Eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi

Belakangan ini lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) banyak disoroti oleh media massa, seiring merebaknya tokoh “Whistle Blower” seperti Susno Duadji atau Gayus Tambunan yang justru dipidana karena “kicauan” nya, padahal mereka telah meminta bantuan lembaga ini untuk melindungi kesaksian mereka.

Melihat peraturan dan Undang – Undang yang melandasi berdirinya LPSK mereka masih berada dalam tatanan koordinatif dengan lembaga lain, jadi dapat dipastikan mereka tidak bisa mandiri. Sampai sekarang lembaga ini belum tahu apa yang harus dikerjakan, apabila ada seseorang meminta perlindungan Lembaga ini. Saya malah salut dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang telah menunjukkan kiprahnya dengan melindungi artis cilik ARUMI BACHIM yang meminta perlindungan kepada LPA dan mengadukan orang tuanya atas eksploitasi orangtuanya, KPAI menempatkan ARUMI BACHIM dalam suatu “Save House” rahasia dan orang tuanya sampai sekarang tidak bisa mengetahui keberadaannya. Mmmmmh .. Kira – kira seperti inilah sepak terjang LPSK yang diharapkan apabila mereka menerima permohonan perlindungan dari saksi ataupun saksi korban.

Kira – kira bagaimana sih LPSK yang diharapkan ?

Melihat berbagai kelembagaan sejenis ini di dunia, yang paling bagus menurut saya tentunya di Amerika Serikat dengan WITSEC (Witness Security Program) Program ini secara administratif dilaksanakan oleh United States Department of Justice (sejenis Depkumham di indonesia) dan operasionalisasinya oleh United States Marshals Service (Salah satu agen penegak hukum AS yg berada dibawah US Dept. of Justice), hal yang termasuk program perlindungan saksi antara lain :

1. Untuk keamanan, saksi dan keluarga mereka bisa mendapatkan identitas baru dengan dokumen baru yang syah.
2. Disediakan perumahan, pengganti untuk biaya hidup dan perawatan medis yang diberikan kepada para saksi. Pelatihan kerja dan bantuan kerja juga disediakan, agar saksi yang telah mendapat identitas baru bisa bekerja dan mendapat penghasilan yang layak.
3. US Marshall memberikan perlindungan 24 jam terhadap saksi pada saat mereka berada dalam fase yang tinggi ancamannya pada saat berlansungnya persidangan terutama pada saat saksi mengucapkan testimonial.

Biasanya saksi yang dilindungi oleh program ini adalah tersangka suatu kejahatan, kemudian dengan suatu pembicaraan dengan penegak hukum, diberilah “penawaran” kepada tersangka untuk dikurangi hukumannya, asalkan ia mau mengungkap “kejahatan yang lebih besar” dengan menjadi “saksi” terhadap pelaku lain, hal ini biasanya terjadi dalam kejahatan terorganisir dan kelompok mafia, karena pasti kesulitan mencari saksi yang benar – benar tahu “inside” kelompok mereka, maka biasanya para penegak hukum di AS menggunakan para “anak buah” yang tertangkap, kemudian ditawari dikurangi hukumannya dan mengikuti program “perlindungan saksi” untuk “bersaksi” terhadap boss nya.

beberapa ini adalah para pelaku kejahatan besar yang “membarter” kesaksiannya, dan mengikuti program “perlindungan saksi”:

Salvatore Vitali

Salvatore Vitali

1. Salvatore Vitali atau dikenal dgn julukan “Super Rat”, ia tertangkap dan didakwa dengan 11 pembunuhan, berhasil dibujuk daripada menghadapi tuntutan hukuman mati, bersedia “bersaksi” untuk menunjukkan pelaku lain dan “boss” nya, dari kesaksiannya (dikatakan sebagai hasil terbesar program perlindungan saksi AS) , ia telah mengidentifikasi kurang lebih 500 orang anggota mafia, menunjukkan alat bukti dan menjadi saksi dari 30 kasus pembunuhan, termasuk percobaan pembunuhan dan konspirasi, dan yang paling penting adalah mengungkap rahasia ke semua lima keluarga “Costra Nostra” di New York, yang selama puluhan tahun tidak tersentuh hukum.

Henri Hill

Henri Hill

2. Henry Hill, adalah mantan mafia dari clan Lucchese, berkat kesaksiannya ia berjasa dalam peradilan 50 kasus Mafia, walaupun ia seorang keturunan Irlandia namun bekerja untuk keluarga Mafia Italia, dan banyak melakukan kejahatan pembunuhan, perampokan dan penyelundupan obat bius. Namun ketika ditangkap ia bersedia “bersaksi” untuk para kolega dan boss Mafia nya, ia kemudian menjalani kehidupan baru dalam program perlindungan saksi dengan identitas dan alamat baru, namun karena habbitnya yang suka mabuk, beberapa kali tertangkap oleh polisi, sehingga ia dikeluarkan dari program perlindungan saksi. Kisah hidupnya di film kan oleh Martin Scorsese dalam film Goodfellas.

Apa saja yang menyebabkan program perlindungan saksi di Indonesia bisa tidak berjalan ?

Menurut saya ada beberapa faktor yang menyebabkan program perlindungan saksi di Indonesia kurang bisa berjalan :

1. Sistem hukum di Indonesia tidak mengenal sistem “barter” tersangka dengan pengurangan hukuman dan masuk dalam program perlindungan saksi, tidak ada landasan hukumnya. Jadi orang seperti Gayus Tambunan yang hanya pegawai golongan IIIa di Ditjen Pajak, tidak bisa menukarnya dengan pimpinannya apalagi sampai ke tatanan atas. Walaupun ia “bernyanyi” sekalipun tidak akan ada pengurangan masa hukuman, itulah sebabnya di Indonesia selalu pegawai “kelas rendahan” yang dikorbankan, sedangkan boss nya sih aman – aman saja.

2. Lembaga LPSK seharusnya bukan hanya lembaga koordinatif, namun sebuah lembaga independen, dengan mempunyai anggota yang terlatih dan bersenjata untuk melindungi saksi dan korban, jadi tidak membebani kepolisian dengan tugas ini, dan yang lebih rawan lagi adalah kemungkinan “bocor” nya keberadaan saksi yang dilindungi.

3. Kendala budgeting pasti juga akan menjadi masalah, bayangkan saja bagaimana menghidupi saksi dan keluarganya, memberi identitas baru , memberi pekerjaan, memindahkan ke tempat baru pastinya sudah membebani anggaran belanja Negara ini.

Harapan saya sih, Lembaga ini akan tetap eksis dan mulai menjalani fungsinya dengan benar di negara ini, tentunya untuk mengungkap kejahatan – kejahatan besar di negara ini. Semoga ….

About these ads

6 Komentar

Filed under hukum, Kriminal

6 responses to “Eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi

  1. Mohon ijin komandan, mau menyampaikan beberapa hal:

    Menurut saya ada beberapa faktor yang menyebabkan program perlindungan saksi di Indonesia kurang bisa berjalan :

    1. Sistem hukum di Indonesia tidak mengenal sistem “barter” tersangka dengan pengurangan hukuman dan masuk dalam program perlindungan saksi, tidak ada landasan hukumnya. Jadi orang seperti Gayus Tambunan yang hanya pegawai golongan IIIa di Ditjen Pajak, tidak bisa menukarnya dengan pimpinannya apalagi sampai ke tatanan atas. Walaupun ia “bernyanyi” sekalipun tidak akan ada pengurangan masa hukuman, itulah sebabnya di Indonesia selalu pegawai “kelas rendahan” yang dikorbankan, sedangkan boss nya sih aman – aman saja.
    —– Menurut saya setidaknya ksaksian saksi yg seperti itu dapat jadi pertimbangan hakim untuk tidak memberikan vonis yang berat atau bahkan meringankan hukuman ybs.

    2. Lembaga LPSK seharusnya bukan hanya lembaga koordinatif, namun sebuah lembaga independen, dengan mempunyai anggota yang terlatih dan bersenjata untuk melindungi saksi dan korban, jadi tidak membebani kepolisian dengan tugas ini, dan yang lebih rawan lagi adalah kemungkinan “bocor” nya keberadaan saksi yang dilindungi.
    —–LPSK adalah Lembaga independen yang diatur oleh UU no 13 tahun 2006, dan saya juga merasakan pasal2nya masih banyak yg harus direvisi sehingga banyak kewenangan LPSK yang berada di wilayah abu abu. Dan ada Anggota Polri yang di BKO kan, walaupun dirasa kurang mencukupi ketika banyak permohonan perlindungan yang dipenuhi, sehingga LPSK menarik anggota BKO dari satwil terdekat. Untuk kerahasiaan sangat tinggi, sehingga antar bagian pun tidak bisa/boleh mengetahui apa yang dikerjakan masing masing bagian. Contoh jika dikepolsian, Anggota serse tidak bisa/boleh mengetahui siapa/identitas orang yg melapor ke penjagaan/yanmas.

    3. Kendala budgeting pasti juga akan menjadi masalah, bayangkan saja bagaimana menghidupi saksi dan keluarganya, memberi identitas baru , memberi pekerjaan, memindahkan ke tempat baru pastinya sudah membebani anggaran belanja Negara ini.
    ——Sampai saat ini semua pemohon yang diterima dan ditempatkan di rumah aman, semuanya bisa dikondiskan sehingga ybs merasa nyaman. Dan memang LPSK menggunakan dana dari APBN, saya rasa semua sebanding dengan rasa aman bagi saksi dan korban juga pengungkapan kasus – kasus di peradilan pidana.

    Harapan saya sih, Lembaga ini akan tetap eksis dan mulai menjalani fungsinya dengan benar di negara ini, tentunya untuk mengungkap kejahatan – kejahatan besar di negara ini. Semoga ….
    ——Amiin, begitu juga Harapan saya juga sebagai salah satu anggota Polri yang diperbantukan di LPSK, semoga lembaga ini semakin eksis dan saya ada didalamnya ketika hal itu terjadi

    Salam Hormat

    website lpsk : http://www.lpsk.go.id

  2. bh333jo

    betul itu bang, gimana mau seperti yg kita harapkan wong dasarnya aja nggak jelas,trus para komisionernya aja nggak ada yg berlatar belakang pelindung,polisi misalnya.Jadi kalo saya bilang ini lembaga jadi-jadian aja biar sebagai pelengkap.
    Slamet ya bang masuk kota metropolitan lagi…jadi gak lihat pal merah lagi, selamat tinggal thehok. heheheheh

    @bh333jo: terimakasih bro … good bye thehok … welcome JKT

  3. DANIEL LDT

    @pak bh333jo: maaf, anda salah. Ada anggota LPSK (anda menyebutnya komisioner) yang merupakan pensiunan polri irjen (purn) teguh sudarsono dan pak sindu khresna juga dr depkumham (mantan kalapas) bisa kita kategorikan pelindung kan?
    kalo pak ketut berpangkat kombes tapi sekarang sudah tidak menjadi anggota lpsk

  4. DANIEL LDT

    @all: seharusnya anggota lpsk berjumlah 7 orang, 2 orang diberhentikan karena melakukan kesalahn. Mungkin komandan berminat menggantikan posisi pak ketut?

    @daniel: saya berminat tuh mas … bgmn caranya ?

  5. DANIEL LDT

    nanti saya add fb komandan ya. Nanti sy coba bantu cari informasinya

  6. Ping-balik: PERLINDUNGAN BAGI SAKSI KEJAHATAN TERORGANISIR | rully dan hukum

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s