Skenario Pemerdekaan Papua

Melihat peristiwa yang marak terjadi di Papua beberapa waktu belakangan ini, sungguh miris terjadi penembakan gelap dimana – mana, awalnya yang menjadi sasaran adalah para karyawan PT Freeport Timika yang hendak berangkat bekerja, kemudian penembakan ini merambah ke sasaran yang berada di kota jayapura dan sorong, dimana 4 orang tewas ditembak yaitu 3 warga dan 1 personil TNI di Abepura Jayapura dan yang paling heboh di dunia Internasional adalah penembakan yang dilakukan oleh orang tidak dikenal di lokasi wisata Pantai Base kota Jayapura dengan korban Pieter Dietmar Helmut warganegara Jerman. Saya duga masih akan masih banyak lagi aksi – aksi pengacauan keamanan setelah ini dan ekskalasinya pasti akan meningkat.

Yes, apa yang terjadi di Papua adalah skenario yang mengarah kepada “pemerdekaan”, skenario ini adalah memang dirancang, direkayasa untuk internasionalisasi masalah papua sebagai tahap awal untuk memerdekakan papua. Sebagai mantan peacekeeper di beberapa negara yang wilayahnya ingin merdeka, saya rasanya tahu bagaimana cara – cara mereka untuk membawa sebuah negara ke arah merdeka.

Patut diketahui bahwa cara – cara mengganti pemerintahan otoriter yang terjadi di beberapa negara jazirah arab berbeda dengan cara sebuah daerah memerdekakan diri, isyu paling fundamental adalah bagi daerah yang mau merdeka adalah perbedaan etnis atau kaum minoritas yang tidak diperlakukan adil oleh pemerintah pusat, berbeda dengan pemberontakan yang mau mengganti pemerintah; adalah rakyat mempunyai “common enemy” makanya mereka menggulingkan pemerintah dengan “people power”.

Saat ini beberapa hotspot dimana sebagian warganya meninta merdeka adalah:  Gerakan Basque di Perancis, Kaum tamil di Srilangka, Darfur di Sudan. Beberapa daerah telah berhasil perjuangannya dan menjadi negara baru seperti Kosovo dan Sudan Selatan. Indonesia sendiri pernah mengalami pisahnya Timor timur menjadi negara sendiri.

Berikut ini adalah perkiraan saya (pribadi) tentang beberapa metoda / skenario yang akan digunakan Organisasi Papua Merdeka dalam memperjuangkan kemerdekaannya:

1. Gerakan ini akan mengintensifkan “teror” khususnya bagi pendatang non papua, “penembakan gelap” akan digiatkan, mereka ingin agar ada rasa tidak aman pada kehidupan sehari – hari masyarakat papua, keadaan tidak aman ini akan melumpuhkan aspek penghidupan masyarakat papua, terutama pada perekonomian dan roda pemerintahan, kalau dua aspek ini tidak berjalan akan ada ketidak – percayaan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat keamanan. Sehingga masyarakat akan mendapat kesan bahwa OPM akan lebih care terhadap mereka dalam menjamin keamanan.

2. Mencoba meng-internasionalisasi permasalahan di Papua,  gerakan OPM akan secara taktis membawa permasalahan ini ke dunia internasional, dengan era “keterbukaan informasi”  sekarang ini akan mudah bagi mereka untuk mengangkat isu internal dalam negeri menjadi isu internasional, yang paling laku dijual adalah isu Human Rights/HAM, Genosida,  ketidakadilan dan kejahatan terhadap kemanusiaan.  Cara yang bisa  dicapai adalah dengan “mengorbankan” penduduk asli papua sendiri, gerakan ini akan “membenturkan” masyarakat dengan aparat keamanan, contoh pada saat demonstrasi massa mereka akan berbuat sesuatu sehingga terjadi bentrokan massa dengan aparat keamanan, sehingga jatuh korban massa, nah hal inilah yang bisa “dipelintir” dan diangkat ke dunia internasional bahwa terjadi “pembantaian etnis”, ini bisa mencoreng Indonesia sebagai negara yang tidak melindungi warganya. Penembakan terhadap warga negara asing juga bisa membawa hal ini ke dunia Internasional, sebelumnya sudah ada WN. Australia dan AS yang tewas di papua akibat penembakan gelap.

3.  Melakukan kampanye Internasional,  seperti diketahui pola perjuangan OPM ada 2 lini yaitu lini dalam negeri dan luar negeri,  di dalam negeri terdiri dari sayap politik dan Militer, mereka menggunakan cara – cara Clandestin atau “Underground” , mereka menyusupkan agen – agen mereka kedalam pemerintahan dan merekrut orang  – orang yang pro OPM untuk menguntungkan gerakan mereka.  Untuk gerakan di luar negeri mereka menggunakan tokoh mereka di lua negeri untuk mengkampanyekan gerakan mereka, kebetulan mereka ada seorang tokoh OPM yang berhasil lari dari Indonesia bernama Benny Wenda, permintaan suakanya sudah diterima oleh pemerintah Inggris, sehingga ia menjadi WN. Inggris. Benny Wenda sampai sekarang masih tercatat dalam daftar “Red Notice” Interpol karena peristiwa pembunuhan di Papua. Ia lah menjadi corong dari gerakan OPM di luar negeri. Upaya yang dilakukan adalah mendekati parlemen internasional, khususnya di negara eropa untuk mendukung perjuangan OPM.

Dari ketiga upaya ini akan mengerucut menjadi satu, seperti yang pernah kita alami di Timor Leste, yaitu adanya Desakan dari dunia Internasional agar ada “Campur tangan” negara di luar Indonesia untuk pada awalnya “Menyelesaikan” Permasalahan yang terjadi PBB akan turut campur dan pada awalnya akan mengirimkan “Observer” untuk melihat ke wilayah apa yang terjadi sesungguhnya.  Hal ini akan sangat berbahaya karena rekomendasi observer ini adalah pasti kehadiran “Misi Perdamaian” untuk melihat aspirasi warga papua, dan hasilnya mudah ditebak , pasti Referendum menentukan nasib sendiri. Yang hasilnya pasti sudah tau kan ? pasti  hasilnya merdeka.

Jadi bagaimana agar kita tidak kehilangan kedua kalinya wilayah kita setelah Timor Leste ? ini pendapat saya:

1.  Untuk  zaman sekarang dimana kebebasan media sudah sangat terbuka, kita tidak perlu mencegah kampanye buruk dari pihak OPM tentang apa yang disebut “Kolonialisme” Indonesia atas Papua, justru kita harus melakukan kampanye positif tentang apa yang telah kita lakukan di bumi Papua.

2.  Kesejahteraan , ya itu kata kuncinya.  Sejahterakan masyarakat papua, buat pendidikan yang baik dan dengan mereka sejahtera mereka akan merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia. Biarkan rakyat papua mempunyai kedaulatan di wilayahnya sendiri.

3. Rangkul kembali pihak OPM untuk menjadi bagian bersama dalam pembangunan di Papua. Tidak semua warga papua hendak memerdekakan diri.  Masyarakat papua lebih bersifat kesukuan jadi tidak ada yang lebih dominan dari yang lain.

4. Untuk aparat keamanan kurangi kekerasan yang tidak perlu, karena ini merupakan alat OPM untuk mengangkat permasalahan ini ke dunia Internasional.

Demikian akhir tulisan saya, saya rasa kita pernah punya contoh bagaimana kasus Timor Leste dan Aceh, gunakan cara – cara seperti di Aceh adalah cara terbaik untuk dilakukan yaitu penyelesaian tetapi tetap dalam kerangka NKRI, bagaimana caranya ? silahkan para pimpinan negara ini memikirkan jalan yang terbaik.

Sebagai penutup ini adalah ucapan Benny Wenda dalam Oslo FreedomForum 2012, silahkan menilai sendiri kebenarannya…..

About these ads

15 Komentar

Filed under hukum

15 responses to “Skenario Pemerdekaan Papua

  1. Good piece and clearly defined. Good read !

    @Mom: thanks yaaa … :)

  2. nunky lazuardi

    2 bulan vacuum, trnyata makin keren aja tulisannya ndan……….. ;)

    @ nungky: hehehe thanks ya bro. Selama ini sibuk banget jadi agak jarang update

    • Nunky Lazuardi

      itu tulisan klo dmasukin ke majalah JDS Polda Metro Jaya kira2 boleeh ga ya ndan..? edisi juni yang terbit dan di edarkan pas 1 juli ke Pejabat Utama PMJ dan jajaran, berkenan ga ndan…??? hehehe… ;p

      @ laz : ok silahkan. ….. Thanks yaa

  3. Sayang sekali, tulisan ini tidak memuat secara tajam dan jelas, kenapa timur-timur nuntut lepas, dan kemudian kenapa pulah orang Papua nuntut merdeka juga. Kalau di ulas, tentu dengan mengunakan sumber-sumber yang kredibel, pasti, Anda akan merasa berdosa karena mengidap penyakit nasionalisme sempin ala Indonesia.

    @anakpapua: saya tidak pernah menyesal bro …. dan saya rasa sikap nasionalisme saya tidak ada yang salah … saya sedih ketika Tim tim harus lepas dari NKRI dan saya harap tidak terjadi dengan papua .. ok bro ?

    • Ah, ini bukan soal menyesal-tidak menyesal. Ini masalah kebenaran.
      Benarkah Tim-tim bagian dari Indonesia?
      Benarkah Papua juga bagian dari Indonesia?

      Ah, tapi sayang. Anda sendiri suda menyatakan tidak merasa bersalah mengidap penyakit nasionalisme sempit Indonesia. Sayang.

      Tapi Anda juga harus sadar. Dengan nasionalisme seperti itu, anda sedang melakukan makar terhadap apa yang anda anut. Bukannkah negara mengakui, kemerdekaan adalah hak segalah bangsa!!

  4. Ijin Pak
    Kebetulan lewat lagi patroli backlink.
    Kalau bapak sempat dikunjungi balik dan mohon kesediannya untuk memberikan saran.
    Terimakasih

    @sutan: blog nya sudah bagus, yang paling penting tetap update ya, salam buat kapolresnya pak Prabowo.. beliau seangkatan saya

  5. Jika kita mau melihat masalah Papua Beda dari Timur Leste, Ace karena masalah dasar adalah kesalahan RI pada PEPERA; http://www.gwu.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB128/index.htm

  6. Tulisan yg kualitatif ditengah ketidaktahuan publik pada situasi di papua. Tulisan ini antisipatif disaat publik mengganggap papua hanya soal kecil.
    Tulisan ini inspiratif bagi mereka yg berpikiran lain.
    Sekiranya dapat, masukan juga ruang dan waktu dlm tulisan ini, dan itu akan sangat menggetarkan rasa,,apapun yg dirasakan.
    Thx. Wass.

    @kang guru: apapun ceritanya Papua tetap bagian dari NKRI, jangan ada upaya sedikitpun yang bisa meloloskan hal ini … thanks atas tanggapannya

  7. papua, walaupun diberikan otonomi khusus, dan sudah banyak putra daerah yg jadi pejabat, kenapa tetap saja pembagunan seperti jalan di tempat

  8. Leonardus Widayatmo

    6 bulan setelah pembakaran pasar Abepura dan Benny Wenda (BW) bersama masyarakat Wamena lari ke Vanimo, saya berdialog dengan Benny Wenda bersama warga Wamena di Wara Kongkong camp bersama pejabat LO PNG dan Uskup Vanimo. Laporan yg saya sampaikan mestinya bisa untuk menangkal apa yang diucapkan BW dan apa yg dilaporkan BW bisa dicounter oleh KBRI disana.

    @Leo: Thanks atas info tambahannya, bisa dijelaskan apa isi pembicaraan tersebut ?

  9. joseph abumerin

    orang papua kalau dikasih merdeka akan hancur, karena akan saling bunuh dengan sesamanya, lihat saja kasus-kasus perang antar suku yang masih terus terjadi sampai sekarang,,saya pribadi prihatin dengan keadaan ini,,setelah mereka saling bunuh maka masuklah amerika , inggris, dll menguasai tanah papua sama spti yg mereka lakukan di australia..bagi kami pemuda papua NKRI adalah harga mati..!!!

    @Joseph: yah saya setuju sekali, sebagai ilustrasi saya melihat tetangga propinsi papua PNG , sampai sekarang negara itu masih terseok – seok dengan persoalan kriminalitas, penculikan dsb dan selalu dibayangi dengan perang suku padahal mereka sudah merdeka lama sekali … saya rasa akan lebih parah kalau propinsi ini merdeka.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s