yang “lone wolfer” di seluruh dunia,  dan inilah hasilnya :

Kenapa disebut Lone Wolf ?
Istilah ini dipopulerkan oleh FBI yang pada tahun 90′an membuat suatu operasi “Lone Wolf” untuk menangkap Alex Curtis dan Tom Metzger pelopor “white supremacists” atau supermasi kulit putih, bagi Alex Curtis dan Tom Metgzer mereka melakukan kampanye kepada sesama kaum rasis di Amerika untuk tergerak melakukan tindakannya sendiri – sendiri tanpa komando untuk melakukan pembunuhan, penggunaan senjata biologis untuk menghancurkan ras lain, hal ini untuk mencegah penangkapan terhadap anggota lain yang mudah dilakukan kalau itu berupa kelompok (tentunya tercatat). Alex Curtis mempopulerkan 5 kata apabila seorang lone wolfers tertangkap yaitu : “I have nothing to say”. Tom Megzer juga mengembangkan perjuangan yang berdiri sendiri, tanpa pemimpin dengan sel individu yang tidak ada hubungannya dengan sebuah organisasi.

Pada kenyataannya memang perjuangan dengan “Lone Wolf” sulit sekali di deteksi, karena pelaku adalah tunggal dan tidak pernah punya kontak pribadi dengan kelompok yang lebih besar sehingga sulit melakukan kegiatan intelejen terhadap pelaku teroris tunggal dibanding kelompok teroris konvensional.

Para Lone Wolfer

timothy mcveigh

timothy mcveigh

1. Timothy McVeigh, pelaku pemboman Kota Oklahoma menggunakan bom truk,

akibat perbuatan "lone wolfer" timothy mcveigh

yang menewaskan 168 orang dan ratusan orang lainnya terluka. ia sering disebut sebagai contoh klasik dari “Lone Wolfer”. Meskipun ada tersangka lain bernama Terry Nichols dihukum karena bersekongkol dengan dia, ia bekerja sama karena dibawah tekanan. McVeigh mengancam Nichols akan membunuh dirinya atau keluarganya jika ia tidak bekerja sama dalam membantunya mencampur pupuk dan bahan lainnya untuk dibuat bom. McVeigh dinyatakan bersalah dan dihukum mati pada tanggal 19 April 1995.

Theodore Kaczynski

Theodore Kaczynski

2. Theodore Kaczynski , yang dikenal sebagai “Unabomber “. Ia antara tahun 1978 hingga 1995 terlibat dalam pengiriman “paket bom” ke banyak orang, menewaskan tiga orang dan melukai 23 lainnya. Ia adalah seorang anti kemapanan yang mengancam untuk melanjutkan pemboman kecuali manifesto anti-industrinya diterbitkan oleh New York Times disetujui oleh pemerintah AS. Ia membuat bomnya pada sebuah gubuk ditengah hutan yang tanpa dialiri listrik yang sesuai dengan “anti kemapanannya”, sebenarnya Kaczynski adalah seorang Jenius lulusan Universitas Havard, ia divonis seumur hidup oleh pengadilan AS.

Ahmad bin Abu Ali

3. Ahmad bin Abu Ali, seorang tunawisma pelaku bom sepeda yang nyaris menewaskan 2 anggota polantas di pos Kalimalang Jakarta.

Sepeda yang digunakan Ahmad Bin Abu Ali

Sepeda yang digunakan Ahmad Bin Abu Ali

Ahmad bersimpati terhadap perjuangan islam di seluruh dunia dari media yang dilihat dan dibacanya, ia membuat bom sederhana dari bahan dasar petasan dan paku yang ditaruh di sepedanya, ia berniat membawa bom dan ditaruh pada sepedanya dan akan meledakkannya dekat anggota polisi yang bertugas. Namun sayangnya ledakan itu kurang tepat sehingga mengenai dirinya sendiri, ledakan itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB pada tanggal 30 Sept 2009 dan terjadi di belakang AKP Heri yang sedang mengatur lalu lintas.

Surat Jihad Ahmad

Surat Jihad Ahmad

Dia menerita luka parah dan patah tulang dan meninggal beberapa jam kemudian, dari hasil penyelidikan polisi ia tidak terkait dengan kelompok teroris manapun, ia adalah seorang “lone Wolfer” ….. :)

Setelah menyimaki para pelaku terorisme yang “Lone wolf” diatas tentunya ada satu pemikiran, betapa berbahaya nya mereka… mereka adalah seorang pribadi yang tidak bisa dilacak, tenggelam dalam obsesi pribadinya dan penuh dendam…. bagaimana cara mengatasinya ? mmmmhhh banyak – banyak berdoa saja,  semoga tidak banyak orang seperti model begini….

4 Komentar

Filed under Blogger, hukum, Polisi, polri, teroris

Perjuangan Atau Terorisme ?

Saya pernah berbicara dengan seorang Akademisi, ia mengatakan bahwa tahanan pelaku terorisme tidak boleh disamakan dengan pelaku kriminal biasa, mereka adalah tahanan politik ….. Kata – kata teroris adalah suatu pembusukan daripada nilai perjuangan mereka…. mereka berjuang bukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, mereka berjuang untuk suatu tujuan politik … Setelah saya renungi, sepertinya memang benar juga, memang pelaku – pelaku teroris dimanapun juga di dunia mereka berjuang untuk sebuah tujuan Politik seperti:

Macan Tamil di Srilangka

Macan Tamil di Srilangka

Macan Tamil ( Tiger Eelam) di Srilangka, mereka termasuk daftar organisasi teroris dari PBB dan terdaftar sebagai organisasi teroris di 32 negara,  bermaksud memisahkan diri dengan saudara – saudara mereka setanah air yang mayoritas dari etnis Sinhala dan beragama Budha, sedangkan mereka minoritas Hindu dari etnis Tamil… pada intinya mereka memperjuangkan hak politik mereka (melalui organisasi ini) untuk bisa berdiri sama tinggi dengan rekan sebangsanya dari etnis Sinhala,  Macan Tamil sudah melakukan perjuangan bersenjata dan melakukan aksi – aksi teror untuk melemahkan moral pemerintah pusat,  cara – cara teror adalah cara yang dipandang efektif untuk melemahkan moral lawan, namun ….. dengan cara itulah mereka di cap sebagai kelompok teroris, padahal jelas perjuangan mereka adalah perjuangan politis …. dan untuk mencapai tujuan mereka punya hak juga untuk menempuh cara yang mereka anggap benar, taktik yang banyak mereka gunakan: 1. Bom bunuh diri menggunakan anggota organisasi ini yang telah di doktrin terdiri dari anak anak dan wanita 2. Pembunuhan tokoh (Perdana menteri India Rajiv Gandhi dan Presiden Srilangka Ranasinghe Premadasa) 3. Penyerangan terhadap target sipil (pemboman stasion kereta, dan pembunuhan massal). Macan Tamil mengalami kekalahan besar tahun lalu setelah pemimpin Kharismatik mereka Velupillai Prabhakaran terbunuh dalam suatu serangan pemerintah Srilangka di Jaffna.

Hamas di Palestina

Hamas di Palestina

Hamas (Ḥarakat al-Muqāwamat al-Islāmiyyah) Organisasi ini adalah organisasi yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh PBB dan banyak negara lainnya, cita cita organisasi ini adalah mendirikan negara Palestina di seluruh tanah palestina , tanpa negara Israel lagi ada didalamnya. Persis seperti pada sebelum tahun 1967 pada saat negara Israel belum ada di peta manapun di dunia. Menurut saya pribadi tujuan organisasi politik ini adalah benar, karena pada hatekatnya organisasi politik manapun mempunyai tujuan atau cita – cita tertentu, dan mereka berhak menempuh cara apapun untuk mencapai tujuan tersebut.  Cara – cara perjuangan mereka yang disebut Intifada menggunakan taktik gerilya, penggunaan bom bunuh diri dan menggunakan roket untuk melawan Israel, tetap dipandang sebagai aksi teroris. Namun sampai sekarang tujuan kelompok ini belum mendapat kemajuan karena negara Israel masih berdiri dengan kokoh, dan lucunya mereka masih mendapat rifal utama dari bangsa sendiri yaitu kelompok Fattah (PLO) yang bersifat lebih moderat dan tetap mengakui negara Israel.

From Zero to Hero (perjuangan yang berhasil dan tidak disebut teroris lagi), ini adalah contoh suatu kelompok yang bertujuan politis yang pernah dicap sebagai kelompok teroris, namun seiring dengan berhasilnya perjuangan mereka cap itu sirna dengan sendirinya, seperti contohnya :

Maoist di Nepal

Maoist di Nepal

Maoist di Nepal (The Unified Communist Party of Nepal), kelompok ini dalam perjuangannya pernah tercatat sebagai kelompok teroris oleh PBB, beberapa tokoh utamanya pernah sebagai buronan “Red Notice” oleh interpol, tujuan utama kelompok politik ini adalah mengubah bentuk negara yang bersistem Kerajaan menjadi sistem Komunis, dan perjuangan mereka telah berhasil, sehingga mau tidak mau julukan sebagai “teroris” ditinggalkan, dan aparat keamanan yang dulunya mengejar mereka terpaksa mengakui eksistensi dan berada dibawah kepemimpinan kelompok yang dulu mereka lawan. Pada masa perjuangan mereka antara tahun 1994 – 2002 banyak sekali aksi teror yang dilakukan oleh kelompok Maoist terhadap pemerintah seperti aksi pemboman, penculikan dan pembunuhan, jadi aksi teror adalah salah satu cara perjuangan bukan ?

Sedikit kesimpulan saya mengenai hal diatas :

1. Sebenarnya kelompok teroris yang ada sekarang ini, dari paham politik manapun, semuanya untuk memperjuangkan suatu tujuan politik tertentu, tidak ada kelompok teroris yang bertujuan pribadi dan keuntungan semata, nah kalau kelompok ini bisa disebut kelompok Gangster atau Mafia.

2. Jadi kalau mau jujur kelompok teroris di Indonesia seperti JI, NII atau yang terbaru JAT adalah suatu kelompok yang memperjuangkan suatu tujuan Politik yaitu menjadikan Indonesia sebagai suatu Negara yang berdasarkan Syariat Islam. Dan kalau mau jujur pula UU Anti Terorisme adalah suatu Kriminalisasi dari upaya perjuangan politik yang dilakukan kelompok ini. tapi bagi pemerintah UU ini perlu diadakan untuk mencegah berkembangnya lebih besar kelompok ini, kalau kelompok ini terlanjur besar dan powerful pemerintah akan sangat kesulitan menghadapinya, bisa – bisa kejadian seperti kelompok Maoist di Nepal.

3. Aksi aksi Teror adalah suatu bagian dari perjuangan, jadi mohon maaf selama paham atau ideologi atau cita – cita suatu kelompok ini, melalui perorangan yang ikut didalamnya tidak di Re-edukasi atau bagi anggota kelompok radikal tidak dilakukan De-radikalisasi untuk menghilangkan paham itu, maka selama itu aksi perjuangan mereka (salah satunya) melalui aksi teror tetap akan ada, dan tidak pernah akan hilang.

4. Yang paling tidak diharapkan adalah jika kelompok politik ini menjadi “The Winner”, dari mereka yang tercap sebagai “teroris” akan menjadi Pahlawan (from Zero to Hero)….. sudah terbukti bukan ? Maka itu waspadalah, jangan biarkan kelompok ini menjadi besar dan menjadi pemenang … hehehe … :P

5 Komentar

Filed under hukum, Kriminal, PBB, teroris

Blunder Pembebasan Sandera di Manila

Menyedihkan, hanya itu ungkapan saya melihat apa yang terjadi di Manila. drama penyanderaan itu menyebabkan 8 orang turis dari Hongkong tewas, dan operasi pembebasan dari swat nya Philipina “Gatot” (gagal total), bayangkan untuk melumpuhkan seorang penyandera membawa korban 8 orang yang disandera, sungguh harga yang sangat mahal …. seperti cerita saya  sebelumnya tentang operasi pembebasan sandera atlet Israel  yang gagal di Munchen pada tahun 1974.

Rolando Mendoza

Rolando Mendoza sang pembajak

Adalah seorang perwira Polisi BSH (Barisan Sakit Hati) bernama Rolando Mendoza, yang dituduh melakukan tindakan Kriminal melakukan perampokan dan penganiayaan terhadap seorang Juru masak, kemudian akibat perbuatannya ia dipecat dengan tidak hormat dari Kepolisian, karena tidak merasa bersalah dan rasa frustrasi yang mendalam ia membajak sebuah bus yang membawa turis Hongkong yang berisi 25 orang dengan membawa sebuah senjata M 16, Tujuan penyanderaan ini adalah untuk menarik perhatian para petinggi Polisi Philiphina untuk mempekerjakan lagi sebagai Polisi.

Mari kita bahas yuk, bagaimana proses penyelamatan sandera yang gagal itu:

1. Prinsip pembebasan sandera adalah meminimalkan sesedikit mungkin korban tersandera, dengan melumpuhkan penyandera. Memang segala resiko dalam operasi pembebasan selalu saja, yang paling pasti adalah resiko para pasukan pembebas, ini adalah resiko yang harus dihadapi… jadi walaupun ada korban di pihak pasukan yang penting para sandera bisa selamat. Melihat korban dipihak tersandera yang banyak, sudah pasti ini adalah kesalahan pasukan pembebas, ataupun management operasi pembebasannya.

situati penyerangan dengan perlengkapan yang tidak lengkap

situati penyerangan dengan perlengkapan yang tidak lengkap, serta taktik yang salah

2. Kelengkapan perorangan pasukan pembebas juga harus sesuai standart, melihat gambar diatas, sudah jelas sekali perlengkapan perorangan pasukan pembebas seperti decker kaki dan tangan yang melidungi sikut dan dengkul apabila dalam posisi taktikal, dalam foto ini terlihat mereka tidak menggunakan helm pelindung yang lebih fatal lagi diantara mereka ada yang tidak menggunakan semuanya termasuk “body veist” atau baju anti peluru. Sudah jelas sekali kekurangan peralatan menyebabkan gerakan pada saat penyerbuan kurang nyaman… itu berakibat serangan tidak optimal.

3.  Taktik operasional pembebasan, wah ini yang paling menyedihkan

a. Ternyata di dalam bus terdapat sebuah TV dan bisa disaksikan oleh sang penyandera …. jadi kelihatan lah pergerakan pasukan pembebas,  salah satu faktor yang membuat ia nekad dan mulai membunuh sandera ketika Mendoza melihat di TV adik laki – lakinya dan juga istri dan anaknya di bawa ke kantor polisi… ia juga melihat di TV bahwa pemerintah philipina menolak lembaga ombudsman yang membela Mendoza tidak mengabulkan untuk mempekerjakannya kembali … apabila hal ini diketahui dari awal bisa dilakukan “jam” terhadap sinyal TV.

b. Ini yang lebih gawat, polisi baru melakukan serangan setelah korban sandera terbunuh satu persatu, rata – rata korban ditembak di kepala dengan M 16 yang dibawa Mendoza,  jadi saya mendapat kesimpulan kepolisian hanya menganggap remeh peristiwa ini, tidak mempertimbangkan bahwa Mendoza akan berbuat senekad ini….

c. Unsur pendadakan dalam suatu serangan tidak terjadi, saya melihat polisi melakukan penyerangan dengan membawa godam untuk memecahkan kaca, lucunya setelah beberapa kali memukul kaca tidak pecah – pecah…  melihat aksi ini Mendoza menembak keluar dan serangan terhenti sementara, baru melakukan penyerangan lagi setelah menyelamatkan polisi yang terluka …weleh sekali maju pantang mundur mas …. biar ada korban dari pasukan itu sudah resiko maju terus…

d. Pelatihan skenario tertentu tentang operasi pembebasan rupanya tidak dilakukan (atau jarang dilakukan), kalau pasukan swat philipina terus menerus dilatih dan di dril dengan macam – macam taktik pembebasan senjata pasti mereka sudah hapal mati siapa dan berbuat apa…. Saya mendapat foto latihan kering (belum full gear) pembebasan sandera oleh Densus 88 Polda bali dengan skenario sama persis yaitu penyanderaan di Bus.

Latihan kering skenario pembajakan bus oleh Densus 88 Polda Bali

Latihan kering skenario pembajakan bus oleh Densus 88 Polda Bali

Mudah – mudahan polisi Philiphina segera membenahi diri untuk siap menghadapi ancaman dan tantangan di masa yang akan datang … kepada korban warga Hongkong saya mengucapkan rasa duka yang mendalam …

4 Komentar

Filed under hukum, Kriminal, police, Polisi, polri, teroris

CERITA PERAMPOK SUMATRA (BAGIAN V )

Analisa kejadian perampokan Bank CIMB Medan, sangat akurat, teroganisir dan bersenjata berat …. Siapakah mereka ?

Pada hari selasa tanggal 18 Agustus 2010 Jam 12 siang terjadilah peristiwa perampokan bersenjata di Bank CIMB Cabang Aksara Medan, perampokan ini menurut saya tercatat adalah perampokan paling menghebohkan sepanjang sejarah perampokan di Indonesia…. tidak ada perampokan seberani ini selama ini sepanjang ingatan saya sebagai polisi, mereka menggunakan senjata lengkap otomatis, sangat terorganisir karena pelaku yang berjumlah 16 (enam belas) orang menggunakan motor, dan tidak segan melukai dan membunuh setiap orang yang menghalangi aksi mereka. Tercatat aksi ini menewaskan seorang anggota Polri Briptu Imanuel Simanjuntak dan Melukai 2 Orang Satpam.

Dibawah ini beberapa catatan/analisa saya :

1. Menurut catatan pribadi saya dan beberapa seri tulisan saya (Cerita Perampok Sumatra I sd IV) sebelumnya, saya berkesimpulan kelompok ini berbeda dengan kelompok perampok sumatra sebelumnya yaitu kelompok perampok Andi dan Robin, kelompok perampok ini memang melakukan perampokan tetapi tidak mengambil resiko dengan merampok bank langsung, mereka melakukan aksi terhadap para nasabah setelah pulang mengambil uang dari bank di jalan…. kalaupun ada yang masuk ke dalam bank mereka lebih dikatakan sebagai kelompok “brangkas” yang menjebol brangkas bank, yang lebih merupakan pencurian pemberatan yang dilakukan pada malam hari dengan melumpuhkan satpam yang bertugas malam hari, intinya kelompok – kelompok ini selalu menghindari konfrontasi dengan petugas keamanan….

2. Hasil yang di dapat dari perampokan uang sejumlah 400 juta rupiah , menurut saya adalah terlalu kecil untuk sebuah aksi yang spektakuler ini, bayangkan dengan kelompok perampok Andi atau Robin yang pernah merampok uang milyaran rupiah dari nasabah yang baru mengambil uang dari bank, dan merampoknya di tengah jalan. Dari hal ini saya berkesimpulan kelompok ini pada tidak menggunakan survey yang mendalam terhadap sasaran, berbeda dengan kelompok perampok Andi dan Robin yang selalu menggunakan “tukang gambar” yang kebanyakan adalah “orang dalam“, lebih jauh lagi kelompok ini bukan merupakan kelompok perampok profesional yang biasa melakukan perampokan, alasan saya: Kelompok perampok profesional sangat berhitung resiko dengan hasil yang didapat, bagi kelompok perampok profesional mereka tentunya tidak akan mengambil resiko demikian besar untuk merampok di dalam bank dan siang hari pula….

perhatikan cara memegang senjata, ini adalah cara org terlatih ..

perhatikan cara memegang senjata, ini adalah cara orang terlatih ..

3. Saya mendapat fotoshot yang menarik menampilkan seorang di depan bank menjaga orang masuk dan memegang senjata AK – 47 lipat, saya langsung mendapat kesimpulan pasti, rombongan ini adalah orang yang terlatih secara militer, posisi jari telunjuk yang lurus di depan picu (lihat foto) adalah posisi awas dan standby personil yang terbiasa menggunakan senjata panjang otomatis, dan posisi ini adalah “is a must” dalam memegang senjata yang sudah terkokang, untuk menghindari letusan yang tidak disengaja. Jadi kesimpulan saya dari cara memegang senjata, kelompok ini adalah sekumpulan orang – orang yang sudah sangat terlatih ala militer atau perang.

4. Saya nampaknya agak setuju dengan pendapat Al Khaidar pengamat teroris seperti di lansir oleh Viva News bisa jadi pelaku dari perampokan ini addalah alumni dari pelatihan Militer di Jantho Aceh, Aksi perampokan itu mereka sebut sebagai fa’i atau harta rampasan perang. Melihat cara dan metode mereka melakukan aksi dan berbeda dengan kelompok Perampok Profesional, bisa jadi pendapat itu benar…

Mari kita nantikan bersama hasil penyelidikan Kepolisian dalam mengungkap kasus heboh ini… selamat bekerja om Polisi …. :)

12 Komentar

Filed under hukum, Kriminal, police, Polisi, teroris

Teroris yang Berhasil dan Caranya ?

Teroris yang berhasil

Teroris yang berhasil

Sebenarnya teroris adalah istilah menegatifkan suatu perjuangan yang tidak berhasil, mereka adalah kaum pecundang yang tidak berhasil dalam perjuangannya, Menurut Kamus Webster, Kata terorisme berasal dari bahasa Perancis terrorisme. Penggunaan istilah tersebut digunakan pasca terjadinya revolusi, dan dimulainya “Reign Of Terror” di Perancis antara tahun 1793 – 1794, pemerintahan yang berkuasa mempraktekkan cara – cara teror dalam menerapkan kebijakannya. Hal itu mengungkapkan bahwa pengungkapan kata teror di Inggris juga diterima sebagai kebijakan yang mengintimidasi pertama kali pada tahun 1798. Penyebutan istilah tersebut mengawali pengenalan terhadap kata teror diseluruh dunia. Jelaslah bahwa kata terorisme baru dipahami dan dipopulerkan mulai tahun 1798, dan pengertian selanjutnya disebutkan terorisme mempunyai arti : “ The act of terrorizing, use force or threats to demoralize, intimidate and subjugate” atau tindakan menteror, menggunakan kekerasan atau mengancam untuk merusak moral, mengintimidasi dan menaklukkan…

Menurut Ezzat E. Fattah seorang Ahli Kriminologi mendefinisikan terorisme yaitu : “terrorism comes from terror, wich come latin ‘terre’, meaning to frighten. Organilly the word ‘terroe’ was used to designate a mode governing, and word ‘terrorism’ was empleyed to describe the sytematic use of terror, especially by governed into submission” yang artinya: Terorisme berasal dari kata teror, dalam bahasa latinnya ‘terre’ yang artinya menakut – nakuti. Sebenarnya kata ‘terre’ digunakan untuk menentukan suatu cara mengatur, dan kata ‘terrorism’ digunakan untuk menggambarkan penggunaan teror secara sistematis, terutama dengan tindakan mengatur agar menyerah. Nah  persoalannya apabila aksi – aksi teror ini berhasil mencapai tujuannya, sang teroris disebut sebagai pahlawan…. jika tidak ….. ya tetap sebagai teroris … :P

Sekarang kita melihat perjuangan yang berhasil,  berhasil melaksanakan perjuangan melawan pemerintahan yang syah, menggunakan tindakan teror, mendemorilisasi aparat pemerintah dan menaklukkan pemerintahan dan sekaligus mengganti sistemnya…. (tentunya kalau perjuangan ini tidak berhasil disebut teroris)

Contoh yang paling spektakuler ialah perjuangan revolusioner di Cuba yang dipimpin oleh Fidel Castro dan Che Guevara, mereka melakukan taktik – takltik teror melawan pemerintahan yang syah dan melakukan Revolusi mengganti sistem pemerintahan, mereka menggunakan cara teror “Hit and Run” dengan menggunakan sepasukan kecil di daerah pedesaan, seperti tertulis :

“Pukul dan lari”, walaupun cara ini menimbulkan cemoohan namun hal ini benar dilakukan: Pukul dan lari, menunggu, bersembunyi dan kemudian menyerang dengan tiba-tiba, pukul dan lari lagi, dan melakukannya terus menerus, tanpa memberikan kesempatan beristirahat kepada musuh. Secara keseluruhannya, menampakkan sikap negatif, sikap mundur, menghindari pertarungan frontal. Bagaimanapun juga, semuanya itu adalah konsisten dengan strategi umum dari perang gerilya, yang mana adalah sama dalam hal tujuan akhir dari peperangan apapun juga: menang, melenyapkan musuh. (Che Guevara, Guerrilla Warfare)

Saya sendiri mulai melihat perjuangan kelompok teroris di Indonesia sudah mulai mengarahkan perjuangannya ke perjuangan rakyat, mereka sadar benar bahwa selama ini kelompok mereka terlalu eksklusif, makanya pelatihan teroris di Jantho Aceh akan mulai melaksanakan perang Gerilya, namun ada satu yang mereka lupakan….

Perang gerilya, basis dari perjuangan rakyat untuk membebaskan dirinya, memiliki karakteristik yang bermacam-macam, segi-segi yang berbeda, bahkan sekalipun esensinya adalah tetap sama: Pembebasan. (Che Guevara, Guerrilla Warfare)

Basis Perjuangan digunakan salah sasaran, kelompok teroris ini terlalu yakin bahwa perjuangan mereka didukung oleh rakyat Aceh, ternyata tidak …. Rakyat aceh tidak bersimpati dengan perjuangan kelompok teroris ini… walaupun ada beberapa dari mereka adalah warga Aceh ternyata tidak mewakili mayoritas dari mereka…. Jadi, kelompok ini dengan mudah dibumi hanguskan, dan layu sebelum berkembang …..bahkan rakyat acehpun bahu membahu menangkap anggota kelompok ini….

Yah, jadilah kelompok ini tetap menjadi pecundang dan tetap mempunyai “cap” sebagai teroris, berbeda dengan Che Guevara yang dari teroris menjadi seorang “Pahlawan” ….. Jadi bagaimana sih caranya supaya gerakan teroris ini berhasil …? Satu satunya cara mereka harus mendapat dukungan mayoritas rakyat Indonesia …. mungkinkah ? Saya rasa dalam era demokratis seperti sekarang ini sangat sulit untuk membuat revolusi mengganti sistem pemerintahan seperti kelompok teroris ini inginkan …. jadi ????? Berjuanglah secara demokratis, berupayalah agar paham yang anda inginkan bisa diterima mayoritas penduduk Indonesia …. hehehe….

1 Komentar

Filed under teroris

Kesalahan Fatal Penanganan Terorisme: “Pembantaian Atlet Israel Pada Olympiade Munich 1972″

*Dalam tulisan ini saya menceritakan bagaimana kesalahan dalam penanganan terorisme oleh kepolisian Munich Jerman Barat yang berkibat fatal terbunuhnya semua sandera para atlet Israel dalam Olympiade Munich 1972 yang lebih dikenal dengan istilah “Black September”, hal ini adalah era dibentuknya pertama kali pasukan khusus anti teror Kepolisian Jerman GSG9 yang terkenal itu, belajar dari kesalahan ini.*

Pada tanggal 4 september 1972, kelompok radikal yang dikenal dengan kelompok “Black September” yang merupakan anggota terpilih dari sayap militer PLO (Palestinian Liberation Organisation) melancarkan aksi teror dengan sasaran perkampungan atlet Israel peserta Olimpiade Munich 1972. Mereka merancanakan untuk menculik atlet Israel sebagai jaminan tukar tawanan Palestina yang ditawan di Israel. Pukul 04.30 dini hari ketika para olahragawan ini tengah tertidur lelap, Jam 4.00 pagi, 8 anggota Black September memanjat pagar setinggi 1.8 meter.

Adalah pegulat Israel Yossef Gutfreund yang awalnya mendengar bunyi mencurigakan di apartemennya ketika ia memeriksanya ia mendapati pintu apartemennya berusaha dibuka sebelum akhirnya ia mulai berteriak memerintahkan teman-temannya yang lain untuk menyelamatkan diri mereka seraya mendorong tubuh kekarnya menahan laju pintu dari tekanan para anggota Black September. Dua orang atlet Israel berhasil meloloskan diri, sementara delapan lainnya memilih untuk bersembunyi. Seorang atlet angkat berat, Yossef Romano berusaha merebut senjata sang penyelusup, tragisnya ia lalu tertembak dan tewas seketika layaknya nasib Mosche Weinberg, pelatih gulat yang juga tewas saat hendak menyerang anggota penyelusup lainnya dengan pisau buah.

Setelah menawan sembilan atlet Israel pihak Black September menuntut dibebaskannya 234 tawanan Palestina dari penjara Israel dan dua pemimpin kelompok kiri Baader-Meinhoff dari penjara Jerman Barat dan rute aman menuju Mesir, namun untuk pembebasan tahanan Palestina, pemerintah Israel menolak mentah-mentah permintaan itu kecuali untuk rute aman tujuan Kairo yang disanggupi pihak Jerman.

Menteri Bavaria yang juga pengurus Perkampungan Olimpiade menawarkan diri sebagai ganti tetapi tawaran ditolak. Kanselir Jerman Barat Willy Brandt menghubungi Perdana Menteri Israel Golda Meir melalui telepon. Israel enggan memenuhi tuntutan tersebut. Jerman sendiri bersedia membebaskan pemimpin Baader-Meinhof, Ulrike Meinhof dan Andreas Baader.

*Dalam pembahasan ini akan dibahas kesalahan apa yang dilakukan dalam penanganan teroris*


Kesalahan Pertama

Kesalahan pertama yang mendasar adalah kesiapan kepolisian Jerman dalam menghadapi ancaman terorisme, mereka tidak terlatih dan tidak pernah dilatihkan dalam menangani skenario serangan terorisme dalam event sebesar Olimpiade, pihak penyelenggara Olimpiade menganggap pesta Olahraga ini akan aman – aman saja,  jadi mereka menempatkan petugas keamanan sekedarnya, terbukti para teroris “Black September” ini dapat melompati pagar perkampungan atlet tanpa diketahui pihak keamanan, sebenarnya kontingen Israel sempat protes mengenai “lemahnya” penjagaan pihak keamanan, namun tidak ditanggapi panitia penyelenggara.

Konstitusi Jerman pasca perang dunia II mengatakan bahwa militer tidak bisa membantu Kepolisian dalam “masa damai”,  jadi pada saat itu kepolisian Jerman bingung untuk menghadapi hal ini, untuk menangani teroris tidak mampu dan meminta bantuan Militer pun tidak bisa.

Karena Israel menolak untuk bernegoisasi dengan teroris, terutama untuk menyelamatkan para atlet, maka tidak ada pilihan lain bagi Kepala Kepolisian Munich Manfred Scheiber untuk melakukan “operasi pembebasan teroris”. Namun ternyata itu sangat fatal karena anggota kepolisian Munich tidak pernah dilatih untuk membebaskan sandera teroris dan memang tidak ada unit anti teror. Jadilah dibuatlah dengan “terpaksa” sebuah operasi yang dinamakan “Operasi Sunshine” sebagai jawaban dari aksi teroris tersebut.

Kesalahan Kedua

Penyerbu dari Kepolisian, terlihat secara "live TV" dan ditonton juga oleh pihak penyandera...

Penyerbu dari Kepolisian, terlihat secara "live TV" dan ditonton juga oleh pihak penyandera...

Setelah operasi itu dijalankan ditugaskanlah beberapa anggota Polisi untuk menyerbu kedalam kamar atlet Israel tempat mereka disandera, namun kembali ada kesalahan fatal, mereka tidak berkoordinasi dengan media terutama televisi, operasi ini diliput secara “live” oleh televisi, nah…. masalahnya para teroris melihat langsung dari TV upaya penyerbuan tersebut …. gawat kan ?  Nah begitu pihak kepolisian sadar bahwa upaya penyerbuan telah diketahui melalui “live TV” oleh penyandera, maka segera mereka membatalkan penyerbuan, daripada timbul korban dari Polisi…

Akhirnya  karena tidak bisa dilakukan “penyerbuan” maka kepala Kepolisan Munich melakukan plan “B” dengan membawa para penyadera dan tawanannya menggunakan helikopter menuju ke Bandara Furstenfeldbruck menuju Jet 727 yang menunggu.

Rencananya Polisi hendak menjebak komplotan tersebut di Bandara Furstenfeldbruck.  Di bandara inilah komplotan tersebut minta disiapkan sebuah pesawat yang akan menerbangkan mereka ke Kairo, Mesir.  Jet Palsu pun disiapkan dengan 6 personil polisi yang disamarkan sebagai kru pesawat dan dengan mengerahkan Sniper, pihak Kepolisian mendapat informasi dari pengamatan pelaku teroris berjumlah 5 orang dengan tawanan 8 orang.  Di lapangan udara telah disetting lokasi pendaratan Helikopter, 3 sniper ditempatkan di depan helikopter pada atas gedung dan 2 orang sniper ditempatkan dibelakang helikopter di bersembunyi di belakang sebuah truk dan satu lagi dibalik sebuah gundukan.  Rencananya 2 orang dari teroris akan naik ke Pesawat  dan pada saat itulah polisi yang menyamar menjadi crew pesawat akan “melumpuhkan”  teroris tersebut, pada saat penembakan diatas pesawat tersebut akan menjadi “kode” bagi Sniper untuk memulai tembakan mematikan teroris yang berada di helikopter.

Rencana penempatan anggota Polisi di bandara.

Rencana semula penempatan anggota Polisi di bandara.

Kesalahan ketiga

Pada pengangkutan teroris melalui helikopter dari perkampungan Atlet menuju Bandara, barulah diketahui polisi bahwa teroris bukan 5 orang melainkan 8 orang. Hal inilah yang membuat berantakan rencana pembebasan sandera, namun ada yang lebih fatal lagi, ternyata tidak ada komunikasi diantara polisi yang berada di bandara, mereka sama sekali tidak di lengkapi dengan radio komunikasi …. makin banyak saja kesalahannya kan ?

Kesalahan Keempat

Ternyata pilot helikopter tidak di “brief” terlebih dahulu tempat pendaratan di Bandara, jadi mereka mendarat meleset jauh dari rencana semula. Para petugas Sniper menjadi kesulitan lagi untuk melakukan penembakan tepat sasaran, karena sekarang mereka posisinya sejajar dengan rekan mereka yang bersembunyi di belakang helikopter.

Kesalahan Kelima

Para crew  anggota polisi yang berada di pesawat ternyata meninggalkan pesawat sebelum helikopter datang, mereka ternyata “tidak mampu” melaksanakan missi ini, dan memilih  “mengundurkan diri” dengan membatalkan missi secara sepihak, suatu gambaran ketidakprofesionalan mereka, *Hal inilah yang menurut saya paling bodoh* Nah masalahnya mereka meninggalkan pesawat tanpa berkomunikasi dulu dengan anggota lain di bandara, karena memang tidak dilengkapi radio komunikasi.

Kesalahan Keenam

Pada saat 2 orang teroris turun dari helikopter dan mengecek kedalam pesawat, mereka mendapati pesawat telah kosong, lalu mereka kembali berlari menuju helikopter, Salah satu sniper yang berada di belakang Helikopter melihat mereka berlari kemudian melepaskan tembakan, bagi Sniper yang berada diatas gedung dipikir itu adalah kode tembakan dari dalam pesawat bahwa 2 teroris itu dilumpuhkan, malah terjadi tembak menembak antara mereka, para tawanan yang ada di dalam Helikopter di lempar Granat oleh penyandera dan mereka semua tewas… Drama penyanderaan 21 jam itupun berakhir . Sebelas atlet Israel, lima anggota Black September dan seorang polisi Jerman Barat tewas, sedangkan 3 sisa anggota Black September tertangkap.

Inilah foto setelah kejadian, helikopter terbakar

Inilah foto setelah kejadian, helikopter terbakar

Kesimpulan

Penanganan aksi terorisme sama sekali tidak terkoordinasi dengan baik, Kepolisian Munich kurang tanggap dengan keamanan para atlet terbukti tidak pernah ada latihan/ skenario penanganan terorisme, mereka tidak memprediksi akan terjadi aksi terorisme dalam Olimpiade tersebut.

Jadi jelas terlihat bagaimana kacaunya penanganan pembebasan Teroris, yang tidak terencana, yang akibatnya bisa fatal sekali …… Semua 11 sandera tewas.  Dan ini merupakan pukulan telak yang memalukan bagi pemerintah Jerman Barat.

Baru setelah peristiwa memalukan ini pemerintah Jerman mendirikan satuan anti teroris GSG9 yang Indonesia juga belajar dari mereka, dengan dikirimnya perwira muda Prabowo Subianto.

Melihat cerita ini Indonesia ngga malu – maluin dalam penanganan teroris kan ?  Saluuut… :)

15 Komentar

Filed under Polisi, teroris

Metoda Serangan Teroris Terbaru, “Urban War But Still Suicide Mission”

*Sudah lama nih ngga update blog, mohon maaf banyak persoalan  mengganggu aktifitas, tapi kalau kita terlalu berkutat masalah itu…. capyee deeh ngga akan maju … so, inilah tulisan baru saya :)*

Terdapat berbagai varian penyerangan teroris menyerang berbagai target yang dianggap “musuh” kelompok teroris tertentu, dalam hal ini kita tegaskan kembali kelompok tersebut merupakan kelompok Islam garis keras yang berafiliasi kepada Al Qaeda, cara – cara mereka sangat luar biasa, dan kebanyakan menggunakan “suicide mission” atau misi bunuh diri, kenapa mereka menggunakan metoda ini ? tentunya kelompok ini ingin mencapai hasil yang sangat optimal dengan mencapai kedalam pusat lingkungan target….

Metode mereka selalu baru, berkembang, sebangun dengan perkembangan pencegahan teror bom bunuh diri dari aparat penegak keamanan, dan sudah pernah saya bahas di tulisan saya ini, Bagaimana cara mereka berkembang ? saya ambil contohnya:  Pengamanan keamanan Hotel Jw Marriot yang sudah sangat diperketat pasca peristiwa bom mobil yang meluluh lantakkan hotel tersebut pada tanggal 5 agustus 2003, tentunya  kelompok teroris mempelajari “kelemahan” security hotel tersebut dan berhasil “meledakkan” kembali hotel tersebut pada tanggal 17 Juli 2009, hal apa yang mereka buat untuk “mengelabui” ketatnya security hotel JW Marriot ? salah satunya dengan memasukkan Ibrahim menjadi karyawan toko bunga yang ada di dalam hotel, 2 tahun sebelum aksi, mereka juga memanfaatkan kelengahan petugas (karena sudah merasa kenal dengan Ibrahim) untuk memasukkan bahan – bahan bom kedalam hotel, sedangkan kita tahu juga “sang penganten” (pelaku bom bunuh diri) bebas masuk ke dalam hotel, memesan kamar tanpa dicurigai .

Demikian juga dalam skala yang lebih besar, selalu saja pihak keamanan menemukan cara yang lebih teliti untuk mencegah serangan teroris tersebut, seiring dengan itu pihak teroris selalu berusaha menemukan “bolong” nya sistem keamanan tersebut…. inilah yang terjadi di Mumbai India pada tanggal 26 sampai 29 November 2008, para teroris menemukan metode baru untuk membuat “teror” yang lebih menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat *Pada hatekadnya aksi teror dari teroris adalah membuat rasa takut dan kepanikan yang luar biasa dari masyarakat sehingga berdampak politis yang menguntungkan tujuan politis mereka* … Kelompok teroris Laskar-e-Taiba yang berasal dari Pakistan melakukan serangan bunuh diri terhadap kota Mumbai.

Menurut saya pribadi, serangan teroris ini merupakan jawaban atas semakin diperketatnya keamanan dalam negeri India atas serangan teror bom yang sering dilakukan, biasanya kelompok teroris melakukan pemboman terhadap kereta api dan stasiunnya, dimana metode transportasi umum ini paling diminati oleh sebagian besar penduduk India.. Kelompok teroris ini mempunyai rencana orisinal yang tidak didapat dengan hanya membawa bomb ransel maupun bom mobil:
1. Membuat suatu “teror” yang rumit, yang membawa dampak kepanikan yang luar biasa dari penduduk, tentunya diliput Media massa sehingga tersiar ke seluruh dunia dan  “gaung” nya mendunia.
2. Membuat teror dengan cakupan wilayah yang cukup luas.
3. Target Warga negara Asing juga termasuk.

Berdasarkan pertimbangan mereka cara – cara “konvensional” berupa serangan bunuh diri menggunakan bom ransel dan bom mobil ternyata sudah makin susah dilakukan dan kurang memberikan “dampak” yang luar biasa, maka mereka menemukan cara yang lebih gampang yaitu serangan bunuh diri menggunakan cara “perang kota” (urban war), sasaran mereka adalah membunuh  “semua orang” yang ada di depan mereka ….

Persiapan Serangan

Laskar E Taiba melakukan perekrutan secara ketat dan terpilihlah 10 orang anak muda yang mempunyai kelebihan secara fisik dan intelegensia, mereka mempunyai safehouse di Azizabad dekat kota Karachi, dan mereka dilatih cara militer, menggunakan senjata (AK 47 dan granat), latihan perang kota dan yang lebih penting mereka dilatih mengenali daerah sasaran, sehingga pada waktu serangan mereka tahu persis dimana mereka bisa sembunyi dan bertahan apabila ada serangan balasan, mereka mempelajari wilayah serangan berdasarkan gambar dari “google earth” … dan hapal luar kepala daerah target sasaran … hebat kan ? saya jadi ingat bagaimana teroris mempelajari pesawat pada saat serangan 9/11 …

Ajmal Kasab, satu satunya teroris yang masih hidup, tertangkap pd serangan di Stasiun Kereta Chapati

Ajmal Kasab, satu satunya teroris yg masih hidup, tertangkap pd serangan di Stasiun Kereta Chhatrapati Shivaji

Serangan Teroris Mumbai

Serangan ini dimulai tanggal 26 sd 29 November 2008, ketika 10 orang teroris dari Laskar E Taiba dari Pakistan membajak kapal penangkap ikan milik nelayan India, kemudian mereka merapatkan diri di Mumbai yang memang kota semenanjung di pinggir laut, kemudian mereka menyebar tiap 2 orang ke masing masing target (jadi total ada 5 target), dalam target sasaran mereka adalah yang utama adalah orang asing atau siapapun yang ada didepan mereka dihantam dengan rentetan peluru AK-47.

 5 sasaran Target  @2 orang teroris

5 sasaran Target @2 orang teroris

inilah sasaran mereka:
1. Stasiun Kereta Chhatrapati Shivaji (diserang oleh 2 orang termasuk yang tertangkap hidup Ajmal Kasab) menewaskan 58 orang dan melukai 104 orang, lalu dua orang ini bergerak menuju Rumah Sakit Cama untuk membunuh semua orang yang terbaring sakit (sadiss banget euy) namun keburu dilumpuhkan oleh pasukan anti teror Polisi India.

2. Leopold Cafe diserang juga oleh 2 orang kelompok teroris itu, mereka membantai para pengunjung Cafe dan mengakibatkan tewas 10 orang termasuk orang asing.

3. Taj Mahal Hotel dan Oberoi Trident Hotel diserang oleh masing – masing 2 orang teroris, mereka menyandera para pengunjung hotel dan menembakinya.  Teroris dapat dilumpuhkan oleh pasukan komando India.

4. Nariman House, tempat sinagog agama Yahudi di Mumbai juga diserang 2 orang teroris, mereka menyandera dan membunuh Rabbi yang bekerja di Nariman House. Teroris juga dapat dilumpuhkan.

Pada tanggal 29 November 2010 serangan berakhir,  dari 10 teroris berhasil dilumpuhkan dengan 9 orang tewas tertembak dan 1 orang tertangkap. Namun total korban tewas sangat banyak yaitu 173 orang (termasuk petugas keamanan) dan melukai 308 orang, diantara yang tewas terdapat 28 orang asing dari 10 negara. Kenapa 10 orang ini sangat kuat 3 hari 3 malam terus menyerang tanpa lelah ? Ternyata hasil otopsi mereka mengkonsumsi cocaine dan amphetamine untuk tetap “kuat”, Serangan teroris ini cukup sukses bukan ?

Cara serangan teroris ini akan juga terjadi di Indonesia ?

Jawabannya :  Ya… Serangan Teroris di Mumbai sangat menginspirasi para kelompok teroris di seluruh dunia terutama yang mempunyai link dengan Al Qaeda,  termasuk di Indonesia… Tahukah beberapa waktu yang lalu terungkap ada pelatihan teroris di daerah Jento Aceh ? Ternyata peserta pelatihan sudah dipersiapkan untuk melakukan aksi “urban war” menyerang berbagai target spesifik yang berdampak luas dan berencana melakukan pembunuhan terhadap pejabat tinggi negara.

Jadi … waspadalah … waspadalah .. jangan sampai negara kita menjadi sasaran lagi oleh kelompok teroris dengan metode serangan terbarunya.. bisa kacau kita …


2 Komentar

Filed under hukum, Polisi, teroris

Identifikasi Mayat Pelaku Teroris

Beberapa waktu yang lalu pemberitaan di Media Pers di Indonesia diramaikan dengan penyergapan para pelaku teroris oleh Densus 88 yang berujung pada terbunuhnya para pelaku teroris, sebut saja dari awalnya penggerebekan di Temanggung pada tanggal 8 Agustus 2009 yang mengakibatkan Ibrohim “the florist” terbunuh, tak beberapa lama kemudian pada tanggal 17 September di Jebres Solo yang mengakibatkan meninggalnya Teroris yang paling dicari yaitu Noordin M Top beserta pengikutnya yaitu Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Aji alias Ario Sudarsono dan Adib Susilo, dan terakhir di Ciputat pada tanggal 9 Oktober 2009 yang mengakibatkan tewasnya Syaifudin Zuhri dan Muhamad Syahrir … ada satu hal yang membuat penasaran banyak orang … kenapa proses identifikasi memakan waktu lama sekali, bahkan sudah kasat mata terlihat atau sudah identik sidik jari mayat dengan pembanding masih saja diperlukan test yang lebih lanjut yaitu test DNA.

Alasan yang paling logic adalah mengindari “Error in Persona” atau “salah orang”, hal ini sangat penting dalam institusi yang bertugas di Bidang Hukum seperti Polisi, Jaksa dan Hakim karena setiap pekerjaan di institusi ini dipayungi oleh Hukum, termasuk “apabila terpaksa” membunuh tersangka (dan sanksi hukum pula apabila salah dalam tindakan yang dilakukan)  Terlihat jelas dalam setiap statement yang yang di keluarkan oleh Kapolri maupun Kadiv Humas Polri, mereka tidak akan mengumumkan apabila “siapa” tokoh teroris yang terbunuh belum jelas ….

Berikut ini cara Polisi melakukan identifikasi terhadap mayat, bukan hanya terhadap pelaku teroris tapi terhadap setiap kematian yang tidak wajar seperti kecelakaan, pembunuhan dan lain sebagainya :

1. Identifikasi dengan membandingkan foto : Hal ini dilakukan oleh petugas dengan melihat korban secara fisik membandingkan raut muka dengan foto pembanding, namun cara ini kurang akurat .

2. Identifikasi dengan melihat identitas korban : Petugas bisa mencari data identitas yang didapat dari korban, misalnya KTP atau SIM, namun cara ini juga kurang akurat karena diketahui banyak juga beredar identitas palsu, dan juga akan tidak efektif apabila korban dalam keadaan terbakar sehingga kartu identitas juga terbakar.

3. Identifikasi melalui saksi atau orang yang kenal korban ( Metode Visual): Metode ini yang paling Lazim dilakukan, mereka para saksi biasanya orang terdekat seperti istri/suami, anak, ayah/ibu, mereka bisa mengidentifikasi dengan pengenalan wajah, atau menunjukkan ciri – ciri lahir seperti tahi lalat, bekas luka yang mereka kenal, walaupun cara ini lazim dilakukan tapi tidak sepenuhnya akurat, karena perubahan phisik seseorang bisa sangat berbeda, apalagi apabila dari saksi sudah lama tidak berhubungan, atau akan makin sulit lagi apabila mayat ditemukan tidak dalam keadaan sempurna seperti terbakar, korban mutilasi atau bahkan tinggal tulang belulang.

4. Identifikasi dengan mengenali barang milik Korban: Hal ini juga harus menggunakan saksi untuk mengenali barang yang digunakan, cara ini cukup efektif apabila Mayat Korban tidak utuh lagi dan sulit dikenali, mereka bisa mengenali korban dari benda yang biasa dipakai korban seperti Pakaian, cincin, kalung atau Gelang, walaupun benda itu dikenali namun metode ini juga masih banyak kelemahannya masih diperlukan metode lain yang lebih akurat untuk memastikan.

5. Identifikasi menggunakan gigi (Dental Forensic): Perlu diketahui setiap manusia mempunyai pola yang spesifik di giginya, setiap orang kan pernah copot giginya, bolong dan ditambal, atau bertumpukan. Apabila sesorang pernah pergi kedokter gigi biasanya akan ada identifikasi gigi ini di kartu pasien sebelum dilakukan penanganan oleh Dokter, data ini disebut Odontogram, nah data Odontogram tersebut yang digunakan dalam proses identifikasi mayat, dengan membandingkan jumlah gigi, bentuk gigi, susunan, tambalan, protesa gigi antara Mayat dan Data Odontogram dengan cara pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi dan rahang, metode ini sangat efektif apabila kondisi mayat dalam keadaan tidak utuh atau terbakar.

6. Identifikasi Sidik Jari : Bisa dikatakan metode ini mendekati sempurna, karena diketahui setiap Manusia tidak ada yang sama sidik jarinya walaupun dia terlahir kembar identik sekalipun, lumrah dalam setiap pengurusan administrasi pengambilan sidik jari dilakukan, seperti dalam membuat Surat Kelakuan Baik, sidik jari ini kemudian dimasukkan ke dalam kartu dan disimpan di kantor polisi, nah data inilah yang digunakan sebagai pembanding apabila ditemukan korban, identifikasi dilakukan dengan cara menyocokkan 14 titik yang sama dari sidik jari pembanding dan yang ada di mayat. Cara identifikasi ini sangat akurat namun ada kelemahannya yaitu ketika sidik jari korban sudah rusak biasanya pada mayat yang tenggelam atau terbakar.

7. Identifikasi DNA: Metode ini diyakini adalah metode paling akurat dalam identifikasi, dan keunggulan Identififikasi dengan cara ini adalah proses Identifikasi dapat dilaksanakan dengan kondisi apapun mayat, bahkan kondisi korban tinggal tulang belulang. DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid), adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Ilmuwan forensik dapat menggunakan DNA yang terletak dalam darah, semen, kulit, liur atau rambut yang tersisa di tempat kejadian kejahatan untuk mengidentifikasi kemungkinan tersangka, sebuah proses yang disebut fingerprinting genetika atau pemrofilan DNA (DNA profiling). Diketahui setiap hubungan darah mempunyai kemiripan dalam struktur DNA nya, jadi pembanding untuk identifikasi paling sering adalah anak atau saudara kandung. Dalam metoda terbaru identifikasi DNA diketahu waktu paling cepat adalah 24 jam untuk mengetahui hasilnya.

Dari beberapa medota tersebut diatas biasanya dilakukan secara berjenjang dari indentifikasi phisik sampai indentifikasi DNA, khusus dalam identifikasi mayat teroris digunakan cara yang paling akurat, kenapa ? hal ini digunakan menambah kepercayaan masyarakat atas tugas polisi, karena tanpa hasil yang terbaik bukan tidak mungkin hasil kerja polisi akan sia sia, bisa saja beredar isyu bahwa tokoh teroris itu sebenarnya orang lain, dan jangan sampai terjadi “error in persona” bisa hancur reputasi Polri kalau hal ini terjadi.

Khusus dalam identifikasi korban kecelakaan massal atau bahasa internasionalnya Disaster Victim Identification seperti contoh korban bom bali, kecelakaan pesawat atau gempa di Padang belakangan ini karena menyangkut aspek waktu dan kepraktisan, maka apabila identifikasi visual oleh keluarga korban sudah bisa, tidak dilanjutkan dengan metode lain.

Demikian sekilas share pengetahuan dari saya … mudah mudahan berguna.

3 Komentar

Filed under Blogger, hukum, teroris

Noordin M Top, From Hero to Zero…

Tidak banyak komentar yang saya akan tulis dalam tulisan ini, hanya ucapan selamat kepada Polri cq Densus 88 yang telah menamatkan perjalanan sang pahlawan kembali ke titik nol …. (From Hero to Zero)

When he was a Hero

When he was a Hero

Kematian membuat engkau menjadi nol lagi, tidak seperti sewaktu dikau hidup sewaktu menjadi pahlawan …

From Hero to Zero

From Hero to Zero

Jangan ada lagi Noordin lain,  mari kita kembali membangun negara tercinta ini  bebas dari paham radikal yang justru membunuh kita …

6 Komentar

Filed under Blogger, hukum, polri, Publik, sudan, teroris